Chapter 2
BRAK!
"Apa-apaan ini! Bagaimana bisa sistem keamanan bisa terbobol dengan mudahnya!" bentak seorang pria paruh baya kepada asisten pribadinya seraya mengebrak meja, "dan aset penting kita hilang bersama uang puluhan juta dolar? Kau tahu, perusahaan kita yang ada di sana sudah bangkrut dan aku harus menjual saham itu sebelum perusahaan yang lain terkena imbasnya!" ucapnya panjang lebar dan memijit pangkal hidungnya.
"M-maaf Hyuuga-sama, saya tidak tahu kalau–"
"Sudahlah, kau boleh keluar," pria itu menghembuskan nafas gusar, "tinggalkan aku sendiri!" sambungnya pelan.
"B-baik Hyuuga-sama," ucap sang asisten takut dan membungkuk hormat, meninggalkan atasannya yang sedang kalut.
Hyuuga Hiashi seorang CEO Hyuuga Corp ternama dan memiliki banyak cabang perusahaan di belahan dunia. Kini perusahaannya yang ada di L.A berada diambang batas kehancuran, dan itu membuatnya frustasi. Ia ingin mencari tahu siapa dalang dibalik semua masalah ini. Tapi, tak ada satupun bukti mengenai pelaku. Semuanya rapi dan sangat profesional, bahkan tingkat keamanan tertinggi yang dipasangnya pun dapat dibobol dengan mudah.
Hiashi menggeram putus asa, tak ada cara lain lagi. Ia segera mengambil kasar gagang telepon yang ada di sampingnya dan menekan beberapa nomor yang menyambungkannya pada seseorang di luar sana.
"..."
"Ya, aku ingin kau menanganinya."
"..."
"Aku akan membayar berapa pun yang bisa menangkap si brengsek yang telah menghancurkan ku!"
"..."
"Aku percaya kau, ku serahkan semuanya padamu, Neji."
Bip
Telepon itu terputus, Hiashi mengacak gusar surai hitam panjangnya. 'Semoga kau berhasil keponakan ku' batin Hiashi berharap, dan memutar kursi menghadap jendela besar yang menampilkan pemandangan indah bulan purnama di kota Konoha Gakure.
.
.
.
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
.
SAVE ME © Lady UchiHaruno
.
AU/OOC/typo/rateT/dll
.
.
.
Don't Like Don't Read
.
.
Enjoy Reading^^
.
.
Paris, Perancis
Seorang pria berambuf merah darah tengah menganalisa setiap inci sebuah benda berbentuk tabung bersitektur kaca, yang dapat menampung tubuh manusia dewasa seukurannya. Bahkan terdapat puluhan tabung kaca dengan ukuran yang sama.
Tangan yang berbalut sarung tangan karet putih itu bergerak dengan hati-hati saat membuka pintu kaca tabung tersebut.
"Kendap air?" gumam pria itu saat melihat lem silicon yang melapisi pinggiran pintu kaca.
Tangannya segera merogoh kantong coat hitamnya. Mengambil senter ultraviolet, tangan pria itu terulur masuk ke dalam tabung.
"Kau sudah menemukan petunjuk Sasori?"
Sasori menghentikan aktivitasnya dan menoleh, "Belum, hanya sebuah tabung yang kendap air." Mengangkat bahu kemudian melanjutan pekerjaan yang tertunda.
Uchiha Itachi menghela hapas bosan. Pasalnya ia dan Sasori belum menemukan apapun, hanya ada beberapa alat pembedahan, komputer rusak, dan puluhan tabung kaca kosong yang berjejer rapi.
Dan hanya mereka berdua yang ditugaskan dalam satu tim untuk memeriksa ruangan laboratorium ini sebelum di ratakan dengan tanah oleh pemerintah.
Itachi berpikir, ruang laboratorium yang ia periksa mungkin sudah ditinggalkan oleh pemiliknya selama bertahun-tahun, terbukti dengan banyaknya sarang laba-laba menggantung, debu yang tebal dan bau busuk yang menyengat sehingga harus menggunakan masker untuk menetralisir penciumannya yang terganggu.
Kemudian Itachi melangkah pelan mengelilingi ruangan, dan memotret beberapa gambar untuk mendiskusikan pada atasannya.
Saat akan memotret objek yang ada di depannya, Itachi merasa ada yang janggal pada sebuah tabung kaca yang berbeda dari yang lain, "Sasori, kemarilah!"
