- Affection -

.

.

.

.

.

Hidup, bekerja dan melakukan semuanya dalam sebuah grup tidaklah mudah.

Ada banyak hal yang terjadi selama kami bersama.

.

.

Suasana dorm BTS -begitu tim mereka disebut- tidak bisa dikatakan tenang seperti hunian tetangga-tetangga mereka. Setiap hari ada saja anggota yang membuat keributan di pagi hari, seperti...

"Yah! Ada apa dengan gagang pintu kamar mandi ini? Kenapa tidak bisa diputar?" gerutu Yoongi yang tidak bisa dikatakan pelan. "YA! KIM NAMJOON! Harus berapa kali aku memperbaiki pintu ini HAH?!" teriak Yoongi kesal.

Siapa yang tidak mengetahui keahlian utama leader tim ini?

Merusak barang dalam sekali sentuh adalah bakat Kim Namjoon sejak lahir. Camkan itu.

"Astaga... Aku kesiangan"

Pemilik suara kali ini adalah anggota tertua di tim ini. Kim Seokjin.

Ia baru saja keluar dari kamar yang ditempatinya bersama Yoongi, melangkah gontai sambil mengusap kedua matanya yang masih mengantuk, lalu membeliak kaget saat menyadari jam telah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.

"Dimana Jungkook?" gumamnya dengan wajah panik.

Seokjin berputar memeriksa seluruh ruangan yang ada di dorm itu, kecuali kamar para anggota termasuk kamarnya dan Yoongi. Saat tak menemukan keberadaan anggota termuda grup tersebut, dengan langkah tergesa-gesa dan tanpa mau repot mengetuk pintu, Seokjin segera menerobos pintu kamar yang ditempati oleh Jungkook.

Seokjin berkacak pinggang di depan tubuh Jungkook yang masih nyaman bergelung dalam selimut sambil memeluk guling. Ia mengubah posisi tubuh Jungkook menjadi terlentang dengan gerakan kasar, lalu mengambil ancang-ancang untuk melalukan hal lain.

"Jeon Jungkook! Bangun atau kau tidak akan mendapatkan sebutir nasi pun untuk sarapanmu?"

"Aww~ Apa in--Ya! Ampun hyung... Ampun..."

"Tidak akan, sebelum kau bangun. Aku heran sekali padamu. Kau ini masih sekolah tapi hobi sekali bangun terlambat. Tsk!" omel Seokjin pada Jungkook.

Ya. Ini adalah ritual Seokjin setiap pagi. Membangunkan Jungkook dengan cara yang sangat tidak biasa dan tidak ada anggota yang bisa melakukannya selain dia.

Ritual membangunkan yang lebih pantas disebut penganiayaan. Berteriak memanggil nama lengkap Jungkook yang diiringi dengan ancaman dan omelan diakhir dan dibarengi dengan mencubit bagian dada Jungkook dengan sekuat tenaga. Cara yang kejam namun sangat ampuh untuk membangunkan Jungkook yang selalu tidur seperti orang mati.

"Ah... Berisik sekali"

Seokjin yang masih kesal segera menoleh ke kasur yang ada diseberang kasur Jungkook.

"Bangun Namjoon! Kau ini leader tapi selalu bangun paling siang" semprot Seokjin seketika, yang membuat Namjoon mau tidak mau segera bangkit dari kasurnya sebelum omelan Seokjin merusak gendang telinganya.

"Tolong bangunkan anak-anak di kamar sebelah. Suruh Hobie ke dapur. Hari ini dia harus membantuku menyiapkan sarapan karena Yoongi sibuk membenahi pintu yang kau rusak semalam"

Tubuh Namjoon mendadak menegang. Ia baru ingat kemarin malam ia merusak gagang pintu kamar mandi mereka lagi karena terlalu tergesa-gesa.

"Itu salah Sejin hyung karena menyuruhku cepat-cepat datang ke kantor" elak Namjoon.

"Jangan beralasan kau Kim! Cepat bangunkan mereka dan bantu aku memperbaiki ini"

Yang terakhir adalah suara Yoongi.

Jangan menganggap Yoongi memiliki kemampuan seperti cenayang. Bukan.

