Wings Of Justice

A Naruto Fanfiction

Disclaimer | Masashi Kishimoto

Unknown Pairings

By Elfe Allen

[/•-•\]

Pagi haru yang begitu cerah, cahaya matahari menelusup dari balik gorden dan menusuk Indra pengelihatan seorang gadis yang masih dalam buaian mimpi. Gadis itu mengerjapkan matanya tak kala pertama kali membuka mata merasakan perih di matanya, beberapa saat kemudian barulah dia dapat beradaptasi dengan cahaya yang masuk.

Ia bangun dan duduk disisi ranjang seyara mengusap matanya, berjalan menuju kamar mandi dan mencuci mukanya di wastafel. Ia melihat dirinya dari pantulan cermin yang berada di atas wastafel. Berantakan, itulah yang ada di benaknya saat ini. Barulah ia melakukan ritual rutin setiap pagi.

-0o0-

Ia pergi ke akademi dengan menggunakan setelan baju biru berlengan pendek yang sedikit ketat, celana pendek warna abu abu ketat, Sebuah stocking hitam panjang di atas lutut dan sepatu ninja standar. Rambut pirangnya di biarkan tergerai rapi. Matanya selalu menunjukkan ketenangan meski ada yang berbisik bisik tentang dirinya.

Sesampainya di akademi, Naruto langsung pergi duduk di tempatnya menimba ajaran-ajaran yang diberikan Iruka. Menghiraukan tatapan merendahkan dari teman teman seangkatannya.

...

"Besok kita akan melakukan ujian Genin, jadi hari ini kita pulang lebih awal. Persiapkan diri kalian untuk besok." Penjelasan Iruka langsung di sambut meriah oleh anak didiknya. Setelahnya iruka keluar dengan membawa sebuah papan dada berisikan lembaran lembaran kertas.

"Heh, anak itu pasti tidak lulus." Sebuah suara mengintropsi kelas, berasal dari Menma Namikaze. Sasuke yang berada di belakang Menma pun menyeringai mendengar perkataan dari temannya itu. Naruto masih berkutat dengan buku yang berada di hadapannya sehingga ocehan mereka hanyalah obrolan biasa.

Menma lantas mendekati Naruto dan menjambak rambutnya, Naruto hanya bisa meringis kesakitan dan memegangi rambutnya.

"Dengar, jika kau bisa menjadi yang terbaik saat kelulusan besok, aku akan melakukan apapun untuk mu." Bisik Menma, kemudian menghempaskan tubuh Naruto ke bangku tempatnya duduk dan langsung pergi begitu saja. Naruto berusaha bangkit, meringis menahan sakit di punggungnya. Seluruh anak di kelas menertawainya namun Naruto hanya tersenyum simpul dan kembali duduk ke bangkunya.

-0o0-

Sepulang dari akademi, Naruto pergi ke sebuah toko kue di pinggiran desa. Naruto bekerja disana untuk memenuhi kebutuhannya. Pelayanannya sangat ramah sampai sampai banyak orang yang menyukainya, apakah aku pernah bilang bahwa seluruh teman-temannya membencinya? Jika iya, itu tidak berlaku pada penduduk.

"Terimakasih sudah membeli di toko kami."

[Suara bel pada pintu]

Seorang pembeli baru saja keluar dari toko kue tempat Naruto bekerja. Dengan memakai pakaian seorang maid ia melayani dengan senyuman cerah. Kesehariannya bekerja sebagai part-time mendapatkan hasil yang lumayan bagi kebutuhan sehari hari. Sampai sekitar jam 5, ia pulang ke apartemennya.

Malam harinya ia berjalan-jalan di taman yang cukup luas, cahaya bulan membuat panorama yang mengesankan. Bersama seekor burung yang dinamainya Phoenix, Phoenix sangat lengket terhadap Naruto, sampai-sampai burung cantik tersebut selalu bersama Naruto (Kecuali saat pergi ke akademi dan part-time karena Naruto melarangnya) kemanapun ia pergi.

