Pagi ini aku berada di ruangan Sasuke untuk melakukan pengecekan pada pria itu. Kali ini kami hanya berdua di dalam ruang perawatan pria itu setelah sebelumnya ia meminta penjaga yang berada di kamar nya untuk keluar. Perasaanku benar-benar terasa tidak enak dan berpikir bila pria itu memiliki maksud yang tidak baik.

"Kepala ku terasa sakit." Ucap Sasuke tanpa menatapku.

Aku menatap Sasuke. Pagi ini ia tetap terlihat tampan meskipun sepertinya ia baru saja bangun tidur. Aku sendiri yang mengantarkan makanan pagi dan meletakkan nya di meja portable yang terpasang dengan ranjang.

"Kau harus memulai kemoterapi secepatnya, Sasuke-kun."

"Apakah aku akan sembuh jika menjalani kemoterapi?"

"Kemungkinanmu untuk sembuh tidak seratus persen. Namun setidaknya lebih dari enam puluh persen karena sel kanker di tubuh mu belum menyebar."

Seandainya otak seperti umbai cacing yang dapat diangkat tanpa menimbulkan masalah, aku akan memilih untuk melakukan operasi dang mengangkat otak Sasuke agar ia tak perlu menjalani kemoterapi. Kemoterapi tak hanya akan membuat rambut nya rontok dan tak lagi terlihat tampan, ia juga akan kurus dan mengalami efek samping seperti mual dan tidak bernafsu makan setiap kali menjalani nya. Aku tak yakin akan tega melihatnya seperti itu.

"Apakah ada cara pengobatan lain?"

"Sebetulnya bisa dilakukan pembedahan. Namun sel kanker menyerang batang otak mu sehingga tidak mungkin dilakukan pembedahan." Jawabku dengan jujur. "Akan kutambahkan dengan radioterapi untuk meningkatkan kemungkinanmu untuk sembuh."

"Radioterapi?" Sasuke menatapku dengan bingung.

"Radioterapi adalah terapi menggunakan sinar radioaktif. Terapi hanya memerlukan waktu sekitar satu sampai lima menit, namun pada kasus mu harus dilakukan lima kali seminggu. Efek samping nya kulit mu akan iritasi, kering, gatal atau sangat lembap. Tubuh mu juga akan lemas dan mungkin rambut mu akan rontok."

Wajah Sasuke terlihat datar, namun aku dapat merasakan ketakutan jika melihat sorot mata nya yang menatapku. Aku mengerti bila ia merasa takut, aku juga akan mengalaminya jika aku berada di posisi nya saat ini.

"Aku menyarankan agar kau mengambil kemoterapi dan radioterapi sekaligus agar persentase kesembuhan mu semakin tinggi. Namun efek samping nya juga cukup banyak."

"Hn."

Aku meletakkan obat untuk Sasuke di atas nampan berisi makanan dan meminta pria itu untuk meminum nya setelah makan pagi.

"Kalau begitu aku akan pergi sekarang. Segera tekan bel jika terjadi sesuatu padamu."

Aku berjalan menuju pintu tanpa menoleh kearah Sasuke. Dada ku terasa sesak saat ini dan aku tak akan sanggup melihatnya menjalani terapi-terapi yang menyakitkan. Setidaknya aku tak akan bertemu dengan nya untuk beberapa hari kedepan karena ia akan pulang besok pagi.

"Sakura."

Aku menoleh ketika mendengar suara Sasuke yang memanggil namaku. Suaru itu terdengar lebih lembut dibandingkan saat pertama kali aku memasuki ruangan nya dan ia menamparku.

"Ya?"

"Jika aku tak menjalani terapi itu, berapa lama aku akan bertahan?"

Aku terkejut dengan pertanyaan Sasuke. Ia terdengar begitu pesimis, tak seperti dirinya yang dulu kukenal. Jika yang kuhadapi saat ini adalah Sasuke yang dulu kukenal, aku yakin ia tak akan bertanya seperti ini dan memilih melakukan pengobatan tanpa menanyakan hal seperti ini.

"Kurasa tak akan lebih dari dua tahun."

