Disclaimer: I still don't own the authority to say that Boboiboy series are mine.
A/N: Saya... gak nyangka mendapat tanggapan positif soal fanfic ini... *nangis terharu* Thanks all! Err, pertama-tama saya mau sedikit membahas review. Rupanya banyak dari teman-teman yang sedikit bingung dengan genre fanfic ini ya? Sebenarnya sesuai dengan genre yang saya cantumkan, fanfic ini bergenre family. Lha? Terus, kenapa ada embel-embel Brotherly Love Complex? Uhm, begini, mungkin persepsi saya sedikit miring soal arti dari "Brotherly Love". Menurutku Brotherly Love itu gak sama dengan "Incest". Apalagi shonen-ai.
Yang dimaksud Brotherly-love di sini adalah cerita bromance kakak adik. Jadi bukan semacam cinta terlarang—(siapa yang bilang kayak cinta terlarang -_-)
Mengenai kata-kata Taufan yang sering nyerempet sama Kak Hali, itu murni keisengan Taufan. Di chapter pertama kan sempat dikatakan bahwa Taufan melakukannya supaya kakaknya mulai jengkel dan menanggapinya dengan serius. Hmm... untuk lebih lengkapnya, akan dibahas di chapter ini deh.
Yak, kalau chapter kemarin mostly dihidangkan dari sudut pandang Taufan, untuk chapter ini dihidangkan dari sudut pandang sang sulung, Halilintar.
Oh ya, kemarin di review ada yang minta kenalan~ Tehee, jadi malu. *disepak* Iya, salam kenal, boleh panggil saya Jim. Pria. Kelahiran Cimahi. Umur 21. Single. Nomer hape— *disepak dua kali*
Alright, stop babbling, Jim. Let's just skip to the story. Okay, here we go, enjoy!
MY BROTHER AND I
CHAPTER TWO
"9 Years Effort"
.
.
.
Begitu mungil, begitu lemah.
Halilintar ikut tersenyum melihat sang ibu yang menangis haru, tak berhenti mengecup dahi bayi mungil. Kulitnya yang kemerahan dan masih keriput, menunjukkan betapa ia baru dilahirkan ke dunia ini beberapa menit yang lalu.
"Halilin," begitulah panggilan sang ibu untuk sang anak, Halilintar dengan gerakan pelan mendekati kasur sang ibu. "Lihat, ini adikmu, Taufan."
Halilintar mendangah, tubuhnya yang kecil ingin memanjat kasur, namun tak berhasil. Sesosok pria bertubuh jauh lebih besar darinya, mengangkatnya cuma-cuma ke atas kasur kemudian.
"Papa, makasih..."
Laki-laki itu membalas dengan senyum, dan sedikit usapan di kepala mungil Halilintar.
Halilintar merangkak di kasur ibunya, mendekati gendongan sang ibu, lalu menatap teliti adiknya. Alisnya mengernyit seperti biasanya.
Namun kernyitan itu hilang, ketika tangannya digenggam tangan mungil bayi kecil itu. Halilintar tersenyum sekali lagi.
"Salam kenal, Taufan! Aku Halilintar!" Halilintar menggoyangkan tangan mungil Taufan yang masih terpejam.
"Halilin... Jangan digoyang kencang-kencang dulu, ya... Adikmu kan masih kecil dan lemah..." suara lembut sang ibu menghentikan kegiatan Halilintar yang terlalu semangat. Halilintar kontan melepas tangan sang adik lalu menundukkan kepala, menatap sang ibu dengan wajah menyesal.
"Maaf, Ma..."
Ibunya tertawa kecil melihat anak yang kini menjadi anak tertuanya itu menatap takut padanya. "Halilin, mulai sekarang kamu akan jadi kakak. Jadilah kakak yang kuat untuk Taufan, ya?"
Jadi kuat. Untuk Taufan...
Aku harus kuat, aku tak boleh lemah.
.
.
.
.
.
.
.
Halilintar membuka matanya yang merah dengan kaget. Entah karena alarm-nya yang berbunyi nyaring, atau karena mimpi barusan. Halilintar tak mau memikirkannya.
Menghela nafas panjang lalu meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal, merupakan aktifitas pertamanya sebelum masuk kamar mandi lalu sikat gigi dan mandi. Halilintar merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang menganut obsesi terhadap ketepatan waktu. Waktu adalah uang? Tidak, dia tidak pernah suka kata-kata itu. Karena baginya waktu tetap berharga walaupun tak menghasilkan uang. Waktu istirahat, misalnya. Caranya berpikir mengenai waktu memang aneh, tapi pada akhirnya ia sama seperti beberapa orang tegang yang lain. Obsesi terhadap waktu.
