Panas mentari yang cukup mengereng menyinari bumi dengan begitu adil mampu membuat kulit siapapun menjadi sedikit menggelap. Namun tidak bagi seorang Jeon Jungkook, yang justru merasa sinar mentari sanggup membakar otak, hati serta matanya yang serasa memanas melihat adegan dua orang dewasa tengah berciuman dengan tak tahu malunya disebuah restoran yang memang cukup sepi pengunjung itu.
Matanya tersilat pancaran amarah yang teramat sakit, sebab bukan main hatinya teremat dengan begitu kuatnya melihat pemandangan menyakitkan mata itu. Saat itu, bahkan terbesit bayangan senyuman si bungsu yang begitu lirih kala ia mengatakan sangat merindukan sang ibu dan dengan begitu percaya dirinya juga mengatakan bahwa sang ibu juga merindukannya bahkan teramat sangat merindukan dirinya.
Dengan langkah pasti namun perlahan guna mengatur emosinya yang meletup-letup, jungkook beralih menarik bahu salah satu pelaku hingga tautan keduanya terputus dan mengundang gerutuan dari lelaki manis yang tadi terlihat memejamkan mata karena terlalu asik melilitkan lidah dan menyesap bibir sang lawan. Bermaksud melayangkan protes, justru kali ini lelaki manis itu terpepkur dengan sosok dihadapannya.
—plak—
Sebuah tamparan cukup keras terhempas pada pipi mulus milik lelaki manis itu, suara tamparan yang cukup nyaring pun cukup membuat ekstensi ketiganya menjadi pusat sementara beberapa pengunjung yang ada. Lelaki manis itu menoleh kearah sang pelaku penamparan yang kini tengah mengetatkan rahangnya guna meredam emosinya yang tiba-tiba saja berada di ujung ubun-ubunnya.
"Kau!" ucapan itu penuh dengan ketidakterimaan, membuat jungkook —sang pelaku penamparan— mengangkat alisnya kala taehyung —sang lelaki manis— menunjuk dan menatap nyalang kearahnya.
"Apa? Itu bahkan tak sebanding dengan apa yang kau lakukan, kim taehyung." jawab jungkook sedatar mungkin namun nada kekesalan disana masih begitu kentara.
Menurunkan jari yang tadi sibuk menunjuk jungkook, taehyung berdecak sebal seraya menghela nafasnya lelah. "Memang apa yang aku lakukan? Hingga tamparan manis darimu begitu tidak sederajat dengan perlakuan ku yang bahkan jelas-jelas begitu sangat wajar, Jeon Jungkook-ssi?" tanyanya penuh penekanan, sebab merasa dirinyalah yang paling benar.
"Kau masih bertanya? Sebenarnya, dimana otakmu? Kau masih bertanya apa yang kau lakukan?" tanya jungkook tak percaya.
"Kau bertanya seakan-akan kau adalah makhluk paling tak bersalah yang Tuhan ciptakan. Tidakkah kau sadar, tae? Anakmu, putri bungsumu yang dulu begitu kau sayangi tengah berjuang melawan sakitnya disana?" ucap jungkook begitu lirih, menyuarakan perih yang tergoreskan karena pengutaraan sang anak malam itu.
Memutar matanya malas, taehyung beralih menumpukan kedua tangannya pada pinggang ramping miliknya. "Dengar jungkook, bukankah sudah kukatakan padamu? Aku sudah lelah, dan sudah kukatakan cukup jelas padamu untuk merawat putrimu yang tak dapat bicara dan penyakitan itu seorang diri? Apa kau telah tertular penyakit putrimu? Dan membuat telingamu tak berfungsi begitu baik sama sepertinya? . . . .tentangnya." penuh penekanan, taehyung melontarkan itu dengan begitu lancarnya.
"Lagipula, Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika aku bukanlah ibu yang baik? Jadi, sekarang aku akan bertingkah layaknya apa yang kau ucapkan. Hak asuh anak-anak telah jatuh padamu, aku tak berhak ikut campur lagi. Aku ibu yang buruk, aku memang tak punya otak sebab semuanya terlalu melelahkan. Aku— tak ingin anak-anakku mengakui sebagai ibu mereka lagi, karna— aku sudah bahagia sekarang dengan keluarga baruku." sambungnya cukup tenang.
