Oke lain kali, tolong ingatkan Fang untuk tidak tertidur di rumah bobrok yang menjadi markasnya itu, karena disana ternyata jauh lebih mengerikan dari yang pernah dibayangkan si bocah populer.
BoBoiBoy adalah milik Animonsta Studios
Nightmare Party adalah milik AzuraRii
Warning : Sebuah percobaan genre Mystery dan Action (Omong-omong masalah action, kayak nya genre ini tidak tercantum di opsi pilihan genre ya. Ckckckck jadi saya pilih suspense saja :3 #pret) , Alurnya kemungkinan berantakan, peng-abuse an chara dengan biadab, klise harap dimaklumi. (Omong-omong lagi, semua yang tercetak tebal itu hanya sebuah penekanan dengan maksud men-dramatisir, oh oke lupakan.)
Catatan : Benda ini tanpa pairing, er… yah, kalau ada pun mungkin sekedar hints hambar. Saya juga tidak bisa jamin sih :3 #yaelah
Oh dan untuk sekedar pemberitahuan bagi pembaca, umur Fang (dan kawan-kawannya nanti kalo misalnya mereka keliatan~ #heh!) telah di ubah, er… anggap saja mereka itu sudah 14 atau 15 tahun gitu yah. Hshshshs, saya enggak begitu tega buat nyiksa bocah sd imut-imut begini~ (kalo mem-pair kan mereka dengan biadab sih beda cerita~ #senyum manis)
Selamat membaca dan semoga Anda menikmati ceritanya! :3
…
…
( Bagian 2 : Pesta Monster. )
…
Tap-tap-tap
Langkah kakinya terdengar cukup tergesa-gesa, membuat suara gema yang cukup keras untuk menarik para monster mengerikan itu mendekat, tapi Fang tetap tak memperdulikan itu— hey! Yang terpenting sekarang itu hanyalah pergi untuk mencari pintu keluar setelah turun dari tangga lantai dua tempat ini, persetan dengan monster tak terhitung jumlahnya yang bisa saja mengejarnya ramai-ramai, lagipula, dengan bayangan pistol berwarna hitam itu di tangannya, ini takkan menjadi masalah.
Beberapa saat berlarian dan akhirnya ada dua raksasa kerdil yang datang, dengan ukuran hanya satu meter dan bahkan tak memiliki taring panjang ataupun cakar yang dapat melukai nya.
Fang tersenyum pongah, bah, perlu lebih dari dua makhluk kerdil ini untuk dapat menjatuhkan nya.
Ia lalu berhenti sebentar dengan suara gesekan alas sepatu yang begitu keras, monster itu kini tepat berada di hadapannya, menggeram kecil bak anak harimau dan tentunya itu tidak akan membuatnya gentar apalagi takut untuk melawan kedua makhluk itu.
"Shoot!" Fang menekan pelatuk pistolnya begitu kencang, berkali-kali dan membuat dua makhluk di depannya berteriak kesakitan. Menggelikan sekali, mereka bahkan belum membuat serangan apapun dan kini sudah berakhir dengan berubah menjadi cairan lembek dan bergerak-gerak aneh menjauh darinya.
Hahaha … Kalau yang seperti ini mah kacang! — Ia berseru dalam hati, kakinya masih bergerak dengan kecepatan yang sama. Dengan segera menuju ke tangga untuk turun dari lantai ini.
Gesekan alas sepatu kembali terdengar, begitu mendecit dan membuat telinganya merasa tuli untuk beberapa detik. Fang segera melihat masalah yang menghadap tepat di depan mukanya.
"Oh! Sial!" Rutuk Fang kesal, ini adalah sumpah serapah nya yang kesepuluh malam ini.
Oke, yang sekarang ini memang benar-benar dapat menjadi masalah.
Monster beruang separuh dinosaurus—Oh, sepertinya ia memerlukan sebuah nama untuk memanggil monster ini— ada di depan tangga yang akan menjadi tiket turunnya, ada tiga dan mereka begitu besar, kira-kira setinggi dua setengah meter dan memiliki wajah yang… Er… Jika saja Fang lupa kalau sore tadi ia belum makan apapun maka dia pasti sudah muntah sekarang ini.