Lain cerita dengan adiknya, Halilintar tahu, Taufan sangat berbeda dengannya mengenai prinsip itu. Kalau Halilintar bangun jam enam pagi, maka sang adik akan bangun satu atau dua jam setelahnya. Maka dari itu setelah keluar dari kamar mandi dan menyeka rambutnya yang basah, Halilintar cukup percaya kalau adiknya masih tidur cantik (kepala Halilintar mulai sakit menggunakan kata 'cantik'—meski itu hanya kiasan sarkasme sekalipun) dan seperti biasa, Halilintar tak mau merepotkan diri untuk membangunkannya.
Kaos, jaket New York dan celana jeans merupakan kombinasi favorit Halilintar. Ia suka pakaian rapih, tapi ia lebih suka pakaian santai di waktu libur. Setelah semua yang berhubungan dengan penampilan beres, Halilintar membuka gorden jendela, dan membukanya. Sedikit kaget karena jendelanya basah. Melirik keluar, ia melihat seluruh perkarangan rumah basah. Nampaknya semalam hujan lebat dan itu membuktikan musim sudah mulai memasuki musim hujan.
Halilintar mendengus. Ia tak punya waktu untuk memikirkan musim. Ia lantas membuka ponselnya, dan melihat beberapa pesan SMS belum terbaca menumpuk di Kotak Masuk. Ada sekitar sepuluh pesan SMS yang berlainan pengirimnya. Halilintar mengernyit, lalu membukanya satu persatu. Dua diantaranya, pesan dari Yaya yang mengomel karena telepon tak diangkat semalam, padahal Yaya membutuhkannya untuk tanda tangan pengesahan daftar murid Osis baru hari ini. Halilintar mengabaikan pesan itu dengan wajah tanpa bersalah. Kemudian dua pesan yang lain, dari ayah dan ibu yang mengatakan mereka takkan pulang di akhir minggu ini dan beberapa pesan panjang lainnya. Tipikal orang tua. Lalu seperti biasa di akhir pesan mereka selalu ada embel-embel, 'Jaga Taufan, ya'.
Halilintar memutar bola matanya, lalu hanya mengetik balasan cepat, 'ok' atas pesan panjang itu. Selanjutnya lima pesan lainnya hanyalah SMS sampah dari operator. Halilintar mendengus, merasa waktunya terbuang sia-sia membaca pesan sampah itu. Tersisa satu SMS—dan kali ini menyita tatapan Halilintar agak lama.
'Kak. Masih bangun?'
Today, 00.30 AM
Pengirimnya Taufan. Diulangi sekali lagi, pengirimnya Taufan.
Halilintar rasanya mau menjerit emosi.
UNTUK APA BOCAH ITU NGIRIM SMS KE ORANG YANG TIDUR TEPAT DI SAMPING KAMARNYA.
Halilintar hela nafas berat, ia lihat waktu datangnya pesan itu. Tertulis 'today, 00.30 AM' di bawah pesan Taufan. Sekarang Halilintar agak paham kenapa adiknya yang suka aneh-aneh itu mengirimkan SMS padanya. Pilihannya hanya dua. Taufan tak bisa tidur, atau ada yang ingin dibicarakan.
Tapi pilihan-pilihan itu sedikit diragukan Halilintar. Karena meski manja dan suka cari perhatian dengan orang-orang sekitarnya, tapi Taufan tak pernah mengganggunya malam-malam hanya untuk urusan seperti itu. Malah, Taufan hampir tak pernah mengganggunya sama sekali—baik itu malam, ataupun siang. Selain itu, Taufan pandai sekali menyembunyikan segala sesuatunya.
Dengan hanya sebuah senyuman palsu.
Halilintar duduk menunduk di pinggir kasurnya. Hanya dengan satu pikiran itu, cukup membuat si tangguh dan idola sekolah, Halilintar, tak menampakkan wajah garangnya.
Taufan merupakan satu-satunya adik yang ia miliki. Sifatnya seenaknya dan kadang terlihat serampangan serta badung. Halilintar tak pernah cukup mengerti melihat kelakuan Taufan yang selalu bisa terlihat ceria dan marah sesukanya. Halilintar tahu semua kesukaan, hobi, dan sifat Taufan. Taufan yang mencintai skateboard, Taufan yang menyukai yogurt, Taufan yang senang dengan barang apapun yang diberikannya atau orang tuanya, atau Taufan yang sering cari perhatian pada teman-temannya—terutama yang perempuan—dan kebiasaan lainnya.
Tapi pengetahuan Halilintar mengenai adiknya hanya cukup sampai di situ. Tidak sampai pada pengetahuan mengenai apa yang tak disukai adik satu-satunya itu.
Itu membuat Halilintar tak mengerti, bagaimana ia harus melindunginya. Dan hingga hari ini, Halilintar tak pernah melihat adiknya benar-benar menangis.
Halilintar membanting setengah tubuhnya ke kasur, lalu mengangkat smartphone-nya, menatap pesan SMS dari sang adik yang membuatnya berpikir panjang—tidak seperti Halilintar biasanya yang cepat mengambil keputusan, tegas, dan seorang pemimpin yang bisa diandalkan. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Taufan, selalu membuatnya bingung. Ia tak tahu bagaimana cara menghadapi adiknya yang sulit diterka cara berpikirnya itu.
