Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Pokemon: Satoshi Tajiri

.

.

.

DREAM

By Hikasya

.

.

.

Chapter 2. Pergi berpetualangan

.

.

.

DRAP! DRAP! DRAP!

Tampak Naruto yang berlari-lari secepat kilat bagaikan dikejar setan, saat menyusuri jalanan perumahan yang sepi. Penampilannya sangat berantakan. Ditambah dia belum mandi, apalagi menggosok giginya, hanya sempat sarapan pagi dan langsung tancap gas menuju ke tempat tujuannya yaitu rumah Jiraiya.

Jiraiya, adalah seorang ilmuwan yang ahli dalam dunia Pokemon, mengedarkan sebuah pengumuman penting yang tersebar di perumahan "Future Konoha" itu, bahwa dia akan memberikan sejumlah Pokemon gratis pada orang-orang yang akan menjadi pelatih Pokemon untuk pertama kalinya. Stock Pokemon-nya terbatas, jenis Pokemon yang akan dikasih secara gratis itu adalah Bulbasaur, Squirtle, dan Charmander. Karena biasanya, ketiga Pokemon itu dijadikan sebagai Pokemon pertama untuk Pelatih Pokemon pemula jika ingin melakukan perjalanan jauh.

Berhubung ketiga Pokemon itu adalah Pokemon-Pokemon yang sangat disukai Naruto, maka membuat Naruto menggebu-gebu ingin cepat sampai ke rumah Jiraiya agar bisa mendapatkan salah satu dari ketiga Pokemon itu. Jangan sampai kehabisan sebelum diambil orang lain.

Karena terlambat bangun, Naruto jadi terburu-buru pergi begini. Dia telat dari jadwal yang ditentukan, karena jadwal pembagian Pokemon gratis ini dimulai dari jam 6 pagi. Pastinya akan banyak orang yang mengantri dan berebutan demi mendapatkan Pokemon-Pokemon gratis itu.

Untuk itu, Naruto berharap stock ketiga Pokemon andalannya masih ada sebelum dia sampai di rumah Jiraiya. Semoga saja.

Tak lama kemudian, dia tiba juga di rumah Jiraiya. Di sana, di depan rumah Jiraiya, dia melihat beberapa orang baru saja keluar dari rumah Jiraiya, sambil membawa satu Poke-Ball. Di setiap wajah masing-masing, tercermin rasa senang karena sudah mendapatkan satu Pokemon yang diinginkan.

Naruto terpaku sebentar dan mendengar percakapan orang-orang itu, seraya menghembuskan napasnya berkali-kali saking capeknya berlari.

"Wah, aku beruntung mendapatkan Charmander lho!"

"Kalau aku, Bulbasaur."

"Aku malah mendapatkan Squirtle."

"Untung sekali kita cepat datang."

"Iya. Stock ketiga Pokemon itu sudah habis. Kasihan sekali kalau yang datangnya terlambat ya."

"Iya ya. Kasihan sekali."

Begitulah percakapan orang-orang itu sehingga membuat Naruto merasa tersinggung karena ia sendiri yang memang datangnya terlambat. Lantas Naruto tersentak karena menyadari kalau stock ketiga Pokemon itu - Charmander, Squirtle, dan Bulbasaur - sudah habis. Mendorongnya untuk masuk ke rumah Jiraiya.

Antara Naruto dan Jiraiya, sudah saling mengenal. Karena Jiraiya itu adalah Kakeknya Naruto, ayah dari Namikaze Minato. Tentu saja Naruto berharap Jiraiya menyimpan satu stock Pokemon dari ketiga Pokemon itu untuknya. Naruto sudah mengingatkan itu pada Jiraiya sebelum hari "pembagian Pokemon gratis" ini tiba. Semoga saja, Jiraiya tidak melupakannya.

Langsung masuk ke pintu rumah Jiraiya yang terbuka lebar, Naruto bergegas berlari kecil menuju ruang kerja Jiraiya. Kemudian berseru keras.

