Summary : Jihan seorang anak dari keluarga sederhana diangkat anak oleh reporter Korea. Namanya berubah dan kehidupannyapun berubah, terlebih setelah dia bertemu dengan leader boyband papan atas di Korea.

Cast : YunJae –is real-

Desclaimer : Jaemma mutlak milik Yunppa. TVXQ mutlak milik Cassiopeia.

Warning : GS, yang gak suka GS aku gak maksa buat baca, cerita gak jelas banget, dan banyak typo yang berkeliaran.

,

,

,

Yunho menggenggam dompet Jaejoong lalu keluar dari ruang make up. Dilihatnya seorang yeoja yang memasang wajah kecewa.

"Yunho-ah." Panggil Yongjin pada Yunho. #anggep aja managernya TVXQ namanya Yongjin#

"Bagaimana ini? Ternyata yeoja tadi bukan Sung Cheonri." Yunho terdiam lalu menatap sang sutradara.

"Haejoon-ssi, aku akan mencari yeoja itu."

"Mwo?" tanya Yongjin dan Haejoon bersamaan.

"Yang benar saja Yunho-ah."

"Aku serius, hyungnim. Kita sudah tidak punya banyak waktu. Aku hanya punya waktu 5 hari saja. Kalau kita mengganti modelnya sama saja akan mengulur waktu lagi." Jelas Yunho yang membuat Haejoon mengangguk.

"Terserah kau saja. Kalau memang yeoja itu mau menjadi modelmu, kita pakai dia." Yunho tersenyum lalu menatap Yongjin.

"Aku akan mencari yeoja itu."

"Mwo?"

"Yeoja itu akan jadi urusanku. Kajja, kita pergi. Yang lainnya sudah menunggu kita distudio." Yongjin mengangguk lalu mengambil tas Yunho dan tas perlengkapan Yunho yang lain.

Yunho dan Yongjin membungkuk pada semua kru. Yunho berjalan melewati Cheonri begitu saja tanpa melihatnya sedikitpun.

"Oppa.." panggil Cheonri sambil menahan lengan kekar Yunho.

"Ne?"

"Mian.." Cheonri memberikan senyum terbaiknya untuk Yunho agar namja tampan itu membatalkan niatnya dan tetap menjadikannya model dalam MV terbarunya.

"Ne, bisa kau lepaskan tanganku? Aku sedang buru-buru, Cheonri-ssi." Jawab Yunho dingin membuat Cheonri takut dan reflek melepaskan genggamannya.

"Mi..mianhae.." jawab Cheonri takut.

Yunho tersenyum remeh pada Cheonri lalu meninggalkan ruangan bersama Yongjin. Saat Yunho dan Yongjin sudah keluar, Haejoon menghampiri Cheonri lalu menepuk pundak yeoja itu lembut.

"Mian Cheonri-ssi, kontrakmu kami batalkan." Cheonri mendengus sebal lalu keluar ruangan dan menutup pintu dengan keras.

Blamm.!

Semua kru menghela nafas lalu merapikan semua peralatan dan pihak editing bersiap untuk mengedit gambar yang telah mereka ambil tadi.

,

Jaejoong berjalan kaki untuk sampai kekomplek perumahannya. Setelah menelpon Eunsuk dan bertanya tentang jalan dan naik bisa apa yang bisa membawanya kerumahnya, Jaejoong naik bis sesuai dengan arahan Eunsuk.

"Aku pulang." Ucap Jaejoong tidak bersemangat membuat Jisun yang menghampirinya mengernyit heran.

"Joongie, gwaenchana? Mana appamu? Kenapa kau pulang sendiri?"

"Aku pulang duluan, umma. Aku masuk kekamar dulu ne." jawab Jaejoong tanpa menoleh keibunya.

"Ada apa dengannya." Gumam Jisun lalu kembali duduk disofa ruang tengah dan membaca majalah.

Brukk..

Jaejoong menelungkupkan tubuhnya dan membenamkan wajahnya dibantal. Lalu membayangkan kembali bagaimana namja yang tidak dia kenal tadi mencium pipinya.

"Memalukan." Desis Jaejoong lalu membalikkan tubuhnya menjadi telentang.

"Ayah, ibu, anak gadismu ini sudah ternodai. Huee…" gumam Jaejoong pelan agar Jisun tidak mendengarnya. Jaejoong jadi teringat keluarganya yang di Indonesia.

"Dasar namja tidak tahu diri. Siapapun kau aku membencimu." Jaejoong langsung memeluk boneka gajah usangnya lalu memejamkan matanya.

,

Setelah mengisi acara di Music Bank, TVXQ kembali kedorm dengan mobil mereka. Yunho melirik managernya yang sibuk membolak-balik kertas catatannya.

"Apa jadwal kita besok?" tanya Yunho.

"Besok Youngwoong, Junsu, dan Changmin ada pemotretan dan membantuk Leeteuk-ssi di Sukira. Sedangkan Yunho dan Yoochun free sampai malam. Malamnya kalian menjadi bintang tamu di reality show terbaru di KBS."Jelas Yongjin yang dibalas anggukan dari tiap member.

"Senangnya besok bisa istirahat." Gumam Yoochun lalu menyandarkan kepalanya dibahu Junsu.

Semua member terdiam lalu memejamkan mata dan hanya si magnae yang menyalakan PSPnya dan menyibukkan dirinya bermain game.