Sasori yang mendengar panggilan Itachi, segera menghampiri patnernya, "Apa ada sesuatu yang menarik?"
Itachi menoleh. "Lihatlah!" tunjuknya mengacung pada benda di sampingnya.
"Err... Tabung kaca?" tanya Sasori ragu, mengangkat sebelah alis.
Itachi menghela napas. "Apa kau tidak melihat perbedaan tabung ini dengan yang lain?" ujar Itachi gemas pada tampang innocent Sasori.
Sasori mengelus dagu pose berpikir, ia mengerling beberapa kali untuk membandingkan tabung yang ditunjuk Itachi dengan yang lain. Tabung itu terletak di tengah ruangan. Terdapat kabel listrik dengan jumlah yang banyak dan berhubungan dengan mesin yang ada di sampingnya. "Hmm yeah, kau jenius sekali." puji Sasori lalu mendekat untuk memeriksa tabung.
Itachi memutar mata bosan. "Hn."
Sasori membuka pintu tabung dengan pelan. Entah mengapa, tangannya bergetar dan jantungnya berdegup kencang. Itachi yang berada di samping Sasori mengeryit, kala melihat Sasori gugup, "Apa kau baik-baik saja Sasori?"
Sasori menganggukan kepala. "A-aku tak apa."
"Baiklah, aku akan memeriksa tempat lain," Itachi berjalan sambil mengenggam kamera ditangannya dan mengamati kondisi ruangan. Mengedarkan pandangan, onyx itu menangkap sesuatu di atas meja. Dahi Itachi berkerut menatap objek di depanya. "Hn? Apa ini?"
.
Disisi lain Sasori tengah berjongkok guna memeriksa dasar tabung kaca. Manik hazelnya menyipit kala melihat sehelai rambut yang terasa familiar. Segera saja ia mengambil kantong plastik dan penjepit untuk mengambil rambut itu.
Dengan hati-hati ia memasukan rambut itu kedalam kantong plastik dan mengangkatnya sejajar dengan wajahnya. Sejenak iris hazel Sasori membulat.
"I-ini.. Tidak mungkin!" lirih Sasori dengan nada tercekat, keringat dingin muncul dipelipisnya. Tangan Sasori bergetar, nafasnya memburu. Perlahan tangan Sasori terkepal, hingga membuat kantong plastik itu kusut.
"Apa itu Sasori?" tanya Itachi yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Sasori.
Sasori terdiam, suaranya tertahan dan lidahnya terasa kelu saat akan menjawab pertanyaan Itachi. Rahangnya mengeras dan giginya bergemelutuk. Kemudian Sasori berdiri dengan wajah tertunduk.
Itachi yang ingin menepuk bahu Sasori mengurungkan niatnya, ketika melihat Sasori menyodorkan sebuah kantung plastik kecil yang sudah tak berbentuk.
"Hn?" Itachi mengangkat sebelah alis.
"Aku ingin kau memeriksa DNA-nya!"
Itachi yang tak mengerti, langsung mengambil kantong plastik itu. Lalu mengambil kaca pembesar didalam saku coat coklatnya. Ia memfokuskan pandangannya.
Mata onyx itu memandang tajam benda yang baru saja diterimanya dari Sasori. Kemudian Itachi beralih menatap Sasori. "Apa kau berpikir sama sepertiku?" tanya Itachi yang masih memegang kantong plastik.
Sasori menoleh, iris hazel itu terlihat kosong. "Aku tidak yakin, tapi..."
Itachi menepuk bahu Sasori. "Baiklah aku mengerti, lebih baik kita pergi dari sini, sebelum kita juga rata dengan tanah," Itachi terkekeh, "Kau tenang saja, aku akan membantumu, kita akan bicarakan ini pada Jiraya-sama," ujarnya seraya menyimpan kantong plastik itu.
Sasori mengangguk singkat. Mereka berdua berjalan keluar ruangan kotor itu setelah merapikan semua peralatan mereka.
"Aku tidak pernah tau apa yang ada dipikiran ilmuwan gila itu?!" gumam Itachi yang berjalan di depan Sasori.
.
.
.
.
Di ruangan yang begitu mewah, terlihat sosok pria bertelanjang dada tengah memeluk tubuh wanita di bawah selimut tebal. Ranjang kingsize itu cukup berantakan akibat pergulatan panas mereka semalam. Pakaian berserakan dimana-mana dan terdapat cairan cinta yang tidak sedikit tercetak diseprai.
