Yo Akhirnya bisa update lagi. Saya minta maaf banget untuk chapter kemarin karena banyak Typo. saya maaf beneran itu memang kesalahan. Waktu saya ngonvert cerita saya berformat Doc ke Story, banyak kata kata yang hilang dan paragrafnya berantakan dan langsung saya publish gitu aja tanpa diteliti lebih dulu, jadinya ancur deh. Saya juga mendapat sedikit komentar tentang pandangan saya tentang dunia dxd. Jadi saya minta maaf kalau pandangan saya terkesan meremehkan. meskipun sebelumnya saya belum melihat animenya tapi saya sudah baca profil Charakter2nya di wikipianya dan lihat beberapa pertarungannya di You tube jadi saya langsung ambil kesimpulan gitu aja dan sudah mengambil kesimpulan yaitu Gread red dan Shiva adalah charakter terkuat di DXD. Kalau ada yang nggak setuju dengan pandangan saya. saya gak menyalahkan, semua orang boleh kok berpendapat. Kalaupun memang ada tokoh DXD yang lebih kuat dari Madara, itu bukannya justru sangat menguntungkan bagi Madara. Karena dengan itu dia bisa punya boneka yang mematuhi semuanya keinginannya. hanya dengan menggunakan Genjutsu mengenkyou Sharinggannya seperti halnya kyuubi di anime Naruto. tapi saya ngalah deh untuk melanjutkan fic ini, saya sekarang sudah nonton sampe season 3 Ep11 pngennyaa nrusin lewat Novelnya. makanya chapter kali ini sedikit pertarungannya sambil nyelesaiin ceritanya. namun saya minta maaf, smpe season 3 pandangan sya blm brubah. tapi jangan khawatir perubahan itu masih mungkin kok. Satu pertanyaan? Apa yang terjadi dengan Sacreed Gear bila penggunanya terbunuh?apa berenkarnasi keorang lain atau gmana?. ok gitu aja maaf kepanjangan silahkan menikmati.


.

Madara DXD : a Savior or Tormentor

Chapter 2 : Kehidupan Baru

Disclaimer : Yang pasti bukan punya saya

Author : ini baru saya~ Anggarda sang El23

Rating : M

Pair : Yang pasti Harem

Warning : Mungkin OOC, mungkin Pasaran, mungkin aneh, dan berbagai kemungkinan lainnya, jadi waspadalah.

.

.

.

Matahari terbit dari timur menyapa bumi dengan cahayanya yang membuat pagi hari ini tampak cerah dan memaksa semua orang yang masih terlelap di alam mimpinya untuk segera bangun melakukan aktifitasnya. tak terkecuali seorang pria berambut reven panjang yang kini perlahan mulai membuka matanya dan menampakakan iris biru gelap dengan pola riak air itu kepada dunia.

"ugh yare yare, kepalaku pusing. tidur tanpa bantal ternyata berpengaruh pada mimpiku, masak aku tadi bermimpi mencebok pantat Hashirama"kata Madara. dia mengingat ngingat kembali mimpinya semalam.

"brrr yek itu mimpi buruk." Kata madara dan kini tubuhnya kejang kejang memikirkan mimpinya.

"sebaiknya aku segera mandi dan melakukan semua hal yang perlu dilakukan untuk hidup didunia baru ini. kemarin terlalu malam untuk menyelesaikannya." ujar Madara pada dirinya lalu ia segera bangkit keluar kamar dan turun kebawah menuju kamar mandi.

Setelah selesai Madara memakai salah satu pakaian yang dibelinya tadi malam sesaat sebelum pulang dan memajang baju Zirahnya disebuah lemari yang dibuat khusus untuk barang barang Shinobinya dengan Mokutonnya. dia juga memunculkan kedua senjatanya dari pusaran kamui yakni sebuat sabit dan senjata berbentuk gitar yang bernama Gunbai yang kemudian dia gantung di bilik kiri lemarinya bersebelahan dengan baju ziranya yang berada dibilik kanan. Lalu dia menutup lemarinnya dan menempelkan selembar kertas segel.

"Fuin"Madara menyegel lemari tersebut sambil tangan kanannya mengacungkan telunjuk dan jari tengah yang menyatu rapat.

Madara keluar dari rumahnya menggunakan celana kantoran berwarna hitam dengan atasan kemeja putih panjang bergaris vertikal berwarna biru.

Dia melihat kesamping 2 orang pasangan jompo berdiri didepan rumah yang berada disamping memandang rumah Madara dengan tampang bingung dan takjub diwaktu bersamaan.

'sepertinya mereka kebingungan kenapa tanah kosong bisa tumbuh pohon yang berbentuk rumah yang begitu indah' batin Madara.

Lalu Madara berlalu pergi meninggalan 2 orang jompo yang masih memandang heran rumah madara. Madara kini menuju kekantor kantor yang membuat semua keperluannya untuk hidup didunia ini hingga dia mendapatkan semuanya yang diantaranya akte kelahiran,KTP,dan ijazah mulai dari PLAY GROUP,TK,,MI,SD,SMP,SMA,S1,S2,S3,sampai ST12 yang tentunya semuanya palsu. Madara melekukan semua itu dengan hanya bermodalkan Sharinggan miliknya. lalu kembali ke jasa agensi yang menjual tanahnya dan menyelesaikan administrasi yang kemarin belum sempat diselesaikan gara-gara dirinya belum mebuat KTP.

