a/n: Assalamu'alaykum semuanya, waduh, udah lama banget ya vea ngga update cerita ini, hehe maklum sibuk banget. Akhir-akhir ini vea sering berangkat jam 6 pagi ke sekolah dan pulang sekolah jam 6 sore. Cape banget rasanya, jangankan untuk mengetik, mengerjakan PR saja didadak di shubuh hari, vea bener-bener minta maaf untuk keterlambatan ini ya,^^a
Avril : Wah, makasih banyak ya, kelanjutannya maaf baru bisa di publish sekarang m(TT_TT)m
Hana : Wa'alaykumussalam, wah makasih banyak, terus baca kelanjutannya :)
Shihui : Yup, nasibnya memang digariskan begitu #dicekek Micchi# err, terus ikuti kelanjutannya ya^^
Cerita ini spesial untuk :
_Himeka yang mau jadi teman curhatku_
_Kang RFF yang udah bikin aku kembali menyukai nasyid dibanding vocaloid_
_Suzune anak di dunia mayaku tersayang_
_Jodi yang udah selalu satu pikiran denganku di dunia rohis_
_Kamu yang udah nyempetin baca chapter ini_
I'll Be There For You
Kamichama Karin © Koge Donbo
I'll Be There For You © Invea
.
.
"Akh... A—Aku—"
Mendengar suara itu, aku langsung berbalik ke arah sumber suara. Ku lihat tangan Michiru berusaha menggapai langit seolah berusaha untuk bangun. Aku lantas bergegas menghampirinya.
"Syukurlah, kau sudah siuman," gumamku setibanya di samping tempat tidur pemuda berambut kecokelatan tersebut. Kepalanya langsung menoleh ke arahku—membuat sedikit rona merah muncul di kedua pipi putihku.
"Hi—Himeka?" tanyanya heran. Aku lantas tersenyum ke arahnya.
"A—Aku di mana?" tanyanya lagi.
"Kau sekarang ada di rumah sakit. Sebaiknya kau jangan dulu banyak bergerak," jawabku. Dia tampak menggerakkan kepalanya menghadap ke atas langit-langit kamar tempatnya dirawat.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya kemudian. "Kenapa aku merasa mata kiriku terhalang sesuatu?" lanjutnya. Aku sedikit bimbang untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya. Namun, telah mengajarkanku untuk senantiasa bersikap jujur pada pasien ataupun keluarganya.
"Ka—Kau mengalami kecelakaan. Dan mata kirimu terluka," jawabku sedikit ragu. Matanya tersentak seolah-olah teringat hal lain.
"Oh ya, orang tuaku! Di mana mereka? Apa mereka terluka juga?"
"Emh, i—itu—" Aku langsung memalingkan wajahku. Melihatnya yang benar-benar dalam kondisi parah seperti ini, tak sanggup rasanya jika aku harus mengatakan yang sebenarnya. Perlahan tetes air mataku mulai mengalir.
"Himeka, katakan padaku!" bentaknya kemudian.
"Ma—Maafkan aku. Aku harus melaporkan keadaanmu pada dokter sekarang,"
Aku langsung berlari dan menutup pintu kamar. Ku intip Michiru yang masih terbaring lemah di sana. Ia tampak menatap langit-langit dengan tatapan yang sayu. Air mataku kembali tumpah. Kenapa harus dia yang mengalami semua ini?
Aku menghapus air mataku dengan pelan. Aku harus kuat dan tegar. Saat ini yang terpenting adalah kesehatan Michiru. Di saat seperti ini, justru aku harus berusaha agar Michiru bisa kembali sehat seperti dulu.
Aku pun lantas bergegas menuju ruangan untuk melaporkan kondisi Michiru. Mendengar bahwa Michiru sudah sadar, Kazune kemudian bergegas menuju kamar Michiru—tak lupa ia pun memintaku untuk mengikutinya.
"Kazune?" ujar Michiru setibanya kami di ruangannya. Ia langsung menatap kami dengan tatapan tajam terutama padaku—mungkin karena tadi aku tidak menjawab pertanyaannya. Maafkan aku Michiru, namun aku benar-benar tidak sanggup menceritakannya kepadamu.
"Apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Kazune sembari memeriksa keadaan Michiru.
"Tidak ada. Tolong beritahu aku keadaan kedua orang tuaku," seru Michiru tidak sabaran. Ku lihat Kazune langsung tersentak mendengarnya. Ia menoleh ke arahku dan aku hanya menunduk sembari memalingkan wajah.
"Aku harus memeriksa keadaanmu dulu, Nishikiori-kun," gumam Kazune kemudian dengan dingin.
"Aku tidak apa-apa, Kazune. Sekarang tolong beritahu aku keadaan kedua orang tuaku," pinta Michiru. Kazune mengacuhkannya dan terus memeriksa kondisi tubuh Michiru.
"Apa kalian tidak mendengarku? Atau mulut kalian kini membisu?" bentak Michiru. Ia kini terlihat marah. Wajar saja. Ia tentu pasti sangat mengkhawatirkan kedua orang tuanya. Tapi, kalau Michiru tahu kenyataan ini, dia pasti akan sangat tertekan.
"Himeka! Cepat kau jawab pertanyaanku!" bentak Michiru lagi. Aku hanya terdiam menunduk dan memunggunginya.