Apa... karena selama ini mereka jarang bicara?
Halilintar mengedipkan matanya, lalu pandangannya mulai sayu. Ia tahu, pertanyaan itu adalah pertanyaan yang selalu membuatnya bersalah. Halilintar tidak menyangkal bahwa mereka memang jarang bicara atau bertemu. Bahkan, mereka selalu berbeda sekolah. Berbeda sekolah? Benar, selama sembilan tahun ini mereka berbeda sekolah, dan hingga detik ini Halilintar tak paham kenapa mereka selalu berbeda sekolah. Perbedaan kemampuan otak? Jangan bercanda. Halilintar lebih tahu dari siapapun kalau Taufan itu sebenarnya cerdas, hanya saja Taufan tipe pemalas—berbeda dengan dirinya. Taufan senang menunda beberapa hal yang menurutnya tak penting—tugas sekolah sekalipun. Dan sayangnya, hampir semua urusan ia anggap tak penting, hanya skateboarding-lah satu-satunya yang berada di atas semua urusan.
Halilintar berguling ke samping, membuka ponselnya lalu membuka album folder foto.
Ups. Ternyata ada yang menarik dari album folder foto itu. Tapi ini hanya rahasia penulis, pembaca dan Halilintar. Ya, seperti yang bisa kalian tebak, hampir semua foto dalam album foldernya dibintangi oleh sang adik.
Halilintar menggeserkan jarinya di layar ponsel, dan melihat satu persatu foto adiknya. Dari sekian foto, hanya satu foto yang sealu berhasil menyita perhatiannya lebih lama dari foto-foto lainnya. Itu adalah foto Taufan yang sedang melambai ke kamera dan tersenyum lebar dengan beberapa lumpur mengotori wajah bulatnya. Foto itu diambil sekitar 11 tahun yang lalu, dengan menggunakan kamera film. Untuk mencetak foto tersebut, Halilintar harus meminta sang ayah untuk mencucinya di ruang gelap, lalu mencetaknya dalam sebuah kertas foto. Beberapa tahun kemudian, Halilintar yang sudah memiliki smartphones memutuskan untuk memfoto ulang foto tersebut untuk disimpan secara digital, sebelum benar-benar lusuh termakan usia.
Kenapa Halilintar paling menyukai foto itu, katamu? Tentu saja, karena itu adalah karya pertamanya dalam mengambil gambar sang adik. Meski agak buram dan blur, tapi Halilintar tetap tak bisa lupa dengan senyum Taufan saat itu.
"Kaaak! Liaaatt, Taufan main lumpul!"
"Lumpur."
Halilintar tersenyum tipis jika ingat kejadian waktu itu. Adiknya hanya nyengir ketika sang kakak membenahi cara bicaranya yang cadel. Halilintar tak ingat apa yang mereka obrolkan sebelum itu, tapi Halilintar ingat, di lehernya tergantung kamera film yang dipinjamkan sang ayah.
"Taufan!" Halilintar mendekati sang adik, lalu melambaikan tangan. "Lihat ke sini, aku mau foto kamu!"
Lalu Halilintar ingat, Taufan yang tidak pemalu—seperti dirinya, spontan langsung melambaikan kedua tangan ke kamera lalu tersenyum.
"Aku cayang Kak Haliii!"
Ckrik.
Satu foto tersimpan dalam kamera, seiring wajah Halilintar memerah ringan.
"Gak ada kata-kata lain, apa? Bodoh!"
"Ehh? Memangnya halus bilang apa?"
"Bi—bilang 'cis' kek!"
"Buncis? Tapi Taufan gak suka buncis—"
Lalu mereka bertengkar seperti biasanya. Jika ingat itu, Halilintar ikut emosi rasanya. Mereka bertengkar selama satu jam hanya masalah buncis dan 'cis' (atau 'cheese!' dalam Bahasa Inggris).
Lepas dari masalah sayang atau tidak, Halilintar memang memiliki watak yang keras—meski itu terhadap adiknya sendiri. Halilintar memang ketus dan dingin, tapi percayalah, itu hanya salah satu caranya agar tak terlalu dekat dengan orang. Dengan kata lain, Halilintar sebenarnya orang yang anti-sosial.
Namun, semakin kau dekat dan berada di lingkaran pertemanan Halilintar, kau akan semakin mengerti bahwa halilintar sebenarnya memiliki kepribadian bak pangeran yang peduli dengan rakyatnya. Dan sisi dirinya yang seperti itu sudah bukan rahasia di antara penulis dan pembaca lagi. Semua orang di SMA Pulau Rintis sudah tahu itu. Buktinya, tidak pernah ada yang takut atau marah balik ketika Halilintar membentak atau bersikap ketus pada orang-orang—seperti saat di kelas Taufan kemarin. Bahkan para guru pun sudah paham dengan caranya bicara. Dan mereka juga tahu, bahwa Halilintar tipe yang bisa bersikap ramah jika perlu. Hanya saja semua hal dianggap tak perlu bagi Halilintar (Kakak adik rupanya sama saja).
