Disclaimer : Percy Jackson dan Harry Potter selalu dan selamanya menjadi milik Uncle Rick Riordan dan Bunda JK Rowling
Ralat Timeline : Untuk Timeline di Percy Jackson; setelah perang dengan Kronos usai. Anggap saja Percy dan kawan-kawan punya waktu satu tahun sebelum Perang dengan Gaea.
Warning : Ceritanya klise, tapi semoga menghibur dan memuaskan..
Happy Reading!
Kami tiba di Inggris sekitar pukul satu malam. Namun, suasana di bandara masih ramai. Setelah kami berhasil keluar dari bandara dengan selamat, kami mencari-cari orang yang dimaksud Chiron. Setelah celingukan selama beberapa menit, kami menemukan sosok seorang gadis jangkung berambut pirang keemasan memakai celana jins hitam dan sweater ungu sedang memunggungi kami di bawah eskalator bandara. Ragu-ragu aku menepuk bahunya, "Maaf Nona, apakah anda orang yang dimaksud Guru kami untuk menjemput kami di bandara?" Gadis itu terlonjak kaget dan segera berbalik. Wajahnya cantik namun terkesan tegas. Mata violetnya menatap kami satu per satu dengan tatapan menilai.
"Kalian utusan Chiron dari perkemahan blasteran ya? Ah, perkenalkan, aku Nymphadora Tonks, panggil saja aku Tonks-jangan Nymphadora, aku benci nama itu-. Aku perwakilan dari Orde Phoenix yang akan mengantarkan kalian dengan aman hingga ke rumah perlindungan." katanya sambil tersenyum ramah. Ah, untung Tonks orangnya baik. Meskipun aku tak mengerti satu kata pun yang diucapkannya selain Chiron dan Perkemahan Blasteran, aku mencoba mengangguk sopan.
"Betul Miss Tonks. Kami perwakilan dari Perkemahan Blasteran. Saya Percy Jackson, ini Annabeth Chase, Nico di Angelo dan Thalia." aku sengaja tak menambahkan nama belakang Thalia karena khawatir hal itu akan membuatnya terganggu.
"Salam kenal. Senang bisa berkenalan dengan kalian." Tonks mengangguk riang. "Oke anak-anak, sekarang ikuti aku."
Aku kira kami akan menuju ke pelataran parkir bandara. Tapi ternyata tidak, kami menuju ke rerimbunan pohon di pojok bandara. Kusadari rambut Tonks memendek dan berubah warna menjadi pink. Warna violet di matanya mencair dan berubah menjadi warna pelangi. Tubuhnya memendek dan perlahan ia berubah menjadi wanita yang berwajah manis dan jenaka. Sedetik kemudian aku menyangka bahwa dia monster yang akan mencabik-cabik kami. Maka aku mencabut tutup riptide dan membiarkan pena itu membesar menjadi bilah perunggu langit sepanjang satu meter. Di belakangku, Annabeth sudah siap dengan belati perunggunya, Thalia dengan busurnya, dan Nico dengan pedang Stygiannya. Tonks mundur selangkah, wajahnya menyiratkan kebingungan. Ia memegang sebatang tongkat kecil dalam posisi siap.
"Aku tidak bermaksud jahat pada kalian, jadi tolong turunkan senjata kalian." ia mengarahkan tongkatnya pada kami, dan tiba-tiba saja seluruh senjata kami berjatuhan ke tanah. Kusadari bahwa dia penyihir dan kami tak bisa main-main dengannya.
"Nah, bagus. Sekarang jalan terus." ia menggiring kami ke tanah kosong di di dekat rerimbunan pohon. Otakku masih bingung akan kejadian yang tadi.
"Kau berubah." Annabeth menyuarakan pendapatku. Tonks menoleh. Wajahnya menyiratkan bahwa kata-kata Annabeth sudah tak aneh lagi baginya.
"Lalu?" tanyanya lagi.
"Apa kau monster?" tanyaku. Dan Tonks tertawa.
"Sayangnya bukan. Aku seorang metamorphmagus."
"Metamorph-" aku kesusahan mengeja kata-kata itu. Salahkan disleksiaku.
"Ya, metamorphmagus. Penyihir yang memiliki kemampuan alami untuk mengganti penampilan dirinya. Seperti bunglon, kurang lebih."
"Wow, keren." di sebelahku Annabeth bertepuk tangan takjub. "Dapatkah aku mempelajarinya?''
Tonks menggeleng. "Ini bakat alami. Tak bisa dipelajari."
Annabeth mengeluh. Tapi ia tetap berjalan mengikuti Tonks hingga akhirnya kami tiba di tanah kosong tersebut. Tepat di tengah-tengah tanah tersebut, terdapat sebuah sisir tua yang berpendar mengeluarkan cahaya biru dan bergetar. Hati-hati Tonks berlutut di dekat sisir itu. Kami pun mengikutinya. Ia nampak seperti sedang berhitung.
"Itu apa?" tanyaku penasaran.
"Portkey. Alat transportasi praktis sekali pakai yang dapat mengangkut penyihir, khususnya dari satu tempat ke tempat lain pada waktu yang sudah ditentukan."
"Tapi, bagaimana caranya-"
"Cepat membentuk lingkaran! Sisir ini akan aktif dalam sepuluh detik lagi!"
Cepat-cepat kami membentuk lingkaran dan mengikuti Tonks yang menyentuhkan jarinya ke badan sisir. Seketika aku merasa ada kaitan di belakang pusarku yang menarikku ke depan, bertabrakkan dengan badan teman-temanku, dan tersedot dalam sensasi yang memusingkan.
Kami semua terjatuh secara bersamaan di atas tanah becek. Seluruh tubuhku rasanya remuk. Tapi aku mencoba bangkit dan perlahan melihat ke sekeliling. Sepertinya kami berada di daerah pinggiran salah satu desa di Inggris. Kami mendapati diri kami tengah berdiri di sebuah padang ilalang liar yang panjangnya mencapai bahuku.
Di depanku, terdapat sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu. Rumah ini memiliki beberapa tingkat yang acak-acakan dan miring sekali, seolah rumah ini masih bertahan berdiri karena disihir (aku mengingatkan diriku bahwa ini rumah penyihir dan mungkin memang benar rumah ini disihir). Empat cerobong asap bertengger di atapnya. Papan miring yang ditancapkan di tanah dekat pintu masuk bertuliskan "The Burrow." Di sekeliling pintu depan bertebaran sepatu bot dan kuali yang sangat berkarat.
Tonks menepuk-nepuk bajunya dan berjalan menghampiri kami. "Nah anak-anak, ini adalah The Burrow, rumah keluarga Weasley, salah satu markas perlindungan Orde Phoenix."
