Di saat yang bersamaan Shikamaru ternyata sudah tiba di halte. Namun ia sengaja memarkir mobilnya sebelum mencapai halte karena di depannya sudah ada bus. Ia keluar dari mobilnya dengan malas.

"Ino-" Shikamaru yang berniat memanggil Ino pun mengurungkan niatnya saat melihat tangan Ino digenggam Sai dan keduanya pun masuk ke dalam bus dengan ceria.

"Kuso, bocah itu benar-benar mencari masalah denganku." Shikamaru mengepalkan tangannya dengan erat.

"Ia berani sekali menyentuh gadisku." Ucap Shikamaru perlahan.


Based on True story, Shinji Aime presents MENUNGGU CINTAMU

All Characters belongs to Masashi Kishimoto

WARNING : SasoxSaku on this chap, EYD less, AU, SASUXSAKU, Slight SASUXKARIN

Enjoy my Fic minna :)

...Menunggu Cintamu...


"Saku, besok kau berangkat kuliah jam berapa?" Tanya Sasori sambil terfokus pada jalanan didepan matanya.

"Jam delapan pagi." Jawab Sakura seadanya.

"Besok kuantar ya?" Ujar Sasori lembut. Mata hazelnya menatap Sakura dengan penuh kasih sayang.

"E-eh bukannya Sasori-nii harus ke kantor jam tujuh pagi? Bisa-bisa nanti kau terlambat." Tolak Sakura cepat-cepat.

"Besok aku akan meminta izin sebentar. Aku tahu kau sedang krisis uang karena belum menerima gaji, Saku. Setidaknya aku dapat membantu mengurangi biaya ongkos, 'kan?" Sasori mengangkat sebelah alis merahnya.

"Tidak! Aku tidak mau menyusahkan Sasori-nii. Lebih baik Sasori-nii mengantar Uzumaki-san saja. Jadwal kalian 'kan sama. Dan lagipula ia adalah kekasihmu." Sakura melipat tangannya di depan dada.

"Ia bisa mengemudikan mobilnya sendiri, sedangkan kau tidak." Kilah Sasori.

"Aneh. Sejak kalian berpacaran, aku hanya pernah melihat kalian jalan bersama sebanyak satu kali. Kalian ini pasangan kekasih atau bukan sih?" Selidik Sakura.

"S-sebenarnya aku tidak mencintai dia." Sasori secara mendadak menginjak rem mobil mercedeznya.

"Sasori-nii..." Tatapan Sakura berubah melembut.

"Aku terpaksa menjadi kekasihnya karena aku kasihan padanya. Ia begitu mencintaiku hingga aku tidak tega untuk meninggalkannya." Tutur Sasori.

"Harusnya kalau kau tidak mencintainya, lebih baik kau tinggalkan ia. Jangan mempermainkan perasaan seorang gadis." Sakura mengusap lengan Sasori yang tertutup mantel.

"A-aku tidak bisa, Saku. Aku tidak bisa. Maukah kau berjanji padaku kau takkan pernah membocorkan masalah ini kepada siapapun?" Tanya Sasori sambil menatap emerald Sakura secara intens. Sakura mengangguk lemah.

"Aku berjanji, Sasori-nii. Tapi ada satu syarat." Tatapan Sakura berubah menjadi jahil.

"Apa syaratnya?" Tanya Sasori. Dengan mata sayunya yang perhatian

"Kau harus mengantar Uzumaki-san ke kampusnya besok dan...Kau harus meminjamkan aku sepeda lipatmu selama seminggu." Sakura mengangkat jari kelingkingnya ke arah Sasori sambil mengangguk-angguk.

"Ummm, Aku akan menyanggupi syarat-syaratmu." Ujar Sasori sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking mungil Sakura.

"Yeay, aku menyayangimu Sasori-nii." Sakura memeluk Sasori secara spontan hingga membuat pipi Sasori semerah warna rambutnya.

"Aku juga menyayangimu, Saku." Balas Sasori. Mereka pun meneruskan perjalanan pulangnya.


...Menunggu Cintamu...


