Disclaimer:

Super Junior isn't Mine

Special Thanks:

Conchitao | Kim Min Lee | nuna | Cloud1124 | Kim min ra

zakurafrezee | ZeeHyuk | shimchangchang | yolyol | ZhouRy shipper

| rizuka jung | Hero Comes Back | alwaystora | koala merah | Jung Ha Ri


.

.

.

"Aku memutuskan untuk—!"

Henry menahan napas.

"—menikah lagi…"

.

.

A Super Junior Alternate Universe Fanfiction

"We Are Broken"

Created by Park Yong Ha © 2012


Warning:

Alternate Universe

Out of Characters

Miss Typo(s) – Typo(s)

M-Preg – Genderswitch

Boys Love – Straight

Pairs:

Main!Zhou Mi x Henry Lau

Zhou Mi x Fem!Sungmin

Don't Like? Don't Read!


Denting logam perak yang beradu yang menjadi nada iringan ritual makan malam baru saja selesai.

Ruangan yang didominasi warna cokelat muda itu kini sepi, hanya meninggalkan meja makan dengan sosok yang kini sedang telungkup di atas meja.

Menyembunyikan sebentuk wajah di dalam apitan tangan yang sesekali meremas helaian soft caramel-nya. Tanpa melihat penjelasan lain, gesture sosok itu sudah menunjukkan satu gesture universal, frustasi. Perlahan, bahu mungil itu terguncang, dibarengi dengan isakan lirih yang hampir tak terdengar. Isakan yang cukup memperjelas semuanya.

Sosok itu bersedih...

'Kring-kring!'

'Deg.'

Dering suara telepon, sontak membuat sosok itu terlonjak.

Namun, kakinya tetap berpijak pada posisinya.

'Kring-kring!'

Bunyi ke dua, dan tetap sama. Tak ada gerakan berarti darinya.

'Kring kring!'

Suara itu semakin keras dan seolah tak bertoleransi padanya.

'Kring kring!'

Dengan gerakan kasar sosok itu bangkit dan menarik tubuhnya terseok menuju benda yang dari tadi mengusik gendang telinganya.

Diangkatnya telepon, dan dia menunggu, tanpa berniat untuk mulai menyapa sosok yang berada di seberang sana.

"Aku tidak pulang malam ini." Sebuah suara baritone terdengar dari telepon itu.

Membuat sosok namja itu memutar bola mata dark chocolate-nya yang sembab bosan.

"Ne, Gege," jawabnya singkat dengan wajah memerah dan pipi yang mencetak jelas aliran air mata di atasnya.

"Kau baik-baik saja?" suara baritone di seberang menunjukkan nada khawatir yang tidak begitu kentara.

"Ne, aku baik-baik saja," jawab sosok chubby itu pelan.

'Sebaik saat aku tahu alasanmu tidak pulang' lanjut sosok itu dalam hati.

Semuanya akan baik-baik saja.

Sebelum hari itu tiba.

Baik-baik saja, sebelum yeoja itu datang.

Yang seenaknya memasukkannya dalam sangkar dan merebut semua darinya…

.

.

.

~FanboyRaka~

.

.

.

Aku segera mengayunkan langkah dan menjajarinya.

Sosok-sosok bermantel menemani perjalananku bersama Mimi-ge menuju tempat yang dijanjikannya.

Bermacam pernik tahun baru mulai terpajang di etalase toko yang didominasi warna cerah itu. Bermacam kembang api mulai terlihat mencuat dan menjadi komoditi utama. Beberapa anak kecil dalam gandengan ibunya menggenggam erat batangan kembang api. Wajah-wajah polos itu memerah karena dingin yang membelai pipi mereka. Seulas senyum terpahat di wajahku melihat anak-anak itu.

Kemudian, caramel-ku beralih pada sekelompok remaja yang tengah bergerombol di depan toko yang memajang manekin ber-hanbok motif sakura. Sesekali tawa kecil mengiringi obrolan mereka yang sempat kutangkap. Melihat para gadis itu, mendadak badai berkecamuk dalam benakku. Berbagai hal mendadak menghentak tiap dinding pertahanan pikiranku. Sejumlah pertanyaan muncul silih berganti selama perjalanku mengikuti lelaki yang berjalan dengan wajah suram di sampingku. Paksaan untuk berpikir tentang diriku dan kehidupanku beberapa bulan di kota kecil ini mendadak muncul.

Ya, aku memendam rasa sepi yang tak pernah kuceritakan pada siapa pun.

Sejak Daddy dan Mommy memasukkanku ke klub biola, saat itulah penjara kesepian mulai mengurungku. Mendadak sifat riangku hilang karena saat-saat bahagia berkumpul dengan teman sekolah mendadak tercabut begitu saja.

Hidupku didoktrin untuk biola, biola, dan biola.

Aku tidak mempunyai banyak teman, karena aku memang tidak punya waktu untuk berteman. Aku selalu menyendiri bila berada di sekolah. Padahal, tempatku menuntut ilmu, Santo Joseph International Senior High School adalah sekolah terfavorit dengan biola sebagai ekskul utama. Namun, betapa pun aku mencoba, aku seperti berada dalam dunia yang terpisah dengan mereka.

