Naruto selamanya milik Bapak Masashi Kishimoto.
.
Sasuke melongarkan dasinya begitu sosok merah muda itu hilang dari pandangannya. Kepalanya menyandar pasrah pada sofa cokelat yang sedari tadi didudukinya. Helaan napas meluncur kala mengingat kembali mata hijau yang terus menatapnya marah. Kesal. Bahkan murka padanya.
Seakan-akan mangatakan bahwa ia adalah makhluk menjijikan dan harus dimusnahkan.
Wajar sebenarnya jika wanita itu merasa tidak terima. Jadi Sasuke seharusnya tidak perlu terganggu seperti ini. Tidak perlu lagi memusingkan segala sikap kasarnya, tapi nyatanya muncul perasaan tidak biasa setiap menatap mata hijau itu. Sasuke merasa direndahkan. Serasa benar-benar dihina.
Biasanya wanita selalu memandang kagum padanya. Tentu karena tampangnya yang memang dianugerahkan begitu indah oleh sang pencipta. Para wanita biasanya tidak akan bisa berkutik oleh pesonanya, terutama senyumannya. Itu mutlak, karena Sasuke sudah mempraktikannya pada banyak wanita yang ditemuinya. Dan tidak pernah sekalipun ia mencetak kegagalan.
Ditambah lagi dengan kedudukan dan harta yang Sasuke miliki, yang pastinya tidak bisa diabaikan begitu saja. Faktor ini amat sangat mendukung kesempurnaan seorang Sasuke Uchiha. Tampan dan kekuasaan, keduanya adalah kombinasi yang sangat sempurna. Menggiurkan. Bahkan menimbulkan kebanggaan tersendiri bagi para wanita yang bisa menghabiskan waktu bersamanya.
Setelah itu wanita rela memberikan apa saja tanpa perlu Sasuke memaksa bahkan meminta. Padahal Sasuke melakukan—mengabulkan keinginan mereka—semua hanya untuk bersenang-senang. Tidak lebih. Baginya semua hanyalah permainan. Seks pun bukan menjadi tujuan utama, meski nyatanya pasti berakhir di atas ranjang. Sekali lagi, itu hanyalah bagian dari kesenangannya. Tidak pernah ada cinta terlibat di dalamnya.
Dan ketika kesenangan sudah tidak lagi dirasa, Sasuke pun membuang mereka dengan mudah. Layaknya benda yang sudah tidak layak pakai. Tidak peduli mereka akan menghujat dirinya dengan kata-kata kasar, atau yang terparah menampar pipinya kuat-kuat. Tapi nyatanya, kebanyakan dari mereka malah meminta bahkan mengemis-ngemis agar Sasuke mau kembali. Benar-benar makhluk bodoh.
Bakhan tak sedikit pula yang mempertanyakan perasaan cintanya?
Cinta?
Sasuke ingin tertawa dengan perasaan konyol macam itu. Apa ada di dunia ini wanita yang benar-benar mencinta dengan setulusnya? Adakah? Jikalau memang ada pun jumlahnya tidak seberapa. Jari tangan yang dimilikinya pun masih terlalu banyak digunakan untuk menghitungnya.
Selama ini semua wanita yang ia temui hanyalah wanita serakah. Bahkan dirinya saja terlahir bukan atas dasar cinta. Dibesarkan pun tanpa pernah mengenal apa itu cinta dan kasih sayang. Semua yang diberikan padanya hanya tuntutan, perintah dan tanggungjawab. Sasuke selalu dipaksa untuk memberi, tapi tidak pernah sedikit pun ia menerima apa yang diinginkannya.
Semua hanyalah kekosongan. Hidupnya hanyalah kehampaan.
Dan tatapan mata hijau Sakura membuatnya kesal karena mata itu menatapnya sama. Pandangan mata itu sama-sama tidak membuat Sasuke nyaman.
Merasa muak. Sasuke lantas menyambar ponsel hitamnya yang tergeletak di atas meja kaca itu. Ponsel yang dikhususkan untuk memanggil kesenangan datang padanya. Mencari nomor wanita yang sekiranya bisa menghilangkan rasa muaknya barusan. Entah itu dengan model, pengusaha, atlet, atau aktris yang sedang meroket. Toh, tidak ada yang tidak ingin menghabiskan waktu dengan seorang Presdir dari Uchiha Corp.
Tangannya pun berhenti mencari setelah mendapatkan nama wanita yang diinginkannya. Menghubungi dan kemudian pergi untuk bersenang-senang. Melupakan rasa penghinaan yang selalu membuatnya jengah.
…
Dering ponsel menyahut keras, membuat dua orang yang tengah tertidur lelap terusik karenanya. Sasuke yang awalnya terlihat tidak memedulikannya akhirnya mengalah karena tidak tahan akibat suara bising yang dihasilkan ponsel pintarnya. Satu tangannya segera menyambar ponsel putih yang terletak di atas nakas persis di sebelah tempatnya tidur.
"Bangun pemalas!" sahut suara di seberang dengan lantang. Bahkan tidak memberi kesempatan Sasuke untuk sekadar mengatakan 'halo'.
Sasuke memijit pelan pangkal hidungnya. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya terbuka lebar.
"Apakah kau tahu jam berapa sekarang?" tanya sang penelepon dengan nada membentak.
"Ini masih pagi, Sialan!" jawab Sasuke setelah berhasil menangkap waktu yang ditujukan pada jam yang tergantung di dinding kamar hotel itu.