Yoongi bisa merespon seperti itu karena ia tidak sengaja lewat di depan kamar Jungkook-Namjoon yang pintunya terbuka lebar saat Namjoon merespon ucapan Seokjin.

Yah... Begitulah salah satu pagi yang mereka lewati.

.

.

Orang bilang, kehidupan di dorm bersama orang-orang yang berasal dari latar belakang kehidupan yang berbeda-beda itu sangat tidak sehat dan tidak mengenakkan.

Mereka bilang, kami akan cenderung saling berkompetisi. Saling menjegal, saling menjatuhkan dan saling menusuk dari belakang. Tidak ada yang namanya teman sejati. Semuanya hanya topeng.

Namun kami tak seperti itu.

Tidak ada yang namanya saling menjegal, saling menjatuhkan dan saling menusuk dari belakang.

Disini, yang ada hanya saling berbagi.

.

.

"Ah... Bagaimana ini?" Jungkook menggaruk kepala bagian belakangnya. Wajahnya mengeruh. Terlihat khawatir, kesal dan kalut disaat yang bersamaan.

Seokjin yang sedari tadi duduk di sofa sambil membaca sebuah novel mendengarnya. Ia menutup novelnya dan memperhatikan adik terkecilnya itu dengan pandangan menyelidik.

"Ada apa?" tanya Seokjin pada Jungkook.

"Eum... Aku tidak mengerti dengan soal yang ini hyung" Jungkook menunjuk soal yang ia maksud.

Seokjin menunduk. Menatap buku Jungkook yang ada di atas meja sofa yang sejak tadi beralih fungsi menjadi meja belajar Jungkook.

"Arra" Seokjin mengangguk. "Duduk disebelahku dan berikan pensilmu padaku. Akan kuajarkan"

Jungkook mengangguk dan menuruti perintah Seokjin. Mereka berdua kemudian terlarut dalam suasana belajar yang benar-benar Jungkook sukai.

Demi Tuhan, Jungkook lebih suka diajarkan oleh Seokjin ketimbang gurunya yang galak dan menurutnya tidak bisa mengajar itu.

.

Sementara itu di tempat lain -di kantor Big Hit Entertainment tepatnya- di ruang latihan, tampak empat anggota BTS sedang berkumpul bersama. Tiga diantaranya sedang berlatih koreografi sedangkan satu orang lainnya duduk di sudut ruangan dengan kedua tangan yang memegang buku agenda berukuran sedang dan sebuah pensil. Ekspresi wajah keempatnya sama-sama serius.

Mereka berempat adalah Yoongi, Hoseok, Jimin dan Taehyung.

"Ah... Kenapa susah sekali?" Taehyung menghentakkan kaki kanannya dengan ekspresi kesal.

Hoseok tersenyum melihatnya. Ia kemudian berdiri di depan Taehyung dan menggerakkan tubuhnya sesuai dengan gerakan yang menurut Taehyung sangat susah.

"Coba lakukan dengan perlahan seperti ini" instruksi Hoseok.

Taehyung segera mengikuti gerakan Hoseok dari belakang. Ia memperhatikan gerak tubuh Hoseok sambil menggerakkan tubuhnya sendiri.

Sementara itu, Jimin yang sudah merasa bosan menguap lebar. Tubuhnya sudah lelah dan koreografinya hari ini sudah lebih baik dari sebelumnya. Jadi ia memutuskan untuk mencukupkan kegiatan berlatih koreografinya sampai disini untuk hari ini.

Ekspresi wajah Jimin berubah mengeruh. Tidak ada hal menarik yang bisa dilakukannya saat ini karena semua partner in crime-nya sedang sibuk. Taehyung sedang berlatih koreografi bersama Hoseok dan Jungkook sudah kembali ke dorm lebih dulu bersama Seokjin karena Jungkook memiliki banyak tugas sekolah yang harus dikumpulkan besok. Mau kembali ke dorm menyusul Jungkook dan Seokjin pun ia tidak bisa karena mereka berempat dan Namjoon yang kini sedang mengikuti meeting di ruangan lain sudah berjanji akan pulang bersama.