Oh dan sebenarnya, itu bukanlah masalah utamanya.
Cahaya bulan—Hal yang menjadi alasan kenapa pistolnya masih bisa digunakan— yang ada melalui celah-celah lubang menganga di atap usang mansion itu hanya ada sampai di tempatnya berdiri saat ini, tepat beberapa meter sebelum tangga utama ; tempat dimana si tiga monster terkutuk itu berdiri.
Ya, kalau dia bergerak satu langkah saja dari sini, maka pistolnya sudah pasti akan lenyap tanpa adanya cahaya sebagai 'media bayang'. Dan intinya, jika itu benar-benar terjadi, dia pasti akan menjadi makan malam yang empuk bagi makhluk mengerikan—dan juga menjijikkan di hadapannya ini.
Fang segera bertindak cepat dan menyingkir dari tempat itu dengan bersembunyi di balik dinding paling dekat yang ia ditemukan; sebuah upaya yang mungkin berguna agar monster itu belum dapat menyadari keberadaannya.
Dia kemudian duduk di lantai berdebu itu, berusaha untuk memikirkan cara untuk dapat mengatasi masalahnya sekarang ini juga sekalian mengumpulkan tenaganya sejenak. Paling tidak dia butuh beberapa waktu untuk dapat menyerang monster itu hingga tuntas.
"Ayo, Fang, berpikirlah! Kau pasti bisa!" Bisik Fang pada dirinya sendiri, terdengar penuh harap, salah satu tangannya lalu naik dan mengetuk-ngetuk pelipis nya pelan.
Dan perhatiannya seketika teralihkan sebentar pada salah satu celah cahaya dari atap yang terlihat tepat menyinari pistol bayangan miliknya, pistol itu terlihat semakin gelap dengan energi-energi hitam keunguan menyala-nyala. Fang kemudian melirik ke arah atap dan pistol itu secara bergantian.
Sebuah rencana seketika terlintas di dalam kepalanya, membuat sebuah seringai licik terkembang manis di wajahnya, Fang lalu menggenggam kedua pistolnya erat di masing-masing tangan. Ia dengan segera bangkit dari tempat persembunyiannya, melangkah keluar dari balik tembok putih kusam itu.
Salah satu monster itu dengan cepat menyadari keberadaannya dan segera bergerak cepat, langkah kaki si monster menimbulkan debam-an yang cukup keras di lantai, membuat Fang segera menyingkir dan mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya, ia sudah siap menembak.
—Dor!
Satu tembakan pembuka mengarah ke arah si Monster, tepat di perut dan sempat membuat makhluk itu berhenti sejenak.
Fang yang melihat ada kesempatan seketika bergerak cepat.
Dor-dor-dor-dor!
Tembakan yang lain segera menyusul setelahnya, tiap-tiap peluru mengarah pada mata-mata bulat lebar makhluk mengerikan itu, dan beberapa sisanya kemudian diarahkan nya ke atap, membuat beberapa buah lubang menganga lebar disana, celah yang cukup untuk cahaya menerobos masuk dan Fang bisa bergerak dengan leluasa, khusus di tempat ini.
"Ha! Rasakan itu, Tikus Tanah!" Fang berseru meremehkan, terlihat begitu senang menatap ketiga monster itu memegangi mata mereka, auman-auman bising terdengar ke segala arah.
Hooo… Siapa sangka mereka bisa merasakan rasa sakit?
Fang melenyapkan salah satu pistol di tangan kanannya, membuat tangannya itu lebih leluasa untuk menciptakan satu lagi senjata yang lebih menarik untuk menghabisi makhluk itu, "Pedang Bayang!" Seru nya lantang, dan dengan segera energi-energi gelap di sekitarnya berkumpul, membentuk bayangan sebuah pedang sepanjang satu meter dengan aura-aura hitam menyala-nyala di sekelilingnya seperti api, hanya saja warnanya masih seperti biasanya, hitam keunguan.