Kami berjalan ke arah rumah itu. Aku bisa mendengar dengkur lembut ayam-ayam yang tidur di kandang yang agak jauh. Thonks mengetuk pintu tiga kali dan aku melihat gerakan mendadak di belakang jendela dapur.
"Siapa itu?" kata suara seorang wanita yang terdengar cemas. "Nyatakan dirimu."
"Ini aku Nymphadora Tonks, membawa utusan dari Chiron."
"Buktikan bahwa dirimu adalah Tonks yang asli!" sahut wanita dari balik pintu.
Tonks mengerang dan berbalik ke arah kami. "Selalu saja begini sejak Kau-Tahu-Siapa bangkit. Kami harus selalu menggunakan kata sandi yang ribet."
"Kau-Tahu-Siapa?" tanyaku. "Maksudmu Vol-"
"Jangan ucapkan namanya!" Tonks berjengit. Aku langsung mengkeret. Memang sih Chiron sering melarangku mengucapkan nama para dewa atau Titan sembarangan, karena menurut Chiron, nama memiliki kekuatan. Namun nama Voldemort, entah mengapa sepertinya akan terjadi hal yang sangat buruk jika kita menyebutkan namanya.
"Oke, Tonks. Apa bentuk patronusmu yang sekarang?" tanya wanita di balik pintu lagi. Wajah Tonks langsung memerah.
"Manusia serigala." cicitnya.
"Kata sandi diterima." Pintu langsung terbuka, dan tampaklah sesosok wanita setengah baya yang pendek gemuk, memakai gaun rumah tua berwarna hijau, berambut merah menyala dan berwajah ramah khas keibuan memegang tongkat sihirnya erat-erat. Wajahnya dipenuhi kecemasan dan ketegangan seolah ia akan meledak dalam beberapa detik lagi. Tapi saat ia melihat kami, wajahnya melembut. "Halo anak-anak. Senang bertemu dengan kalian. Aku Molly Weasley. Selamat datang di The Burrow."
Kami masuk ke dalam rumah. Dapurnya kecil lumayan sesak. Ada meja kayu dan kursi-kursi di tengahnya dan kami berdiri di tepi meja, memandang berkeliling. Aku belum pernah berada dalam rumah penyihir.
Jam di dinding depan hanya mempunyai satu jarum dan sama sekali tak ada angkanya. Mengitari tepinya ada tulisan-tulisan yang tak bisa kubaca. Buku-buku ditumpuk di atas rak perapian. Dan kecuali telingaku mengelabuiku, radio tua di sebelah tempat cuci piring baru saja mengumumkan bahwa acara berikutnya adalah "Jam Sihir, dengan penyanyi-penyihir wanita terkenal, Celestina Warbeck."
"Aku harus segera pergi." kata Tonks buru-buru, seraya berdiri dan menarik mantel ke sekeliling bahunya. "Aku tak bisa tinggal, ada beberapa masalah penting yang harus kubicarakan dengan Rufus Scrimgeour."
"Oh, kenapa buru-buru sekali? Bahkan teh pun belum siap." keluh Mrs Weasley ketika Tonks berdiri.
"Tidak bisa Molly. Tapi terimakasih. Nah, selamat malam semuanya. Dan untuk para blasteran kita, selamat berjuang!"
Tonks mengedipkan mata ke arah kami dan bergegas menuju halaman, selewat beberapa langkah dari pintu dia berputar di tempat dan lenyap. Mrs Weasley menutup pintu setelah halaman kosong, kemudian memegang bahuku.
"Nah, anak-anak yang manis. Jadi, kalian utusan yang Chiron maksud?"
"Benar, Nyonya." aku mengangguk sopan. "Perkenalkan saya Percy. Ini Annabeth, Thalia dan Nico." Mrs Weasley memperhatikanku lekat-lekat. Matanya berkaca-kaca. Aku jadi merasa tak enak.
"Salah satu anakku bernama Percy juga." katanya setelah beberapa terdiam. "Tapi dia meninggalkan rumah dan..." Mrs Weasley mengusap air mata yang jatuh dan berusaha tersenyum. Tampaknya topik ini sangat sensitif baginya.
"Namaku sebenarnya Perseus kok, Nyonya." kataku mencoba memperbaiki keadaan.
"Oh lupakan saja, Nak. Aku memang melankolis. Ngomong-ngomong, kau sangat mirip Harry. Duduklah anak-anak, akan kusiapkan sesuatu."
Setelah kami duduk, seekor kucing berbulu lebat warna jingga dengan wajah penyok melompat naik ke atas meja dan diam disana, mendengkur.
"Oh, Crookshanks, bersikaplah sopan pada tamu-tamu kita." Mrs Weasley memindahkan Kucing bernama Crookshanks itu ke kursi kosong. "Crookshans ini kucing Hermione, salah satu sahabat putraku. Ia sangat manis dan pintar, kalian pasti akan menyukainya." Mrs Weasley mengetuk sebuah panci besar dengan tongkat sihirnya. Panci itu melompat ke atas kompor dan langsung menggelegak. "Yang lain ada di tempat tidur. Kami mengira kalian baru akan datang berjam-jam lagi. Ini, silahkan."
Diketuknya lagi panci di atas kompor. Panci itu terangkat ke udara, melayang menuju kami dan memiringkan diri di atas mangkuk-mangkuk yang telah disediakan. Mrs Weasley dengan gesit melambaikan tongkat sihir ke atas bahunya, dan sebantal roti serta sebilah pisau melayang anggun ke atas meja. Sementara roti itu memotong sendiri dan panci sup bertengger kembali di atas kompor. Mrs Weasley duduk di seberang kami.
"Kenapa kalian tidak berangkat esok hari saja, dear?" tanya Mrs Weasley. Aku mendongak, mulutku dipenuhi roti. Thalia angkat bicara.
"Menurut Chiron, waktu kami tak banyak, Mrs Weasley. Jadi kami harus tiba disini secepat mungkin."
Mrs Weasley mengangguk, "Memang, sejak Kau-Tahu-Siapa terang-terangan menyatakan diri kembali, kurasa semua orang dalam bahaya maut sekarang, pelahap maut dimana-mana..."
"Apa itu Pelahap Maut?" tanyaku heran.
"Sekelompok orang pengikut Kau-Tahu-Siapa." Mrs Weasley mencoba menjelaskan dnegan suara datar. Tapi aku tahu dia sangat ketakutan.
Tak lama kemudian mangkuk kami kosong. Aku menyembunyikan kuap di balik tangan.
"Tidurlah anak-anak. Sudah kusiapkan kamar untuk kalian, bekas kedua anakku yang sudah lulus sekolah, Fred dan George. Kuperingatkan, mereka benar-benar nakal, jadi, sebaiknya jangan menyentuh barang apapun di sana jika kau tak ingin terluka. Mari kuantar."