Jimin mendesah pelan. Ia mendudukkan dirinya dipinggir ruangan dengan mata yang mengamati pergerakan Taehyung dan Hoseok. Dan saat pandangannya mengedar ke seluruh ruangan, ia menemukan hal bagus yang mungkin bisa mengusir rasa bosannya.

"Kau sedang apa hyung?"

Jimin berjongkok dihadapan Yoongi yang masih sibuk dengan buku agenda dan pensil ditangannya. Wajah laki-laki berkulit putih pucat itu menunduk dan terlihat sangat serius. Membuat Jimin penasaran dengan apa yang sedang digarapnya.

"Lagu baru" sahut Yoongi singkat.

Jimin akhirnya mendaratkan pantatnya di lantai. Ia duduk bersila sambil memperhatikan setiap coretan yang Yoongi buat di lembar buku agendanya.

"Kenapa tidak membuatnya di studio saja?" tanya Jimin. Berusaha untuk merobek keheningan diantara mereka.

"Aku bosan disana. Tidak ada inspirasi" sahut Yoongi dengan pandangan yang tidak berpaling sedikitpun dari buku agendanya.

Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua. Yang terdengar hanyalah derap langkah Taehyung dan Hoseok yang masih berlatih koreografi yang kadang diselingi oleh instruksi Hoseok untuk Taehyung atau rengekan kesal Taehyung yang tidak berhasil meniru gerakan Hoseok dengan baik.

"Argh! Kenapa tidak ada yang pas?"

Geraman tiba-tiba dari Yoongi membuat Jimin sedikit terkejut. Jimin kemudian memperhatikan setiap tulisan Yoongi di lembar buku agenda tersebut, yang berhasil membuat keningnya mengerut.

"Lirik lagunya?"

"Ya" Yoongi mengangguk.

"Apa aku bisa membantu?" tanya Jimin.

"Silahkan saja"

Yoongi kemudian menyerahkan ponsel beserta headsetnya pada Jimin. Menyuruh Jimin untuk mendengarkan nada lagu baru tersebut bersama dengan aransemen musik yang Yoongi garap seadanya.

"Wah... Keren sekali" puji Jimin saat alunan nada dan musik yang ia dengarkan telah habis terputar. "Aku coba ya hyung"

Yoongi hanya mengangguk dan membiarkan Jimin menguasai buku agenda dan pensilnya.

"Apa ini bisa?" Jimin menyodorkan buku agenda Yoongi ke pemiliknya dengan raut wajah yang cukup cerah setelah hampir 15 menit berkutat dengan ponsel, headset, buku agenda dan pensil yang semuanya adalah milik Yoongi.

Yoongi menerima buku agendanya lalu membaca tulisan Jimin yang tergores disana dengan seksama.

"Yang benar saja? Apa ini bisa disebut lirik?" Yoongi menatap Jimin dengan wajah datar khas dirinya, yang dihadiahi cengiran oleh Jimin.

"Maaf hyung... Aku hanya mencoba" Jimin mengusap tengkuknya. Malu.

Yoongi menghela napas sebelum membalikkan halaman buku agendanya. Mengganti lembar yang berisi tulisan Jimin dengan lembar baru yang masih bersih tanpa coretan.

"Pemotongan suku kata dengan ketukan nadanya sudah pas. Maksud dari lirik yang kau buat pun aku paham dan artinya sudah sesuai dengan lirik bagian lain yang sudah selesai kukerjakan. Hanya saja kata-kata yang kau pilih tidak mencerminkan sebuah lirik lagu" Yoongi melirik Jimin sekilas sebelum kembali menatap lembar buku agendanya yang masih kosong tersebut. "Mau belajar cara membuat lirik yang baik, Park Jimin?"

Jimin terkejut dengan tawaran Yoongi. Tidak biasanya seorang Min Yoongi menawarkan hal sebagus ini pada orang-orang sekitarnya. Bukan karena Yoongi pelit, tetapi karena laki-laki itu tidak suka dengan segala sesuatu yang merepotkan dirinya. Seperti mengajar misalnya. Dan Jimin baru saja mendapat penawaran yang sangat langka dari Yoongi.