Sakura sampai di dalam apartemen mini miliknya. Ia memutar kunci apartemen tersebut lalu membuka pintunya. Dulu ia tinggal di rumah bersama kedua orang tuanya, Namun karena kendala biaya Sakura harus mencari tempat tinggal yang dekat dengan kampus dan tempat kerjanya. Apartemen ini berada sangat dekat dengan pusat kota. Biaya sewanya pun relatif murah. Meski tempat tinggal Sakura cukup jauh, Sasori masih sering berkunjng untuk melihat keadaan Sakura.

"Tadaima." Ucap Sakura sambil kembali mengunci pintu apartemennya. Tidak ada yang menyambut kepulangan Sakura karena ia hanya tinggal sendiri disini.

"Lebih baik aku mengisi baterai ponselku." Sakura berjalan ke arah kamar tidurnya lalu membongkar isi tas selempangnya. Tak lama kemudian ia mengambil sebuah charge ponsel. Ia menyambungkan charge tersebut ke stop kontak lalu mencolokkan ujungnya ke ponsel merah jambunya.

Miaw

Miaw

Miaw

"Ada Pesan singkat." Ucap Sakura sekilas sambil mengecek ponselnya.

"Ada dua puluh panggilan tak terjawab dari Sasori-nii. Dia pasti benar-benar khawatir." Sakura menghela nafas lalu memeriksa kotak masuk pesan singkat di ponselnya.


From : Ino a.k.a Pig

Received on Tuesday, 19 september 2013 21.00

Saku, besok kau mau ikut aku jalan2? Mau ya, mau ya. O iya tolong tlpn aku skrng. Aku sedang butuh teman curhat ;")


"Ck, dasar menganggu saja." Sakura memutar bola matanya bosan. Tapi ia tetap mendial nomor Ino.

Tutt

Tutt

Tutt

"Moshi-moshi. Konbanwa Saku. Bagaimana? kau mau ikut 'kan?" Ujar Ino.

"Um, jalan-jalan kemana sih memangnya?" Tanya Sakura curiga.

"Pokoknya kesuatu tempat. Kau mau 'kan?" Paksa Ino.

"Baiklah, apapun keinginanmu." Jawab Sakura pasrah, sekilas tersirat nada bosan dalam kalimatnya.

"Kau berjanji?" Tanya Ino, lagi.

"Janji selamanya. Dan aku takkan mengingkarinya. Jalan-jalannya sesudah selesai bekerja 'kan?" Sakura balik bertanya.

"Tentu saja. Kau tahu, Saku...Tadi Shika-kun meneleponku untuk mengajak kencan besok. Dan-"

"Sudah kuduga kau akan membawaku dalam kencanmu. Aku tidak jadi-"

"Ayolah, Saku. Kau 'kan sudah berjanji. Bahkan kau berjanji untuk tidak mengingkarinya. Lagipula besok akan ada banyak teman Shika-kun 'kok. Bukan kita bertiga saja."

"Maksudmu semacam Multi-date?"

"Ya, semacam itulah. Boleh kulanjutkan ceritaku?" Ino mulai kesal karena tadi Sakura memotong pembicaraannya.

"Ya, tentu boleh Nona Ino." Sakura menjawab dengan hati-hati karena takut Ino marah

"Nada bicaranya sangat datar dan menakutkan. Lalu diakhir telepon ia sempat berkata 'Kau harus menjauhi Sai si brengsek itu kalau mau kita tetap bersama'. Begitu katanya. Aku jadi takut." Suara Ino mulai sesenggukan. Sakura dapat mengetahui bahwa Ino sedang menangis disana.

"Jangan menangis, Ino. Aku tahu kau pasti sedih karena diperlakukan seperti itu oleh kekasihmu. Tapi...perkataan Shikamaru ada benarnya. Kau harus menjauhi Sai-san dan menunjukkan bahwa kau setia pada Shikamaru. Kalau kau dekat-dekat dengan Sai-san, itu pasti akan menyakiti hati Shikamaru." Sakura berusaha memberi saran pada Ino.