Tapi, sekali lagi, di antara penulis, pembaca, dan orang-orang itu, rupanya hanya Taufan yang tidak tahu bahwa Halilintar sudah dimaklumi semua orang seperti itu.
Taufan masih menganggap bahwa semua orang benci dan takut pada kakaknya. Kesimpulan itu diambil setelah insiden pelabrakan kemarin. Sebuah insiden yang tak ingin Taufan sampaikan pada kakaknya—tapi ternyata diketahui sang kakak duluan.
Taufan marah soal kakaknya yang tak peduli padanya. Tapi Halilintar tak menggubrisnya. Karena saat Halilintar datang ke kelasnya waktu itu, Taufan tidak tahu, bahwa orang-orang yang sudah melabraknya—sedang memohon ampunan pada Kepala Sekolah untuk tidak di skors.
Halilintar merasa bangga bisa meringkus orang-orang yang menyakiti adiknya. Tapi ia tak bisa terus bangga setelah tahu adiknya mulai terkena tanda-tanda 'bullying'. Sebuah insiden yang umum terjadi di kalangan siswa-siswi. Dan apa yang membuat Halilintar bertambah jengkel adalah, sikap adiknya yang sama sekali tak korperatif! Di saat masalah genting seperti itu, sifat Taufan yang suka menutup-nutupi kambuh! Halilintar benar-benar tak mengerti lagi soal sifat adiknya yang labil itu.
Meski Halilintar paham, nampaknya adiknya berusaha melindungi perasaan seseorang.
Tapi siapa? Dirinya? Atau...
Orang yang mem-bully?
Pikirannya yang sudah melayang lama, terpaksa buyar ketika hidungnya tak sengaja mencium bau daging asap panggang dari arah luar kamarnya. Tepatnya dapur.
.
.
.
.
.
"Masak?" Halilintar menatap punggung sang adik yang sedang sibuk menaruh daging asap panggang ke atas roti-roti panggang.
Taufan menoleh, lalu tersenyum ceria ke arahnya. "Oh, pagi, kak!"
"Hn," Halilintar hanya mengangguk lalu menarik kursi.
Taufan menghidangkan roti sandwich panggang itu ke hadapan Halilintar seiring kakaknya duduk tegap. Halilintar melirik sandwich itu, kemudian menatap adiknya hati-hati.
"Woi, nggak ada racun! Enak aja!" Seolah bisa menerka apa pikiran Halilintar, Taufan protes segenap hati. Halilintar mendengus keras.
"Racun sih nggak masalah, yang aku takutkan rasanya," Halilintar mengambil garpu, lalu menusuk-nusukkan garpu itu ke sandwich dengan wajah siaga.
Taufan hanya sweatdrop melihat tingkah kakaknya yang sentimen pada masakannya.
"Coba aja dulu. Dasar bawel," keluhnya sebal. Dan daripada memikirkan kecurigaan kakaknya, Taufan memilih memakan duluan sarapan yang ia buat sendiri itu. Tentu saja kegiatan makan sang adik sekarang ini masuk ke dalam daftar pengawasan Halilintar untuk menghasilkan keputusan 'layak makan' atau tidak.
Halilintar melihat adiknya makan dan tenang-tenang saja. Malah mulai membuat rasa penasarannya muncul, lalu,
"Selamat makan," Halilintar memotong sedikit sandwichnya dengan pisau, dan memasukkannya ke dalam mulut. Mengunyahnya pelan-pelan.
Enak.
Wajah Halilintar memerah pelan. Malu karena ternyata masakan adiknya yang sudah ia curigai, mampu memanjakan lidahnya lebih baik dari makanan apapun.
"Sandwich-mu mirip Mama..." Halilintar berkomentar dengan suara kecil. Taufan tertegun.
"APA ITU PUJIAN?" katanya melonjak riang. Halilintar menatap datar sang adik. "YES~! Akhirnya Kak Hali mengakui kemampuankuuuu!"
Padahal aku nggak muji... Pikir Halilintar lelah. Mungkin karena Taufan tahu, masakan ibu mereka adalah satu-satunya di dunia ini yang tak pernah dikomentari Halilintar.
"Hah," Halilintar mendengus, "Ini kan cuman roti sandwich. Semua orang bisa bikin ini. Bodoh."
Taufan mengembungkan pipinya. Masih saja kakaknya keras kepala.
"Mama lagi nggak ada, nanti siang aku yang bikin bekal buat Kak Hali. Kakak ada kegiatan club, kan?"