Tak lama kemudian, mereka sampai didorm mereka, setelah berada didepan pintu dorm, Yunho membuka pintunya yang sebelumnya memasukkan sandi pada mesin pembuka otomatis.

Junsu, Yoochun, dan Changmin masuk kekamar mereka masing-masing, hanya Yunho yang duduk disofa dengan menutup wajahnya dengan tangan. Tampak dia sedang memikirkan sesuatu.

"Eh?" Yunho terkejut saat merasakan rasa dingin dipipinya yang ternyata botol soju dingin yang ditempelkan Youngwoong pada pipinya.

"Minumlah, kau sedang memikirkan sesuatu ya." Tebak Youngwoong.

"Ne." Yunho menerima soju dari Youngwoon lalu membukanya.

"Apa yang kau pikirkan?" Yunho terdiam menatap Youngwoong lalu meneguk sojunya.

"Aku salah model di MV terbaruku."

"Mwo? Apa maksudmu?" tanya Youngwoong mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Yunho.

"Ne, yeoja yang seharusnya menjadi model di MVku terlambat datang. Lalu ada yeoja yang mirip dengan ciri-ciri modelku dan asisten Haejoon-ssi langsung menyeretnya begitu saja tanpa menanyai namanya terlebih dulu."

"Dan yeoja itu bukan modelmu yang sebenarnya? Apa begitu?" tebak Youngwoong yang dibalas Yunho dengan anggukan.

"Aigoo..kenapa bisa begitu eoh?"

"Molla, aku ingin menemuinya tapi aku takut dia menamparku lagi."

"Mwo? Kau ditampar yeoja itu?"

"Ne, kau tahu kan lagu Checkmate seperti apa. Aku sedikit meraba-raba tubuhnya dan mencium pipinya."

"Lalu?"

"Tepat setelah lagu selesai, dia langsung menamparku." Yunho meringis sambil memegangi pipinya yang tiba-tiba terasa panas kembali .

"Hahahaha." Youngwoong tertawa keras sambil memegangi perutnya.

"Jangan tertawa, Youngwoong-ah." Yunho kesal lalu memukul Youngwoong dengan bantal sofa.

"Hahahaha." Youngwoong malah semakin mengeraskan volume suaranya sampai YooSuMin keluar dari kamar mereka.

"Ada apa, hyung?" tanya Junsu dengan wajah polos.

"Kenapa hyung tertawa seperti orang gila begitu." Yoochun memukul kepala Changmin yang membuat Changmin meringis kesakitan.

"Bicara yang sopan, magnae." Yoochun menatap tajam Changmin yang hanya dibalas kekehan dari Changmin.

"Mian, aku tertawa karena uri leader baru saja ditampar oleh seorang yeoja. Hahaha."

"Hahahaha." Changmin tertawa keras melebihi Youngwoong dan membuat Yoochun dan Junsu melongo.

"Kenapa ditampar, hyung? Ceritakan padaku siapa yang menamparmu, akan kuhajar yeoja itu." Yoochun duduk disebelah Yunho .

"Hyung, sudah jangan tertawa berlebihan begitu. Nanti kalau kau ngompol bagaimana?" celetuk Junsu polos membuat Youngwoong dan Changmin semakin keras tawanya.

"Berhenti menertawaiku. Atau kalian aku beri hukuman." Desis Yunho terdengar begitu bahaya ditelinga membernya. Youngwoong dan Changmin langsung diam seketika. Takut leadernya akan benar-benar mengamuk.

"Jadi, apa rencanamu?" Youngwoong berdehem untuk menghilangkan serak akibat kerasnya dia tertawa.

"Aku akan menemui yeoja itu."

"Kau yakin?" tanya Youngwoong.

"Memangnya kau tahu dia tinggal dimana?" tanya Youngwoong membuat YooSuMin menatap kedua hyung tertuanya dengan tatapan heran.

"Ne, dompetnya tadi ketinggalan diruang make up. Lalu aku mengambilnya."

"Siapa nama yeoja itu?" tanya Youngwoong sedikit penasaran.

"Namanya Han Jaejoong." Jawab Yunho dan tanpa sadar tersenyum manis.

"Nama yang cantik."

"Siapa Han Jaejoong?" tanya Changmin heran.

"Apa yeojachingu Yunho hyung?" tambah Junsu.

"Aku tidak pernah mendengar artis yang namanya Han Jaejoong, hyung." Yoochun ikut menambahi.

"Dia bukan yeojachinguku, Su-ie. Dan dia memang bukan artis, Yoochun-ah." Jawab Yunho lalu membuka dompet Jaejoong.

"Dia itu model MV terbarunya Yunho, checkmate." Youngwoong yang menjawab pertanyaan ketiga dongsaengnya.

"Bukannya namanya Park Cheonri, hyung?" tanya Yoochun heran.

Youngwoong menjelaskan pada ketiga dongsaengnya. Sedangkan Yunho tidak mempedulikan membernya karena sibuk menatap kartu pengenal Jaejoong yang menampakkan foto Jaejoong yang tersenyum manis.

"Yeppeo." Gumam Yunho pelan.

"Bwahahaha." Tawa mereka berempat dengan keras membuat Yunho sedikit terkejut dan menatap mereka.

"Kenapa kalian?" tanya Yunho heran melihat membernya tertawa terpingkal-pingkal dan Yoochun memuku-mukul meja dengan lebaynya.