"PROFESSOR JIRAIYA!"

Begitulah, Naruto memanggil Kakeknya.

Jiraiya, seorang pria berambut putih panjang yang diikat satu dan berpakaian ala ilmuwan, menyadari Naruto yang masuk ke ruang kerjanya. Dimana ruang kerja itu dipenuhi dengan perabotan-perabotan canggih dan berdesain futuristik, hasil rancangan Jiraiya sendiri. Dapat ditemukan juga, perabotan-perabotan model zaman sekarang, mengisi berbagai sudut ruangan itu. Juga tampak beberapa Poke-Ball yang tergeletak di lemari-lemari pajangan, berisikan berbagai jenis Pokemon di dalamnya.

Jiraiya yang sedang berdiri di belakang meja pengujian, menoleh ke arah Naruto yang kini berdiri di sampingnya.

"Ah, ternyata kau, Naruto," kata Jiraiya santai.

"Apa Professor menyimpan satu stock Pokemon untukku?" tanya Naruto yang tidak sabar.

"Hmmm...," Jiraiya memegang dagunya dengan tangan kanannya untuk mengingatnya."Aku rasa stock punyamu, sudah kuberikan pada yang lainnya, barusan ini."

"A-Apa!?"

Naruto terkejut setengah mati mendengarnya. Wajahnya berubah total menjadi mengeras. Emosi marah perlahan-lahan naik sampai ke ubun-ubunnya.

"KENAPA PROFESSOR MALAH MEMBERIKANNYA PADA YANG LAIN!?" sambung Naruto yang meledak-ledak.

"Ya, karena gadis itu cantik sekali," Jiraiya memasang wajah genitnya."Apalagi tubuhnya yang seksi dan..."

Belum sempat Jiraiya meneruskan kata-katanya, Naruto memotongnya.

"AKU TIDAK MAU TAHU! POKOKNYA PROFESSOR MEMBERIKAN AKU SATU POKEMON SEKARANG JUGA! APA SAJA, AKAN AKU TERIMA DENGAN IKHLAS!"

"Ah, kau mau Pokemon apa saja?"

"IYA!"

"Aku rasa aku punya satu stock Pokemon yang cocok untukmu. Tunggu sebentar ya."

Jiraiya segera mengambil satu stock Pokemon yang berada di lemari pajangan. Naruto yang berusaha meredakan emosinya, memperhatikan Jiraiya dengan seksama. Lalu Jiraiya kembali ke tempatnya berdiri, tepatnya di samping Naruto.

Tangan kanan Jiraiya memegang sebuah Poke-Ball. Poke-Ball itu diletakkan di atas meja, kemudian Poke Ball itu bercahaya merah terang benderang disertai percikan-percikan listrik sehingga menyilaukan tempat itu.

PAAAAATS!

Saking silaunya, Naruto melindungi matanya dengan tangannya. Sebaliknya Jiraiya tampak terbiasa dengan silaunya cahaya merah itu.

Sedetik kemudian, cahaya merah itu menghilang. Memunculkan sosok Pokemon yang dipenuhi percikan-percikan listrik. Pokemon yang berwarna kuning. Bermata bulat hitam. Ada dua bulatan merah di dua pipinya. Bertelinga panjang. Berekor aneh membentuk zig-zag seperti petir. Menyerupai tikus. Dia adalah...

"Pikachu!" seru Naruto yang terpana.

"Ya. Inilah yang namanya Pikachu. Sejenis Pokemon tikus listrik. Dialah yang akan menjadi Pokemon pertamamu. Bagaimana?" Jiraiya manggut-manggut sambil bersidekap dada.

Naruto terdiam sebentar, memperhatikan Pikachu yang bersuara 'Pika Pikachu'. Pikachu memasang wajah yang sangat menggemaskan saat tersenyum.

Otomatis Naruto juga tersenyum melihat Pikachu. Naruto merasa gemas dan segera memeluk Pikachu.