Aku bergegas menuju pintu tanpa menunggu jawaban Sasuke atas apa yang kuucapkan. Aku membuka pintu dan melihat wajah pria itu sejenak. Wajah nya masih terlihat datar seolah ia tak pernah memiliki ekspresi apapun di wajah nya. Berbagai ekspresi dan senyum yang dulu pernah kulihat di wajah Sasuke bagaikan ilusi yang tak pernah menjadi realita, atau mungkin seperti bunga api yang pernah muncul pada api yang telah padam. Tatapan Sasuke terlihat menerawang dan ia hanya menatap udara kosong. Aku segera menutup pintu dan menghembuskan nafas dalam-dalam, membiarkan udara yang masuk ke paru-paru ku membuat dada ku tak lagi terasa sesak.

.

.

Café di dekat rumah sakit tempat ku bekerja lumayan ramai saat ini. Terdapat beberapa pekerja kantor yang menikmati makan siang di tempat itu, mungkin karena saat ini tanggal dua dan orang-orang baru saja menerima gaji.

Aku memasuki café itu dan tatapanku tertuju pada seorang lelaki muda berkulit tan dengan iris sapphire. Pria itu adalah Uzumaki Naruto, sahabatku sejak kecil. Kami masih berhubungan meskipun melanjutkan pendidikan di universitas dan fakultas yang berbeda setelah high school.

"Yo, Sakura-chan!" Naruto melambaikan tangan padaku. Suara nya yang cempreng dapat terdengar dari tempatku berdiri meski meja nya berada di tengah-tengah ruangan.

Di usia dua puluh delapan tahun sikap Naruto masih tak berubah dibandingkan saat kami bertemu pertama kali meskipun saat ini ia adalah seorang general manager di perusahaan multinasional. Aku tidak percaya ia aadalah seorang general manager jika dilihat dari sikap nya sampai ia mengirimkan foto undangan pameran yang ditujukan padanya serta jabatan yang tertera di undangan itu.

Aku menghampiri Naruto dan duduk berhadapan dengan pria itu. Ia segera memberikan buku menu yang sedang dibuka nya padaku.

"Lihat saja menu nya terlebih dulu, Naruto baka."

"Aku tadi sudah memesan spaghetti Bolognese dan orange juice." Ucap Naruto tanpa ditanya.

"Spaghetti Bolognese? Bukankah itu makanan kesukaan kekasihmu?" Ujarku dengan maksud meledek.

"Kekasihku? Maksudmu Hinata-chan? Dia menyukai cinnamon roll."

"Maksudku pria yang mengambil ciuman pertama mu itu."

"Maksudmu Sasuke teme?!" Naruto menjerit dan meringis hingga beberapa orang melihatnya. Naruto segera mengucapkan permintaan maaf dan wajah nya terlihat muram seketika.

"Sebaiknya kita tidak membicarakan dia. Kalau perlu anggap saja dia tidak pernah ada di dalam hidup kita."

"Eh? Mengapa? Memang nya kau sudah bertemu dengan nya sejak tiba-tiba dia pindah ke Osaka?"

"Sudah. Namun dia sudah banyak berubah dan dia bukan Sasuke yang dulu kita kenal. Jadi sebaiknya tidak usah mencari nya." Ucap Naruto dengan serius,

Aku memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu dan mencari informasi dari Naruto. Sasuke tak mengatakan apapun padaku jika ia telah bertemu dengan Naruto dan aku penasaran dengan pertemuan mereka.

"Dimana kau bertemu dengan nya?"

"Perusahaanku tempatku bekerja mengutusku untuk pergi menemui seseorang. Dan aku sangat terkejut ketika menyadari orang yang hendak kutemui adalah Sasuke." Naruto menjelaskan tanpa memberitahukan secara detail.

"Begitukah? Aku juga sudah bertemu dengan nya. Ia memang banyak berubah hingga aku hampir tak mengenali nya." Ucapku dengan suara pelan.

Aku melambaikan tangan kearah seorang pelayan dan pelayan itu segera menghampiriku.

"Apakah ada yang bisa dibantu, nona?"

"Aku ingin memesan lasagna dan ice lemon tea."

Pelayan itu mengulang pesananku dan menundukkan kepala serta meninggalkan meja kami. Naruto segera membuka mulut nya dan mengutarakan rasa penasaran nya.

"Dia pasien mu?"

"Aku tidak akan memberitahumu jika kau tidak memberitahuku mengenai pertemuan mu dengan Sasuke." Ujarku pada Naruto.

Naruto terlihat gelisah dan ia menatap sekeliling. Ia berbisik dengan suara pelan, "Berjanjilah untuk tak memberitahu siapapun."

"Tentu saja. Kau tidak mempercayaiku?" Bisikku dengan pelan.