"Kau benar-benar memalukan, hyung. Bisa-bisanya kau salah orang lalu menciumnya begitu." Ucap Yoochun disela-sela tawanya.

"Enak tidak tamparannya? Aku rasa itu hadiah untukmu, hyung." Changmin ikut menambahi.

Yunho menutup wajahnya karena malu, bisa terlihat jelas wajah Yunho merona dan membuat semua membernya tertawa makin keras.

,

"Aku pulang." Yongjae melepas sepatunya lalu meletakkannya dirak.

"Selamat datang." Sambut Jisun.

"Yeobo, apa Jaejoong sudah pulang? Aku tadi mencarinya diseluruh tingkat SM tapi Jaejoong tidak aku temukan. Telponku juga tidak diangkatnya." Cemas Yongjae.

"Tenang yeobo, Jaejoong sudah pulang sejak tadi siang kok. Tapi saat pulang wajahnya terlihat sedih." Jisun menambil jas kerja milik Yongjae.

"Jinjja? Apa dia ada masalah?"

"Molla, aku tanya padanya tapi dia tidak menjawab."

"Lalu dimana dia sekarang?" tanya Yongjae lalu duduk dikursi meja makan.

"Dia dikamar, sepertinya belum bangun. Aku bangunkan Jaejoong dulu ne." Jisun naik kelantai satu setelah Yongjae mengangguk.

Tok..tok..

"Joongie, bangun chagi. Ini sudah waktunya makan malam." Jisun mengetuk pintu lagi saat Jaejoong tidak menjawab panggilannya.

"Jaejoongie.." panggil Jisun lagi.

Cklek..

Jaejoong membuka pintu dengan mata yang masih tertutup. Jisun mengusap kepala Jaejoong lembut lalu mencium keningnya.

"Cepat turun, kita makan malam ne." Jaejoong membelalakkan matanya dan menatap Jisun dengan tatapan bersalah.

"Mianhae umma, Joongie tidak membantu umma memasak. Joongie malah asyik tidur." Sesal Jaejoong.

"Gwaenchana, umma tahu kau pasti lelah. Cuci muka lalu turun ne, appa dan umma menunggumu dibawah."

"Ne umma." Jaejoong menutup pintu setelah ummanya menuruni tangga.

"Aigoo..gara-gara namja kurang ajar itu aku jadi bangun terlalu malam." Gumam Jaejoong kesal lalu masuk kekamar mandi hanya untuk cuci muka. Bukannya Jaejoong malas mandi, hanya saja di Indonesia, mandi saat malam tidak baik untuk perempuan yang masih gadis kan?

Setelah selesai mencuci muka, Jaejoong turun menemui appa dan ummanya yang sudah menunggunya dimeja makan.

"Mianhae appa, umma, Joongie lama ya." Jaejoong menarik kursi lalu duduk.

"Aniya, oya kau tadi kemana saja? Appa khawatir dan mencarimu disetiap ruangan gedung SM. Kenapa kau menghilang tiba-tiba eoh?" tanya Yongjae khawatir yang membuat Jaejoong merasa bersalah pada appanya.

"Mianhae appa, tadi Joongie melihat ada anggota Super Junior, lalu Joongie memperhatikan mereka dan ingin meminta tanda tangan mereka karena teman-teman Joongie yang di Indonesia sangat menyukai Super Junior. Tapi mereka sudah masuk kelift terlebih dahulu sebelum Joongie meminta tanda tangan. Dan saat Joongie berbalik, appa sudah tidak ada." Jelas Jaejoong sambil menundukkan kepalanya.

"Begitu ya. Kalau kau ingin minta tanda tangan dari Super Junior kenapa tidak meminta bantuan appa. Kau tahu? Tadi appa juga mewawancarai Super Junior." Jelas Yongjae membuat Jaejoong mendongak menatap appanya.

"Jinjja?"

"Ne, appa tidak memintakan tanda tangan karena appa pikir kau tidak meyukai Super Junior." Sesal Yongjae.

"Gwaenchana appa, mungkin bisa lain kali. Appa mau kan mengajak Joongie lagi kalau mau mewawancarai Super Junior."

"Arra, jika appa ke SMEnt lagi, appa…"

"Kalau ke SM Joongie tidak mau." Potong Jaejoong cepat.

"Mwo?" tanya Yongjae dan Jisun bersamaan.

"Joongie tidak mau kegedung SM lagi." Ucap Jaejoong kesal karena teringat dengan kejadian tadi siang.

"Wae?" tanya Yongjae heran.

"Tidak apa-apa, hanya saja aku tidak terlalu suka kesana, appa." Jaejoong tersenyum membuat Yongjae bingung.

"Arra, terserah kau saja." Jawab Yongjae mengalah. Jisun yang ingin bertanya mengurungkan niatnya saat Yongjae menyodorkan piringnya ke Jisun.

Setelah Jisun mengambil makanan untuknya dan Yongjae, ganti Jaejoong yang mengambil makanan. Lalu mereka semua makan dalam diam.

,

"Kenapa makan ramen lagi, hyung?" rajuk Changmin saat Youngwoong meletakkan panci berisi ramen untuk makan malam mereka.

"Aku lelah, Minnie. Malam ini kita makan ramen saja." Youngwoong memberikan sumpit pada Yunho.