GREP!

Pikachu dipeluk erat oleh Naruto. Naruto tertawa lebar sambil berkata.

"Aku akan mengambil Pikachu sebagai Pokemon pertamaku."

Pikachu mengeluarkan sudut perempatan di kepalanya. Percikan-percikan listrik sudah muncul di dua bulatan merah di dua pipinya. Tiba-tiba...

BZZZZZZT!

Pikachu menyengat Naruto dengan kekuatan listriknya sehingga membuat Naruto menjadi hitam gosong. Bahkan Jiraiya malah tertawa melihat Naruto yang mematung bersama Pikachu yang masih dipeluk Naruto.

"Hahaha... Pikachu itu tidak suka dipeluk oleh orang yang tidak dikenalnya. Makanya dia menyengatmu."

"Ke-Kenapa Professor baru bilang sekarang!?"

"Hahaha... Maaf."

"Tapi, tidak apa-apa. Aku juga menyukai Pikachu. Aku harap kita bisa berteman baik ya, Pikachu."

Naruto memegang dua sisi tubuh Pikachu. Ia tertawa senang dengan hati yang penuh semangat. Pikachu hanya menunjukkan wajah bengongnya, memiringkan kepalanya sedikit ke kiri, dan bersuara dengan nada yang lucu.

"Pika...?"

Maka dimulailah langkah awal Naruto untuk menjadi Pelatih Pokemon. Bersama Pikachu, Pokemon pertamanya, ia siap pergi untuk melakukan perjalanan jauh demi meraih gelar "Pokemon Master."

.

.

.

Seminggu kemudian.

Tampak Naruto yang sedang memasukkan semua barang yang penting ke dalam tas ransel jingganya. Ia sudah berpakaian kasual yang sangat gagah berupa baju kaos berwarna putih yang dilapisi jaket berhoddie berwarna jingga dan celana panjang berwarna hitam. Topi berwarna hitam jingga dengan lambang spiral menutupi rambut pirang jabriknya. Sarung tangan berwarna hitam membungkus kedua tangan. Sepatu sporty berwarna hitam juga membungkus kedua kakinya.

Begitulah kira-kira gambaran penampilan Naruto hari ini.

Persiapannya sudah komplit. Apalagi kamarnya yang semula berantakan, sudah ia rapikan. Ia berdiri di dekat tempat tidur, tas ranselnya tergeletak di atas tempat tidur, sejenak mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar itu.

Ingin melihat sekali lagi kamarnya ini, Naruto memuaskan hatinya agar merasa mantap saat meninggalkan kamarnya. Kamar dimana ia menghabiskan waktu sehariannya untuk bermain game dan mempelajari tentang berbagai hal tentang Pokemon. Kamar dimana ia tidur bersama ayahnya yang sudah tiada sekarang, sang ayah yang mengajarinya tentang seluk-beluk dunia Pokemon sehingga ia bercita-cita ingin menjadi "Pokemon Master" seperti ayahnya. Karena sang ayah, dia ingin mencapai cita-citanya itu, yang tak lama lagi akan dia raih.

Pandangan saffir biru itu tertuju pada frame foto yang terletak di atas meja, persisnya di samping tempat tidur. Frame foto dirinya yang berusia 7 tahun bersama ayah dan ibu dengan latar belakang sebuah taman. Ia mengambil frame foto itu dan meraba bagian kaca frame dimana sang ayah ada di dalam foto itu.

"Tousan...," kata Naruto lirih sambil menatap sedih foto itu."Aku akan pergi berpetualangan hari ini. Cita-citaku yang ingin menjadi Pokemon Master, akan kuwujudkan. Aku akan berusaha keras dan tidak akan menyerah untuk meraih cita-citaku. Itulah janjiku pada Tousan."

Ia tersenyum dan bersamaan terdengarlah ketukan pintu dari arah luar.

TOK! TOK! TOK!

Terdengar juga suara sang ibu yang memanggil.

