GROWL

Jaehyun x Taeyong Fanfiction

NCT


Taeyong membuka mata.

Perkataan sosok misterius itu, suaranya, geraman dari serigalanya bergema di benaknya berulang kali, membuat jantungnya berdebar-debar cepat. Bibirnya bergetar, Taeyong memeluk tubuhnya sendiri yang banjir keringat sebelum menatap langit-langit.

Dia masih bisa merasakan sentuhan itu, keinginan itu, kata hati yang membuatnya kehilangan pikirannya. Setiap geraman dari serigalanya saat dirinya lagi-lagi diklaim. Pada situasi dan tempat yang sama, di mimpinya.

Tubuhnya tiba-tiba panas. Taeyong tidak bisa menahan diri untuk menyentuh dirinya sendiri. Rasanya tidak sama.

Siapa dia?
Siapa sosok misterius itu?

Begitu dia melanjutkan, matanya menutup. Sisi serigala dalam dirinya menggeram. Dia mendengar suara itu lagi bergema di kepalanya. Membayangkan sentuhan darinya yang terasa membakar.

Lebih.
Dia ingin lebih.

Tubuhnya menggigil bersama serigalanya yang melolong. Sampai namun tak terpuaskan. Taeyong menginginkan sosok itu.

Menginginkan?
Menginginkan siapa bahkan dia tidak tahu!

Taeyong duduk bertumpu pada sikunya. Merasa lelah, terengah-engah.

Tidak bisa.
Tidak boleh.

Taeyong tidak menginginkan ini. Dia tidak diizinkan untuk itu. Mate. Itu bukan sesuatu untuknya.

Jatuh kembali ke tempat tidur, Taeyong baru merasa begitu kesepian dan menyedihkan. Dia tidak bisa berfokus pada hal seperti itu sekarang. Masih banyak hal yang harus dikhawatirkan untuk tetap hidup.


"Pesanan siap!" Suara bel dan teriakan dari balik meja dapur menyadarkan Taeyong dari lamunannya. Dia berbalik dengan cepat mengambil nampan menuju salah satu meja.

"Pesanan anda," Taeyong tersenyum manis pada si pemesan. "Silahkan dinikmati."

"Te-terima kasih." Gadis muda itu terdengar gugup menjawab sambil memberikan senyum malu-malu.

Taeyong mengangguk dan berjalan pergi, menuju meja lain untuk membawa piring kotor di sana sekaligus membersihkannya untuk tamu café lain yang akan datang.

"Kau benar-benar tahu bagaimana cara melayani pelanggan, Taeyong." Wendy berkata saat Taeyong kembali dari dapur. "Apa aku harus menyuruhmu berdiri di depan café saja ya? Tadi kulihat banyak anak sekolah yang lewat dan memilih mampir setelah melihatmu."

Taeyong menatap bosnya itu, tersenyum tipis.

"Tapi serius, apa kau tidak pernah mencoba ikut casting menjadi model, artis, atau idol? Kurasa dengan wajahmu kau akan bisa terkenal."

"Nuna bisa saja. Sudah aku lakukan sejak lama jika memang semudah itu. Ini adalah pekerjaan paling cocok untukku."

Terkenal dan menjadikan jati dirinya sebagai werewolf sebagai taruhan? Taeyong tidak mau itu terjadi. Dia tidak mau dibawa ke lab dan dijadikan objek penelitian manusia-manusia serakah. Lagipula dia benar-benar mencintai pekerjaannya sekarang. Sebagai omega, melayani adalah pekerjaannya.

Sudah hampir seminggu sejak dia mulai bekerja. Jika bukan karena tips yang didapatnya tiap hari, Taeyong tidak akan bisa membeli sesuatu untuk dimakan. Semua uangnya habis untuk menyewa sebuah rumah sewa kecil. Jadi dia tak usah khawatir dengan tempat tinggal sampai bulan depan karena bermalam di motel menghabiskan cukup banyak uang.