Dengan bersiul siul kini Madara berjalan santai membawa koper yang berisikan map dari semua kertas-kertas tadi menuju SMA Kuoh. Ketika ia sampai, ia langsung mencari ruangan kepala sekolah tanpa mempedulikan teriakan genit para gadis dan jeritan para lelaki menyumpahi seseorang yang berhubungan dengan tampan.

Setelah sampai diruangan kepala sekolah Madara langsung masuk dan berdiskusi cukup lama yang kebanyakan dari diskusi itu hanya berupa rentetan pertanyaan dari sang kepala sekolah mulai dari nama,alamat,berat badan,ukuran pakaian dalam dan sejenisnya yang tak perlu author jelaskan.

Setelah selesai Madara keluar dengan senyum konyolnya membawa beberapa seragam mengajarnya yang diberikan kepala sekolah karena Madara akan langsung mengajar hari ini juga. dia langsung mengambil salah satu seragamnya dan yang lainnya ditaruh ditas koper yang dibawanya dan pergi kekamar mandi untuk ganti baju.

.

Skipp time

.

Setelah selesai dengan semua urusannya. Madara kini sedang berdiri didepan pintu salah satu kelas kelas menunggu guru pengajar yang ada didalam memanggilnya dan mengenalkannya.

"Anak-anak,sekolah kita hari ini kedatangan guru baru. Sensei harap kalian semua baik padanya."kata seorang guru yang mengajar dikelas yang selanjutnya akan diajar oleh Madara.

"Madara-san ayo segera Masuk"guru yang didalamnya itu memangggil Madara yang berada diluar.

"krieet"pintu kelas bergeser dan Madara masuk kedalam dengan senyum palsunya.

"Ohayou minna,Hajimashite Namae wa Uchiha Madara,Mulai hari ini saya akan menjadi guru sastra untuk kalian dikelas 3 dan saya juga sebagai guru olahraga untuk kelas 1 dan 2."Kata Madara sambil tersenyum kali ini dengan tulus.

Lalu senyum Madara langsung hilang dan diganti dengan tampang ngeri karena ternyata reaksi dari murid muridnya adalah-.

"KYAAA!SENSEI TAMPAN SEKALI"

"SENSEI JADILAH PACARKU!"

"SENSEI MAU TIDUR BARENG AKU ?"(Author:"ok yang itu jangan ditiru").

" SENSEI NO HPNYA DIMANA"

"ALAMAT RUMAHNYA BERAPA"

Madara langsung sweatdrop ketika mendengar 2 pertanyaan terakhir. ketika semuanya masih berteriak menghujani Madara dengan rentetan pertanyaan yang tak dijawab oleh Madara, Madara tanpa sengaja melihat seorang gadis berambut hitam yang diikat seperti ekor kuda yang tengah tersenyum padanya. dia adalah gadis yang menciumnya secara paksa tadi malam yaitu Akeno Himejima.

'rupanya gadis cerewet itu sekolah disini! aku punya firasat buruk dengan senyuman itu.' batin Madara.

Akhirnya guru yang tadi mengenalkan Madara berinisiatif menghentikan acaranya.

"Baiklah,sudah cukup untuk pengenalannya murid murid. silahkan menikmati sensei baru kalian. Madara-san saya permisi dulu"ujar guru tersebut pamit kepada Madara yang hanya dibalas oleh anggukan kepala.

'Menikmati? sialan, dia kira aku gigolo' umpat Madara dalam hati.

"Baiklah mari kita mulai pelajaranya. buka buku dektat halaman 439!"kata Madara sambil menuliskan sesuatu dipapan tulis. sungguh sekolah tingkat tinggi sampai-sampai bukunya saja mencapai halaman 439 itupun belum sampai halaman akhir.

Seorang gadis bermbut merah Crimson yang kita tahu yakni Rias Gremory. kini memandang takut Madara yang kini sedang menulis di papan tulis.' bukankah dia orang yang kemarin mengalahkan malaikat jatuh yang membunuh Issei. dia menjadi guru disini, apa yang direncanakannya.' batin Rias. dirinya masih ingat jelas dengan orang kemarin yang mengalahkan Raynare hanya dengan menatapnya.

.

Skiip time

.

Kring...Kring...

Bel isitrahat berbunyi

"baiklah,minna kita lanjutkan pelajaran ini minggu depan" ujar Madara pada murid muridnya lalu pergi meninggalkan kelas.

Akeno berdiri. dia ingin mengejar dan menemui Madara yang kini telah menjadi gurunya. namun seseorang memegang tangannnya.

"ada apa Rias "tanya Akeno pada orang yang memegang tangannya.

"Kita harus berkumpul sekarang juga." Jawab Rias

"Ha'i"jawab Akeno dengan nada malas.'sebaiknya aku menemui Madara-kun nanti saja habis pulang sekolah saja'ujar Akeno dalam hati.

.

O.o

.

Kini telah berkumpul 4 orang di sebuah bangunan bergaya eropa didekat sekolah yang digunakan untuk menjadi ruang club, club penelitian ilmu gaib.

"ada apa bucho menyuruh kami berkumpul"jawab seorang pria berambut pirang dengan wajah rupawan dialah Yuuto Kiba.

"Begini kita kedatangan seorang guru baru"jawab Rias

"guru baru?ara ara maksudmu Madara-kun"tanya Akeno

Seketika semua orang diruangan itu menatapnya dengan tatapan penuh selidik terutama Rias. bagaimana tidak,dia baru saja menambahkan sufix'kun' pada seorang gurunya, yang juga belum sehari mengajar disekolah ini.

"Aku memang mengenalnya"seolah dapat membaca pertanyaan di pikiran Rias, Akeno langsung menjawabnya.