"Dan kau tidak ingat kalau pagi ini kau ada pertemuan dengan pihak Sabaku Group." Mendengar perkataan santai dari lawan bicaranya, Sasuke mendecak kesal.
Rasa tidak nyaman mulai menyergapnya kala mendengar nama Sabaku disebut. Bagaikan sebuah mantra, dalam sekejap saja benak Sasuke sudah memunculkan sosok perempuan berambut merah muda yang angkuh. Sabaku Sakura, dengan mata hijaunya yang enggan Sasuke lihat.
Sasuke sendiri tidak mengerti mengapa ia begitu terganggu dengan mata hijau itu, karenanya tanpa sadar Sasuke kembali berdecak kesal.
"Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau bersenang-senang dalam waktu yang berdekatan. Sesuatu sedang menganggumu? Jangan katakan kalau ini menyangkut adik dari Sabaku itu?"
"Diamlah!" bentak Sasuke. Tangannya pun lantas menepis kasar lengan putih yang memeluk pinggangnya. Lengan milik wanita yang juga tidak mengenakan satu busana apapun di tubuhnya, yang masih memejamkan kedua matanya. Dan tampak tidak terganggu oleh perlakuan Sasuke barusan.
Sasuke tidak langsung beranjak dari tempat tidurnya. Ia hanya duduk, menunggu kesadarannya benar-benar pulih. Apalagi kepalanya masih berdenyut-denyut karena telalu banyak meminum minuman yang memabukkannya semalam.
"Dia menolakmu? Dia menolak pesonamu?" Terdengar gelak tawa dari seberang, bahkan saking kerasnya sampai membuat satu mata Sasuke menyipit.
"Siapa bilang aku menargetkan wanita itu! Aku bahkan tidak tertarik untuk bermain dengannya."
Suara tawa itu masih terdengar meski tidak sekeras sebelumnya, "Ternyata ada juga wanita pintar di muka bumi ini."
Dan suara tawa itu sukses membuat mood Sasuke memburuk. Sebenarnya bagi Sasuke, Sabaku Sakura masihlah sama dengan para wanita lainnya, kecuali tatapan matanya. Tidak ada sorot memuja di kedua bola matanya. Namun Sasuke mengasumsikannya karena wanita itu mendengar pembicaraan yang seharusnya terlarang untuk didengar oleh kaum wanita. Jadi kesimpulannya, sorot mata itu hanyalah bentuk kemarahan pada dirinya saja.
Mungkin semua akan lain ceritanya kalau saja wanita itu tidak mendengar pembicaraan rahasia itu. Begitulah Sasuke merumuskannya semalam. Hanya saja Sasuke malas memperdebatkan hal ini dengan lawan bicara yang sepertinya belum puas menertawainya.
"Diam, berengsek! Sejak kapan kau jadi secerewet ini?!"
"Sejak kau selalu membuatku repot! Kau tahu, aku seperti memiliki dua orang anak sekarang. Bahkan anakku saja sudah mengerti akan tanggung jawabnya sendiri."
"Itu memang pekerjaanmu. Kau memang dibayar untuk ini," ucap Sasuke santai dan akhirnya bangkit. Mata hitamnya mulai menjelajah dan menemukan pakaiannya berserakan di lantai, lalu keluarlah desahan pelan dari mulutnya.
"Aku butuh pakaian," ucapnya lagi, masih dengan nada yang santai. Sebenarnya tak perlu mengatakan pun Sasuke tahu sepupunya ini pasti sudah menyiapkan segalanya.
"Keluar saja sana dengan tubuh kebangaanmu!" sahut suara di seberang kesal, sebelum akhirnya menghela napas lelah, "Hei, Sasuke … kalau ada yang menganggumu kau bisa katakan padaku. Kita ini keluarga."
"Jangan bilang kau benar-benar mau mengangkatku sebagai anak."
"Idiot!" sahut lawan bicara Sasuke hingga membuat Sasuke tertawa puas. Detik berikutnya terdengar suara ketukan pada pintu kamar itu.
"Sepertinya Obito sudah tiba. Sampaikan salamku untuk istrimu dan juga keponakanku tersayang. Katakan kalau aku akan menjenguknya nanti."
Tanpa menunggu balasan, Sasuke segera mematikan panggilan telepon itu. Menghela napas sejenak sebelum akhirnya bersiap-siap menjalani tugasnya.
…
"Apa nenek tua itu menghubungimu?" tanya Sasuke setelah mengecek ponsel putihnya. Mendapati satu nomor yang sama menghubunginya lebih dari lima kali. Nomor milik wanita yang paling tidak ingin ia temui.
"Iya, Tuan," jawab Obito sembari melirik dari kaca spion tengah. Melihat sepasang mata hitam sedang menatapnya tajam.
"Lalu?"
"Saya menjawab seperti biasanya."
"Baguslah."
Obito selaku supir pribadi Sasuke tidak lagi merasa heran dengan kebiasaan sang majikan. Sudah ratusan kali Obito mengantarkan Sasuke pulang dalam keadaan mabuk atau mengantarnya ke berbagai hotel dengan wanita yang berbeda. Tidaklah mengherankan mengingat Obito sudah mengabdi pada Sasuke sejak ia masih berusia muda, bahkan sebelum Sasuke diangkat menjadi Presiden Direktur dari Uchiha Corp.
