Suara jeritan memenuhi ruangan bernuansa hitam dan merah tersebut. Jeritan yang timbul akibat perpaduan antara rasa nikmat dan kesakitan yang keluar dari dalam mulut gadis berusia dua puluh dua tahun itu.

"Nggh, " Lenguhan panjang keluar dari bibir manis Hinata. Gadis itu menatap sang pelayan yang sedang duduk di atas perut datarnya dengan tatapan sendu. Naruto membawa sebuah cambuk pada tangan kanannya sementara tangan kirinya mengelus pipi Hinata.

"Apa kau menginginkanku untuk berhenti, Nona?" Bisik sang pelayan tepat pada cuping telinga Nona nya sembari menggigit pelan dan menjilati daun telinga sang Nona.

"Tidak. Kumohon, lanjutkan saja." Pinta Hinata dengan nafas terengah - engah, keringat dingin mengaliri seluruh tubuhnya, membasahi pelipisnya.

Dengan gentle, Naruto meletakkan pergelangan tangannya tepat di atas dahi Hinata. Ia mengelap butiran peluh itu dengan sangat lembut menggunakan kemeja putih yang dikenakannya.

"Dengan senang hati aku akan melanjutkannya, Nona." Gumam Naruto. Ia lalu mengangkat cambuk itu tinggi - tinggi dan memukulkannya pada tubuh Hinata berulang kali.

Satu cambukan meninggalkan bekas kemerahan pada perut Hinata. Dua cambukan meninggalkan perih yang luar biasa pada tubuh Hinata. Tiga cambukan, empat cambukan dan seterusnya membuat kulit seputih porselen itu robek dan mengeluarkan cairan merah kental ditambah dengan rasa sakit yang tak tertahankan.

Itulah yang menjadi kebiasaan Hinata.

Di kala mimpi buruk datang menghantui. Di saat Ia tak mampu melupakan masa lalunya yang kelam. Di kala ingatan dan kenangan yang disisakan oleh keluarganya datang menghampirinya.

Hinata mampu mendapatkan kepuasan dari siksaan, pukulan serta rasa sakit yang diberikan oleh sang pelayan kepadanya. Dan hanya seorang Uzumaki Naruto yang boleh melakukan segala hal itu pada tubuhnya.

...

Naruto menatap wajah yang tertidur pulas dan nyaman di balik selimut tebal itu dengan tatapan pilu. Shapire nya menatap noda darah yang bercucuran mewarnai alas tidur seputih salju.

Bekas ikatan kencang dan luka robek pada tubuh sang Nona tak luput dari penglihatannya yang tajam. Dengan perlahan Naruto mengangkat telapak tangannya, mengeluarkan sinar berwarna kuning kemerahan dari dalam telapaknya dan menempelkannya pada tubuh sang Nona dengan hati - hati.

"Aakkkkhh! Panas!" Teriakan kesakitan keluar dari dalam bibir pucat Hinata, tubuhnya melenguh ke atas melawan energi yang diberikan Naruto padanya.

Namun dengan sigap pemuda itu mengeluarkan kekuatannya, tangan - tangannya yang lain untuk menahan tubuh Hinata yang bergejolak. Tak lupa Ia mengeluarkan kedua sayap hitamnya, menampakan wujud aslinya pada sang Nona. Ia pikir tak apa, karena meski memberontak, kedua bola mata amethyst Hinata masih terpejam rapat yang memungkinkan Ia tak dapat melihat wujud asli pelayannya saat ini.

"Tenang Hinata, semua ini sudah berakhir." Bisik Naruto lirih. Dirinya tak kuasa berlama - lama melihat Nona sekaligus sang mempelai meringis kesakitan.

Kebiasaan Nona nya sedari dulu tak pernah berubah. Ia selalu senang untuk menyakiti dirinya sendiri dan membiarkan darah mengalir keluar dari dalam tubuhnya. Tak jarang Hinata berada pada ujung jurang kematian akibat kekurangan darah oleh ulah buruknya.

Dan jika saja bukan karena Naruto yang menyelamatkannya dengan menyalurkan sebagian energinya pada Hinata, maka sudah dapat dipastikan gadis itu telah lama mati.

Karena itu mau tidak mau, Naruto akan tetap menuruti permainan Nona nya untuk menyakiti tubuh rapuh sang Nona hingga Ia tertidur pulas dan Naruto akan menyalurkan energinya untuk memulihkan kembali stamina Nona nya.