"Sudah makan saja, apa kau tidak kasihan pada Youngwoong? Sudah dimasakkan malah potes. Cepat makan." Suruh Yunho tajam yang membuat si magnae bungkam dan langsung memakan ramen diikuti oleh member yang lain.

"Gomawo." Bisik Youngwoong mesra pada Yunho karena telah membelanya.

"Cheon baby." Yunho tersenyum lalu mengelus pipi Youngwoon.

Lalu mereka berlima makan dalam diam. Tak lama kemudian, Junsu petama kali yang menyudahi makannya.

"Malam ini giliranmu yang mencuci piring, Changminnie."

"Mwo? Bukannya kau Junsu hyung?" tanya Changmin setelah meneguk minumannya.

"Enak saja. Aku kemarin sudah." Elak Junsu sambil mempoutkan bibirnya. Imut.

"Ne." jawab Changmin pasrah. Lalu dia mengambil semua peralatan makan yang kotor lalu mencuci semuanya.

"Kalian segera istirahat. Besok jadwal kalian lebih banyak dari pada aku dan Yoochun." Perintah Yunho pada Youngwoong dan Junsu.

"Jika sudah selesai mencuci piring segera tidur, Changmin-ah. Tidak ada game dan film." Yunho setengah berteriak karena Changmin masih didapur dan Yunho diruang tengah.

"Ne hyung." Jawab Changmin setengah berteriak juga.

"Arra, aku tidur dulu ne." Youngwoong berdiri terlebih dahulu lalu diikuti Yoochun dan Junsu.

"Hyung, aku tidur dulu ne." Yunho mengangguk pada Yoochun.

Yunho mendudukkan dirinya disofa dengan menyandarkan kepalanya. Lalu tak lama kemudian Changmin datang dan langsung kekamarnya setelah merebut kripik kentang Yunho.

"Ya!"

"Hahahaha." Changmin berlari cepat masuk kekamar sebelum Yunho mengejarnya.

Blamm…

Yunho menghela nafas setelah Changmin menutup pintunya dengan keras. Yunho mengambil dompet Jaejoong disaku celananya dan melihat lagi kartu pengenal Jaejoong.

"Besok aku harus menemuinya. Dong Bang University ya." Gumam Yunho lalu memejamkan matanya dan tak lama diapun terlelap.

,

"Dimana dompetku?" Jaejoong panik sambil mengobrak-abrik isi tas ranselnya. Tapi dompetnya belum dia temukan juga.

"Dompetku hilang. Aishh.." Jaejoong memukul kepalanya pelan berkali-kali.

"Apa ketinggalan diruangan seram itu ya?" gumamnya sambil menerawang kapan saat dia mengeluarkan dompetnya.

"Sepertinya memang benar-benar ketinggalan diruangan seram itu." Jaejoong mengambil Yoyo lalu memeluknya.

"Bagaimana ini Yoyo-ah. Dompetku ketinggalan diruangan seram itu, tempat seram yang ada namja menyeramkan yang tiba-tiba menciumku dan memelukku seenaknya." Gumam Jaejoong dengan wajah sendu.

"Aku tidak mau kesana lagi." Jaejoong merebahkan tubuhnya dan mencoba mengikhlaskan dompetnya.

"Semoga appa dan umma tidak marah karena dompetku hilang." Jaejoong menutup matanya dengan masih memeluk Yoyo.

,

#Pagi Hari#

,

"Yunho-ah, kenapa kau tidur disini eoh?" Youngwoong mengguncang bahu Yunho pelan membuat Yunho menggeliatkan tubuhnya.

"Jam berapa ini, Youngie?" tanya Yunho sambil mengucek matanya.

"Sudah jam delapan. Tadi Yoochun pesan padaku untuk memberitahumu kalau dia keluar sebentar dengan Donghae."

"Ne, kau tidak berangkat?" Yunho berdiri lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

"Ini mau berangkat. Kau cepat mandi dan sarapan, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu." Kata Youngwoong lalu memakai sepatu bootnya.

"Ne, gomawo yeobo." Yunho terkekeh membuat Youngwoong mendengus sebal.

"Jangan memanggilku begitu. Aku ini namja pabbo. Aku berangkat." Youngwoong meninggalkan Yunho lalu membuka pintu.

"Hati-hati ne." ucap Yunho sebelum Yongwoong menutup pintu.

"Ne." jawab Youngwoong.

Blamm..

Yunho menghela nafas lalu masuk kekamarnya untuk mandi. Setelah selesai mandi, Yunho kemeja makan untuk sarapan. Youngwoong sudah menyiapkan nasi goreng kimchi kesukaannya.

Dering ponsel Yunho menghentikan aktifitas makannya.

"Yeoboseyo, hyungnim."

"Yunho-ah, kegedung SM sekarang ne." jawab Yongjin dari seberang.

"Untuk apa?" tanya Yunho lalu memasukkan satu suapan lagi kemulutnya.

"Sooman-ssi meminta semua leader dari tiap grup datang untuk mendiskusikan acara SM Town di New York nanti."

"Bukannya itu masih lama? Kenapa harus dibicarakan sekarang?" tanya Yunho setelah menelan makanannya.

"Molla, pokoknya kau datang ne. Ku tunggu kau satu jam lagi. Bersiap-siaplah dari sekarang." Yunho menghela nafas saat managernya menutup telponnya begitu saja.