"Benarkah? Menurutku hubunganku dan Sai-san 'kan hanya sekedar berteman. Dan lagi aku baru mengenalnya selama sehari. Mengapa ia begitu pencemburu?" Tutur Ino.

"Memang sih. Tapi bukan hanya Shikamaru yang menyadari kau memiliki perasaan lain pada Sai-san. Aku pun dapat menyadari hal itu dari tatapanmu pada Sai-san." Ucap Sakura sambil mengganti bajunya dengan piyama bermotif panda.

"Mungkin kau benar, aku harus jaga jarak dengan Sai-san. Terima kasih atas saranmu, Saku. Aku merasa lebih baik. Sampai berjumpa besok, Oyasumi." Suara Ino mulai tidak sesenggukan lagi.

"Yayaya, oyasumi mou princess pig." Sakura mengakhiri sambungan teleponnya dengan Ino lalu melompat ke atas single bed miliknya.

"Mudah-mudahan hubungan Ino dan Shikamaru akan baik-baik saja. Semoga." Sakura mulai memejamkan matanya dan memasuki alam mimpi.


...Menunggu Cintamu...


Pagi pun tiba. Burung-burung yang bertengger di jendela apartemen mini dengan cat pudar itu saling berterbangan saat Sang penghuni membuka tirai jendelanya.

"Ohayou Gozaimasu Konoha." Sapa Sakura dengan ceria.

Sakura yang hari itu mengikat rambutnya menjadi dua bagian mengambil tas selempang hijaunya lalu memakan roti melon, makanan kesukaannya. Ia memakai sepatu flat berwarna tosca yang merupakan hadiah natal dari Ino. Tak lupa ia memasukkan seragam maid biru mudanya ke dalam tas. Sakura memakai mini dress hijau tanpa lengan yang ditutupi cardigan renda berwarna merah muda.

Miaw

Miaw

Miaw

Terdengar bunyi pesan singkat dari ponsel Sakura. Dengan sigap Sakura langsung merogoh tas nya dan mengambil ponsel merah jambunya. Ternyata itu adalah pesan singkat dari Sasori


From : Akasuna Sasori-nii

Received on Wednesday, 20 September 2013

Ohayou, Saku-nyan. Kau pasti sudah mau berangkat kuliah 'kan? Aku sudah menitipkan sepeda lipatnya pada pemilik apartemen. Sesuai perjanjian, kau boleh memilikinya selama seminggu. Bahkan kalau kau benar-benar menginginkannya, kau boleh memiliki sepeda itu selamanya


"Hihi, tidak kusangka dia benar-benar meminjamkan sepedanya." Ucap Sakura sambil tersenyum manis. Sakura mengetik balasan untuk Sasori


To : Akasuna Sasori-nii

Ohayou mou, Sasori-nii. Trims atas sepedanya. Kau bersungguh-sungguh sekali ya. Tapi untuk saat ini aku hanya membutuhkannya slama 1 minggu 'kok ;). Semoga hari-mu menyenangkan. Aku menyayangimu


...Menunggu Cintamu...


Ino merapihkan alat-alat tulis dan buku pelajaran yang akan ia masukkan ke dalam tas kuliahnya. Sepintas ia masih mengingat perkataan Shikamaru soal Sai. Tapi ia tidak mengerti apa maksudnya. Menurutnya Sai adalah pemuda yang baik dan menyenangkan. Meski tak dapat dipungkiri kalau ia merasakan getaran aneh di hatinya saat memandang Sai. Tetap saja ia tidak menganggap Sai akan menganggu hubungannya dengan Shikamaru.

"Ino-sama," Panggil seorang pelayan kepada Ino yang sedang melamun.

"Nee?" Ino yang saat itu memakai rok pendek berbahan jeans dan blus berwarna ungu pun menoleh ke arah kepala pelayan di mansion Yamanaka itu.

"Inoichi-sama berpesan kalau nanti kau akan mengikuti kuliah tambahan dari seorang temannya. Jadi hari ini Ino-sama tidak dapat berkerja di Bloom Cafe." Tutur sang kepala pelayan.

