Disclaimer : none of the character here is mine.

Warning : sedikit dirty thought. Haha.

Author's note : maaf dengan ketidaknyamanan yang sudah diberlakukan ._. Aku bisa update sekarang karena… yah….

Jadi gini. Karena arriesassy yang baik hati memberitahu, sepertinya ada beberapa hal yang harus kulurusin. XDD

Pertama : Luhan nggak satu kelas dengan AmKaiMin. Lho, kok dia malah ngebantuin Amber sama Kai di pertandingan sepak bola? Soalnya karakter Luhan memang begitu. Dia orang yang bebas dan tidak bakalan mau dikekang. Jika dia pengin satu hal, maka dia akan mendapatkannya. Ya, tipe-tipe brattish but hot gitu deh. Waktu Luhan mau jadi pengganti Kai di pertandingan sepak bola aja mereka berdua lagi ketiban untung karena Luhan lagi mood bantuin mereka. Tipe yang kayak, My loyalty lays only to three person : Me, myself and I. Ya gitu deh! XDD

Kedua : Aku nggap pakai honorifik korea seperti 'Hyung' atau 'Eonnie' karena itu bakalan awkward. Aku itu nulis dengan gaya bahasa yang Jakarta banget (nggak terlalu sih) dan aku nggak suka nyampurin dua-dua hal tersebut. Emangnya es campur? xDD Kalau 'ssi' sih masih bisa ditolerir, karena nggak ada translation-nya ke Indonesia.

.

.

.

.

.

.

"Label temanadalah label yang aku—

—benci."

.

.

.

.

.

[GS-03-2134]

.

.

[Redirecting...]

.

.

.

[Waiting...]

.

.

.

.

.

.

.

"Selamat datang…!"

"Bukan gitu! Lagi dong!"

"Se-selamat—arghhh! Ngapain aku ngelakuin ini, sih?!" seorang Amber yang malu dan marah pun mengamuk, dan Kai yang tertawa-tawa bak pria hendak di raeppun yang jadi korban. Katanya sih, karena kelas Amber dan Kai akan melakukan semacam parodycaféaction—Kai pikir akan lebih baik jika Amber mulai berlatih jadi maid sekarang. Amber, si tomboy sejati, menolak berlaku manis karena manis bukanlah trademarknya. Tapi tentu saja, jika Kai tidak bias mendapatkan apa yang dia inginkan, maka namanya bukanlah Kai, atau di kasus lain, Kim Jongin lagi. Orang-orang yang menyaksikan mereka berdua sontak tertawa terbahak. Siapa juga yang tidak akan tertawa melihat dua lawak ini?

Pengecualian untuk Luhan, cowok yang sedang bengong menatap handphone-nya.

"Aduduh, atiiit!" Kai manyun karena ditaboki oleh tangan kasar Amber—manyunan yang mampu membuat para wanita terkapar saking bahagianya, tapi membuat Amber Liu bete setengah mati."Sialan kamu. Jangan sok imut. Aku mau muntah." Kata Amber datar. Sadar kalau ancamannya tidak akan mempan pada Kai yang kebal dimuntahi, Amber berbalik dengan wajah pasrah dan berkata, "Luhan, bilangin Kai supaya dia berhenti—"

Yang dipanggil tidak menjawab.

"Luhan!" seru Amber.

"Apaan sih."Luhan tidak mengangkat wajahnya, ia malah asyik bermain dengan handphone-nya di kala kakinya tengah men-dribblebola dengan asyiknya.

"Ngapain, sih? Asik banget. Film porno baru, ya?" tuding Kai.

"Kepalaku nggak sekotor kamu."Luhan tidak berhenti mengetikkan beberapa spasi dan karakter di handphone-nya tersebut. "Enak aja." Kai manyun lagi. Amber berhasil melihat kebelakang pundak Luhan dan mengerjapkan mata. "Lu, kamu—"

Luhan mundur tiga langkah. "kepo, kan."

Amber memutar bola mata. "Apaan sih? Sok rahasia deh. Aku nggak—setidaknya belum—lihat kok itu apaan!"

Luhan hanya berbalik dan tidak menghiraukan si cewek tomboy dan si cowok berbibir Angelina Jolie

.

.

.

.

.

.

.

