Halohaii…! Ketemu lagi!

Sou, siapa yang tertarik silahkan dinikmati. :D

Tapi satu yang saya pinta, tolong kasih masukan ya, onegai desuu…

Seperti biasa mengandung little bit of IFK! DLDR, YA!

Sebelumnya, thax to teman-teman yang sudah feedback baik itu, fav, fol, dan yang mereview fict ini; Habibah794, anna, Aiko hara, dan Akira Hikari406.

Sou, langsung saja, enjoy it…

Keterpaduan dalam artian saling melengkapi merupakan komponen penyelaras yang sangat dibutuhkan dalam suatu ikatan yang memberikan hubungan tanpa pamrih dalam berbagi kasih dan sayang. Namun, bukan berarti pembatas itu tidak ada, keterbatasan dalam hidup itu merupakan privasi egois yang tak bisa dihindari, terlebih perbedaan. Yang penting, hanya jangan jadikan hal itu momok yang menimbulkan problemik penguras hati dalam memeras fikiran.

Setujukah kamu, perbedaan memberikan kesempurnaan yang didamba setiap hamba? sedang pembatasan itu kebebasan yang memberikan kelegaan dalam ikatan?

Dalam indahnya sebuah kenikmatan panekuk apel tak lepas dari si "Telur." Indah dalam keterpaduan yang memperlihatkan batasan, perbedaan bukan berarti memberikan kekurangan, melainkan kekuatan dan daya tarik sendiri. Dalam kenyalnya siputih telur memberikan daya perekat yang melindungi si kuning telur yang rapuh dalam kemat yang penuh pesona.

BARTHOLOMEO PRESENT

-Book 2 of Panekuk Apel-

Chapter 2: Telur

Naruto and all character

as always belong to Masashi Kishimoto

little bit of IFK

sligh another

WARN: Standart Warning Applied,

DLDR!

BARTHOLOMEO PRESENT…

Langkah tegap yang dibawa Itachi dari rumah Kyuubi, mengarah pasti menuju rumah bergaya tradisional yang memiliki taman yang dihiasi bebagai macam tanaman yang menjadikan rumah itu tampak teduh dan asri dalam bersamaan.

Tak mempedulikan sekelilingnya, senyum terpeta di wajah penuh damba, Itachi. Tidak sedikit orang yang melihatnya, balas tersenyum walau tahu senyum itu tidak untuknya, seraya berjengit dalam hati bahwa senyum Itachi, senyumnya, oh shit~ menular sekali!

Mengucap salam, Itachi melenggang pasti memasuki kediaman yang selama ini dia sebut rumah, tempat pulang yang memberikan rasa aman dan nyaman dalam bersamaan.

Baru menginjakkan kakinya diruang tamu, terpaan kata sapa menghambur menyerbu indra pendengarannya. Mengusik Itachi hingga menoleh pelan kearah stimulus yang merangsang gesturnya.

"Itachi?" sapaan yang sarat akan nada penuh tanya dilayangkan seorang wanita berperawakan anggun dengan stelan hitam yang membungkus tubuh semampainya.

Menanggapi sapaan dan tanya Ibunya, membuat Itachi menatap tepat pada mata sang Ibu. Dapat dia tangkap, Ibunya sedikit tidak percaya dengan keberadaanya dirumah, sekarang ini. Pelan, Itachi melangkah kearah Ibunya. Menangkap tangan kanan sang Ibu. Itachi membawa tangan itu mengarah kewajahnya. Sedikit menunduk, Itachi mengecup sayang punggung tangan Ibunya. Erat, Itachi menggenggam jemari Ibunya, lalu perlahan meletakkannya kembali disisi tubuh sang Ibu. Senyum, Itachi tersenyum pada Ibunya, "Aku pulang, Bu." Katanya, dalam senyum yang tak kunjung memudar.

Sedikit terpana, Mikoto—sang Ibu— membalas perkataan Itachi, "Hm, Ya… Selamat datang," tersadar dalam keterpanaannya, Mikoto bertanya mantap menatap mata putra sulungnya " Bukankah, seharusnya kau masih di London?" rasa keingintahuan tidak dapat Mikoto tutupi perihal keberadaan si sulung. Mikoto ingat betul bahwa putra sulungnya memiliki pekerjaan dilondon. Mikoto, yakin putranya belum akan pulang sampai senin depan, dalam kata lain seminggu lagi. Jujur saja, Mikoto sedikit cemas dengan keadaan Itachi, Apakah dia ada masalah dengan kesehatannya? Jikapun begitu, seharus Itachi tetap di London saja. Disana pastinya lebih banyak rumah sakit yang lebih baik.

