Diclaimer: Sengoku Basara (c) CAPCOM

Genre: soft-yaoi/shonen-ai, humor, romance

Pairing: DateSana

A/N: Halo semua, aku kembali dengan chapter baru. Lagi lumayan punya ide sih *digampar* Dan akan kubalas review yang masuk ^^

ViennaAmakura: Makasih ya. Wah ternyata ceritaku bisa bikin orang nggak kuat toh *PLAK*. Selamat membaca chapter 2 yang kau nanti, dan kuatin diri yah jangan pingsan *PLAKPLAK*

Rin Aoi: Wuih, seneng banget rasanya ada Yukimura lover lain disini. Aku juga cinta mati sama tiger cub ini.. Buatku, DateSana tetep lebih bagus daripada SanaDate, so tenang aja, Yuki akan selalu uke *plak* dan selalu innocent disini. Semoga di chapter 2 ini ada perbaikan yang menyenangkan untukmu. Thanks buat reviewnya ^^

Sekarang balik ke cerita. Di chapter 2 ini full of fluffy scenes. Sori yah kalo tetep pendek *dirajam* Yah, mohon maklum kalo aku pengen nyari saat mood tepat buat bikin M rated chapter(s). Please enjoy..

Sengoku Basara Fanfic: Lovely or Terrible?

Sunyi, sepi, damai.. Itulah keadaan dalam kediaman Takeda sekarang. Siapapun yang mengetahui keributan yang terjadi sebelumnya pasti heran mengapa tiba-tiba situasi kembali sunyi. Sanada Yukimura, sang Wakakitora dari Kai sedang tak sadarkan diri dalam kamar pribadinya. Oushuu no Dokuganryuu, Date Masamune, setia duduk menemaninya hingga semalam suntuk. Ia tak mengijinkan siapapun memasuki ruangan tanpa permisi, termasuk ninja kepercayaan Yukimura dan tangan kanannya sendiri. Ia juga melarang siapapun untuk memperpanjang keributan tiba-tiba di malam sebelumnya oleh pingsannya pemuda di depannya. Itulah alasan tak satupun insan berani bersuara dan menunggu kabar selanjutnya dari mulut Masamune.

Sudah hampir tengah hari, namun Yukimura belum sadarkan diri. Ia masih terbaring tenang, seakan tidur lelap yang tak terusik. Masamune terus saja cemas dan tak tidur sepicing pun demi menanti Yukimura siuman. Ia merasa bahwa kejadian ini adalah kesalahannya, dan ia harus bertanggung jawab.

Terdengar suara ketukan di pintu.

"Siapa?" Masamune bertanya dengan kesal. Masih ada rupanya yang berani melanggar perintahnya.

Mendengar sahutan dari dalam, sang pengetuk pintu menjawab. Ternyata tangan kanan sang naga. "Mohon maaf, Masamune-sama. Tapi anda belum makan sama sekali sejak semalam. Ijinkanlah saya membawa masuk sarapan untuk anda dan Sanada. Jika ia siuman, mohon persilahkan ia makan."

"Baiklah. Cepat keluar lagi, aku tak ingin diusik."

Sang tangan kanan segera masuk dengan hati-hati. Ia berlutut dan meletakkan nampan berisi sarapan di samping tempat Masamune duduk. Sesaat sebelum ia berdiri untuk keluar ruangan, Masamune menahannya.

"Tunggu dulu Kojuurou—" Suara Masamune terdengar resah.

"Ada apa, Masamune-sama? Apa anda memerlukan sesuatu?"

"Bukan. Aku hanya takut. Takut bila seseorang akan merasa trauma dengan apa yang telah kuucapkan. Apa yang sebaiknya kulakukan dalam situasi semacam itu?"

"Saya tidak tahu siapa yang anda maksud. Namun bila hal itu terjadi, lebih baik anda minta maaf segera. Saya pun pernah menghadapi kondisi seperti itu. Sesuatu seperti demikian lah yang seringkali membuat seseorang lebih dewasa dalam hidup. Tenanglah, jika anda minta maaf dan memperbaiki hubungan dengan tidak menyinggung soal hal serupa, biasanya masalah akan membaik perlahan-lahan."