"Kak Yunho…"

Yunho senang sekali dengan warna merah dan tersebut seakan singkron satu sama lain—warna yang saling mengisi, lebih tepatnya. Apalagi kalau perbedaannya kontras misalnya, warna darah dan seprai yang dipakai ibunya untuk tidur. Warna merah mawar dan putih mawar. Warna wine burgundy dan awan seputih kapas.

Warna kulit Minseok dan bibir skarlet yang terus digigiti...

Lain cerita. Yunho bukan senang lagi—diasukamelihatnya.

Apa?

Kamu minta ulang?

Ah, haruskan Yunho ulang lagi? Jelas sekali jika kamu baca berulang-ulang, kamu akan tahu apa yang Yunho maksudkan.

"Apa, Minseok manis?" Yunho malah menggoda. Tak tahu hal apa yang sudah dilewati Minseok. Tak tahu bagaimana sebalnya Minseok saat ini. Tak tahu betapa marahnya adik kelasnya satu ini.

Tapi semarah apapun Minseok, tetap saja dia tidak akan menuntut.

"A-aku kan udah bilang kemarin!" Minseok menggigit bibirnya—garis jadi ingin menjalin gigitan bibir itu seperti semula dan menggigit bibir itu dengan...

Ups. Hormonsialan, rutuk Yunho dalam hati. "Hmmm?" Yunho merespon tidak fokus, karena—sungguh, jika ada manusia perwujudan peri diciptakan, itu pastilah Kim Minseok. "Aku mau mundur dari kandidat Queen Bee. Aku udah bilang dari kemarin. Terus kenapa nama aku masih ada? Yang nge-vote malah nambah, lagi…!" Minseok terlihat lemas sekali, dan demi tuhan, apapun Yunho akan lakukan untuk membuat Minseok mengeluarkan nada seperti itu lagi. Didalam kamarnya. Lebih disarankan diatas ranjangnya. Kalau bisa, tanpa sehelai benang di tubuh lembutnya.

Oke, Yunho butuhpacar. Sepertinya VCD yang dipinjamkan Eunhyuk untuknya memang racun untuk kepalanya yang disetir oleh hormon yang berlebihan.

"Iyaaa, kemarin kamu udah bilang, sayang." Yunho menggunakan kesempatan dalam kesempitan ini untuk menowel pipi Minseok yang terlihat chubby tersebut. Dasar cowok. Dasar Jantan. Dasar mahluk testosteron. Tapi sumpah, semenjak Yunho mengenal mahluk manis bernama Minseok yang merupakan teman adiknya, Yunho selalu ingin tahu apakah pipi itu terasa selembut seperti yang sudah diproyeksikan oleh Minseok kepadanya. Ketika jarinya membuat kontak dengan pipi putih seperti bakpaopucat milik Minseok, tiba-tiba sesuatu yang keras dan berat seperti bisa menyentakkan tangannya—menjauh.

Iya juga ya. Tentu saja.

Tentu saja, setiap ada puteri, selalu ada pangeran. Seperti yin dan yang. Pangeran dengan pedang panjang, dan pelindung kepala yang berlebihan. Yunho selalu tidak suka dengan dongeng puteri-pangeran. Kenapa Puteri harus bersama pangeran? Kenapa tidak dengan the bad guy saja, yang jelas lebih tough—lebih jantan? Contohnya, kenapa akhirnya Juliet jadi sama Romeo, dan bukannya Paris? Kenapa pada akhirnya Snow White bersama Pangeran, bukan dengan Ratu?

Memang sih, kalau Snow White berakhir bahagia dengan Ratu, maka ceritanya akan—errr—mengalami plot twist besar-besaran.

Dan, jika keadaan Yunho-Minseok-Pangeran ini dijadikan versi dongengnya, maka Minseok adalah Puteri, Yunho adalah the bad guy, dan Luhan—si pemilik tangan kurang ajar pemisah cinta antara jemari Yunho dan pipi mulus Minseok—adalah, sebut saja, pangerannya.

(Yunho muntah.)

(Tidak, serius. Yunho benaran Muntah. Kemarin saat dia melawan kelas 11-C, dia kena sodok cewek gorila kelas itu dan dia baru makan sushi tiga mangkuk. Tendangan Luhan, yang segila tornado itu, tidak membantu apapun.)

(Yunho sempat mikir ini cewek makan apa sih? Kenapa tenaganya gede banget?)

(usut demi usut, ternyata cewek komodo itu adalah cewek yang sama yang pernah makan ddukbukki dan samgyeopsal sekaligus sewaktu masa-masa MOS karena tantangan kakak mentor-nya.)