Yang membuatnya khawatir dan banyak melamun akhir-akhir ini adalah karena mimpinya. Pria misterius dan serigala yang tak dia kenal. Setiap kali dia berpikir tentang apa yang terjadi di mimpi-mimpinya. Tubuh Taeyong menjadi panas, dan detak jantungnya akan meningkat drastis.

"Taeyong tolong layani tamu di meja lima."

"Baik, nuna."


Taeyong keluar dari lamunan dan tersentak kecil. Sadar jika dia baru saja menuangkan isi teko terlalu penuh ke cangkir hingga cairan kecoklatan itu meluber. Untungnya, Wendy tidak melihat karena sedang melayani pelanggan lain.

Taeyong mengambil napas dalam-dalam, berusaha menyingkirkan bayangan aneh yang melekat di pikirannya. Setiap kenangan dari mimpi itu muncul, Taeyong seketika linglung. Dia mencoba melupakannya tapi justru bayangan dari mimpinya itu semakin kuat. Tak berhenti menghantuinya setiap saat. Seperti tadi.

Taeyong pergi menuju pengunjung yang membuat gelagat akan memasan. Saat itu, pintu café dibuka.

Serigala.

Taeyong mengendusi udara sekali lagi dan pikirannya mulai diisi dengan kepanikan. Tubuhnya menegang takut. Dia menelan ludah, setiap inci tubuhnya bergetar. Sisi serigalanya merengek di belakang pikirannya, tahu jika ini akan menjadi saat yang tepat untuknya melarikan diri dan pergi sejauh mungkin dari sini.

Memandang ke pintu, napasnya berubah menjadi sedikit lebih cepat. Ada empat. Serigala. Semuanya laki-laki dan mempunyai aura mengintimidasi yang membuat Taeyong sesak. Mereka semua pasti mempunyai status lebih tinggi darinya. Dan lebih kuat.

Darimana mereka datang? Aku-aku tidak mencium adanya serigala di sekitar sini sebelumnya.

Taeyong berusaha menjaga dirinya untuk tetap tenang dan tidak menarik perhatian

Terlambat.
Sangat terlambat.

Dari kejauhan dia bisa mendengar mereka mulai mengendusi udara di sela napas mereka. Taeyong tahu karena melirik lewat sudut matanya, fokus mereka kini ada pada dirinya. Dia tidak berani melihat dan mengangkat kepalanya. Taeyong tidak berani melihat mereka secara langsung dan terang-terangan.

Setelah mengambil pesanan di meja tadi, Taeyong berbalik, berusaha untuk tidak berjalan terlalu cepat atau terlalu lambat. Dia tidak mau membuat mereka melihatnya sedang gelisah dengan kaki gemetar takut.

Saat dia sampai ke belakang kasir, dia langsung berjongkok. Wendy lewat dengan membawa piring kosong ke dapur. Taeyong menelan ludah, berdiri lagi dan berdeham sebelum menyusul dan mendekati pemilik café tempatnya bekerja itu, "Wendy-nuna?"

"Hm? Ada apa, Taeyong?" Wendy berhenti dan menatapnya, tidak menangkap kegugupan yang tengah dirasakan Taeyong. Untungnya.

"Apa aku bisa izin pulang lebih cepat hari ini?" Taeyong mencoba menjaga nada takut dari suaranya tidak terdeteksi dan tetap sopan seperti biasa.

"Oh?" Wendy meletakkan piring di wastafel sebelum kembali pada Taeyong, melihat jam tangannya, "Kita akan tutup setengah jam lagi. Café sedang ramai―"

"Please, nuna." Taeyong memotong tergesa, "Aku-aku harus melakukan sesuatu yang penting. Sekarang juga."

Ya itu benar. Dia harus lari dari sini dan hidup.

Wendy menatapnya sebentar, heran karena Taeyong tidak pernah berlaku seperti ini sebelumnya, sekaligus khawatir. Dia tampak memikirkan itu. "Baiklah..." katanya akhirnya.