Dan penyebab yang membuat Sasuke bertingkah seperti ini pun Obito mengetahuinya, namun ia memilih bungkam. Sama seperti yang dilakukan tuan mudanya. Sasuke selalu menyimpan semuanya sendiri dan tumbuh menjadi penyendiri. Kala itu, diumurnya yang masih belasan tahun Sasuke mendapati kenyataan hidup yang teramat pahit. Dan saat itu pulalah Obito mendapati tuan mudanya menangis untuk pertama kalinya. Biasanya, sekeras apapun perintah yang didapatnya. Seberat apapun tugas yang harus dilaksanakan, tidak pernah ada butiran air mata turun meski Sasuke mengeluh tidak mampu.
Tapi malam itu semua berbeda. Mungkin karena saking tidak bisanya menerima kenyataan itu. Dan begitulah awal mula kepribadian tuan muda-nya berubah drastis. Sikapnya jelas berubah. Baginya hidup ini hanya sekadar hidup, tanpa adanya tujuan hidup.
Semenjak itu Obito tidak pernah lagi mendapati air mata menetes dari kedua matanya. Tidak lagi Sasuke berkeluh kesah padanya. Ia bertingkah seakan dia menerima semuanya, padahal Obito tahu kalau Sasuke terus menangis menjalani hidupnya. Hidupnya yang hanya berisi tuntutan, tanpa sebuah kasih sayang
Sasuke pun hanya berbicara seperlunya saja pada Obito. Keheningan bukan suatu hal yang asing lagi. Malah lebih sering mendominasi, seperti sekarang.
Begitu tiba di gedung Uchiha Corp, Sasuke pun bergegas masuk mengabaikan sapaan beberapa karyawannya dan sesekali mengecek waktu pada jam yang melekat di pergelangan tangan kirinya. Masih tersisa beberapa belas menit dari waktu pertemuannya dengan pihak dari Sabaku Group, karenanya dengan santai Sasuke berjalan masuk ke dalam lift setelah para penghuni sebelumnya berhamburan keluar. Sasuke sengaja memperlambat langkahnya saat melihat pintu besi itu terbuka sehingga tidak mengharuskannya untuk menunggu di depan pintu lift.
Namun mata hitamnya menangkap ada langkah kaki yang masuk bersamaan dengannya. Sepasang sepatu merah menyala milik seorang wanita, yang pada awalnya Sasuke anggap milik salah satu karyawannya.
Keduanya pun menoleh secara bersamaan dan seketika mata berbeda warna itu saling melempar tatapan tak suka. Sakura bahkan sampai mendengus kesal. Kemudian secara bersamaan pula keduanya memutuskan pandangan itu. Mereka sama-sama menatap ke depan, yang sialnya malah menampakan sosok keduanya lewat pantulan lapisan besi itu.
"Selamat pagi," sapa Sasuke santai. Bagaimanapun juga ia tahu diri bahwa sosok di sebelahnya adalah seorang tamu penting, meski ia sendiri merasa amat kesal. Mood-nya yang sudah rusak karena perlakuan sepupunya kini diperparah oleh dengusan sebal yang meluncur dari wanita di sebelahnya.
Sakura membuang muka sebelum membalas sapaannya, "Pagi," ucapnya ketus.
Dan sekarang ditambah dengan sikapnya yang menyebalkan. Apakah dirinya semenjijikan itu? Batin Sasuke kesal.
Sasuke bahkan tidak mengerti mengapa ia bisa sangat terganggu dengan segala perlakuan dari wanita itu? Dia hanyalah Sabaku Sakura. Tidak ada hal yang khusus darinya … Oh, mungkin ada satu. Mata hijaunya. Bukan karena warna matanya. Tapi bagaimana mata itu memandang dirinya.
Memandangnya dengan pandangan merendahkan.
Pergerakan waktu yang dialami keduanya terasa melambat dari biasanya. Tiap detik yang mereka habiskan jadi terasa amat menyiksa. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu sebentar jadi terasa selamanya. Ditambah lagi ketika pintu lift terbuka di tiap lantai, para pegawai yang semula menunggu secara kompak menolak untuk masuk. Benar-benar pagi yang buruk, batin keduanya bersamaan.
Bahkan Sakura menambahkan umpatan di dalam hatinya. Kekesalannya pada pria di sampingnya benar-benar tidak bisa ditolerir lagi, karena secara tidak langsung ada predikat yang menempel pada wajah Sakura setiap mata hitam itu memandangnya. Predikat makhluk bodoh. Jadi, bagaimana Sakura bisa merasa nyaman berada di dekat pria menjijikan ini, jika tangannya saja selalu merasa gatal untuk menghajar wajah pria yang memang tergolong tampan itu.
Tampan memang, tapi sayang sikapnya tidak sebagus wajahnya.
Tak jauh berbeda dengan lawan bicara Sakura sebenarnya. Sasuke sendiri pun merasa keheranan. Mengapa suhu ruangannya jadi terasa amat panas? Bagaikan matahari berpindah tugas menyinari ruangannya saja. Sasuke tahu, keanehan ini bukanlah kesalahan dari alat pendingin ruangannya. Ia tahu, benda itu masih berfungsi dengan baik. Dan Sasuke juga tahu penyebabnya jelas ada pada wanita merah muda yang tengah duduk tenang di sofanya.
Di mana masalahnya terletak tepat pada sepasang mata hijau yang dimilikinya. Pandangan mata hijau itu selalu mengingatkannya pada sosok yang paling ia benci di dunia ini.