"Naruto... Apa kau sudah siap? Kaasan sudah siapkan sarapan nih. Ayo, sarapan dulu sebelum mau pergi!"

Naruto meletakkan frame foto itu kembali ke atas meja dan membalas panggilan ibunya.

"Iya, Kaasan."

Diambilnya tas ranselnya dan disandangnya di bahu kanannya. Melirik ke arah Pikachu yang sedang asyik bermain bola kasti sambil duduk di atas sofa.

"Pikachu... Ayo, kita sarapan dulu!"

Pikachu berhenti bermain bola, mengangguk dan berlari cepat untuk menghampiri Naruto.

HUP!

Sekali lompatan, Pikachu mendarat di pelukan Naruto. Pikachu tersenyum sambil berseru keras.

"Pika... Pikachu..."

Naruto juga tertawa mendengarnya.

"Iya. Pasti kau sudah lapar, kan?"

"Pikaaa..."

"Hehehe... Ya... Ya... Kita keluar sekarang."

Naruto beserta Pikachu yang digendongnya, keluar dari kamar. Meninggalkan kesunyian yang abadi di kamar itu.

.

.

.

HAP! HAP! HAP!

Pikachu tampak asyik memakan kue donat yang dibuat khusus oleh Kushina. Kue donat itu sangat banyak dan berukuran cukup besar, berada di dalam sebuah mangkuk yang juga besar. Pikachu duduk berhadapan dengan mangkuk kue donat itu, persisnya di atas meja.

Sudah beberapa donat yang Pikacu habiskan sehingga membuat Naruto dan Kushina tertarik untuk memperhatikannya. Padahal Naruto dan Kushina juga sedang makan bersama Pikachu, jadi tidak makan dan malah asyik memperhatikan Pikachu.

Kushina, wanita berambut merah panjang yang diikat ponytail dan bermata biru, tertawa geli melihat kegemasan Pikachu.

"Hahaha... Pikachu sangat lahap makannya hari ini," kata Kushina yang merasa senang.

"Iya. Tidak biasanya," sahut Naruto yang juga tertawa geli sambil duduk berhadapan dengan Kushina.

"Mungkin karena ia tahu akan pergi bersamamu, makanya ia makan sebanyak itu supaya mengenang masakan Kaasan yang enak ini. Benar, kan, Naruto?"

"Eh?"

"Kau juga lahap makannya sekarang. Buktinya kau menghabiskan lima mangkuk ramenmu. Hehehe..."

"Eh!?"

Naruto tercengang dan baru menyadari bahwa dia sudah menghabiskan lima mangkuk ramen. Lima mangkuk ramen itu bertumpuk di samping mangkuk ramen keenam yang kini dimakannya. Sehingga ia menyengir lebar sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Hahaha... Benar juga."

"Makanya puas-puaskan makan sebelum pergi. Baru kau bisa berangkat bersama Pikachu dengan penuh semangat, kan? Tapi, ngomong-ngomong... Kenapa kau tidak memasukkan Pikachu ke dalam Poke-Ball?"

"Hmmm... Itu...," Naruto melirik si Pikachu yang masih saja asyik makan."Dia tidak mau masuk ke Poke-Ball. Biarpun aku paksa sekalipun, dia tetap tidak mau. Bahkan dia menyengatku berkali-kali saat aku mencoba memasukkannya ke Poke-Ball. Benar-benar Pokemon yang sangat merepotkan."

Merasa dirinya dibicarakan, Pikachu melihat ke arah Naruto. Naruto menatapnya tajam sekilas, lalu tersenyum.

"Tapi, dia lumayan jinak juga. Awalnya memang suka menyengat kalau aku tidak sengaja memegangnya, tapi lama-lama dia tidak menyengatku lagi dan sekarang dia mulai patuh padaku," tambah Naruto lagi.

"Oh... Baguslah, kalau dia sudah patuh padamu."

