Vocaloid belongs to Yamaha! But you belong with me~ #geplaked

Warning: OOC, TYPO, GAJENESS, ALUR GAK NYAMBUNG, PENJELASAN SEDIKIT, DAN TERLALU BANYAK SKIP TIME.

Beberapa tokoh seperti Scarlett, Evangeline, etc. hanya sekedar imajinasi author, jangan dimasukin ke hidung (?).

.

.

.

NORMAL POV.

"Rin? Kau kelihatan sangat pucat…" Len mengernyitkan dahinya.

Dasar Len, aku hampir saja mati disini hanya karena terkejut… Pikir Rin agak sebal.

"Apa jangan – jangan kau demam?" Len menaikkan satu alisnya, membuat Rin memutar kedua bola matanya kesal. Kalau tidak tahu apa – apa, lebih baik kau diam! Pikir Rin. Rasanya Rin lebih banyak membatin daripada berbicara (?). Mereka berdua terdiam untuk waktu yang sangat lama, saling berpandangan. Rin menatap Len dengan tatapan kesal, sedangkan Len menatap Rin penuh kekhawatiran.

"Ya sudahlah, ayo kita ke sekolah bersama-sama, Len—" Rin terdiam. Ia mendengar melodi lagu yang sering ia dengar dari Miku-nee. Bukan, itu bukan melodi yang biasa ia nyanyikan. Itu melodi lagu Taylor Swift.

If you could see that I'm the one who understands you
Been here all along, so why can't you see?
You, you belong with me, you belong with me

Rin menelan ludah, raut wajahnya berubah seratus delapan puluh (180) derajat. "eee—Ano—Aku… aku berangkat sendiri saja—Sayonara—" Ucap Rin dengan suara serak. Tenggorokannya tercekat.

Rin melangkah—tidak, berlari secepat yang ia bisa. Menghindari Luka dan Miku.

.

.

.

"Sensei akan bagikan hasil ulangan matematika kemarin! Dan seperti biasa, sensei akan mengumumkan nama orang-orang yang berhasil mendapat nilai bagus," Ucap sensei Meiko. Seisi kelas terdiam dan terpaku, menunggu nama yang akan disebutkan sensei.

"Scarlett Kenelm, dengan nilai 8,8 untuk tes matematika!" Seru sensei bersemangat. Seisi kelas bersorak. Sahabat—pacar—Scarlett, tak lain Alex bersorak paling gembira dan paling keras dari semua murid.

"Kedua… Evangeline Darthmouth, dengan nilai 9,3 untuk tes matematika!" Seisi kelas bersorak lagi, termasuk Scarlett karena Eva adalah sahabatnya.

"Ketiga… Rin Kagamine! Dengan nilai 9,8 untuk tes matematika! Selamat, Rin!" Umum Sensei Meiko. Seisi kelas tiba – tiba terdiam. Tidak ada sorakan sama sekali, melainkan tatapan 'ngeri' dari semua murid.

Ketiga murid itu maju kedepan, lalu menerima kertas tes matematika. Eva dan Scarlett tersenyum, sedangkan Rin menggigit bibir. Ia tahu, pasti sekarang Miku dan Luka menatapnya. Menatapnya dengan penuh rasa kedengkian. Ia tahu.

Rin menatap keseluruh pelosok kelas. Tiba – tiba matanya menemukan Len yang sedang di apit oleh kedua gadis bekas sahabatnya itu, Luka dan Miku. Rin reflex mengepalkan tangannya, walaupun ia tahu ia tidak akan pernah bisa menghajar mereka berdua.

.

.

.

"Hei, blonde hair, sangat bangga mendapat nilai 9,8?" Goda Luka dengan seringaian khasnya. Wajah Rin memucat seketika. "Kau tidak pantas berada di depan kelas dengan wajah jelek seperti itu!" Luka menjambak rambut pirang Rin.

"Aww, tolong jangan, tolong jangan!" Rintih Rin.