Ia menemukan sebuah kursi taman, lantas ia segera duduk disana. Mengeluarkan sebuah bungkusan plastik yang berisi roti. Membaginya menjadi dua dan memakan yang setengahnya, sementara setengahnya lagi Naruto berikan kepada Phoenix.

..

Di seberang terdapat 3 orang anak, mereka adalah Menma, Sasuke dan Kiba. Mereka sepertinya sedang menikmati temaramnya malam di taman. Berjalan jalan dengan menggunakan pakaian tebal untuk melindungi dari udara dingin.

"Hoy, Menma." Sahut Kiba, sementara yang dipanggil meletakkan kedua tangannya di belakang kepala.

"Ada apa?" Menma berkata dengan nada arrogant, membuat Kiba mendecih. Sasuke hanya diam saja melihat interaksi mereka berdua.

"Jangan sombong, belum tentu kau bisa menang melawanku," ujar Kiba dengan tatapan sinis yang diberikan kepada Menma. "oh ya, apa kau benar benar serius dengan tantanganmu itu."

"Heh, tentu saja... Lagi pula si lemah itu tidak aan bisa menyanggupinya." Yah, yang mereka bicarakan tersebut adalah Naruto. Kiba hanya mengangguk-angguk mendengar perkataan Menma.

Sasuke tiba tiba saja berhenti dan itu membuat Kiba dan Menma ikut berhenti dan bertanya tanya, kenapa tiba-tiba saja Sasuke berhenti.

"Bukankah itu dia." Mendengar ucapan Sasuke, lantas membuat Kiba dan Menma mengikuti arah pandangan Sasuke. Mata Menma membulat lalu menyeringai mengerikan.

"Heh, ini akan menjadi lebih menarik." Menma langsung menapakkan kakinya ke tempat Naruto berada.

Naruto tidak mengetahui kedatangan seseorang hanya bersikap biasa saja. Melihat ke langit dimana Phoenix mengepakkan sayapnya dengan senang sambil memakan roti yang berada di tangannya.

Menma semakin mendekat dan langsung menjabak rambut Naruto sehingga membuat empunya meringis kesakitan. Naruto mencoba menarik rambutnya agar terlepas di cengkraman Menma.

"Hahaha, aku tidak percaya bahwa akan menemukan mainan disini."

Kedua temannya yang menyusul akhirnya sampai juga. Mereka berniat ingin bergabung bersama Menma tapi...

"Akhh!" Menma langsung melepaskan cengkramannya pada rambut milik Naruto tak kala ia merasakan sakit di tangannya. Menma melihat seekor burung berwarna kuning kemerahan. Manma langsung bergidik ngeri dan lari ketika burung itu bersuara keras seperti elang.

"Tou-chaan! Kaa-chan!" Menma menangis sambil memanggil-manggil orang tuanya. Kiba dan Sasuke hanya meneguk ludah kasar. Phoenix memberikan death glare kepada Kiba dan Sasuke, dan sukses membuat mereka bergidik ngeri dan lari tunggang langgang.

Naruto termenung menyaksikan ketiga anak berandalan tadi tunggang langgang, Phoenix bersuara kecil untuk memancing perhatian Naruto. Mendengarnya Naruto mengalihkan perhatiannya kepada Phoenix, ia kemudian menggerakkan jari telunjuknya di depan Phoenix yang mengisyaratkan, kamu tidak boleh seperti itu. Phoenix langsung memalingkan wajahnya dari tatapan Naruto. Naruto tertawa pelan melihat Phoenix seperti itu.

"Ahh, ayo kita pulang saja." Phoenix langsung terbang dan hinggap di bahu Naruto. Mereka pulang bersama. Dan hari esok pun menunggu kehadiran mereka.

...

TO BE CONTINUES

.

Wahh, maaf update nya lama.. Ahaha, jdi sedikit bersemangat berkat dukungan reviews untuk melanjutkan fic ini. Maafkanlah typo² di chapter sebelumnya. Dan juga mungkin kedepannya jg agak lambat uploadnya karena sibuk dengan dunia nyata... Tpi dukung terus perkembangan fiksi ini ya .

Salam, Elfe Allen