"Um...sampai pukul berapa?" Tanya Ino

"Mungkin sampai pukul lima sore." Jawab kepala pelayan itu.

"Baik. Terima kasih, Tazuna-san. Apa kau tahu siapa teman Tou-sama itu?" Lagi-lagi Ino bertanya.

"Kalau tidak salah nama temannya adalah Nara Shikaku. Kalau tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, saya pamit dulu." Tazuna memohon diri.

"Ya, baiklah." Ino masih terpaku saat mendengar nama 'Nara Shikaku'.

'Ayah Shikamaru yang akan mengajariku? Mungkin aku dapat bertanya mengenai Shikamaru padanya.' Pikir Ino senang. Ino mengambil ponsel flip ungunya lalu mengetik sebuah pesan singkat pada Sakura.


To : Sakura Jidat

Oi, hari ini aku tidak bisa bekerja di cafe karena ada kuliah tambahan. Tolong beritahu Tsunade-sama. Tapi tenang saja kita ttp jadi jalan-jalan 'kok. Kita bertemu di D'moore restoran mewah di pusat kota. Kau tahu tempatnya 'kan? Ingat kita bertemu disana jam 18.30. Jangan sampai terlambat! Aku malas jika tidak ada teman bicara ;)


...Menunggu Cintamu...


Sakura baru saja menyelesaikan kuliahnya. Ia akhirnya tiba di tempat parkir Bloom Cafe. Ia memarkirkan sepeda lipat Sasori di tempat parkir khusus pegawai.

"Sial sekali. Hari ini Ino tidak masuk, pasti membosankan. Hanya ada aku, Shion-san dan Amaru-san. Aku 'kan tidak akrab dengan mereka." Gerutu Sakura sambil berjalan masuk ke Cafe.

Klining

Klining

"Konnichiwa.." Sapa Sakura riang.

"Konnichiwa, Haruno-san." Balas Shion yang sedang mengelap meja sambil tersenyum sekilas. Amaru yang sedang mengencangkan bandana putihnya hanya mengangguk saja.

"Konnichiwa, jelek." Sahut sebuah suara. Sakura terkejut saat mendengar kata 'jelek' dalam kalimat orang tersebut.

"E-ehh..." Ternyata orang itu adalah Sai. Kini ia memakai seragam buttler berwarna biru muda. Sangat manis dan cocok untuknya. Saking tertarik pada penampilan Sai, Sakura hampir melupakan amarahnya pada Sai yang menyebutnya jelek.

"Kau manis sekali dengan gaun itu. Kalau kemarin kau jelek." Entah Sai memuji atau menghina Sakura. Yang jelas kini Sakura sudah mencapai puncak amarahnya.

"Sai-san, kau itu seharusnya tidak berbicara tidak sopan begitu. Kalau kau begitu, tidak akan ada yang mau berteman denganmu." Tutur Sakura sambil memasang wajah marah.

"Benarkah? Terima kasih sudah mau memberitahuku. Akan kuubah kebiasaan jujurku. Dan satu lagi, karena kini kita adalah rekan kerja...aku ingin kau memanggilku Sai saja. Tidak perlu pakai -San." Imbuh Sai. Sakura menaikkan sebelah alis merah mudanya lalu berjalan melewati Sai dengan segala aura kemarahan dan ketersinggungannya.

"Sakura, Dimana Ino? Aku tidak melihatnya. Apa ia sakit?" Tanya Sai kepada Sakura yang mulai menjauh. Sakura yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh.

"Dia izin karena ada kuliah tambahan. Apa urusanmu menanyakannya?" Balas Sakura sinis. Ia harus cukup waswas pada Sai yang berpotensi mengacaukan hubungan antara Ino dan Shikamaru.

"Kau bersikap menyebalkan pada temanmu sendiri. Aku 'kan hanya peduli kepada Ino. Apa masalahmu?" Sai menyunggingkan seulas senyum yang dipaksakan.

"Jangan harap kau dapat mengacaukan hubungan mereka. Dan ingat! Kau jauh lebih menyebalkan daripada aku!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Sakura berjalan cepat ke ruang ganti. Sai sendiri tak mengerti apa yang dimaksud Sakura dengan 'Hubungan Mereka'.