"Akan kuberitahu melalui chat." Ucap Naruto dengan perasaan takut.

Aku menganggukan kepala dan Naruto mulai mengeluarkan ponsel nya serta mengetik. Beberapa menit kemudian terdapat pesan dari Naruto dan aku segera membuka nya.


From : Naruto Baka

Perusahaanku baru saja membuka pusat perbelanjaan baru dan aku diminta untuk mewakilkan perusahaan menemui kelompok yakuza terkuat untuk memberikan perlindungan sekaligus agar tidak menganggu usaha kami. Aku terkejut menyadari ketua yakuza itu adalah Sasuke dan Uchiha group adalah milik keluarga nya. Padahal dulu ayah nya hanya pekerja kantor biasa dan ibu nya hanya ibu rumah tangga. Aneh, kan?


Naruto kembali mengetik dan tak lama kemudian terdapat pesan kedua dari Naruto. Aku segera membaca nya.


From : Naruto Baka

Sasuke benar-benar berubah. Ia bersikap seolah tak mengenaliku, namun ia langsung setuju untuk melindungi kantor kami setelah kami memberikan uang dalam jumlah besar. Aku jadi curiga ia berubah karena kematian Itachi-nii.


Apa yang dialami Naruto sama seperti yang kualami. Pada awal nya ia bersikap seolah tak mengenaliku, namun pada akhirnya ia bersikap lebih baik. Kurasa ia menghindari kami berdua karena profesi nya sebagai ketua kelompok yakuza. Itu menyakitkan bagiku dan Naruto.

Aku mengirimkan pesan pada Naruto, menjelaskan jika Sasuke adalah pasien ku dan ia terkena kanker. Naruto terlihat sangat kaget hingga mulut nya terbuka dan ia lupa mengatupkan nya.

"Aku tak ingin ia meninggal. Aku ingin mendekatinya dan mengetahui alasan nya berubah menjadi seperti ini dan mengubahnya. Aku sangat yakin jika ia tak berubah sepenuhnya." Ujarku pada Naruto. Dada ku terasa sesak dan air mata ku menggenang tanpa kusadari.

"Jangan, Sakura-chan. Itu sangat berbahaya. Lagipula coba pikirkan jika kau atau keluargamu adalah korban kekejaman nya. Kau pasti mengharapkan ia mati. Membiarkan nya mati adalah pilihan yang terbaik."

Iris emerald ku terbelalak lebar. Aku tak mengira Naruto dapat mengatakan hal seperti ini. Dulu Naruto dan Sasuke adalah sahabat yang sangat akrab meskipun sering bertengkar. Mereka bercerita tentang apa saja dan Sasuke yang tidak banyak bicara akan menjadi sangat berisik jika bersama dengan aku dan Naruto. Namun ucapan Naruto tidak sepenuhnya salah, aku pasti akan mengharapkan kematian Sasuke jika aku atau orang yang kucintai menjadi korban kekejaman nya.

"Kau menyuruhku membunuh nya, Naruto?!"

"Tidak. Maksudku kau mengobati nya sesuai prosedur. Kau tidak perlu berpikir untuk melakukan apapun agar ia dapat tetap hidup, Sakura-chan."

Aku mengangguk sebagai jawaban atas pernyataan Naruto. Dalam hati aku masih bertanya-tanya akan apa yang menjadi penyebab Sasuke berubah hingga menjadi seperti ini. Aku akan tetap berusaha mengobati nya.

.

.

Malam ini seharusnya aku tak berada di rumah sakit karena tak memiliki jadwal operasi. Namun malam ini aku masih harus memeriksa Sasuke dan malam ini adalah malam terakhir untuk merawat nya. Besok hingga lima hari kedepan aku akan menikmati malam dengan beristirahat karena tak memiliki jadwal shift malam.

Aku memasuki ruang perawatan Sasuke dan kali ini Sasuke kembali meminta penjaga yang berada di kamar nya untuk keluar dan kembali ketika aku sudah meninggalkan ruangan itu.

Sepanjang Sasuke berada di rumah sakit, aku tak pernah sekalipun melihat orang yang mengunjungi nya, bahkan orang tua nya sekalipun. Kurasa ia juga tak memberitahu siapapun jika ia berada di rumah sakit atau mungkin melarang siapapun untuk mengunjungi nya.

"Doumo." Aku tersenyum pada Sasuke sambil membawa nampan berisi makan malam di tangan ku.