"Kurasa your sparkling charming prince, tidak akan menolongmu." Ucap Miku. "Atau harus aku panggil dia My sparkling charming prince? Haha!" Tawa Miku.

"Buat apa kau kesekolah! Mati sana!" Seru Luka, melemparkan kertas yang sudah diremas dari tong sampah pada Rin. "Kau tidak pantas bersanding di samping Len!" Lanjut Luka lagi, membuat Rin sakit hati. Memang kalau tidak pantas, memangnya itu urusan kalian?

Miku mengambil spidol permanent, lalu mencorat – coret baju seragamnya dengan tulisan "Pergi!" ; "Mati saja!" ; "Bodoh!" ; "Pembawa sial!" dan lain – lain.

"Miku, sepertinya kita sudah kelewatan—"

"TIDAK! Ini belum cukup, aku belum puas, dia pasti belum kapok…" Potong Miku dengan kasarnya. Ia mengambil gunting dari kantong seragamnya.

"MIKU! Hentikan! Miku!" Luka berusaha mencegah Miku, namun Miku mendorong Luka dan menyebabkan Luka terantuk lemari kelas, dan ia pingsan di tempat, tak berdaya.

"Datanglah pada mommy, gadis kecil… datanglah…" Gumam Miku dengan seringaian khasnya dan air liurnya menetes. Ini pasti bukan Miku… Ini pasti bukan dia!

Terdengar bunyi langkah kaki dari luar, dan terdengar kata – kata "Iya, aku akan segera kebawah jika sudah menemukan kotak pensilku, mate! Tenang saja," dengan nada berat. Sepertinya ia masih menelfon temannya.

Krieet…

Rin dan Miku menoleh kesumber suara, dan menemukan Hatsune Mikuo berdiri dengan mulut membentuk "O" besar. Handphone yang ia pegang pun jatuh. Keadaan hening, namun tegang. Tidak ada yang berbicara sama sekali, bahkan lalat pun terdiam dan tidak terbang.

"Ri—Rin? M—Miku? Apa yang—OH! Luka!" Jerit Mikuo histeris. Ia melihat Miku dengan gunting di tangannya. "Miku—kau—"

Mikuo berjalan cepat kearah Miku lalu menamparnya. Rin sangat ketakutan dan lemas, lalu Rin pun terduduk. Air matanya menetes. "M—Miku—nee…" Panggil Rin dengan suara serak. Tangannya berusaha menggapai Miku, namun Miku menepis tangannya.

"APA-APAAN? Aku sudah lama benci padamu, Rin! Kau selalu mendapatkan segalanya! Keceriaan, teman, kebahagiaan, perhatian, Len, Kasih sayang… sedangkan aku? Aku yang CV01 saja tidak mendapatkan semua itu! Aku merasa ini tidak adil!" Seru Miku. "Dan KAU! Kau… padahal kembaranku… namun kau memihak perempuan itu! Kau bukan kakakku lagi! Menjauh dariku!" Seru Miku. Miku mengambil tasnya lalu bergegas pergi—sambil berlari—keluar dari kelas.

Mikuo menghela nafas panjang.

"Kau tidak apa – apa, Rin? Maafkan tindakan adikku, ya…" Ucap Mikuo. "Dia memang egois, selalu membanding – bandingkan dirinya dan orang lain, seberapa beruntungnya dia, seberapa cantiknya dia… kau tahu, dia selalu dengki kepada Luka hanya karena masalah tinggi badan." Lanjut Mikuo.

Rin mengangguk pelan, masih merasa lemas.

"Awalnya aku pikir kita teman…" Gumam Rin kecewa.

"Apa?" Tanya Mikuo sambil menaikkan sebelah alisnya. Rin tersentak kaget lalu menggeleng,

"Tidak kok, Mikuo-nii…"

TO BE CONTINUED

N.B. : TOLONG DI REVIEW YAH… (Digeplak readers)