"Tidak ada penawaran untuk yang kedua kalinya, Park"

Jimin tersadar dari lamunannya. Ia kemudian menatap Yoongi dengan senyum lima jari yang menghiasi wajah imutnya.

"Aku mau hyung!" ucap Jimin penuh semangat.

.

.

Tapi terkadang semuanya tak berjalan dengan mulus sesuai dengan harapan yang ada di benak kami masing-masing.

Terkadang kami juga bertengkar.

.

.

"Siapa yang bertugas mencuci baju kemarin?"

Jimin berjalan mengelilingi dorm dengan sebuah T-shirt berwarna putih di tangannya. Wajahnya memerah menahan amarah. Pandangan matanya yang biasanya penuh kelembutan dan keramahan itu pun berubah menajam. Terlihat begitu kesal.

"Ada apa?" tanya Hoseok yang baru saja keluar dari kamar mandi.

"Hyung, apa kau tahu siapa yang bertugas mencuci pakaian kemarin?" ucap Jimin tanpa basa basi.

"Sepertinya Taehyung. Kemarin aku melihatnya di ruang cuci" jawab Hoseok seadanya. "Aku ke kantor duluan ya. Aku ada janji meeting dengan hyungdeul dan Namjoon" Hoseok menepuk bahu Jimin dua kali sebelum melangkah menuju pintu dorm. "Ah iya, nanti jangan menunggu Jungkook. Katanya dia akan langsung ke kantor sepulang sekolah nanti. Setelah Taehyung datang, segera susul kami ke kantor, oke? Taehyung mungkin akan datang sekitar 20 menit lagi" ucap Hoseok sebelum sosoknya menghilang dibalik pintu dorm.

Hanya ia dan Taehyung?

Oke, ini kesempatan.

.

"Aku pu--"

Pluk!

Jimin melemparkan T-shirt berwarna putih yang sejak tadi tak lepas dari genggaman tangannya ke wajah Taehyung.

"--lang. Ya! Ada apa ini?" tanya Taehyung yang terkejut dengan aksi Jimin tadi.

Jimin menatap Taehyung tajam sambil mengayunkan dagunya. Memberi Taehyung pesan nonverbal menunjuk T-shirt yang ia lempar tadi.

"Sudah berapa kali kubilang? Kalau mencuci pakaian kau harus memisahkan pakaian berwarna putih dengan pakaian berwarna lainnya. Lihat apa yang sudah kau perbuat!"

Taehyung merentangkan T-shirt yang Jimin lempar tadi dan terkejut melihat noda berwarna merah keunguan di bagian depan T-shirt tersebut. Noda lunturan.

"Jim.. Maaf.. Aku benar-benar tidak tahu kalau ada baju yang luntur. Kemarin--"

"Tidak usah banyak alasan" potong Jimin. "Cepat ganti pakaianmu lalu kita ke kantor. Kita sudah ditunggu di basement" sahut Jimin sebelum melangkah pergi. Meninggalkan Taehyung yang merasa bersalah padanya.

.

Di tempat lain, ketegangan yang lain terjadi.

Namjoon dan Yoongi saling melempar tatapan dingin satu sama lain, yang membuat Hoseok menghela napas lelah melihat keduanya.

"Baiklah, kutunggu keputusan kalian. Aku yakin kalian bisa menyelesaikannya dengan baik seperti yang sebelum-sebelumnya. Aku percaya pada kalian semua"

Bang Sihyuk, CEO Big Hit Entertainment itu menepuk bahu Namjoon dan Yoongi secara bergantian dan memberikan senyuman ramahnya pada Hoseok sebelum meninggalkan ruangan tersebut.

"Jadi, bagaimana ini?" ucap Hoseok. Memancing kedua rekannya untuk angkat bicara. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menangani kedua rekannya yang sama-sama keras kepala ini. Ia sudah pusing memikirkan lagu yang ia garap dan bertambah pusing melihat tingkah kedua rekannya ini.