"Iya, Kaasan. Tapi, yang menyebalkannya, dia tidak mau masuk ke Poke-Ball itu. Padahal semua Pokemon yang sudah menjadi milik kita, harus masuk ke Poke-Ball, kan?"

"Tidak semua Pokemon betah tinggal di dalam Poke-Ball. Ada beberapa Pokemon yang ingin bebas dan tidak mau tinggal di dalam Poke-Ball. Kesannya mengurung mereka dan ruang gerak mereka menjadi terbatas. Contohnya bisa dilihat dari Raichu, Pokemon milik Tousan-mu itu. Kau masih ingat, kan?"

"Oh iya, aku ingat kok. Raichu juga tidak suka masuk ke Poke-Ball. Sama dengan Pikachu sekarang."

"Makanya jangan mengeluh lagi. Biarkan Pikachu bebas dan melakukan apa yang dia suka. Ada baiknya juga jika ia berada di luar, dia bisa menjadi teman perjalananmu dan kau tidak perlu repot lagi mengeluarkannya dari Poke-Ball. Begitu ada Pokemon yang ingin kau tangkap, dia bisa langsung menyerang Pokemon itu, kan? Itulah keuntungannya jika Pokemon itu dibiarkan bebas tanpa masuk ke Poke-Ball."

"Oh, begitu ya."

"Iya."

"Aku mengerti. Kaasan memang pintar sekali."

"Tentu saja. Begini-begini, Kaasan dulunya Pelatih Pokemon juga."

"Tapi, sekarang sudah menjadi mantan Pelatih Pokemon."

"Bisa dibilang begitu. Hahaha..."

"Iya. Hahaha..."

"Sudah. Ayo, habiskan sarapanmu!"

"Oh iya ya."

Naruto dan Kushina saling berbicara akrab sembari bersenda gurau bersama. Mereka menghabiskan momen terakhir ini untuk bisa melepaskan ketegangan sebelum kesedihan menghampiri. Mereka tertawa lepas dan tersenyum bersama Pikachu yang juga tersenyum. Lalu melanjutkan sarapan mereka yang tertunda.

Hingga tiba akhirnya saat-saat yang menyedihkan, Naruto dan Kushina saling berpelukan ketika berada di pintu pagar rumah yang terbuka lebar. Di samping Naruto, tampak Pikachu yang berdiri sambil memperhatikan Naruto yang menangis dalam pelukan Kushina.

"Kaasan... Jaga diri Kaasan selama aku pergi ya," ucap Naruto dengan nada yang lirih.

"Iya. Kau juga ya. Jaga juga Pikachu...," tukas Kushina yang juga menangis.

"Pikaaa... Chuuu...," Pikachu turut menangis karena melihat mereka yang menangis.

Ibu dan anak saling melepaskan pelukan masing-masing. Naruto berjalan mundur sambil menggendong tas ranselnya di punggung. Pikachu sudah berdiri di belakang kepala Naruto, berpijak di atas tas ransel Naruto, dan memegang topi Naruto erat-erat supaya tidak jatuh. Naruto memegang dua tali tas ranselnya erat-erat, memandang Kushina dengan wajah yang sangat sedih. Masih menangis tapi sempat juga tersenyum.

"Aku pergi dulu, Kaasan. Sampai jumpa lagi."

"Iya. Sampai jumpa lagi. Kaasan akan merindukanmu."

"Aku juga akan merindukan Kaasan."

Naruto melambaikan tangan kanannya. Pikachu juga melambaikan tangan kanannya. Dibalas Kushina yang juga melambaikan tangannya. Mereka bertiga turut menangis sambil tersenyum dalam suasana perpisahan yang semakin melankolis ini.

TAP! TAP! TAP!

Naruto berbalik dan melangkahkan kakinya menuju ke arah tujuannya. Pikachu masih melambaikan tangan kanannya dan berseru pada Kushina.

"Pika... Pika... Chuuuu!"