"sejak kapan kau mengenalnya"tanya Rias.

"tadi malam jam 7. Dia adalah penyelamatku"jawab Akeno dengan senyumnya hingga matanya menutup membuatnya tampak manis.

"penyelamat?"kini kiba mewakili pertanyaan Rias. meskipun dia belum bertemu dengan guru baru itu tapi dia penasaran dengan cerita Akeno.

"Dia menyelamatkanku yang hampir ditabrak oleh truck sampah"jawab Akeno masih dengan senyumannya.

"haa,bagaimana bisa seorang yang kekuatannya setara dengan iblis menengah keatas seperti Akeno-san tidak menyadari Truck sampah yang sedang mengarah kepadamu"tanya kiba. dia sedikit cengoh pada Akeno yang kekuatannya setara dengan iblis kelas menengah keatas yang biasanya dapat menyadari hawa seorang musuh dengan mudahnya tapi kenapa tak bisa menyadari sebuah Truck sampah yang akan menabraknya.

"eh,et-eto etoo"kini Akeno salah tingkah, kini pipinya merona. bagaimana tidak,mengingat tingkah konyolnya tadi malam karena saking gugupnya berjalan berduaan dengan Madara hingga membuat jantungnya cenat cenut sampai sampai tak menyadari Truck sampah yang akan menerjang tubuh seksinya.

"sudahlah,memangnya apa hubungan Madara-sensei hingga membuat bucho mengumpulkan kita semua?"tanya Akeno. dirinya berusaha mengalihkan perhatian agar dapat menghindari pertanyaan yang akan membuatnya malu tersebut.

"ok kembali ketopik. dia bukan Manusia biasa"kata Rias pada semua peeregenya.

"apa itu maksudnya"tanya Akeno.

"begini,kemarin sore waktu aku menyelamatkan Issei orang itu muncul dan mengalahkan malaikat jatuh yang membunuh Issei." Kata Rias menjelaskan.

"apa bucho tak salah lihat?"kini yang bertanya adalah seorang gadis mungil berambut putih yaitu Koneko Toujou.

"tidak aku yakin dia orangnya, dia mengalahkannya hanya dengan menatapnya"Jawab Rias.

Seketika semua orang disana terkejut dengan ucapan Rias.

"itu mustahil"kata Kiba.

"itulah kenyataannya. maka dari itu aku ingin kalian semua mengawasinya dan berhati-hatilah"perintah Rias kepada semua peeregenya yang hanya dibalas dengan anggukan kepala

.

O.o

.

Sore hare telah tiba,tampak langit yang mulai gelap pertanda malam akan segera tiba. kini Madara sedang melewati sebuah taman menuju rumahnya sambil memakan onigiri yang dia beli dikantin sekolah tadi.

"Madara-kun"seseorang menghambur memeluk Madara dari belakang hingga membuatnya tersedak onigirinya yang masih bulat bulat.

"uhuk,uhuk,uhuk,egh"Madara kesusahan menelan onigirnya yang masih nyangkut ditenggorokannya.

"egh,biar kubantu"kata orang tadi yang ternyata adalah Akeno. dia mengeratkan pelukannya dari belakang dan memukul punggung Madara dari belakang hingga membuat onigirinya keluar dari mulutnya.

"uhuk,uhuk!ugh Yare yare, apa apaan kau ini?"kata Madara.

"eh gomen, aku hanya senang saja ternyata kau bekerja disekolahku itu artinya kita bisa lebih dekat. ini minumlah"kata Akeno sambil menyerahkan sebuah botol berisikan air minum.

"gleek,gleek,gleek"Madara meminumnya hingga tandas tak tersisa. lalu menyerahkan kembali botol minumman yang telah kosong itu pada Akeno.

"arigatou"kata Madara.

"ara ara bagaimana, sudah lebih baik"tanya Akeno.

"Hn"jawab Madara.

"ngomong ngomog Madara-kun, sekarang kau tinggal dimana"tanya Akeno

"tinggal dirumah"jawab singkat Madara.

"rumahmu sekarang dimana"tanya Akeno lagi.

"ditanah yang kemarin"Jawab Madara.

"eh, apa kau membuat tenda disana"tanya Akeno.

"tidak"jawab Madara singkat

"lalu"tanya Akeno lagi.

kini telah muncul peremapatan disamping keningnya."aku tinggal dirumah"jawab Madara lagi.

"loh kok bisa. sejak kapan rumahmu dibangun padahal kemarin hanya tanah kosong, cepat sekali"tanya Akeno lagi dan lagi

"itu bukan urusanmu, kau ini cerewet sekali."jawab Madara dengan nada jutek.

"ara ara sekarang itu harus jadi urusanku. aku harus lebih mengenal dekat dengan penyelamat hidupku"kata Akeno dengan nada menggoda.

"itu hanya kebetulan. lagian jika kau ditabrak belum tentu kau mati, jadi jangan melebih lebihkan."kata Madara dengan nada malas.

"fu..fu..fu..fu kau lucu Madara-kun. bagaimanapun insiden kemarin sangat berbekas dihatiku"Kata Akeno dengan senyum manisnya.

"Apa mak-."

"TOLOOONG"Ucapan Madara terhenti oleh suara orang minta tolong.

"Siapa saja tol-""JLEB"teriakan orang itu terhenti ketika perutnya ditusuk dengan sebuah tombak cahaya.