"Terima kasih, Kojuurou. Akan kuingat saranmu."

"Sudah menjadi tanggung jawab saya untuk membantu anda, Masamune-sama. Saya permisi dulu."

Sepeninggal Kojuurou, ruangan sunyi kembali. Masamune memandangi wajah Yukimura dengan cemas. Ia benar-benar khawatir akan dibenci oleh Yukimura. Ia tak mengerti kenapa, sebelumnya ia akan senang bila dapat mengalahkan Yukimura di medan perang, namun kini semua serasa terbalik. Sang naga yang harusnya tegar dan kaku, kini menjadi lemah karena satu hal. Satu hal ini belum pernah ditapakinya sejak masa remaja.

Cinta. Ya, Cinta..

Jika ia pernah mendengar bahwa seorang lelaki dapat menjadi pengecut soal cinta, sekarang ia merasakannya sendiri. Tiba-tiba saja hatinya ciut hanya karena efek lontaran perasaan jujur dari bibirnya sendiri bahwa ia mencintai Yukimura. Ia tak menyangka reaksi Yukimura akan seperti ini. Sebagai orang yang keras kepala, ia heran mengapa hal ini bisa terjadi padanya. Biasanya, ia akan bisa mengucapkan kalimat pengundang masalah dengan mudah, dan santai saja saat ada yang tidak terima akan sikapnya. Kali ini sungguh berbeda. Ini diluar kebiasaan. Benar-benar memalukan kalau ia harus pulang ke Oushuu dengan kondisi patah hati. Ia merasa harus menemukan jalan keluar dari masalah ini.

Masamune masih merenung saat sebuah suara terdengar lirih.

"Ngg— Masa.. mune.. dono?" Itu suara Yukimura. Menyadari hal itu, Masamune langsung mendekati Yukimura sambil setengah melompat girang.

"Ya, aku disini. Bagaimana keadaanmu, Yukimura?"

"…" Yukimura hanya menatap sang naga sambil mengerjap-ngerjapkan mata, masih bingung dengan keadaan.

"Ngg, kau pingsan tiba-tiba saat percakapan kita berlangsung. Semua panik dan Sarutobi kusuruh membopongmu ke kamar. Apa yang kau rasakan, Yukimura?" Masamune menjelaskan hati-hati, dengan sabar menunggu jawaban dari pemuda berkimono merah jambu di hadapannya.

"Aku.. pingsan?" Yukimura duduk dan mencoba mengingat apa yang terjadi. Ingatannya masih kabur.

"Iya, kau pingsan.." Masamune menjawab ragu. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari normal, mengisyaratkan bahwa sang pemilik sedang panik.

"Ah.. Aku ingat.. Kita berbincang-bincang, dan…" Dalam sekejap, wajah manis Yukimura berubah merah. Ia baru ingat apa yang terjadi. Perbincangan, konflik, dan pernyataan. Semua yang terekam dalam memorinya nampak jelas. Ia tahu, sesaat setelah berteriak tak percaya atas pernyataan Masamune, tiba-tiba kepalanya terasa ringan dan kosong. Selanjutnya, dunia berubah gelap baginya.

"Yukimura.. Kau baik-baik saja kan?" Masamune makin panik melihat ekspresi Yukimura. Bermacam gambar terbang di angannya, memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya. Akankah Yukimura mengusirnya, atau memakinya, atau melakukan aksi protes lainnya akan kejadian semalam? Ia tak tahu pasti, hanya berusaha menenangkan diri.

"Masamune-dono…" Wajah Yukimura masih merah, ia berusaha memandang Masamune dan gagal. Pemuda itu menundukkan kepala, tak tahu harus berkata apa.

"Yuki, ada apa?"