Sehingga tanpa disadari oleh keduanya. Mereka sama-sama saling menghindar untuk bertatapan. Jika salah satu berbicara, maka yang lainnya berpura-pura sibuk melakukan hal lain. Entah itu membolak-balikkan kertas dokumen atau mengecek ponselnya sesaat. Ada pula yang memilih berbicara sembari melihat tulisan yang tercetak pada lembar dokumen yang dipegangnya.
Namun rupanya mereka tidak bisa selamanya terus menghindar ketika menemukan keganjilan yang tertulis pada lembaran kertas yang dipegang keduanya. Hal itu adalah masalah yang penting, apalagi keduanya sama-sama berprinsip menempatkan bisnis di atas segalanya. Lagi pula bukankah itu tujuan mereka bertemu sekarang.
"Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak bisa menyetujui point ini. Jelas pada bagian yang tertera di sini tidak banyak menguntungkan pihak Uchiha Corp."
Sasuke-lah yang lebih dulu membuka suara penuh keseriusan, sama seperti mata hitamnya yang kini memandangi lawan bicaranya. Persetan dengan rasa jengah yang melandanya. Keuntungan tetaplah harus diprioritaskan.
"Tapi kalau persentase itu dinaikkan lagi maka pihak dari kami lebih banyak mengalami kerugian. Dan lagi untuk bagian point selanjutnya sudah dipegang kendali oleh Uchiha Corp. Masalah pengambilan keputusan dan semua hal harus didasari atas persetujuan pihak Uchiha Corp. Bukan lagi hanya bertugas sebagai pengawas dan peninjau. Kami sudah mengubah keduanya, saya rasa itu sudah cukup."
Sakura pun melakukan hal yang sama. Sepasang mata hijaunya balas menatap tegas pria di depannya, setegas ucapannya barusan. Masa bodo-lah dengan rasa jijik yang menyerangnya. Ia tidak boleh mengecewakan kakaknya yang sudah memercayakan proyek ini padanya.
"Di sini kami bekerjasama dengan Anda. Bukan menjadi budak dari Uchiha Corp," tambah Sakura penuh penekanan.
Sasuke menyeringai sembari menyandarkan punggungnya dengan nyaman. Bahkan tangan kirinya pun ikut menyandar di atas sofa cokelat itu, "Tapi tanpa kami, Sabaku Group tidak akan bisa melakukan semua ini," ucapnya santai.
"Tapi jika Anda tidak melihat adanya keuntungan dari proyek kerjasama ini, maka Anda tidak akan mungkin menyetujuinya, Uchiha. Aku tidaklah bodoh. Oh, tentu aku bukanlah salah satu dari makhluk-makhluk bodohmu itu," balas Sakura dengan seringai yang sama.
Seketika wajah Sasuke menegang. "Anda melenceng dari topik, Nona Sabaku," ucapnya penuh kemarahan yang masih coba ditahannya.
Sakura yang menyadari itu hanya tersenyum santai, "Anda tersinggung?"
"Tentu tidak," jawab Sasuke. Tangan kiri yang semula bersandar kini sibuk melonggarkan dasi yang sewarna dengan jas yang dipakainya. Walaupun ia merasa darah di dalam tubuhnya mendidih, namun Sasuke tetap berusaha untuk terlihat tenang.
"Hanya saja aku tidak bisa bertanggungjawab jika mulutku mengatakan hal yang lebih kejam dari sebelumnya," sambungnya seraya menengakkan punggungnya. Matanya tidak lagi segan menutupi amarahnya. Bagi Sasuke, sudah cukup jika dirinya dikendalikan oleh nenek tua sialan itu.
"Dan jangan berpikir untuk bisa menang dariku, Nona."
Sakura tertawa dengan nada yang jelas merendahkan. "Menang dari orang yang senang mempermainkan makhluk bodoh. Itu sama sekali tidak bisa kusebut sebagai kemenangan."
Mata hitam Sasuke melempar tatapan geli, "Tidakkah kau sadar, mulutmu sendiri baru saja mengakuinya …." Dan kini Sasuke melakukan hal yang sama, tertawa dengan penuh kemenangan, "… makhluk bodoh."
Tanpa sadar Sakura meremas kuat kertas yang dipegangnya. Tangannya bahkan sampai bergetar kuat karena emosi. Barusan pria itu menghinanya. Pria menjijikan itu MENGHINANYA!
"Harusnya kau sadar dari mana dirimu lahir, Berengsek!" bentak Sakura kasar. Tangannya pun tak lagi segan menunjuk-nujuk ke lawan bicaranya, dengan tubuh yang sudah berdiri tegak, "Ibumu adalah seorang wanita, lalu apa kau juga memasukan ibumu sendiri sebagai makhluk bodoh itu, HAH!"
Kali ini mata Sasuke tidak ragu lagi menatap sepasang mata hijau yang tengah menatap penuh amarah padanya. Ada kepuasan tersendiri saat mengetahui perempuan di depannya tengah murka. Sekilas Sasuke sempat merefleksikan tatapan Sakura sekarang adalah tatapan dari wanita yang paling dibencinya.
Dan Sasuke merasa menang.
"Ya," jawabnya dengan tenang, bahkan dengan santainya Sasuke kembali menyandarkan punggungnya. Salah satu sudut bibirnya pun tertarik sebelum kembali melontarkan ucapan dengan nada yang sama, "Apa kau puas dengan jawaban itu?"
