THOSE SECRET WON'T WORK CHAPTER 2

.

.

"Jeon!"

Jungkook menoleh mendengar suara cempreng itu, siapa lagi kalau bukan Park Jimin. Hanya namja kekar itu yang selama ini masih bertahan dengan sifat dinginnya.

Saat Jimin sudah mendekat, ia berjalan kembali dan namja bersurai brunette itu disampingnya.

"Kudengar kau berkelahi lagi?"

Jungkook hanya meliriknya sekilas, "Apa itu hal yang baru?" tanyanya kembali.

Jimin menyeringai, "Tidak juga. Aneh saja. Kau biasanya menyerang karena suatu alasan, tapi kali ini tidak ada yang tahu mengapa kalian sampai berkelahi."

Jungkook memutar bola matanya malas. Ia tidak ingin menjelaskan, tapi ia tahu bagaimana Jimin. Jika dirinya belum mengatakan sesuatu, biasanya namja itu tidak akan meninggalkannya.

"Jika tidak ada yang tahu, itu lebih baik"

Jimin tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya, "Sudah 3 tahun berteman tapi kau masih belum percaya juga padaku,"

Jungkook tidak membalas, tapi Jimin tidak mempermasalahkan hal itu. Ia sudah terbiasa dengan sifat dingin Jungkook, tapi ia tahu bahwa sebenarnya Jungkook berperasaan, hanya saja tidak mengerti cara mengungkapkannya.

Mereka kembali berjalan menuju kelas yang kebetulan sama, tapi Jimin menahannya. Hampir saja ia bertanya ada apa, tapi setelah menoleh ia menyadari Jimin tersenyum dan membungkuk pada Taehyung yang baru saja keluar dari salah satu pintu di lorong itu.

Taehyung terlihat kaget dengan perilaku Jimin, tapi buru-buru tersenyum lebar.

"Kau mengagetkanku Jimin,"

Jimin mengusap tengkuknya yang tidak gatal, "Maafkan aku Mr. Kim. Aku hanya ingin menyapamu saja..." ia menyikut Jungkook yang diam, membuat namja berambut hitam itu meliriknya, "... dan Jungkook juga ..."

Jungkook kini menatap Taehyung datar, tapi dalam hatinya ingin sekali mengecup keningnya lalu mengucapkan selamat pagi. Tapi tentu saja itu hal yang mustahil. Jadi yang ia lakukan hanya menganggukan kepalanya sedikit lalu berpaling.

Taehyung hanya tersenyum kecil melihat kekasihnya. Jungkook benar-benar menepati janjinya soal tidak menunjukan PDA di sekolah.

"Tsk," Jimin mendecak sebal melihat temannya yang tidak sopan pada guru kesayangannya itu. "Maafkan Jeon, Mr. Kim. Ia memang agak... Hey! Tunggu!" Jimin berseru saat Jungkook malah berjalan duluan tanpanya.

" sampai bertemu nanti di kelas. Dah~" Taehyung hanya mengangguk dan membalas lambaian tangan Jimin pelan.

.

.

Jimin beranjak dari tempatnya dan menuju meja Jungkook saat guru mereka keluar ruangan . Tidak lama setelah itu murid yanng lain juga berbondong-bondong keluar.

"Kau tidak membeli sesuatu untuk mengganjal perut?" Tanyanya sambil menusuk-nusuk lengan Jungkook yang masih merebahkan kepalanya di meja, tidur.

Namja yang menjadi korban itu mendongak, kesal, tapi memilih untuk tidak menunjukkannya. "Kau saja, aku tidak lapar," lalu ia kembali menyembunyikan wajahnya.

Jimin menggedikkan bahunya , berbalik untuk pergi ke kantin.

Beberapa menit kemudian saat ia kembali ke kelas, Jungkook sedang berkutik dengan ponselnya. Jadi ia memilih untuk duduk didepannya, membuka snack yang ia bawa dari kantin dan menawarkan pada temannya itu.

Jungkook, tanpa beralih dari ponselnya, mengambil snack itu dan memakannya membuat Jimin penasaran dengan apa yang dilakukan manja bersurai hitam itu sampai tidak mengalihkan pandangannya. Tapi ia tahu jika ia bertanya Jungkook tidak menjawab. Jadi ia melanjutkan mengunyah snack yang lain dan memutuskan untuk mengatakan pada Jungkook tentang berita yang baru ia dengar tadi pagi.