Taeyong merasa lega. "Terima kasih banyak―"

"Tapi sebelum kau pergi, bisa tolong layani satu meja lagi di sana?" Wendy menunjuk pada satu titik yang membuat Taeyong lemas seketika.

"Nu―"

"Terimakasih. Hati-hati dalam perjalanan pulangmu, Taeyong."

Sebelum Taeyong bisa menolak, Wendy sudah berlalu dan meninggalkannya untuk membersihkan meja lain. Bibir Taeyong bergetar, begitu juga tubuhnya. Dia ingin menangis. Dia sangat takut. Dia akan mati. Mungkin tidak di sini, di kafe ini, tapi dia pasti akan mati. Kenapa dia tidak mengikuti naluri serigalanya untuk pergi meninggalkan kota ini sejak berhari-hari lalu?

Taeyong mencoba melawan rasa takut dan sesak di dadanya saat dia berbalik dan berjalan ke arah mereka dengan langkah paling tenang dan paling manusia yang dia bisa.

Siapa yang sedang coba dia bodohi?

Jika dia bisa mencium aroma mereka, mereka juga bisa mencium miliknya. Dan itu sudah sangat jelas.

Benar. Ada empat orang yang duduk di meja itu. Salah satu dari mereka yang duduk di ujung dan menghadapnya menatap Taeyong pertama kali. Matanya terlihat dingin menusuk dan benar-benar serius, membuat sisi serigala Taeyong merengek lagi di dalam kepalanya untuk cepat pergi. Tapi Taeyong berusaha melakukan yang terbaik untuk menjaga dirinya tetap tenang. Setidaknya dari luar. Sosok itu punya rambut cokelat gelap. Bahkan dengan posisi duduknya, Taeyong tahu jika dia tinggi. Lebih tinggi dari ketiga lainnya. Terlihat lebih kuat dari yang lain dan kemungkinan besar adalah pemimpin mereka.

Yang berada di sampingnya juga punya warna rambut cokelat, namun lebih terang. Tubuhnya lebih kecil tapi terlihat percaya diri dan kuat. Taeyong yakin sosok itu bisa membunuhnya jika Taeyong lengah sedetik saja dan memberinya kesempatan.

Dua lainnya punya warna rambut hitam dan blonde. Aura yang mengintimidasi dari keduanya sama kuatnya dengan dua orang sebelumnya.

Entah karena melihat tatapan si pemimpin atau dengan mengendusi udara, perhatian mereka semua tertuju padanya sekarang. Di saat yang sama. Tatatapan-tatapan itu terlihat seperti siap mencabik-cabik Taeyong menjadi serpihan, menarik putus kepala dari lehernya untuk membuat Taeyong musnah secepatnya.

Taeyong menelan ludahnya gugup, bergerak gelisah namun terus berjalan mendekat ke arah mereka. Saat dia berhenti di samping meja itu, semua terdiam. Saat dia mengambil note dan pulpen keluar dari saku celemek, Taeyong berusaha menghentikan tangannya gemetar atau berakhir semuanya menjadi lebih buruk dengan menjatuhkan benda di tangannya. Dia memaksakan diri berbicara tanpa menunjukkan ketakutan, "A-ada yang bisa saya bantu, tuan?"

Kata-katanya itu memancing keheningan meski tanpa maksud apapun selain menjalankan tugasnya sebagai pelayan. Taeyong berjuang mati-matian melawan keinginan untuk berbalik dan lari saat itu juga. Masih berusaha tidak menunjukkan kepanikan dan gemetar di suaranya. Tayong berbicara lagi, kalimat yang sama, kali ini mengatakannya dengan lebih hati-hati, "Ada... yang bisa saya bantu, tuan?"

Keheningan lain tercipta.

Merasakan kehadiran mereka dari dekat bisa membuat sisi serigalanya gila dan merengek tanpa henti, Taeyong yakin serigalanya yang malang itu tengah menyembunyikan kepalanya di antara kaki dan ekornya sekarang. Taeyong memerangi itu, juga gemetar kakinya.