Mrs Weasley beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke arah tangga. Kamar Fred dan George ada di lantai dua. Mrs Weasley mengacungkan tongkat sihirnya ke sebelah tempat tidur dan lampu langsung menyala, menyiram kamar dengan cahaya keemasan yang nyaman. Kamar itu cukup luas untuk ditempati empat orang. Dua buah ranjang berhadapan bersisian dengan sepasang lemari berwarna orange dan sebuah meja kerja di sudut ruangan. Kamar itu didominasi dengan warna merah dan emas. Di sisi lain tempat tidur, karpet berwarna merah dengan sulaman emas tergelar di lantai, menambah kesan hangat dan nyaman. Kendatipun satu vas besar bunga diletakkan di atas meja di depan jendela kecil, harum bunga-bunga itu tidak bisa menutupi sisa bau yang kuduga merupakan bau bubuk mesiu. Sebagian besar karpet ditempati kotak-kotak karton tanpa nama, tersegel, di antara kotak-kotak itu ada sedikit tempat untuk menyimpan koper kami.
"Nah, kuharap kalian senang berada di sini. Anak perempuan bisa menempati kasur yang sebelah kanan, dan anak laki-laki yang sebelah kiri. Tidak mengapa kan kalian digabung? Aku tak punya kamar kosong lagi." muka Mrs Weasley memerah. Aku terlalu tak enak dengan kebaikan hatinya.
"Tak apa-apa Mrs Weasley, inipun sungguh luar biasa." kata Thalia.
"Terimakasih Thalia. Jika kalian ingin membersihkan diri, kamar mandi ada di ujung lorong. Selamat tidur anak-anak."
"Selamat tidur, Mrs Weasley."
Pintu menutup. Thalia langsung merebahkan diri di kasurnya yang ditempati bersama dengan Annabeth. Matanya mengawasiku dan Nico dengan tatapan menusuk.
"Aku pemburu." katanya lagi. ''Jika ada di antara kalian yang berani macam-macam..." Ia merentangkan busurnya dan melepaskan anak panah tepat di atas kepalaku. Aku buru-buru keluar untuk membersihkan diri, dan berharap semoga saja anak panah Thalia habis.
Beberapa detik kemudian, atau begitu rasanya bagiku, aku terbangun oleh sesuatu yang kedengarannya seperti tembakan meriam ketika pintu menjeblak terbuka. Thalia kaget sampai terduduk tegak. Nico dan Annabeth terhuyung-huyung bangun ketika mendengar geseran gorden yang dibuka, cahaya matahari yang menyilaukan seakan menusuk keras mataku.
Samar-samar mataku melihat empat orang remaja seumuranku tersenyum di depan ranjang. Gadis paling depan memiliki rambut coklat mengembang yang dikuncir kuda dengan mata coklat hazel yang ramah dan cerdas. Di sampingnya pemuda jangkung dengan rambut merah menyala dan wajah berbintik-bintik serta bermata biru cerah tersenyum jenaka. Di belakangnya gadis cantik berambut merah panjang dan bermata coklat menatapku malu-malu. Aku menduga mereka yang berambut merah adalah anggota keluarga Weasley. Dan di belakang mereka, tepat di ambang pintu, berdirilah sesosok pemuda berambut hitam acak-acakan bermata hijau zamrud dan berkacamata, sedang memperhatikan kami dengan sorot mata gugup.
"Kami tahu kalian sudah disini!" kata pemuda jangkung itu dengan nada antusias.
"Ron, bersikaplah sopan kepada mereka." gadis berambut coklat menatap pemuda yang bernama Ron itu dengan pandangan mencela. Ron terkekeh. Gadis itu berbalik dan menatap kami ramah.
"Kapan kalian tiba? Mrs Weasley baru saja memberitahu kami." sahut gadis itu.
"Sekitar pukul satu pagi ini." Thalia menjawab sambil mengerjapkan matanya. Pemuda yang tadi berdiri di ambang pintu masuk dan berdiri di antara teman-temannya.
"Maafkan teman-temanku, kawan. Mereka memang seperti itu jika bertemu dengan orang baru. Perkenalkan, aku Harry Potter. Senang berkenalan dengan kalian." Harry tersenyum, dan aku sadar rambut dan matanya sama dengan warna rambut dan mataku. Bedanya, mata Harry hijau emerald, sementara mataku sehijau lautan.
"Ronald Weasley. Panggil aku Ron saja. Oh tunggu, Won-Won juga boleh." Hermione memutar bola matanya dan menggumamkan sesuatu yang kedengarannya seperti "Idiot."
"Aku Hermione Granger." Kata gadis berambut coklat.
''Ginevra Weasley. Panggil saja Ginny." kata gadis cantik berambut merah panjang yang dari tadi malu-malu.
"Oh." ucapku seperti orang tolol. Annabeth memukul kepalaku.
"Senang berkenalan dengan kalian." katanya. "Aku Annabeth Chase, si bodoh ini Percy Jackson, lalu di sebelahnya Nico di Angelo, dan gadis yang membawa busur itu Thalia." Annabeth tersenyum ramah pada mereka dan menatap ke arahku. "Harry mirip kau."
Sontak Harry mengangkat kepalanya dan melihatku. "Kita mirip!" serunya.
Aku mengangguk linglung. Setengah pikiranku masih di bawah bantal yang empuk sih.
"Maaf mengganggu." kata Ginny akhirnya. "Tapi Mom sudah menunggu kalian di bawah untuk sarapan."
Setelah mengumpulkan nyawa dan membersihkan diri, aku, Annabeth, Nico dan Thalia berjalan menuju dapur. Di sana, Mrs Weasley tengah sibuk dengan kompornya. Dan aku melihat sosok lelaki setengah baya dengan rambut merah dan raut wajah ramah sedang berdebat seru dengan lelaki berumur dua puluh lima tahunan berambut merah panjang diikat ke belakang dan memakai anting. Wajahnya tampan, namun sangar. Di sebelah lelaki itu, duduk wanita cantik dengan rambut keperakan panjang dan mata abu-abu-yang sekilas mengingatkanku pada mata Athena- tersenyum pada kami. Ia sangat cantik, benar-benar cantik. Sampai-sampai aku lupa bernapas.
"Jangan memandangnya terlalu lama." dengus Hermione tak suka. "Si dahak itu seperempat veela. Pandangannya masih bisa menghipnotismu untuk melakukan hal-hal gila."
"Veela?" tanyaku heran. Hermione mengangguk.
"Hasil perkawinan manusia dan peri hutan. Jika Veela menari bisa membuatmu melakukan hal gila seperti terjun ke dalam tebing. Nah, neneknya si Dahak itu veela. Makanya hati-hati."
"Namanya memang dahak?" tanyaku dengan polosnya. Ginny terkikik geli.
"Namanya Fleur Delacour, yang dalam bahasa Inggris artinya Bunga di Taman." Ron memperkenalkan Fleur dengan suara dreamy.
