© Xu Zhi Lan
Cast : EXO MEMBER'S
PAIR : LuMin | HunKai and others
Genre : Romance | Drama
Disclaimer : ORIGINAL STORY IS MINE!
WARNING : OOC, TYPO, AU, GS etc
Xiumin as Alexander Xiu Min
Kai as William Kai La
Luhan as Immanuel Lu Han
Sehun as Immanuel Se Hun
Suho as Alexander Su Ho
Kris as Maxwell Kris
Chanyeol as Dixon Chan Yeol
Tao as Mikechelle Tao
Chen as Hernandez Chen
Baekhyun as Velazquez Baek hyun
Kyungsoo as Dominique Kyung soo
Lay as Josephine Yi Xing
A/N : saya datang membawa chap 1. Oke, terimakasih sudah me-riview/? *bow
Saya ingin mejelaskan beberapa hal. Pertama fanfict ini GS dan ini fanfict ber-chapter. Soal Infanta saya membuat dalam versi saya sendiri, jadi kemungkinan hal tersebut tidak sama dengan kenyataan. Dan terakhir, soal marga. Aku tidak terlalu memperhatikan bagaimana orang-orang barat meletakkan marga mereka, jadi kembali lagi hal ini masuk dalam versi saya. Hehe
So happy reading
| 100099 |
Matahari naik semakin tinggi keatas singgasananya yang besar terhampar luas. Warna permadani biru cerah dengan jutaan motif berwarna putih menghiasi siang hari ini. Terlihat lebih baik dari hari kemarin yang hanya diselimuti permadani hitam. Orang-orang berlalu lalang asik dengan kesibukan mereka beserta senyuman yang tak pernah lepas dari wajah-wajah beragam umur tersebut.
Disini sangat indah pemandangannya karena wilayah ini masih berada dipinggiran kota. Dimana ada ribuan ladang gandum yang sudah menguning siap dipanen terhampar bak lautan. Hutan-hutan lebat dan tak kalah luasnya berada disebelah timur, atau pegunungan besar disebelah barat. Serta parit yang besar membelah ladang gandum.
Diujung jalan yang berada disebelah barat, dimana berbatasan langsung dengan parit.
Kastil megah yang sangat besar bercat putih dengan arsitektur Chinese diberbagai penjuru, dari atap, pilar, bahkan gerbang yang menjulang tinggi berhiaskan kepala naga merah. Sejujurnya bangunan itu bisa disebut istana daripada kastil. Bahkan masyarakat sering menyebut bangunan itu dengan sebutan The Infanta Palace Dragon. Istana tempat tinggal Infanta Negeri Savior dari Kerajaan Pyxis.
Dimana terkadang para bangsawaan atau keluarga kerajaan dari negeri lain singgah ke The Infanta Palace Dragon. Sekedar untuk beristirahat atau hanya ingin berjumpa dengan sang-Infanta yang terkenal kecantikan dan kebaikan hatinya.
Ya, sang Infanta kerjaan Pyxis begitu terkenal dinegerinya. Bagaimana kecantikkannya yang selalu membuat kaum hawa iri, dan para kaum adam yang begitu mengaguminya. Bagaimana sifat baik hatinya, walau tersembunyi sisi tangguh dibalik sisi anggunya.
Seorang gadis memakai gaun besar dengan dominasi warna biru gelap berhenti tapat didepan gerbang mansion megah tersebut, ditangannya ada keranjang berisi bunga tulip beragam warna. Rambutnya yang sewarna emas dan lumut itu tersembunyi dibalik tudung, begitu pula wajah cantiknya. Namun tidak berapa lama perempuan itu membuka tudungnya, terlihat bagaimana bibir kucing yang merekah cukup merah dan menggoda, bulu mata yang begitu lentik, mata indah berbentuk almond dengan iris madu beserta pancaran ceria itu terbentuk cantik saat ia melukiskan senyum. Hidung serta dagu yang sedikit bangir dan cukup lancip. Sempurna, satu kata yang cukup menggambarkannya. Dialah Alexander Xiu Min, sang Infanta.