"Pesan sesuatu. Kumohon. Apa saja," pikir Taeyong, tanpa sengaja membisikkannya pelan. Mestinya dia sudah menutup mata, menangis dengan air mata membasahi wajahnya sekarang.

Sosok dengan rambut pirang yang paling dekat dengannya mengatakan pesanan mereka. Suaranya mengirimkan sensasi dingin yang terasa hingga ke tulang belakang.

Taeyong mengulangi pesanan dan begitu mendapat anggukan kecil dari mereka dia langsung berbalik pergi. Menunggu pesanan siap terasa sangat cepat untuknya karena tahu-tahau dia sudah kembali ke meja mereka.

"Ini dia," katanya, menaruh benda-benda di atas nampan yang dibawanya ke atas meja. Taeyong bergerak cepat, tapi getaran dari cangkir saat menyentuh permukaan meja adalah bukti jika dia tidak hanya gugup, tapi jugabketakutan. Mata mereka menatapnya dengan penuh selidik. Taeyong menelan ludahnya, menggigil. "Pe-permisi," katanya saat pamit pergi.

Taeyong kemudian berbalik untuk pergi ke bagian belakang cafe. Meraih mantel, beanie, dan syal. Sayangnya, tidak ada pintu belakang khusus di café itu yang bisa digunaan oleh karyawan. Dia harus pergi lewat depan. Melewati mereka.

Taeyong berpapasan dengan Wendy saat menuju pintu. "Ma-maaf, Wendy-nuna. Sampai bertemu besok," katanya. Jika aku masih hidup dan bisa kembali ke sini.

"Apa kau baik-baik saja, Taeyong?" tanya Wendy menyadari kegelisahannya.

"Aku baik-baik saja, nuna," kata Taeyong sedikit terlalu cepat, "Aku akan... harus... pergi sekarang."

Sebelum Wendy bisa mengucapkan selamat tinggal sebagai balasan, Taeyong sudah berbalik dan berjalan keluar pintu. Menyambut udara malam musim dingin yang menusuk dengan setenang mungkin. Taeyong tahu jika dia masih ada dalam bahaya. Dia harus pergi secepatnya.

Taeyong berjalan semakin cepat. Bisa dia lihat empat sosok tadi melalui kaca jendela café. Saat dia melewati itu, dan sosok mereka keluar dari pandangannya, dia mulai berlari. Udara dingin tidak mengganggunya. Taeyong tahu dia hanya perlu berlari secepat yang dia bisa menjauh dari mereka.

Tapi berlari dengan tubuh manusianya tidak membantunya. Ketika dia berbelok menuju salah satu gang, Taeyong bisa mendengar suara langkah kaki, suara langkah kaki yang berlari mengejar di belakangnya. Napasnya tercekat karena ketakutan, air mata yang dia tahan sedari tadi mulai mengalir di wajahnya. Detak jantungnya yang liar terdengar jelas di kepalanya.

Aku tidak ingin mati!

Pikirnya sambil berlari. Dia menyesal tidak membawa sesuatu yang bisa membantunya melarikan diri saat ini dari dapur café tadi. Hidung serigala begitu sensitif dengan aroma terlalu kuat. Itu bisa dengan mudah mengacaukan fokus mereka sampai ke tempatnya untuk sementara. Dia juga menyesali untuk memutuskan tinggal di perkotaan seperti ini. Jika saja dia bisa lebih pintar, hidupnya tidak akan terancam!

Suara langkah kaki mendekat seperti hitungan mundur bom sebelum meledak di kepalanya. Dia harus fokus sekarang. Jangan berhenti. Jangan berhenti berlari, ingatnya. Dia berlari menyeberang di jalanan malam kota. Melalui gang sempit yang dia harap bisa menjadi jalan pintas untuknya. Taeyong hampir tersandung sesuatu juga terpeleset oleh salju tapi masih terus berlari.