"Kau benar-benar menjijikan!" Sakura menjeda tiap kata itu dan memberi penekanan saat mengucapkannya. Menunjukkan kalau pria itu memanglah menjijikan. Kemarahannya benar-benar telah sampai pada batasnya. Kertas yang sudah remuk di dalam genggaman bahkan ia lempar ke wajah Sasuke, sebelum ia melangkah pergi meninggalkan pria berengsek itu.
Sakura tidak peduli jika tindakannya barusan akan memberikan dampak buruk untuk kerjasama yang sedang dirintis oleh Uchiha Corp dan Sabaku Group. Jawaban dari Presdir Uchiha itu tidak bisa lagi dimaafkan. Bayangkan, dia bahkan menganggap ibunya adalah makhluk bodoh! Seorang ibu yang jelas-jelas telah melahirkannya ke dunia. Bagaimana bisa? Sakura tidak habis pikir dengan pemikiran pria itu.
Suara langkah Sakura yang terlampau keras membuat beberapa pasang mata yang dilewatinya menatap heran. Terlebih wajahnya jelas sekali menampakan kekesalan saat melangkah keluar dari ruangan pimpinan Uchiha Corp. Tentunya hal itu menimbulkan tanya, tapi sekali lagi, Sakura sudah benar-benar tidak peduli.
Sasuke tertawa puas ketika sosok itu berjalan meninggalkannya. Ia benar-benar merasa menang. Awalnya ia sempat kaget saat sebuah kertas mendarat di wajahnya. Namun berikutnya, hal itu malah menjadi kelucuan sendiri untuknya. Jelas sekali pukulan itu tidaklah menyakitkan karena Sasuke pernah mendapatkan tamparan yang lebih keras di pipinya. Dan semua perlakuan itu sama sekali tidak keberatan untuk diterima olehnya.
Bukan karena Sasuke pantas mendapatkannya. Tapi itulah bukti atas kemenangannya.
….
Sakura merutuki kebodohannya setelah akal sehat kembali menguasai dirinya. Ia salah, dan Sakura sadar akan itu. Tapi perlu diperhatikan kalau Sakura tidak menyesali semua umpatan dan perlakuan kasarnya pada Sasuke. Pria berengsek itu memang pantas mendapatkannya. Sangat pantas!
Namun sekarang permasalahannya ada pada proyek kerjasamanya dengan pihak Uchiha. Hal yang menganggu pikiran Sakura sedari tadi. Memang awalnya Sakura tidak peduli pada masalah ini, tapi itu semua karena emosi tengah menguasainya dan setelah emosi itu lenyap, barulah Sakura tersadar kalau proyek ini teramat penting bagi Sabaku Group. Proyek ini bagaikan ujung tombak penyelamat yang seharusnya Sakura perjuangkan mati-matian. Tapi malah ia sia-siakan karena rasa kesalnya.
Bodoh. Bodoh. Bodoh. Sakura terus mengulang kata itu di dalam hatinya.
Sekarang apa yang harus ia katakan pada Gaara? Sakura bahkan tidak sampai hati menceritakan kejadian tadi siang. Semula ia ingin melampiaskan kekesalannya lagi pada Gaara, tapi segera diurungkan kala Sakura ingat bahwa ia meninggalkan proyek itu begitu saja. Ditambah dengan tangannya yang melempar kertas penting itu ke wajah pimpinan Uchiha Corp.
"Haaaaaahhhh…" Sakura menghela napas lelah. Kepalanya pun terkulai lemas.
Langit Konoha yang menggelap bagai pertanda bagi Sakura untuk kembali ke apartemennnya setelah berputar-putar jalan Konoha tanpa tentu arah dan tujuan. Menghabiskan waktu untuk meredakan amarah sekaligus merutuki tindakan bodohnya.
Rasanya Sakura perlu membersihkan diri agar dapat berpikir dengan tenang. Mungkin saja kepalanya bisa memunculkan ide bagus setelah diguyur oleh air bersuhu dingin. Siapa tahu juga bisa ikut mendinginkan hati Sakura yang selalu panas setelah mengingat-ingat jawaban Uchiha berengsek itu.
Sakura melangkah cepat setibanya di Konoha Sky Tower. Salah satu apatemen termewah dan terbagus di Konoha. Tentunya Sakura tidak perlu meragukan pilihan Gaara dalam mengurus semua keperluannya. Sebenarnya jika boleh memilih, Sakura lebih senang tinggal di tempat yang biasa saja. Jauh dari hiruk-pikuk kesibukan kota. Namun rupanya menolak Gaara adalah hal yang cukup sulit dilakukannya.
Dengan bermodal kata andalannya 'tolong jangan buat aku khawatir' maka anggukan kepala yang langsung Sakura berikan. Sakura tahu, dari semua anggota keluarganya Gaara-lah yang merasa sangat kesulitan. Kondisi perusahaan bukanlah satu-satunya yang Gaara khawatirkan, tapi kesehatan ayah juga menyita banyak pikirannya. Meski mereka sekarang juga adalah bagian dari Gaara, tapi ayah jelas adalah prioritas utamanya.
Karena itulah Sakura juga tidak ingin menjadi tambahan beban untuk Gaara. Membiarkan Gaara mengurusi semua keperluannya di Konoha setidaknya bisa membuat kakaknya merasa tenang. Tapi ternyata Sakura terlalu gampang mengambil kesimpulan. Entah bagaimana takaran tenang untuk seorang Gaara, karena ternyata kakak laki-lakinya itu selalu meneleponnya. Setiap hari.