Ketika gadis itu hendak membuka pintu gerbang, beberapa penjaga laki-laki mendahuluinya membukakan pintu gerbang, mereka membungkuk hormat selama beberapa saat dan dibalas dengan senyuman oleh gadis cantik itu.
Kakinya yang berbalut sepatu kulit dengan hak setinggi 6 senti itu melangkah dibata-bata yang membentuk jalan membelah lautan rumput hijau yang memenuhi halaman mansion sejauh 10 meter tersebut. Suara ketukan hak sepatu dan bata yang bisa ditangkap gendang telinganya, tetapi tak berapa lama suara teriakkan terdengar kala ia semakin dekat dengan pintu utama kastil.
Suara teriakkan itu membuatnya menyerit heran. Ia merasa tidak asing dengan suara melengking itu, suara laki-laki tentunya. Langkahnya ia percepat, ia sungguh penasaran siapa gerangan gadis yang berada didalam mansionnya itu.
Salah satu penjaga membukakkan pintu untuknya, sedikit tergesa-gesa ia menarik keatas gaun birunya agar tidak terinjak. Begitu masuk kedalam beberapa pelayan pribadinya mendatanginya "Noona muda, anda darimana saja? Lord Hernandez Chen menunggu anda sejak tadi. Beliau terlihat marah." Xiumin mengerutkan keningnya, ada apa Lord Hernandez Chen penguasa Bafria yang terkenal kejam itu bertamu kekediamannya. Setau Xiumin tidak ada acara apapun di Kerajaan Pyxis yang mengharuskan kedatangan bangsawaan luar daerah.
"Dimana beliau sekarang?" sepertinya ia membuat Lord Chen menunggu terlalu lama. Dan dia tidak mau terkena amarah besar dari Lord tampan nan kejam tersebut.
"Ada di gazebo noona, beliau pergi kesana setelah berteriak tadi." Xiumin mengangguk mengerti, "Segera siapkan jamuan untuk kami berdua." Titahnya, dan langsung dipatuhi oleh pelayannya. Sementara itu segera menuju gazebo dibelakang kastilnya.
Xiumin terus berjalan menuju gazebo ditengah danau, ia bisa melihat sosok berbadan tegap dengan perawakkan sedang. Jubah panjang berwarna mencolok dan tentu saja khas dari Bafria. Sosok itu membelakanginya hingga ia tidak melihat rupa sang penguasa kota hujan, Bafria.
Xiumin berhenti didepan jambatan kecil yang terhubung dengan gazebo. Ia terhenti bukan karena takut bertemu Lord Chen tapi karena sang pelayan yang memanggilnya. Xiumin berbalik dan mendapati para pelayannya membawa jamuan sesuai perintahnya tadi. Xiumin mengambil alih nampan dari tangan salah satu pelayannya. " Kalian bertiga ikut aku, sisanya kembalilah." Ujarnya. Pelayan-pelayan kecuali 3 orang yang membawa nampan berisi makanan kembali kedalam mansion.
Xiumin beserta tiga pelayan pribadi dibelakangnya berjalan memasuki area gazebo. Senyum tipis terus mengembang dibibirnya, rambutnya yang tadi sempat ia kesampingkan kembali tergerai kala angin menerpa lembut.
"Ma'af membuat anda menunggu lama Lord Hernandez Chen." Sapanya setiba didalam gazebo.
Lord Chen nampak tersentak, tentu ia terkejut meski Xiumin menggunakan nada lembut disapaannya. Laki-laki tampan itu berbalik dan menatap tajam sang-Infanta didepannya, yang dibalas kekehan kecil dari bibir kucing sang-Infanta cantik.
