Break the Ice
·
·
Naruto © Mashashi Kishimoto
·
Break the Ice
·
Genre : Romance, Hurt/Comfort
·
Disclaimer : This story is original comes from my mind
·
Rated : T
·
Sakura
·
Summary : "Jangan dekat-dekat dia nanti kau membeku" / "Sakura Haruno sudah mati" / "Brengsek!" / Sasuke, murid pindahan dari Oto tertarik pada gadis yang disebut Manusia Es yang sebangku dengannya. Sayangnya, gadis itu sudah kehilangan hatinya sejak lama
·
·
·
·
·
Tidak Tersentuh
Summer
Tuesday, August 20, 2013
Haruno's Mansion, Konohagakure, Japan
04.45 AM
Sakura Haruno selalu bangun lebih pagi bahkan ketika ayam belum berkokok. Gadis itu akan menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri, sekotak bento untuk dibawanya ke sekolah dan segala keperluan sekolah. Gadis yang sekarang tinggal dengan ayah kandung dan ibu tirinya itu bersumpah dia lebih baik mati daripada makan makanan yang dibuat tangan keji ibu tirinya.
Sakura beranjak malas-malasan dari tempat tidurnya. Gadis itu berjalan dengan langkah mantap ke arah kamar mandi. Secara keseluruhan, Sakura adalah gadis yang cantik. Sangat, malah. Rambutnya lurus warna pink lembut dan panjangnya sepunggung. Meski hanya sekilas, orang bisa menilai dengan tepat kalau rambut itu halus dan lebat. Kulit Sakura putih seperti pualam dan agak pucat, membuatnya tampak seperti seorang putri. Wajahnya jelas adalah aset terbaik yang dimilikinya. Cantik dengan sorot mata tajam dan lembut sekaligus, cacat tanpa cela.
Ia menyalakan air panas dan langsung merendam dirinya dalam bathup putih susu dalam kamar mandinya yang mewah. Tempat yang sekarang Sakura sebut 'rumah' adalah sebuah mansion besar bergaya spanyol yang khusus di rancang oleh sahabat dekat Kizashi Haruno—ayah Sakura. Bagi semua orang yang mengenal ayahnya—atau keluarganya—rumah ini adalah impian banyak orang. Mewah, klasik, nyaman dan tentunya indah.
Sayangnya bagi Sakura, rumah ini hanyalah bangunan tidak penting yang tidak punya keistimewaan apapun di matanya. Kemewahan, kenyamanan dan keindahan yang orang lain lihat hanyalah ilusi. Baginya, tidak ada kenyamanan dari tempat dimana ia harus menyaksikan ayahnya bercumbu dengan ibu tirinya setiap hari. Ibu tiri yang ingin disingkirkanya secepat mungkin.
Dendam adalah perasaan yang membuat Sakura bertahan hidup hingga saat ini.
Private Parking
Konoha Gakkuen
06.00 AM
Pukul enam tepat, begitulah yang dapat Sakura baca dari jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Matahari bahkan masih malu-malu muncul ketika dia sampai di sekolah. Konoha Gakkuen baru memulai pelajaran jam setengah delapan pagi dan dia sudah di sekolah jam enam tepat. Sakura mengarahkan mobilnya untuk memasuki gerbang barat Konoha Gakkuen, tempat dimana parkiran khusus berada. Gadis itu memandang keluar, ke arah pepohonan maple yang berjejer di belakang gedung olahraga. Daun-daunnya mulai menguning, bunga-bunga Sakura juga sudah berguguran, tanda musim gugur sudah tiba. Sakura memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya melangkahkan kakinya ke gedung tempat ia menimba ilmu.
Gadis itu menggeser pelan pintu kelasnya. Dia sedikit terhenyak menemukan seorang murid laki-laki duduk di kursi di sisi jendela yang paling pojok. Murid itu juga tampak sama kagetnya. Bagaimana mungkin seorang gadis sudah sampai sekolah sepagi ini? Murid yang tampaknya masih baru itu memandang Sakura dengan tatapan menilai. Secara keseluruhan, Sakura tampak cantik—selalu tampak cantik. Gadis itu memakai jaket tipis warna biru tua dengan penutup kepala yang membungkus rambutnya yang—err, merah muda? Sakura berjalan ke arah laki-laki itu dan berdiri tepat di sebelahnya.
Sakura berhenti sebentar, memandang laki-laki bermodel rambut aneh di depannya sebelum akhirnya menarik nafas.
"Itu kursiku, kalau kau tidak tahu. Bisakah menyingkir?" tanya Sakura datar. Matanya menatap tajam laki-laki itu seolah memberi penegasan atas kata-katanya. Merasa tak mau mencari masalah di hari pertamanya, murid baru itu menggumam pelan tanda ia mengerti.