Melihat sang Ibu penuh perhatian, Itachi berucap pelan, "Pekerjaan selesai lebih awal, jadi aku segera pulang,"

"Segera pulang? Kau? Baka aniki?" setiap kata yang penuh akan ketidakpercayaan yang dihiasi nada Tanya Sasuke lontarkan pada Itachi, disaat dia tidak sengaja menangkap perbincangan Itachi dengan sang Ibu.

Kedua orang yang tengah bercakap menoleh keasal suara yang ikut menanggapi percakapan mereka. "Begitulah…" terkesan tidak ambil pusing dengan pertanyaan adiknya Itachi menjawab santai.

Tatap. Mikoto menatap Itachi. "Itachi? Kau tidak apa-apakan? Berceritalah!"

"Aku baik-baik saja,bu. Aku ingin istirahat." Mengerling kearah adik dan Ibunya. Itachi berlalu kearah kamarnya.

Kedua orang yang ditinggalkan Itachi saling pandang. Sasuke hanya mengangkat pelan kedua bahunya, kemudian berlalu kearah dapur. Sepertinya dia mulai lapar.

BARTHOLOMEO PRESENT…

Setelah kedua tamu yang merusuh dirumahnya keluar. Kyuubi menutup pintu jendela dan tidak lupa mengunci jendela itu. Kyuubi menatap miris jendela yang bau dikuncinya. Bagaimana bisa jendela berganti peran dengan pintu rumah?

Masih segar di ingatan Kyuubi tentang perkataan Itachi. Berkali-kali dia coba pikir ulang dia tidak paham dengan maksud 'Panapelnya sekarang juga merah'. Bukannya panapel yang dibuatnya pagi tadi sudah habis disantap Naruto sebelum Itachi sampai dirumahnya. Terlebih bagaimana orang itu muncul tiba-tiba di kediamannya. Ini sudah tidak aman. Pikir Kyuubi. Dia harus membuat gembok disemua tempat yang bisa meloloskan orang terutaman manusia kuda berkereiput. "Argggg!" teriakan frustasi menggema Dikamar yang ditempati Kyuubi sekarang. Berguling kekiri dan kekanan diatas tempat tidur lalu tiba-tiba bangkit terududuk Kyuubi kembali…

Ha-ah…

Entah keberapa kali Kyuubi menghela nafas. Mengingat kejadian tadi saja sudah membuatnya sesak. Sesak karena apa? Kyuubi sama sekali tidak mengerti. Dia belum pernah merasakan perasaaan yang membuat hati dan otaknya tidak sejalan. Ini melelahkan. Mengeleng keras Kyuubi kembali menghempaskan dirinya keatas kasur. Terbaring seraya menatap langit-langit kamar. Bangun, tiba-tiba saja Kyuubi bagun dengan cepat.

"Aku tidak boleh begini! Aku harus menyelesaikan resep!" semangatnya pada diri sendiri. Menepuk kedua pipinya pelan dengan bersamaan, "Ayo Kyuubi, fokus, fokus! Apa tujuanmu datang kesini. Lupakan saja makhluk alien itu. Dia tidak penting! Ya tidak penting?" terdiam…

"—penting? Arggg…" mengacak surainya keras Kyuubi meraung bingung dengan dirinya sendiri.

"Akh, ya! Lebih baik aku buat pancake roll!" berlari kearah dapur, Kyuubi memeriksa kulkas dengan cepat. Memilah bahan-bahan yang akan dipakainya dan…

'Tidak ada…' salah satu bahan yang diperlukan tidak ada. Kyuubi mengeram kesal dalam hati. Namun, karena tekat yang ada dihati. Dia bergegas kembali kearah kamarnya. Menyambar jaket merah marun bertopi memakainya cepat. Ketika akan pergi Kyuubi berbalik kembali…

Cermin!

Kyuubi bercermin. Mematut dirinya dalam pantulan cermin Kyuubi tersenyum. Seakan tersadar, 'Ada apa denganku?' Kyuubi yang tidak pedulian sekarang mematut dirinya hanya untuk pergi ke mini market? terdekat dikompleks ini. Hanya berjarak lima rumah. Tapi…

Mini market itu… melewati rumahnya! Ya, rumahnya. "Memangnya kenapa!" spontan dia berteriak. Arggg! Kyuubi berlari cepat keluar rumah. Menuju mini market.