"Kalian kembalilah, suruh dayang Cho menyiapkan kamar untuk Lord Chen." Xiumin memberi perintah lagi. Ketiga pelayan yang sering disebut dayang itu segera berlalu, memberi ruang untuk dua orang terhomat didepan mereka.
Sepeninggal dayang-dayang itu, dua orang berbeda jenis ini saling terdiam beberapa saat sebelum sang Lord membawa sang-Infanta kedalam sebuah dekapan hangat.
"Aku benar-benar merindukanmu noona." Katanya lembut. Lihatlah sisi lain dari Lord yang terkenal kejam ini. Penuh kelembutan tiap tutur katanya dan tentu saja hanya orang-orang tertentu yang dapat perlakuan istimewa Chen.
Xiumin membalas dekapan Chen, mengusap punggung laki-laki yang lebih muda beberapa tahun lebih muda darinya itu penuh kasih sayang. "Aku juga merindukanmu Chen-chen."
"Demi Tuhan noona, berhenti memanggilku seperti itu." Xiumin terkekeh lalu melepaskan dekapannya. "Lihatlah, sang Lord Hernandez Chen yang kejam tengah merajuk." Goda Xiumin. Dan berhasil membuat wajah Chen menjadi kusut.
Chen adalah saudara angkat Xiumin, ibu dari Chen adalah mantan kepala dayang istana Kerjaan Pyxis sekaligus dayang pribadi Ratu, yang artinya ibu Chen adalah dayang pribadi ibunya. Ibu Chen yang dikenal sebagai Lady Hernandez sudah ia anggap seperti ibunya sendiri, begitu pula ayah Chen Lord Hernandez Jae. Mantan Jenderal itu juga seperti ayahnya sendiri, dan Chen tentu saja seperti adiknya. Mengingat ia anak tunggal dari Ratu yang sekarang.
" Aku tahu kau sangat sibuk beberapa tahun ini. Bahkan, kudengar kau merebut desa Kloq dari para pemberontak." Xiumin berkata dengan semangat.
Chen mendudukan dirinya terlebih dahulu memperhatikan tangan Xiumin yang tengah menuangkan teh. Xiumin yang sedikit risih diperhatikan seperti itu oleh sang adik angkat akhirnya angkat bicara, mungkin ada yang ingin disampaikan oleh adiknya itu.
"Ada apa Chen?" Mereka memang tidak menggunakan bahasa formal, ya setidaknya tidak jika hanya dengan orang-orang terdekat.
Chen tersentak lagi, ia hanya tersenyum tipis. "Kau tidak bertanya apa tujuanku kemari?" ia mencoba mengalihkan pembicaraan. Xiumin diam, tahu bahwa Chen tengah mengalihkan pembicaraan tapi ia tidak ambil pusing akan hal tersebut.
"Jadi apa tujuanku kemari? Setahuku tidak ada acara besar yang mengharuskan kedatangan tamu bangsawaan luar daerah." Tutur Xiumin seraya menyeruput teh krisan miliknya.
Chen menaikkan sebelah alisnya bingung, apa sang-Infanta didepannya tidak tahu-menahu tentang acara besar yang akan diadakan di istana kerajaan? Cukup lama dia terdiam, sementara Xiumin yakin ada sesuatu yang janggl dengan kedatangan Chen ke-kediamannya.
"Apa dayang Cho tidak memberitahumu?"
"Maksudmu memberitahu apa?"
"Dia tidak memberitahu apapun?"
"Ya Tuhan, jika dia memberitahuku tentang tujuanmu kemari aku tidak akan bertanya lagi padamu."
Chen semakin bingung, 'Mungkinkah mereka belum memberitahunya?' . pemuda yang berusia 20 tahun itu menyipitkan matanya menatap Xiumin. 'Ini sedikit aneh. Apakah mereka ingin membuat kejutan atau ada rencana lain?'.