"Seperti yang sudah kukatakan tadi. Aku ingin agar Jin hyung mendapat part lebih banyak dari yang sudah tertulis disini. Aku tidak mau penggemar dan masyarakat luas berpikiran buruk tentang grup kita dan kemampuan bernyanyi Jin hyung jika Jin hyung hanya mendapat part sesedikit ini" ucap Namjoon tegas dengan pandangan yang masih terfokus pada Yoongi. Masih menatap laki-laki yang berumur lebih tua darinya itu dengan tatapan dinginnya.

"Kau juga sudah mendengar jawabanku, bukan? Pembagian part berdasarkan jenis suara itu sangat penting untuk keindahan sebuah lagu. Aku tidak bisa memberi Jin hyung porsi lebih karena jenis suara Jin hyung sebenarnya tidak begitu cocok untuk lagu ini. Jadi aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu itu" tolak Yoongi yang balas menatap Namjoon dengan tatapan dingin dan raut datar khas dirinya.

Hoseok menghela napas kembali. 'Ini rumit' batin Hoseok.

.

.

Namun pertengkaran yang terjadi tidak pernah berlarut-larut, karena kami tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan baik.

Bersabar, berbesar hati dan mau mengakui kesalahan adalah pelajaran utama yang sudah kami tempa sejak kami disatukan dalam sebuah tim.

Kalaupun sama-sama keras kepala, pasti ada satu orang yang menjadi penengah.

.

.

Seokjin berlari menyusuri koridor yang begitu dihapalnya. Ia sudah terlambat!

"Ah... Hobie pasti akan mengomeliku nanti" gerutunya dengan wajah pasrah.

Seokjin menormalkan deru napasnya yang tersengal begitu ia sampai di depan pintu ruangan yang menjadi tujuannya. Ia kemudian memutar gagang pintu itu dengan perlahan dan mendorongnya dengan gerakan perlahan juga. Takut mengganggu konsentrasi rekan-rekannya yang diyakininya kini sudah memulai latihan mereka. Namun saat pintu itu sudah terbuka lebar, Seokjin mengernyitkan dahinya.

'Ada yang tidak beres' pikir Seokjin.

Ruangan yang biasanya berisik oleh suara musik itu terasa sepi. Ia melihat semua rekannya duduk berjauhan, kecuali Hoseok dan Jungkook.

Seokjin pun menghampiri Hoseok dan Jungkook yang posisi duduknya paling dekat dengan pintu. Ia menyampaikan permohonan maafnya karena sudah datang terlambat dan memberikan senyum terbaiknya pada mereka berdua sebelum duduk dan bergabung dalam obrolan mereka.

"Hobie, apa yang terjadi?" tanya Seokjin dengan suara pelan. Ia melirik memperhatikan Namjoon, Yoongi, Taehyung dan Jimin yang asyik dengan kegiatan mereka masing-masing di sudut ruangan yang berbeda.

"Taehyung dan Jimin sepertinya bertengkar karena masalah pakaian. Tadi pagi saat semua orang sudah pergi keluar dorm aku mendengar Jimin memaki orang yang mendapat tugas mencuci pakaian kemarin. Setahuku yang mencuci pakaian kemarin adalah Taehyung" jawab Hoseok.

"Lalu ada apa dengan Namjoon dan Yoongi? Tidak biasanya mereka begini" tanya Seokjin lagi.

"Mengenai itu..."

Hoseok pun menceritakan semua yang ia ketahui pada Seokjin dengan Jungkook yang setia menjadi pendengar dan pengamat yang baik selama Hoseok dan Seokjin berinteraksi.

.

Seokjin menghela napas lelah. Ini sudah satu jam sejak mereka kembali ke dorm setelah sebelumnya mereka makan malam bersama. Suasana yang melingkupi mereka masih tetap sama. Hening.

Hoseok yang biasanya selalu berisik dan Jungkook yang biasanya selalu tidak bisa diam pun mendadak menjadi pendiam.

Demi Tuhan, Seokjin tidak menyukai ini. Ia lebih memilih adik-adiknya ini berisik sepanjang waktu hingga waktu menjelang tidur malam daripada melihat mereka diam membisu membuat suasana dorm mereka seperti di kuburan.

"Mau terus begini sampai kapan?" ucap Seokjin, yang membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut melirik padanya.