Laki-laki itu menggeser tempat duduknya dan mempersilahkan Sakura duduk. Ia beranjak keluar kelas sambil sesekali melirik gadis yang tadi bicara dengannya. Laki-laki itu mendecih, kesal diperlakukan dingin—untuk pertama kalinya—oleh seorang gadis. Tanpa sengaja, ekor matanya menangkap benda yang dikeluarkan gadis berambut merah muda itu dari dalam tasnya. Sebuah novel klasik, Macbeth. Sudut bibir laki-laki itu berkedut, tanda ia menahan senyumannya.
Konoha Gakkuen adalah sekolah binaan yayasan Senju yang juga tergabung dalam Haruno Group. Sekolah ini merupakan satu dari lima sekolah asuhan yayasan yang sama dan menyabet gelar sekolah terbaik di Jepang. Konoha Gakkuen adalah impian semua orang tua dan anak-anak. Sekolah ini terbagi ke dalam tiga bangunan utama yang masing-masing ditempati angkatan yang berbeda. Saat ini, sekolah binaan Senju—termasuk Konoha Gakkuen—adalah satu dari sedikit sekolah yang menerapkan sistem moving class.
Fasilitas yang diberikan Konoha Gakkuen adalah fasilitas nomor satu—dimana berarti tidak ditemukan sekolah yang dapat menyamai standar fasilitas mereka. Lab yang lengkap, Hall, cub room, kafetaria, perpustakaan, infirmary dan sistem belajar mereka adalah yang terbaik. Tak ayal, perlu biaya yang cukup besar apabila orangtua ingin memasukkan anak mereka ke sekolah ini. Satu lagi yang membuat Konoha Gakkuen—dan sekolah binaan Senju lain—berbeda adalah hampir semua siswanya berada dalam urutas high class.
Sistem pembagian kelas di Konoha Gakkuen dilakukan berdasarkan peringkat tahunan. Terdapat lima kelas di tiap angkatan dengan kapasitas dua puluh orang per kelas. Sakura sendiri, mengingat ia tidak pernah tergeser dari tiga besar, adalah salah satu bagian dari kelas unggulan, kelas A.
Sejak perceraian kedua orangtuanya, Sakura menutup diri dari orang lain dan menjadi pribadi yang dingin. Kalau Ino tidak dekat dengannya sejak sekolah dasar, mungkin Sakura takkan punya satupun teman. Tidak heran kalau siswa-siswa Konoha Gakkuen menyebutnya Manusia Es, atau gadis es atau berbagai panggilan lain yang tidak enak didengar telinga.
"Hari ini, kita kedatangan murid baru, pindahan dari Otogakure. Silahkan perkenalkan dirimu" kata Ibiki. Kelas Kimia yang kali ini diisi kelas Sakura mulai ricuh ketika seorang pemuda berambut aneh—mencuat ke belakang agak mirip pantat ayam—berjalan memasuki ruangan. Wajah pucatnya tampak datar dan tenang. Sebelah tangannya ia masukkan ke saku celana sementara tangannya yang satu lagi ia pakai untuk menyangga ransel abu-abu tuanya. Wajahnya tampan, kelewat tampan, malah. Hal itu justru yang jadi penyebab utama kenapa tatapan gadis-gadis di kelas Sakura mulai berubah jadi tatapan lapar.
"Namaku Sasuke Uchiha. Aku pindahan dari Academy of Otogakure. Salam kenal" kata laki-laki yang mengaku bernama Sasuke itu.
"Uchiha? Dia Uchiha!"
"Uchiha yang itu?"
"Kyaa! Dia tampan sekali!"
Bisik-bisik mulai terdengar. Sakura sedikit mengerutkan keningnya, merasa terganggu. Meski begitu, gadis itu masih tetap mengabaikan sekitarnya dan asyik sendiri memandangi pohon maple yang daunnya berubah merah di balik jendela. Meski tampak tidak peduli, Sakura merekam dengan jelas apa yang sejak tadi diributkan orang-orang di kelasnya. Ia mendecih pelan, berusaha tidak peduli.
Sasuke—murid baru tadi—berdecih pelan sambil mengumpat dalam hati. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas dan menemukan gadis yang tadi pagi membaca Macbeth sedang memandang keluar jendela dengan tatapan datar. Gadis itu menatap pohon yang berdiri kokoh tepat di samping gedung dengan tatapan agak sayu. Tatapan yang berbeda dengan yang diberikannya tadi pagi. Sasuke memandangi wajah gadis itu dari samping, membuatnya bertanya-tanya kenapa gadis itu tampak tak peduli padahal hampir semua gadis di kelas ini menatapnya garang seolah Sasuke adalah santapan lezat yang siap saji.
"Ada dua kursi yang kosong, Uchiha-san" Ibiki menunjuk bangku yang ada di samping gadis berambut pink pucat, dan satu lagi di sisi gadis yang tadi. "Kau bisa pilih manapun yang kau suka."
Sasuke tidak tahu kenapa tangannya secara refleks menunjuk gadis yang duduk di sisi jendela itu. Terdengar sorakan kecewa dari beberapa orang karena mereka tidak punya kesempatan duduk disamping Uchiha itu. Ibiki melayangkan tatapan mengerikannya pada murid-murid yang dianggapnya berisik itu dan segera menyuruh Sasuke duduk.