Halilintar menjawab cepat, "Nggak usah. Pasti nggak enak."
Tapi Taufan tak mendengarkan, "Kakak suka nasi goreng, kan?"
"Kubilang nggak usah," Halilintar mulai menatap sang adik dengan tatapan penuh ancaman, tapi yang ditatap pura-pura makan. Akhirnya Halilintar menghela nafas.
"Terserah kau saja, kalau begitu. Tapi ingat, kalau tak enak, aku takkan segan membuang bekalmu ke tong sampah," Halilintar menambahkan, "Atau membakarnya di hadapanmu."
"KEJAM!" protes Taufan cepat, ia menyipitkan matanya. "Tapi kalau enak—"
Halilintar memotong kalimat Taufan dengan santai, "Kalau enak, kamu harus membuatkan kakak bekal setiap Mama dan Papa nggak ada di rumah."
"HAH?!" Taufan mengedipkan matanya, tak terima. "Memangnya aku pembantumu!"
Halilintar menyangga dagunya. Ia tersenyum tipis melihat aksi protes adiknya—yang padahal baru beberapa menit lalu, adiknya-lah yang memaksa untuk membuatkannya bekal. Kalau Taufan akan bersikap egois, kenapa dirinya tak boleh jadi pangeran egois melebihi adiknya?
"Karena kau tak menjawab, kuanggap iya," Halilintar menolak mendengar aksi protes Taufan, lalu melahap potongan terakhir sandwich-nya. Bangkit dan menaruh piring di wastafel.
"Nah, pembantu. Cepet cuci."
"Aku bukan pembantumu, kakak sialan!" Taufan berdiri dan menendang kaki sang kakak, namun Halilintar dengan gesit nan santainya menghindar. Bonus, sebuah jitakan berhasil mendarat di kepala Taufan.
"WADAW!"
"Jangan kurang ajar sama kakakmu. Nah, cepetan cuci, mau pergi cari topi, nggak?"
Ekspresi sebal Taufan seketika berubah bahagia. Ia cepat-cepat mencuci piring-piring itu, lalu pergi menyusul sang kakak yang sudah menunggunya di teras rumah.
.
.
.
.
.
.
.
"Kak, es krimnya cair tuh. Kalau gak mau dimakan, buat Taufan aja, sini!" Taufan nyengir riang, menyodorkan tangannya.
"Enak aja," Halilintar menarik es krimnya jauh-jauh dari sang adik, lalu melancarkan aura kutukan—yang ternyata tak mempan pada sang adik.
Halilintar melirik keresek putih di tangan Taufan. "Kau tak mau memakai topimu sekarang?"
Taufan ikut menatap keresek di tangannya. "Pengen sih, kak... Tapi takut rusak..."
"Maksudmu, topi yang dibelikan kakak jelek, gitu? Gak bagus, gitu?" Halilintar mulai tersulut emosi. Ia tahu adiknya tak berpikir begitu, tapi setidaknya itu akan berhasil menggugah sang adik untuk mengenakan topi yang baru dibelikannya itu.
"Iya, jelek. Selera kakak payah," Taufan menatap remeh sang kakak.
Cnut.
Halilintar memiringkan kepala, menyeringai kelam, "Apa perlu kepalamu kuhilangkan, supaya nggak perlu pakai topi lagi?"
"BERCANDA KAK, INI BAGUS KOK," tampik Taufan cepat. Reaksinya hanya sepersekian detik, setelah Halilintar menyeringai kelam. Luar biasa.
Halilintar mendengus, sekarang ia tak tahu, adiknya itu barusan berkata jujur atau memang bergurau. "Ck. Jangan membuatku merasa bersalah karena membeli topi yang salah. Kau bilang kau suka yang itu tadi," Halilintar memalingkan wajahnya, sambil menggigit es krimnya yang tinggal setengah.
Taufan mendelik, lalu tersenyum menahan tawa. "Apa sih, kak. Gitu aja dipikirin. Taufan suka, kok, topinya," ia mengeluarkan topi itu dari pembungkusnya. Topi dengan corak biru, putih dan sedikit kuning. Modelnya hampir mirip dengan topinya yang rusak, hanya saja topinya yang ini tak ada tiga tanduk mencuat seperti topinya terdahulu—yang sering disebut kakaknya "topi anak kecil banget". Taufan tersenyum menatap topi di tangannya, lalu mengenakannya, dengan gaya topi miringnya yang biasa.
"Gimana, kak? Taufan keren, kan?"
"Keren," puji Halilintar, disambung dengan kalimat sentuhan akhir, "Topinya. Bukan kamunya."
Taufan menepuk pundak Halilintar sambil geleng-geleng sombong, "Jujurlah saja, wahai kakakku yang tsundere."
Halilintar mendelik, spontan mengangkat kepalan tangannya, "NIH."
"Ampuuun!" Meski berkata demikian, Taufan tertawa. Dan tawa Taufan membuat tatapan Halilintar sedikit melembut.