"Issei"teriak Akeno. saking senangnya berjalan dengan Madara dia sampai tidak mengetahui hawa keberadaan Issei dan seorang Malaikat jatuh yang kini menatap Akeno dan Madara.

"siapa kalian,karena kalian telah melihat,kalian harus mati"kata malaikat jatuh itu.

"kau saja yang mati sana. aku Cuma lewat,aku tak punya urusan dengan gagak yang bisa bicara sepertimu"ujar Madara dengan nada bosan. lalu dia kembali melanjutakan perjalanannya.

"Madara-kun kita harus menolong Issei dia juga muridmu"kata Akeno. meskipun dirinya adalah seorang gadis yang bisa dbilang sadis terhadap musuh musuhnya namun dia tidak begitu jika pada kawannya.

"Aku tak peduli,Aku sudah bebas tanggung jawab setelah keluar dari sekolah. bahkan aku membiarkanmu memanggilku Madara-kun"kata Madara cuek.

"KISAMAA,beraninya kau"teriak malaikat jatuh tersebut. lalu terbang cepat menyerang Madara dengan tombak cahayanya.

Madara hanya menoleh dan menampakkan mata dewanya. malaikat jatuh itu terkejut dan membelalakan matanya. ketika serangan malaikat jatuh itu tinggal satu kaki lagi terkena Madara seketika malaikat jatuh itu terpental puluhan meter dan berakhir dengan menabrak salah satu pohon di taman tersebut.

Akeno membelalakan matanya atas kejadian barusan. 'ternyata Rias benar,Madara-kun bukan manusia biasa'. Madara masih berjalan santai tidak mempedulikan sekitar. Akeno kini menatap tajam Madara lalu ia menghampirinya dan menarik tangan Madara dan membawanya ke tempat Issei yang masih terkapar.

"Setelah menyelamatkan Issei, kau harus menjelaskan semua ini padaku Madara-kun."kata Akeno yang kini sedang mencoba menyembuhkan Issei dengan sihir penyembuhnya.

Madara hanya menguap mendengarnya"Hoaam. aku mengantuk sekali apa yang perlu dijelaskan"tanya Madara dengan nada malas.

"ugh"malaikat jatuh itu bangkit.

"kau, kau orang yang dibicarakan Raynare-sama, orang yang mengalahkan Raynare-sama"ujar Malaikat jatuh dengan bergetar ketakutan.

"siapa itu Rantale,,"tanya Madara yang langsung diberi jitakan keras dikepalanya oleh Akeno.

"ittai.. apa apaan kau ini"ujar Madara,dia mendelik kearah akeno.

"baka,,bukan saatnya bercanda saat seperti ini"kata Akeno yang juga mendelik kearah Madara.

"Kau,, siapa kau dan apa tujuanmu menyerang Issei. jawab kalau tidak aku tak akan melepaskanmu"tanya Akeno pada Malaikat jatuh itu.

Bukannya menjawab namun malaikat itu malah terbang dia berniat kabur. tapi hal itu tak dibiarkan Madara. Madara merentangkan tangan kirinya kearah Malaikat jatuh itu lalu 'Bansho ten'in '. seketika tubuh Malaikat jatuh itu tertarik kearah Madara. lalu Madara menangkapnya dengan mencekik lehernya.

"jawablah jika seorang gadis sedang bertanya padamu"kata Madara dengan tampang datar nan dingin. namun ekspresinya beda dengan gadis disebelahnya. kini dia tersenyum sadis dengan sedikit rona merah menghiasi masing masing pipinya. 'fu..fu..fu..fu Madara-kun keren'batinnya.

"ugh,,egh,,egh"hanya itu jawaban yang keluar dari sang malaikat jatuh yang tengah berusaha melepaskan tangan yang sedang mencekik lehernya.

"Madara-kun dia tak kan bisa menjawab jika kau terus mencekiknya"kata Akeno pada Madara. dia sedikit sweatdrop melihat ketidakpekaan lelaki yang kini telah mencuri hatinya itu.

"terserah kaulah"kata Madara cuek. dia melepaskan cekikannya hingga makluk yang dicekiknya itu langsung jatuh dengan pantat yang mendarat pertama kali. sungguh pendaratan yang tidak elit.

"uhuk,uhuk,uhuk,eghh."malaikat jatuh itu terbatuk dan meringis kesakitan sambil mengelus ngelus pantatnya.

"hoi hoi cepat jawab,,pertanyaan Akeno tadi"kata Madara sambil menusuk-nusukkan ujung sepatu pentofelnya ke pantat Malaikat jatuh yang masih mengelus-ngelus pantatnya itu.

"Namaku Dohnaseek,aku disini untuk menyelesaikan perkerjaan Rayenare-sama yang kemarin digagalkan"jawab malaikat jatuh tersebut yang ternyata bernama Dohnaseek.

"Apa yang kau maksud Raynare adalah wanita yang tidak memakai bajunya dengan benar itu"tanya Madara

Mendengar pertanyaan Madara yang terdengar konyol itu membuat Dohnaseek sweatdrop "Ha'i"jawab Dohnaseek.

"apa maksudmu Madara-kun"tanya Akeno.

"ya seperti yang kubilang,pakaiannya Aneh sekali. ahh lupakan sebaiknya kita apakan dia dan juga teman temannya." kata Madara.

Akeno dan Dohnaseek menatap Madara dengan tatapan bingung.

"Teman-temannya yang mana Madara-kun"tanya Akeno.

"Yare Yare. itu yang disana, yang sembunyi dipohon itu"jawab Madara malas sambil menunjuk kearah pohon yang jauh dari tempat mereka bertiga.