Pria itu terusik dari rasa lelahnya kala mendengar suara berisik yang berasal dari ponsel milik sang pria. Iris citrin itu terbuka perlahan, menampilkan raut kesal karena tidurnya terganggu akibat ulah si penelpon.
Pria itu mengerling ke arah jam dinding yang menunjukan pukul 03.45 pagi. Tangannya segera meraih ponsel dan segera menempelkanya ditelinga setelah menekan tombol yes.
"Hmm? Ada apa Kabuto? Kau tau jam berapa ini?!" gumamnya pelan agar tak membangunkan wanita di sampingnya.
"Maafkan saya tuan Orochimaru, tapi ada berita yang sangat penting!"
Pria itu– Orochimaru mengernyitkan alis, saat mendengar suara Kabuto gelisah. Ia segera beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju balkon, tanpa perlu memakai kaos terlebih dahulu. "Cepat katakan!" perintahnya.
"Para agen FBI melacak keberadaan Sakura di L.A, dan aku sudah menyuruhnya kabur ke Suna untuk bersembunyi."
Orochimaru mendesis.
"Apa semuanya terkendali?" tanya Orochimaru seraya mehiraukan terpaan angin malam yang dingin menusuk kulit pucatnya.
"Ya tuan, tapi anggota ANBU dari pimpinan Jiraya-sama sempat mengecek ruang laboratorium yang kita tinggalkan di Paris sebelum dihancurkan," terdengar helaan napas diseberang "tapi tenang saja tuan, semua bukti dan petunjuk sudah saya tangani," tukas Kabuto bangga.
"Kerja bagus Kabuto," sahut Orochimaru menyeringai.
"Dan ada satu lagi tuan Orochimaru,–"
Dahi Orochimaru berkerut saat tak mendengar suara dari Kabuto. "Apa lagi Kabuto?"
"..."
Tangan Orochimaru terkepal sampai kuku jari memutih dan rahangnya mengeras. "Tch, brengsek!" desisnya dingin setelah memutuskan sambungan telepon.
Tiba-tiba sepasang tangan memeluknya erat dari belakang, Orochimaru berbalik dan menatap nakal wanita dipelukkannya.
"Apa yang kau lakukan disini sayang? Disini dingin," ucap wanita itu manja, ia hanya memakai selimut untuk menutup bagian tubuh polosnya.
Orochimaru menyeringai. Sepertinya ia butuh pelampiasan. Tangannya mulai begerilya menyingkap selimut dan mengusap bagian intim sang wanita. "Kalau begitu, kau harus 'menghangatkan' ku," bisiknya seraya menciumi leher wanita itu dan mengerang.
"Ahh.. Baiklah, ayo!" desah wanita itu sensual.
Mereka 'pun segera melanjutkan 'aktivitas' diranjang, bahkan dinginnya AC tak dapat menghalau peluh keringat yang mengucur bersama desahan sexy milik sang wanita.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Akatsuki mengincar Sakura."
.
.
.
.
Terik sinar matahari di kota Sunagakure memang sangat panas. Semua orang pasti akan menghabiskan waktu untuk berendam di air dingin. Seperti halnya yang dilakukan oleh gadis bersurai softpink ini. Berenang di kolam renang, dengan segelas jus strawberry ditangan kanannya. Mengunakan bikini hijau tosca dengan tali yang melingkar leher jenjangnya.
Sakura tengah bersantai menikmati liburannya yang diberikan oleh tuannya. Yah, anggap saja sebuah liburan, karena ia memang sedang bebas dari misi dan tidak ada senjata yang dipegangnya.
Tapi, tak ada yang tau jika di luar paviliun yang Sakura tempati sekarang tengah diintai dan bahkan sudah dikepung oleh segerombolan orang tak dikenal dengan senjata ditangan mereka.
Kringg kringg kringg.
Suara telepon rumah milik Sakura menginterupsi kegiatannya. Kemudian Sakura beranjak keluar dari kolam renang. Saat Sakura naik ke permukaan air, terlihat tubuhnya yang ramping dan kulit putih mulus sehalus porselen, apalagi dengan tetesan air disekujur tubuh memberi kesan sexy pada dirinya. Sakura mengibaskan rambut softpink-nya yang basah, lalu melangkah menuju pintu.
Disisi lain, seorang pria dengan teropong yang dipegangnya tengah nosebleed berat, melihat suguhan indah objek yang sedang dipantaunya.
.
Sakura tengah berjalan santai menuju telepon itu berada, tanpa memperdulikan lantai yang menjadi basah karena ulahnya.