Sudah lama sekali. Kapan ia terakhir kali melihat tawa adiknya yang seperti ini? Halilintar sudah tak ingat. Itu membuatnya sedikit banyak merindukan tawa ceria Taufan yang seperti ini. Tawa yang tulus dan menyenangkan—sama seperti yang ada di foto. Dan senyum inilah yang membuat Halilintar diam-diam meneguhkan hatinya untuk selalu menjadi kuat dan melindungi Taufan apapun yang terjadi. Meskipun itu artinya Halilintar harus rela meluangkan waktu istirahatnya selama sembilan tahun ini untuk berada di luar rumah.
Senyum Taufan membuat Halilintar sedikit tersenyum ikhlas—sampai ia mendengar komentar adiknya,
"...Kakak ngapain senyum-senyum gitu. Menjijikan... Mirip om-om pedo—"
Oke. Lupakan, Halilintar. Adikmu tak pernah sebaik yang kauharapkan.
BUAGH!
Asap mengepul dari benjolan di kepala Taufan yang kini menatap lantai dengan tatapan menyesal.
"Maap, kak. Habis mirip sih—"
Halilintar meliriknya tajam, Taufan cepat-cepat membelokkan topik.
"Wa—Wah, hari ini cerah ya!"
Halilintar mendengus, "Jangan mengalihkan topik."
Taufan menatap kakaknya dengan tatapan lugu, "Eeeh? Apa? Aku gak mengalihkan topik, kook!"
Halilintar membalas tatapan lugu adiknya dengan tatapan datar. "Aku punya topik yang lebih bagus daripada itu."
Taufan mengerjap.
"Siapa yang merusak topimu, kemarin?" kata Halilintar tanpa basa-basi. Taufan kontan diam, lalu balas menatap sang kakak dengan tatapan santai.
"Aku punya topik yang lebih bagus daripada topik kakak," Halilintar mengernyit, Taufan melanjutkan, "Kenapa kakak ingin menghabiskan masa setahun terakhir SMA kakak denganku?"
Halilintar diam. Lalu, ia menatap ke arah lain dengan wajah merah. Keringat dingin mengucur di pipinya.
"...Hari ini memang cerah, ya, kau benar."
Taufan sweatdrop. Pada akhirnya, sang kakak mendaur ulang apa yang sudah menjadi topik pembicaraan mereka tadi.
Ternyata mereka sama.
Sama-sama suka menutupi masalah.
.
.
.
.
.
.
.
"HAH! HIAH! SORYAH!"
Suara-suara teriakan penuh semangat dari klub karate membahana di lapangan sekolah, bercampur dengan suara-suara semangat dari klub-klub lain.
Taufan menatap klub kakaknya dari kejauhan. Halilintar kelihatan penuh energi dengan aura membara, melatih adik-adik kelasnya. Jelas sekali, beberapa di antara adik kelasnya takut menghadapi matanya. Beberapa orang itu adalah orang-orang bersabuk putih. Mungkin mereka anggota yang baru bergabung dengan klub baru. Taufan duduk di rerumputan pinggir lapangan, lalu merebahkan diri, menatap langit. Menghela nafas berat.
"Kau bosan?" Halilintar menghampirinya tak beberapa lama kemudian, dengan handuk melingkar di lehernya. Menyeka keringat di pipinya dengan handuk, lalu menenggak air dari botol sports-nya dengan cepat. "Fuah—" Halilintar, menyeka bibirnya dengan punggung tangan, "Padahal sudah kubilang kan tadi, kau di rumah saja. Kenapa kau bersikukuh mengikutiku."
Taufan melonjak duduk, "Siapa yang ngikutin kakak! Aku kan ke sini juga karena ada janji sama Ochobo, Iwan dan Stanley buat main skateboard! Kak Suzi juga!"
"Hoo~ Kak Suzi~" Halilintar manggut-manggut dengan ekspresi usil.
Taufan memerah menahan malu. Ia tak sangka kakaknya yang biasanya pendiam dan galak, mulai menggodanya dengan candaan.
"Apa sih, kak. Cemburu ya? Kalo cemburu ngomong aja, Taufan bakal setia kok sama kakak..." Taufan tersenyum-senyum tak kalah usil. Dan...
DUAGH.
Benjol di kepala Taufan mengepul dengan indahnya.
Halilintar mendengus. Bisa-bisanya dia yang berniat mengusili adiknya, malah diusili balik.
"Taufaaan!" seseorang melambaikan tangan dari sisi lain di lapangan. Taufan melirik, dan ia melihat kawan-kawannya melambaikan tangan.
"Ah! Itu dia Ochobo dan yang lain!" Taufan bangkit berdiri, lalu mengulurkan tangan pada kakaknya.
Halilintar menatap bingung tangan Taufan, membuat Taufan menghembuskan nafas lelah. Akhirnya karena gemas, Taufan mengambil paksa tangan kakaknya yang sedang menganggur, lalu menempelkannya dengan dahinya.