"Oh lupakan saja, Percy." Hermione menggertakan giginya. "Ron memang naksir Fleur."
Ron melotot ke arah Hermione, tapi pandangan matanya melembut saat melihat Fleur.
"Lalu, mengapa ia disebut dahak?" tanyaku lagi.
"Karena dia dingin dan jutek. Mom tak suka padanya, begitu pun kami." Ginny mendengus dan memimpin kami berjalan menuju anggota keluarga yang lain. Begitu tiba di meja makan, Arthur Weasley tersenyum.
"Ah, anak-anak dewa." ujarnya sambil tersenyum. "Aku Ayah Ron, Arthur Weasley. Ini anak pertamaku, William Weasley, dan calon menantuku..." Arthur berdeham. Mrs Weasley secara sengaja membuat salah satu piring pecah. "Fleur Delacour."
"Halo." jawab Bill ramah. "Panggil aku Bill saja."
"Dan panggil aku Fleur saja." Fleur tersenyum. Cara bicaranya beraksen Prancis. Ginny membuat gerakan seperti ingin muntah di belakang punggung Fleur.
"Nah, biar kutebak. Kau pasti Percy. Si cantik berambut hitam itu Thalia. Nah, gadis imut berambut pirang pasti Annabeth. Dan kau, anak manis, kau pasti Nico." Arthur tersenyum lagi. Kami serentak mengangguk.
"Selamat datang di The Burrow!" ujarnya lagi. "Anggap saja rumah sendiri."
Kami mengangguk sambil tersenyum sopan.
"Yang lain kemana, Mr Weasley?" tanya Harry saat kami sudah duduk rapi.
"Fred dan George, anak-anak bandel itu sekarang tinggal di Diagon Alley. Mereka punya bisnis baru. Toko Lelucon mereka sukses besar, bahkan disaat-saat genting seperti ini." Mr Weasley mendesah. "Charlie masih mengurus naga-naganya di Rumania. Dan Percy..." ucapan Mr Weasley menggantung. Cepat-cepat aku menoleh. Namun aku sadar bukan aku yang ia maksud. Anak Mr Weasley yang satu lagi, yang kabur dari rumah.
"Nah ayo anak-anak, kita makan!" serunya cepat-cepat mengalihkan topik pembicaraan ketika panci-panci berisi sup panas dan piring daging asap memiringkan diri ke arah mangkuk seperti biasa. Kami pun makan dengan khidmat. Omong-omong, masakan Mrs Weasley sepertinya akan menjadi masakan favoritku seumur hidup.
Kami melewatkan sebagian besar waktu siang dengan bermain tangkap jembalang bersama Ron, Harry, Ginny dan Hermione. Awalnya sih kami ingin bermain Quidditch, tapi meskipun Ron dan Harry sudah menjelaskan sebaik mungkin pada kami-karena mereka atlit Quidditch Gryffindor-, tetap saja aku, Nico dan Thalia tak bisa ikut karena Quidditch berhubungan dengan langit. Dan tentu saja permainan menjadi kacau ketika Annabeth beberapa kali melakukan gol bunuh diri. Akhirnya, kami sepakat memainkan permainan sederhana yang bisa dilakukan di darat saja.
Malamnya, Mrs Weasley berbaik hati mengadakan pesta ulang tahun Harry yang ke enam belas. Kami semua berhasil memakan tiga porsi segala hidangan yang disiapkan Mrs Weasley setelah permainan yang melelahkan tadi siang. Namun, Mrs Weasley terlihat kecewa ketika perayaan ulang tahun itu dirusak oleh Remus Lupin, -seorang manusia serigala yang merupakan mantan guru Hogwarts yang mengingatkanku pada Chiron-, datang membawa kabar yang kurang mengenakkan tentang peyerangan Dementor di kota. Oh ya, ngomong-ngomong, Dementor itu semacam arwah yang menghisap kebahagiaan dan jiwa manusia.
"Apa kau mendengar tentang Florean Fortescue, Remus?" tanya Bill, yang sedang disodori anggur oleh Fleur. "Orang yang punya-"
"toko es krim di Diagon Alley?" Harry menyela dengan suara hampa. "Dia selalu memberiku es krim. Apa yang terjadi?"
"Dibawa dengan paksa, kalau kau melihat keadaan tokonya."
"Kenapa?" tanya Ron. Sementara Mrs Weasley menatap tajam Bill.
"Siapa yang tahu? Dia pastinya telah membuat para pelahap maut merasa terganggu. Dia orang baik, Florean."
"Bicara soal Diagon Alley." kata Mr Weasley, "kelihatannya Ollivander menghilang."
"si pembuat tongkat sihir?" tanya Ginny tampak kaget.
"Betul. Tokonya kosong. Tak ada anda-tanda perlawanan. Tak ada yang tahu apakah dia pergi dengan sukarela atau diculik."
"Tapi, anak-anak ini membutuhkan tongkat sihir." sela Mrs Weasley menunjuk padaku.
"Apakah mereka utusan Chiron dari Amerika?" tanya Remus. Mrs Weasley mengangguk. "Kalau tidak salah, Dumbledore telah memesan tongkat untuk mereka beberapa minggu yang lalu. Kupikir, mungkin tongkat itu sudah selesai dikerjakan. Hanya saja kita tak tahu apakah tongkatnya cocok dengan mereka. " Remus tampak berpikir. "Akan kutanyakan dulu pada Dumbledore nanti. Semoga saja besok bisa diambil."
Remus pamit pada semua orang sebelum dia berteleportasi. Aku berbisik pada Thalia yang mengantuk kekenyangan disebelahku, "Tongkat sihir?"
"Ya Otak Ganggang." jawabnya. "Tongkat sihir untuk kita pakai. Sungguh aku benci Hecate." geram Thalia.
"Hecate? Memangnya menurutmu mereka keturunan Hecate?"
"Entahlah. Mungkin iya mungkin tidak. Karena Hecate tidak menggunakan tongkat sihir untuk mengeluarkan sihirnya. " Thalia mengangkat bahu. Sejurus kemudian kami membantu Mrs Weasley membereskan sisa-sisa pesta sebelum akhirnya kami terlelap di kasur masing-masing, berdoa agar tidak bermimpi.
Hari berikutnya setelah perayaan ulang tahun Harry, surat-surat beserta daftar buku tiba dari Hogwarts. Surat Harry ada kejutannya : dia diangkat sebagai Kapten Quidditch.
"Ini memberimu status yang sama dengan Prefek!" seru Hermione. " Kau bisa memakai kamar mandi spesial kami sekarang, dan segalanya yang lain!"
Aku mengangkat tangan. Hermione menoleh, "Prefek itu apa?"
"Semacam seksi kepengurusan suatu asrama. Jadi, para prefek ini yang bertugas mengawasi asrama. Biasanya diketuai oleh satu orang di setiap Asrama dan dibawah kepemimpinan Ketua Murid."