BARTHOLOMEO PRESENT…

"Temeee!" Naruto memasuki kediaman Uchiha dengan antengnya. Berteriak pelan menurutnya. Nyonya Uchiha yang kebetulan sedang merajut diruang tamu. Menyapa Naruto lembut.

"Naruto…"

Nyonya Uchiha itu sudah paham betul tabiat teman anak bungsung ini. Seakan tidak masalah dengan keberadaan Naruto. Dia sudah menganggap Naruto sebagai anaknya sendiri. Dia bahkan sangat senang jika Naruto datang berkunjung. Rumah ini akan terasa lebih hidup dan ramai.

"Selamat sore, Bibi. Apakah te-Sasuke ada?" Nyonya Uchiha tersenyum kecil mendapati Naruto memperbaiki kosakatanya dalam memanggil anak bungsunya.

"Dia didapur." Info nyonya Uchiha.

"Kalau begitu, Naruto permisi ketempat Sasuke dulu, bibi," walau urakan Naruto cukup tahu sopan santun dalam berbicara dengan orang yang lebih tua darinya.

"Ya,"

Menganguk sopan kearah ibu Sasuke, Naruto berlalu kearah dapur kediaman Uchiha yang sudah dihafalnya. Tidak lupa teriakan yang tetap Naruto lontarkan, walau tahu dimana keberadaan bungsu Uchiha itu.

BARTHOLOMEO PRESENT…

Segar. Perasaan itu sekarang memenuhi pikiran Itachi. Mandi merupakan obat mujarab untuk memulihkan kesegaran. Sekarang, Itachi sedang mematut dirinya di depan kaca. Memperhatikan dirinya dalam balutan pakaian rumahan. Celana sebetis berwarna hitam pekat dengan kaus berwarna putih bertulisan 'You'. Itachi tertawa mencemooh pada pantulan dirinya. "Bagaimana kau langsung menemui rubah itu, tanpa mandi dan istirahat terlebih dahulu, hah?"

Tentu saja tidak ada jawaban dari pantulan Itu. Itachi kembali bermonolog dengan pantuan dirinya. "Kau pasti sudah gila, kan? Mengerjakan pekerjaan segunung itu dalam waktu tiga hari? Dan… apa itu? Cemas?" seperti memojokkan dirinya sendiri Itachi kembali berkata, "Sejak kapan kau pandai mencemaskan orang lain selain keluargamu? Apalagi kau tidak mempedulikan dirimu?"

Bagai tidak habis pertanyaan yang akan dia ajukan pada dirinya sendiri, Itachi terlihat menikmati percakapan sepihak yang dia lakukan pada pantulannya di cermin. Kau memang sudah gila, nak. Tidak? Ya, tidak, kau hanya menggila, Itachi!

BARTHOLOMEO PRESENT…

Langkah yang awalnya terburu-buru itu melambat seiring waktu, waktu saatnya Kyuubi akan melewati rumahnya. Rumah orang yang sukses mengempakan kehidupan tenang Kyuubi dalam Normality yang penuh damba.

Kyuubi merasa dirinya sekarang dipenuhi gerak reflek, gerak yang memotong beberapa tahapan dalam terciptanya gerak itu sendiri. Lihat saja, tangan kirinya yang sedang membenarkan poni merah pekatnya yang menutupi mata. Apa-apan ini? Kyuubi merasa dikendalikan! Dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.

Bahkan detak jantungnya, bertambah menggila! Menggila setiap dia bertambah dekat dengan rumah Manusia kuda berkeriput.

Saat dirinya benar-benar lewat didepan rumahnya. Kyuubi erat mengepalkan jemarinya membentuk kepalan dikedua sisi tubuhnya. Sesekali dia menyapukan telapak tangannya ke jaket yang dia kenakan sekarang. Berkeringat. Produksi keringat Kyuubi sekarang telalu banyak. Kenapa? Apa dia gugup? Tidak! Itu tidak mungkin! Menggeleng keras Kyuubi tanpa sadar sudah melewati rumahnya.

Mengambil nafas rakus Kyuubi bertanya dalam hati, 'sejak kapan dia menahan nafasnya…'

Toleh!

Kyuubi menoleh kebelakang, matanya tepat mengarah kerumah Itachi. Tidak sampai lima detik, Kyuubi kembali membawa pandangannya kedepan, 'Apa yang ku harapkan?' lagi-lagi Kyuubi mengeleng keras.