"Menyusahkan sekali." Gumam Yunho lalu melanjutkan makannya.

,

"Selamat pagi, umma." Sapa Jaejoong lalu duduk dikursi meja makan.

"Selamat pagi, Joongie." Jisun memberikan mangkok berisi sup kimchi pada Jaejoong.

"Gomawoyo, appa mana umma?" tanya Jaejoong saat melihat kursi yang biasanya diduduki Yongjae kosong.

"Appa berangkat dulu, karena harus meliput berita." Jawab Jisun lalu duduk dikursinya.

"Ne, tidak ada appa terasa ada yang berbeda."

"Umma juga merasa begitu. Umma sudah memanggil taksi untuk mengantarmu kekampus. Jadi kau tidak perlu naik bis sendiri."

"Ne umma."

Jaejoong dan Jisun makan dalam diam, sampai Jaejoong teringat sesuatu kalau dompetnya hilang.

"U..umma.." panggil Jaejoong gugup.

"Ne chagi." Jisun menatap Jaejoong lalu tersenyum.

"Mianhae." Jaejoong menundukkan kepalanya.

"Ne?"

"Dompet Joongie..hilang umma." Jawab Jaejoong takut.

"Kenapa bisa hilang? Apa dicuri?" Tanya Jisun lembut agar Jaejoong tidak semakin takut.

"Aniya, jatuh dijalan umma. Itu karena kesalahan Joongie. Mianhae umma." Jaejoong memberanikan dirinya untuk menatap ummanya yang kini tersenyum menatapnya.

"Arra, tidak apa, Joongie. Umma akan mengurus kartu pengenal dan kartu mahasiswamu lagi. Jangan terlalu dipikirkan ne." jawab Jisun yang membuat Jaejoong tersenyum.

"Gomawoyo umma."

"Ne, cepat habiskan sarapanmu. Nanti kau terlambat." Jaejoong tersenyum lalu mengangguk.

Setelah selesai menghabiskan sarapannya, Jaejoong memakai tas ranselnya lalu berpamitan pada ummanya.

"Aku berangkat dulu, umma." Jaejoong mencium pipi kiri Jisun.

"Hati-hati ne." Jaejoong mengangguk lalu masuk kedalam taksi yang tadi sudah dipanggil oleh Jisun.

Jisun melambaik tangannya saat Jaejoong melambaikan tangannya pada Jisun. Setelah Jaejoong sudah tidak terlihat, Jisun kembali masuk kedalam rumah.

,

Tak lama kemudian Jaejoong sudah sampai dikampus. Banyak mahasiswa-mahasiswa yang melihatnya sambil berbisik-bisik lalu tertawa meremehkan pada Jaejoong. Kabar bahwa Jaejoong berasal dari Indonesia langsung tersebar luas (?) kepenjuru (?) kampus.

Jaejoong tidak mempedulikan mereka, dia tetap melangkah menuju kekelasnya. Saat dia sampai didepan pintu kelasnya, ponselnya berdering.

"Yeoboseyo." Sapa Jaejoong.

"Jaejoongie, apa kau sudah dikampus?" tanya Eunsuk dari seberang.

"Ne, wae?"

"Hari ini aku tidak masuk kuliah, Joongie. Tidak ada yang menjaga halmeoniku dirumah sakit. Aku sudah mengirim surat ijin nanti tolong kau cek lagi ne."

"Padahal aku ingin menceritakan sesuatu padamu." Keluh Jaejoong.

"Mian Joongie. Besok saja ne. besok aku masuk kuliah. Tidak apa-apa kan?" sesal Eunsuk

"Ne, sampaikan salamku untuk halmeonimu ne."

"Ne, gomawo Jaejoongie."

"Cheon." Jaejoong memasukkan ponselnya kembali setelah Eunsuk menutup telponnya.

Jaejoong duduk dibangkunya tidak mempedulikan tatapan sinis dari teman sekelasnya. Lalu tak lama kemudian, Han sonsae masuk kekelas yang membuat Jaejoong bernafas lega, karena tatapan sinis teman sekelasnya akan berakhir meski hanya sampai pelajaran selesai.

,

"Lelah sekali." Gumam Yunho setelah selesai rapat yang memakan waktu tiga jam.

"Sekarang kau bisa langsung pulang kedorm, Yunho-ah. Haejoon-ssi belum memberiku kabar tentang kelanjutan pembuatan MV. Jika sudah ada kabar, aku akan segera menghubungimu."

"Aniya hyungnim, aku mau ke Dong Bang University." Jawab Yunho lalu memakai jaketnya.

"Mwo? Mau apa kau kesana?" tanya Yongjin heran.

"Aku mau mencari yeoja itu."

"Kau benar-benar mau mencarinya?"

"Ne, aku akan menemuinya sekarang. Annyeong." Yunho langsung meninggalkan Yongjin. Menuju kepemarkiran untuk mengambil mobilnya.

,

Jaejoong berjalan keluar dari area kampus. Lalu Park Maeri dan Go Junhee menghalangi jalannya.

"Kau mau pulang ya?" tanya Maeri sedikit terdengar sok manis (?).

"Ne, ada apa Maeri-ssi?" tanya Jaejoong polos.

"Kau naik apa?" tanya Junhee.

"Aku naik bus, wae? Kalian mau ikut?" tanya Jaejoong membuat kedua yeoja sok itu tertawa remeh pada Jaejoong.

