"Aku tidak bisa berkata apapun." Itu jawaban yang dapat Kyungsoo katakan mengingat wajah Minseok kemarin. "Sepertinya eomma menyukai Jongin. Padahal tampilannya itu..." Kyungsoo mengumpat soal gaya berpakaian Jongin sehingga malas berbicara lagi. Entah sial atau beruntung ia di jodohkan dengan pemuda itu.
"Sudah kuperkirakan eomma tidak memandang seseorang dari luar. Meskipun Jongin begajulan asal dia putra dari keluarga Kim dan punya wajah tampan, eomma atau wanita lainpun tak akan berkutik. Kau juga 'kan, Kyung? Mengaku saja."
Kyungsoo mendengus melirik Chanyeol yang tersenyum bodoh sambil menaik turunkan alis. "Tidak." Jawabnya apatis. Chanyeol mengikuti langkah Kyungsoo mendekati kolam renang, meliriknya sarkastik. "Aku harus bagaimana, Chanyeol?"
"Panggil aku oppa."
"Kau hanya lahir tujuh bulan sebelum aku. Sewaktu aku masih di Tokyo dan kita saling chat kau tidak protes kupanggil Chanyeol."
"Tapi aku mau dipanggil oppa sekarang."
Kyungsoo memutar mata sambil melipat tangan, sedikit menyesal kenapa ia tidak dapat gen tinggi dari ayah mereka sementara ia bersusah payah menatap Chanyeol begini. "Bagaimana caramu mencium Baekhyun? Tinggi kami 'kan setara."
"Tentu saja aku menunduk atau.. aku mengangkat tubuhnya dan—tunggu, bagaimana kau tahu?"
"Jongin memberitahuku, Chanyeol oppa." Kyungsoo menekan kata terakhir hingga Chanyeol terkekeh sambil mencolek ujung hidungnya. "Baekhyun hanya mengatakan padaku kalau dia punya pacar, tapi aku tidak mau tahu. Apa ini semacam kejutan?"
"Sepertinya begitu." Chanyeol mendapati dirinya mengusap leher, malu-malu seperti ini sangat kontras dari karakternya yang super konyol. Karna hubungannya dengan Baekhyun masih tergolong baru sehingga ia terkadang kikuk bila membahasnya. "Tapi kau harus tahu, Kyung. Jongin tidak terlalu buruk. Dia teman yang baik."
"Apa karna Jongin putra dari keluarga Kim eomma setuju dengan perjodohan ini? Apa karna dia temanmu kau terus saja mendukungnya." Meski Kyungsoo menyerahkan kepercayaan tentang pria kepada Minseok, ia tetap menginginkan pria yang sebagaimana mestinya cocok untuk Kyungsoo karna Minseok mengenal Kyungsoo. Tapi jika itu Kim Jongin... rasanya gila untuk sekedar memikirkannya. Jelas Jongin tidak ada kecocokannya barang seujung jari. "Apa eomma tidak memikirkan Jongin adalah orang yang tidak tepat untukku?"
"Kau merasa begitu?"
"Ya." Jawaban Kyungsoo terlalu tegas sampai Chanyeol sedikit membulatkan matanya yang bulat. "Dia gila. Kau harus tahu Jongin hampir menabrakku di kampus, dan dia bilang itu cara untuk menarik perhatian. Yang benar saja! Dia tidak ada romantis-romantisnya untuk urusan semacam itu."
Bukan marah seperti yang dilakukan seorang kakak mendengar adiknya hampir celaka, tapi Chanyeol tertawa keras. "Bukan gila. Jongin itu punya caranya sendiri, Kyung. Kurasa kau cocok dengannya. Aku juga melakukan hal yang sama pada Baekhyun minggu lalu, Jongin yang memberi saran itu. Dan see..? Aku akhirnya jadian dengan Baekhyun 'kan?"
"Kalian sama-sama gila!"
Kali ini Chanyeol tertawa lebih keras, ia baru tahu bahwa Kyungsoo memiliki banyak ekspresi meski dulu mereka tidak begitu dekat. Mengesampingkan berbeda ibu dan keberadaan Kyungsoo di Jepang, Chanyeol sekarang jauh lebih mengenal pribadi adik manisnya itu, menyadari bahwa Kyungsoo berubah cuek terkesan dingin setelah kembali dari Tokyo. "Kurasa kau perlu menyegarkan pikiranmu. Ayo ikut aku."
