"Ong ? Ong~~~ Ong~~, haha.. nama yang unik, baru kali ini aku menemukan nama dengan marga yang unik." Daniel berbicara sendiri, sesekali ia tersenyum memikirkan nama pria yang baru ia kenal tadi pagi.

Untunglah hari ini Daniel tidak terlambat masuk kuliah, walaupun sebenarnya ia tiba di kampus pukul 7.55 pagi, untungnya ternyata dosen yang mengajar di kelas Daniel datang terlambat.

"Hey !" tiba-tiba ada yang menepuk bahu Daniel.

Daniel sangat terkejut, membuyarkan semua pikirannya, ia kemudian berpaling melihat orang yang membuatnya kaget.

"yaa ! Hyeongseop..!" bentak Daniel kesal.

"hahaha.. maaf, habisnya aku melihat dari tadi kamu seperti berbicara dan senyum-senyum sendiri. aku takut jika aku memiliki teman yang sudah gila" ejek Hyeongseop.

"enak saja, aku tidak gila. aku hanya terlalu tampan.. hahaha" canda Daniel, kemudian menyisir rambut pink nya dengan tangan.

"hyaa, mau muntah rasanya.." Hyeongseop berakting layaknya ingin muntah. "sudahlah, jangan terlalu percaya diri. Aku tau rambut pinkmu itu menjadikan kamu cukup populer di kampus ini, tapi plis stop.. jangan menyombongkan diri di hadapanku. itu menjijikkan. hahaha"

Daniel hanya tertawa melihat tingkah temannya itu, teman satu-satunya yang baru ia kenal di kampus ini, mereka bertemu saat ospek, dan ternyata mengambil jurusan yang sama. Sebenarnya sudah banyak yang ia kenal, namun ia merasa hanya cocok berteman dengan Hyeongseop. Daniel memang agak pemilih dalam berteman, ia memiliki masa lalu yang buruk karena terlalu percaya dan sembarangan memilih teman.

"hmm.. kelas kita mulai masih lama. kau tidak bosan duduk disini terus? ayo ke kantin." ajak Hyeongseop.

"baiklah, kantin sepertinya menyenangkan." kata Daniel sambil menepuk-nepuk perutnya.

"hii.. kau bertingkah sok imut lagi. mengerikan."ejek Hyeongseop sambil berpura-pura menatap jijik ke arah Daniel.

Mereka pun berjalan menuju kantin, yang berada di lantai 1 dari kampus utama tempat kelas mereka berada.

"Berjalan di kantin bagaikan berjalan di atas catwalk, banyak yang melihatmu. dasar, pink hair boy." gerutu Hyeongseop.

"apa salahnya, toh mereka hanya menatapku."senyum Daniel.

"iya, menatapmu.. tapi aku yang malu. sudahlah, aku cari tempat duduk dulu." Hyeongseop kemudian berjalan mendahului Daniel dan memilih tempat duduk di pojok dekat jendela.

Daniel hanya bisa tersenyum melihat tingkat temannya itu, kemudian menyusulnya.

"sudah puas berjalan di runway ?"

Daniel tidak menjawab, hanya tertawa kemudian memakan sandwich nya dengan lahap, ia sadar bahwa tadi pagi sang kakak tidak menyiapkan sarapan karena buru-buru ke kantor. Ia sangat kelaparan sekarang.

Daniel hanya tinggal dengan sang kakak, Jisung. Orang Tua mereka sudah lama meninggal karena terlibat kecelakaan mobil, kala itu Kang Daniel masih berusia 6 tahun, dan Jisung berusan 15 tahun, untungnya mereka hanya mengalami luka-luka ringan, namun nyawa kedua orang tuanya tidak tertolong.

Awalnya Jisung dan Daniel tinggal dengan nenek mereka, namun seiring waktu berlalu, nenek mereka pun pergi meninggalkan mereka berdua. Jisung berusaha sekuat tenaga mencari pekerjaan di ibu kota, meninggalkan sang adik diasuh tetangga di rumah neneknya. Hingga pada akhirnya masa sulit untuk mereka berdua bisa terlalui. Jisung diterima di salah satu perusahaan besar di ibu kota, dengan cepat jabatannya naik karena Jisung merupakan sosok yang rajin dan pantang menyerah. Jisung bertekad untuk membiayai adiknya hingga lulus kuliah, karena hanya sang adiklah yang ia miliki saat ini.

Daniel sendiri mampu dengan cepat beradaptasi di kota besar, ia dengan kecerdasannya mampu diterima di sekolah yang bagus bahkan mendapat beasiswa penuh atas pendidikannya. Hidup mereka semakin membaik, hingga mampu membeli sebuah apartemen di pusat kota tempat yang jauh lebih baik dari rumah atap tempat mereka kontrak dulu.

Daniel merasa bahagia memiliki kakak yang sangat sayang dan pengertian seperti Jisung, ia berjanji untuk menjadi adik yang baik dan tidak ingin terlalu merepotkan sang kakak.

Sekitar 25 menit mereka di kantin. Hyeongseop sudah menghabiskan ramen cup yang dia beli, sementara Daniel sedang lahap memakan sandwich keduanya.

"Kau tidak memesan mie lagi? satu saja sudah cukup?" tanya Daniel, melihat Hyeongseop sudah selesai makan.

"perutku tidak seperti perutmu, perutmu terbuat dari karet." jawab Hyeongseop asal, sambil meneguk sekaleng cola.

"bukan gitu, ini semua karena Jisung hyung tidak membuatkan ku sarapan, tadi pa..." tiba-tiba Daniel berhenti berbicara, matanya terpaku pada seorang pria dan beberapa temannya yang memasuki kantin.

