More, more, more...
Lebih... Lebih... Ah...
Lagi, lagi, lagi...
Terus... Kan! Ah...
•••
Berulangkali sudah dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, demi datangnya bayangan masa lalu.
Ada sekelebat bayangan yang tidak jelas termampir dalam pikiran. Ini jelas bukan yang pertama kalinya, ini sudah entah untuk yang keberapa.
'Apakah ini alasannya aku dijadikan menjadi seperti ini?' Jelas, itu Alfred, dirundung bermacam rasa.
.
sedinginnya kedinginan dalam senyap.
semengerikannya kengerian dalam ancaman tiada berucap.
aku takut...
•
— it ain't (y)our fault —
Hetalia - Axis Powers (c) Himaruya Hidekazu, Japan. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat penulis atas pembuatan karya.
T — M (R-14,5). Gore, Fantasy, Random. Indonesian (Bahasa Indonesia).
Alternate universe! Indonesia, 1p-2p! Hetalia, OC, OOC, etc.
.
[ ]
~o0o- INDONESIAN KARA -o0o~
-Indonesia, 1 Januari 2018-
•
Dari dalam kafe, ada yang menatapi itu semua dengan bosan, namun fokus matanya tetaplah bergerak-gerak gusar; pandangan yang seolah mencari sesuatu, pandangannya menembusi kaca bening di depan.
Malam ini, nyawanya terancam.
Malam ini, raganya berada dalam suatu bahaya yang tidak pernah dia inginkan.
Ada sesuatu yang membuatnya takut.
Ada sekelompok kaum yang segera siap membuatnya meregangkan tali pernyawaan.
'Bagaimana aku bisa bebas dari mereka? Mereka benar-benar mengincarku, da...
Pemuda itu menghela napas, merogoh saku. Sebelas lembar uang seratus ribuan bermata uang rupiah. 'Ah, syukurlah, pikirnya, dia membawa uang yang cukup banyak.
Baiklah. Dia bisa memperjenuh orang-orang di luar itu, yang menantinya untuk bisa mereka bunuh. Dan berhubung cafe ini buka dua puluh empat jam— nah, satu kemudahan lagi.
Ia menghela napas. Menelusuri menu-menu, makanan dan minuman, yang sekiranya bisa agak menghemat uangnya dan bisa dihabiskan dalam waktu lama. Ha. "Mas...!"
.
..
...
~oOo~
last, last, last... yang terakhir.
yang terakhir aku di sini, membulatkan sepasangan keping netra.
yang terakhir aku bergeming tanpa jelas.
yang pertama dan terakhir kalinya, namaku ternodai demi para noktah legam yang dengan kejam melentingkan diri, memperkeruhnya.
"Katakan 'halo' pada kematian pertamamu, Ivan Braginski."
... namun andaikan aku tahu, aku akan disayati dulu...
aku... dikuliti.
hingga belulangku nampak nyaris semua.
last, last, last...
dewa-dewi Kematian datang,
saatnya, untuk
men... jem... put... ku.
~oOo~
...
..
.
Aku ingin cepat pulang, hhh ...
Jakarta diguyur hujan deras.
Benar-benar deras, hingga wiper mobil pun sepertinya harus bergerak bolak-balik dua-tiga kali lebih cepat dari 'kecepatan' sewajarnya.
Sayangnya, di salah satu- bukan. Di beberapa dan banyak jalan masih saja macet, meskipun tidak sepadat ketika siang hari.
Dan tidak sepanas siang tadi (tentu saja, lah, ini kan sudah memasuki waktu pertengahan malam).
Deruan para mesin kendaraan bermotor perlahan senyap, senyap, dan senyap... kembali ditelan tengah malam.
Jalanan seolah membisu, terdiam.
Lampu-lampu jalan berusaha memerangi kegulitaan malam, walau cahayanya tidak seberapa, namun cukup untuk membantu aktivitas.
Mobil-mobil segala mewah membelah rayaan jalan yang lengang, suaranya halus. Nyaris tanpa suara.
Macamkan pula dengan kendaraan umum yang mengangkut puluhan pekerja dari segala bidang—pekerja yang bahu-membahu membangun dan menjayakan negeri mereka.
Satu-dua-beberapa pekerja keras berjalan, separuh mengantuk, tanpa ada lagi semangat.
.
~o0o~
.
Dua setengah jam berikutnya, dan rembulan diiringi para bintang bertahta anggun berlangitkan cakrawala menuju tengah malam yang memerindingkan bulu-bulu kudukmu...