Mengingat itu Sakura kembali dilanda perasaan bersalah. Apa yang akan ia katakan nanti ketika Gaara menghubunginya? Sakura mengecek waktu pada jam tangannya. Biasanya Gaara meneleponnya sekitaran pukul delapan malam. Masih ada cukup waktu bagi Sakura untuk berpikir keras dan menemukan jalan keluar dari masalah yang dibuatnya.
Lantai sebelas dan pintu lift terbuka. Sakura pun bergegas keluar menuju apartemen miliknya. Tangannya mulai sibuk menekan angka kombinasi kunci, namun baru tiga digit angka yang ditekannya suara pintu ruangan apartemen yang tepat berada di sebelahnya terbuka. Hal itu membuat kegiatannya terhenti sejenak untuk melirik pemilik apartemen sebelahnya, atau jika boleh berakrab diri Sakura bisa menyebutnya sebagai tetangga.
Awal menempati apartemen ini Sakura memang sempat kepikiran tentang siapa penghuni yang mengapitnya. Tujuan utama dari pemikiran itu hanya satu. Apakah pemilik apartemen itu berjenis laki-laki atau perempuan? Meski jarang bertegur sapa atau bahkan bertemu, setidaknya Sakura bisa berkali-kali lipat merasa nyaman jika penghuninya sejenis dengannya.
Namun kenyataan yang diterima bahkan lebih buruk daripada kemungkinan buruk yang sempat melintas dipikirannya dulu. Sakura berani bersumpah tidak akan pernah menyebut ini takdir atau kebetulan, tapi Sakura lebih senang jika menyebutnya dengan kesialan.
Mata berbeda warna itu sama-sama melebar. Terkejut. Tatapan itu bertahan selama dua puluh detik sebelum suara Sakura memecah keterkejutan mereka.
"Oh, Sial!" umpatnya. Dari semua manusia yang ada di muka bumi mengapa harus Uchiha Sasuke yang menjadi salah satu penghuni apartemen tepat di sampingnya.
Apa Gaara mengetahui ini? Apa dia sengaja melakukan ini? Akan ia cari tahu jawaban itu nanti karena seketika Sakura ingat ada hal yang lebih penting setelah nama Gaara muncul dalam pikirannya.
Apalagi kalau bukan mengenai proyek kerjasama dengan Uchiha Corp yang harus Sakura selamatkan. Tapi Sakura sama sekali belum menemukan ide untuk menyelesaikan masalahnya. Apa? Apa yang harus dilakukannya sekarang?
Namun waktu tidak memberikan Sakura kesempatan untuk berpikir. Bukan, bukan waktu, tapi Sasuke yang tidak memberikannya kesempatan berpikir karena sekarang pria itu mulai melangkah pergi. Sakura harus bertindak. Bukankah ini adalah kesempatan baginya untuk berbicara dengan pimpinan Uchiha Corp dan memperbaiki semuanya.
Singkiran dulu egonya. Ingat Gaara. Ingatlah Sabaku Group, batin Sakura menyemangati diri.
"Tunggu, Uchiha!" perintah Sakura saat punggung pria itu berlalu beberapa senti darinya.
Sebuah dengusan kasar muncul, yang tak lupa ditambah dengan ekspresi tak suka terpasang di wajahnya. Wanita itu baru saja memberi perintah padanya? Dasar gila! Jelas Sasuke tidak terima dengan perintah Sabaku itu, tapi anehnya kenapa ia berhenti? Kenapa dengan bodohnya kedua kakinya malah berhenti melangkah? Kenapa ia malah menuruti perintah wanita aneh itu? Sial! Pasti ada yang tidak beres dengan otaknya.
"Ada yang harus kita bicarakan," ucap Sakura sembari membalikkan tubuhnya. Memandang tajam punggung Sasuke.
"Kita? Kurasa aku sama sekali tidak ingin membicarakan apapun denganmu," ucap Sasuke santai dan kemudian melangkah kakinya lagi. Mengabaikan Sakura yang menggeram marah.
"Oke, Berengsek. Aku yang ingin bicara denganmu."
Langkah Sasuke terhenti dan dengusan kembali muncul sebelum ia menolehkan kepalanya ke belakang. Menatap Sakura lengkap dengan seringai pada wajah tampannya.
"Aku tidak suka berbicara dengan wanita kasar."
Sakura mendesah pasrah. Toh, ia memang tidak memiliki pilihan lain.
"Baiklah, Uchiha Sasuke, aku ingin bicara denganmu," ucap Sakura ramah, namun wajahnya tidak mengatakan itu. "Bisakah? Sekarang? Detik ini juga?" Bajingan tambah Sakura dalam hati.
Kali ini Sasuke membalikkan tubuhnya hingga mereka berhadapan. Kesenangan kembali menyapanya melihat wanita merah muda yang selalu angkuh kini dengan mudah menuruti perintahnya. Sepertinya ini akan menyenangkan. Tanpa sadar Sasuke tersenyum sebelum berkata, "Buatlah janji terlebih dahulu, Sabaku, karena aku sudah memiliki janji dengan orang lain."
Sakura sudah hampir melontarkan umpatan karena merasa dipermainkan oleh pria berengsek itu, namun suaranya tertahan karena Sasuke kembali melanjutkan ucapannya lebih dulu.
"Tapi aku akan buat pengecualian untukmu. Kau tidak melupakan kejadian siang tadi 'kan? Kurasa kau tahu bagaimana bentuk sebuah penyesalan, bukan?"
"Maksudmu kau ingin aku meminta maaf?"