"M-masamune-dono.." Yukimura akhirnya menengadah dan menatap sang naga gugup. "A-apa kau serius dengan perkataanmu kemarin?"

'Ini benar-benar gawat. Apa yang harus kukatakan? Apa aku harus berbohong agar wajahnya tak terus seperti itu? Ia terlihat bingung. Apa? Apa yang harus kukatakan?' Batin Masamune menjerit saat melihat ekspresi Yukimura yang polos dan bingung. Ia tak ingin membuat Yukimura tak nyaman, namun ia tak mau bohong akan perasaannya. Sebenarnya ia agak lega Yukimura tak memaki atau memukulnya agar keluar dari kamar, tapi itu bukan berarti masalah selesai.

Mata lebar Yukimura terus memandang sang naga, menanti jawaban. Bagi Masamune, pandangan Yukimura bagai cahaya mematikan yang siap membuatnya buta total. Tapi juga sangat indah. Sekarang Masamune lebih gugup lagi.

"Yuki.. Sebetulnya aku tak bermaksud membuatmu kaget. Tapi, pernyataan itu terlontar begitu saja. Aku tak mampu membohongi perasaanku sendiri. Aku minta maaf kau jadi seperti ini, aku benar-benar bodoh—"

"Jangan berpikir begitu, Masamune-dono.. Aku bukannya tak suka dengan pernyataanmu—"

Semenit serasa beku.

"Yuki.. Apa maksudmu?" Masamune terbelalak ke arah Yukimura yang warna wajahnya kini lebih merah dari kostum crimson kebanggaannya.

"A-aku bukannya tak menyukai pernyataanmu. Nyatanya, aku justru.. bahagia.." Kata terakhir diucapkan dengan lirih dan pelan. Nampaknya Yukimura tak tahan dengan kata-katanya sendiri, dan kembali menundukkan kepala malu.

"Yuki.. mura.. Kau—" Masamune masih memikirkan kata apa yang sebaiknya diucapkan saat Yukimura perlahan menggenggam tangan kanan Masamune.

"Aku tak tahu kenapa. Aku mengalami suatu keganjilan belakangan ini. Aku.. merasa nyaman saat bertemu denganmu. Walaupun sebelum kemarin kita selalu bertarung tiap kali bertemu, aku merasa tak ingin melukaimu. Aku hanya ingin melawanmu dan jadi lawan yang seimbang denganmu. Setelah bertemu, yang kupikirkan hanya dirimu. Bahkan aku bertanya kapan aku bisa bertemu denganmu lagi. Kurasa.. aku juga menyukaimu."

Masamune tercengang. Bagaimana bisa Yukimura mengalami hal yang sama persis dengannya? Ia melihat wajah Yukimura masih merah, namun kesan manis masih tinggal di raut wajahnya. Ia benar-benar tak percaya. Kemarin ia melakukan kesalahan yang membuatnya terpuruk hingga beberapa saat lalu, dan sekarang perasaannya campur aduk. Ia kaget, senang, dan tak percaya dalam waktu bersamaan.

"Yukimura.. Kau yakin dengan ucapan barusan?"

"…" Yukimura mengangguk tanpa suara.

"Suka macam apa yang kau maksud?" Sebenarnya ia tahu maksud Yukimura, namun ketidak yakinan di hatinya berkata lain.

"Su-suka.. Yang kutahu, aku ingin bersamamu. Tapi, aku tak tahu sejauh apa perasaan ini. Dan.. aku menyukai.. ci-ciuman kemarin." Kali ini, Yukimura makin menundukkan kepala dan mempererat genggamannya.

"Yuki.." Mau tak mau wajah Masamune juga merona. Baru tadi ia takut akan dicaci dan diusir, sekarang ia lupa akan kekhawatirannya dan senyum menghiasi wajahnya. Apa yang lebih indah dibanding cinta yang berbalas?