Spontan kepala Akeno dan Dohnaseek langsung menatap kearah pohon yang ditunjuk Madara. sedangkan 3 orang yang bersembunyi dipohon itu terkejut bukan main. mereka masih syok dengan melihat bagaimana mudahnya Madara mengalahkan Dohanassek. dan kini mereka tambah syok karena Madara menyadari keberadaan mereka padahal mereka bertiga sudah berusaha menekan kekuatan mereka hingga hawa keberadaanya tak bisa dirasakan bahkan oleh Akeno yang kekuatan iblisnya setara dengan iblis menengah keatas.

"Tidak ada siapa siapa disana Madara-kun"kata Akeno. Dohnaseek hanya diam ditempat menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. sedangkan Madara dia hanya menguap bosan'ini sudah hampir malam tapi masih aja ada masalah . tak apalah sambil mencari informasi'batin Madara.

"kalian bertiga,cepat keluar. ini sudah malam, kalau kalian ingin cari masalah cepat kita selesaikan, aku sudah mulai ngantuk"ancam Madara yang tak terdengar seperti sebuah ancaman melainkan sebuah keluhan.

"Bucho bagaimana ini?" tanya satu-satunya lelaki yang bersembunyi disana.

"Baiklah,kita ke-"belum sempat orang yang dipanggil Bucho itu menyelesaikan kalimatnya, tubuh ketiga orang yang bersembunyi itu tertarik mengarah ke Madara bagaikan besi yang ditarik oleh magnet.

"kalian terlalu lama"ujar Madara yang kini tengah menarik para Stalker dari pohon tempat mereka bersembunyi dengan Bansho ten'in.

"Bucho !Madara-kun hentikan, mereka berdua teman"pinta Akeno. Madara langsung menghentikan jutsunya yang mengakibatkan ketiga orang yang masih berada diudara itu jatuh dengan gaya mereka masing-masing. Rias dengan pantat yang mendarat duluan hingga menampilakan kain berwarna ping yang selalu tertutup rok sekolahnya itu terlihat dengan indahnya, Kiba dengan wajahnya yang digunakan sebagai pendaratan hingga membuat wajah rupawan itu mencium tanah. sedangkan yang terakhir adalah Koneko dengan posisi terlentang seperti orang berjemur dipantai. sungguh posisi yang paling terlihat begitu santai.

"Daijoubu desuka, minna?"tanya Akeno pada ketiga orang temannya yang terjatuh tadi.

"Ha'i"jawab Koneko dengan wajah datar seolah tak merasa telah terjatuh dengan gaya orang liburan.

"ugh,pantatku sakit" kini Rias yang menjawab.

"kalian mengapa tidak pulang kerumah kalian masing-masing. jika aku ketahuan kepala sekolah membiarkan murid-murid sekolahku berkeliaran menjadi seorang Stalker dengan masih memakai baju seragam, aku pasti yang akan kena marah olehnya." Madara memarahi ketiga muridnya sampai sampai semua murid itu terkena kuah Madara hingga membuat wajah mereka terlihat seperti habis olahraga.

"sudahlah Madara-kun, sekarang kita apakan Malaikat nakal ini"tanya Akeno menyudahi kegiatan Madara yang menjadi tukang ceramah. Akeno kini sedang tersenyum kearah Dohnaseek. namun tangannya menunjukkan kebalikan dari ekspresi wajahnya. dari tangannya, Akeno menciptakan kilat berwarna kuning dan memain-mainkannya. Dohnaseek yang melihatnya langsung meneguk ludahnya.

"Yare yare terserah kau saja,aku ingin pulang. aku tadi pagi memesan sebuah TV. mungkin sekarang pengantarnya sedang dalam perjalanan."ujar Madara lalu berlalu pergi dari tempatnya.

"Ara ara,,Madara-kun kau tidak asik. kau tidak boleh pergi dulu, kau harus menjelaskan semua ini pada kami"kata Akeno

Madara yang mendengarnya hanya menjawab"Besok saja"lalu kini perlahan mulai menjauh.

Mendengar jawaban Madara Akeno menghela napas kasar"hahh,,dasar,dia mencampakkanku. Nee,bucho kau melihat semuanyakan? sekarang kita apakan dia?" tanya Akeno pada Rias sambil menunjuk Dohnaseek.

"Biarkan dia pergi. dan kau, aku memberikanmu dan juga sebangsamu peringatan terakhir. aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal seperti ini lagi,jika sampai kau melakukanya lagi kau akan kubunuh."Ancam Rias.

"Rambut merah. ternyata benar kata Raynare-sama wilayah ini milik keruarga Gremory." ujar Dohnaseek sambil mencoba bangkit dari posisinya tadi.

"Tapi aku tidak janji untuk tidak melakukannya lagi "Sragh" ujar Dohanassek sambil membentangkan sayapnya. lalu terbang meninggalkan Rias dan peeregenya.

"Aku memang ceroboh,aku tidak mengira malaikat jatuh akan datang." ujar Rias

"Aku sudah menyembuhkannya sedikit,bagaimana selanjutanya"tanya Akeno.

"biar Aku yang mengurusnya. setelah semua ini selesai kita harus menagih penjelasan pada Madara sensei"jawab Rias.

.

O.o

.

Didalam sebuah rumah kayu bergaya Jepang. Kini nampak seorang berambut reven panjang yang tengah bersantai diatas sofa sambil menikmati sebungkus brondong jagung dan sedang menikmati Acara Tvnya yang hanya menampakakan warna hijau dan semut semut kecil diatasnya.