"Taufan pergi dulu kak, jangan lupa bekalnya dimakan," Taufan tersenyum setelah salim. "Assalammualaikum!"
"Eh? Eng—Ya, hati-hati... Wa'alaikumsalam..." Halilintar mengangguk dengan bingung, seiring Taufan pergi menjauh darinya.
Halilintar hanya merasa kalut. Taufan tak pernah salim padanya sebelumnya. Biasanya hanya mengucapkan salam, lalu pergi begitu saja.
Entahlah, Halilintar merasa tak nyaman dengan tingkah Taufan yang baru dilihatnya ini. Lebih tepatnya, malu. Apa... hubungan kakak-adik yang sebenarnya itu... seperti ini?
Halilintar mendangah melihat langit. Warna awan di langit itu, mulai memudar keabuan. Menandakan sebentar lagi akan hujan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jam tangannya menunjukkan pukul sembilan malam, dan pada jam seperti ini, Halilintar mulai tak nyaman jika tak melihat sosok adiknya yang menyebalkan itu hadir di rumah. Belum lagi cuaca yang semakin mendukung perasaan tidak enaknya. Ini bukan pertama kalinya Halilintar merasa khawatir terhadap sang adik. Tapi ini pertama kalinya ia merasa rasa khawatirnya itu tidak karuan sehingga menyebabkan rasa panik—yang tak pernah ditunjukkan si tenang Halilintar.
Karena lama sebelum ini, ia selalu santai. Meski Taufan jarang di rumah dan jarang mengobrol dengannya, tapi ia selalu pulang sebelum makan malam. Halilintar tak pernah harus merepotkan diri khawatir dengan sang adik, karena orang tuanya selalu hadir untuk Taufan dan menjaga Taufan. Kalaupun orang tuanya tak ada di rumah, Taufan tak pernah berbuat masalah dan tetap datang sebelum makan malam.
Tapi kali ini hujan lebat, dan semua berita di televisi memang meramalkan akan terjadi badai malam ini.
Pikiran Halilintar bertambah kalut. Belum lagi ponsel Taufan yang sedari tadi nampaknya tak aktif. Halilintar tak tahu dimana sang adik berada. Ia bahkan sempat mengecek lokasi sang adik melalui GPS yang ada di media sosial, namun koneksi tak menunjukkan wajah baik di cuaca yang tak bersahabat begini. Teman-teman Taufan yang tadi ditelepon olehnya juga menjawab bahwa tak ada satupun dari mereka yang bersama dengan Taufan saat ini. Dengan kata lain, Taufan sedang sendiri.
"Halo? Taufan? Dimana kamu? Kenapa belum pulang?" Halilintar menyambar cepat, setelah ponselnya akhirnya berhasil menghubungi sang adik.
"Ma—Maaf kak! Taufan kejebak hujan!"
Suara dari seberang ponsel terdengar samar karena tertutup suara hujan.
"Udah tau hujan, kenapa gak nelpon kakak buat ngejemput, hah!" Halilintar mulai jengkel.
"E—eh itu... Soalnya Taufan..." suara Taufan tenggelam bersama dengan gemuruh hujan.
"SUDAHLAH! Sekarang katakan saja dimana kamu!" Halilintar memekik panik. Suara petir menggelegar, terdengar dari seberang sana. "Halo? Taufan?"
Tak ada sahutan dari lawan bicaranya. Dan itu sama sekali tidak menyenangkan bagi Halilintar.
"TAUFAN! HALO! HEY, JAWAB KAKAK!"
Lalu sambungan terputus.
Halilintar menggeram kesal, tanpa basa-basi, ia langsung keluar membawa payung dan jas hujan. Tapi kemana ia harus mencari? Tahu tempatnya saja tidak!
Saat belum meninggalkan pagar rumah, Halilintar merasakan ponselnya bergetar. Lalu melihat nomor tak dikenal terpampang di layarnya.
"Kak Ketu!" Halilintar langsung tahu itu suara Ochobo, karena satu-satunya orang di sekolah yang memanggilnya begitu hanya dia, "Barusan aku menelepon pemilik warung, katanya ia melihat Taufan masuk gudang belakang sekolah, kak!"
"Berapa menit yang lalu?"
"Sepuluh menit yang lalu!"
Halilintar tak mengucapkan terima kasih lagi, ia langsung menutup ponselnya. Berlari masuk ke garasi, lalu mengeluarkan motor kopling milik sang ayah.
"Maaf, Pa, darurat. Sekali-kali aku melanggar larangan Papa," desis Halilintar tak pada siapapun, lalu menstarter motornya cepat. Melesat segera ke arah SMA Pulau Rintis.
.
.
.
.
"TAUFAN!" Halilintar berteriak di depan pintu gudang belakang sekolah setelah memakirkan motornya sembarang dekat gudang.