Bip
Telepon itu berhenti sebelum Sakura mengangkatnya. Namun sebuah suara yang ia kenali terdengar. Sakura terdiam.
"Sakura, jika kau mendengar pesan ku, pergilah dari sana secepat mungkin!"
Sakura mengernyitkan alis bingung. Mendengar isi pesan dari Toneri yang juga anak buah Orochimaru. Toneri juga rekan Sakura dalam menjalankan misi. Tangan Sakura terulur meraih gagang telepon.
"Saat ini kau sudah dikepung oleh musuh, Aku akan..."
DOR
Sakura reflek berguling menghindar dari serangan tiba-tiba tersebut. Gagang telepon yang sempat ia pegang terjatuh. Peluru itu hampir melukai tanganya, namun meleset mengenai telepon, sehingga telepon itu mati sebelum voice mail dari Toneri terselesaikan.
"Cih, sial!"
Sakura tiarap bersembunyi di balik sofa merah marun. Kini Sakura bisa mendengar langkah kaki mendekati tempatnya. Ia tidak bisa apa-apa selain menghindar.
Sakura mengintip dari balik sofa. Manik emerald-nya menangkap beberapa orang berbaju hitam memegang pistol. Ia tengah memperhitungkan celah untuk berlari.
Beberapa orang sudah menjaga ketat pintu, jendela, dan ada yang sudah mengevakuasi masuk ke dalam rumah dengan mendobraknya. Mereka berpencar memasuki salah satu ruangan.
Sakura tak menyinyiakan kesempatan ini, ia segera berlari secepat mungkin menuju pintu belakang. Sakura menyambar asal mantel berbulu yang terletak di rak gantung dekat pintu belakang untuk menutupi tubuhnya yang hanya memakai bikini.
Disana sudah terdapat mobil Nissan GT-R berwarna putih. Tak butuh waktu lama Sakura sudah masuk ke mobil dan segera tancap gas menabrak pintu garasi hingga hancur.
DOR DOR DOR
PRANG!
Salah satu peluru mengenai kaca belakang mobil yang Sakura kemudikan hingga pecah.
DOR DOR DOR DOR
Tembakan terus berlanjut, namun peluru itu hanya mengenai bagian belakang mobil.
BRUMM
Sakura membanting stir berbelok keluar dari kawasan paviliunnya. Ia mengemudi dengan kecepatan penuh menuju jalan raya. Saat melirik kaca spion, ia bisa melihat ada dua mobil sedan hitam mengikutinya.
.
Sakura sudah menyalip beberapa mobil, namun mobil sedan itu tetap di belakangnya. Bahkan sempat beberapa kali Sakura hampir menabrak mobil dari arah yang berlawanan.
Tak kehabisan akal, Sakura berbelok ke jalan satu arah –jalan tol– dan menyalip beberapa macam mobil di depannya dengan lihai.
Dari pengelihatannya yang tajam tak seperti manusia kebanyakan, manik emerald Sakura bisa melihat jauh di depan terdapat sebuah truk besar yang akan melintas ke tikungan tajam, dan hanya berjarak kurang lebih 1km dari posisinya sekarang.
BRAK!
Mobil sedan itu berhasil menabrak mobil Sakura di sisi kanan dan kiri, hingga badan mobil Sakura terhimpit dan peyok.
BRAK!
Sakura masih bertahan diposisinya, menunggu saat yang tepat. Guncangan akibat tabrakan itu tak akan mempengaruhinya, ia bahkan masih menyetir dengan normal.
Sakura memperkirakan jarak antara tikungan tajam itu dengan truk masih 200 meter lagi, dan Sakura tak menyinyiakan kesempatan itu. Tangan kanan Sakura terulur membuka dashboard untuk mengambil sebuah pistol dan sebelah tangan yang lain tetap berada distir mobil.
Setelah berhasil mendapatkan pistol, Sakura melambatkan kecepatannya. Ia melirik kanan dan kiri, kedua mobil sedan itu sudah berhenti menabrakan badan mobilnya. Segera saja ia menekan pedal gas hingga kecepatan penuh, dan terbebas dari jangkauan kedua mobil sedan itu.
Sakura sudah berada di samping truk. Ia membuka sisi jendela mobilnya lebar. Sebuah seringai terpatri diwajah cantiknya, dan semakin melebar saat melihat mobil hitam yang mengikutinya masih beberapa meter dari belakang truk.