Bagai tersambar jutaan volt listrik yang diantarkan petir, jungkook terpaku sejenak. Otak jeniusnya terpacu mencerna rantaian kalimat yang taehyung lontarkan, kata-kata itu berputar perlahan diotaknya lalu dengan begitu menyiksa menyayat hati jungkook. Matanya kembali memanas, kali ini ia biarkan beberapa menetes dan jatuh, berharap bisa membasuh luka tak nampak dihatinya kali ini.
Ia memandang taehyung sendu, matanya berkedip perlahan sebab mengabur terhalang airmata yang mendesak keluar. Tersenyum miring sekilas meremehkan, lalu sesaat kemudian menatap tajam taehyung. Begitu menusuk, hingga taehyung seketika lupa berpijak kala menyelami manik hitam kelam yang nampak terluka itu.
"Kau benar tae." jungkook membuka suara, membuat taehyung meremang dengan suara rendah itu.
"Aku tertular penyakit putri tercintaku. Tertular penyakit menyakitkan yang senantiasa meremat jantungku dan putri tercintaku. Dia— dia.. Yang kau sebut sebagai anakku yang gagu dan penyakitan itu, kini tengah merindukan sosok ibu yang dulu begitu mengasihinya, menyayanginya, bahkan mengorbankan segalanya. Namun kini, sosok ibu itu malah membuang dirinya, mengata-ngatai dirinya, bahkan tak menginginkannya lagi. Miris, miris sekali. Miris sekali razza merindukan monster sepertimu tae. Miris sekali, dia menangisi seseorang yang bahkan tak memperdulinya. Miris sekali, keinginan terakhir dirinya adalah melihat mu dan diriku menemani dirinya yang memilik peluang hidup tak lebih dari 90%. Asal kau tahu tae, razza serakat. Benar-benar sekarat, dan dokter berkata bahwa kita hanya mempunyai waktu sedikit untuk membuatnya bahagia. Jika kau— membuangnya seperti itu, kumohon. Kumohon jangan menyesal jika nantinya kau tak dapat membahagiakan putrimu yang begitu manis itu. Maaf, aku harus segera pergi. Maaf atas perilaku tak sopan tadi, dan ah— ini kuharap mau melihatnya. Razza yang menyuruhku memberikan ini padamu tadi, aku pamit. Terimakasih atas waktumu, dan sampai jumpa. Kim— ah maksudku Park Taehyung."ucap jungkook panjang lebar, ia menyerahkan sebuah kotak kecil berisi sebuah kaset pada taehyung lalu segera beranjak pergi darisana.
Meninggalkan taehyung yang terpekur sebab sesak seketika merayap pada dadanya setelah mendengarkan ucapan terpanjang jungkook.
JXCHOBUN FANFICTION PRESENT :
THE LAST
CAST : JEON JUNGKOOK X KIM TAEHYUNG
JEON JUNGRA (OC)
JEON (MIN) YOONGI
AND OTHER CAST
LENGTH : TWOSHOOT
( ("Razza"): penjabaran ucapan yang dilontarkan )
PLEASE, DONT DO PLAGIARISM THIS STORY!
‹ HAPPY READING!›
09:00 PM KST.
Seoul Hospital.
Derap kaki berlangkah besar menggema sepanjang intensitas kecepatan yang digerakan guna menyelusuri lorong rumah sakit yang seakan tak ada ujungnya ini. Jungkook melangkah tergesa menuju rumah sakit setelah mendapat telepon dari sang putra jika sang putri tiba-tiba saja drop dan meraung kesakitan disekitar areal hatinya. Dan seketika itu juga, jungkook merasa dunianya runtuh dan kepalanya terasa pening mendengar kabar itu.