Berjalan mantap, Kyuubi kembali memfokuskan diri pada tujuan awalnya. Tanpa dia sadari sepasang mata gelapnya langit menatapnya dari dalam rumah melalui jendela.

BARTHOLOMEO PRESENT…

"Temee!" teriak Naruto dengan menghampiri Sasuke yang tengah menikmati makanannya. "Kenapa kau diam saja!"

Sasuke menoleh sekilas menanggapi celotehan serta keberadaan Naruto. Bahkan dia tidak memakai 'Hn' yang menjadi ciri khasnya.

"Kau!" Naruto menunjuk Sasuke kesal. Menarik kursi yang mengelilingi meja makan. Naruto mendudukan dirinya tepat didepan Sasuke.

"Teruskan saja sikapmu itu, maka kau akan menjadi orang kesepian seumur hidupmu!" seakan memberikan vonis terhadap sikap Sasuke yang tidak pedulian. Naruto beranjak kearah kulkas yang terdapat diruangan itu. Mengambil satu buah jeruk dia kembali mendudukan diri di depan Sasuke. Kupas, Naruto mengupas buah jeruk dengan cepat. Mengumpulkan kulitnya diatas meja dia mulai memasukan bagian dari jeruk itu kedalam mulutnya. Seperti diruang itu hanya ada dirinya Naruto berkomentar, "Ini enak sekali!"

"Huh!" walau sudah biasa dengan mood Naruto yang cepat berubah tapi, jika memikirkannya, Sasuke selalu saja gagal paham dengan pemikiran orang yang ada di depannya.

"Apa?" balas Naruto pada dengusan Sasuke, "Ini memang enak, kau mau coba?" tambahnya seraya menjulurkan satu bagian jeruk kearah Sasuke yang telah selesai menikmati makanannya.

"Untukmu saja!" bergerak kearah wastafel, Sasuke mencuci bersih piring dan gelas yang dia gunakan.

"Ya, sudah! Ohya, Teme… bantu aku mengerjakan PR dari Iruka-sensei,"

"Hn,"

"Ayolah, Temee… kau pelit sekali," tidak kehilangan akal Naruto kembali berkata, "Ohya, Sasuke! Kau pasti tidak percaya tadi aku bertemu Itachi-nii dirumah Kyuuneechan."

Cepat Sasuke menatap Naruto datar, namun jika diperhatikan dapat dilihat kerutan kecil di dahi Uchiha bungsu ini. "Hn," mencoba tidak terlalu tertarik Sasuke kembali bergerak kearah kulkas dan mengambil jus yang sudah dia siapkan sebelumnya, dan mendudukan diri ditempat semula.

"Kau, penasarankan? Jadi, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan!"

Menatap Naruto, "Kau… menyebalkan!"

"Hehehhhe, terimakasih Sasuke,"

"Huh, dasar, dobe!"

Narutopun menceritakan kejadian dikediaman Kyuubi pada Sasuke tanpa ada yang terlewatkan. Ckck, dasar Naruto.

BARTHOLOMEO PRESENT…

Seperti dikomando, Itachi, Sasuke, dan Naruto sekarang memasuki ruang tamu kediaman Uchiha. Melihat kedatangan mereka, Mikoto menampilkan senyum terbaiknya. Menepuk pelan sofa disebelahnya membuat Naruto berlari lebar kearah Mikoto dan menghempaskan dirinya diatas sofa tepat disebelah Mikoto, "Apa yang bibi buat?"

Menyaksikan kelakuan Naruto membuat Sasuke mendengus kasar seraya bergumam, "dasar anak-anak!"

Menoleh kearah Sasuke, Naruto mengerutkan dahi serta memperkecil tatapannya, "Kau! Kau yang sok tua, dasar Teme!"

Sedang Itachi dan Mikoto, hanya tertawa lepas menanggapi kelakuan Naruto dan Sasuke.

Menyusul Naruto yang sudah duduk terlebih dahulu, Sasuke duduk di samping kanan Naruto, pada sofa panjang yang dapat memuat lima orang, sedang Itachi memilih duduk di sofa khusus untuk satu orang. Dan sebelum mendudukan diri Itachi menyempatkan diri menghidupkan televisi serta meraih remotnya, barulah dia menyamankan diri di Single sofa. Beberapa kali menukar acara televisi Itachi menjatuhkan pilihan pada acara berita seputar bisnis. "Hah~ dasar pebisnis…" respon Naruto kecewa dengan pilihan acara yang dipilh Itachi. Mendengar itu Itachi hanya tersenyum samar kearah Naruto seraya melempar remot televisi kearah Naruto. "Sankyuu, Itachinii," respon Naruto dengan menangkap remot yang dilempar Itachi. "Niichan, memang yang terbaik!" tambahnya lagi dengan senyum lebar yang mengakibatkan matanya tertutup oleh itu.