Masamune lalu mendekat ke Yukimura yang masih tak ingin menunjukkan wajahnya ke pria di depannya. Sang naga menepuk lembut kepala Yukimura dan memegang dagu Yukimura dengan tangan kirinya. Ia mendongakkan kepala pemuda di depannya sambil terus memasang senyum bahagia. Yukimura berusaha mengalihkan pandangan dan Masamune tertawa.

"Ma-masamune-dono? Ke-kenapa kau tertawa?" tanya Yukimura heran.

"Kau makin manis dengan wajah seperti itu, Yuki." Seringai Masamune ditujukan untuk Yukimura seorang dan sukses membuat sang pemuda kelabakan.

"M-masamune d-dono.. J-jangan menggodaku seperti itu!"

Masamune tertawa lagi dan Yukimura memandangi dengan ekspesi jengkel yang manis. Bagi Masamune, Yukimura makin manis saat merajuk.

"Maaf, maaf Yuki.. Tapi, aku senang kau berkata seperti itu. Aku jadi geli, kenapa aku tak menyatakan dari dulu saja ya."

"Uukh, Masamune-dono, jangan membuatku malu.."

Menanggapi Yukimura yang terus merajuk, Masamune tersenyum kembali, mengangkat tangan kanannya dan mencium tangan Yukimura.

"Berarti, kau mau jadi kekasihku, Yuki? Atau tidak?"

Mendengarpertanyaan sang naga, Yukimura langsung menatap Masamune kaget. Meski begitu, ekspresi kebahagiaan terpancarpula di mata almond-nya.

"B-baik. Aku bersedia.." Yukimura tersenyum gugup.

Masamune merendahkan kepala dan mengecup pipi Yukimura. Melihat Yukimura melongo, lagi-lagi Masamune tergelak.

"Masamune-donooo..!" Rajuk sang pemuda.

"Ahahaha.. Kalau begitu, masalah beres. Ayo sarapan. Kojuurou yang membawakannya tadi."

"Baik!" Melihat tiga tusuk dango di piring di sudut nampan, Yukimura kembali semangat. Ia paling tak bisa menolak makanan favoritnya itu.

-oOoOoOo-

"Aakh, aku tak tahan lagi. Aku ingin mengecek keadaan. Kalau seperti ini terus, Masamune-sama tak akan keluar ruangan itu seterusnya." Kojuurou mondar-mandir di halaman belakang aula utama tempat pertemuan Masamune dan Yukimura malam sebelumnya. Ia dan Sasuke daritadi mencoba menghabiskan waktu dengan berbincang, tapi nyatanya ia tetap khawatir dengan Masamune.

"Sudahlah Katakura-sama, ia akan baik-baik saja. Ia pasti keluar setelah Yukimura-danna sadar." Sasuke meyakinkan. Ia duduk santai di beranda halaman. Sejujurnya ia juga cemas dengan keadaan tuannya, tapi ia selalu nampak sabar.

"Kau bisa berkata seperti itu, tapi aku tahu persis bagaimana sifat Masamune-sama, Sarutobi. Ia salah satu orang paling keras kepala yang kukenal."

Sasuke menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Yareyare.. Sekarang kau berkata jelek atas nama tuanmu sendiri?"

"Bukan begitu! Maksudku, jika ia tak sedikit dipaksa, nasihat apapun tak mempan baginya. Lagipula.. Belakangan aku merasakan ada sesuatu antara Masamune-sama dan Sanada Yukimura." Kojuurou menjelaskan dengan raut wajah yang tak yakin.

"Yang kau maksud.. ada perubahan sikap antara mereka?" Sasuke tersenyum dan mencoba menyambung topik.

"Betul. Aku merasa.. Masamune-sama lain dari biasanya. Khususnya di depan Sanada."

"Hmm.. Aku pun merasakan sikap Yukimura-danna juga berubah. Tapi kurasa tak ada yang harus dikhawatirkan. Hanya tinggal menunggu keputusan mereka berdua saja."

"Apa maksudmu, ninja?" tanya Kojuurou penasaran.