(For your information, total ddukbukki dan samgeyopsalnya hampir sembilan porsi.)

"Sentuh dan kau akan dapatkan dirimu tepar di lapangan besok." Luhan mendesis rendah, membuat Minseok tidak bisa mendengarnya.

Entah kenapa, mungkin karena Minseok membayar Luhan atau apa, Luhan setia menjadi anjing herder penjaga Minseok setiap kali Minseok datang ke kelas Yunho. Bukannya Yunho mau komplain atau apa, sebab, yang dilakukan oleh Luhan benar juga. Area 12—disadur dari Area 51—tempat dimana anak-anak tingkat terakhir belajar dan beraktifitas memang tempat off limit apa lagi untuk junior, lebih tepatnya gadis sophomore. Lebih tepatnya lagi, gadis sophomore yang cantik. Lebih tepatnya lagi, untuk Yunho, gadis sophomore yang cantik bernama Kim Minseok. Masih mau lebih eksaknya? Silakan datang ke Kyeongdam High dengan dandanan tercantikmu, berjalan menuju area 12 dan lihat apa yang akan terjadi—padamu.

(Alasan kenapa tempat anak-anak junior memanggil gedung kelas 12 sebagai Area 12 bukan Cuma sekadar alasan.)

Tidak, prospek Yunho sama sekali tidak didasari kecondongan, atau ke-bias-an. Tidak sama sekali.

Terlebih karena anak-anak lelaki senior di Kyeongdam High sadar bahwa ini adalah tahun terakhir mereka dan harus mereka manfaatkan sebaik-baiknya, mereka mulai berani bersiul-siul dan melemparkan seruan bernada menyerempet ke para gadis yang lewat.

Gadis pendiam macam Minseok pasti akan dikerjai habis-habisan.

Sebagai ketua PS, Yunho tidak bisa memberi pelajar pada orang orang itu—Jaim, biasa.

Tapi, setiap keuntungan pasti ada ketidak untungannya. Dan ketidakuntungannya adalah—dia jadi tidak bisa menyentuh Minseok dengan bebas.

Di rumah, diganggu Soojung. Di sekolah, diganggu Luhan...

Dunia membencinya.

"...Yunho!"

Suara itu berhasil menarik Jung Yunho kembali ke dunia nyata.

"Kau ngapain, sih?" omel Changmin. "Nyadar nggak, kalau badanmu itu bisa buat nutupin tiga ruang kelas sekaligus?"

Yunho mengerjap dan melihat kedepannya untuk melihat tidak ada siapapun.

"M-mana Minseok?" gumam Yunho pada dirinya sendiri, menengok kanan kiri. "Hah?" Changmin mengerutkan dahi seakan Yunho sudah sinting. "Cewek itu! cewek mungil berambut panjang dengan si bangsat Lu!" bentak Yunho tidak sabaran. "Hei, jaga sikap! Kamu itu kan ketua PS," tegur Miryo, salah satu anggota PS yang paling ketat dan tegas, pada Yunho. Yunho hanya menyeringai minta maaf dan menjulurkan lidah ketika Miryo tidak melihat.

"Jung, aku lihat lidahmu keluar seperti anjing rumahku." Miryo menyindir.

"Sialan kau, Cha!" Yunho menggeram pada Miryo yang sudah asyik menulis Matematika di papan tulis. "Daripada itu, kamu lihat Minseok nggak?" tanya Yunho pada Changmin. "Ooooh, cewek Cup-B? Tadi udah turun sama Luhan," kata Changmin. Yunho menyipitkan matanya ke arah Changmin dan menggeram.

"No one calls my girl Cup-B Girl."

Shim Changmin, habislah kau.

.

.

.

.

.

.

.

[Restart]

[yes] [no]

.

.

.

.

.

.

"Ung...kak Luhan?"

Luhan menatap anak perempuan timid didepannya, dengan pandangannya yang tajam. "Apa?"

"Ini..."

Luhan tidak pernah mengerti kenapa anak ini selalu tergagap dan kemudian memerah karena omongannya sendiri.

Tapi Luhan tidak membencinya, sih.

"Yo-yo-yogurt."

Dia menggenggam sebuah es stik berwarna nila dan marun. Luhan memandangi stik-stik itu dengan dahi berkerut. Tidak mendapatkan respon dari lawan bicara, tangan porselen itu turun, dan Luhan baru mengerti apa yang diinginkan anak ini.