Ya. Semua anggota BTS memang sedang berkumpul di ruang tengah dorm tanpa terkecuali. Tapi mereka semua hanya diam. Asyik dengan kegiatan masing-masing. Taehyung, Jimin dan Hoseok yang sibuk dengan ponsel mereka masing-masing, Namjoon dan Yoongi yang sibuk dengan buku agenda dan alat tulis ditangan masing-masing, dan Jungkook yang mengerjakan tugas sekolahnya dengan tenang.

"Aku tidak mengerti dengan kalian yang bermasalah" desah Seokjin. "Kalau ada diantara kalian yang memang mempunyai masalah dengan anggota lainnya, segera selesaikan masalah kalian tersebut. Jangan hanya diam saja dan membuat suasana seburuk ini"

Seokjin menghela napas sejenak. Ia memperhatikan setiap wajah yang menatapnya.

"Dengar, Bang PDnim pernah menasehati kita agar tidak berlarut-larut dalam sebuah permasalahan. Benar?"

Semua anggota mengangguk.

"Kalau memang tidak bisa diselesaikan, kalian bisa membagi masalah kalian pada kami yang tidak terlibat. Jangan hanya memendamnya sendiri dan menjadi keras kepala"

Namjoon dan Yoongi seketika menundukkan wajah mereka.

"Baiklah, kita mulai dari masalah yang paling urgen" Seokjin menatap Namjoon dan Yoongi yang masih menunduk. "Namjoon, Yoongi, ada apa dengan kalian? Tidak biasanya kalian seperti ini"

Walaupun Seokjin sudah mengetahui semuanya dari Hoseok, tapi ia ingin agar anggota yang bermasalah itu sendiri yang menceritakan semuanya padanya. Ini adalah salah satu cara Seokjin untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam tim yang telah melambungkan namanya tersebut.

"Kenapa kalian tidak menjawabku?" tanya Seokjin saat melihat Namjoon dan Yoongi sama-sama tak bergeming.

"Namjoon, jawab aku" titah Seokjin pada Namjoon.

Dimanapun, orang pasti akan menyuruh yang lebih tua untuk bercerita. Tapi Seokjin lebih percaya pada Namjoon yang notabene lebih muda bila dibandingkan dengan Yoongi.

Kenapa?

Karena Seokjin tahu bagaimana keras kepalanya seorang Min Yoongi. Yoongi juga orang yang sangat irit bicara dan tidak suka dibantah. Oleh karena itu Seokjin tidak mau memberikan kesempatan pertama pada Yoongi untuk menjelaskan semuanya.

"Begini hyung, aku hanya ingin Yoongi hyung memberikan tambahan part menyanyi untukmu di lagu utama album baru kita. Kupikir kita harus menyanyikan lagu kita dengan porsi yang adil sehingga tidak ada anggota yang terlihat terlalu menonjol atau terlalu tenggelam bila dibandingkan dengan anggota lainnya" jelas Namjoon.

"Lalu bagaimana denganmu Yoongi?" tanya Seokjin.

Yoongi mendongak menatap Seokjin. "Maaf hyung, aku tidak bermaksud buruk padamu, tapi aku tidak bisa memberikan part lebih untukmu karena..." Yoongi melirik Namjoon sejenak sebelum kembali menatap Seokjin. "...kau tahu sendiri bagaimana aku, bukan? Aku selalu menggarap setiap lagu dengan mempertimbangkan suara orang yang akan menyanyikan lagu yang kugarap tersebut supaya lagu itu enak didengar dan bisa memuaskan orang yang mendengarnya"

Seokjin mengangguk.

"Aku tidak bisa menambah part bernyanyimu hyung, karena kurasa suaramu kurang cocok di lagu ini" Yoongi terdiam sejenak. "Aku benar-benar minta maaf" Yoongi kembali menundukkan wajahnya.

Seokjin kembali menghela napas. Sementara itu Hoseok, Jimin dan Taehyung hanya diam memperhatikan, dan Jungkook yang sejak tadi mendengar percakapan kakak-kakaknya kembali tenggelam dalam kesibukannya karena tugas-tugas itu harus dikumpul besok.