Aroma mereka terasa semakin kuat. Mereka semakin dekat.

Pergi.
Harus pergi dari sini!

Jantungnya berhenti berdetak dan pikirannya seketika kosong saat dia merasa lengan meraih tubuhnya dan mendorongnya hingga tersungkur di jalanan kotor bersalju.

"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Taeyong berteriak, memohon, melawan salah satu dari mereka yang menahannya di tanah dengan usaha sia-sia. Semuanya terjadi terlalu cepat, Taeyong merasakan dirinya diangkat dan dibantingkan ke dinding, membuatnya mengeluarkan jeritan kesakitan saat dia berhadapan dengan salah satu dari mereka. Tangan sosok itu berada di sekitar lehernya erat, mengancam untuk memutuskan aliran udara yang dibutuhkannya sekarang juga.

"Siapa kau?! Kenapa kau di sini?!" geram sosok yang paling pendek itu pada Taeyong.

Terisak-isak, Taeyong berusaha keras untuk menjawab, "Aku... aku-aku akan pergi! Aku janji! Biarkan aku pergi!"

"Jawab pertanyaanku!" Dia menyalak padanya.

"Taeyong!" Dia berseru, air mata mengalir di bawah matanya. "Namaku Taeyong... aku... aku tidak tahu jika ini wilayah kalian! Aku akan segera pergi!"

"Kau berada di wilayah pack kami, tinggal di sini untuk waktu yang lama tanpa izin, dan berharap untuk pergi begitu saja?" Si rambut hitam yang bertanya kali ini, geraman kemarahan terdengar dari suaranya saat mengatakan tiap kata dalam kalimat itu.

Taeyong merintih sebaga respon, mulai kesusahan bernapas. Dia terjebak oleh mereka. Apa yang bisa dia lakukan sekarang? Mereka kuat. Taeyong akan mati, itu hukum werewolf bagi seseorang yang melanggar wilayah werewolf lain tanpa izin. Taeyong menutup matanya saat si pirang menatapnya tenang dalam diam sementara kawannya semakin memperketat cengkeraman di lehernya.

"Tunggu, Yuta." Suara seseorang terdengar. Mereka semua menatapnya. Sosok itu bergerak mendekat. Meskipun masih memegang leher Taeyong tetap di tempat, dia menyingkir ke samping. Mata sosok itu menatap mata Taeyong dingin dalam diam. Taeyong langsung cepat-cepat mengalihkan mata dengan memandang ke arah lain. "Kau sendiri dan bukan anggota pack manapun?"

Taeyong menelan ludahnya lagi, tapi mengangguk, menurunkan tatapannya ke bawah. Dia tidak punya pilihan selain menjawab semua pertanyaan mereka.

"Berapa lama?" tanyanya.

"Tiga... tiga tahun..." suaranya lebih terdengar seperti cicitan.

Si surai hitam mendengus, satunya lagi yang berambut pirang menggeram. Taeyong cepat-cepat menunduk saat seseorang yang terlihat seperti pemimpin mereka kembali berbicara.

"Status peringkatmu?"

Air mata lain jatuh dari mata Taeyong. "O-Omega."

Si rambut hitam tidak bisa menahan tawanya sekarang, "Omega? Kau seorang omega dan bisa hidup sendiri selama tiga tahun? Jangan membual kau breng―"

"Jungwoo!" Sosok yang tadi bertanya menyalak pada si hitam, Jungwoo. Membuat dia langsung menutup mulut dan menunduk.

Si pemimpin menatap lagi ke arahnya, dan Taeyong bisa merasakan tatapan menilai darinya tapi tidak berani mendongak.

"Lepaskan lehernya, Yuta," katanya. Yuta menggeram dan melepaskan pegangannya dari tenggorokan Taeyong, membiarkannya lepas. Taeyong langsung jatuh terduduk di tanah dan kepayahan mengambil napas. Tangannya mengusap-ngusap lehernya yang terasa nyeri itu akan meninggalkan bekas, mungkin bersama memar di punggungnya karena terbentur terlalu keras tadi. Meski Taeyong ada werewolf dan bisa sembuh lebih cepat daripada manusia biasa, memar seperti ini tetap akan memakan waktu beberapa hari untuk benar-benar sembuh.