Sasuke melompat ke halaman dan membisikkan sesuatu ke telinga Kojuurou. Kojuurou setia mendengarkan sampai ia terlonjak kaget seusai Sasuke menyampaikan berita.

"K-KAU YAKIN?" Kojuurou bertanya tak sabar.

"Yah, tidak juga.. Tapi kurasa ini ada hubungannya dengan insiden tadi malam. Lebih baik jangan kau ganggu mereka dahulu." Sasuke mengedip penuh arti.

"Ma-Masamune-sama.." Wajah Kojuurou mendadak pucat.

-oOoOoOo-

"Mmm.. hango huatan Shasuke memang valing enhak!" Yukimura berseru dengan mulut penuh dango. Jika ia sudah makan makanan favoritnya itu, semua terlupakan. Manik cokelatnya bersinar ceria dan ekspresinya bagai anak kecil. Masamune hanya memperhatikan sambil tertawa kecil. Menurutnya pemandangan seperti ini jarang didapat, jadi ia tak mengganggu Yukimura yang asyik mengunyah bulatan demi bulatan manis dan tak memperhatikan ada gula menempel di pipinya.

"Yukimura.." Masamune memanggil sang pemuda geli.

"Ng?" Yukimura menoleh ke arah sumber suara, tak sadar ada sesuatu yang hangat menyentuh pipinya. Ternyata Masamune menghapus gula di pipinya perlahan. Sontak Yukimura diam dan tersipu. Hampir saja ia tersedak.

"Ahahaha.. Kau itu asyik sekali. Setidaknya ingatlah kalau aku ada di sini.."

"M-maaf, Masamune-dono. Aku terlalu sibuk memikirkan diri sendiri.." Yukimura tak dapat menyembunyikan rona merah di wajahnya. Ia benar-benar lupa diri sesaat.

Senyum jahil tampak di wajah sang naga. "Bukan sesuatu yang perlu disesalkan. Aku justru suka melihat wajah manismu itu." Ia menatap Yukimura lembut. Bukannya lega, sang pemuda makin salah tingkah. Ia kebingungan sementara tangan besar Masamune mengusap pipinya lagi. Kali ini tentu saja bukan karena ada noda makanan di sana.

"Ma-masamune-dono.."

"Ya?"

".. apa hubungan kita ini wajar? Aku takut. Aku.. baru kali ini menjalin hubungan dengan seseorang." Raut wajah Yukimura tampak gelisah. Memang benar, ia tak pernah mendekati siapapun secara pribadi dan hal-hal romantis masih asing di matanya.

'Ya ampun, aku tak menyangka dia sepolos ini! Kalau dia memang benar-benar pemula, ini suatu keberuntungan bagiku! LUCKY ME!' Batin Masamune berjingrak senang. Ia tak pernah menyangka bahwa Sanada Yukimura, sang Red Devil dari Kai, benar-benar awam masalah percintaan.

"Masamune-dono? Kenapa kau diam saja?" Yukimura masih tersipu karena tangan Masamune masih memegang pipinya.

"Eh? Aku baik-baik saja, Yukimura. Kau tidak usah khawatir. Kalaupun ada masalah, kita bersama yang akan menghadapinya. YOU SEE?"

"Tapi, Masamune-dono.."

"Aku sudah bilang, tak akan ada masalah selama kau dan aku setuju. Apa kau meragukanku, Yuki?"

"A-aku tidak berkata seperti itu.. Aku.. percaya padamu." Seiring dengan perkataanya, Yukimura menatap Masamune dengan tatapan anak kecilnya.

"ALRIGHT! Kau akan menyukainya, Yuki.." Senyum makin mengembang di wajah sang naga dan ia mendekatkan diri ke Yukimura, hendak mencium sang pemuda. Belum saja bibir kedua insan itu bertemu, terdengar bunyi keras dari belakang.

BRAKKKK!

"Masamune-sama?" Kojuurou berdiri dengan ekspresi tak percaya di ambang pintu. Sasuke mengikuti di belakang, menepuk jidatnya sendiri.

TO BE CONTINUED