Dan hari itu di lewati Sakura dengan terus berusaha menghindari Sai.


...Menunggu Cintamu...


Ino menunggu Sakura sejak setengah jam yang lalu di depan D'moore, tapi yang ditunggu belum kunjung datang. Ino sudah mengirimkan sejumlah pesan singkat pada Sakura agar segera datang, namun belum mendapat satupun balasan. Karena jenuh menunggu, Ino pun akhirnya memilih masuk ke dalam restoran terlebih dahulu.

Di dalam restoran sudah ada Shikamaru, Neji, Kiba, Naruto, Tsuchi Kin dan adik sepupu Neji yaitu Hinata. Ino mengucapkan salam kepada mereka lalu duduk di sebelah Shikamaru.

"Ino, dimana Sakura? Bukankah kau akan mengajaknya?" Tanya Shikamaru heran setelah melihat Ino datang sendiri tanpa Sakura.

"Entahlah, Shika-kun. Aku tidak pergi bersamanya. Dan dia belum mengabariku sama sekali." Jawab Ino sambil menunduk.

"Semoga saja dia lekas datang, kebetulan Sasuke juga belum datang." Balas Shikamaru sambil mengenggam telapak tangan putih milik Ino. Hal itu spontan membuat wajah Ino memerah dan dadanya berdebar-debar.

Sambil menikmati kebersamaannya bersama Shikamaru, Ino memperhatikan Hinata yang memperhatikan Naruto secara diam-diam dari balik punggung Neji.

'Gadis itu manis sekali.' Pikir Ino.

Kring

Kring

Kring

Tiba-tiba ponsel milik Naruto berdering, dengan cepat sang empunya ponsel langsung mengangkatnya.

"Moshi-moshi Sasuke. Kau dimana?" Ucap Naruto

"Aku menghadapi sedikit hambatan. Mungkin aku tidak akan datang. Ada seorang gadis gila yang menabrakkan sepedanya ke mobilku." Balas Sasuke.

"Baiklah, aku mengerti. Semoga gadis itu baik-baik saja. Jaa." Naruto pun meakhiri pembicaraannya dengan Sasuke.

"Um, sepertinya Sasuke tidak akan datang. Ia menabrak seseorang dan harus bertanggung jawab." Dengan santai Naruto berkata sambil meneguk Jus jeruk pesanannya.

"Sou ka." Balas Neji.

Tok

Tok

Terdengar suara pesan singat dari ponsel Ino. Ino membuka isi pesan itu.


From : Sakura Jidat

Received on Wednesday, 20 september 2013 19.15

Ino, maaf aku mengingkari janjiku krn tdk bsa dtng. Sepedaku rusak krn ditabrak oleh mobil orang dan aku hrs membawanya ke bengkel krn itu spda pinjaman dari Sasori-nii. Hountou ni Gomen'nasai


Wajah Ino memerah menahan amarah saat membaca pesan itu. Berani-beraninya Sakura menginkari janjinya sendiri. Tapi Ino berusaha untuk mengatur emosinya dan memberitahu semua.

"S-sepertinya temanku juga tidak bisa datang karena ia mengalami sedikit kecelakaan dengan sepedanya yang ditabrak mobil orang. Ia minta maaf karena tidak bisa datang." Ujar Ino dengan wajah memelas.

"Sou ka. Pantas lama sekali." Ucap Shikamaru.

"Jangan-jangan yang menabrak sepeda temanmu itu Sasuke. Tadi Sasuke bilang. Ia menabrak seorang gadis bersepeda." Kiba berhipotesa.

"Jangan percaya diri dulu. Bisa saja bukan." Naruto mengingatkan.

"Bisa saja sih." Sahut Neji.

Akhirnya mereka memulai pesta tanpa Sakura dan Sasuke.


...Menunggu Cintamu...


"Hiks...hiks...hiks." Sakura menangis saat melihat sepedanya penyok di berbagai bagian.