Taeyong merasakan tangan si tinggi berambut pirang yang kini menyambar lengannya kasar saat pemimpin mereka berbalik menuju keluar dari gang itu. Ketiga yang lain mengikutinya, menyeret Taeyong yang diapit di sisi mereka sepanjang jalan tanpa terlihat mencurigakan.

Taeyong menahan napasnya saat mereka memaksanya naik ke dalam sebuah mobil. Dia duduk di dalam sana diapit oleh seseorang yang dipanggal Yuta dan Jungwoo tadi, membuatnya tak berkutik. Si pirang yang sedari tadi tak bicara duduk di kursi pengemudi, dan pemimpin mereka ada di sampingnya. Mobil mulai dijalankan meninggalkan tempat itu.

Taeyong tidak mengatakan apa-apa dalam keheningan yang memenuhi mobil itu, tapi dia memberanikan untuk bertanya meski gemetar. "...Apa ...pack apa...?" Dia hampir berbisik, tidak bisa menyelesaikann pertanyaannya. Tapi mereka semua mendengar dan memahami maksud pertanyaan itu. Pemimpin mereka yang menjawab, menatapnya lewat kaca spion dalam keheningan.

"Silverblack."

Saat kata itu keluar dari bibirnya, Taeyong merasakan ketakutan yang belum pernah ia rasakan. Ini tidak sebanding dengan ketakutan terbesar yang pernah dia rasakan. Panik luar biasa melalui pikirannya. Dalam hati Taeyong bahkan meminta untuk dibunuh saat itu juga. Dia tahu Silverblack. Di pernah mendengarnya sebagai salah satu pack terbesar, terkuat dan paling terkenal. Terkenal bukan hanya karena kehebatan pack mereka, melainkan juga kepemimpinan si alpha yang sangat kejam.

Di masa lalu, ada kabar mengenai perang antara salah satu pack tertua dengan pack mereka, demi perebutan wilayah kekuasaan. Mereka menang. Hampir selalu menang kecuali Apha mereka sengaja menghindari karena berpikir mangsa mereka terlalu lemah dan tidak layak untuk dihabisi.

Taeyong melirik melalui sudut matanya pada si pemimpin lewat kaca spion.

Itu pasti dia.

Sang Alpha.

Aroma tubuhnya memancarkan itu. Aura intimidasi dan kekuasaannya memancar kuat lebih dari alpha di pack lama Taeyong.

Akan seburuk apa hukuman yang dia terima?

Taeyong melirik lagi, kali ini keluar jendela.

Kemana mereka akan membawanya pergi?

Jalanan kota sudah berganti dengan suasana lebih seperti hutan. Taeyong melihatnya, menelan begitu mobil mereka memasuki hutan menuju jalan gelap tersembunyi. Jejak mereka akan dengan mudah tersembunyi di balik pohon-pohon yang mereka lalui sebelum sebuah dinding tinggi muncul.

Taeyong merasa jantungnya akan meloncat keluar saat menyadari jika itu adalah sebuah pagar tinggi yang terhalang oleh tumbuhan-tumbuhan menjalar dan semak-semak, perlahan membuka tanpa suara. Mobil masuk melewati itu dan pagar itu kembali tertutup rapat di belakang mereka.

Mereka ada di sini sekarang. Serigalanya tahu. Taeyong tahu. Dia tidak bisa menangis lagi. Sudah saatnya menghadapi salah satu aturan paling dasar yang harus dihadapi oleh setiap serigala yang membuat kesalahan sepertinya.

Bergabung dengan pack atau mati.


To be continued

Note:

Makasih yang udah review/fav/follow senang sekali dapat respon positif dari kalian :)