Sasuke menggedikan bahunya kemudian menatap jam hitam pada tangan kirinya, "Lima menit. Kuberi waktu lima menit, Sabaku."
"Tidak ada yang salah pada perlakuanku tadi siang karena kau memang pantas mendapatkannya, Uchiha. Ucapanmu itu sudah sangat keterlaluan," jelas Sakura tidak terima.
Sakura masih berusaha agar nada bicaranya tidak meninggi. Namun tatapan matanya tidak bisa dikendalikan. Mata hijau itu menatap marah Sasuke.
Sasuke sudah bisa menebak reaksi yang akan diterimanya sehingga tidak mengherankan lagi jika wanita Sabaku ini akan menolak tanpa perlu berpikir dua kali.
"Kau bertanya dan aku menjawabnya. Jika memang seperti itu kebenarannya lalu kau mau apa?" balas Sasuke tenang, "Itu urusanku sendiri. Kau tidak berhak memprotesnya. Kau … bukan siapa-siapaku."
Kemudian mata hitam itu menajam, sama seperti ucapan yang keluar dari mulutnya, "Dan kau tidak tahu apa-apa."
Ada perasaan takut yang menyekap Sakura hanya dengan menatap mata hitam yang amat menusuknya. Dan kalimat terakhir yang terlontar penuh penekanan tadi juga membuat Sakura merasa tertohok. Benar. Tahu apa Sakura tentang Sasuke? Terlebih tentang pemikirannya. Sedangkan dirinya sendiri juga memiliki pendapat yang sama mengenai laki-laki. Meski sedikit berbeda tapi intinya tetaplah sama.
Dan semua itu pasti memilki alasan.
Bukan berarti Sakura lantas membenarkan penilaian Sasuke tentang wanita. Tapi, lebih kepada apa yang dilakukannya tidak memiliki dasar yang kuat. Sakura berhak tidak terima, tapi sikapnya mungkin sedikit kelewat batas. Ditambah dirinyalah yang memulai semua lebih dulu. Sialan, kini rasa bersalah mulai menggerogotinya.
"Waktumu habis. Selamat tinggal, Nona Sabaku."
Sekali lagi Sasuke tidak memberikannya waktu lebih untuk berpikir. Namun waktu yang sesingkat itu sudah cukup membuat Sakura tersadar, karenanya saat Sasuke berniat untuk berbalik Sakura dengan segenap tenaga mengumpulkan keberaniannya.
"Maaf … aku sudah bertindak kasar ... tapi, bukan berarti aku menerima penilaianmu terhadap wanita."
Dan benar. Perhatian Sasuke teralih kembali pada Sakura. Tidak menyangka bahwa wanita itu akan benar-benar melakukannya—meminta maaf—meski tetap ada pengecualian tersendiri. Tapi itu tak menjadi masalah untuk Sasuke.
"Asal kau tahu saja, untuk bagian itu aku tidak peduli karena itu sama sekali bukan urusanku."
"Baguslah kalau begitu," jawab Sakura tak acuh. Sama seperti Sasuke, jika Sasuke peduli pun itu bukan menjadi urusan Sakura. Setidaknya kini mereka sudah berada di titik yang sama, yaitu sama-sama tahu.
"Jika yang ingin kaubicarakan adalah mengenai kejadian tadi siang, kurasa tidak perlu ada penjelasan lagi," ucap Sasuke menambahkan.
"Bukan. Ini mengenai kelangsungan proyek kerjasama antara Sabaku dan Uchiha. Tindakanku—yang melempar salah satu dokumen penting—bukanlah pertanda bahwa aku memutuskan secara sepihak proyek kerjasama itu, dan kuharap pihak dari Uchiha Corp bisa memiliki pemikiran yang sama."
"Sejujurnya aku memiliki pemikiran yang berbeda dengan pihak Sabaku." Ada jeda yang sengaja Sasuke lakukan karena ingin melihat reaksi dari lawan bicaranya, sehingga saat bibir Sakura bergerak untuk mengeluarkan kata-kata protes atau mungkin umpatan kekesalannya, Sasuke kembali melanjutkan ucapannya seraya tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai senang.
"Tapi kita masih bisa membicarakan tentang proyek itu di waktu yang sama besok, asal kau bisa menjamin kalau kejadian itu tidak akan terulang lagi."
"Aku … tidak akan berterima kasih soal ini," ucap Sakura dengan mata hijau yang menatap ke arah lain, menyadari kalau pipinya terasa panas. Tapi Sakura yakin penyebabnya adalah rasa malu karena ingin memarahi pria itu. Bukan karena senyuman pria berengsek itu. Bukan. Pasti bukan.
"Tidak perlu. Lagi pula aku tidak membutuhkannya," ucap Sasuke santai.
Sakura mendecak kesal, mata hijaunya memandang Sasuke sinis, "Memangnya aku tidak tahu, kau melakukan ini karena tidak ingin kehilangan keuntungan dari proyek itu 'kan. Aku tidak bodoh, Uchiha."
"Jangan memulai, Sabaku."
"Apanya? Aku kan tidak mengatakan apa-apa," ucap Sakura yang menampilkan ekspresi tidak bersalah. Beberapa detik kemudian mati-matian Sakura menahan senyum saat mendengar dengusan keluar dari mulut Sasuke. Tanpa bicara lagi, pria itu meninggalkan Sakura dengan wajah menahan kekesalan. Barulah Sakura melepaskan senyuman yang sedari tadi ditahannya seraya menatap kepergian punggung Sasuke.