"Hei, sudah jangan menangis. 'Kan aku sudah bertanggung jawab membawanya ke bengkel dan menunggu sampai sepedanya selesai diperbaiki." Ucap Sasuke berusaha menenangkan Sakura.

"B-bagaimana jika sepedanya tidak dapat diperbaiki? P-pasti Sasori-nii akan marah padaku." Sakura mengusap air matanya yang berlinangan.

"Kau membuatku merasa bersalah." Sasuke menyodorkan sapu tangan biru tuanya pada Sakura.

"A-arigatou. A-aku sampai...hiks...membatalkan janji dengan sahabatku." Tutur Sakura sambil mengusap air matanya dengan sapu tangan Sasuke.

"Jangankan kau. Gara-gara hal ini, aku juga membatalkan janji dengan teman-temanku." Sasuke mendelik ke arah Sakura.

"Aku belum pernah membatalkan janji dengan sahabatku." Jelas Sakura. Sasuke memutar bola matanya bosan.

'Dasar wanita. Selalu mendramatisir keadaan." Pikir Sasuke


Flashback


"Sial, sudah hampir jam tujuh. Ino pasti marah padaku." Gerutu Sakura sambil terus mengayuh ia melirik jam tangan rolexnya. Kalau saja tadi Tsunade tidak memintanya untuk membuat laporan keuangan cafe, pasti ia tidak akan terlambat.

"Hn, aku akan terlambat sampai sana." Sasuke memperhatikan jam mobil lamborghininya. Salahkan kakaknya, Itachi yang menyuruhnya untuk membelikan jajanan dango terlebih dahulu.

"Gadis bersepeda itu menghalangi jalanku. Aku akan menyalipnya." Pikir Sasuke sambil menyeringai. Dengan cepat ia membanting setir ke kanan, lalu menginjak pedal gas dengan kencang. Sepeda Sakura langsung oleng ke kiri dan menggores mobil Sasuke. Sakura terjatuh dari sepedanya, sedangkan Sepedanya terlindas mobil Sasuke hingga penyok.

Sasuke yang merasa ada ganjalan di bawah mobilnya pun turun dan mengecek kolong mobilnya. Ternyata ada sebuah sepeda berwarna merah. Tak jauh dibelakang mobilnya terlihat Sakura yang sedang terduduk dengan lutut yang merasa bersalah, Sasuke menghampiri gadis itu.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Sasuke. Sakura langsung terpesona melihat ketampanan wajah Sasuke, namun mengingat kondisinya yang sedang 'tidak baik-baik saja', Sakura langsung menekuk wajahnya dan menangis.

"A-aku...hiks t-tidak baik-baik saja...hiks." Jerit Sakura hingga membuat Sasuke panik.

"Aku akan membawa sepedamu ke bengkel. T-tapi jangan menangis. Itu memalukan." Sasuke membawa sepeda Sakura ke bagasi mobil Lamborghininya. Ia juga menggendong Sakura untuk masuk ke dalam mobilnya.

'K-kenapa pemuda tampan ini membuat dadaku berdebar-debar? A-aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya.' Batin Sakura sambil menahan senyum di wajahnya yan memerah.

"Jangan menangis lagi, ya." Sasuke mengusap jejak air mata di pipi Sakura dengan lembut.

'Aaaaa...aku menyukai pemuda ini.' Pikir Sakura malu-malu.

Dan begitulah bagaimana Haruno Sakura dapat bertemu dengan Uchiha Sasuke secara kebetulan.


...Menunggu Cintamu...


Sudah hampir satu jam Sakura dan Sasuke menunggu sepedanya selesai diperbaiki. Sebenarnya sepeda itu butuh waktu lebih dari tiga hari untuk diperbaiki, tapi karena paksaan dan tip tambahan dari Sasuke, para montir pun menyanggupi untuk memperbaiki dalam satu hari.

Kryukk

'P-perut sialan ini berbunyi di depan si tampan. Betapa memalukannya!' Pikir Sakura sambil mengelus perutnya.

"Kau lapar? Mau kubelikan burger?" Tanya Sasuke.

