A/N: I'm baack! Oke inilah chapter 2 dari Recovery (yang ngomong-ngomong title-nya dapet dari albumnya Eminem tapi anda pasti tidak peduli.)

Disclaimer: Saya bukan Rick Riordan, kalau saya Riordan pasti Katie jadi tokoh utamanya, bukan Percy dan Luke gak mati, tapi saya bikin jadi crackship favorit saya Luke/Katie. It doesn't even exist, not yet anyway.

Enjoy!

-o0o-

Sesampainya di perkemahan, tanpa kata lain Percy langsung pergi ke danau kano dan duduk di pinggirnya. Mengingat saat ia duduk bersama Annabeth pada hari ulang tahunnya yang ke-16. Ketiga temannya hanya membiarkannya pergi, tak ada gunanya menahan Percy jika ia ingin ke sana, mereka tau tidak ada yang akan bisa menghentikannya.

Memikirkan Annabeth rasanya membuatnya sesak. Begitulah, satu detik ia sedang berbicara dengannya di telepon, detik selanjutnya suara tabrakan di seberang telepon, saat ditemukan ia sudah tidak bernapas, kondisi tubuhnya sungguh mengenaskan. Mobilnya terjebak di tengah tabrakan dua truk besar dari arah yang berlawanan.

Jika saja waktu itu ia tidak menelpon gadis berambut pirang itu, pasti dia masih duduk di sebelahnya. Itulah yang selalu ada di pikirannya setiap kali ia mengingat saat itu, detik-detik terakhir kehidupan Annabeth. Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri, bahwa jika dia tidak menggoda Thanatos dengan meneleponnya saat ia sedang menyetir, dewa itu pasti tidak akan mengambil nyawa kekasihnya.

Percy bukanlah Percy, itulah yang ada di pikiran semua temannya. Percy tidak akan pernah memutuskan semua hubungannya dengan Camp Half-Blood, tidak akan pernah memutuskan hubungan dengan semua temannya, Percy tidak akan pernah menenggelamkan dirinya dalam pekerjaannya, walaupun itu adalah pekerjaan yang sangat disukainya sekalipun.

Sally sudah menyerah merubah anaknya kembali. Ia sungguh sudah berusaha, bahkan ia secara khusus meminta kepada salah satu rekan kerja anak laki-laki satu-satunya itu untuk mengajaknya berteman, anak itu harus bergaul, begitu katanya. Tetap saja ia menutup diri, tidak pernah ia memberi tawa atau bahkan senyum yang benar-benar dari hatinya.

Bahkan ayahnya, dewa laut, Poseidon, sudah berbicara dengannya. Berusaha membuatnya membagi pikirannya, karena semua orang tahu tidak baik memendam kesedihan sendiri, bisa bikin stress kata mereka.

Percy sendiri merasa kosong. Sudah beberapa kali ia berusaha untuk mengakhiri hidupnya, memotong urat nadinya tapi ia tidak pernah mampu. Sudah tak terhitung berapa kali ia berpikir untuk melakukannya –bunuh diri- dan lebih tak terhitung lagi berapa kali ia merasa hidupnya sudah tidak berarti. Cliche sekali, ingin mati karena kematian salah satu orang terpenting di hidupnya –setelah Sally dan Poseidon- seperti sinetron saja, tapi ini kenyataan, dan ia sungguh ingin bertemu Annabeth, medengar suaranya sekali lagi, sekali saja.

"Percy." Seseorang duduk di sebelahnya. Tanpa melihat saja ia sudah tau itu siapa, Thalia, sungguh tidak disangka (sarkasme). Ia tidak menjawab, tetap menatap kosong ke arah danau, seakan tak ada perbedaan yang terjadi ada atau tidak Thalia di sana. "Percy, aku serius." Gadis itu membelalak padanya.

"Apa?" Ia dengan malas melihat ke arah gadis itu, "Apalagi yang akan kau katakan- Kau harus melanjutkan hidupmu? Kau tahu dia tidak akan kembali kan?" Gadis itu tertegun, mengingat apa yang dikatakannya tepat setahun lalu di pantai, "Lupakan saja Thalia." Ia memutar bola matanya dan kembali melihat danau,

Gadis itu mengerang dan berdiri, "Jika kau begini terus mungkin sebaiknya kau mati Percy." Ia berkata ketus dan pergi. Ia sudah muak dengan sikap sepupunya (semacam itulah) itu. Tidakkah pria itu mengerti ia tidak akan hidup selamanya? Bahwa ia tidak seharusnya membuang-buang waktunya seperti itu?

"Kau bilang apa ke Thalia? Dia keliatan marah... banget." Sebuah suara berkata di belakangnya. Ia menengok untuk melihat Katie Gardner-Stoll, menyandarkan bahunya di pohon dekat Percy, tangannya bersedekap di dadanya, dengan senyum tersungging di bibirnya. Ia selalu menjadi satu-satunya orang yang bisa menarik semua jawaban dari Percy, walaupun pria itu selalu membuatnya bersumpah di atas sungai Styx untuk tidak mengatakannya pada siapapun, bahkan suaminya.