"Chen apa yang kau sembunyikan dariku?" Xiumin menatap penuh selidik. Chen menyadari sesuatu, dan satu fakta bahwa Xiumin tidak mengetahui apapun tentang acara besar yang beberapa hari lagi akan berlangsung di istina. Sepertinya hal itu disengaja, tidak ada yang menginginkan sang-Infanta tahu. Chen merasa ia harus menemui dayang Cho setelah ini. Tentu saja memastikan kebenaran.
Chen memasang wajah santainya lagi, "Kau benar-benar ketinggalan informasi noona." Ejeknya, lihat dia mengalihkan pembicaraan lagi dan Xiumin tidak sadar.
"Apa maksudmu huh?" Xiumin tentu kesal diejek seperti itu, meski dia adalah orang terhormat dia tidak peduli pada statusnya saat ini. Menghadapi orang yang cukup menyebalkan dalam tanda kutip Jahil seperti Chen tidak harus menampakkan kesan anggun. Dia bukan orang munafik yang akan berpura-pura tertawa renyah dan menganggap itu hanya lulucon ringan.
Xiumin tahu betul seperti apa Chen, dia tahu bagaimana seorang Hernandez Chen mengkritik. Lewat lulucon yang keluar dali bibir tipisnya atau sekedar ucapan datar dengan kata-kata pedas. Tapi, Xiumin bisa membedakan mana lulucon yang sungguh-sungguh dan mana sekedar kritikan tak bermutu. Sekali lagi, dalam tanda kutip 'hanya dalam kamus hidupnya kritikan ringan Chen tidak bermutu'.
Chen terkekeh "Lihat, sangat tidak sopan sekali." Ini jelas sindiran, tidak sungguh-sungguh. Yeah sekedar candaan baginya dan Xiumin tahu itu.
"Siapa yang memulai heh?" sindirnya
"Hahaha ya, ya, ya. Bagaimana jika kita masuk? Sudah sangat petang."
| 100099 |
Ini kerajaan Chrysos . Letaknya berada dipuncak bukit Snowdrop. Bangunan istnanya bercat putih gading dan bercampur serbuk emas hingga terlihat sangat indah apabila terkena cahaya. Kubah berbentuk kerucut beragam bentuk juga berlapis emas murni. Lantai yang terbuat dari Giok berwana hijau tosca dan biru aqua. Gerbang setinggi 10 meter lebih, dan tentunya bangunan istana itu sangat luas dengan bentuk setengah lingkaran. Halaman luas yang hampir mencapai seratus meter, lengkap dengan kolam dan air mancur berhiaskan patung malaikat dengan guci emasnya.
Dihalam istana nampak sangat ramai, seperti dayang-dayang wanita dan pelayan laki-laki serta perajurit berlalu lalang terus-menerus. Sebuah kereta besar dengan enam ekor kuda hitam berjenis jantan nampak sangat mewah dengan hiasan dimana-mana, menandakan bahwa itu adalah milik bangsawan tertinggi dan memang benar. Kereta itu milik King Consort Immanuel Yun Ho, Raja dari Styrax negeri yang mendapat julukan sebagai The Jade Valley.
Didalam aula utama istana bahkan tak jauh berbeda, hanya tidak ada orang-orang berpakaian biru tua dengan topi khas prajurit. Melaikan puluhan dayang dan pelayan berbaris rapi disamping karpet merah yang melintang panjang.
Disinggasana mewah itu nampak Raja dan Ratu tengah duduk dengan kesan penuh wibawa dan anggun. Didepan dua orang yang sangat diagungkan oleh para rakyat itu nampak dua orang pemuda yang wajahnya tak kalah menawan dari sang-Raja. Merekalah Grand Prince dan Prince negeri Styrax.
"Kalian semua, kembalilah ketempat kalian masing-masing." Peritah tegas Raja pada para dayang dan pelayannya. Dan dengan segera orang-orang itu membubarkan diri dari barisan.