"Perjodohan ini membuatku hampir tidak waras." Kyungsoo mengeluh beberapa kali sambil berjalan disisi Chanyeol menuju beranda depan. "Bawa aku kemanapun selain dirumah, Chanyeol."
"Oppa." Ralatnya.
"Bawa aku pergi, oppa." Kyungsoo berdecih sebal setelah mengatakan itu, Chanyeol hanya terkekeh kemudian menaiki motor besar merahnya. "Kemana mobilmu?"
"Appa menyita kuncinya."
"Kenapa?" Kyungsoo bersumpah dia akan memprotes pada ayah mereka jika saja satu rumah, sayangnya Chanyeol terlalu pengecut untuk melakukan itu, dan kunci yang di sita seperti ini sangat kekanakan. "Apa karna kau terus melarangnya menikah dengan wanita lain? Please, Chan—oppa maksudku. Eomma tak akan mau kembali pada appa."
"Aku hanya ingin Minseok menjadi ibuku. Sudah kubilang 'kan.. ibumu bisa memberikan perhatian padaku meski aku bukan benar-benar putranya." Ibu Chanyeol telah meninggal setelah melahirkan, dan pemuda ini tak pernah mendapat kasih sayang dari seorang ibu.
Kyungsoo membuang napas, kenyataan itu memang pahit bagi Chanyeol. Tapi ia juga tidak mau ayah mereka rujuk dengan Minseok, seperti Minseok yang tak mau melihat wajah pria itu lagi, suatu kenangan pahit juga baginya. Kyungsoo bersyukur Minseok menganggap Chanyeol sebagaimana anak yang menduduki posisi kakak. Beliau tidak pernah membedakan kasih sayang untuk dirinya ataupun Chanyeol, bahkan Minseok menginginkan pemuda itu tinggal dirumah ini jika sang ayah mengijinkan, sayangnya dia di perbolehkan untuk berkunjung saja.
"Ayo naik." Senyum Chanyeol yang kembali lebar membuat sekelebat perasaan sedih hilang dari kepala. "Aku akan membawamu jalan-jalan supaya kau tidak terlalu kaget membonceng pada Jongin nanti."
"Yak!" Demi apapun Kyungsoo paling benci jika ada orang yang menggodanya dan tawa Chanyeol yang seperti petir itu.
Lifeline
another fanfic story by winwey
Jongin x Kyungsoo
slight of Chanbaek Hunhan Chenmin
Drama, GS for uke's, Typo's, OOC, Rated T-M
Semester akhir memang sedang sibuk-sibuknya, Kyungsoo sampai berlari kecil mendekati loker untuk mengambil beberapa buku. Dia harus cepat menyelesaikan tugas tambahan hari ini juga meski masih banyak waktu. Kyungsoo hanya ingin tenang dan bisa bersantai lebih lama setelah ini.
Ia sadar ada seorang pria menghampirinya. Pemuda itu berdeham sambil berdiri menyenderkan sisi tubuhnya di balik pintu loker yang terbuka tapi Kyungsoo masih berkutat mencari buku. Pria itu berdeham lagi meminta untuk di perhatikan.
"Oi, dengar tidak? Kita harus bicara."
Oi lagi? Sialan. Cuma Kim Jongin yang memanggilku begitu.
Mendengus karna merasa terganggu, Kyungsoo menutup pintu loker dan mendapati Jongin disana. Wajahnya membuat dia teringat Kai tapi tampilannya yang seperti kemarin gagal untuk menyamai seratus persen karna demi Tuhan Jongin ini sangat berbeda. Well, sekarang Kyungsoo percaya pada mitos 'di dunia terdapat tujuh orang dengan wajah serupa satu sama lain'. Kai dan Kim Jongin adalah yang termasuk, mereka—dengan sangat—kebetulan berwajah mirip.
"Ada apa?"
"Kita harus bicara." Katanya, Jongin menoleh ke kanan dan kiri lalu menatap Kyungsoo. "Tapi tidak disini."
"Aku sibuk."
"Aku juga, woy! Kita satu angkatan, ingat?"
Kyungsoo melipat tangan sambil membuang napas masam, "Bisa tidak memanggilku cukup nama saja? Tanpa oi atau woy. Kau juga tidak perlu bicara ngotot begitu, aku tidak tuli."