"Aku nggak butuh bantuannya." Lelaki itu menyandarkan tubuhnya ke batang pohon yang disandari Katie, "Dia selalu merasa dia yang paling benar, ngeselin banget." Ia mengambil sebuah batu dan melemparnya ke air, batu itu memantul tiga kali sebelum tenggelam ke dalam danau.

"Kalau nggak mau dibantu, jangan buat dirimu terlihat seperti harus dibantu. Sumpah, kau terlihat seperti Travis waktu dia kembali setelah sembunyi di gudang selama tiga hari untuk menghindari anak Ares." Istri Travis Stoll itu tertawa kecil.

"Itu baik atau buruk?" Percy nyengir ke arahnya.

Perempuan itu tertawa, "Jika kau mencintai seseorang bagaimanapun rupanya ia terlihat seperti orang yang paling sempurna di muka bumi ini." Ia tersenyum, memandang matahari (atau sun chariot Apollo). Tanda makan malam terdengar. "Ayo, kau punya saudara baru." Ia menyeret pria itu agar berjalan ke paviliun makan.

"Saudara baru?"

"Saudari sebenarnya. Dan aku minta kau untukbaik kepadanya dan membenarkan hidupmu, kurangnya interaksi sosial bisa menimbulkan keterbelakangan mental tau. "

"Saudari?"

"Iya bodoh, kau terdengar seperti orang yang tinggal terasing selama 50 tahun." Balas wanita itu, berjalan ke mejanya, meja Demeter, sementara temannya berjalan ke meja Poseidon. Memang ada seorang anak perempuan disana, mungkin 13 atau 14 tahun. Rambutnya cokelat lurus, hanya mencapai pundaknya dan matanya berwarna seperti matanya sendiri, hijau laut. Ia sedang mendengarkan musik dari iPod-nya. Percy duduk di depannya dan gadis itu mematikan iPod-nya dan melihat pria itu, memicingkan mata.

"Kau pasti Percy Jackson." Ia memasukkan iPod-nya ke kantong celananya, "Aku Taylor Summers, senang bertemu denganmu." Gadis itu berusaha memberi sebuah senyum tetapi tidak berhasil. Pria itu bisa melihat Ia adalah gadis yang sudah melalui banyak hal yang tidak menyenangkan. "Aku sudah disini sejak musim dingin yang lalu, tapi kau tidak ada, tenang saja, kau tetap konselor." Gadis itu melihat ke sekitarnya. Tapi Percy tidak pernah benar-benar ingin menjadi konselor, dan serius, ia sudah setahun tidak ke sana, masa dia tetap jadi konselor sih?

Anak laki-laki Poseidon itu tidak pernah merasa menjadi konselor adalah suatu hal yang menyenangkan. Kalau dia sendiri sih enak saja, dia mengatur semuanya, berdua juga tidak apa - apa. Tapi kalau anggota kabinmu banyak seperti kabin Apollo, Athena, atau Aphrodite kan melelahkan, mengatur begitu banyak pekemah yang berumur lebih muda darimu, beusaha mengatur mereka agar tidak melakukan hal – hal yang tidak diinginkan. Ia mengerti fakta itu dari Annabeth, waktu mereka berumur 18 tahun. Ia curhat padanya tentang susahnya menjadi konselor jika semua anggota kabinmu adalah anak – anak yang (terlalu) pintar dan keras kepala. Mengingat saat itu, dadanya sesak, mengingat suara Annabeth tertawa saat ia berkata bahwa anak Athena terlalu pintar untuk kebaikan mereka sendiri.

Pria itu berdeham, "Ya, tentu saja. Aku konselor, ya." Ia menggaruk kepalanya, kebingungan akan apa yang harus ia katakan pada gadis berumur 14 tahun ini. Ia harus ramah tapi bahkan ia sudah lupa bagaimana caranya untuk menjadi 'ramah'. "Hei, uh... ceritakan kepadaku ceritamu ya, setelah makan malam. Maksudku... kau saudaraku, aku harus mengenalmu dan cara yang terbaik untuk mengenalmu adalah jika-" Ia berhenti saat gadis di depannya tertawa kecil.

"Aku tau kau berusaha ramah, tapi jangan dipakasakan oke? Aku mengerti, aku sendiri kehilangan seseorang sepanjang jalanku ke perkemahan. " Taylor tersenyum, mungkin untuk pertama kalinya sejak saat ia sampai ke perkemahan. Jika saja pria itu sadar, bahwa ia baru saja membuat seseorang tersenyum sejak kematian Annabeth untuk pertama kalinya. Bahwa jika ia berusaha ramah sedikit saja, bahkan mungkin tidak bisa dihitung sebagai ramah bisa membuat satu orang tersenyum, bahwa memang adaalasannya dirinya hidup di dunia ini.