"Ternyata dunia ini tidak buruk juga. Berkat Sharingganku aku bisa meminta gajiku lebih awal dan bisa membeli sofa,kulkas dan TV baru."ujarnya

"ayo sedikit lagi,sedikit lagi. yeahh goooll"teriaknya kegirangan. rupanya disedang menikamati saluran olahraga.

"apa offside? Brengsek tu wasit, dia pasti terkena genjutsu" umpatnya yang langsung sukses membuat pemain beserta wasit didalam Tvnya sweatdrop mendengarnya.

.

O.o

.

Kini Madara melakukan aktivitas biasanya dipagi hari mulai dari olaharaga ringan seperti push up 1000 kali,set upp 1000 kali,Scott jump tinggi 1000 kali dan terakhir pull up 500 kali sampai author sendiri heran kalau hal seperti disebut ringan lalu beratnya seperti apa. Kemudian dia segera pergi mandi lalu berangkat kesekolah tanpa sarapan terlebih dahulu karena dirinya malas memasak atau lebih tepatnya tidak bisa.

Ketika keluar rumah. belakang kepalanya langsung dihiasi oleh keringat sebesar telur burung Maleo. Itu dikarenakan dirinya kembali melihat sepasang orang jompo yang sedang menatap rumah Madara dengan tatapan heran dan takjub diwaktu bersamaan.

'apa mereka masih takjub dengan istana milikku atau mereka lupa kalau rumah itu sudah ada sejak kemarin'batin Madara.

Akhirnya Madara berangkat kesekolah meninggalkan dua orang jompo tersebut.

.

O.o

.

Kini dijam istirahat. Madara sudah berada disuatu gedung lama samping sekolah yang sekarang sudah dirubah menjadi tempat club penelitian ilmu gaib. Dari bentuk arsitekturnya bisa dibilang ruangan ini mengikuti gaya eropa kuno yang begitu klasik.

"Selamat datang diruangan club kami Sensei"ujar seorang berambut merah Crimson.

"ada apa kalian memaksa ku datang kemari"tanya seorang Pria yang paling tua diantara tiga lelaki diruangan itu yang tak lain adalah tokoh utama kita yakni penjahat dunia Shinobi tingkat SSS Uchiha Madara.

Madara mengedarkan pandangannya kepada orang orang yang berada didalam ruangan. yang pertama cowok beremabut pirang dengan tampang yang membuat semua siswi SMA Kuoh terpesona olehnya yakni Kiba,yang kedua adalah gadis berambut putih dengan tubuh mungil dan muka datar yang memiliki aura seperti kucing yaitu Koneko. yang ketiga laki-laki berambut coklat dengan wajah mesum yakni Issei dan terakhir satu satunya orang yang dia ketahui namanya karena hanya dia murid yang sudah bertemu dengan jadwal mengajar Madara yaitu gadis yang menyapanya tadi Rias Gremory.

"Madara-kun, kau harus menjelaskan siapa dirimu sebenarnya "jelas gadis berambut ekor kuda dengan senyummannya yang seperti biasa yakni senyuman yang sampai membuat matanya menyipit hingga tertutup dialah Akeno. tak capek capeknya dirinya memasang ekspresi itu terus menerus.

dia baru saja keluar dari salah satu ruangan yang ada pada ruang Club itu sambil membawakan teh yang dibagikannya kemeja untuk semua orang disana.

"memangnya siapa aku, aku ya Uchiha Madara guru kalian" jawab Madara dengan nada malas seperti biasa.

"Kekuatan macam apa yang sensei gunakan kemarin itu. Dan dari mana sensei mendapatkan kekutan aneh itu"tanya seorang pria berambut pirang yakni yuuto Kiba.

"apa yang kalian sebut aneh adalah biasa bagiku." "sruup"kata Madara sambil menyeruput teh buatan Akeno.

"ara ara Madara-kun kumohon jangan berbelit belit, Apa tehnya enak" tanya Akeno sambil mendempetkan tubuhnya dengan tubuh Madara yang tengah duduk disalah satu sofa diruangan tersebut. yang langsung disambut oleh teriakan satu satunya laki laki yang dari tadi belum mengeluarkan suaranya.

"TERKUTUKLAH KAU COWOK KEREN SEDUNIA"

"Tidak enak "jawab Madara santai. yang langsung membuat Akeno mengangis dibahu Madara.

"Hiiks,,Hiiks kau jahat sekali pada calon istrimu"kata Akeno yang masih menangis dibahu Madara.

"bisakah kau sedikit menjauh dari bahuku?" tanya Madara sambil berusaha melepaskan kepala Akeno yang terus menempel dibahu Madara.

"tidak sebelum kau bilang enak pada teh buatanku"jawab Akeno. kini dia semakin memperdalam kepalanya pada bahu Madara.

"Tidak akan"kata Madara

"kalau begitu kepalaku akan terus berada dibahumu"balas Akeno.

"ehm,,ehm bisakah kalian menghentikan perdebatan rumah tangga kalian dan kembali ketopik awal kita berkumpul disini?"Tanya Rias yang langsung membuat Akeno mengambil kepalanya dari bahu Madara dan menunduk malu, kini sudah dipastikan wajah porselen sosok gadis jepang yang begitu sempurna itu memerah semerah tomat yang sering dimakan oleh keluarga Uchiha. Sedangkan Madara hanya memasang wajah datar. Dia tak ambil peduli dengan pertanyaan Rias yang secara tak langsung telah menyindirnya.

"jadi Sensei, tolong dijawab ?"kata Rias pada Madara.