Kushina tertawa mendengarkan suara Pikachu yang menggema keras di ujung sana. Mungkin Pikachu berkata,'Kita akan bertemu lagi!'

Naruto juga tertawa mendengarkan perkataan Pikachu. Ia tetap berjalan dengan santai. Tangisannya sudah berhenti. Kedua tangannya bergerak untuk menghapus sisa-sisa air matanya.

Sekali lagi, Naruto melihat ke arah belakang. Kushina masih saja melambaikan tangan dan berteriak keras.

"BERJUANGLAH, NARUTO, PIKACHU! DOA KAASAN AKAN SELALU MENYERTAI PERJALANAN KALIAN BERDUA!"

Naruto tertawa senang bersama Pikachu, saat mendengar teriakan sang ibu. Lantas Naruto membalas perkataan sang ibu dengan suara yang lebih keras.

"TERIMA KASIH, KAASAN!"

"IYA. KITA AKAN BERTEMU LAGI NANTI!"

"PASTI ITU!"

Naruto mengacungkan jempolnya. Kushina tersenyum sembari menghapus sisa-sisa air matanya karena ia sudah berhenti menangis.

Bersama sang mentari yang bersinar menyilaukan, Kushina menyaksikan kepergian Naruto beserta Pikachu sampai hilang dari pandangannya. Berharap Naruto baik-baik saja hingga kembali pulang ke sini.

'Selamat jalan, Naruto. Semoga cita-citamu itu tercapai. Ya, Tuhan, kabulkanlah doaku ini,' batin Kushina yang mengatupkan dua tangannya dan didekapkan di dadanya.

.

.

.

Tujuan perjalanan Naruto adalah ke Kota Suna, yang berjarak agak jauh dari Kota Konoha. Bersama Pikachu, ia terus berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang berada di dalam hutan - jalan pintas agar cepat sampai ke kota Suna. Hutan yang terletak di pinggiran kota Konoha.

Sudah beberapa jam dia berjalan kaki. Sempat juga beristirahat untuk sekedar makan siang - kebetulan ia membawa bento yang dibuat khusus oleh ibunya. Pikachu juga makan bersamanya.

Usai itu, barulah ia beserta Pikachu, melanjutkan perjalanan lagi.

Tanpa terasa, hari sudah sore. Naruto masih saja berjalan di jalan setapak yang diapit hutan hijau yang masih alami. Pikachu sedang asyik tertidur sambil bergantung di belakang kepala Naruto. Naruto berpikir akan mencari tempat yang nyaman untuk bermalam.

Tiba-tiba...

SET!

Dari arah langit yang berwarna jingga kemerah-merahan itu, Naruto melihat sosok burung yang terbang melintas. Sosok burung yang berwarna keemasan, menyerupai burung Phoenix. Entah apa namanya. Namun, yang pasti Naruto terpesona akan keindahan burung itu.

"Cantiknya... Pokemon apa itu ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.

Ia terpaku di tempatnya berdiri sekarang. Tanpa menyadari munculnya seseorang yang sedang bersepeda menuju ke arahnya.

Tapi, seseorang itu kelihatan panik saat mengendarai sepedanya. Pasalnya, sepedanya tidak bisa dihentikan karena terlampau berjalan sangat cepat. Apalagi ditambah rem sepedanya blong.

"WUAAAAAAH! A-AWAAAAAAS!" teriak seseorang itu yang menyadari Naruto yang berada dalam lintasan sepedanya.

Tiba-tiba...

DUAAAAAK!

Terjadilah tabrakan dahsyat yang tidak bisa dielakkan. Naruto diseruduk dengan sepeda yang dikendarai seseorang itu. Alhasil, membuat Naruto terlempar jauh ke depan sana, bersama Pikachu yang tersentak bangun karena terkejut.

"WUAAAAAAAH/PIKAAAAAA!" seru Naruto dan Pikachu bersamaan.

BRAAAAK! GEDUBRAAAAK!