"Kenapa kau malah memunggungiku!" serunya kemudian. Aku masih terdiam. Tak lama, terdengar suara dingin Kazune,"Ini rumah sakit. Tolong bersikap tenang. Ruanganmu bukan ruangan kedap suara. Kau bisa mengganggu pasien di ruangan sebelah,"
"Bagaimana aku bisa tenang sementara aku sama sekali tidak mengetahui keadaan kedua orang tuaku?" Michiru marah. Ia terlihat sangat murka. Raut wajahnya tak lagi menampakan keramahan yang dulu senantiasa melekat di badannya.
"Nanti pun akan kau ketahui sendiri!" gumam Kazune masih dengan nada dingin. Brak! Michiru langsung bangkit dan menarik kerah jas dokter milik Kazune.
"Aku. Ingin. Tahu. Sekarang. Juga," seru Michiru dengan nada mengancam dan memberi penekanan yang kuat di setiap katanya.
"Baiklah. Tapi, ku minta untuk tenang," ujar Kazune akhirnya. Michiru kemudian melepaskan pegangannya. Aku langsung menatap ke arah Kazune. Ku lihat dia mengisyaratkan padaku untuk tetap tenang. Ku tatap Michiru. Mata ungunya kini tampak menunjukkan ketegasan dan keseriusan. Jujur saja, ini pertama kalinya ku lihat Michiru yang seperti ini.
"Kedua orang tuamu sudah tiada," gumam Kazune sembari menunduk. Ia terlihat menyesal. Ku tatap Michiru. Tubuhnya bergetar, air matanya perlahan mengalir. Matanya membulat besar.
"Bo—Bohong. Ka—Kau hanya bermaksud menipuku bukan? Hahaha, itu tidak lucu Kazune. Katakan di mana kedua orang tuaku sekarang," seru Michiru. Kazune menggeleng pelan.
"Aku tidak berbohong Nishikiori. Semua itu benar," ujar Kazune meyakinkan.
"Jangan bercanda! Mereka pasti masih hidup. Benar kan Himeka? Katakan padaku Himeka. Mereka masih hidup kan?" Kini Michiru menatapku seolah-olah hendak memintaku untuk menghentikan semua ini—yang mungkin dianggapnya hanya sebuah lelucon.
"Ma—Maaf, Michiru. Ta—Tapi, apa yang dikatakan Kazune benar. Setelah kecelakaan itu, hanya kau yang selamat," sahutku dengan suara pelan.
"Bohong.. Ini tidak mungkin terjadi!"
Michiru terlihat syok. Apalagi keadaannya masih belum terlalu baik—malahan dapat kita katakan buruk. Dia langsung terjatuh ke lantai, saat kami hendak menghampirinya, dia kemudian meminta kami untuk keluar.
"Tolong tinggalkan aku sendiri," ujarnya dengan nada yang lemah. Aku hendak menghampirinya, namun Kazune terlebih dulu menarikku untuk pergi dari tempat itu. Dan sesekali, aku hanya bisa menoleh ke belakang menatapnya.
"Kazune—" panggilku setibanya kami di koridor rumah sakit. Dia menoleh ke arahku dan lantas menepuk kepalaku.
"Percayalah ini yang terbaik,"
Aku lantas menatap wajah Kazune. Dia tersenyum lembut dan akupun berusaha menyunggingkan sebuah senyuman di wajahku. Kazune memang baik. Dia sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri. Begitu pula dengan calon istrinya, Karin. Mereka pasangan yang sangat serasi menurutku—walau tak jarang mereka sering bertengkar.
"Oh ya, bagaimana kalau kau mampir ke ruanganku sebentar? Sudah jam 11 kan? Karin akan datang sebentar lagi membawakan makan siang untukku. Kau harus ikut mencicipinya. Ku rasa makanan buatannya mulai agak mendingan," saran Kazune. Aku mengangguk mengiyakan. Ku rasa tak ada buruknya juga. Sekalian aku ingin curhat pada Karin.
Benar saja, saat kami kembali ke ruangan Kazune, terlihat gadis manis berambut cokelat muda tengah duduk manis sembari memeluk keranjang berisi makanan. Kedua matanya terpejam dan desahan nafasnya dapat terdengar. Ku rasa ia tengah ketiduran.
"Dasar Karin. Datang-datang malah tidur," keluh Kazune seraya berusaha membangunkan calon istrinya itu. Ku lihat Karin masih memejamkan matanya, namun kini ku rasa dia hanya berpura-pura tidur. Kazune pun sepertinya menyadarinya. Ia terlihat tersenyum sejenak dan kemudian menyentil dahi Karin.
"Auw!" ringis Karin. Matanya langsung terbuka dan tangan kanannya langsung mengusap-usap dahinya. "Sakit!" keluhnya. Kazune tertawa pelan.
"Makanya, pakai pura-pura tidur segala," sahutnya seraya mengambil keranjang makanan yang tadi dipeluk gadis bermata hijau emerald itu.
"Huh, kok ketahuan sih?" Karin langsung menggembungkan pipinya—kesal. Kazune terlihat mengacuhkannya dan kemudian mengeluarkan makanan yang telah dibuat dengan susah payah oleh Karin.
"Ih, Kazune!" seru Karin berusaha menarik perhatian Kazune. Gadis itu kemudian mencubit pipi Kazune.
"Auw! Sakit!" Kini giliran Kazune yang meringis kesakitan. Karin masih menggembungkan pipinya dengan kesal. "Suruh siapa nyuekkin aku?" keluhnya. Aku lantas tertawa melihat pertengakaran di antara mereka. Dan mereka pun tersenyum lembut ke arahku. Ah, aku sayang sekali sahabatku!
.
.
To Be Continued
.
.
Review Please?