"Ya Tuhan.."—Lagipula kau jutek sekali 'sih. Jongin meringis ketika melihat aura negatif di wajah Kyungsoo. "Oke, oke, maaf. Aku pernah bilang padamu aku tidak punya teman perempuan."
"Jadi cara bicaramu yang tidak membedakan perempuan dan laki-laki itu benar?"
"Kecuali ibuku. Aku tidak mungkin memanggil dia woy."
Kyungsoo tiba-tiba berusaha menahan tawanya jadi mulutnya hanya melengkung kecil untuk satu detik. Tapi itu berhasil membuat Jongin mengerutkan kening dan nyaris tak dapat percaya bahwa gadis itu sempat tersenyum. "Apa Baekhyun sudah biasa dengan cara bicaramu yang seperti ini?" Tanya Kyungsoo lagi.
"Ya, sepupuku itu sudah biasa. Dan bisakah kita bicara ke topik lain?"
"Kalau soal perjodohan.." Kyungsoo berbalik lagi menghadap ke benda besi tempat buku-bukunya tersimpan, "..nanti saja. Aku harus mengerjakan sesuatu."
"Tapi—" Ketika Kyungsoo telah memegang pintu loker untuk membukanya, pada saat itu juga Jongin bergerak maju dan kulit diatas alisnya tergores ujung besi loker yang tajam hingga ia meringis sedikit. "Ah!"
"Oh, maafkan aku!" Kyungsoo dengan cepat menutup lokernya kembali dan menekan bahu Jongin disana untuk memeriksa goresan kecil di pelipis pria itu. Buku yang dia cari telah dilupakan ketika ia justru sibuk merogoh kantung ranselnya, meraih satu plester luka. "Aku tidak sengaja. Maafkan aku."
"Aku tidak apa-apa. Kau tak perlu—" Jongin sudah memperingati tapi Kyungsoo sudah memegangi rahangnya. "..mengobatiku." Akhirnya ia menyelesaikan kalimat disaat gadis itu justru memaksa mengobati goresan luka kecil di pelipis itu pelan-pelan.
Sentuhan jarinya membuat Jongin diam dan hanya mengamati apa yang dilakukan Kyungsoo. Meski berada di fakultas yang sama, akan lebih mudah memperhatikan Kyungsoo bila saja satu kelas. Jongin mempelajari tiap garis wajahnya yang manis. Matanya bundar menggemaskan, bulu matanya yang melengkung lentik, keningnya, hidungnya, pipinya yang agak kemerahan, dan.. bibirnya.. semua definisi cantik itu membuat Jongin tidak berkedip.
"Sini, biar kulihat. Apa kau percaya diri kalau ada plester di wajahmu?" Dengan hati-hati Kyungsoo menekan plester itu pada kulit Jongin yang terluka tanpa sadar jarak tubuh mereka begitu dekat. Keduanya tersentak ketika suara seorang pria lain kembali berdeham.
"Koridor kampus yang mulai sepi sepertinya situasi yang bagus untuk berpacaran ya?"
"Ssaem?" Jongin secara spontan mendorong Kyungsoo menjauh, ketika sadar ia merasa bersalah telah melakukan itu. Meski Kim Jongdae—dosennya menatap curiga tapi ia tetap berusaha bersikap normal. "Aku.. aku mendapat luka. Kyungsoo hanya mengobatiku."
"Di obati?" Jongdae tergelak pelan. Dari sekian banyak siswa disini siapa yang tidak tahu Kim Jongin itu orang yang bagaimana. "Kau 'kan jagoan. Luka kecil seperti itu harus diobati? Jangan menyangkal. Kalian..." Pria itu menyipitkan matanya sambil melirik wajah dua mahasiswanya bergantian. "Lupakan saja." Ia tertawa kecil lalu berjalan melewati mereka.
Kyungsoo maupun Jongin tampak kikuk selepas kepergian Jongdae. Gadis itu kembali mendekati lokernya, menyibukkan diri mencari buku meski tahu Jongin telah berdiri menjauh dan memunggungi. "Kita bicara nanti. Aku harus mengerjakan—"
"Kau benar.." Dengan langkah mudah pria itu ingin segera pergi. "Kita bicara lain kali."
.
.