Suara petir bertubi-tubi menghantam langit, dan Halilintar semakin khawatir dengan kondisi adiknya.
"TAUFAN DIMANA KAMU, KUMOHON JAWAB AKU!" Halilintar berteriak sekali lagi, kali ini ia menggedor pintu gudang. Namun tak ada jawaban, hanya suara petir dan hujan deras yang terdengar.
Memutari gudang, ia ingat kalau gudang itu memiliki jendela dan—ketemu! Sayang sekali jendela itu setinggi 2,5 meter dan Halilintar harus memutar otak untuk bisa memanjatnya. Karena tembok itu tak memiliki apapun untuk bisa dipanjat (seperti pipa drainase atau pohon) di sekitarnya, akhirnya ia menggunakan motornya untuk dijadikan pijakan.
Jendela itu tak pernah dikunci, jadi Halilintar dapat dengan mudah membukanya dan memanjat masuk.
"TAUFAN!" Halilintar memekik memanggil ketika matanya menangkap wujud seseorang sedang jongkok dengan kondisi badan yang basah kuyup dan menggigil hebat.
Halilintar spontan memeluknya dari belakang.
Taufan menoleh, matanya membulat kaget melihat kakaknya sudah di sana.
"Ka—Kak Hali—"
BLAAARRR!
"—AAAHH!" Suara petir mencegah Taufan untuk meneruskan kata-katanya, berganti dengan suara pekikan.
Halilintar mendelik kaget saat mendengar jeritan itu, ditambah pola tingkah Taufan yang semakin gemetar takut dan menutup telinganya. Halilintar terdiam lama, lalu merapatkan kepala sang adik pada dadanya.
"...Jadi... begitu," Halilintar memelankan suaranya, tatapan matanya yang biasanya garang, melembut tenang, lalu melirik tubuh adiknya yang dingin dan gemetar. Dilihatnya sang adik yang meringkuk di pelukannya sambil menutup mata dan telinganya. Ia terlihat seperti anak kecil yang baru melihat setan.
Dan sungguh, ini pertama kalinya Halilintar melihat sang adik menangis.
'Kak. Masih bangun?'
Halilintar teringat, tentang sms adiknya semalam.
Halilintar tidak peka. Itu sms dari Taufan yang meminta perlindungan pada sang kakak, dari hujan lebat semalam.
Betapa tak bergunanya ia sebagai kakak selama sembilan tahun ini. Ia merasa mengetahui semua tentang adiknya—tapi hal sederhana ini pun tak tahu.
Halilintar menangis. Hatinya malu sekaligus pedih.
Untuk apa ia belajar bela diri selama sembilan tahun ini, jika ia masih gagal melindungi sang adik. Untuk apa ia mempertahankan keteguhannya untuk melindungi sang adik—yang padahal bukan itu yang dibutuhkan sang adik!
ADIKMU HANYA BUTUH DIRIMU DISAMPINGNYA, HALILINTAR!
Petir menyambar sekali lagi, tapi kali ini di hati Halilintar.
"...Maafkan aku... Taufan..." suara Halilintar melemah. Tapi cukup didengar oleh telinga Taufan. "...Maafkan kakak..."
Taufan tak lagi terisak. Nafasnya mulai tenang, dan tangan dingin Taufan mulai menghangat setelah mendengar kata-kata kakaknya.
Taufan tersenyum, "Kenapa... kakak minta ma..." tapi tanda-tanda bahwa tangan dingin mulai menghangat itu bukan hal yang baik. Halilintar mulai melihat kulit Taufan berubah merah.
Halilintar mendelik. Apalagi setelah adiknya memejamkan mata dan tak bersuara lagi.
Taufan pingsan karena suhu di tubuhnya terlalu tinggi.
"Oh, tidak... TAUFAN!"
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Next chapter:
"All You Gotta Have is GUTS!"
A/N: Ma—Maaf kalau chapter ini terkesan panjang dan membosankan, tapi seenggaknya di sini agak terungkap beberapa masalah, ya? Saya sedikit kesulitan di chapter ini sebenarnya, karena hubungan mereka terlalu njelimet padahal masalahnya sederhana. Aduh, semoga pembaca masih tabah menghadapi cerita njelimet hubungan kakak-adik ini, ya... *lap keringet dingin*
Yang jelas, Halilintar mulai kelihatan agak 'soft' ya di sini? Nggak garang kayak di chapter sebelumnya. Halilintar mulai jinak dan gak menggigit. Bahahaa~ *dibakar hidup2 sama fans club Halilintar*
Kalau chapter ini terkesan panjang dan serius, chapter depan mulai agak ringan dan banyak unsur humornya lagi, kok. Karena... Gempa dan Fang akan muncul! Yeaheeaaa~ *disepak*
Oke, segitu aja, maapin author yang abal dan belum mandi ini... sekian dulu, jya!
Feel free to review, by the way~