Satu sambitan ekor mengarah ke kakinya membuat Fang langsung terjungkal ke lantai, nyaris saja melempar pedang di tangannya jika saja dia tak cepat-cepat mengeratkan genggaman. Monster itu rupanya memiliki kemampuan re-generasi yang cukup tinggi. Menambah poin kesulitan yang Fang tetapkan padanya.
Perlahan-lahan dia kemudian bangkit, mengusap sedikit noda debu di pipi sebelum kemudian menyiapkan kuda-kuda.
Tepat setelah ia merasakan pedang itu benar-benar terpegang erat di tangan nya, kakinya lalu bergerak dengan lincah, berlari mendekati salah satu dari ketiga monster itu, dengan cepat ia bergerak dan meloncat— Slash! Ia mencoba memotong kepala yang pertama. Lapisan kulit ari makhluk itu begitu tebal, dan sialnya lagi, pedangnya rasanya tersangkut di perpotongan leher makhluk itu.
Beberapa detik terasa begitu mengerikan saat Fang melihat tangan-tangan besar itu nyaris menggenggam nya hingga remuk, ia lebih memilih untuk menarik kembali pedangnya sebelumnya dan meloncat menjauh dari si monster pertama. Diam-diam matanya tetap menatap ke arah leher itu, menemukan fakta bahwa cairan-cairan hitam pekat itu terlihat seperti benang yang lalu 'menjahit' setiap goresan yang Fang berikan di leher tebalnya.
Masih belum, dia masih tidak mendapatkan celah sama sekali.
Mengabaikan seluruh serangan yang diberikan dua monster lainnya, Fang memutuskan untuk lebih fokus ke arah si yang pertama, dengan kemampuan re-generasi yang cukup merepotkan dan leher yang begitu tebal itu dipotong.
Makhluk yang pertama itu terus menerus berusaha untuk menggenggam nya, tak mempedulikan kenyataan berapa kali Fang sudah memotong tangannya, dia selalu memiliki tangan lain yang tiba-tiba saja sudah tumbuh menggantikan yang lama.
Oh sungguh, makhluk ini pasti punya kelemahan, 'kan?
Fang memutuskan untuk memotong setiap bagian tubuh yang memungkinkan, tangan, kaki, perut, lutut, bahu— namun semuanya terasa sama saja dan bisa makhluk itu gantikan dengan cepat. Hanya lehernya saja yang terlalu tebal dan sulit untuk dipenggal.
Masih ada dua yang lain yang selalu mengganggunya di belakang tapi makhluk yang satu ini saja belum berhasil dia tumbang kan? Oh yang benar saja…
Sudah tak ada pilihan lain selain memenggal kepalanya, dan untuk yang kedua kalinya malam ini, Fang lagi-lagi menantang maut dengan kembali meloncat ke arah monster itu, menembaki matanya seperti sebelumnya. Dia melepaskan pistolnya untuk mengambil pegangan di bahu makhluk itu, matanya kini sibuk mencari titik bagian mata dari lehernya yang tidak memiliki lapisan kulit keras.
Ketemu—!
Fang menghunuskan pedangnya membabi buta ke arah satu titik kuning di leher bagian belakang si monster, sesuatu yang seketika membuat makhluk itu menggeram keras dan bergerak makin tak beraturan, tangan-tangan besar itu nampak berusaha meraih Fang yang ada di punggungnya.
Satu tarikan pedang ke arah yang berlawanan membuat bongkahan sebesar beberapa buah kelapa itu menggelinding jatuh dengan cairan hitam keunguan yang kembali menggenang di lantai.
"Grraaaahhh!"
— Satu telah tumbang, dan kini ia tinggal melenyapkan dua sisanya.
Si anak berkacamata lalu mendarat di lantai, di belakangnya terlihat sesosok bangkai monster yang menggelepar. Ia mengambil kembali pistol yang tergeletak begitu saja di dekatnya.