"Hahaha. Ikut denganmu, yang benar saja. Hanya orang miskin sepertimu yang pantas naik bis. Kalau yeoja cantik seperti kita sama sekali tidak cocok naik bis."

"Ne, kalau begitu saya permisi." Jaejoong melewati Maeri dan Junhee dengan raut wajah kesal.

"Hahaha. Enak sekali menggodanya, sepertinya tidak rugi kita mengerjainya terus." Ucap Maeri sambil tertawa menyebalkan lalu bertos ria dengan Junhee.

Jaejoong tetap berjalan, tidak menggubris ucapan Maeri dan Junhee. Hatinya benar-benar sakit dengan ucapan teman sekelasnya itu. Sampai langkahnya terhenti saat seorang namja tinggi menyapanya yang membuat langkahnya terhenti.

"Annyeonghaseyo." Sapa namja tinggi itu.

"Ne." Jaejoong menatap namja didepannya dengan pandangan aneh. Namja itu memakai topi kupluk dikepalanya dan memakai kacamata hitam.

"Kau Han Jaejoong kan?"

"Ne, anda siapa?" tanya Jaejoong dengan nada curiga.

"Jangan-jangan dia ahjussi-ahjussi mesum." Gumam Jaejoong dalam hati.

"Tenang saja, Jaejoong-ssi. Aku bukan orang jahat. Bisa kita bicara sebentar." Tanya Yunho –namja itu-.

"Mwo?' tanya Jaejoong semakin curiga dengan Yunho.

"Jangan curiga dulu padaku. Aku Jung Yunho. Kau masih ingat aku?" Jaejoong memiringkan kepalanya membuat jantung Yunho tiba-tiba berdebar tidak karuan.

"Aishh..ada apa denganku?" gumam Yunho dalam hati.

"Aku..kemarin aku yang kau tampar." Jelas Yunho membuat Jaejoong mengerjapkan matanya berkali-kali lalu dengan cepat dia menuding Yunho tepat didepan hidungnya.

"MWO? KAU NAMJA YANG mmmpphhh…" Yunho langsung membekap mulut Jaejoong yang membuat mahasiswa yang lewat menatap mereka dengan tatapan aneh.

"Jangan berteriak-terak Jaejoong-ssi. Jebal." Bisik Yunho dengan sambil membungkam mulut Jaejoong.

Jarak keduanya kini sangat dekat membuat jantung mereka berdua berdebar-debar. Jaejoong dan Yunho merasa panas dikedua pipinya.

Yunho yang pertama sadar langsung menarik Jaejoong untuk masuk kemobilnya. Karena Jaejoong masih terkejut dengan terlalu dekatnya jaraknya dengan Yunho tadi membuatnya tak sadar kalau dia sudah masuk kemobil Yunho.

,

"Kenapa aku bisa disini? Sekarang pulangkan aku." Protes Jaejoong didalam mobil Yunho saat dia sadar kalau Yunho membawanya saat dia tidak sadar.

"Kajja turun. Aku ingin bicara denganmu, Jaejoong-ssi."

"Aniya, aku tidak mau turun. Kau namja menyebalkan yang mesum." Omel Jaejoong membuat Yunho sedikit tersinggung. Bagaimanapun juga dia adalah artis terkenal, banyak yeoja yang menginginkannya menjadi namjachingu mereka. Tapi ini, seorang yeoja ajaib telah mengatainya mesum. WTH?

"Terserah kau mau mengataiku apa. Aku ingin minta maaf dan perlu bicara denganmu." Yunho memakai kaca mata hitamnya lalu turun dari mobilnya. Saat ini Yunho dan Jaejoong berada didepan Café Mirotic.

"Dasar namja mesum. Aku tidak mau turun." Jaejoong melipat tangannya didada.

"Huaaa.." Jaejoong terkejut karena Yunho yang tiba-tiba menariknya keluar dan membawanya masuk kecafe setelah menutup pintu mobil.

"Kau ini apa-apaan eoh?" protes Jaejoong setelah duduk dikursi café sambil menggenggam pergelangan tangannya karena sedikit sakit akibat tarikan paksa Yunho tadi.

"Aku ingin minta maaf." Jawab Yunho setelah memesan minuman pada pelayan dan pelayan itu meninggalkan mereka.

"Aishh…"

"Aku tahu aku telah lancang padamu. Untuk itu aku mau minta maaf." Sesal Yunho dengan mimik wajah menyesal membuat Jaejoong merasa iba.

"Ne, gwaenchana." Jawab Jaejoong membuat Yunho tersenyum.

"Gomawoyo, boleh aku minta bantuanmu?"

"Mwo?" tanya Jaejoong heran.

"Aku meminta bantuanmu untuk menjadi model di MVku." Jawab Yunho sambil menatap dalam mata Jaejoong.

"Mwo? Menjadi model?" Yunho tersenyum lalu mengangguk pada Jaejoong.

"Memang kau ini siapa? Membuat MV? Apa kau ini penyanyi?" tanya Jaejoong polos membuat Yunho menganga lebar. Karena baru kali ini ada yeoja yang tidak mengenal dirinya.

"Sepertinya aku harus mencatat peristiwa bersejarah ini. Dia tidak tahu aku? Benar-benar tidak bisa dipercaya." Gumam Yunho sedikit narsis.