Karena dari tadi terus didesak membuat Madara menghela napasnya." Haah, baiklah tapi kalian harus menjelaskan padaku apa itu Sacred Gear yang dibicarakan Gagak-gagak yang menyerang bocah mesum itu"kata Madara sambil tangannya menuding kearah Issei.

"siapa yang kau sebut Mesum, tua bangka" kata Issei tidak terima dirinya disebut mesum meskipun itu adalah kenyataan.

Madara hanya menatapnya bosan"siapa lagi,,kalau kau tak merasa ya sudah"sruuph"kata Madara lalu kembali meminum tehnya.

"sudahlah Issei. baiklah sensei kami akan menceritakan semuanya dimulai dari sejarah bangsaku yaitu bangsa iblis"kata Rias.

Madara mengangkat alisnya "sejarah iblis? kau itu iblis? "tanya Madara.

"begitullah memangnya kenapa?tanya Rias.

"tidak ada. hanya saja yang kudengar iblis itu tercipta dari api membara,membawa Trisula runcing ditangan kanannya,mempunyai tanduk yang bertengger di atas kepala,senyuman mengerikan lengkep beserta gigi runcing yang berjejer rapi." kata madara dengan tangannya yang bergerak-gerak seolah-olah mengandaikan gambaran tentang iblis yang persis seperti yang diucapkannya.

Penghayatan Madara itu sukeses Membuat semua orang tersenyum akan tingkah konyol Madara. terutama Akeno yang terkikik geli melihatnya.

"tapi ternyata itu salah,, rupanya ada iblis berwajah cantik sepertimu"lanjut Madara.

ekspresi Akeno tadi kini tergantikan dengan delik'an tajam kearah Madara karena mendengar lanjutan dari perkataan madara barusan. Sedangkan Rias yang mendapat pujian secara tak langsung dari Madara kini pipinya merona karena malu dan senang karena mendapat pujian dari seorang pria tampan seperti Madara.

"kau menggoda bucho Madara-kun. Kenapa kau tak pernah memujiku yang merupakan calon istrimu."kata Akeno pada Madara dengan nada ngambek.

"siapa yang menggoda siapa?aku tak menggoda siapapun. dan Siapa juga yang mau memuji gadis cerewet sepertimu"kata madara dengan santainya yang langsung mendapatkan jitakan keras di belakang kepalanya oleh Akeno.

"ittai,,Akeno,kau kenapa sih dari kemarin terus menjitak kepalaku. Aku ini gurumu." Kata Madara sambil mengelus ngelus kepalanya yang kini telah muncul benjolan sebesar bola ping pong.

"masa bodo"jawab Akeno dengan juteknya. mungkin karena saking jeulousnya terhadap Madara.

"jadi bagaimana ceritamu"tanya Madara menghentikan acara cemburu dan merona dari dua orang gadis berbeda warna rambut itu.

"Jadi begini..."

Dari sini Rias mulailah menceritakan tentang iblis, great war, Sacreed gear yang 13 diantaranya dapat mengalahkan tuhan. yang disebut dengan Longinus dan lain lain yang berhubungan dengan Supranatural sampai 1 jam hingga membuat semua siswa siswi yang ada diruangan itu bolos pelajaran karena bel selesai istarahat telah berbunyi sejak 45 menit yang lalu.

"Jadi begitu ceritanya sen-"kata Rias terpotong setelah melihat Madara.

"sei"lanjut Rias. "Twitch" sebuah perempatan urat muncul dikeningnya. bagaimana tidak, sudah 1 jam berlalu Rias bercerita panjang lebar tentang semua masalah supranatural yang diketahuinya namun orang yang meminta dirinya bercerita kini tertidur dengan sangat damai dibahu Akeno. sedangkan Akeno hanya senyam senyum sambil mengelus-ngeluskan pipinya dengan rambut Madara yang berada tepat disamping pipinya. Yang lainnya hanya cengo dengan tindakan Akeno.

"SENSEEEI"teriak Rias berusaha membangunkan Madara. tapi bukannya bangun namun kepalanya semakin ditenggalamkan keleher Akeno berusaha mencari kenyamanan. dan itu langsung disambut desahan dari Akeno. Lehernya terasa digelitik oleh tiap hembusan nafas Madara.

"ara ara, biarkan saja Rias. mungkin Madara-kun kecapek an"kata Akeno berusaha menghentikan amukan Rias.

"kau sih senang senang saja"kata Rias. lalu Rias mendekati tempat duduk Akeno yang berada didepan tempat duduknya. Lalu dia mendorong kepala Madara dari bahu Akeno hingga tubuhnya terjatuh dilantai.

"ugh Ittaine. Yare yare siapa yang mendorongku hingga terjatuh" tanya Madara kesal.

"Sensei kau mendengarkan ceritaku tidak sih? Aku sudah bercerita panjang lebar sampai kami semua yang disini membolos pelajaran. Dan kau malah enak enakkan tiduran dibahu kekasihmu" kata Rias dengan kesalnya. Akeno yang mendengarnya hanya tersenyum dengan dua rona merah menghiasi kedua pipinya.

"Aku tadi kecapekan dan siapa yang kau sebut kekasih."kata Madara sambil mencoba berdiri.

"alasan ! jadi sensei mendengar ceritaku tidak ?"tanya Rias.

"sedikit. Begini saja aku akan membaca pikiranmu agar lebih cepat dan kau tak perlu berdongeng hingga membuatku tertidur lagi." Kata Madara.

"caranya?"tanya Rias.