Fang membetulkan letak kacamata nya sejenak, bergaya angkuh seperti biasanya, "Nah, sekarang siapa yang mau lebih dulu di lenyap— AARRGGGH!" Sebuah ekor panjang dengan cepat melesat ke arahnya, membuat Fang langsung terhempas ke arah tembok terdekat.
Oke, sedikit bertingkah sombong di keadaan seperti ini rupanya cukup merugikan.
"Ugh," Fang menyeka likuid merah yang ada di sudut bibirnya, tangannya kembali memegang erat-erat kedua senjatanya, "Kau boleh juga rupanya." Dan entah kenapa Fang merasa kalau sudut-sudut bibirnya terangkat, menampilkan sebuah senyuman liar.
Satu auman kembali terdengar, dan Fang segera berlari ke arah makhluk itu, mengabaikan total rasa berdenyut asing di kepalanya yang sepertinya terluka akibat tubrukan yang keras dengan tembok tadi.
"Rasakan!" Slash— Ia dengan cekatan menyayat bagian perut monster itu, segera menghindar dari lengan besar yang nyaris menyikut nya dan kembali menyerang dengan menembakkan peluru ke arah kepala monster itu.
Monster yang kedua ini rasanya sama merepotkan nya dengan yang tadi, Fang mengakuinya dengan jujur.
Makhluk dengan ekornya yang bisa menjatuhkan Fang kapan saja, berlendir dan lebih licin dari yang lainnya. "Ergggh!" —Kalian lihat!? Bahkan makhluk itu bisa melemparkan lendir nya ke segala arah secara asal-asalan. Benar-benar mengganggu.
Apalagi ditambah dengan satu monster lagi di belakang nya, monster yang ternyata jika dilihat lebih teliti memiliki ukurannya lebih tinggi dari kedua monster sebelumnya. Cakar panjang milik si monster ketiga itu bergerak cepat ke arahnya, membuat beberapa goresan menganga di lengannya dan Fang mundur sesaat, membuat jarak yang cukup aman sebelum kembali menyerang.
Kedua monster itu dengan perlahan mulai mendekatinya, cakar panjang dan ekor menyebalkan milik keduanya membuat gerakan-gerakan kecil seperti sedang melakukan pemanasan sebelum mencincang habis Fang ditempat.
Fang mulai melangkah mundur, perlahan-lahan dan berusaha untuk tidak sama sekali melakukan gerakan yang terkesan dadakan. Tangan kirinya yang memegang erat pistol itu bersiap-siap untuk membidik ke arah kaki si monster bercakar panjang, tentunya dia memilih di cakar panjang karena ia menganggap makhluk yang satu itu jauh lebih merepotkan dari yang satu lagi.
"… Bang!" Bisik Fang, dengan cepat menekan pelatuk pistolnya setelah senjata itu tepat diarahkan pada salah satu kaki si monster bercakar panjang.
Oh, dan seharusnya ia cukup bersyukur karena bidikannya memang sedikit meleset, tapi paling tidak tetap mengenai sedikit bagian kaki si monster. Membuat cairan hitam keunguan sedikit menyeruak disana yang monster itu berhenti sebentar, memegangi kakinya sambil meraung-raung kesakitan.
Sepertinya, ia bisa menjadi penembak yang cukup baik… untuk ukuran seorang pemula tentunya.
Oh, dan lihat, kedua monster itu malah terfokus pada cairan hitam menjijikkan yang merembes keluar dan kaki si monster cakar panjang.
Dan Fang melihat ada celah untuknya melawan saat ini.
"Cakar Bayang!" —Teriak Fang kemudian, membuat tangan-tangan panjang melilit kedua monster yang kehilangan fokus, membuat keduanya meronta-ronta dan mengaum geram.
Dan dengan satu gerakan dia akhirnya berhasil mengikat mereka hingga tak dapat berkutik sedikit pun.
"Hah … Hah … Hah …."
Deru napasnya makin memburu, membuat Fang terdiam sesaat membenarkan ritme napasnya yang makin kacau.