Dengan senang hati Naruto memilih siaran yang menarik hatinya. Sedang Sasuke hanya menatap bosan interaksi kakaknya dengan Naruto. Namun, saat menatpa kakaknya, Sasuke teringat akan cerita Naruto di meja makan tadi. Tanpa dia sadari dia menatap Itachi kosong dalam waktu yang lama. Sampai-sampai membuat Itachi risih dan menegurnya pelan.

"Kau mengakui ketampananku sekarang, Otoutou?"

"Huh," memalingkan wajahnya cepat, "Jangan harap!"

"hahahahaha…" Naruto tertawa keras mendengar itu.

"Kau tidak perlu malu~"

Menarik remot dari tangan Naruto, Sasuke menatap tajam Naruto yang menertawakannya. Tanpa melihat kearah televisi Sasuke menukar acara televisi dengan membabibuta.

Mikoto tersenyum melihatnya, sedang Itachi tak habisnya menggoda Adiknya yang baru menginjak bangku SMA itu. Dan Naruto jangan ditanya, dia bahkan hampir saja mengompol karena terlalu banyak tetawa.

Mikoto memecah suasana yang tidak menyenangkan bagi Sasuke, "Sasuke bisa tolong ibu membeli benang rajut yang warna merah,"

"Kenapa tidak baka Aniki saja?"

"Dia baru pulang dari London." Lembut mikoto memberi Sasuke pengertian.

Jujur saja sekarang Kondisi sedikit kondusif dengan Naruto yang tidak lagi menertawakannya, tapi, kenapa juga ibunya harus menyuruhnya pergi membeli benang.

"Kau dengar itu Otoutou, aku baru saja pulang kerja~"

"Teme, pergilah sebentar dan biarkan aku memegang remot TV, kau membuat mataku pusing dengan menganti channel seperti itu."

Menatap ibunya Sasuke sudah akan menyerah dan pergi membeli benang, tunggu, itu artinya dia akan ke mini market? Mini market. Mengingat kata itu, membuat Sasuke tersenyum, dia tahu caranya agar dia tidak pergi membeli benang itu. Sasuke menatap Itachi penuh keganjilan. "Naruto,"

"Ya, jangan meng—"

"Bukan Itu, sepupumu itu tadi pergi ke mini market!"

"Kyuunee maksudmu?"

"Ya, Aku melihatnya saat makan didapur,"

"Lalu,"

"Hn,"

"…"

"…"

"Sasu—" belum selesai Naruto berkata…

"Ibu, biar aku saja yang membeli benangnya," Itachi berkata seraya berlalu kearah pintu masuk utama kediaman Uchiha.

Melihat kepergian Itachi, Sasuke menyeringai penuh kemenangan, Naruto yang kebingungan, serta Mikoto yang menatap Sasuke minta penjelasan.

BARTHOLOMEO PRESENT…

Saat Sasuke makan berarti sudah lebih sepuluh menit berlalu, cepat Itachi memacu langkahnya kearah mini market, bahkan dia nyaris berlari, tidak! sekarang bahkan dia sudah berlari.

Sampai, Itachi sampai di mini market, mengatur nafas sambil berpegang pada pintu kaca di depannya. Setelah merasa cukup Itachi berdehem pelan dan masuk kedalam mini market. Gemerincing gantungan penanda adanya pelanggan berteriak memberi tahu pada pemilik took, sigap beberapa pelayan toko membungkuk hormat kearah Itachi seraya berkata dengan penuh senyum bisnis, "Selamat datang!"

Menatap, pada pelayan tersebut tanpa sepatah kata Itachi mulai menelusuri mini market itu, bukannya mencari benang yang dibutuhkan Ibunya, Itachi malah sibuk menilik siluet yang membuatnya segar hanya dengan namanya saja. Benar jika Itachi berkata bahwa mandi adalah pembawa kesegaran, namun nama dan keberadaan Kyuubi lebih dari sebuah kesegaran dari yang sudah dirasakan oleh Itachi.

"Dimana kau, Kyuu?" bergumam pelan Itachi tidak lelahnya menolehkan kepalanya kian kemari guna mencari…

Binggo!

Ketemu kau, rubah!