"Kau tidak mengenalku?" Jaejoong menggelengkan kepalanya pada Yunho.

"Aku Jung Yunho." Jawab Yunho membuat Jaejoong makin mengernyit bingung.

"Nugu?" Yunho menghela nafas menghadapi kepolosan atau kebodohan Jaejoong.

"Aku Jung Yunho, leader TVXQ." Jawab Yunho sedikit malu-malu.

"Leader TVXQ ya." Gumam Jaejoong dan tampak mulai berfikir karena sepertinya nama itu tidak asing.

"Eh? TVXQ?' kaget Jaejoong tiba-tiba karena teringat dengan Eunsuk yang pernah menunjukkan TVXQ padanya.

"Aigoo..TVXQ, boyband yang menyanyikan lagu Mirotic itu ya? Yang jumlah anggotanya lima orang?" seru Jaejoong histeris membuat Yunho terkekeh geli.

"Ne, kau tahu?"

"Aku tahu, temanku sangat mengidolakan TVXQ." Jawab Jaejoong.

"Memangnya kau tidak?" tanya Yunho yang mulai tertarik dengan kepolosan Jaejoong.

"Aniya, aku baru tinggal di Korea. Jadi tidak begitu tahu dan paham dengan musisi Korea."

"Memang kau berasal darimana?"

"Dari Indonesia."

"Jinjja? Aku pikir kau asli Korea. Karena setahuku kulit orang Indonesia coklat, tidak seperti kulitmu yang putih seputih susu." Puji Yunho sambil memperhatikan kulit Jaejoong.

"Hehe..itu karena aku istimewa." Jawab Jaejoong ceria.

"Percaya diri sekali." Ejek Yunho.

Tak lama kemudian minuman mereka datang, pelayan itu memberikan dua milkshake pada Yunho dan Jaejoong.

"Jadi, apa kau mau?" tanya Yunho setelah sipelayan pergi.

"Aku dapat apa kalau mau menjadi modelmu?"

"Kau akan aku kontrak dan akan mendapat upah."

"Jinjja?"

"Berapapun yang kau minta akan aku berikan, asalkan kau mau membantuku."

Jaejoong tampak berfikir sambil meletakan jari telunjuknya pada pipi mulusnya, membuat Yunho terkekeh geli.

"Kelakuannya benar-benar imut. Yeoja ini sangat mirip dengan Youngwoong." Gumam Yunho dalam hati.

"Kalau aku mau, bisa mendapatkan uang. Aku bisa mengirim uangnya ke ibu dan ayah di Indonesia. Atau aku minta tanda tangan semua anggota Super Junior juga? Sepertinya itu ide yang bagus, Citra, Dewi, dan Tyas kan menyukai Super Junior." Gumam Jaejoong dalam hati lalu bertepuk tangan pelan (?).

"Bagaimana?' tanya Yunho.

"Aku mau. Tapi aku minta upah satu lagi selain uang. Boleh?"

"Ne, apa?"

"Aku minta tanda tangan semua anggota Super Junior, asli. Bagaimana?" tawar Jaejoong membuat Yunho tersenyum.

"Ne, itu mudah."

"Aku setuju, tapi aku minta satu hal dipengambilan gambar MVmu nanti." Yunho mengerutkan keningnya bingung.

"Apa?"

"Aku ingin memakai topeng, aku takut kalau nanti ada yang mengetahui wajahku, semua penggemarmu akan membenciku dan langsung menyerangku. Di Indonesia sering sekali begitu." Jelas Jaejoong lalu meminum sedikit minumannya.

"Kau tidak perlu takut. Aku yang akan bertanggung jawab sepenuhnya atas dirimu."

"Jinjja?"

"Ne, kau bisa pegang ucapanku."

Jantung Yunho tiba-tiba berdebar lagi saat mengatakan itu, menurutnya dia seperti akan melamar yeoja saja.

"Arra, aku pegang janjimu." Jawab Jaejoong lalu tersenyum sangat manis membuat Yunho merona.

"Manis sekali yeoja ini. Aishh.." Yunho langsung meneguk minumannya sampai habis.

"Oya, aku lupa untuk memberikan ini." Yunho merogoh saku celananya lalu memberikan sebuah dompet pada Jaejoong.

"Dompetku." Jaejoong tersenyum senang lalu mengambil dompetnya. Jaejoong makin tersenyum lebar saat melihat isi dalam dompetnya tidak berkurang sama sekali, termasuk uang bulanannya. #plakk.

"Tenang saja, aku tidak mengambil uangmu sama sekali." Ucap Yunho sedikit tersinggung dengan sikap Jaejoong yang seolah-olah mengatakan kalau Yunho mencuri uangnya.

"Mianhae. Hehehe." Jaejoong tersenyum malu pada Yunho.

"Kau tahu dari mana kalau aku kuliah di Dong Bang University?"

"Dari kartu mahasiswamu. Sebenarnya aku mau kerumahmu langsung. Tapi karena pagi-pagi tadi aku ada rapat antar leader membuatku mengurungkan niatku dan langsung menemuimu ke kampusmu." Jelas Yunho membuat Jaejoong mengangguk paham.

"Gomawo ne." ucap Jaejoong lalu tersenyum manis.

"Cheon." Yunho balas tersenyum pada Jaejoong.

Ponsel Yunho tiba-tiba bedering dan Yunho mengernyitkan dahinya saat melihat nama managernya terpampang dilayar ponsel mewahnya.