Musik yang menghentak tiap sudut ruang bukan kesukaan Kyungsoo, menari tak jelas, atau minum alkohol sama sekali bukan dirinya. Tapi masalah perjodohan memaksa Kyungsoo kemari, ke klub malam yang sama sekali tak pernah ia pikirkan.
Ia bisa saja menolak perjodohan itu, tapi Kyungsoo perlu memikirkan alasan briliant untuk mencegah kecurigaan Minseok. Padahal ia berjanji akan menerima siapapun pria pilihan ibunya, asalkan itu yang terbaik.
Kim Jongin memang orang baik dari keluarga baik-baik, hanya saja Kyungsoo tidak suka kepribadiannya yang sok keren—meski memang keren sebenarnya, angkuh, kasar, dan berpakaian seperti penjahat. Semua konotasi buruk tentang pria itu tengah melingkupi pikirannya saat ini.
"Beri aku satu gelas lagi." Kyungsoo juga bingung kenapa cairan yang membakar tenggorokannya seolah begitu menyegarkan, ia bahkan minta pelayan bar mengisi gelasnya hingga penuh. Meski tinggal lama di Tokyo bukan berarti Kyungsoo bebas dari aturan. Ia tetap menjadi anak penurut, pacaran saja hanya sekali—dengan mendiang kekasihnya tentu saja.
Minseok bahkan nyaris menelepon tiap satu jam sekali ketika beliau ada keperluan beberapa hari di Seoul sementara Kyungsoo masih menetap untuk sekolah. Sekarang ia malah berada di sini, di tempat ini, tempat yang menurutnya mengerikan tapi ia bahkan datang cuma-cuma.
Kyungsoo hanya sendirian jadi ia mengingatkan diri untuk tidak mabuk berat. Pergi ke klub adalah hal paling gila yang pernah ia lakukan selama hidupnya. "Ugh, kenapa aku harus pergi kesini 'sih? Tapi tidak buruk juga." Gadis itu bergumam dan tersenyum aneh entah karna apa.
"Beberapa orang memilih mabuk ketika stress."
Mata Kyungsoo spontan membesar saat seorang pria duduk di kursi putar sampingnya. "Kim ssaem?" Ia tidak meyakini bahwa dirinya sudah terlalu mabuk hanya karna baru minum dua gelas, tapi Kyungsoo akui kalau disampingnya adalah Kim Jongdae, dosen Economic yang dikenal menuntut mahasiswa harus tepat waktu mengumpulkan tugas tanpa negosiasi. Ya Tuhan, pria itu sudah membuatnya kaget dua kali hari ini. Semoga saja dia tidak membahas soal Kim Jongin mengingat mereka dipergoki di koridor tadi.
"Beri aku minuman yang rendah alkohol saja." Jongdae sempat melempar senyum kepada Kyungsoo sebelum bicara pada pelayan bar. "Harimu buruk, Kyungsoo?"
"Ah.. itu.. aku hanya sedang cari angin sebenarnya."
"Cari angin atau cari pelarian?" Jongdae terkekeh karna Kyungsoo yang tiba-tiba tergagap. "Tidak apa-apa. Aku juga sering kesini tiap ada masalah dan mabuk adalah pelarianku. Tapi aku tidak mau mabuk di depan mahasiswaku sendiri. Terutama mahasiswa pindahan khusus seperti kau."
"Minumanmu, sir."
"Terima kasih." Jongdae sempat meneguk sesekali ketika pesanannya datang. "Sepertinya kau baru pertama kali bertemu minuman alkohol ya? Biar kubayar punyamu, anggap saja sebagai tutup mulut karna kita bertemu di klub malam."
"Semua orang berhak kesini. Bahkan seorang dosen." Jawab Kyungsoo, berusaha bersikap wajar dan menilai mereka tampak sebaya. Jongdae sangat tampan dan masih terlihat muda hingga keduanya lebih seperti teman daripada dosen-mahasiswa. "Tapi terima kasih, aku akan bayar sendiri."
Jongdae adalah seorang yang pandai Arithmatical tapi sekarang Kyungsoo mengakuinya sebagai sikolog. Apa wajahnya begitu kentara bahwa ia pemabuk yang pemula? Tapi Kyungsoo rasa ia belum terlalu mabuk. "Apa aku terlihat begitu, ssaem?"
"Matamu seolah berbicara 'begini ya rasanya mabuk', dan itu jelas."