Senyum, Itachi tersenyum samar. Menghampiri Kyuubi yang terlihat memilih bahan makanan. Berdiri tepat disebelah kiri Kyuubi. Itachi berpura-pura memilih bahan makan yang ada di depanyanya dengan siulan kecil. Berharap Kyuubi menyadari keberadaanya. Malangnya bagi Itachi, Kyuubi merupakan orang yang serius jika berhubungan dengan kegiatan memasaknya. Dia bahkan tidak peduli dengan Itachi yang ada disampingnya. Tepatnya, Kyuubi sama sekali tidak menyadari bahwa Itachilah yang berada disampingnya sekarang ini.

Pergi, Kyuubi berlalu melewati Itachi, terperangah dengan keacuhan Kyuubi, membuat Itachi terdiam. Seakan tersadar, Itachi berlari mengahampiri Kyuubi dan… "Hai, Kyuuchan~" sapaan yang tidak pernah berubah.

Mendadak Kyuubi berhenti, 'Jangan katakan….' Kyuubi membatin penuh harap bahwa pendengarannya salah. Lambat, Kyuubi menoleh kebelakang. 'sial, kenapa pula si kuda keriput ada disini?' menarik topi yang dipakainya, Kyuubi berjalan cepat menjauh dari Itachi.

"Kyuuchan, tunggu!" melangkah lebar Itachi mengikuti kemana Kyuubi pergi. Sekarang Kyuubi berada dideret sayur dan buah. Dia mencoba mengacuhkan Itachi yang sedari tadi mengikutinya dan berceloteh ini-itu tentang makanan kesukaannya. Memangnya Kyuubi mau membuatkannya apa? Hell no! jerit Kyuubi dalam hatinya.

"Kyuuchan, ini!" Itachi memasukkan tomat kedalam keranjang Kyuubi. Senyum, Itachi menatap Kyuubi dengan senyum yang menawan. "Aku suka sekali olahan tomat," tambah Itachi kalem.

Kyuubi sudah gatal ingin memaki Itachi, baru saja dia akan membuka mulutnya untuk berbicara. Percakapan beberapa Ibu-ibu yang ada dibelakangnya terdengar jelas "Senang ya, pengatin baru… berbelanja bersama…" seperti itulah percakapan yang ditangkap indra pendengarannya. Menatap ibu-ibu itu tajam, melihat tatapan Kyuubi membuat Ibu-ibu itu mundur perlahan. Kyuubi akan berkomentar, namun,

Grep!

Sigap Itachi menutup mulut Kyuubi, "Uapha yang khaw laukann?"

Tidak mempedulikan perkataan tidak jelas Kyuubi, Itachi malah berkomentar aneh, "Maaf, bu Istri saya sedang hamil!"

"oh," tanggap para ibi-ibu itu maklum.

Bola mata Kyuubi sekarang terlihat akan keluar dari tempatnya. Memcoba bersuara, hanya gumaman tak jelas yang dia hasilkan. Melihat Kyuubi yang mulai berontak Itachi menarik Kyuubi menjauh dari ibu-ibu itu.

Tarik Kyuubi menarik tangan Itachi dari mulutnya, "Lheppaskan!" akhirnya bekapan Itachi pada Kyuubipun terlepas, "Apa yang kau lakukan?"

"Berbelanja denganmu,"

"Apa?" Kyuubi dibuat pusing dengan Itachi yang terkesan ngawur. "Sial, kau… apa maumu, hah?" Kyuubi berteriak keras kearah Itachi, jujur saja dia sudah tidak peduli menjadi pusat perhatian lagi. Peduli apa! Batin Kyuubi.

"Kamu!" singkat dan jelas tanpa nada candaan Itachi menjawab mantap pertanyaan Kyuubi.

"…." Terdiam, Kyuubi serasa berada di negeri asing sekarang.

"Kau, masih waras? Dan sejak kapan aku menjadi istrimu tuan Uchiha? Hamil? Jangan bercanda lagi! Candaanmu kelewatan!" tanpa mempedulikan jawaban Itachi Kyuubi bergerak cepat meninggalkan mini market menuju kearah pintu keluar.

Itachi hanya terdiam memperhatikan Kyuubi yang berjalan menjauh meninggalkannya. 'Sejak kapan, hm? Artinya belum ya, tunggu saja sebentar lagi Kyuu…' batin Itachi. Bergegas mengikuti Kyuubi.

Belum sempat keluar Kyuubi dihampiri para pelayan.