"Yeoboseyo." Sapa Yunho.

"Haejoon-ssi sudah menentukan tempat MVmu. Kau dimana sekarang?" tanya Yongjin dari seberang.

"Aku sedang ada dicafe, hyung."

"Apa kau sudah menemui yeoja itu?"

"Ne, sekarang dia bersamaku." Jawab Yunho sambil melirik Jaejoong yang sedang meminum minumannya melalui sedotan.

"Apa dia mau?"

"Dia mau. Aku akan kesana bersamanya sekarang. Kau beritahu saja alamatnya padaku."

"Ne, akan aku kirim lewat pesan. Hati-hati ne. jangan sampai ada yang memergokimu besama dengan seorang yeoja. Bisa-bisa kau terkena skandal lagi. Itu akan sangat menyusahkanku." Pesan Yongjin yang membuat Yunho terkekeh.

"Arra, aku tidak akan ketahuan, hyung. Annyeong." Yunho memasukkan ponselnya kedalam saku celananya setelah menutup telponnya.

"Sudah selesai?" tanya Yunho membuat Jaejoong mendongak menatapnya.

"Ne." Jaejoong mengusap bibirnya dengan tisu.

"Kita berangkat sekarang."

"Kemana?" tanya Jaejoong heran.

"Memulai syuting. Melanjutkan pengambilan gambar yang kemarin. Kajja." Ajak Yunho lalu berdiri.

"Tapi tentang uang dan tanda tangan Super Junior benar-benar berlaku kan? Aku takut kau membohongiku." Jaejoong ikut berdiri lalu memakai tas ranselnya.

"Ne, aku akan memberikannya nanti." Yunho memakai kembali kaca mata hitamnya yang tadi dia lepas lalu menggandeng Jaejoong setelah meletakkan beberapa lembar uang diatas meja.

Setelah mereka berdua masuk ke mobil, Yunho menjalankan mobilnya menuju tempat yang diberitahu oleh managernya.

Tak lama kemudian, mereka berduapun sampai. Jaejoong turun dan menatap takjub pada gedung mewah didepannya.

"Kajja." Ajak Yunho lalu menggandeng tangan Jaejoong.

Mereka masuk kelift dan naik kelantai sepuluh. Lalu mereka masuk keruangan yang luas dan banyak orang berlalu lalang dengan peralatan film. Diujung ruangan yang disinari banyak lampu, tampak banyak dancer yang sedang latihan bersama.

"Yunho-ssi." Panggil Haejoon membuat Yunho dan Jaejoong menoleh.

"Yeoja ini mau menjadi modelmu ya." Haejoon tersenyum menggoda saat melihat Yunho menggandeng erat tangan Jaejoong.

Yunho yang curiga langsung mengikuti arah pandang Haejoon dan tersentak lalu langsung melepaskan tangan Jaejoong. Yunho dan Jaejoong merona membuat Haejoon tertawa.

"Arra, kalian bersiap-siaplah." Haejoon meninggalkan Yunho dan Jaejoong lalu dua penata rias menghampiri mereka dan langsung menata penampilan mereka.

Satu jam kemudian Yunho dan jaejoong selesai di make up. Yunho tertegun menatap Jaejoong yang memakai gaun dengan panjang selutut berwarna putih yang membuatnya sangat cantik dan bersinar seperti malaikat.

"Jadi begini, Yunho-ssi masih berusaha mendapatkan cinta yeoja ini…"

"Han Jaejoong." Potong Jaejoong cepat karena Jaejoong risih yang ditunjuk-tunjuk Haejoon. Risih karena Haejoon menunjuk tepat didepan dadanya (?).

"Ne, mian Jaejoong-ssi. Yunho-ssi masih berusaha mendapatkan cinta Jaejoong-ssi sehingga Yunho hadir dipesta teman Yunho-ssi yang kebetulan juga mengundang Jaejoong-ssi. Lalu nanti Yunho-ssi mengajak Jaejoong-ssi berdansa dan Jaejoong-ssi pun akhirnya jatuh cinta pada Yunho-ssi. Kalian berdua paham?" Yunho dan Jaejoong mengangguk.

"Arra, kita mulai sekarang. Dancer dan Yunho-ssi langsung berada diposisinya masing-masing." Haejoon menepuk tangannya agar semua kru dapat bekerja dengan cepat.

"ACTION!" teriak Haejoon lancang.

Musik dan lagu Checkmatepun mendentum menggema diruangan itu. Yunho dan dancer namja dan yeoja menari sesuai irama.

Deg..

Jantung Jaejoong berdebar tidak karuan melihat Yunho yang sedang menari. Sekarang dimatanya, Yunho terlihat tampan dan seksi. Jaejoong merona heboh dan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"Melihatnya saja sudah berdebar. Bagaimana kalau aku berdekatan dengannya."

,

T.B.C

,

Aneh ya..

Readers : neeee…

:D

Terserah deh kalau emang aneh.

Tapi kalo boleh jujur, fic ni adalah fic favoritku.

Karena umma orang Indonesia.

Jaema : bukan orang Indo asli.

Hahaha

Rencananya mau publish kemaren, lha kok aq malah ketiduran. hoho

,

Makasih buat yang mau review,

Mian gak bisa balas review kalian.

Insya Allah di chap depan.

,

Berkenan review….