Kyungsoo tertawa kecil, kali ini ia merasa jauh lebih baik. Kalau boleh memilih ia ingin curhat dengan dosennya itu ketibang datang ke klub dan mabuk-mabukan, tapi justru Jongdae memilih pergi kesini untuk sekedar menghilangkan penat. "Ssaem, apa yang membuatmu kemari?"
"Karna kekasihku." Jongdae meneguk minumnya hingga habis. "Dan putraku."
"Kekasih? Putramu?"
"Ya, aku single parent. Kekasihku tidak mau menerima lamaran sebelum putrinya menikah. Jadi aku harus menunggu lebih lama lagi."
"Lalu putramu?"
"Dia pembuat masalah dan semakin membangkang." Jongdae berhenti untuk menatap Kyungsoo dengan kening mengerut. "Dia baru kelas tiga SMA tapi kelakuannya seperti penjahat kelas atas. Ng.. ngomong-ngomong kenapa aku jadi mengeluh padamu begini?"
Tidak ada yang lucu dari kalimat barusan tapi Kyungsoo justru terkekeh. Siapa sangka meski Jongdae terlihat masih muda ia telah memiliki anak laki-laki remaja. "Aku tidak jago membuat suasana menjadi baik. Tapi kurasa kau akan jauh lebih baik kalau bercerita soal masalahmu pada orang lain."
Kyungsoo turun dari kursi ketika ponselnya bergetar, Baekhyun meneleponnya dan ia kalut bila temannya tahu ia disini. "Ssaem, aku harus pergi. Selamat malam."
Dia cepat-cepat pergi menjauhi gedung klub dari sebelumnya membungkuk pamit kepada Jongdae. Ia menggerutu sepanjang langkah tiba-tiba merasa bodoh ketika ingat belum membayar minumnya. Semoga Jongdae bisa mengganti itu mengingat ia tadi menolak halus penawarannya. Ponselnya berdering tanpa henti dan Baekhyun yang sedang menelepon begini sangat menjengkelkan.
"Ada apa, Baek?" Kyungsoo menyahut kesal ketika sambungan itu ia terima.
"Kau dimana? Cepat pulang, aku ada di rumahmu."
"Dirumah?"
"Ya, aku sedang berkunjung dengan pacarku—Chanyeol. Kau terkejut?"
"Telat." Kyungsoo memutar mata malas lalu memberhentikan taksi. "Aku sudah tahu." Apa yang dia bilang itu benar. Baekhyun menyebalkan, bukan? Menelepon terburu-buru hanya untuk mengatakan ini. 'Kan bisa mengirim pesan tanpa harus membuatnya kalut hanya karna telepon.
.
.
Sebenarnya Zitao tahu Kyungsoo dan Luhan tampak sangat bosan tapi mereka tidak memperlihatkan itu. Di hari pernikahannya ia tidak mau teman-temannya seperti ini sementara Baekhyun sudah kencan dengan Chanyeol di sudut taman.
"Kalian tidak mau mencari kenalan atau teman baru? Gege punya banyak teman yang tampan 'lho. Sebaiknya kalian dekati tamu di sebelah sana." Zitao membuang napas ketika Kyungsoo menggeleng tak berminat. "Kalian berdua sudah cantik begini sayang sekali kalau hanya untuk menemaniku."
"Aku tidak mau pergi sebelum Kris selesai menyalami teman-temannya." Kata Luhan, lalu wajahnya semakin kusut ketika Kris berjalan mendekati mereka. Bukan itu yang membuatnya demikian, Sehun dan Jongin berjalan beriringan bersama pria itu untuk memberi Zitao ucapan selamat.
"Apa kau tahu dimana Chanyeol?"
"Dia sedang pacaran." Zitao menjawab pertanyaan Sehun sambil terkikik. "Sepertinya Chanyeol mulai tidak setia pada kalian ya?"
"Kami mulai terpecah agaknya." Jongin membalas gurauan Zitao dengan nada yang bersahabat. Suatu hal yang Kyungsoo anggap positif ketika mulai menyadari keberadaan pria itu.
"Luhan." Panggilan Sehun benar-benar membuat Luhan terkejut. "Bisa ikut aku? Ada yang harus kubicarakan."
"Aku tidak mau."
"Ayolah." Sehun tampak memohon dengan cara yang istimewa. "Hanya untuk mengobrol."