Dia ingin Luhan mengambil stik itu.

"Untuk apa? Aku tak suka es." Luhan menatap wajah Minseok, sedikit frustasi dengan betapa sedikitnya kulit wajah yang diperlihatkan oleh wajah tertunduk itu. Minseok menggumamkan sesuatu, tapi dia terdengar aneh. Tidak bisa dibilang nervous, karena nervous tidak pernah separah ini. "Hei," Luhan mendekatkan wajahnya ke Minseok, menaruh handphone dikantung celananya untuk sementara, "Kalau kau sedang bicara, bicara langsung ke mata orang tersebut."

Minseok mengangguk lamat-lamat dan menatap wajah Luhan. Luhan mengangguk tidak sadar, puas dengan apa yang dilakukan Minseok. "Nah, katakan." Luhan menunggu.

"...af."

Luhan mengerutkan dahi, tapi itu cukup untuk membuat Minseok menjilat bibir dan menaikan volume suaranya.

"Ma-maaf."

Luhan mengelus wajah Minseok dengan pandangannya—menyapu setiap jengkalnya. Pipinya seperti roti isi kukus, warna putih pucat dengan sapuan darah pink dibawah kulit transparan menyelimuti bagian bawah matanya. Bibirnya merah karena dia gigiti, dan matanya lebar dibingkai bulu mata yang lebat. Rambutnya juga terlihat sangat halus. Apa yang dia guna—ohtuhan.

Ohtuhanohtuhanohtuhan.

Baunya.

Bau Minseok seperti bau—vanilla.

Ohtuhanohtuhanohtuhanohtuhanohtuhanohtuhan.

Sebuah jeritan kecil.

Luhan baru sadar kalau dia hanya sejengkal dari puncak kepala Minseok (karena Minseok is so damn small)

"Lu-Lu-Lu—"

"Jangan minta maaf." Luhan mundur, karena apa yang baru dia lakukan. Dia tidak pernah melakukan hal seperti ini dan ini benar-benar OOC of him dan Luhan tidak pernah berfikir akan datang suatu hari dimana dia melakukan sesuatu yang tidak... normal.

(selain berteman dengan Amber dan Kai. Karena mereka berdua jelas abnormal.)

"Minta maaf, berarti kau membuat dirimu terbuka terhadap orang lain, menunjukan kelemahan secara tidak langsung. Terlalu banyak minta maaf akan membuatmu terdengar dan terlihat pengecut dan tidak tulus." Luhan memainkan handphone-nya. Ada e-mail dari Sehun. "Kalau kau minta maaf, apa orang yang kau pintai akan memberi maaf? Bagaimana kalau orang itu pelit?" hyung, kau dimana? Ikut ke karaoke? Luhan mengetikan jawaban kalau dia malas dan tidak akan kemana-mana hari ini selain ke rumahnya sendiri.

Luhan tidak mendengar apa-apa dan merasa Minseok sudah mengerti perkataannya, dan dia pun mendongak—untuk bertemu dengan Minseok yang mengangguk dengan mata berkaca-kaca.

Luhan mengerutkan dahi. Apa dia salah bicara?

Angin datang. Oh tuhan—bau Minseok lagi, merasuki hidung Luhan. Uh. Luhan selalu lemah dengan vanila dan cokelat. "Hei," Luhan berkata kaku. Dia benar-benar tidak tahu. kepalanya pusing dengan bau vanila, dan dia tidak akan pernah bisa melakukan apapun ketika ada vanilla dan dia tidak bisa menikmati vanila tersebut, entah dalam bentuk apapun. "Hei—"

"Tidak—" Minseok menarik nafas lembut lalu menunduk, "Te-terima kasih sudha mengantarkan k-ku ke Area 12. Sekali lagi terima kasih, Senior Luhan." Dia membungkuk sekali lagi dan membisikan 'terima kasih' sebelum mundur dan pergi dari hadapan Luhan. Hanya tertinggal secercah bau vanila.

Luhan bisa gila kalau begini. Dia menarik handphone-nya dan mengetikkan sebuah nomor. Menempelkannya ditelinga, dia menunggu nada sambung terputus dan—"Halo?"

.

.

.

.

.

.

.

.