Sakura melepaskan NOS yang tahan beberapa detik hingga kecepatannya melampaui truk. Setelah mencapai letak strategis-nya, ia memutar kemudi dan badan mobilnya berbelok hingga sembilan puluh derajat. Ia mengulurkan tangannya dengan sebuah pistol yang berisi enam peluru guna membidik sasaran yang tepat, yaitu benda bulat yang mengelinding di bawah truk.
DOR
Peluru itu tepat mengenai ban truk hingga pecah. Kemudian truk itu oleng dan detik berikutnya badan truk berguling menabrak pembatas jalan. Tak ada celah untuk mereobos karena badan truk itu menyalang dan menghalangi jalan kedua mobil sedan hitam itu.
"Goodbye losers!"
.
.
Sakura kembali mengemudi dengan santai melewati jalanan yang sedikit ramai dari hiruk pikuk kota Suna. Beberapa toko dan gedung berada dikedua sisi jalan, namun belum sempat ia bernapas lega, sudah ada satu mobil polisi yang berada di belakangnya. Mungkin karena melihat mobilnya yang rusak parah, tapi jika ia diinterograsi oleh polisi itu tamat 'lah riwayatnya.
Sakura segera menambah kecepatan, namun masih berada dibatas yang wajar. Ia berhasil menyalip beberapa mobil yang berada di depannya. Beruntung bahan bakar mesinnya masih ada digaris kuning.
"Damn it!"
Sakura terpaksa menghentikan mobil karena jalanan yang dilalui-nya macet total. Sakura melirik kearah kaca spion. Di sana sudah ada beberapa mobil polisi yang bertambah seiring perjalanannya, dan mereka sudah berada di belakangnya beberapa meter yang terhalang mobil penduduk lain.
Ternyata mereka tidak menyerah, polisi itu keluar dari mobil dan berjalan kearahnya. Sakura segera mengambil pistol yang sempat diletakkannya. Ia membuka pintu mobil setelah menutup kepala merah mudanya dengan tudung mantelnya. Kemudian ia berlari melewati kerumunan mobil dan meninggalkan mobilnya di tengah jalan.
"Berhenti!"
Terdengar suara dari arah belakang, sepertinya salah seorang polisi berlari mengejarnya, namun Sakura abaikan dan terus berlari menuju pinggir jalan. Mantelnya berkibar mengikuti langkahnya, menampakkan paha mulus gadis musim semi itu.
Sakura menyelinap diantara lautan manusia, tak jarang segala umpatan yang ia terima karena ditabraknya. Sakura berbelok arah menuju gang sempit, ia sempat menengok ke belakang untuk memastikan tak ada yang mengejarnya.
Tapi sepertinya, dewi fortuna tidak berpihak padanya. Dua anggota polisi itu berhasil menyusulnya, Sakura mulai kehabisan tenaga dan kelelahan. Di ujung gang terlihat jalan keluar dan menuju ke jalan raya.
"Shit."
Sakura mendecih saat sampai di ujung gang dan berada dipinggir jalan raya, tak ada celah untuk berlari ke seberang jalan. Saat ia menoleh, emerald-nya menangkap sebuah mobil Audi R8 yang terparkir manis di depan toko.
.
.
"Sial, kemana orang itu?!" ucap salah satu polisi kebinggungan.
"Ayo kita cari ke sebelah sana!" sahut polisi lainnya.
Merekapun berlari menjauh tanpa tahu seorang gadis yang tengah bersembunyi di dalam mobil tempatnya berbicara tadi.
.
.
Kini Sakura bisa berhapas lega ketika polisi itu pergi. Ia berhasil mengelabuhi kedua polisi itu. Sejenak ia beristirahat mengatur napasnya karena berlari sepanjang jalan.
Namun tidak disangka pintu mobil terbuka dan menampakan seorang pria bersurai merah tengah terkejut melihat Sakura sedang mengacungkan pistol di depan wajahnya.
"Diam. Dan. Masuk!"
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
aduh pusing pala bebi pala bebi ow ow ow *nyanyi* #plak
Maaf kalau ada kesalahan dalam action-nya atau mungkin feel-nya kurang. ^O^
emm disini Sakura gak berganti nama, soalnya ntar reader pada bingung dan author juga bingung O_o
.
Terimakasih atas review kalian, itu membuat saya jadi semangat buat nulis.
Ne, tebak siapa yang di sandra oleh Sakura. khukhukhu *ketawajahat*
.
.
Mind RnR ?
.
.
.
05-07-2015