"Yah, kurasa kita tak bisa lebih lama lagi menunda kunjungan ke Diagon Alley sekarang, setelah kalian menerima ini," kata Mrs Weasley menahan napas, menatap daftar buku Ron. "Kita pergi dengan Ayahmu. Aku tak mau pergi tanpa dia."
"Mum, apa Mum benar-benar mengira Kau-Tahu-Siapa akan ngumpet di belakang rak buku di Florish and Blotts?" Ron terkikik.
"Kalau kau kira tindakan pengamanan soal main-main, kau boleh tinggal di rumah saja, biar aku yang membelikan keperluanmu."
"Tidak, aku ikut! Aku ingin lihat tokonya Fred dan George!" kata Ron buru-buru.
Kami mendapat surat, tapi tidak dengan daftar buku. Annabeth menjelaskan bahwa buku pelajaran untuk kami sudah disediakan khusus dalam bahasa Yunani Kuno agar kami dapat membacanya (aku jadi sebal aku memiliki disleksia) tapi disihir agar terlihat sama seperti milik yang lain. Kemudian baru kusadari bahwa buku-buku tebal yang dibawakan Chiron merupakan buku kami.
Chiron memutuskan untuk menaruhku, Thalia dan Annabeth di kelas 6, bersama Harry, Ron dan Hermione karena umur kami setara (Percy dan Hermione hampir 17, Annabeth 17 sementara Thalia, umur immortalnya sama dengan Harry yaitu 16). Sementara Nico di kelas 4. Aku sempat khawatir jika ia berbuat macam-macam selama berpisah dengan kami, namun Ron berhasil meyakinkanku bahwa Nico akan baik-baik saja selama ia tidak masuk asrama Slytherin. Aku tak mengerti apa yang ia maksud. Tapi kuputuskan untuk menggangguk saja.
"Diagon Alley itu apa?" tanyaku pada Harry yang sedang menggosok kacamatanya dengan gelisah.
"Tempat membeli segala perlengkapan sihir yang dibutuhkan."
"Um-oke." kataku mencoba mencerna kata-kata Harry. Bagaimana pun, semua ini bagai terasa seperti saat pertama kali aku tahu bahwa aku demigod.
Hari itu mendung dan suram. Salah satu mobil khusus Kementrian Sihir menunggu kami di halaman depan ketika kami muncul dari dalam rumah. Bill dan Fleur melambai dari jendela dapur. Aku berpikir mobil ini tidak akan cukup untuk menampung 10 orang. Tapi, nampaknya mobil itu disihir menjadi lebih luas karena kami bisa duduk tanpa berdempetan di dalamnya. Lagi-lagi karena sihir.
"Nah, sudah sampai!" kata si pengemudi. Untuk pertama kalinya ia bicara, ketika ia melambat di Charing Cross Road dan berhenti di depan sebuah bar kumuh. Mengejutkan karena rasanya baru sebentar.
Di depan sebuah losmen, tampak sesosok raksasa setinggi dua setengah meter berjenggot hitam, memakai mantel panjang dari kulit berang-berang, dan bermata hitam kumbang berseri yang langsung memeluk Harry begitu kami sampai.
"Dia Hagrid. Pengawas Binatang Liar di Hogwarts. " bisik Ginny saat Nico hendak bertanya. Annabeth dan aku rada bergidik, mengingat betapa mirip Hagrid dengan raksasa Laisrtygonian yang menyerang kami dulu. Hagrid mengedip ke arah kami dan memandu kami menuju ke dalam bar kumuh itu. Terlihat si pemilik bar mendongak penuh harap ketika kami masuk, namun Hagrid berkata dengan lagak penting "Cuma lewat hari ini, Tom. tentu kau mengerti. Urusan Hogwarts, kau tahu."
Tom mengangguk muram dan kembali mengelap gelas-gelasnya. Kami melewati bar dan keluar ke halaman belakang yang kecil dan dingin, yang ada tempat sampahnya. Hagrid mengangkat payung merah jambunya dan mengetuk bata tertentu di dinding, yang langsung membuka membentuk gerbang lengkung menuju ke jalan cornblock berliku-liku. Aku, Annabeth, Thalia dan Nico terkesiap. Kami memandang ke sekeliling.
Etalase setiap toko dipenuhi poster-poster ungu suram dan besar –kata Harry, itu milik Kementrian sihir, bersi pedoman tindakan kemanan dari segala serangan pelahap maut- dan foto hitam putih yang bisa begerak-gerak-foto-foto para pelahap maut yang berwajah keji, yang membuatku langsung ingin pulang saat itu juga-. Beberapa jendela etalase ditutup papan. Sebaliknya, sejumlah kios kumuh bermunculan di sepanjang jalan. Yang paling dekat dengan kami dipasangi papan bertuliskan "JIMAT PERLINDUNGAN."
Oh, apa Voldemort itu lebih menakutkan dari Kronos sehingga mereka semua menjadi paranoid seperti ini?
"Diagon Alley berubah. Dulu disini cerah dan berwarna-warni." keluh Hermione. Di sebelahnya, Ron mengangguk muram.
Mr Weasley membagi rombongan menjadi dua. Mr dan Mrs Weasley, Ron, Harry, Ginny, Hermione, kemudian tim kedua aku, Annabeth, Thalia, Nico dan Hagrid. Kami pun berpencar setelah berjanji akan bertemu di toko Jubah Madam Malkin's.
"Buka suratmu, Percy." Thalia menyuruhku membuka surat. Kulihat dia juga sedang membuka suratnya.
"Bisa tolong kau bacakan, Hagrid? Kami menderita disleksia." kata Annabeth lembut. Hagrid tersenyum. "Tentu." dia membuka lipatan surat dan membacanya keras-keras.
SEKOLAH SIHIR HOGWARTS
Seragam
Siswa pindahan membutuhkan:
Tiga setel jubah kerja sederhana (hitam)
Satu topi berujung runcing (hitam)
Sepasang sarung tangan pelindung
Satu mantel musim dingin
Buku (sudah disediakan Dumbledore)
Peralatan lain
1 tongkat
1 kuali
1 teleskop
1 set timbangan kuningan
Siswa diizinkan membawa burung hantu atau kodok.
"Apa semua ini bisa dibeli disini?" tanya Annabeth ragu.
"Tentu saja." jawab Hagrid. "Tapi terlebih dahulu kau harus menukarkan uang dollarmu ke dalam bentuk galleon dulu."
"Gringgots." kata Hagrid.
Tanpa kusadari kami telah tiba di depan bangunan putih bersih yang menjulang di antara toko-toko kecil yang lain. Di sebelah pintu perunggu mengilap berdiri tegak makhluk berseragam emas.