Dan sekarang hanya ada sang-Raja, Ratu, Pangeran sulung, dan Pangeran Bungsu. Raja dan Ratu turun dari singgasananya, menghampiri dua pangeran tampan itu.
"Aya akan menyusul bersama Ibu kalian, jadi berangkatlah lebih awal." Ujar Raja, lihatlah sang Baginda ini. Tidak menerapkan peraturan ke-101 kerajaan yang sedari dulu dibuat, hanya salah satu peraturan kecil sebenarnya. Bagaimana cara panggil untuk keluarga kerajaan.
Kedua pangeran mengangguk patuh, walau sang-ayah berbicara bernada lembut seperti itu tetap saja itu sebuah perintah. "Singgahlah terlebih dahulu di The Infanta Palace Dragon." Tambah sang-Ratu sembari tersenyum, Raja tahu maksud ucapan sang Istri.
"The Infanta Palace Dragon?" Ulang Sehun
"Untuk apa kami berkunjung ke-kediaman The Infanta of Savior bu?" Luhan menatap Ibunya yang masih tersenyum.
"Ah, bagaimana jika kalian tinggal disana untuk sementara sebelum acara dilaksanakan? Kalian pasti akan suka dengan pemandangan ditempat itu." Bukannya menjawab sang-ibu memberikan usulan lagi.
"Nampaknya kau sangat menyukai Infanta Xiumin." Sahut Raja, mengelus bahu sang istri. Ratu mengangguk semangat " Ya, aku sangat menyukainya. Kami bahkan mempunyai banyak kesamaan."
Luhan sedikit mengerti maksud sang ibu, "Bu, jangan katakan bahwa kau ingin menjodohkanku dengannya?" Luhan menebak, ia cukup merutukki ucapannya barusan.
"Kau ingin ibu menjodohkan kalian hem?" Ratu Jaejeong menggoda Luhan, Sehun tertawa geli begitu juga dengan Raja sementara Luhan melotot tak percaya. Dia tidak ingin menikah, tidak untuk sekarang.
"Ibu~." Rajuknya
Lagi-lagi gelak tawa terdengar diruangan besar itu.
.
.
.
Kereta yang membawa Grand Prince dan Prince itu sudah memasuki perbatasan antara wilayah Styrax dan Savior. Sudahsatu hari, terhitung sejak kemarin siang hingga saat ini. Perjalanan dua pangeran yang terkenal dengan ketampanan dan kehebatan mereka diarena perang.
Saat ini telah memasuki musim dingin, tak heran apabila ketika angin berhembus angin sangat terasa dingin. Bahkan dedaunan dari pohon maple sudah berguguran, tumbuhan mulai mengering dan hewan-hewan kecil sudah tidak menampakkan diri meski hanya sekedar bersuara. Begitulah akhir musim gugur seperti ini, hewan-hewan berkelompok sibuk mencari tempat untuk tidur panjang.
Jendela kereta terbuka, menampakan wajah dengan pahatan sempurna. Mata tajam dengan alis yang sedikit menukik keatas, hidung yang bangir sempurna, bibir tipis dengan warna merah muda pucat, dan garis rahang runcing berkesan tegas. Dialah Immanuel Se Hun, sang putra bungsu Raja kerajaan Chrysos. Pangeran yang dikenal dengan julukan The Prince Jade Ice, tidak heran memang. Dia terkenal dingin oleh rakyatnya maupun oleh lawan-lawan yang pernah bertarung dengan Sehun, walau sebenarnya dia orang yang cukup ramah dan penyayang bahkan sering bermanja padang sang ibu. Meski dia nampak dingin dan angkuh, dia sering bersosialisasi keberbagai desa kumuh yang masih tak terjamah dibeberapa wilayah kekuasaan sang ayah. Itu termasuk dalam tugasnya sebagai seorang pangeran.