Sasuke hanya menatapku sekilas dan pria itu kembali menatap layar ponsel nya. Aku membuka meja yang tersambung dengan ranjang nya dan meletakkan nampan berisi makanan di atas meja itu. Aku juga meletakkan tablet-tablet obat yang harus diminum nya setelah makan.

"Bagaimana kondisi mu saat ini? Apakah kau merasa lebih baik?"

"Sedikit. Namun kepala ku terkadang masih terasa sakit." Jawab Sasuke. Pria itu telah meletakkan ponsel nya di atas meja dan kini menatapku.

Aku mengangguk. Ia akan tetap mengalami sakit kepala jika ia tak menjalani pengobatan. Obat yang kuberikan adalah obat yang diberikan dari Karin untuk mempercepat pemulihan luka tembak di perut Sasuke dan antibiotik.

"Ini makan malam mu. Setelah itu kau harus meminum obat-obat di dalam plastik ini." Aku menatap plastik berisi obat-obatan milik Sasuke.

"Hn."

Aku mengecek cairan infus Sasuke yang hampir habis. Namun aku tidak mengganti nya karena besok ia akan pulang.

"Selamat menikmati makan malam mu, Sasuke-kun." Ujarku sambil hendak bangkit berdiri dan berniat meninggalkan nya.

"Sakura."

Aku menatap Sasuke, wajah nya terlihat sedikit pucat. Ia tampak menyentuh kepala nya dan aku segera menghampiri nya.

"Kepala mu kembali terasa sakit, Sasuke-kun?"

Sasuke tak menjawab dan ia menutup mulut nya dengan satu tangan. Aku membantunya bangkit berdiri dan pria itu berjalan menuju toilet. Aku membantu nya membuka pintu dan ia segera masuk.

Sasuke tak sempat menutup pintu dan ia segera memuntahkan cairan kehijauan dari mulut nya. Tak salah lagi, ia mengalami hal seperti ini akibat kanker yang diderita nya. Biasanya muntah seperti ini akan terjadi bersamaan dengan sakit kepala.

Aku menahan rasa jijik ku dan mengambil segelas air diatas nampan serta memberikan nya pada Sasuke. Ia menerima air yang kuberikan dan menggunakan air itu untuk berkumur.

Saat ini aku merasa benar-benar bodoh, seolah gelar ku sebagai dokter spesialis neurologi sama sekali tak berguna. Tak ada yang bisa kulakukan saat ini dan melihat Sasuke yang tampak menderita sangat menyakitkan saat ini. Aku tak bisa memulai pengobatan untuk Sasuke tanpa persetujuan nya atau setidaknya keluarga nya.

"Sasuke-kun, perlukah aku memanggil penjaga mu untuk menemanimu?"

"Jangan." Ucap Sasuke dengan pelan.

"Kau harus segera melakukan pengobatan." Aku menatap Sasuke dengan serius dan membantunya untuk berjalan kembali ke tempat tidur. Ia menyentuh lengan ku dan jantung ku berdebar tak karuan.

Aku membantu Sasuke kembali ke ranjang dan wajah Sasuke sangat pucat. Tubuh nya terlihat lemas dan aku bahkan tak berani menatap nya.

"Sakura, bisakah kau tetap disini sebentar?"

Aku membelalakan mata dan berusaha menajamkan pendengaranku. Aku hampir tak percaya dengan apa yang diucapkan Sasuke, namun aku yakin bila aku tidak salah dengar. Aku berusaha memikirkan alasan professional dan paling rasional yang bisa kupikirkan. Setelah melihat apa yang terjadi dengan nya, aku berpikir untuk menemani nya dan bersiap jika sesuatu terjadi padanya.

"Tentu saja, Sasuke-kun. Aku adalah dokter yang bertugas merawatmu." Jawabku.

Sorot mata Sasuke yang menatapku terlihat sedikit melembut. Kurasa ia sedang dalam keadaan lemah atau perasaan nya memang sedang kacau akibat penyakit nya sehingga sikap nya berubah-ubah.

"Bisakah kau menunggu sebentar? Aku akan mengambil minuman isotonik untukmu."

"Tidak usah. Tolong ambilkan minuman ku di meja itu." Sasuke menunjuk meja yang terletak tak jauh dari televisi dan aku segera menghampiri meja serta mengambil sekaleng minuman isotonik di dalam kantung plastik. Aku memberikan pada Sasuke setelah membuka kaleng minuman untuk pria itu.