"Ong ?" Daniel mencoba mengingat sesuatu.

"hmm, benar dia itu pria yang tadi pagi.. Ong, hahaha" Daniel tersenyum.

Hyeongseop yang melihat Daniel kembali bertingkah aneh kemudian melempar bungkus sandwich ke arah muka Daniel.

"Woy, kau kenapa sih. Omongan tidak dilanjutkan, sekarang ngomong dan senyum-senyum sendiri. Aku rasa sepulang kuliah nanti kita harus pergi ke rumah sakit jiwa" gerutu Hyeongseop sambil menggelengkan kepala.

Daniel hanya memasang wajah cemberut ke arah Hyeongseop. Kemudian dengan matanya menunjuk gerombolan pria yang baru memasuki kantin.

Hyeongseop mengikuti arah mata Daniel, "hmm.. mereka senior kita kan? apa kan berbuat masalah dengan mereka?"

"apa? senior? mereka semua?"tanya Daniel kaget.

"iya.. semua, kenapa?"

"duh.. mampus."

"kenapa? Kang Daniel !, apa yang kau lakukan ? jangan coba-coba berbuat masalah dengan senior ya, kita anak baru disini."

Kang Daniel pun bercerita tentang pengalamannya pagi tadi, tentang ia bertemu dengan Ong Seongwoo, sikapnya yang agak kasar terhadap Seongwoo hingga tertawa di bus karena baru pertama kali mendengar marga Ong pada nama seseorang.

"ah.. aku kira masalahnya besar. Tenanglah, si Seongwoo orangnya tidak mudah marah, bahkan setauku dia terkenal ramah dan mudah tersenyum kok" kata Hyeongseop.

Daniel tidak menjawab,

'memang sih, senyum dan sifatnya membuat semua orang berfikir dia orang yang ramah.'

Daniel cepat-cepat menghabiskan sandwichnya, setelah itu mengajak Hyeongseop keluar dari kantin. Daniel tidak menghiraukan omelan Hyeongseop yang menyuruhnya tidak terburu-buru.

'Aneh, sangat aneh. Apa karena sikapku tadi pagi ya ? aku terlalu canggung bertemu dengannya, kenapa juga kita harus ada di kampus yang sama. Kang Daniel, berhenti bersikap berlebihan.'

di bus pagi itu.

"Aku Seongwoo, Ong Seongwoo.. senang berkenalan denganmu" pria itu tersenyum.

"Siapa ? Hong Seongwoo?" tanya Daniel memastikan.

"Ong, O N G. Ong Seongwoo" Jelas Seongwoo.

"aa.. Ong.. hahahaa" Daniel tidak dapat menyembunyikan tawanya.

"kenapa? Ada yang lucu?" Seongwoo tampak heran.

"Ah, maaf. aku hanya tidak pernah mendengar marga Ong sebelumnya. Nama yang lucu. hahaa, maaf." Daniel mencoba berhenti tertawa, tapi hal itu sulit dilakukan.

Daniel menghela nafas panjang, menghentikan tawanya, matanya sedikit berair karena tertawa. "Maaf, maaf ya. aku Daniel. Kang Daniel" ia meraih tangan Seongwoo. Kemudian tanpa melihat Seongwoo, Daniel kembali melihat ke arah jendela.

Entah beberapa menit kemudian, ia mulai merasakan bersalah karena sudah menertawai marga orang lain, ia ingin meminta maaf namun rasa canggung menyelimutinya.

Ia beranikan diri menoleh, namun betapa kagetnya Daniel saat melihat ke samping, Seongwoo sudah tidak duduk disana, Daniel menoleh ke depan dan belakang melihat apakan Seongwoo berpindah tempat duduk karena tidak nyaman atas sikap Daniel. Namun, dia tidak menemukan Seongwoo ada di dalam bus itu.

'Apa dia sudah turun? aku tidak tau kalau dia sudah turun.. hmm.. apa jangan-jangan aku tertidur ya ? ahh.. aku belum meminta maaf. '

"Daniel tunggu.. aku capek, baru habis makan sudah lari.. kau mau melihat aku muntah beneran? hah ?" Hyeongseop tampak terengah-engah mengikuti langkah Daniel yang cepat.

"Cepatlah, kelas mau dimulai kan.." Daniel melihat Hyeongseop, merasa iba, Daniel memperlambat langkahnya.

Hyeongseop berhasil menyusulnya. "Kang Daniel, kau kurang ajar. hahh.. hah~ hah ~"

"hehe, maaf."

"apa karena ada senior itu? kalo iya, kau sangat-sangat berlebihan."

"aku tau, hah.. aku tidak mengerti kenapa aku seperti ini. Kau duluan saja ke kelas. Aku mau ke toilet." Daniel meninggalkan Hyeongseop yang masih tampak terengah-engah. Hyeongseop hanya melambaikan tangannya.

Di toilet, Daniel mencuci tangannya di wastefel, kemudian berkaca membetulkan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Kemudian mengambil tisu untuk mengelap bulir keringat yang ada di wajahnya.

'Hari yang aneh..' gerutu Daniel dalam hati.

Ia berjalan keluar toilet, sambil sesekali mengelap keringatnya dengan tisu. Tiba-tiba..

brakkk..

Daniel terjatuh, ia menabrak seseorang, dan betapa kagetnya Daniel melihat siapa yang ditabraknya.

"k-kau.."

- to be continued

NB :

1. Maaf jika author masih banyak salah ya, harap maklum masih newbie banget

2. Cerita awalnya memang masih terbilang umum, tapi nantikan chapter-chapter selanjutnya ya. ^^'