Sehun menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya, matanya yang ber-iris biru aqua itu menatap pemandangan indah yang terhampar luas. Dia melirik pada sang kakak yang tertidur lelap disampingnya, jujur ia cukup bosan dengan perjalanan ini biarpun dia sangat sering berpergian, tapi yang membedakannya adalah tujuan. Jika sekarang ia berpergian untuk sebuah acara besar kerajaan lain pula dengan berpergian seperti biasanya. Dimana pergi untuk berperang, mengambil ahli wilayah-wilayah kecil yang berada ditangan pemberontak. Sehun menyukai hal itu begitu juga sang kakak Luhan, mereka berbeda beberapa tahun namun terlihat seperti kembar.
Kereta tiba-tiba berhenti membuyarkan lamunan Sehun, pemuda tampan itu melihat kedepan dimana kusir berada diatas kuda. "Ada apa?" tanyanya.
Sang kusir menoleh " Apakah yang mulia Sehun dan yang mulia Luhan hendak beristirahat sejenak? Didepan ada rumah makan." Jawab sang kusir.
Tanpa banyak pikir Sehun mengangguk, dia memang sudah lapar dan ingin beristirahat. Walau sejak kemarin mereka hanya berdiam didalam kereta dan sesekali ikut menunggang kuda.
Sehun segera membangunkan Luhan, tanpa peduli Luhan adalah kakaknya atau seorang Grand Prince Sehun menendang Luhan dan membuat pemuda yang lebih tua darinya itu berteriak. "Yakk!"
Sehun langsung berlari keluar, dia yakin bahwa Luhan akan membalasnya jika ia tidak segera keluar dari kereta. Sementara Luhan sibuk mengumpat didalam, Sehun sangat menjengkelkan jika penyakit kejahilannya sudah kambuh dan Luhan sangat tidak menyukai itu. Lihat saja adiknya yang kurang ajar itu akan dia balas nanti. Kekanak-kanakkan memang.
Luhan akhirnya turun "Dimana Sehun?" tanya pada kusir yang masih duduk diatas kuda. "Beliau masuk kedalam yang mulia." Luhan mengangguk, dia juga merasa lapar "Beristirahatlah."
"Baik yang mulia."
Luhan memasuki rumah makan itu, hampir semua pasang mata menatap kagum kearahnya dan ia hanya tersenyum kecil. Siapa yang tidak akan kagum dengannya, ketampanan, kehebatan, dan kedudukan yang tinggi?
Luhan mendudukkan dirinya disebuah kursi, hanya cukup untuk satu orang dan dekat dengan jendela yang langsung menghadap kearah ladang gandum.
Seorang pelayan menghampirinya "Anda ingin memesan apa yang mulia?" tanya pelayan itu sopan.
"Berikan aku saran!" pintanya tegas, pelayan itu sedikit terkejut namun ia mengangguk paham.
"Bagaimana jika Risfelsomchili? Dengan minumannya teh krisan?" tawar pelayan itu.
"Teh Krisan?"
"Ya, yang mulia. Banyak bangsawa laki-laki memilih teh krisan untuk teman makan siangnya."
"Sepertinya sangat istimewa."
"Itu karena The Infanta of Savior sering memesan teh tersebut bila beliau datang kemari."
Luhan mengangguk, sepertinya The Infanta of Savior itu sangat berpengaruh diwilayah ini. "Baiklah, aku pesan itu."
Bergegas pelayan itu kedapur, dan Luhan kembali menikmati istirahatnya. Tak lama karena rumah makan itu terdengar sedikit gaduh entah karena apa, Luhan membalikkan tubuhnya karena penasaran.
Luhan terpaku pada sosok didepan pintu, ia memandang dengan tatapan penuh arti pada seorang gadis dengan gaun hijau tua besar itu.
"Selamat datang The Infanta of Savior." Ujar kepala pelayan rumah makan tersebut. Orang-orang menyapa gadis cantik yang tak lain adlah Xiumin dengan ramah dan dibalas senyum manis oleh Xiumin. Luhan menyeringai 'Sempurna' gumamnya. Sebelum kembali keposisinya semula.