"Kudengar wali kelas kita mengikuti National Teacher Training, Jeon."

Mendengar kata 'Wali Kelas', Jungkook menoleh cepat.

Taehyung? Mengikuti Training itu? Jungkook mengeryitkan dahinya. Bukankah training itu satu minggu lamanya? Dan... dengan siapa ia akan pergi?

"Siapa saja?" tanyanya ambigu pada Jimin. Tapi namja berambut brunette itu langsung mengerti apa yang dimaksud temannya.

"Dari sekolah kita hanya empat guru. Kalau tidak salah Taehyung sangnim, Seokjin sangnim, Mrs. Park, dan Jiyoon sangnim."

Seketika darah Jungkook seperti dipompa naik ke kepalanya.

"Jeon, ada apa? Kau terlihat ... kesal." Celetuk Jimin saat memperhatikan gelagat temannya.

Sedangkan namja bersurai hitam itu mencoba menenangkan dirinya dengan mengela nafas, lalu menggeleng pelan. "Aku tidak apa,"

Jimin tidak curiga, melainkan ia terus membahas rincian tentang keberuntungan mereka jika Mrs. Park tidak mengajarnya dalam satu minggu kedepan dan betapa bahagianya ia jika Mr. Kim tidak jadi ikut dan menggantikan wanita itu di kelasnya. Ia tidak menyadari Jungkook kembali mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu.

To: KTH

Kita perlu bicara. Datang ke Apartemenku nanti.

Tidak menunggu lama, ponselnya kembali bergetar.

From: KTH

Hari ini aku ada meeting.

To: KTH

Bersama Seokjin?

From: KTH

Apa maksudmu Jungkook? Tentu saja iya, dia adalah guru disini. Jika kau ingin bertemu denganku hanya untuk melarangku satu ruangan dengannya maka aku tidak kesana hari ini.

Jungkook mengacak rambutnya gemas. Sungguh ia tidak bermaksud emosional seperti ini tapi dirinya seolah telah terkontrol.

Dengan cepat ia kembali memberikan balasan,

To: KTH

Tidak peduli berapa lama aku akan menunggumu hari ini.

.

.

.

Taehyung menghela nafas, menendangi kerikil yang menghalangi jalannya. Ia merapatkan jaket ketika udara malam berhembus meniup rambut pirangnya.

Ia menengadah, bergumam ketika melihat langit yang sudah gelap itu semakin pekat karena mendung. Sepertinya ia harus secepat mungkin tiba di apartemen Jungkook.

Ngomong-ngomong soal Jungkook, apa yang ingin ia bicarakan ya? Pikirnya kalut. Ia punya firasat buruk mengenai hal ini.

Jungkook masih remaja dengan emosi yang tidak terkontrol, ia bisa mudah kesal dengan hal kecil saja. Taehyung juga masih dikatakan remaja, tapi setidaknya tidak seperti Jungkook. Bahkan Ia bisa merasakan lewat pesan sarkastis yang dikirimkan untuknya tadi tentang Seokjin.

Sesampainya didepan pintu, ia segera menekan passcode dan dengan mudah memasuki ruangan itu.

"Jungkook?" Panggilnya kecil ketika melihat ruang tamu kosong. Ia meletakkan sepatunya di bawah dan melihat sepatu kekasihnya disana.

Taehyung memasuki ruangan itu lebih jauh, melewati lorong yang terhubung ke kamar Jungkook. Dulu ia tidak jarang kesini, tapi sekarang Jungkook yang lebih sering ke apartemennya. Jika ia ada disini kekasihnya menyuruh untuk langsung masuk ke kamar menemuinya.

Ia kembali memanggil Jungkook sembari masuk ke kamar, tapi tidak ada jawaban. Saat ia duduk di kasur Jungkook, Taehyung samar-samar mendengar suara shower menyala, mungkin kekasihnya sedang mandi.

Namja bersurai blonde itu akhirnya memilih untuk merebahkan tubuhnya di kasur, memeluk dirinya sendiri yang sedikit kedinginan. Ia menutup mata, pikirannya seketika tenang saat menghirup aroma Jungkook disekelilingnya.

Ia tidak tahu berapa lama ia menutup mata, tapi terbangun saat merasakan tangannya digenggam oleh seseorang. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah kekasihnya yang sedang memandangnya intens.