Dan tanpa bisa Sakura lihat, Sasuke pun melakukan hal yang sama. Dia sendiri tersenyum. Sabaku Sakura ternyata memang wanita yang tidak bisa dianggap remeh.
…
Terdengar suara panggilan masuk yang berasal dari ponsel Sakura saat sosok Sasuke sudah tidak lagi tertangkap oleh mata hijaunya. Sakura sudah bisa menebak siapa sosok peneleponnya, yang tidak lain adalah Gaara. Kakak laki-lakinya.
Tidak ada lagi keresahan ketika Sakura menatap ponsel pintarnya. Masalahnya dengan Uchiha Corp telah berhasil diselesaikannya, meski dengan terpaksa Sakura harus berurusan dengan Uchiha menyebalkan itu. Jadi, secara otomatis Sakura tidak akan segan-segan lagi melampiskan segala kekesalannya pada Gaara.
Benar. Sakura akan membuat Gaara tidak bisa tidur dengan nyenyak!
Sakura menyeringai jahat sebelum mengusap layar ponselnya—menerima panggilan dari kakak laki-lakinya itu. Tentunya bukan dengan nada yang lembut.
Bersambung.
Curcul :
Hai ^^
Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih banyak untuk yang sudah mau repot-repot menominasikan beberapa Fic saya ke IFA. Beneran deh, pas tau ada yang nominasiin saya langsung nyengar-nyengir kaya orang gila hahaha, bahkan ada yang nominasiin GHOST FILE, cerita saya yang acak kadut pake parah, pake banget (Baca : Parah banget) wkwkwk. Tapi, saya benar-benar berterima kasih.
Dan terima kasih sekali lagi karena Samurai Heart masuk ke dalam nominasi Most Favorit Fiction. Wah, beneran ngak nyangka *pelukTaka* dan jika berkenan silakan mem-polling Samurai Heart.
Oke, balik ke cerita Fic ini. Maaf klo update-annya lama karena saya sendiri agak susah buat nulis Fic ini hehe. Masih banyak kekurangannya memang, saya akui itu. Ya, biasanya saya sendiri klo nemu crt genre2 begini jarang tertarik buat baca, makanya pas nulis crt gini jadi kagok dan ujung2nya selalu ngerasa ngak PD hehe…
Dan yang terakhir saya persembahan Fic ini untuk BaekhyunsaranghaeHeni (Semoga blom ganti pen name lagi ya) Maaf, saya sudah lama banget ngejanjiin buatin crt tapi ternyata sampai detik ini ngak bisa ngabulin dgn pairing kesukaanmu. Diganti sm Fic ini aja gpp ya. Maaf kalau fic ini kurang memuaskan.
Ucul Note :
Undhott : Fighting !
Monster Cookies : Abby, ih… ngapa malah baca Fic ini dah XD jadi tambah malu dibaca sm kamu tauk *gigitbantal* Iyalah, kita kan powerpuff girls hahaha. Aku kan berkata jujur by, tidak melebih2kan kok.
Virinda : Ayo… Ayo sini ikutan (Klo muntah aku ngak tanggung jawab yak haha) Betul sekali, aku juga suka, tapi klo aku sukanya yang Sakura : The Kidnaper :D (Eh kita ngomongin, orangnya ada di atas tuh)
Jamurlumutan462 : Hihi klo bingung pegangan biar ngak jatoh *ditimpukKuaci* Sai bukan ya? Hmmmmm ada deh :p
Hyemi761 : Cerita baru dan absurd hehehe, hmmmm jawab ngak ya? Hihihi nanti jg kejawab kok, skrg masih permulaan dulu soalnya. ^^
Ciheelight : Halooooooooo, Duh, berat buat nyamain Samurai Heart T-T apalagi genre crt itu kesukaan aku banget, beda sm Fic ini, tapi semoga kamu bisa suka juga hehe crt ini agak drama-drama gmn gt hahaha
Eysha Cherryblossoms : Hihi crt baru yang ngalay :D Nanti terungkap kok, sekarang masih permulaan dulu, semoga suka ya ^^
Kiyoi-chan : Dilanjut kok tp ngak cepet hehehe, iya donk, kan vocalisnya suami aku *ciumTaka*
Nuniisurya26 : Hihi Aku sih asal pilih aja waktu mau nentuin siapa kakaknya Sakura haha, Aku jg suka SaIno (oya, mksh buat ripiunya di Fic Crush ya ^^)
Khalerie Hikari : Ini udah lanjut.
Rachel-chan Uchiharuno Hime : Semoga seru :D makasih ya ^^
Ayuniejung : Asli aku ngakak baca ripiu ini. Sas, bibir u ngak jontor tuh makan cabe 5 kg hahaha.
Arisahagiwara chan : Semoga suka ya ^^
Itavi : Makasih banyak ^^
Kocchan : semoga penasaran terus sampe tamat nanti hahaha
Guest : Hihihi nanti kejawab kok, gpp diperbolehkan sotoy kok disini hehe
Wowwoh Geegee : Makasih ya buat semangatnya ^^
Dianarndraha : Yeayyyy,,, makasih jg buat semangatnya ^^
Makasih banyak buat semua yang udah baca, ripiu, follow dan Fav jg. Sampai jumpa di chapter selanjutnya yang tentunya masih tidak akan cepat ^^
08 – 12 – 15
.
[U W] — Istri sah Taka, One Ok Rock :* —