Sasuke meminum minuman kaleng itu dan memakan sedikit makan malam nya. Sepertinya ia tak bernafsu makan, terlihat dari cara nya memegang perlatan makan.

"Sasuke-kun, apakah kau memerlukan bantuan untuk makan? Aku…" Ucapanku terputus dan wajah ku memerah. "Aku akan menyuapimu jika kau mau."

"Tidak." Tolak Sasuke dengan tegas.

Wajah ku benar-benar memerah. Aku terkesan seperti wanita genit yang mencoba menggoda pasien ku sendiri. Sungguh, aku sama sekali tak bermaksud seperti itu. Aku hanya khawatir karena Sasuke terlihat pucat dan lemas.

"Sumimasen deshita." Ucapku dengan pelan. "Aku tak bermaksud buruk. Hanya saja kau terlihat pucat dan aku khawatir padamu."

"Aku tahu, Sakura."

Aku tersenyum lega, tak mengira jika Sasuke akan mempercayai apa yang kukatakan. Aku merasa bahagia saat ini, bahagia karena ia mempercayai apa yang kukatakan.

Sasuke makan sangat sedikit, pria itu hanya memakan tiga sendok nasi dengan lauk pauk yang sangat sedikit. Ia segera meminum semua obat yang diberikan untuknya sekaligus.

Hatiku terasa benar-benar sakit melihat pemandangan yang tersaji dihadapanku. Sasuke yang terlihat kuat dihadapan para pengawal dan mungkin bawahan nya juga melihatnya sebagai pemimpin kelompok yang berkharisma namun terlihat lemah hanya dihadapanku. Ia tangguh dan lemah disaat yang bersamaan, benar-benar hal yang tak terduga.

Aku memejamkan mata sejenak. Air mata ku hampir mengalir dan aku meletakkan telapak tangan di wajahku. Seandainya saat ini Naruto melihat Sasuke, kurasa ia takkan mengucapkan kalimat seperti yang diucapkan nya padaku mengenai Sasuke tadi siang.

"Gomen, Sakura."

Suara Sasuke terdengar lirih saat mengucapkan permintaan maaf padaku. Aku menggelengkan kepala sebagai balasan atas apa yang diucapkan nya padaku.

"Maaf untuk apa?"

"Aku sudah bersikap kasar padamu."

"Tidak apa-apa, Sasuke-kun. Setiap orang dapat berubah seiring waktu berjalan dan aku mengerti jika kau sendiri mungkin telah berubah."

"Aku hanya ingin menghindarimu, Sakura."

Aku menatapnya iris onyx kelam yang dulu selalu kukagumi. Kini aku masih mengagumi tatapan itu meskipun lebih dari satu dekade telah berlalu sejak kali terakhir aku melihat iris onyx sekelam langit malam itu. Diam-diam, aku selalu menikmati saat dimana aku dapat menatapnya seperti ini dan mendengar suara baritone nya.

"Mengapa, Sasuke-kun?" Aku bertanya dengan perasaan berkecamuk. Aku tak pernah mengira saat dimana Sasuke akan mengungkapkan apapun yang dirasakan dan dipikirkan nya secara gamblang seperti dulu akan kembali. Aku bahagia, namun juga takut jika memikirkan bila kami mungkin takkan bertemu lagi jika aku gagal menyelamatkannya.

"Aku hanya tak ingin kau memasuki hidupku."

"Begitukah? Aku sudah mengetahui pekerjaanmu yang sebenarnya, Sasuke-kun. Aku akan tetap merahasiakan nya."

Tatapan Sasuke yang menatapku menajam seketika. Ia terlihat waspada dan segera bertanya, "Darimana kau mengetahuinya?"

"Isu-isu mengenai dirimu dan ancaman yang kau berikan pada para dokter yang merawatmu, termasuk aku."

"Bukan aku yang mengancam mu." Jawab Sasuke dengan serius.

"Aku tahu. Kau tidak mungkin mengancam para dokter ketika kau sendiri tidak sadarkan diri, Sasuke-kun." Aku tersenyum lembut padanya.

Sasuke mengangkat sudut bibir nya untuk membentuk senyuman tipis dan membuat jantungku seolah berhenti berdetak. Senyuman itu terlihat kaku, namun begitu tulus dan aku merindukan senyum itu.

"Aku sangat terkejut ketika mendengar isu tentang dirimu. Aku tak menyangka kau berubah hingga menjadi seperti ini."