Majikan dan Pokemonnya terhempas di ujung jalan setapak sana. Terkapar dalam keadaan tidak elit di tanah, dengan kedua mata yang membentuk seperti obat nyamuk. Sementara si pelaku yang menabrak, juga jatuh tersungkur bersama sepedanya yang hancur akibat menabrak pohon. Si pelaku juga terkapar dalam keadaan tidak elit di tanah, dengan kedua mata yang membentuk seperti obat nyamuk.

Hening.

Mereka bertiga sama-sama merasa pusing tujuh keliling. Memegangi kepala masing-masing.

"Aduuuh... Kepalaku rasanya berputar-putar," kata Naruto yang berusaha bangkit dari acara terkaparnya dan memilih duduk sebentar di tanah."Pikachu, kau tidak apa-apa, kan?"

"Pika... Pika... Chuuu...," Pikachu sudah duduk dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.

"Syukurlah."

Naruto sedikit tersenyum lalu pandangannya tertancap pada sosok gadis yang terduduk di dekat pohon, tak jauh darinya. Di samping gadis itu, tampak sepeda yang sudah hancur lebur.

"Aduuuh... Sakitnya...," keluh gadis itu yang memegang kepalanya dengan tangan kanannya.

Jika diperhatikan dengan seksama penampilan gadis itu, gadis itu berambut coklat pendek dengan model bob. Bermata lavender gelap. Berpakaian kasual berupa baju kaos berwarna coklat berlengan pendek dan celana panjang selutut berwarna hitam bertali yang menggantung di dua bahunya. Sepatu kets berwarna coklat membungkus kedua kakinya. Tas berwarna coklat disandangnya di punggungnya.

Umurnya kira-kira 14 tahun.

Ia menyadari tatapan Naruto yang tertuju padanya. Ditambah Naruto datang mendekatinya. Sehingga ia merasa takut jika Naruto marah padanya karena ia tidak sengaja menabrak Naruto.

"Hei, kau tidak apa-apa?" tanya Naruto yang mengulurkan tangannya pada gadis itu.

"Eh?" gadis itu tercengang dan menyadari Naruto yang tersenyum padanya."Ah... A-Aku tidak apa-apa."

"Syukurlah. Aku akan membantumu berdiri."

Gadis itu mengangguk pelan dan memegang tangan Naruto yang terulur di depan matanya. Naruto membantunya berdiri dan memperhatikan gadis itu dengan seksama. Sementara Pikachu sudah berdiri di samping Naruto, turut memperhatikan gadis itu dengan seksama.

"Ng... Siapa namamu?" tanya Naruto lagi usai melepaskan tangannya dari tangan gadis itu.

"Namaku Hyuga Hanabi," jawab gadis itu dengan nada yang datar.

"Kalau aku, Namikaze Naruto. Salam kenal ya."

Kembali Naruto mengulurkan tangan kanannya ke arah Hanabi. Hanabi membalas uluran tangan kanannya itu.

"Salam kenal juga."

"Ngomong-ngomong... Kau ya menabrakku tadi?"

"Eh?" Hanabi secara refleks menjauhkan tangannya dari tangan Naruto dan lantas membungkukkan badannya."Maaf, aku tidak sengaja. Semua ini gara-gara rem sepedaku blong. Jadinya aku tidak bisa mengerem kecepatan sepedaku itu."

"Oh begitu ya?"

"Sekali lagi, maaf."

"Tidak apa-apa."

"Kau tidak marah?"

"Tidak."

"Syukurlah."

Hanabi menegakkan badannya lagi. Ia bernapas lega karena Naruto tidak marah padanya. Naruto tersenyum lalu pandangannya tertuju pada sepeda Hanabi.

"Sepedamu rusak ya?"

Hanabi melihat ke arah yang dilihat Naruto. Kemudian menghelakan napas lesunya.

"Iya."

"Sayang sekali."

"Iya."

"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?"