Alfred berhenti mengelilingi dunia. Berhenti di satu tempat yang tidak dia ketahui (ya, sama seperti ribuan nyaris jutaan tempat di mana dia pernah menjejakkan kakinya), area pertokoan yang sudah dilaknat sepi. Beberapa bahkan sudah tutup rapat-rapat.
Jalan yang jarang dilalui oleh kendaraan maupun manusia Alfred susuri begitu daja, langkah kaki biasa dan santai, namun iris biru lautnya terus mengedari seluruh jangkauan ruang dengan pandang penuh.
Sekitarnya benar-benar sepi. Seolah kota mati. Aktivitas berbanding amat terbalik dengan keadaan di siang hari
Namun ini jauh lebih baik daripada melihat pasangan-pasangan dalam ikatan cinta monyetika yang rentan 'putus' itu berciuman, bergandengan, berrangkul-rangkulan, atau apapun itu yang tidak Alfred sukai di taman kota tempo jam.
Oh, dan apa kabar dengan dua sejoli yang berciuman bibir di taman kota tadi, yang mana salah satunya (atau malah kedua-duanya?) Alfred sumpahi untuk kerasukan dan kesurupan?
'Itu sepertinya benar terjadi. Salah sendiri mengumbar mesra di tempat yang tidak seharusnya...'
"SHIT!"
Alfred mengendus, mengumpat, tidak sopan. Untung saja tidak ada orang lain yang berada di depannya, atau sepasangan sandal akan menampar pipi 'makhluk tidak jelas' macam Alfred Jones.
Makhluk tidak jelas? 'Memang sedari dahulu aku tidak pernah jelas tentang apapun, hei, masa' asal-usulku sendiri aku tidak tahu... Sialan.'
Alfred berjalan tidak niat menyusurkan diri di pinggir jalan. Sebenarnya mau berjalan di tengah jalan juga tidak masalah. Karena selain sepi, Alfred juga 'mengaktifkan mode' menghilang, yang mana tidak ada manusia yang mampu melihatnya.
Entah ini kemampuan dari baju hitam lengket sialan ini, tongkat berbermata biru laut yang selalu me-nginthil-inya kemana saja, atau kekuatan dari dirinya sendiri? Sekali lagi, 'en. tah. lah...'
'Toh, jikalau aku mati, aku bisa hidup kembali, 'kan?' Benar saja.
Srek! Srek!
"Bawa senjatamu, Bodoh! Kautidak mungkin bisa membunuhnya tanpa senjata!"
"Aku bisa membunuhnya dengan tangan kosong, Ruslan! Lagi pula, dia hanya menang besar badannya saja, bukan kualitas perlawanan!"
"Mitos! Tetap saja! Cepat, bawa senjatamu!"
"Tetapi Ruslan juga ada benarnya, bawa senjatamu untuk jaga-jaga."
Perasaan Alfred tidak enak. Dia sudah dalam mode 'tak terlihat', bagaimana mungkin ada manusia Bumi yang bisa melihatnya sekarang.
Kecuali...
Sreeettt! Bruk!
Srek. Srek, srek!
Brak!
"Pelan-pelan, Bodoh! Siapapun bisa menangkap kita jika kau kasar dan seceroboh itu!"
Alfred terkesiap. 'Tentu saja makhluk Bumi tidak bisa melihatku! Kecuali..., jika ada yang menyamar menjadi manusia di Bumi untuk menangkapku!'
Dia segera meraih tongkat yang melayang di belakangnya, mengetuk tongkat itu sekali, hanya pelan.
Whush! Alfred terbang, masih dalam mode menghilang, enggan untuk menampakkan dirinya kembali.
Alfred melayang rendah di atas pucuk-pucuk pohon, namun tetap menjaga jarak agar tidak sulit untuk segera melarikan diri.
"Tidak ada siapa-siapa di sini," gumam Alfred dengan suara lirih. 'Lantas, siapa yang membuat suara mencurigakan tadi?'
Tidak ada.
Pucuk-pucuk pohonnya basah, rintikan hujan... turun? Perlahan-lahan, membasahi semua tempat
Alfred hanya menghela napas, lagi. Atau suara-suara tadi, barangkali hanyalah khayalan karena Alfred mengutuk diri (dan nasib)nya sendiri?
Sudahlah, Alfred kembali merasa dingin. 'Aku pergi.'
Tuk!
Whush! Lagi pula, langit malam yang mendung tidak terlalu buruk untuknya.
• finished chapter II •
a/n: terima kasih untuk naillanai dan sasunaru13 yang telah me-review fanfiksi ini, maaf saya tidak bisa membalas review kalian di sini.
Telat update, jaringan untuk buka ffn error lagi...
oh, chapter depan berubah rating jadi rating M, ya!