Minseok tidak mengerti, tapi dadanya sakit sekali ketika Luhan berkata begitu. Memang, dia terlalu banyak meminta maaf—tapi, jangan sampai seperti itu juga, kan? Minseok tidak berfikir untuk meminta maaf tanpa perasaan tulus, kok. Minseok tahu benar kalau dia meminta maaf karena memang dia benar-benar berfikir kalau dia salah.

Tapi, kenapa Minseok peduli? Padahal Luhan hanyalah Luhan.

Kenapa Minseok tidak peduli? Luhan kan teman. Dia bisa mengkritikmu.

Kapan Luhan jadi temanku?

"Minseok!"

Suara berat namun masih tinggi tersebut terdengar dan Minseok berbalik, hanya untuk menampar wajah gadis berambut pendek cepak dibelakangnya dengan rambut panjangnya sendiri. "Ugh. Gila, rambut itu bahaya." Katanya mengomel.

"Ah, Beomi." Minseok mengerjap, memandang kedua teman sekelasnya tersebut. "Sudah kubilang namaku, Bumi. Bu-mi. Bukan Beomi." Gerutu cewek berambut brunette seleher itu pada Minseok. Minseok membuka mulut untuk mmeinta maaf ketika suara bass milik Luhan masuk ke telinganya dan dia mengganti pernyataannya menjadi pertanyaan, "Ada apa, Bu-mi?"

Bumi menyeringai lebar. "Mau ngomongin café kelas kita yang kece," katanya ringan. "Anggaran sudah turun, jadi kita bisa tahu mau bikin apa aja. Karena kita berdua tanggung jawab dapur bagian dessert, aku mau kasih tahu kita mau apa aja. Oi, lo! Masukin tuh baju, jangan kewer-kewer kayak perempuan!" bentak Bumi sangar tiba-tiba pada anak junior yang langsung ketakutan dan ngacir. "Cih. Sori, tadi sampai mana? Oiya. Dessert-nya itu es krim tomat, banana split, sama parfait. Nggak usah susah-susah, yang penting simpel saja, kata Suho. Jadi, bagaimana?"

Sampai sekarang, Minseok masih belum percaya Bumi bukanlah orang Korea—disamping kadang Bumi suka mencampurkan bahasa ibunya kedalam percakapan Korea, dan tidak hanya sekali dua membuat anak-anak sekelas bingung dan frustasi akan cara bicara Bumi. Bumi mengklaim kalau dia hanya memakai kosa kata bahasanya saat dia mau mengutuk seseorang saja. Fakta bahwa Bumi senang mengutuk dan merutuk tidak membantu.—karena lidahnya tidak punya aksen, hampir seperti anak-anak Korea yang lain. Minseok mengerjap, dan menjawab dengan suara kecil, "Aku... nggak tahu cara bikin Es krim tomat..."

"Aku tahu, diajarin anak sebelas A. Siapa namanya... Vargas?" Bumi menaikan bahu dan memeluk bahu Minseok. "Kalau ada apa-apa, hubungi aku lewat Line(*), ya. Dah!"

"D-dah." Minseok mengimitasi kalimat terakhir Bumi dan melambaikan tangan dengan ragu.

.

.

.

.

[seeing]

[progress:restart]

[GS-03-2134 is activated]

.

.

.

.

.

.

Malam itu, didalam kantor ruang sistem pusat Kyeongdam High, sebuah komputer menyala. Sekelilingnya gelap gulita, hanya penerangan buta dari monitor komputer yang ada. Di perangkat output tersebut, terpampang sebuah chart.

.

Polling Queen Bee

Kim Jaera, 350 points

Jung Soojung, 267 points

Choi Jinri, 190 points

.

Sebuah suara berdenging terdengar dari CPU komputer tersebut. Layar monitor tiba-tiba blank untuk sesaat dan kembali menampilkan Polling tersebut.

Hanya, ada satu masalah.

.

Polling Queen Bee

Kim Jaera, 350 points

Kim Minseok, 290 points

Jung Soojung, 267 points

.

Dan, setelah itu—monitor piksel 1600x tersebut langsung memutuskan elektrisitas—dan keadaaan dalam ruang sistem pusat tersebut kembali seperti biasa.

.

.

.

.

.

.

.

(*) jejaring sosial Korea

2k+ udah bikin keder. Ini dia buat kalian kalian yang unyu. Tuh, ada interaksi sama orang selain lingkaran artis! Aku nggak mau Minseok terasa stuck up dengan beberapa orang. Dan iya, kalian pasti tau dari negara mana. Lalu aku udah drop hints mau kemana ff ini berakhir. Mungkin episode empat akan selesai, atau lima?