Aku memegang eksistensi tertinggi dalam biola. Namun, aku adalah tahanan dalam kehidupan normal.

Padahal, aku ingin seperti mereka. Aku ingin bergabung dengan mereka. Menjadi pribadi dengan eksistensi yang diakui dalam lingkup yang mereka anggap normal.

Aku ingin.

Sungguh.

Bahkan untuk sekedar menggosipkan vokalis band-band rock terkenal atau bintang film yang film barunya kalah tenar daripada sensasi yang dibuatnya —yang menurut Mommy— pembicaraan yang tidak menghasilkan uang itu sia-sia.

Oh, Tuhan.

Siapa yang tahan berteman berjam-jam dengan bow dan pelatih yang tak hentinya memaksamu meliukkan tubuh, menekuk, dan berkeringat mengikuti nada-nada dari gesekan biola?

Namun, nyatanya biola benar-benar meracuniku.

Suntikan yang diberikan Mommy begitu cepat menginvasi seluruh hidup dan pemikiranku dengan biola. Aku menganggap biola sebagai hidupku.

Bukankah karena biola juga eksistensiku diakui? Dan karena dengan biola jugalah aku merasa dibutuhkan.

Akan tetapi, perasaan itu tidak berlaku untuk teman-temanku. Bagi mereka, aku tetap Henry yang tak tersentuh. Henry yang hidup sendiri di kerajaannya.

Kerajaan biola.

Jauh di lubuk hatiku, perasaan ingin berbagi resah itu selalu ada, menghentak.

Aku ingin bersandar pada bahu seseorang saat tubuhku rapuh atas semua kata dan tindakan Mommy. Namun, pandangan mereka mengatakan aku tak butuh itu. Aku namja yang ceria, ramah, tak tersentuh, dan sempurna dengan biolaku. Dan persepsi itu terus mereka pegang hingga jurang tak kasat mata yang terbentang pun semakin lebar.

Aku semakin melayang dengan duniaku; biola dengan nama besarku dan Henry yang rapuh atas hidupnya.

Perasaan dan kehidupan ini terus menemaniku.

Hingga hari itu tiba.

Satu-satunya hari yang membuatku mengucapkan terima kasih untuk pertama kalinya kepada Mommy secara non verbal.

Pertunjukkan hebat dalam awal karirku di dunia biola.

Yaitu saat aku diundang dalam acara yang diadakan pihak Kerajaan Inggris.

Di tengah berpasang mata sosok-sosok yang teraliri darah biru Inggris itulah aku menggesek bow, meliuk, dan berhenti pada sepasang blackhole yang dalam sekejap membuatku terseret di dalamnya.

Terseret dalam lubang bahagia dalam sosok tampan nan elegan; Zhou Mi.

Sejak saat itulah kami semakin dekat. Pertunjukkanku tidak pernah berlangsung tanpa pemuda onyx itu di salah satu kursi VVIP-nya.

Pemberitaan tentang kami semakin gencar dari hari ke hari, dan puncaknya adalah hari itu.

Atas sponsor beberapa grup biola ternama, aku melakukan pertunjukkan solo di London.

Tiket yang disediakan ludes dalam waktu sehari sejak promosi dilakukan.

Berjuta poundsterling masuk dalam rekening Mommy, alih-alih rekeningku.

Pengamat seni Inggris dan aku sendiri menyatakan itu adalah puncak dalam perjalanan biolaku.

Dan itu belum seberapa dibanding adegan sesudahnya.

Di tengah berpasang mata itulah, lagi-lagi Zhou Mi menjeratku dalam blackhole-nya.

Di tengah histeria akhir pertunjukkan, Zhou Mi, sang dancer noble melamarku!

Yang sontak menaikkan histeria menjadi berkali lipat dari sebelumnya.

Sosok yang memberi warna baru di tengah abu-abunya warna hidupku.

Zhou Mi-lah yang mampu membuatku mencintai biola dan mencintainya.

Aku mulai masa bodoh dengan pandangan orang dan sepinya hidupku sebelumnya.

Pertunanganku dan berujung dengan pernikahanku membutakan segalanya. Aku tak peduli dengan kalimat cemoohan atas orientasi menyimpang kami.

Dan itu tak berlangsung lama.

Sekejap sekali aku melayang.

Dancer noble itu dengan begitu mudahnya mengangkatku, namun begitu mudah juga menghancurkanku.

Aku merasa begitu tenggelam dalam lumpur pekat.

Semakin aku berusaha berenang ke permukaan, semakin pula aku terhisap di dalamnya.

Sungguh ironis.

'Brugh'

"Ah, so-sorry!"

Aku mendengar suara di depanku.

Disusul dengan suara permintaan maaf Mimi-ge.

Sontak mataku menangkap objek permintaan maaf Mimi-ge.

.

.

.

.

.

Sosok cantik berkulit porcelain.