"Yak! Bisa tidak berhenti berkedip padaku? Kau seperti ahjussi mesum, Oh Sehun." Luhan kemudian kaget mendapati dirinya ngotot seperti ini, wajahnya langsung memerah selagi teman-temannya tertawa. Tapi Sehun terkekeh seraya meraih tangannya, mengajaknya pergi.
"Wah, sepertinya kami benar-benar terpecah." Suara Jongin mengalihkan pandangan dari punggung Sehun dan Luhan yang semakin menjauh.
"Chanyeol sudah bersama Baekhyun, sepertinya Luhan dan Sehun..." Kris berhenti untuk tekekeh, ia melirik wajah Jongin geli. "Sekarang giliranmu untuk mencari gadis, bung."
Kyungsoo yang mendengarnya nyaris tersedak udara kosong. Ia tak pernah bisa menebak seperti apa wajah Kris nanti, kalau tahu dia adalah gadis yang akan di jodohkan dengan Jongin setelah suami Zitao ini mengusulkan pria itu untuk mencari gadis.
Tapi Jongin tertawa ringan mendengar gagasan itu. "Sepertinya aku ingin mengencani hidangan disini dulu. Sekali lagi selamat untuk pernikahan kalian." Katanya, ia sempat menatap Kyungsoo beberapa detik sebelum benar-benar pergi.
Melihat punggung tegap Jongin yang berlalu barulah Kyungsoo bisa bernapas dengan benar. Tadi itu seperti berada di ruang tanpa udara. Ia tidak mengerti kenapa kehadiran Jongin bisa membuatnya salah tingkah, matanya dapat membuat Kyungsoo terjebak seperti pertama kali mereka bertatapan, seolah hanya pria itu satu-satunya yang harus ia lihat.
Pria itu tampak menunjukkan sisi lain sebagaimana pria dewasa dari setelan kemeja biru gelapnya. Gayanya jauh berbeda dari yang terakhir Kyungsoo lihat, sewaktu mengenakan jaket kulit, anting kecil, celana denim robek serta rantai yang mengait di celana tidak ada dalam fisik Jongin malam ini. Well, tidak mungkin juga berpenampilan seperti kemarin untuk datang ke pesta pernikahan.
Dari awal pria itu memang memiliki pesona tak terbaca meski hanya bertatapan sekalipun, seolah menarik seseorang untuk mendekat. Tapi Kyungsoo menyangkal dirinya tidak tertarik karna pribadi Jongin yang tidak disukainya. Ia masih mendambakan pria romantis, rapi, dan baik—seperti Kai misalnya—untuk menjadi suami kelak.
Rasa-rasanya Kyungsoo beralih pengertian. Estimasinya menepi ke sisi lain bahwa tidak secara keseluruhan Jongin selalu negatif. Pria itu bahkan... sangat menawan. Kyungsoo merasa akan gila kalau ia terlalu lama memikirkan Jongin terlebih ketika ia tidak sengaja melukai pelipis pria itu dengan pintu lokernya. Mustahil menyukai secepat itu pada laki-laki yang terlibat perjodohan dengannya. Semua butuh proses, tapi rupaya daya pikat pria Kim ini tidak demikian.
Sosoknya begitu menggugah. Dan Kyungsoo merutuki spekulasinya sendiri, dia seolah-seolah teringat Kai kalau melihat Jongin, tapi juga akan melupakan Kai itu sendiri karna Jongin adalah pria yang sangat jauh berbeda. Ini terasa begitu benar tapi juga tak mungkin disaat yang bersamaan.
Gagasan bahwa Minseok menyukai Kim Jongin adalah suatu kesalahan. Kyungsoo berpikir bagaimana bisa ibunya menaruh harapan pada pria yang seperti preman untuk membahagiakannya, pikirnya waktu itu. Tapi tidak untuk malam ini. Kim Jongin... jauh lebih dewasa, jauh lebih tampan. Kyungsoo sampai harus mengumpat karna tiba-tiba jantungnya berdebar tak lazim.
"Maksud Jongin mengatakan 'terpecah' itu apa?" Ia memilih bertanya apapun tentang pria itu kepada Kris. Selain penasaran dan amat penasaran mengapa Luhan marah ketika Sehun berkedip untuk membujuknya bicara. Kyungsoo yakin pemuda yang menunggangi motor besar putih disisi Jongin saat dirinya nyaris tertabrak adalah Sehun.