"Itu goblin." kata Hagrid pelan sementara kami mendaki undakan batu putih menuju ke tempatnya. Si goblin kira-kira sekepala lebih rendah dari Nico. Wajahnya yang hitam tampak cerdas, dengan janggut runcing dan jari-jari tangan dan kaki yang memanjang. Dia membungkuk ketika kami masuk. Sekarang, kami menghadapi sepasang pintu kedua berbahan perak, dengan kata-kata berliku terpahat di atasnya, aku tak bisa membacanya tentu saja. Sepasang goblin membungkuk ketika mereka memasuki pintu perak, dan kami memasuki aula besar.
Kira-kira lebih dari seratus goblin duduk di atas bangku tinggi di belakang meja panjang, sibuk menulis di buku kas besar, menimbang koin di timbangan kuningan, memeriksa batu-batu mulia dengan kaca pembesar. Ada terlalu banyak pintu keluar dari aula itu hingga tak bisa dihitung, tapi ada lebih banyak lagi goblin yang mengantar orang-orang keluar masuk pintu-pintu ini. Kami menuju meja.
"Pagi." kata Hagrid kepada Goblin yang sedang kosong. "Kami akan menukar uang." Hagrid menyerahkan empat kantung dollar yang Chiron berikan pada kami. Dalam sekejap kantung itu telah berganti menjadi empat kantung penuh emas seperti drachma.
"Ini namanya galleon." kata Hagrid ketika kami keluar dari Gringgots. " Satu galleon sama dengan tujuh belas sickle perak dan satu galleon sama juga dengan dua puluh sembilan knut perunggu. Gampang kan?" Aku melongo dan berusaha berhitung. Annabeth menganggukkan kepalanya bangga.
Kami kemudian bergegas membeli kuali dan mendapat satu set timbangan bagus dan teleskop kuningan yang bisa dilipat. Kemudian kami pergi ke toko bahan ramuan, baunya bukan main. Campuran antara telur busuk dan kol busuk. Tong-tong berisi lendir berjajar di lantai, stoples-stoples berisi ramuan, akar-akar kering, dan bubuk berwarna cerah berderet di dinding, untaian taring, dan cakar-cakar melengkung bergantungan dari langit-langit.
Di luar toko, Hagrid memeriksa daftar kami lagi. "Tinggal kurang baju dan tongkat-eh, kalian ingin binatang peliharaan?" Kami menggeleng takut-takut. Memelihara diri sendiri saja disini sudah susah, apalagi sambil memelihara hewan?!
"Baiklah. Kita mengambil tongkat dulu. Mudah-mudahan Remus benar tentang tongkat yang sudah dipesan." gumam Hagrid ragu-ragu.
Toko terakhir ini sempit dan kumuh. Huruf-huruf emas sudah megelupas di atas pintunya berbunyi, Ollivanders : Pembuat tongkat bagus sejak 382 SM. Sebatang tongkat tergeletak di atas bantal ungu kusam di etalase berdebu.
Denting bel berbunyi di kedalaman toko saat kami melangkah masuk. Tempat itu kecil sekali, kosong, hanya ada satu kursi tinggi kurus. Hagrid duduk menunggu di kursi itu. Aku merasa aneh, seakan aku memasuki perpustakaan yang peraturannya sangat ketat. Ketika melihat ribuan kotak pipih yang bertumpuk rapi sampai ke langit-langit, entah kenapa bulu tengkukku terasa berdiri. Debu dan kesunyian di toko ini rasanya mengandung sihir rahasia. Kugenggam riptideku erat-erat.
"Selamat pagi." terdengar suara lembut. Aku melonjak. Begitu pula Annabeth, Thalia dan Nico. Seorang gadis berdiri di hadapan kami. Matanya lebar dan pucat, beriris violet. Ia memakai gaun kuno berwarna hijau zamrud. Rambutnya berwarna hitam sekali sehingga hampir ungu, digelung anggun ala Ratu Eropa kuno. Kutaksir umurnya tak lebih dari lima belas tahun. Ia terlihat seperti Oracle Apollo yang dulu dikutuk Hades-Oracle sebelum Rahel- sangat cantik sekaligus mengerikan.
"Aku Alamanda. Cicit Ollivander. Kudengar kalian utusan Dumbledore yang memesan empat tongkat istimewa kan?" tanyanya lagi. Kami mengangguk. Ia berbalik dan mengambil empat kotak pipih dari sebuah kotak tersembunyi di bawah meja berkaki dan meletakkannya dengan hati-hati di hadapan kami.
"Silahkan." kata Alamanda lagi. Ragu-ragu, aku mendekati kotak itu. Ada yang berwarna hijau, biru, hitam dan abu-abu. Kemudian sadarlah aku, kotak berwarna biru itu untuk Thalia, hijau untukku, hitam untuk Nico, dan abu-abu untuk Annabeth.
Aku mendekat dan membuka kotakku. Di dalamnya tersimpan sebatang tongkat berwarna hitam kehijauan yang berbau garam dan angin segar dari laut. Lambang trisula Poseidon tercetak di ujung tongkat.
"Kayu ash, 14 inchi, fleksibel. Berinti bulu ekor pegasus, dengan tambahan inti air laut di dalamnya. Coba kau goyangkan."
Aku menggoyangkan tongkatku, dan seketika percikan bunga api merah meledak dari ujung tongkat. Kusadari semua sumber air yang ada di tempat ini-tong berisi anggur, air mancur di sudut ruangan- terangkat dari tempatnya dan berkumpul mengikuti instruksi tongkatku.
"Bagus sekali, Putra Poseidon." kata Alamanda.
"Sekarang giliranmu, Putri Zeus." katanya pada Thalia. Thalia mendekat dan membuka kotaknya. Tongkat sihir berwarna hitam kebiruan dengan petir asali Zeus tercetak di ujungnya itu menderakkan udara ketika diangkat dan seketika udara jadi berbau ozon.
"Kayu Laurel, 12 inchi, mendesir jika digerakkan, berinti serabut jantung elang dan inti petir. Kayu Laurel sendiri akan menyambarkan petir jika disentuh oleh orang yang bukan pemiliknya. Cobalah."
Thalia menggerakkan tongkatnya dan seketika bunga api merah plus kilatan petir dan gemuruh angin mengguncangkan seisi toko, bergerak sesuai arahan tongkat Thalia.
"Upps." Thalia meletakkan tongkatnya hati-hati di balik bajunya. Dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak akan meminjam tongkatnya dalam keadaan apapun.
"Putra Hades." Nico mendekat gugup. Tangannya gemetaran ketika membuka tutup kotak. Tongkatnya berwarna sangat hitam dan helm kegelapan Hades tercetak di ujungnya. Bau khas bawah tanah dan keputusasaan menyebar. "Kayu Eboni, 10 inchi, kaku. Berintikan bulu ekor Thestral dan inti tanah Underworld."