"Siapa- Setelah makan malam oke? Aku tidak bisa lebih tidak peduli tentang api unggun." Ia mengalihkan perhatiannya pada Chiron yang menghentakkan kakinya ke tanah, meminta perhatian dari seluruh pekemah.

Setelah ia mendapat perhatian seluruh pekemah, Chiron berdeham, "Selamat malam para blasteran. Harap diperhatikan bahwa besok akan ada permainan Capture The Flag. Timnya adalah Athena lawan Hades. Kedua kabin harap memilih timnya masing – masing. Yang kedua, seorang pahlawan telah bergabung dengan kita kembali setelah satu tahun, Percy Jackson. Kami merindukamu, nak." Ia tersenyum kepada Percy, "Silahkan, melanjutkan makan malam kalian, terima kasih." Ia menutup pengumuman itu dan kembali ke mejanya. Oh bagaimana Percy merindukan Centaur yang bijak itu dan nasihat – nasihatnya.

Beberapa pekemah yang masih kecil dan belum pernah bertemu dengannya berbisik – bisik seraya mencuri lihat akan pahlawan Olympus itu, tetapi ia diam dan melanjutkan makan malamnya dengan tenang, tapi sepertinya adiknya tidak sependapat, "Foto saja, bisa tahan lebih lama." Gadis berumur 14 tahun itu berkata sinis, cukup keras untuk didengar oleh samua orang di paviliun makan. Semua pekemah yang bisa dibilang jarang mendengar gadis itu berbicara, apalagi marah, langsung diam. Kakaknya memberinya tatapan penuh terima kasih dan ia membalasnya dengan sebuah anggukan.

-o0o-

"Jadi?" Percy membaringkan tubuhnya di kasurnya, melihat adiknya dengan penuh antisipasi. Sudah lama ia tidak mendengar cerita – cerita blasteran yang sampai ke perkemahan berhubung sudah setahun ia tidak ke sana.

"Nama lengkapku Taylor Ariana Summers, aku 14 tahun. Ulang tahunku... Aku nggak pernah tau ulang tahunku kapan, tapi bulan November, soal itu aku yakin. Aku sekolah cuma sampai SD, selanjutnya aku nggak sekolah karena yah nggak ada sekolah yang mau nerima aku. Satu – satunya benda peninggalan ibuku itu kamera tu." Gadis itu menunjuk kamera yang tergantung di dinding, "dia fotografer, tapi dia ehm... hilang di Arizona saat ada proyek mengambil foto di sana." Ia menghembuskan napas panjang.

"Saat kau jalan ke perkemahan?" Percy bertanya lagi, ia selalu senang mendengarkan cerita – cerita perjalanan berbagain blasteran ke perkemahan. Dulu ia biasanya mendengarkan cerita setiap pekemah yang baru datang dengan Annabeth. Cerita mereka selalu unik, berbeda satu sama lain, dan ia ingin menunjukan bahwa perkemahan blasteran benar – benar peduli tentang mereka, tidak hanya menampung mereka saja.

"Aku kehilangan temanku, dia anak Demeter, setahun lebih tua dariku. Dia bahkan nggak sempat liat New York saat ia diserang di dekat rumahku." Suaranya berubah, sedikit lebih mengandung emosi daripada kata – katanya yang biasanya datar tanpa mengandung emosi, "Salahku sebetulnya." Ia menambahkan, oh sebagaimana ia sangat bersyukur Percy tidak dapat melihat wajahnya dan matanya yang berair sekarang karena dia di tempat tidur dibawah kakaknya itu.

"Dia-""Aku tidak bisa." Gadis itu berkata dingin sebelum pria itu bahkan bisa menanyakan pertanyaannya, "Cerita tentang Annabeth gimana?" Ia merubah topik pembicaraan mereka, merasa tidak nyaman dengan topik yang sensitif baginya itu.

"Seperti dia ada ke manapun aku melihat di perkemahan. Mungkin aku akan pulang besok. Aku... aku nggak bisa di sini." Jawab pria itu.

"Good luck, Jackson." Gadis itu berkata, membaringkan tubuhnya di kasurnya.

"Lights out." Percy mematikan lampu dengan tali yang dia sambungkan dengan lampu 3 tahun yang lalu agar mudah mematikan lampu saat ia sudah malas turun dari tempat tidur untuk mematikan lampu.

-o0o-

Masih pendek kah? Udah disuruh melepaskan komputer nih sama kakak saya tersayang.

Ya, aku masukin karakter Taylor Summers mulai dari sini, dia seseorang yang akan berperan besar dalam cerita ini, sangat besar actually.

Umm yeah, R&R, maaf proses writingnya agak terganggu sama The Story Of Us, inspirasi song-fic lagu itu kalau gak dikeluarin gak bisa ngelanjutin cerita apapun karena.

Ditulis dibawah pengaruh:

Semua lagu Taylor Swift di album Speak Now Deluxe edition + lagu All Time Low yang saya tau.

Brought Up That Way – Taylor Swift

I May Be A Thief But You Stole My Heart, a Fall Out Boy fanfiction in fanworks(dot)org