"kau tatap Mataku" suruh Madara.

Lalu Rias menatap Mata biru Madara. lalu sedetik selanjutnya mata itu langsung berubah berwarna merah darah dengan titik dittengah nya yang dikelilingi oleh 3 tomoe dan Rias terhipnotis kedalamnya.

"sudah selesai" kata Madara. lalu matanya dikedipkan dan seketika kembali pada mata semulanya.

Rias sudah kembali pada kesadarannya"apa itu benar"tanya Rias.

"Hn"jawab Madara.

"kalau begitu bisa kau buktikan"tanya Rias .

Madara langsung mengakat tangannya menunjuk seorang laki laki berambut coklat disamping Kiba.

"ada ada denganku"tanya lelaki yang ditunjuk Madara yakni Issei.

" kau pemegang Bosted gear salah satu dari 13 longinus" kata Madara.

Yang langsung mebuat semuanya terkejut. 'ternyata dia benar.'batin Rias

'fufufufu, Madara-kun dia hebat." batin Akeno.

"baiklah. kalau begitu sensei, bagaimana ceritamu" tanya Rias.

" Aku? " Madara menunjuk wajahnya.

"ya, tadi sensei bilang setelah aku menceritakan tentang Sacreed Gear, sensei akan menceritakan tentang kekutan sensei"kata Rias.

'Kalau aku berkata tujuanku adalah untuk mengumpulkan Longinus mereka pasti akan menjadikanku musuh mereka dan aku tak bisa mendapatkan informasi lagi' batin Madara.

"Aku tidak terlalu penting, kekuatan yang kugunakan bukan sihir seperti kalian. Dan dengan berjalannya waktu kalian akan tahu sendiri semuanya tentang diriku." Kata Madara.

"tapi sensei, kenapa kau tidak menceritakan semuanya sekarang?" tanya Kiba.

"Sudah kalian cepat masuk kelas kalian masing-masing. kalian bilang saja bahwa aku menyuruh kalian untuk menyelesaikan nilai kalian yang kurang." kata Madara mencoba mengalihkan perhatian.

"HA'I" jawab mereka serempak dengan nada malas.

.

O.o

.

Kini Matahari telah condong kebarat. Nampak orang-orang yang bekerja kini mulai bergegas pulang kerumah mereka masing-masing. Hal itu juga dilakukan oleh seorang guru SMA Kuoh berambut reven panjang yakni Uchiha Madara. Dengan ditemani Hamburger dia berjalan pulang ke istana kayu miliknya.

"Hari ini begitu tenang dan damai. Tidak ada gadis cerewet itu lagi, untung dia ada kegiatan club."Ujar Madara lalu menyantap Hamburgernya.

"nyam nyam. Aku harus bergegas nanti malam Indonesia melawan Portugal. Semoga saja Ronaldo CS tidak terlalu dipermalukan oleh Andik Vermansyah dan kawan kawan" Ujarnya sambil berjalan agak cepat.

Samar samar telinganya mendengar orang bicara digang yang berada diantara 2 gedung yang dilewatinya. Lalu dia putusakan untuk mengintip sedikit apa yang terjadi disana.

Disana dia melihat belasan Pria bersayap gagak yang dia kenal dengan malaikat jatuh sedang terbang rendah melingkari seorang gadis muda nan imut dengan rambut Hitam panjang selutut.

'hahh, ternyata tikus bersayap itu lagi'Batinnya setelah mengetahui suara yang tadinya membuat dirinya penasaran.

"Siapa Kau ini? Aku bisa merasakan kau memiliki suatu kekuatan dalam dirimu"ujar salah satu malaikat jatuh kepada si gadis.

'Kekuatan ? sepertinya aku mendapatkan sesuatu yang menarik' batin Madara.

Namun sang gadis yang ditanya tak menjawab pertanyaan yang tadi dilontarkan malaikat jatuh itu. Dia hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi.

" Jawablah jika seseorang sedang memberi pertanyaan" bentak malaikat jatuh yang lain.

Sang gadis tetap dengan wajah datarnya

"kau. Baikalah kau akan kubunuh agar tak menjadi gangguan untuk kami kelak" ujar malaikat jatuh yang memberinya pertanyaan tadi sambil membuat sebuah tombak cahaya.

'Shimmattaa. Dasar bodoh, kalau dia membunuhnya aku tak bisa mendapatkan kekuatan itu. lebih baik aku menghabisi mereka semua lalu mengambil kekuatan yang dibicarakan tadi' batin Madara. Dirinya kuatir jika gadis kecil itu tak mengetahui dan tak bisa menggunakan kekuatannya lalu dia dibunuh seperti Issei kemarin-kemarin. Dan Madara takkan mampu mengambil kekuatanya.

.

"Jleb"

.

TBC

Maaf kalau Ch kali ini tampak membosankan. Terimakasih udah mau Review,Faf dan Follow fic pasaran ini.

Balasan Review untuk yang tidak login. Yang login saya balas lewat Pm. :

Guest : saya maaf benerean kalau banyak typo itu memang kesalahan. Waktu saya ngonvert cerita saya berformat Doc ke Story, banyak kata kata yang hilang dan paragrafnya berantkan dan langsung saya publish gitu aja tanpa diteliti lebih dulu. ternyata karena kesalahan EYD

Hanna : iya ini udah lanjut silahkan menimati.

Uchiha Ays. 123 : "Review" simple bgt ?tapi gak apa terima kasih mau Review fic pasaran saya.

Sekian itu aja. sampai jumpa di Ch depan.