Tanpa disuruh, Nico menggoyangkan tongkatnya. Bunga api hijau meledak keluar. Tanah meretak seiring ayunan tongkat Nico. Dari dalam retakan keluar kabut sedingin es beserta yang makin lama makin menebal dan membawakan kehampaan serta keputusasaan kepada kami. Tangan-tangan pucat tengkorak pun mulai muncul dari dalam retakan, para zombie. Nico mengetukkan tongkatnya, dan seketika kabut dan zombie pun hilang.
"Putri Athena."
Annabeth bergerak tak sabar dan membuka kotaknya. Tongkatnya yang berwarna hitam keabu-abuan dengan simbol burung hantu Athena diujungnya menguarkan wangi zaitun.
"Kayu redwood, 14 inchi, lentur, berinti rambut Unicorn dan inti biji kebijaksanaan."
Aku tak mengerti kalimat terakhir Alamanda. Namun Annabeth langsung menggoyangkan tongkatnya hati-hati. Bunga api kuning meledak, lalu sesuatu keluar dari dalam tongkat, seperti gambaran pesan iris, yang menampilkan peta London.
"Alat strategi perang. Wow, tongkatku bisa menghasilkan visi!" Annabeth hampir melonjak kegirangan jika tidak segera kutahan.
"Sepertinya tongkatnya cocok." gumam Alamanda. Hagrid memberinya sekantung galleon dan setelah mengucapkan terimakasih, kami cepat-cepat keluar dari toko sambil menggenggam tongkat kami.
"Madam Malkin's." kata Hagrid mengarahkan jalan kami. Aku mengelus sisi tongkatku, merasakan jiwaku seperti menyatu dengan tongkat itu. Setiap aku menyentuh tongkat itu, ombak mendesir di telingaku. Angin menghembuskan wangi lautan segar dan garam. Aku merasa lebih baik dengan adanya tongkat ini. Kami bertemu kembali dengan rombongan pertama.
"Mungkin sesak kalau kita semua masuk." kata Hagrid pada Mr dan Mrs Weasley. "Kami jaga di depan, oke?" katanya lagi pada anak-anak.
Maka Harry, Ron, Hermione, Ginny, aku, Thalia, Nico dan Annabeth memasuki toko kecil itu bersama-sama. Sekilas toko itu tampak kosong. Namun begitu pintu terayun, menutup di belakang kami, terdengar suara dari balik rak jubah resmi hijau dan biru berkelip-kelip.
"...bukan anak-anak lagi, kalau Ibu belum memperhatikan. Aku bisa belanja sendiri."
Terdengar decakan dan suara, "Nak, Ibumu benar, tak seorang pun dari kita boleh bepergian sendiri, ini tak ada hubungannya dengan soal masih anak-anak-"
"Hati-hati menusukkan jarumnya!"
Seorang remaja pria berwajah runcing, pucat dan berambut pirang muncul dari balik rak memakai jubah hijau tua yang terlihat mahal dengan jarum pentul berkilat-kilat di sekitar lipatan bawah dan ujung-ujung lengannya. Dia berjalan ke cermin dan memandangi bayangan dirinya. Baru beberapa saat kemudian dia melihat kami terpantul di atas bahunya. Matanya yang kelabu pucat menyipit.
"Kalau Ibu bertanya-tanya bau apa ini, baru saja ada Darah Lumpur masuk." kata remaja itu.
"Kurasa tak perlu bicara begitu!" kata Madam Malkin, pemilik toko itu bergegas dari arah rak pakaian, membawa meteran dan tongkat sihir. "Dan aku juga tak mau ada tongkat sihir dicabut dalam tokoku!" dia menambahkan buru-buru, karena ketika mengerling ke pintu dilihatnya kami dengan tongkat sihir teracung ke arah remaja pucat itu.
"Draco Malfoy." kata Hermione tegang.
"Hermione Granger, dan sampah tak berguna lainnya." Draco melambaikan tangannya melecehkan ke arah Hermione, namun gerakannya terhenti di tengah-tengah ketika menatap kami.
"Hmm.., dan teman-teman sampah lainnya."
Thalia mengeratkan pegangan pada tongkat barunya. Mata birunya dipenuhi amarah. Petir mengguncang sisi toko.
Hermione, yang berdiri sedikit di belakang Thalia berbisik, "Jangan, sungguh tak berharga..."
"Yeah, memangnya kalian berani menggunakan sihir di luar sekolah." seringai Draco.
Thalia menyeringai. Aura Putri Zeus sekaligus pemburu Artemisnya keluar. Ia mengacungkan tongkatnya tepat ke arah Draco. "Aku tak pernah takut dengan peraturan apapun."
Lagipula secara teknis, Thalia harusnya sudah berusia dua puluh satu tahun. Tapi dia pernah menjadi pohon pinus dan sekarang ia menjadi pemburu Artemis. Otomatis pertumbuhannya melambat dan sekarang ia berhenti menua di umur enam belas kurang sehari. Jadi, tak masalah baginya untuk menggunakan sihir di luar Hogwarts jika memang tak boleh.
"Kita lihat seberapa beraninya kau.." kata Draco sambil menatap Thalia lurus-lurus. Namun, perhatiannya terpecah saat Madam Malkin menggulung lengan bajunya yang sebelah kanan. Draco berjengit dan cepat-cepat mengibaskan tangannya, "Ibu, kurasa aku tak mau lagi jubah ini." Dilepasnya jubah lewat atas kepalanya, dan dilemparnya ke lantai, di kaki Madam Malkin yang terlihat shock.
"Kau betul, Draco." kata Narcissa, mengerling menghina ke arah Hermione. "Sekarang, setelah aku tahu sampah macam apa yang berbelanja disini, lebih baik kita belanja di Twilfitt and Tatting's." Berkata begitu, mereka berdua meninggalkan toko.
Draco berhenti sebentar di dekat Thalia yang menatapnya dengan tatapan menusuk khasnya, dan mengangkat dagu Thalia, "Gadis sepertimu tak cocok bergabung dengan mereka." Ia mengedikkan kepala ke arah kami, "Senang bertemu denganmu, kalau kau mau tahu." dan meninggalkan Thalia yang mematung di dekat pintu masuk.
Hermione kelihatan tak senang. Wajahnya memerah. "Lupakan saja Thalia. Dia pria brengsek."
Thalia sadar dari transnya dan menatap Hermione, "Aku tak pernah tertarik dengan omong kosong laki-laki, Hermione." katanya dengan nada angkuh. Aku baru ingat kalau dia pemburu sekarang.
Madam Malkin tampak bingung ketika membantu kami mengemas yang dibutuhkan. Dan akhirnya ketika ia mengantar kami keluar dari toko, dia kelihatan senang sekali kami pergi.
"Dapat semuanya?" tanya Hagrid cerah ketika kami muncul lagi di sisinya.