"Baiklah, mari kita selesaikan hari ini juga" ucap Seokjin mengawali. "Namjoon, aku mengerti dengan segala kekhawatiranmu. Menjadi leader memang tidak mudah. Aku paham dengan semua beban yang kau pikul"

Seokjin menjeda ucapannya sejenak.

"Sekali lagi kutegaskan. Aku tidak masalah dengan apa yang netizen gunjingkan tentang diriku. Aku juga tidak masalah dengan part menyanyiku yang sedikit" Kali ini Seokjin menatap Yoongi. "Kalau itu memang yang terbaik untuk kita semua, kenapa tidak? Selama kita semua bisa menghadapinya bersama, kenapa kita tidak memilih cara tersebut?"

Suasana kembali hening selama beberapa menit.

"Namjoon, aku mengerti dengan maksud dari keinginanmu itu. Aku sangat berterima kasih padamu" Seokjin menatap Namjoon yang juga menatapnya dan memberikan satu senyuman hangat untuknya, yang dibalas senyuman kaku oleh Namjoon. "Tapi kita tahu bahwa usaha Yoongi selama ini selalu berhasil. Jadi aku akan mengikuti apapun keputusannya" Seokjin melirik Yoongi yang masih menunduk.

"Mengenai pendapat orang lain tentang diriku, tenang saja... Sebentar lagi aku akan membungkam mulut mereka dengan kerja kerasku. Jangan khawatir" Seokjin kembali melempar senyum pada Namjoon.

"Dan untuk Yoongi, kau tidak perlu meminta maaf. Kau tidak memiliki salah apapun padaku. Aku percaya dengan semua usaha dan kerja kerasmu. Bukankah semua itu untuk kesuksesan tim yang kita banggakan ini?" Seokjin menepuk kedua bahu Yoongi dua kali, yang mendapat respon berupa anggukan dari Yoongi.

"Jadi, apa sekarang aku bisa melihat kalian saling berpelukan dan meminta maaf satu sama lain?"

Baik Namjoon maupun Yoongi sama-sama menoleh. Menatap satu sama lain dengan kening mengerut.

"Bukankah berjabat tangan saja sudah cukup?" protes Yoongi.

"Tidak mau. Aku maunya kalian berpelukan. Aku tidak menerima bantahan" sahut Seokjin.

Dengan wajah keruhnya, Yoongi dengan berat hati mencondongkan tubuhnya ke arah Namjoon yang duduk disampingnya dengan tangan terbuka. Sementara itu Namjoon hanya tersenyum kecil dan menerima pelukan itu dengan kedua tangan yang menepuk-nepuk pelan punggung Yoongi.

Seokjin, Jimin dan Taehyung menatap keduanya dengan senyum yang terpatri di wajah masing-masing. Hoseok yang tidak melewatkan momen tersebut sedikitpun ikut tersenyum dengan tangan kanan yang siaga dengan kamera ponselnya -mengabadikan momen yang menurutnya sangat langka tersebut. Sementara itu, Jungkook yang berpura-pura sibuk dengan tugasnya yang sebenarnya sudah selesai memilih untuk menggigit bibir bawahnya. Ia menahan diri agar tidak tertawa saat melihat ekspresi wajah Yoongi yang terlihat sangat lucu di matanya.

"Baiklah, masalah yang ini selesai. Sekarang, mari kita selesaikan masalah satunya"

Senyum di wajah Taehyung dan Jimin seketika memudar.

"Jadi, apa masalah kalian, 95liner?" tanya Seokjin.

"Tidak ada hyung. Hanya masalah kecil" sanggah Jimin.

"Aku permisi ke kamar sebentar hyung" ucap Taehyung sebelum beranjak dari kursi yang didudukinya sejak tadi.

Hening kembali menyelimuti mereka hingga Taehyung kembali dengan sebuah tas kantong kertas berwarna hitam di tangannya.

"Jim, untukmu" Taehyung menyodorkan tas tersebut pada Jimin.

Jimin menerimanya dan melihat isi dari tas tersebut.

Satu, dua... Ada tiga bungkus pakaian dalam tas tersebut.

"Tae... Ini..."