Sasuke tak menjawabku dan ia hanya menatapku. Ia hampir membuka mulut nya untuk mengucapkan sesuatu padaku, namun ia kembali mengurungkan nya. Aku segera melanjutkan ucapanku, aku terdorong untuk mengutarakan apa yang ingin kukatakan padanya.

"Aku mengerti jika kau berada di jalan yang salah saat ini. Namun aku berharap kau dapat kembali menjadi Sasuke yang dulu pernah kukenal. Aku merindukan Sasuke yang baik hati."

Senyum di wajah Sasuke memudar dan tatapan nya berubah serius. Ekspresi wajah nya kembali terlihat datar, ia terlihat sama seperti saat pertama kali aku bertemu dengan nya.

"Semua yang kau lihat hanyalah ilusi, Sakura.."

"Tidak, Sasuke. Itu semua realita. Aku yakin bila kau adalah pria yang baik hati." Jawabku sambil menatap iris onyx Sasuke lekat-lekat.

"Aku bukan Sasuke yang dulu kau kenal, Sakura."

Aku terkesan begitu egois saat ini. Apakah menginginkan nya berubah adalah suatu kesalahan? Aku mengerti jika aku bukan siapapun dan ia berhak menentukan apa yang ingin dan tidak ingin dilakukan nya. Namun aku hanya tak ingin ia menjalani kehidupan seperti ini. Seandainya ia menjalani kehidupan normal, tubuh nya tak akan penuh dengan luka-luka seperti ini.

Akal sehat ku seolah telah mati. Aku kini mengulurkan tangan ku pada Sasuke dan memeluknya erat-erat. Tubuh Sasuke menegang sesaat, pria itu pasti terkejut dengan apa yang kulakukan. Air mata ku mengalir dan membasahi pakaian nya.

"Lepaskan aku, Sakura."

Sasuke tak membalas pelukanku dan ucapan nya membuat hatiku benar-benar sakit. Aku merindukan pelukan yang terkadang diberikan nya untukku. Pelukan itu hangat dan membuat perasaanku menghangat.

"Sumimasen deshita."

Aku hendak melepaskan pelukan nya dan mengangkat wajahku yang telah basah akibat air mata. Aku berubah menjadi wanita cengeng saat ini sejak bertemu dengan nya. Aku sungguh memalukan.

Sasuke menatapku dan ia tampak terkejut saat melihat air mata yang telah mengalir di wajah ku. Ia mungkin merasa bersalah akibat kata-kata nya dan ia memelukku dan menepuk punggungku berkali-kali sambil berdecak kesal.

"Berhentilah menangis, Sakura. Kau sangat menganggu."

"Aku tidak menangis, Sasuke-kun. Aku hanya mengantuk hingga meneteskan air mata." Aku berbohong, aku tak ingin terlihat seperti wanita cengeng dan lemah dihadapan nya.

"Ck… aku akan memelukmu jika itu yang kau inginkan. Hanya saat ini saja. "

Aku mengeratkan pelukanku pada tubuh Sasuke dan membenamkan kepala ku d dada nya. Sasuke sedikit mengeratkan pelukan nya padaku dan mengelus surai merah muda ku dengan lembut.

Jika waktu dapat dihentikan, aku ingin menghentikan waktu saat ini dan terus berada dipelukan Sasuke. Meskipun pria itu terpaksa memelukku dan pelukan itu tak seerat dulu, aku tetap menikmati nya. Meskipun Sasuke mengucapkan kata-kata kasar dan memintaku pergi dari kehidupan nya sekalipun, aku tetap merasa senang karena kami setidaknya bertukar kata.

Kurasa walaupun waktu telah berlalu dan Sasuke telah banyak berubah, ia tak berubah sepenuhnya. Kehangatan dan kelembutan pria itu masih tersisa, meskipun hanya sedikit bagaikan setetes air di samudra yang luas. Aku ingin merengkuh hati nya dan mengembalikan diri nya yang dulu serta menyembuhkan nya. Aku telah menemukan tujuan ku.

-TBC-


Author's Note:


Author lagi mood ngebuat cerita sedih & entah kenapa selalu ada ide buat fict ini. Sebenarnya author dapat ide setelah nonton Death Parade Episode 6 & 11 yang intinya si karakter cewe mengagumi & mencintai si idol cowo meskipun pada awal nya si cowo berniat mencelakai si karakter cewe.

Thanks udah ngereview fanfict ini.