pukul dua belas malam

Semua karakter VOCALOID yang ada di sini adalah milik Yamaha Cooporation dan perusahaan lainnya.

.

.

Semua orang tampak berteriak. Kanan dan kiri, depan dan belakang. Dia bingung, dia harus keluar dari sini. Namun dia terlanjur tersesat.

"Aku di pusat perbelanjaan."

.

.

sebuah bisikan penuh sesal oleh gadis yang hanya ingin mencari kebahagiaan

happy reading.

.

.

Ruangan begitu bercahaya. Sampah manusia terpasang di setiap sisi ruangan, mengisi kekosongan yang penuh dengan kaki-kaki berkeletuk pada keramik.

Jingga berkedip bingung. Ditolehkannya kepala ke sekeliling, mencari tahu apa gerangan yang terjadi. Lantas dia sadar bahwa dia sedang berada dalam pusat perbelanjaan. Samar-samar, didengarnya bunyi ketukan lainnya. Jauh, sangat jauh. Namun lebih nyaring daripada apapun yang ada di dunianya. Tik-tok-tik-tok, begitulah ucapnya. Gadis itu mengulang dalam hati.

Dia menapak pada ubin yang berkilauan. Mata melirik-lirik penasaran, didapatinya bayangan dirinya terpantul pada kaca toko. Bingung batinnya karena dirinya di dalam kaca tampak samar, lalu dia mengilhami bahwa pantulannya berpadu dengan orang lain di baliknya.

Perjalanan dilanjutkan.

Pelangi di kepalanya berayun pelan seiring langkahnya. Berpasang baju dilewatinya, namun tak ada rasa tertarik sedikitpun dalam gumpalan napsunya. Benda tak berwujud nan menjijikkan itu justru menggodanya untuk lebih mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa ada di sini?

Dia melewati sebuah lorong mengarah pemandangan malam. Mungkin itu jalan keluar. Melangkahlah kaki-kaki rampingnya menuju kuasa angin malam. Perlahan dia menggerakkan dirinya, seolah keramik akan hancur lebur jika dia berlari. Begitu banyak manusia dilewatinya, namun tiada yang dihiraukannya.

Hawa berbeda menyambutnya dari luar. Entah mengapa, dia menggigil. Tubuhnya tak siap menghadapi kenyataan bahwa dia lepas dari cengkraman khalayak. Udara dalam temperatur tanpa matahari memeluk tubuh mungilnya. Dia justru tak merasa nyaman.

Dewi cahaya malam tersenyum sinis padanya. Mungkin bermaksud memperingatkannya akan sesuatu. Namun gadis yang selalu berlari dari dunia semua orang itu tak menyadarinya. Lebih tepatnya, belum. Tak tahan pada teror bulan sempurna, dia berbalik-pulang pada kemubaziran manusia.

Dia merasa lelah. Dia bahkan baru sadar jika sedari tadi dia hanya sendiri. Ingatannya tak memuat alasan mengapa dia ada di sini. Di antara lautan manusia yang hanya menaruh kepedulian terhadap keperluan masing-masing, dia berdiri.

Perlahan dia mengambal. Sesuatu menarik perhatiannya, ibu dan putranya yang merengek. Mungkin ingin pulang, atau justru kebalikannya. Dia tak mendengar tangisan itu. Sang ibu tampak berang, namun mereka akhirnya berlalu dari tempatnya. Sang gadis pun segera teringat oleh sosok ibunya. Ah, jika dia tak segera kembali ke rumah, dia akan mendapatkan tatapan seperti itu juga.

Sekonyong-konyong dia melihat seseorang berlari di antara kerumunan itu. Kepanikan begitu terpancar dari sosoknya. Dia meracau, entah apa yang dilontarkannya.

"Kita akan mati!"

Sang gadis tercenung atas pemandangan itu. Gelombang asing menyerang sekujur dirinya, melumpuhkan. Di antara keheningan yang ganjil, pria itu mengali. Dan yah, tanpa berusaha sekalipun, pria itu memang sudah berandang. Begitu membius, dan menakjubkan. Mungkin itulah, peringatan sang dewi malam.

Tapi apa maksudnya?

Dan akankah seseorang peduli? Kerumunan manusia penuh dosa ini takkan memikirkan sampai ke sana. Adalah para pentungan ketertiban itu mengamankannya, lalu apa? Seluruh manusia segera melupakannya. Tak ada yang sadar, tak ada yang peduli. Bahwasanya kesenangan ini takkan berlangsung selamanya.

Dunia ini fana.

Masih menegakkan kaki di tengah ramainya dunia malam dalam gemerlap kemewahan, dia memperhatikan bagaimana orang lalu-lalang. Ada yang sendiri, bersama kerabat, mungkin kekasih, sebagainya. Ya, dia takkan memiliki cukup waktu untuk sekedar memikirkannya.

Pukul dua belas malam.

Dia sontak berlari tatkala menyadari sesuatu. Tak dipedulikannya retakan tak kasat mata yang ditimbulkannya pada keramik kemewahan. Semuanya dilalui, berlalu, melalui, hingga gadis itu kehilangan arah.

Dia terjebak.

Dia terjebak.

Dia tak menemukan jalan keluar. Tiada tangga hidup maupun mati. Hanyalah kebuntuan dan kebisingan yang ditemui. Tatkala dia terpikir mengenai gerbang menuju keheningan malam, dia segera menghampirinya.

Takut! Takut!

Oranye safir terbelalak. Dia tersedak kata-katanya sendiri. Bulan masih menampakkan dirinya di hamparan langit gelap. Dia terhipnotis. Dia tak mampu berucap apapun.

Dia bisu.

Dia menangis diam-diam.

Dia terjebak dalam kebingungan. Dia tak tahu apa yang mesti dilakukan. Kehura-huraan dalam pusat perbelanjaan sama sekali tak membuatnya lebih baik. Dia gelisah. Padahal tak diketahui apalah yang salah di sini.

Jatuh tersungkur, dia mulai sesak napas. Dia berusaha bersuara, kendati tak ada yang keluar. Dia berbisik, berbisik.

Balok besi di atas lantai berkilap terlintas dalam pandangannya. Dia sadar bahwa telepon genggamnya terlempar. Dia meraih, membaca tulisan yang terlukis dalam layar radiasi itu.

"Galaco, cepatlah pulang."

Tak tahu siapa yang mengirimnya. Siapa? Siapa? Pulang? Ke mana? Apakah dia memiliki tempat untuk pulang? Mungkinkah dia harus pulang sekarang?

Benar juga.

Dia pun pulang ke dalam gegap-gempita cahaya.

.

.

"Tolong aku!"

Pukul dua belas malam. Gadis itu takkan pulang malam ini. Selamat jalan!

.

.

05082016. PDBM2. YV