"Jika saja aku mampu menghapus ingatan itu dari dalam kepalamu." Bisik Naruto lirih seraya mengelus dahi Hinata dan menyibak poni yang basah oleh peluh dan darah itu ke atas.

...

Ibu, kenapa aku terlahir seperti ini? Kenapa Ayah membenciku? Kenapa Ia mengurungku di tempat ini? Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Hinata terperanjat dari tidur lelapnya. Jantungnya berdegup dengan kencang seakan tak memberinya ruang untuk bernafas. Keringat dingin mengucur dari dalam tubuhnya yang terasa panas.

Hinata mengangkat tangan kanannya, menatapnya lama sampai Ia menyadari bahwa Ia sudah terbangun dari mimpi buruknya -

Lagi.

Amethyst nya menatap dengan seksama seluruh tubuhnya, Ia tak menemukan bekas ataupun rasa sakit pada tubuhnya padahal ingatannya tentang permintaan gilanya masih terasa hangat dalam pikiran gadis itu. Apakah penyiksaan itu juga hanya sebatas bunga tidur?

"Kepalaku sakit." Keluh Hinata, Ia tau semua kejadian itu nyata namun ingatannya yang terdistorsi membuatnya tak mampu berpikir dengan baik.

"Kenapa kau menghapus seluruh bekas dan rasa sakit itu? Kenapa?" Tanyanya entah pada siapa. Hinata tak pernah menyukai tubuhnya, karena itu Ia akan melakukan apapun untuk membuat tanda pada tubuh mulusnya.

Namun sekeras apapun gadis itu berusaha, keesokan harinya tanda itu akan menghilang dan tubuhnya kembali bagaikan sehelai kertas putih bersih tanpa noda.

Tok Tok

Suara ketukan pintu di luar membuat Hinata tersadar dari lamunannya. Ia lalu menurunkan tubuhnya dari atas tempat tidur tanpa satu busana pun melekat pada tubuhnya dan melangkahkan kakinya menuju pintu raksasa itu dan membukanya.

Tepat di hadapannya terlihat Naruto yang sudah membawakannya sebuah nampan berisi lavender tea favorit sang Nona pada tangan kanannya sedang Ia meletakkan tangan kirinya pada dadanya seraya menundukan kepala memberi hormat pada sang Nona.

"Selamat pagi, Nona Hinata. Apakah tidur anda nyenyak kemarin malam?" Ujar Naruto dengan senyum hangat yang terpatri pada wajahnya.

"Ya." Jawab Hinata singkat lalu menggeser tubuhnya dan mempersilahkan Naruto untuk masuk dan menyiapkan serta menuangkan secangkir teh hangat itu pada Nona nya.

Dengan anggun Hinata menyibakan surai indigonya serta mengaikatkan gaun berwarna merah jambu pada tubuhnya. Lalu Ia segera duduk di pinggir tempat tidurnya, menyilangkan kakinya dan menyesap lavender tea itu.

Begitulah kebiasaan Hinata di pagi hari. Tepatanya pagi setelah Ia mengalami malam siksaan yang mengerikan. Gadis itu akan merasa begitu lelah dan kehilangan mood untuk keluar dari dalam kamarnya sehingga Naruto lah yang harus menyiapkan segala kebutuhan sang Nona dan mengantarkannya menuju kamarnya.

"Anda terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pink itu, Nona." Puji Naruto tulus.

Seutas senyum manis merekah pada bibir merah Hinata. Entah mengapa hatinya begitu gembira mendengar pujian yang terlontar dari mulut sang pelayan.

"Terima kasih Naruto kun."

Seandainya saja kau bukan seorang manusia, maka aku pasti sudah memilikimu dari dulu. Namun janji tetaplah sebuah janji. Aku tak akan mampu mengingkarinya kecuali jika kau juga memiliki perasaan yang sama denganku.

Maka sampai pada hari itu tiba, tetaplah di sisiku dan aku akan selalu setia berada di sisimu, melayanimu sampai saatnya kau dan aku menjadi satu, ijinkan aku selalu menggenggammu dalam lindunganku, Hinata.

...

Tbc

Anonym : uda up

lla : yaa

Zehakazama : makasih, moga ga ngecewakan

Bye chan : thx

Cecep713 : ni da lanjut

Barbara pervin : okee deh

Fyi - ini bukan plagiat dan akun mizuki sumire milik aikoo.