"Maaf, belanjaan anda…"

Menatap si pelayan tajam, Kyuubi membalas acuh, "Hm," tidak peduli Kyuubi memutar arah ke kasir. Dia sadar sekarang Itachi sudah berdiri tepat dibelakangnya, mengantri.

"5765 Yen," info kasir pada Kyuubi. Ronggoh Kyuubi meronggoh sakunya. Gerak-gerak. Tidak ada! Dompet Kyuubi tidak ada. Benar juga dia lupa mengambil dompet karena… bercermin? Sial! Sial sekali Kyuubi Hari ini.

"Ti—"

"Ini!" Itachi menyodorkan uang 6000 yen kearah kasir. "langsung dengan ini ya!" tambah Itachi dengan menyodorkan benang rajut berwarna merah pekat pada kasir.

"Tidak perlu!" masih kesal dengan sikap Itachi Kyuubi menolak kasar.

"Aku tidak membayarkanmu, kau harus menggantinya, Kyuuchann," tatap Itachi pada Kyuubi serius. Tidak ada tatapan penuh candaan seperti sebelumnya. Itachi tampak berbeda dia terlihat lebih berwibawa.

"Kau membuat antrian panjang, Kyuu," kata Itachi yang sudah keluar dari baris antrian.

Melihat kebelakangnya, Kyuubi bermaksud mengambil belanjaanya, tidak ada.

"Disini!" info Itachi, mau tidak mau Kyuubi mengikuti Itachi.

Mereka menatap keluar dalam diam, Hujan. Itulah yang ada dipikiran mereka. Cih, tidak peduli Kyuubi menyambar belanjaannya ditangan Itachi, "Nanti uangmu Kuantar kerumahmu!" ketus Kyuubi dan akan menempuh Hujan deras.

Grep!

Kyuubi menatap Itachi yang menggengam pergelangan tangannya, " Kau akan kemana?"

"Pulang?"

"Ini Hujan, Kyuu?"

"Lalu? Aku bukan perempuan lemah, Kuda! Lepaskan!"

Tidak memperdulikan protesan Kyuubi, Itachi menariknya kearah kiri mini market. Disana terdapat meja kecil dan beberapa kursi. Itachi memaksa Kyuubi duduk disalah satu bangku.

Lelah, Kyuubi merasa lelah dan artian fisik dan batin sekarang. Jadi, dia hanya diam terduduk dikursi yang menyajikan pemandangan diluar mini market. Hujan begitu deras. Tidak mau bermelan kolis Kyuubi mengalihkan perhatiannya pada Itachi yang membeli ramen dan telur rebus.

Itachi menghampiri Kyuubi kembali, meletakkan dua cup ramen instan diatas meja beserta lima butir telur rebus yang dibungkus rapi. Telaten Itachi menyiram kedua ramen itu dengan air panas. Satu dia letakkan tepat didepan Kyuubi sedang yang satunya dia letakkan tepat didepannya. Tidak ada yang memulai pembicaraan diantar mereka. Seakan terhanyut oleh pikiran masing-masing.

Itachi sudah mulai menyuap ramennya , menoleh kearah Kyuubi yang masih terdiam meanatap jauh kedepan, "makanlah, nanti mie-nya kembang," meraih ramen yang ada di depannya, Kyuubi mengaduk rata. Tidak dapat dipungkiri bahwa dia lapar. Memulai suapan pertama Kyuubi meniup ramen yang mengepulkan uap panas.

Hap!

Kyuubi tersenyum samar setelah menelan ramen pada suapan pertamanya. 'Tidak buruk' batinnya. Terusik karena gerakan Itachi membuat Kyuubi menoleh kearahnya. Kupas, Itachi mengupas telur rebus yang dibelinya. Setelah selesai. Itachi menyodorkannya kearah Kyuubi. Tatap.

"Ambillah, makan telur dengan ramen itu enak," yakin Itachi.

"Kau saja!"

"Ya, sudah,"

'Ekh,' tanpa sadar Kyuubi menatap Itachi kesal, 'Seharusnyakan, dia memaksaku,' ringgis Kyuubi dalam hati. Menatap keluar Kyuubi tampak memberengut.

Belah Itachi membelah telur yang ditolak Kyuubi. Mengeluarkan Kuningnya. Itachi, hanya memakan putih telur. Mengerjap, Kyuubi menatap Itachi aneh, "kau tidak memakan Kuningnya?"

"hn,"

"Tidak mungkin, padahal kuningnya yang paling enak!" tekan Kyuubi antusias, dia tidak percaya ada orang yang menyisihkan kuning telur.