"Kira-kira begitu." kata Harry. "Kau lihat Malfoy dan Ibunya?"
"Yeah." kata Hagrid tak peduli. "Mereka takkan berani bikin masalah di Diagon Alley, Harry. Jangan kuatirkan mereka."
Kami bertukar pandang, namun Mrs Weasley segera melirik arlojinya, "Kita hanya punya waktu sebentar saja untuk mengunjungi Toko Fred dan George. Mari bergegas, anak-anak."
Kami berjalan di antara toko-toko suram yang ditempeli poster dan berhenti ketika melihat etalase toko Fred dan George yang mencolok mata seperti peragaan kembang api. Orang-orang yang lewat melongo memandang kembali etalase itu, malah beberapa ada yang berhenti, terpana. Etalase sebelah kiri menyilaukan, penuh benda-benda yang berputar, mencuat, mengeluarkan cahaya, melompat dan menjerit. Etalase sebelah kanan tertutup poster besar seperti poster kementrian, namun huruf-hurufnya kuning menyala.
Kenapa kau mencemaskan
You-Know-Who
Kau seharusnya mencemaskan
U-No-Poo
Sensasi konstipasi yang melanda seluruh negeri!
Aku mulai tertawa. kulihat Harry dan yang lain juga ikut tertawa. You-Know-Who (dibaca yu-kno-pu) adalah Kau-Tahu-Siapa. sedangkan U-NO-POO (dibaca yu-kno-pu) berarti kau-tak bisa-berak.
"Ini brilian!" kata Ron.
Yang lain memasuki toko ini, namun aku tak berminat lagi ketika kulihat Draco Malfoy berjalan bergegas sendirian. Ketika melewati Sihir Sakti Weasley, ia menoleh. Beberapa detik kemudian dia sudah bergerak di luar jangkauan jendela dan hilang.
"Hei, teman-teman." kataku menepuk bahu Harry. "Aku melihat Malfoy berjalan sendirian dan menghilang ke arah sana."
Serentak mereka berbalik dan menatapku tajam. Sekilas kutatap Hermione, pipinya merona dan ia kelihatan salah tingkah.
"Menyelinap kabur dari Ibunya, kelihatannya." kata Ron.
"Tapi kenapa?" tanya Hermione.
Harry memandang ke sekitarnya. Mrs Weasley dan Ginny sedang bercakap-cakap dengan Fred dan George. Sementara Hagrid dan Mr Weasley mengawasi mereka, membelakangi kami.
"Masuk ke bawah sini cepat!" kata Harry menarik keluar Jubah Gaib dari tas nya.
"Oh aku tak tahu Harry." Hermione memandang sangsi kami. Dan aku yakin sekali kami nggak akan muat di bawah situ.
"Hmm.." Annabeth nampak berpikir. Ibunya kan Dewi Strategi. Semoga saja ia mendapat rencana.
"Jika kita masuk kedalam jubah itu kita bisa tak kasat mata ya." katanya.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Harry. Annabeth menarik keluar Topi Yankees nya dan memakainya. Sedetik kemudian ia tak terlihat. Lalu Annabeth membukanya kembali.
"Keren!" kata Ron.
"Bagaimana kalau kau saja yang memakai ini, Harry? Dan kalian, Ron dan Hermione memakai jubah itu. Kami menunggu disini saja." kata Annabeth kalem. Aku sih sebetulnya mau ikut, tapi aku tak bisa melawan Annabeth. Harry mengangguk berterimakasih, dan melesat pergi bersama kedua sahabatnya.
"Nah, teman-teman." katanya sambil nyengir setelah Harry dan kedua sahabatnya pergi. "Saatnya kita bersantai sedikit."
Thalia dan Annabeth masuk ke dalam toko. Sementara aku dan Nico menunggu di luar. Nico mengelus-ngelus tongkatnya. "Menghadapi situasi seperti ini hampir membuatku merindukan hukuman Persephone." katanya getir. Aku memaksakan diri tersenyum. Aku juga ingin pulang sih, sebenarnya. Aku rindu perkemahan blasteran.
Harry, Ron dan Hermione datang tepat waktu saat Mrs Weasley mulai menanyakan keberadaan mereka pada kami. Mereka berhasil mengelak dengan mengatakan bahwa Mrs Weasley kurang teliti mencari.
Semenit kemudian, Thalia dan Annabeth muncul dari Toko sambil berbisik-bisik serius, seakan membicarakan sesuatu yang sangat penting. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi mereka terus berbicara hingga kami masuk mobil. Dan pembicaraan mereka berhenti ketika Harry memberitahu kami bahwa tadi Malfoy memesan sesuatu ke Toko Sihir Hitam dan mengatakan bahwa barang yang dipesannya itu memiliki pasangan. Harry khawatirnya barang itu Malfoy pakai untuk sesuatu yang jahat, yang bakal merugikan kami juga nantinya.
"Ngomong-ngomong Malfoy itu siapa sih?" tanya Thalia berusaha terdengar tak peduli saat kami sedang mengemas barang untuk dibawa ke Hogwarts.
"Penyihir darah murni yang angkuh dan selalu memandang hina darah lumpur." Hermione mencoba menutupi rona di wajahnya dengan kata-kata sarkasme.
"Darah murni? " tanyaku lagi.
"Iya, penyihir dibagi menjadi tiga tingkatan. Darah murni, darah campuran dan darah lumpur. Darah murni merupakan kumpulan keturunan penyihir murni dari kalangan atas, darah campuran adalah golongan penyihir yang ibu atau bapaknya menikah dengan muggle. Sementara darah lumpur, seperti aku ini adalah penyihir kelahiran muggle. Kami sering dianggap mencuri kekuatan dari penyihir lain karena kami tidak punya silsilah keluarga penyihir." Hermione menjelaskan dengan sabar, kelihatan senang sekali kami mengubah topik pembicaraan.
"Jadi, kita ini apa dong namanya?" tanyaku pada Annabeth. Tapi malah Thalia yang menjawab, "Yang jelas, kita ini anak dewa yang selalu terlibat dalam masalah besar."
A/N : Hai-hai, author balik lagi nih! Maaf updatenya lama. Sebelumnya, author berterimakasih buat temen-temen semua yang telah sudi mereview cerita author yang banyak kekurangan ini, nggak nyangka bakal dapet respon bagus buat fanfic ini. Meskipun ceritanya klise dan alurnya pasti gampang banget ketebak, author janji bakal terus ngelanjutin cerita ini sampe tamat, karena author gereget ngeliat cerita jenis ini bertebaran di fanfic bahasa inggris tapi di Indonesia nggak ada satu pun... Maka dari itu, keep review ya! ; )
PS : Disini Author iseng bikin pairing Hermione-Draco-Thalia dan minor Thalico dan Percabeth. Memang agak diluar nalar sih pairing love triangle-nya, tapi... author suka