Ia menaruh sebentar pistol hitam miliknya itu di lantai, tepat di bawah sinar bulan agar benda itu tak lenyap kekurangan 'daya'. Kedua tangannya kini menggenggam gagang pedangnya erat. "Haha … Hah … Dan sekarang rasakan lah akibatnya kalau berani mencakar dan melempar orang populer seperti ku!"
Fang menebas si Ekor Panjang dalam, mengoyak makhluk itu di bagian perut, menghujam nya dengan tusukan berkali-kali sebelum kemudian memenggal kepalanya. Ia melakukannya dengan begitu cepat, membuat makhluk itu bahkan tak sempat menggeram maupun berteriak kesakitan.
Cairan pekat milik makhluk itu mengotori pipi dan pakaiannya, hanya sebentar karena entah kenapa secara perlahan cairan itu tiba-tiba saja menguap dan menghilang sepenuhnya.
Dan sekarang yang tersisa disini hanyalah dirinya dan si Cakar Panjang yang merepotkan.
Makhluk itu mendesis dengan tangan besar yang menggeliat dibalik lilitan Cakar Bayang. Fang tak yakin dia masih bisa menahan makhluk itu sampai berapa lama. Ia melangkah pelan mendekat ke arah si monster menjijikkan, tangannya masih siap sedia terangkat di depan dada.
"Graaaw!"
—Makhluk itu masih mencoba untuk mencakar wajahnya dengan tangan besar yang terikat.
Slah! —Fang memotong salah satu tangan makhluk itu cepat, membuat si Cakar Panjang seketika berteriak. "Sakit, ya?"
Ia lagi-lagi memotong satu-satunya tangan besar makhluk itu, begitu cepat. Dan berhubung makhluk itu sudah tak memiliki senjata lagi untuk melawannya— Karena tangan besar penuh cakar panjang itu kini sudah mulai berubah menjadi cairan menjijikkan, tentu saja. — Ia kemudian melangkah makin dekat ke arah si Monster. Menatap makhluk itu tajam sebelum kemudian berkata, "Kau itu … Apa?"
Sebuah auman lemah menjawab pertanyaannya, seperti yang dia duga, ia memang tidak bisa mengharapkan apapun dari makhluk itu.
Dengan sekali gerakan ia kemudian memenggal makhluk itu, sedikit kesulitan karena entah bagaimana bisa kulit leher makhluk yang satu ini lebih tebal dan keras, lebih keras dari di ekor panjang namun belum bisa menandingi si monster pertama yang memang lebih di bagian regenerasi. Cairan kental meloncat keluar dari lubang di lehernya. Cairan itu bergerak-gerak ganjil mendekat ke arah kaki Fang.
Ia seketika terlonjak dan jatuh menjauhi benda cair itu.
Lalu hitam bergerak-gerak itu menyusup masuk melalui celah-celah keramik usang yang menjadi lantainya. Fang segera menghembuskan napasnya lega setelahnya.
Ia kemudian mengelap bulir-bulir peluh yang mengalir deras di dahinya, lalu tangan kirinya terangkat tinggi dan menembak asal ke arah langit-langit, membuat semakin banyak celah cahaya sebelum bergerak turun menuju lantai satu.
Oh… Ini bahkan baru permulaan.
…
( Bagian 2 : Pesta Monster— selesai )
…
A/N :
Er… Baiklah, cerita yang ini dibuat sebelum nongol nya Boboiboy episode 16 musim 3. Jadi saya masih berpikir kalo si Fang ini enggak bisa menggunakan kekuatannya kalau enggak ada cahaya gituh~ Er… P-pokoknya saya masih lumayan bingung tentang kekuatannya dia sih, hshshs labil banget abisnya! #Ngeles #maleseditlagi #Diguyurbensin.
Hshshshshshs, ini diapdet lebih cepat karena saya kebetulan lumayan nyantai hari ini yeayyy~!
Salam tomat untuk para pembaca sekalian~
AzuraRii
(Psssst— Silahkan masukkan kritik, saran maupun pendapat pada kolom review jika berkenan. #soksopan #udahrii!)