"Aku benar-benar minta maaf Jim. Kemarin aku terburu-buru karena aku memiliki janji temu dengan teman-teman lamaku, jadi aku tidak sempat memisahkan pakaian berwarna putih dengan pakaian berwarna lainnya. Aku juga tidak tahu kalau baju baru Jungkook ternyata luntur" jelas Taehyung. "Itu pakaian baru untuk mengganti pakaianmu yang terkena lunturan. Semoga kau menyukai modelnya" ucap Taehyung lagi.

Jimin mengerutkan keningnya. "Mengenai baju itu... Um... Tidak masalah sebenarnya. Aku... Agh! Kenapa kau memberiku pakaian sebanyak ini? Kau hanya merusak satu, jadi kau hanya perlu menggantinya satu juga. Ah! Kau ini selalu saja pemborosan" omel Jimin yang dihadiahi cengiran oleh Taehyung.

"Tidak apa-apa Jim, ambil saja. Aku memang berniat untuk memberikannya padamu kemarin, tapi aku lupa dan terlelap begitu saja setelah pulang dari kantor karena terlalu mengantuk"

"Jadi kau tidak membelinya karena kau merasa bersalah? Kau membelinya karena kau memang ingin memberikannya padaku?"

Taehyung menggaruk kepalanya yang tak gatal.

O-ow... Sepertinya ia salah... Lagi...

"Jim, bukan begitu maksudnya. Ya! Hei!"

Taehyung mengejar Jimin yang merajuk dan berniat untuk mengunci dirinya di kamar yang mereka tempati bersama. Bersama Hoseok juga tentu saja.

"Ya! Park Jimin! Kalau kau mengunci pintunya aku dan Hoseok hyung tidur dimana?" Taehyung mengetuk pintu kamar tersebut dengan gerakan yang cukup brutal.

"Terserah! Dimana saja!" balas Jimin dari dalam kamar.

Semua anggota -minus Jimin dan Taehyung tentu saja- tertawa melihat tingkah keduanya. Bagi mereka Taehyung dan Jimin seperti sedang bermain drama. Sangat lucu sekaligus menggemaskan disaat yang bersamaan. Membuat Seokjin dan Hoseok sampai memekik gemas melihatnya.

Sebenarnya pertengkaran Jimin dan Taehyung tidak mengkhawatirkan, karena keduanya mudah untuk saling memaafkan satu sama lain. Seokjin hanya mencoba untuk menjadi penengah yang adil saja. Karena itu ia sengaja memancing keduanya agar mau berbicara. Tapi ia sungguh tak menyangka jika pertengkaran mereka akan berakhir seperti ini.

"Ah! Tas milik Jimin" celetuk Seokjin tak sengaja.

Hoseok yang sudah kembali menjadi dirinya sendiri -jahil dan berisik- menampilkan senyum jahil di wajahnya.

"Jiminie... Kalau kau tidak menyukai pakaian yang Taehyung berikan padamu ini, biar pakaian ini menjadi milikku, Jungkookie dan Jin hyung saja. Oke?"

"Berani kau menyentuhnya, selamanya kau tidak boleh menempati kamar ini lagi hyung!" sahut Jimin.

"Baiklah. Kalau begitu aku akan bertukar kamar dengan Namjoon"

"YA!"

Akhirnya mereka menghabiskan waktu menjelang tidur malam mereka dengan kegiatan rutin mereka. Berbincang, bercanda dan tertawa bersama. Minus Jimin tentu saja, karena ia masih betah mengurung diri di dalam kamar.

.

.

Aku merasa sangat bersyukur telah dipertemukan dan dipersatukan ke dalam sebuah tim dengan orang-orang seperti mereka.

Disini aku tidak hanya belajar, mengenal dan memahami tentang apa itu usaha dan kerja sama dalam sebuah tim saja, tetapi juga belajar tentang hal yang dinamakan berbagi.

Susah, senang, sedih, bahagia, semuanya telah kami lalui bersama.

Tawa dan tangis pun kami bagi bersama.

Dan yang terpenting adalah aku mengenal bentuk kasih sayang yang lain, yang sebelumnya tidak pernah kurasakan.

Persahabatan

.

.