"Tidak, tidak razza. Jangan lakukan ini pada appa. Jangan sayang, jangan. Kau tak boleh pergi secepat ini." jungkook bergumam seraya terus berjalan gontai dan terburu-buru sepanjang lorong sehingga membuat dirinya menubruk siapapun yang berlalu lalang di dekatnya.
Langkahnya semakin melebar dan cepat, secepat detak jantung dan rasa takut yang luar biasa itu. otaknya benar-benar tak bisa berpikir jernih, kali ini diotaknya hanya ada nama dan keadaan sang putri saja. Ia terhenti disebuah kamar bernomor 2188 itu, membuka pintu itu perlahan seraya menghela nafas mencoba terlihat netral agar sang putri tidak curiga.
Pemandangan sang putri yang tengah berbaring diranjangnya dengan selang infusan yang terlihat sedang diganti itu adalah hal pertama yang jungkook liat, helaan luar biasa lega ia hembuskan kala melihat putrinya masih berada disana dengan nafas yang teratur dan serta dengan jantung yang masih berdetak.
"Appa." kali ini yoongi bersuara kala melihat sosok sang ayah disana, membuat jungkook sedikit berjengit kaget lalu dengan segera membungkuk hormat pada figur seorang dokter muda yang berada disana.
"Apa kau Tuan Jeon? Ayah dari Jeon Razza?"tanya sang dokter dengan sopan dan penuh dengan keramah tamahan. Jungkook mengangguk seraya menjabat tangan sang dokter yang terulur.
"Aku Kim Namjoon, dokter spesialis hati. Aku lah dokter yang biasa merawat razza. Boleh kita berbicara sebentar saja?" ujar sang dokter yang diketahui bernama namjoon itu, jungkook lagi-lagi mengangguk afermatif sebagai jawaban.
Yoongi yang paham pun bergegas meninggalkan mereka berdua yang kini terlihat berbincang didepan pintu. Matanya menatap sosok razza yang terlihat semakin kurus dengan bibir peachnya berubah menjadi pucat seputih salju pada musim dingin. Tangan adiknya yang dulu terlihat begitu lincah kala menggoreskan tinta berwarna pada sebuah kanvas, kini terlihat begitu lemas dan terlihat semakin kecil seolah mengundang yoongi untuk selalu menggenggam tangannya. Tak terasa, mata yoongi memanas saat ucapan sang dokter kembali terulang diotaknya. Hatinya teriris perih, menolak sebuah skenario Tuhan yang begitu tak adil. Mencoba meraung dalam hati guna menyuarakan kekecewaannya pada Sang Pencipta, sebab dengan begitu teganya Tuhan menulis sebuah cerita memilukan dengan tokoh utama adiknya.
Apakah ini lelucon? Apakah sangat senang melihat umat-Mu menderita duhai Sang Penguasa Alam? Sebegitu puaskah Kau mempermainkan diriku serta keluargaku?
Terlarut dalam pikirannya sendiri, yoongi tak menyadari jika sosok yang ia tangisi telah membuka matanya. Mengerjap perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk, kepala cantiknya menoleh dan mendapati yoongi lagi-lagi menangis dalam diam seraya menatapnya. Ia tersenyum samar dibalik alat pernapasan yang terpasang, tangan yang masih terasa lemas itu kini beralih memegang pipi sang kakak hingga yoongi kembali berjengit kaget. Buru-buru dihapusnya airmata itu lalu tersenyum lembut pada razza.
"Kau sudah sadar? Apa masih terasa sakit disana?" tanya yoongi yang dibalas dengan gelengan lemah razza. Hazel serupa lelehan coklat itu menatap lurus kedua orang didepan pintu.
"Dokter Namjoon tengah berbincang dan menjelaskan sesuatu pada appa. Sebentar lagi juga selesai— ah, aku yang menelpon appa tadi. Maaf razza, tapi sungguh. Aku kalut sekali tadi."jelas yoongi seolah mengerti apa yang razza pikirkan tentang keberadaan appa mereka yang bisa dikatakan jarang sekali.