"Jongin, Sehun, dan kakakmu adalah tiga sekawan sejati dari SMA dan masuk di satu kampus."
Rasanya Kyungsoo mual mendengar itu. Omong kosong apa lagi ini, ia bahkan tidak pernah melihat mereka bertiga bersama-sama, atau ia yang kurang memperhatikan dan tidak mau tahu. Dari terakhir yang ia lihat Kyungsoo hanya melihat Jongin bersama Sehun saja, pun itu wajah keduanya tertutupi helm.
"Dulu aku juga ikut bermain bersama mereka, tapi tidak lagi setelah ada Zitao, aku jarang nongkrong dengan mereka lagi." Kris melanjutkan, ia terkekeh ketika wajah Kyungsoo tampak terlihat aneh. "Jongin, Sehun, dan Chanyeol betah menjomblo. Tapi sepertinya hanya Jongin yang belum menunjukkan tanda-tanda punya kekasih.
"Jongin lebih parah dari Chanyeol dan Sehun."
"Kenapa?" Kyungsoo semakin penasaran ketika Zitao membawa kata parah, kesannya ada yang tidak beres.
"Ya, semisal terobsesi memenangkan balap liar, dan tak pernah peduli pada wanita selain ibunya."
Takjub, Kyungsoo berusaha menutupi ekspresinya. Satu hal positif lain dari Kim Jongin, dia bukan seorang player atau maniak wanita. Tapi tetap saja Kyungsoo tak suka mendengar Zitao bilang Jongin terobsesi balap liar. "Chanyeol tidak mungkin ikut-ikutan."
"Benar, kakakmu sangat penurut." Kris setuju. "Hanya Sehun yang sesekali ikut, itupun sudah tidak lagi sejak dia naksir Luhan, mungkin? Tapi Jongin sudah terlalu sering, terlalu banyak orang yang menjadi musuhnya karna tak suka kemenangan yang dia dapat dari balapan ilegal itu."
"Aku baru tahu kalau kakakku punya teman-teman yang parah."
Pengantin baru yang duduk di sisi Kyungsoo terkekeh bersamaan. "Kau dan Baekhyun terlalu lama tinggal di Jepang. Saat kembalipun kau hanya peduli pada kuliahmu. Kurasa disini Luhan-lah yang lebih bosan melihat mereka bertiga."
"Membahas mereka membuatku haus." Kyungsoo tersenyum masam, berusaha membuat dirinya sendiri tetap bersikap normal kepada temannya yang sedang bahagia itu. Ia undur diri untuk mendekati tempat hidangan tamu dan meraih gelas berisi sirup limun.
"Kyungsoo."
Kyungsoo baru saja menelan beberapa teguk minumnya dan suara seorang pria mengejutkannya, bahkan ia sampai tersedak kecil. Kim Jongin sialan, kenapa harus muncul?!
"Aku membuatmu kaget?"
Meletakkan gelas kembali ke meja Kyungsoo menjauh beberapa langkah. "Tidak juga. Ada apa?" Tanyanya cepat, tidak menginginkan berbasa-basi untuk menenangkan debaran gila dibalik dadanya.
"Aku hanya menyapa. Kebetulan lewat sini."
Kyungsoo benci melihat gestur Jongin yang sok keren dan sikap angkuhnya membuat ia rasanya ingin menyiram pria itu dengan air sirup. Tapi Kyungsoo lebih benci ketika matanya menatap lekat-lekat wajah Jongin yang akan membuat dia teringat pada seseorang. "Kai..."
"Kau bilang apa?"
"Ti-tidak." Kyungsoo terkesiap, pasti ia menggumam tak sadar tadi. "Tidak ada."
"Bisa kita bicara, Kyungsoo? Berdua?"
"Tentu." Ia menjawab cepat dan mengikuti langkah Jongin, berjalan bersisihan dengan jarak yang lumayan. Kyungsoo kembali merasa takjub karna ini pertama kali Jongin memanggilnya dengan nama, pemuda itu juga mulai bicara sopan dan ramah, tidak seperti kemarin. "Kau mulai bicara baik-baik padaku."
"Bicara baik-baik?"
"Ya, kemarin kau masih memanggilku woy. Sebenarnya aku mengantisipasi apakah kali ini kau akan mengatakan bro atau bung padaku, atau semacam panggilan antar pria yang lain."