"Mungkin aku akan memilih berjalan kaki saja. Soalnya aku mau pergi ke Kota Suna."

"Sama. Aku juga mau ke kota Suna."

"Eh? Benarkah?"

"Benar."

"Kalau begitu, apa aku boleh ikut denganmu?"

Hanabi memandang Naruto dengan pandangan yang memelas. Berharap Naruto mengizinkannya ikut karena ia takut jika bermalam sendirian di tengah hutan seperti ini. Dikhawatirkan akan ada Pokemon-Pokemon liar dan jahat yang berkeliaran di hutan saat malam tiba.

Tanpa pikir panjang lagi, Naruto mengangguk cepat.

"Boleh."

"Serius?"

"Serius."

"Terima kasih... Eeer... Aku bisa memanggilmu apa ya?"

"Naruto saja."

"Oke, Naruto."

"Kalau kau, aku bisa memanggilmu apa?"

"Hanabi. Panggil aku Hanabi."

"Hanabi... Baiklah..."

"Pika... Pikachu..."

Pikachu menyela pembicaraan dua anak remaja itu. Sehingga Naruto menepuk jidatnya dan menunjuk Pikachu.

"Oh iya... Hampir lupa... Perkenalkan ini Pikachu. Beri salam pada Hanabi, Pikachu..."

Pikachu membungkukkan badannya dengan ekspresi yang menggemaskan. Senyuman terpatri di wajahnya yang berseri-seri.

"Pika... Pika... Pikachu..."

Diterjemahkan,'Hai, aku Phikacu.'

Begitulah.

Hanabi tersenyum dan geram melihat Pikachu.

"Wah, Pikachu! Kau menggemaskan ya."

GREP!

Hanabi memeluk Pikachu dengan erat. Spontan, membuat Naruto merasa panik.

"JANGAN PELUK PIKACHU, HANA...!"

Belum sempat, Naruto selesai meneruskan perkataannya, Hanabi disengat oleh Pikachu.

BZZZZT!

Alhasil, Hanabi menjadi hitam gosong, lantas ambruk ke tanah lagi. Pikachu sudah terlepas darinya. Pikachu berdiri dan tersenyum senang karena sudah menyengat Hanabi sebagai salam perkenalan darinya.

Adegan ini sungguh membuat Naruto tercengang plus sweatdrop di kepalanya. Kemudian berteriak marah pada Pikachu.

"PIKACHU! APA YANG KAU LAKUKAN PADA HANABI!?"

"PIKA! PIKACHU!"

BZZZZZT!

Pada akhirnya, Naruto juga tumbang dan terkapar di tanah dengan tubuh yang hitam gosong karena disengat juga oleh Pikachu. Pikachu tersenyum senang sambil memeluk Naruto. Mendekatkan pipinya pada pipi Naruto.

Sengatan kejutan listrik tadi itu menandakan Pikachu yang sangat sayang pada Naruto. Ia berusaha menghentikan Naruto yang sedang marah padanya. Makanya ia menyengat Naruto dengan kekuatan listriknya yang bertegangan rendah.

Maka dua orang sudah terkapar pingsan bersama Pikachu di hutan itu. Tanpa menyadari jika ada sekelompok orang yang tengah mengikuti mereka.

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

A/N:

CHAPTER 2 UP!

Beginilah hasil kelanjutan fic ini. Tidak sama dengan jalan cerita canonnya di anime Pokemon. Tapi, hanya sebagian saja, saya ambil sebagai referensi adegan selanjutnya.

Saya hanya mengambil tokoh-tokoh karakter Pokemonnya saja di fic ini. Tanpa memasukkan tokoh-tokoh karakter manusia canon Pokemon ke fic ini. Hanya tokoh-tokoh karakter Naruto saja yang akan muncul di fic ini.

Hmmm... Apakah Hanabi-nya ooc? Saya tidak tahu sih.

Oke, sampai di sini saja dan sampai jumpa di chapter 3.

Bye.

Rabu, 26 Juli 2017