Kedua orang dewasa yang berbincang itu kini terlihat berjalan mendekat kearah mereka, sang dokter yang mengetahui razza sudah sadar tersenyum dengan dimpel khas yang ia miliki. Disana, jungkook —sang appa— terlihat ikut tersenyum lebar, meskipun razza tau sorotan mata jungkook penuh dengan kepedihan kala menatapnya. Namun, senyum hangat itu tetap mendominasi diri jungkook.
"Apa masih sakit? Kau harus banyak istirahat dan jangan terlalu sering keluar dari kamar. Kau kurang tidur, kantung matamu terlihat menebal. Apa yang kau pikirkan, eum?" tanya sang dokter seraya memeriksa razza dengan benda dingin yang diberi nama stetoskop itu.
Kepalanya terlihat mengangguk beberapa kali lalu kembali tersenyum seraya menyimpan stetoskopnya itu. "Keadaanmu lebih stabil sekarang. Banyak istirahat dan tersenyumlah, peach. Jika masih ada yang sakit, katakan pada yoongi atau appamu okay? Baiklah, aku pamit undur diri. selamat malam jungkook, yoongi dan kau juga peach." ujarnya meninggalkan ketiganya.
Sepeninggalan dokter namjoon, jungkook dengan cekatan menarik diri disamping razza. Ia mendudukan dirinya disana, mengusap pelan rambut sang anak yang selalu wangi itu. Senyuman dibibirnya tak pernah pudar, seakan menunjukkan pada razza jika dirinya tak pernah lelah tersenyum guna mengatakan semuanya baik-baik saja.
( "Appa, apa ada yang dokter namjoon katakan tentang diriku? Apa— aku baik-baik saja?") razza mulai menggerakan tangannya lemah guna memulai percakapa dengan sang ayah. Jungkook mengangguk konfirmatf, lalu mencubit hidung sang putri pelan.
"Dokter bilang kau hanya perlu istirahat penuh. Appa dengar, putri appa selalu merayu sang kakak untuk mengajaknya keluar dari kamar. Apa itu benar?" tanya jungkook lembut, razza menyengir lucu menunjukkan deretan giginya dan yoongi menggaruk tengkuknya tak gatal mendengar ucapan sang ayah.
( "Maaf appa, razza yang salah! Jangan salahkan yoongi oppa! Razza yang meminta sebab razza bosan berada dikamar, yoongi oppa selalu melarang razza tapi razza tak mendengarkannya. Maafkan aku.") lagi, razza bergerak aktif membuat rantaian kalimat yang diakhiri dengan memegang kedua telinganya tanda ia meminta maaf dan menyesal.
Jungkook terkekeh geli melihat sang putri, ia mengangguk lalu menurunkan tangan sang anak dari telinganya. Mengecup pelan keningnya seraya berbisik.
"Tak apa sayang, appa akan menemanimu juga sekarang. Membuatmu bahagia adalah tugas appa kali ini. Benarkan yoongi?" jungkook berucap dengan sedikit tercekat dan menatap yoongi dengan mata berbinar sedih, seolah mengerti yoongipun mengangguk dan beranjak memeluk sang adik erat.
‹ other place ›
Kediaman Keluarga Park.
Hazel coklat familiar itu kini tengah termenung menatap sosok yang amat ia sayangi pada layar laptop. Tadi, sesaat ia pulang dari restoran tempat ia dan jungkook bertemu guna membicarakan sesuatu hal —namun berakhir mereka bertengkar— taehyung hanya termenung dan seikit tak bersemangat. Membuat sang suami Park Bogum bertanya heran namun dibalas dengan gelengan kecil saja.
( "Aku menyayangi eomma! Benar-benar menyayangi eomma! Yoongi oppa, apa eomma menyayangi razza juga?") direkaman itu terlihat seorang gadis yang tengah terduduk diayunan sebuah taman rumah sakit tengah berbicara menggunakan bahasa isyarat yang ia lontarkan dengan tangannya.
Dibelakangnya, bisa taehyung lihat sang putra tengah mendorong pelan sang putri dengan sengat pelan. Disana terdapat 3 orang, dimana taehyung meyakini bahwa ada jungkook disana atau yang lebih tepatnya jungkooklah yang bertugas merekam itu semua.