Kudos buat semua orang yang nyadar siapa Vargas disini! xDDDDD

Ternyata, cerita ini akan berkembang lagi. Aku kira cerita ini bakalan selesai disini, eh otak malah maunya nerusin. Yaudah kuterusin deh :'3

Ada yang punya rekomen FF yang bagus? Straight, kalo bisa. Trus dari fandom Naruto, atau Screenplayer atau death note juga boleee, veh~

xDDDDD

mita884: ;^^^^; makasih udah penasaran ya ampun ;_; jangan penasaran ff ini banyak diloakan.

Jung Ha Ki : kkkkkk makasih xDDD emang lagi ga pengen berat-berat sekarang~

Gun31 : bukan! Aku juga ngiranya oneshot, tapi ternyata tidak saudara-saudara~

Jung Yooyeon : AMBER JADI PENGEMIS TAMAN LAWANG AJA KEREN AH KAMU.

Freehandjobluhan : sumpah ya kak Anna nulis UN mu itu udah kayak—ah sudahlah. IYA AKU GA TAU LOKI DIMANA. Lagi tidur mungkin... udah kali ya gausah urusin gituan.

;o; jangan merasa warm kak ntar kakak kedinginan lagi /apa/ aku juga suka cokelat makanya ;-;

XDDD siappp akan di reveal di akhir cerita!

;-; MAAF BARU UPDATE SEKARANG /Bowdalem-dalembarengLuhan

P.S Nista!Kriseu tidak mengambil peranan di chap ini tapi di chap depan~~~~~~~~~ *wriggles galore

Twentae: XDDDD RITE?! MULAI SEKARANG AKU NULIS GS!XIUHAN. ;AAA;

Hyona : huhuhuhu aku lanjut kak aku lanjut sabar ya kak ;A;

Casproduction : makasih! Aku dapet inspirasi dari f(x) karena mereka muse ku, udah gitu sama Xiuhan. Tapi kesini-sini malah makin bengkok inspirasinya, jadi yaaaaa xDDD

Miyuk : aduh Lumin emang lucu ketawain aja mereka /bukanlucuyangitu /sudahlah

Loluuuuu : jangan garuk punggungku aja lumayan ini udh lama ga mandi /ha

Dingin!Luhan sama cokelat!Luhan. wah, kayak es kiko. Oke, jangan setengah idup dong! Update nih~

LoneyReaders : sudah update! Fufuxixixixixi akan di reveal di chapter mendatangzzz tenang sajaazzz

Dazzlingpanda : Yunhanmin emang membuat deg-degan huhhhh. Kenapa ada cowok kayak mereka... xDD

Gapapa, selama nggak bayangin Xiumin sebagai omas (?) gapapa sih, tapi ntar jadinya makin bengkok lagi ceritanyaxDD

Kimhyunsoo : lanjut xDD

Xiubaoo: maaf mi querida, ini aku udah update walau Cuma 2.000... aku beneran minta maaf udah ga update dua minggu-an... aku janji gabakal gini lagi, sebisa mungkin aku update per minggu walau bukan update ff ini... aku benar-benar minta maaf...

Noona-saranghae : ASTAGA AKU DIPANGGIL NUNA. Xd aku nggak tahu apa hubungannya wallflower sama zaman victoria, tapi gapapa. Aku aja kalo ngedengar kata kasur keingetannya serabi kok. Jadi ya. Tergantung orang sih ya. xDD

Ini lanjut, namdeongsaeng ku! Eh kamu namdongsaengkan ya. /curiga

P.S BUAT READER COWOK CONTOH NOON-SARANGHAE. AKU BARU NYADAR AKU SUKA DIPANGGIL NOONA.

Mumu : mumumumumumu unyu banget sih UN kamu walau belum bikin. Ini udah lanjut!

Ariesassy : seperti yang sudah dijelaskan diatas! Makasih udah menunjukannya ya~ aku kira udah pada tau lho, karakter Luhan kayak gimana? Sip sip sip akan diperjelas lagi!

Mellody : sayang, makasih udah review dua kali! xDDD gapapa, jangan panggil 'thor' aja, abis kan saya punya nama... waduh, ini udah lanjut, say xDDD