Jongin tergelak mendengar itu. Ketika Kyungsoo menoleh untuk melihat wajahnya, cara tertawa pria itu sungguh tenang tapi memesona. Matanya beralih melirik luka kecil di pelipis Jongin, luka yang tidak sengaja dia buat telah menyembuh bahkan nyaris tidak terlihat.
Menyadari dirinya juga mengenakan gaun di atas lutut berwarna biru gelap seperti warna kemeja Jongin, mereka jadi tampak serasi bila saja berdiri berdampingan. "Apa kau sedang menyesuaikan gaya bicaramu dengan pakaianmu?" Tanya Kyungsoo lagi.
"Mungkin." Jongin melirik tampilan dirinya sendiri sambil terkekeh. "Maaf soal kemarin, aku benar-benar sudah tak sopan padamu. Juga aku yang sengaja ingin menyerempet—sebenarnya tidak menyerempet juga, hanya ingin membuatmu kaget saja."
"Kau bukan hanya membuatku kaget, tapi takut."—dan terpukau.
"Kurasa mulai sekarang aku akan berusaha bersikap baik dan.. lebih serius padamu dalam segala hal." Jongin membawa mereka mendekati danau buatan di sisi halaman sebelah timur, lampu lampion yang menggantung di pohon cemara serta airnya membuat Kyungsoo lebih rileks. Pesta pernikahan Kris dan Zitao benar-benar mewah.
"Serius?" Gadis itu suka dengan kata-kata Jongin yang satu ini. "Apa karna kita terlibat perjodohan?"
"Tepat." Jongin menoleh menatap Kyungsoo sebelum kembali memandangi danau, kedua tangannya masuk ke saku celana bahannya dengan santai. "Aku tetap tidak menolak perjodohanku denganmu, itu tak akan berubah. Tapi kau bisa mengatakannya pada ibumu kalau tidak menginginkan ini. Kau bisa menolaknya."
Kesempatan bagus. Tapi Kyungsoo justru tidak menganggap itu sebagai kesempatan, ucapan Jongin berlalu begitu saja bagai angin. Kyungsoo merasa semakin detik yang berjalan, semakin pria itu seolah menariknya untuk mengetahui lebih jauh.
Semacam ada sisi lain yang belum banyak ia lihat pada diri Jongin. Meskipun malam ini pria itu terlihat rapi, ia yakin Jongin masih berpenampilan preman seperti kemarin, tapi demi Tuhan Kyungsoo tidak peduli. Ia penasaran, sangat.
Kyungsoo mengingatkan diri sekali lagi. Bahwa ia akan teringat Kai kalau menatap Jongin, tapi juga seolah-olah akan melupakannya bila mencoba mengenal pria itu. Pada akhirnya ia membuang napas tanda menyerah.
Jongin memang mirip, tapi dia bukan Kai. Demi Tuhan Kyungsoo tidak melihat Kai pada diri pria itu. Dia tetap Kim Jongin, bukan orang lain dan ia tidak menganggapnya sebagai Kai atau siapapun karna Jongin adalah Jongin.
Selain tidak ingin membuat Minseok kecewa, selain rasa penasarannya pada Kim Jongin yang sulit di tebak, selain.. ia yang ingin mengikuti kemana hatinya berlabuh. Terpuruk bersama kenangan Kai atau memilih mencoba sesuatu yang baru.
"Bagaimana?" Pria itu bertanya. Jongin bagai menantangnya, dan Kyungsoo tertarik pada tantangan itu sendiri.
"Aku..." Kyungsoo menarik napas, suaranya terdengar gugup. Jongin yang berdiri beberapa meter di sisi kanannya kini menatap wajahnya lebih bersahabat, dan ia merasa membeku seperti waktu itu hingga suaranya berubah parau tapi yakin, "..sepertinya aku juga tidak bisa menolak."
TBC
Hai aku kembali! Maaf ya agak lama, kesibukanku emang menyebalkan.
Ini aku bawa chapter dua dan yap, Jongin sama Kai cuma kebetulan mirip aja, aku bikin mereka jadi dua orang yang berbeda. Kai dan Jongin tidak ada hubungannya sama sekali XD
Terima kasih untuk kalian yang riview kemarin, aku balas reviewnya di pm aja ya. Dan silent riders juga tengkyu udah baca.
wey~