Xiumin melirik Luhan "Siapa dia?" tanyanya pada dayang disampingnya. Sang dayang membisikkan " Beliau adalah Immanuel Lu Han The Grand Prince of Styrax."
Xiumin tercengang, merasa beruntung bertemu orang yang sangat hebat seperti Luhan. Tentu saja, sudah sejak lama ia ingin bertemu dengan Immanuel Lu Han The Grand Prince of Styrax itu. Dan sekarang? Mungkin hari ini adalah hari keberuntungan untuknya.
Kemudian Xiumin ingat bahwa kursi yang diduduki Luhan adalah tempat favoritnya. "Noona muda ma'af membuat anda tidak dapat duduk ditempat biasanya." Ujar kepala pelayan lagi.
"Tidak apa, aku bisa duduk ditempat lain."
Luhan mendengar pembicaraan tiga orang itu, pelayan yang tadi menghampirinya datang membawa makan siangnya.
"Ini makan siang anda yang mulia, selamat menikmati." Pelayan itu hendak pergi namun Luhan mencegahnya.
"Kau tahu dimana Infanta Xiumin sering duduk?"
"Sebenarnya tempat itu adalah dimana anda duduk saat ini yang mulia."
Luhan tersenyum, senyum yang lebih dapat diartikan sebuah seringai. "Tolong bawakan satu kursi untuk kemari."
"Baik."
Luhan berdiri, menghampiri Xiumin dan kepala pelayan yang masih berbincang. Awalnya tiga orang itu tidak menyadari sebelum dayang pribadi Xiumin memberitahu mereka.
Kepala pelayan dan dayang membungkuk hormat dan Xiumin sendiri menekuk kakinya serta tersenyum ramah.
"Suatu kehormatan bertemu anda noona Alexander Xiumin The Infanta of Savior." Lalu Luhan mengecup punggung tangan Xiumin.
"Suatu kehormatan bisa bertemu anda juga yang mulia Immanuel Lu Han The Grand Prince of Styrax."
.
.
.
Sehun sudah menyelesaikan acara makan siangnya, dan dia tengah menikmati pemandangan air terjun yang tak jauh dari rumah makan tadi. Sehun berdiri diatas batu besar, menatap dalam diam air terjun yang menjulang tinggi. Hanya gemricik air yangg mampu ia dengar, Sehun melepas jubah kebesaran miliknya. Meletakkan jubah itu diatas rumput, jubah yang terbuat dari kain sutera pilihan berkualitas tinggi, dipadu dengan bulu-bulu beruang asli dan dirajut dengan benang emas. Sama dengan milik kakanya, bedanya milik Luhan bukan dengan bulu beruang, melainkan bulu serigala putih.
Sehun juga melepas sepatunya, merendam kakinya kedalam air sungai yang jernih.
Tiba-tiba ia mendengar jeritan dari atas tebing diseberangnya. Sehun mendongak tapi tidak ada apa-apa, jeritan itu masih terdengar bahkan semakin jelas. Lantas Sehun berdiri menatap keatas dengan intens.
Dalam hitungan detik seorang gadis tercebur kedalam sungai akibat terjun bebas dari tebing yang tidak terlalu tinggi tersebut. Sehun tercengang, butuh beberapa detik untuknya menyadari semua.
"TOLONG AKU! UHHUK.. TO.. LONG.. UHHUK." Gadis itu berteriak ketakutan.
"Byurr."
| 100099 |
The End
Nggak kok, Cuman becanda hehehe
Ini
TBC
Tenang aja..
By : Oxile Hwang
Mau lanjut, ya review terus. *wink
A/N : ini bukan remake dari Novel atau film
Ini asli bikinan saya. *kibas jamban :'3
Call Me Bunda *ohhoks bwahahaha
Typo adalah belahan jiwa saya *ngekk-_-