"Bagiku putihnya!"

"Kuning!"

"Putih!"

Baru akan berdebat lagi, Kyuubi tersenyum samar, "Kurasa Itu tidak masalah!" sigap Kyuubi mengambil Kuning telur yang disisihkan Itachi, hap! Dia melahapnya senang. Kyuubi tersenyum seraya menatap kearah berlawanan dari Itachi. Begitupun dengan Itachi. Tidak terasa mereka telah menghabiskan kelima butir telur dengan cara berbagi. Begitu juga ramen. Tapi…

Hujan masih saja lebat.

Dan…

"Itachi?"

"Kisame." Pemilik mini market ini adalah teman Itachi, jadilah Itachi dipinjamkan payung oleh Kisame. Dan payung itu…

Satu.

Mereka berjalan diantara hujan dan dibawah payung, berdua tanpa bersuara. Terlihat, rumah Itachi sudah terlihat. "Aku, akan mengantarmu sampai dirumah,"

"Tidak usah," Kyuubi tidak ingin bertengkar lagi. Dia lelah.

"Kau ingin berhuja-hujan?"

"Tentu saja tidak, kuda!"

"Lalu?" Itachi bingung dengan perkataan Kyuubi.

"Aku akan membawa payung ini kerumahku, tanpa kau!"

Itachi akan kembali berkata, namun dia urungkan melihat tatapn Kyuubi yang tidak mau di bantah. Biasanya dia tidak akan peduli. Entah kenapa, sekarang dia hanya diam dan mengikuti kemauan Kyuubi. Dia harus bersabar!

Mengantarkan Itachi sampai kepintu depan rumahnya, Kyuubi berbalik menuju rumahnya. Lama Itachi menatap Kyuubi sampai siluetnya tidak terlihat lagi.

BARTHOLOMEO PRESENT…

Menghampiri Ibunya, Itachi memberikan benang yang dipesan sang ibu.

"Terimakasih, Itachi,"

"Hn,"

"…"

"Bagaimana?" Sasuke yang fokus mengajari Naruto tentang tugas mereka, mengalihkan perhatian pada Itachi dengan senyum menyebalkan.

"Apanya?"

"Kau bertemu dengannya?"

Sedikit terkesiap menangkap arah pembicaraan adiknya Itachi mendengus pelan. "Aku akan Istirahat," Itachi berlalu kekamarnya.

BARTHOLOMEO PRESENT…

Naruto membangunkan Itachi untuk makan malam, Naruto berencana menginap dikediaman Uchiha, karena tugasnya belum juga selesai. Naruto bersikeras itu karena Sasuke yang bisanya hanya menghardik-hardik saja, sedangkan, Sasuke berkata, Narutolah yang terlalu dobe.

Keluarga Uchiha dan Naruto akan memulai makan malamnya ketika suara bel mengalih perhatian mereka. Mikoto segera menghampiri pintu utama dan memeriksa siapa yang berkunjung.

"Oh, Kyuuchan… masuklah kami baru akan makan malam, ayo sekalian makan bersama,"

"Terimakasih, tidak perlu bibi, saya hanya Ingin memberikan payung dan—"

"Siapa, bu?" Itachi menyusul Ibunya. "Kyuu?" menghampiri Kyuubi Itachi mempersilahkannya masuk. Menolak sopan Kyuubi memberikan Payung dan uang yang dipinjami Itachi.

"Kau tida—"

"Ingat perkataanmu, Itachi-san!" tekan Kyuubi.

"Hn,"

Ketika akan pulang setelah menyelesaikan keperluannya, nyonya Uchiha bersikeras mengajaknya makan malam bersama, hal itu diperparah Naruto yang menariknya ikut keruang makan. Canggung. Itulah yang Kyuubi rasakan. Terlebih ada kepala keluarga Uchiha. Dia meringgis dalam hati semoga hal ini cepat selesai. Namun, seiring waktu Kyuubi mulai terbiasa dan menikmati suasana makan bersama keluarga Uchiha. Yah, setidaknya Kyuubi tidak makan sendirian hari ini.

.

.

.

.

.

Its will be next…

Bacot Author: halohaii, minna

Ketemu lagi semoga ini ada nyambung ceritanya. Hope u like it!

Sou, the last but not least, lemme some reviem pleased…

Sunday, December 13, 2015; 22: 44

Edit: Saturday, December 26, 2015: 12:15 wib

FAV. FOL. N . RnR Onegai desuuu..