Kilauan rambut long soft-nya yang sewarna lelehan caramel bergerak mengikuti langkahnya, menyempurnakan musim dingin yang baru saja datang di negara ginseng ini. Sementara sepasang bola matanya tertutup Okley ber-frame lebar hitam pekat. Zip up solid color hoodie berwarna merah menyala nampak melekat dengan pas di atas tartan shirt red caramel-nya. Tak lupa denim mini skirt lima belas senti di atas lutut membalut paha mulusya. Dan penampilan itu disempurnakan dengan red low sneakers yang terpasang manis di sepasang kaki jenjangnya. Serta mantel tebal musim dinginnya yang berwarna kecoklatan.

Yeoja itu teramat memesona.

Dalam sekejap sosok yeoja tinggi itu mengubah atmosfer di sekitar mereka.

Berpasang mata mengikuti dan seolah tak lepas dari sosok sang yeoja. Namun sang yeoja seolah tak peduli dengan sosok-sosok yang tak melewatkan sekejap pun geraknya, ia tetap berdiri dengan gerakan yang anggun, menampilkan keelokan tiap lekuk sempurna tubuh mulusnya.

Dan menatap Zhou Mi dengan mata indahnya.

"Minie-ya?" Zhou Mi berteriak senang.

Gadis sempurna itu tersenyum.

"Kupikir kau akan menunggu di café yang telah kita janjikan." Zhou Mi menggamit lengannya mesra, mengabaikan Henry yang kini terbelalak tak percaya.

"Aku baru saja dari bandara. Belum sempat ke café yang kau janjikan," jawab gadis berjuluk 'Minie' itu dengan suaranya yang kecil bening.

.

.

.

Café yang dimasuki tiga orang itu terlihat sepi.

Kehangatan thermostat langsung menyambut tubuh-tubuh yang tertutup mantel itu. Zhou Mi bergerak menuju meja nomor lima yang terletak di ujung café. Bersikap gentleman dengan menarik satu kursi untuk sang gadis yang bersama mereka. Memaksa Henry menarik satu kursi untuk dirinya sendiri.

"Jadi kau baru saja datang dari Jepang, Minie-ya?" tanya Zhou Mi setelah pelayan yang mencatat pesanan mereka pergi.

Gadis itu mengangguk singkat.

Zhou Mi beralih memandang Henry di sisinya.

"Nah, Mochi. Silahkan berkenalan dengan Noona ini."

Henry menatap yeoja cantik itu tajam. Dan dibalas dengan tatapan yang sama tajamnya hingga beberapa saat, sebelum akhirnya Henry memilih menyerah.

"Henry Lau imnida."

Gadis itu lagi-lagi tersenyum. "Lee Sungmin imnida."

"Kuharap harimu di sini menyenangkan," ucap Zhou Mi mencoba memecah kecanggungan di antara mereka.

"Sangat menyenangkan. Jadi, ini adalah Henry—!"

"—sepupuku!" sambung Zhou Mi cepat.

'Deg."

Henry seakan tersedak mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Gege yang merangkap sebagai suaminya itu. Dipandangnya Zhou Mi tajam. Namun Zhou Mi seolah tak melihat pandangan itu —atau sengaja mengabaikannya?

"Mochi… Noona ini adalah calon istriku."

Beruntung pelayan belum membawakan pesanan mereka.

Karena Henry berani bertaruh, jika itu terjadi, maka bisa dipastikan ia akan memuntahkan makanannya.

"A-aku ingin ke belakang dulu," pamit Henry gugup. Tanpa menunggu jawaban dari dua orang itu, Henry menarik kursinya dan menjauh.

.

.

.

.

.

"Aku tahu apa hubunganmu dengan Zhou Mi sebenarnya."

Henry yang sedang menutup pintu lavatory menoleh dan menemukan gadis yang tengah bersandar di dinding di sisinya.

"Bagus kalau Noona, tahu," jawab Henry dingin.

"Kau seharusnya bersikap baik padaku, Henry Lau." Gadis itu menghadap ke arahnya dan menatap Henry tajam. "Sebentar lagi posisi kita sama."

Henry tersenyum sinis. "Sama? Jangan berharap terlalu tinggi, Noona."

Namun gadis itu justru tertawa keras yang membuat dahi Henry mengernyit heran. Apa ada yag lucu dari kata-katanya barusan, eoh?

"Seharusnya kau berterima kasih karena aku menganggap posisi kita sama, Henry. Karena sebenarnya kita sangat berbeda. Kau tahu apa yang membuat kita berbeda?"

Henry menggeleng, sementara Sungmin melempar tatapan kasihan sekaligus meremehkan.

"Aku bisa memberi Zhou Mi anak. Sementara kau—!"

Jemari panjang nan indah yeoja itu menusuk dada Henry.

"—tidak!"

.

.

.

.

.

.

To be Continued


Author's Note:

Annyeong! ^^

Merasa benci dengan karakter Sungmin di sini? Saya sarankan jangan.

Karena pada chapter-chapter berikutnya, persepsi Readerdeul tentang Sungmin akan berubah, saya yakin itu. ^^

Remember ne, Yong Ha bukan type author basher yang membuat Reader-nya membenci suatu karakter, bahkan karakter antagonis sekalipun, di tangan Yong Ha akan selalu awesome. xD #ditimpuk

Warm hugs,

Yong Ha