"Aaaa t-tidak usah repot-repot." Tolak Sakura sopan.

"Tidak. Pasti kau lapar. Aku akan membelikan burger untukmu." Sasuke beranjak dari kursi tunggunya. Sakura langsung mencegatnya.

"A-aku ikut." Usul Sakura.

"Um, baiklah." Sasuke menggenggam tangan mungil Sakura lalu mengajaknya ke restoran fast food di seberang jalan.

'A-aku tambah menyukainyaaaa' Pikir Sakura, lagi.


...Menunggu Cintamu...


Sasuke dan Sakura duduk di kursi yang paling dekat jendela di lantai kedua. Disana sangatlah sepi tidak ada orang kecuali mereka berdua. Kebanyakan orang lebih suka makan dilantai dasar.

"Kau tidak mau tambah burgernya?" Tanya Sasuke saat Sakura selesai menyantap burger pertamanya ditemani dengan segelas cola. Sakura menggeleng lemah.

"Kau sendiri tidak memesan apapun." Cibir Sakura.

"Aku tidak suka makan fast food." Sasuke berterus terang.

"Boleh aku tahu namamu?" Tanya Sakura.

"Aku Uchiha Sasuke. Kau sendiri?" Sasuke balik bertanya.

"Namaku Haruno Sakura. Ternyata kau baik sekali." Sakura menundukkan wajahnya karena malu akan ucapannya sendiri. Sasuke tersenyum.

"Begitulah biasanya orang-orang menyebutku." Dengan bangga Sasuke berkata hingga membuat Sakura ternganga.

'Selain tampan, dia juga sombong' Batin Sakura.

"Sasuke!" Panggil Sebuah suara. Sasuke dan Sakura pun menoleh dan mendapati seorang gadis berambut merah dan memakai kacamata lah yang memanggil Sasuke. Di sebelah gadis tersebut, seorang pria tampan berambut merah darah dan bermata hazel berdiri dengan gagah.

"Karin..." Desis Sasuke.

"Uzumaki-san! Sasori-nii! Kebetulan sekali kalian disini!" Sakura berdiri dari kursinya dengan riang. Sedangkan Sasuke memasang wajah penuh kebenciaan.


...Menunggu Cintamu...

To be Continued


Author Curhat Zone*

I'm back ;) Hai hai gimana chap ini feel Sasu-sakunya berasa gak? Ripiyuu yaaaa;)

Fyi, Sakura dan Ino itu kuliah dari jam 8 pagi – 2 siang. Terus mereka lanjut kerja di cafe dari jam 2 siang – 6 sore.

Skitar dua chap lagi, Sasu dan Saku bakal jadian. Yap benar sekaliii, disini pacarnya Sasori adalah Karin! Dan kisah mereka bakal sama tragisnya kayak Sasusaku. Stay tuned dan tunggu chap selanjutnya dari aku ya kemungkinan baru update satu minggu lagi, krn ini adlh minggu UTS.

Ini balasan ripiyunya Yang online boleh cek PM masing-masing !

Akira Fly : Serius? Sebenarnya end dari cerita ini jga mungkin agak mengecewakan(?) Klo bgitu nanti end nya akan sdikit aku edit biar gak terlalu angst ;) thanks for review. Mind to review this chap?

Kiki Takajo : Terima kasih sudah dibilang keren ;) ini sudah dilanjutkan. Mind to review again?

Momo-chan : Di chap ini udh ada SasuSaku kok. Tapi Cuma sedikit ;) chap dpan bakal fokus ke SasuSaku Review lagi?

Tukang review : Iya, insyaallah kalo sempat pasti aku lanjutkan

andrea. : Terima kasih. Aminnnnnn. Review lagi?

Mumut Imut : Gomen, aku mau terusin yg ini dulu smpe selesai. Klo sudah selesai, yg NaruHina pasti kulanjutkan ;) Review lagi?

zey-yenns28 : Terima kasih. Ini sudah keluar next chap Review lagi?

desypramitha2 : Terima kasih. Disini sudah ada momen SasuSakunya walau baru secuilll. Review lagi?