"Hm— bagaimana ya? Kalau dilihat dari perlakuannya selama ini, bisa dilihat eomma menyayangimu. Tapi, kalau menurutku eomma itu lebih sayang padaku. Benarkan appa?" ujar yoongi sang kakak dengan nada kentara meledek disana.
Razza mempoutkan bibirnya sesaat, lalu menggeleng imut dengan bibir peach itu tetap mengerucut. Lalu sesaat kemudian ia terlihat menggerakan tangannya lagi.
("Hey— apa-apaan itu?! eomma itu menyayangi kita berdua tau!")
"Benarkah? Kenapa kau begitu yakin eoh? Kau kan sudah lihat, jika orang yang dipanggil eomma saat eomma kesulitan itu adalah aku dan bukan kau. Itukan sudah jelas, jika yang eomma sayangi itu hanya aku." Yoongi kembali berujar dengan mendorong pelan ayunan razza.
Razza sempat terdiam beberapa saat, mengundang keterkejutan yoongi saat sadar dengan ucapannya sendiri. Jungkook yang melihat itupun berjalan mendekat, "Sayang, maksud oppamu bukan—" ucapan jungkook terhenti kala sang putri kini justru tersenyum kelewat lebar, lalu kembali membentuk rangkain kalimat dengan tangannya.
( "Yoongi oppa itu benar, appa. Dia itu bisa diandalkan, bisa bebicara dengan lancar dan tidak seperti diriku. Aku sadar, eomma memang pasti sangat menyayangi yoongi oppa. Karena yoongi oppa itu terbaik! Selalu menjaga ku lalu mengurusku saat eomma tak ada, kkkkk tapi— tetap saja. Meskipun begitu, eomma menyayangiku! Sebab dia selalu meminta yoongi oppa yang merupakan anak kesayangannya menjagaku! Aku benarkan, appa?) razza menatap jungkook berbinar dan terkekeh tanpa suara.
Tanpa sadar, jungkook mengangguk pelan dan tersenyum lembut. Ia mengecup sekilas puncuk kepala sang putri yang sangat manis. Tatapan jungkook menyiratkan luka yang teramat dalam, namun ia menyembunyikannya agar tak terlihat lemah didepan kedua anaknya.
"Kau benar sayang. Jadi, sekarang cepat lakukan apa yang kau inginkan, eum? Appa sudah pegal memegang kamera ini sayang." jungkook setengah merajuk dengan wajah menggemaskan, membuat razza terpekik gemas hening.
("Hadapkan padaku! Hadapkan padaku! Yoongi oppa sana! Hush! Gantikan appa cepat!") razza memberikan gesture mengusir dengan lucu, membuat yoongi merajuk pura-pura dan jungkook terkekeh geli.
Yoongi mengambil alih kamera dari tangan sang ayah, lalu sang ayah terduduk disamping yoongi dengan sangat manis. Keduanya tersenyum lalu sama-sama membuat kata 'oke' dengan tangannya sebagai mereka sudah siap, dan disaat itu juga mereka merekam razza yang bergerak dengan ceria namun sarat akan kesedihan dan kerinduan yang dalam membuat kedua orang yang menatapnya terdiam kaku dan tanpa sadar merasa tersayat hatinya.
Razza mengakhiri gerakannya dengan senyuman miris dan air mata yang mengalir. Lalu dengan perlahan membentuk love sign dengan kedua tangannya seraya bergumam,
"Au menyintaimu eom ma.." dan seiring itupun rekaman telah berakhir.
Taehyung terpekur ditempat, matanya basah sebab tak berhenti menangis karena luka goresan tak nampak kala melihat rekaman itu. Dan disaat itu juga, taehyung menangis meraung seraya memeluk baju sang putri semasa kecil mencoba menyuarakan rasa sakit tiada tara itu.
( To Be Continued )
hello~! Anyone who stay and read this story? Hehehe sorry for typos.
mind to review?