"Maaf, sepertinya aku tertidur." Jungkook hanya bergumam kecil menanggapinya, tidak melepas kontak mata mereka. Taehyung baru menyadari jarak mereka sangat dekat, bahkan hidung mereka sudah bersentuhan.

Jantungnya mulai berdetak cepat saat Jungkook semakin mendekat untuk mencium bibirnya, tapi pada akhirnya ia membalas. Namja yang lebih muda itu melepas tautan tangan mereka dan beralih ke pinggang Taehyung, mengusapnya pelan. Pikiran namja bersurai blonde itu blank ketika Jungkook menjilat bibir bawahnya. Ia terkesiap, dan bukannya melepas tautan mereka, Jungkook malah memperdalam ciumannya.

Demi tuhan apa itu lidah Jungkook yang menyentuh lidahku? Pikir Taehyung panik. Ini hal terintim yang pernah mereka lakukan, dan seharusnya Jungkook mengerti Taehyung belum siap. Sungguh ini harus dihentikan.

Saat Taehyung merasakan tangan Jungkook masuk ke kemejanya, ia melepas ciuman mereka dan menahan tangan Jungkook agar tidak melakukan hal yang terlalu jauh.

"Jungkook!" cegahnya sambil menggeleng. Kekasihnya itu harus tahu batasnya. Sedangkan Jungkook, hanya menatapnya kecewa.

Pada saat itu juga, nafas Taehyung tidak beraturan karena ia harus menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Jungkook melakukan hal yang sama, tapi nafasnya tercekat melihat pemandangan dihadapannya. Taehyung terlihat... menggoda.

Ia menggelengkan kepalanya lalu segera merubah posisinya menjadi duduk. Taehyung terdiam. Ia tahu Jungkook agak kecewa dengan penjanjian mereka, rasanya seperti Taehyung membangun tembok diantara mereka. Tapi Jungkook harus tahu, ini demi kebaikan keduanya.

Mereka terdiam beberapa saat, sampai akhirnya Taehyung yang memecah keheningan.

"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"

Jungkook terlihat mengerutkan keningnya, seperti ia sendiri juga tidak yakin akan menanyakan hal ini pada Taehyung. Tapi pada akhirnya ia mengatakannya,

"Kudengar kau akan mengikuti training itu bersama Seokjin," Bahkan kalimat itu penuh dengan kecemburuan di telinga Jungkook sendiri.

Taehyung menghela nafas pelan, sepertinya ia tahu arah pembicaraan ini. "Ya, kau benar"

Baru saja Jungkook akan membalas, Taehyung melanjutkan, "Kau harus tahu Jungkook, aku mengikuti program ini bukan untuk bersenang-senang. Apalagi sengaja bersama Jin hyung. Aku disini untuk mendapatkan sertifikat mengajar, agar nilaiku bertambah. Aku tidak seperti Jin hyung atau Mrs. Park yang sudah menjadi guru tetap, aku hanya guru percobaan. Kau tahu sendiri bahwa aku serius dengan pekerjaan ini meskipun aku masih menjalani masa kuliah. Jadi Jungkook, kumohon... kau setidaknya harus mengesampingkan egomu untukku."

Ini seperti skak mat bagi Jungkook. Semua yang dikatakan Taehyung benar, dan ia memang harus belajar mengendalikan egonya saat ini.

Tapi...

Ia menatap Taehyung tajam, bukan bermaksud menakuti, tapi mengingatkan Taehyung bahwa ia tidak suka dengan hal ini.

"Kau benar, dan aku tidak berhak , kau pergi bersama Seokjin. Jika kau lupa siapa dia, aku ingatkan; ia mantan kekasihmu."

.

.

.

TBC

.

A/N: Halooo. sepertinya ff ini bakal panjang yang ceritanya :( haha but it's okay.

btw i was taken back i read your reviews.

lol pertama, mungkin kalian terlalu fokus dengan membaca uke jungkook sehingga tidak menyadari bahwa sangat banyak uke!v di dunia per ff an wkwkwk. kedua, maaf jika kalian lebih menyukai uke!Jungkook, tapi aku tidak akan merubah jalan cerita. aku menulis pair yang aku suka, so... yeah. jika kalian tidak menyukainya tidak apa. semua orang memiliki pendapat sendiri2 :) hehe

thanks for read and review! LOVE Y'ALL xoxo