Sasuke berjalan ke arah gadis itu dengan stay cool. Ia duduk tanpa banyak bicara. Gadis itu melirik Sasuke dengan tatapan datar sebelum kembali memperhatikan keluar jendela. Sasuke berdeham, entah karena alasan apa ia merasa gugup. Gadis itu tampak benar-benar tidak peduli padanya seolah Sasuke adalah jenis laki-laki yang biasa ia temukan di jalan. Mungkin karena dia seorang Uchiha, Sasuke jadi punya semacam harga diri tinggi dan ia tentunya tidak biasa diperlakukan tidak istimewa oleh orang lain.
Sasuke bukan tipe orang yang akan memulai sebuah pembicaraan, tapi lagi lagi karena beberapa alasan yang tidak jelas, laki-laki itu merasa ia harus memperkenalkan diri. Well, mereka sebangku, kan?
"Sasuke Uchiha" kata Sasuke pelan, bermaksud memperkenalkan diri.
"Sakura" jawab gadis itu nyaris seperti berdesis. Ia memandang Sasuke seolah berkata 'jangan-ganggu-aku!' lewat matanya. Sasuke terhenyak. Gadis yang bernama Sakura ini dingin sekali. Sasuke tentu saja adalah tipe yang dingin, semua orang tahu itu. Tapi demi apapun, gadis itu bahkan lima kali lebih dingin darinya. Gadis itu tak hanya irit bicara, tapi tatapannya seolah berkata kalau ia tak ingin diganggu orang lain dalam kasus apapun, dalam kesempatan apapun dan atas alasan apapun. Intinya, dia tidak suka orang lain.
Aneh.
"Jangan ajak dia bicara, Sasuke-kun. Nanti kau bisa mati membeku!" cibir seorang gadis berambut pink pucat yang duduk sendirian. Sasuke berdecih, melayangkan tatapan tak sukanya pada gadis itu. Baru kenal saja sudah sok akrab, memanggil nama depannya, menambahkan suffix '-kun' pula!
"Iya, si manusia es itu kan bisu. Dia tak pantas ditemani" timpal yang lainnya. Sasuke memutuskan diam. Sebenarnya, ia ingin melihat reaksi apa yang akan dikeluarkan gadis itu setelah dihina. Sasuke memandang Sakura yang tampak membuang nafas agak kasar. Tampaknya gadis itu tidak suka acara memandangi-pohon-maple nya diganggu. Terbukti dari tatapan tajam yang kini dilayangkannya pada dua gadis yang mengatainya tadi. Sasuke bergidik karena dua alasan. Mata emerald gadis itu indah sekali, jernih dan berkilauan, tapi mata itu seperti kosong. Sasuke merasa tubuhnya menggigil untuk sesaat ketika memandang mata Sakura.
"Ketika kau menyindirku, kau melakukan dua kesalahan. Pertama, kau menghinaku di depan Sensei. Kedua, kau mengurusi aku yang tidak pernah dan tidak akan pernah mengurusi masalahmu. Tidakkah itu merugikan?"
Sasuke tertegun. Suara gadis itu terdengar datar dan dingin. Tidak tampak sedikitpun emosi di wajahnya ketika dia memukul telak sindiran dua gadis tadi. Kedua gadis yang disindir Sakura menggertakkan gigi dan menggebrak meja, tanda tak terima dikatai. Tepat ketika kedua gadis itu akan memarahi Sakura, Ibiki yang sejak tadi diam saja mulai angkat bicara.
"Kirishima-san, Yuuno-san, silahkan keluar dan berdiri di koridor sampai jam pelajaran selesai" kata Ibiki dengan suaranya yang berat. Tanpa bisa menolak, kedua gadis itu berjalan dengan langkah kesal keluar kelas, menyisakan keheningan mencekam di dalamnya.
"Kesalahan ketiga, tidak ada yang tahu apa yang pantas untukku dan yang tidak" gumam gadis itu pelan sambil menghentikan kegiatannya memutar pena. Gadis itu mengucapkannya dengan suara yang pelan sekali, tapi jangan salahkan Uchiha yang dianugerahi indera yang berfungsi dengan baik sekali sampai bisa menangkap frekuensi suara sekecil apapun—
Gadis ini menarik.
—dan ucapkan syukur karena untuk pertama kalinya Sasuke Uchiha mendeklarasikan kalau dia menganggap seorang gadis cukup menarik.
Lunch Time
Chemistry Class
2nd Building, 2nd Floor
Konoha Gakkuen
Sakura mengeluarkan dua kotak bento dari dalam laci mejanya. Mereka masih berada di kelas Kimia untuk menghabiskan makan siang sebelum pindah ke kelas bahasa jepang. Gadis itu terlihat menata mejanya untuk makan dua orang. Sasuke yang memutuskan untuk membaca kembali materi yang tertinggal kemudian menoleh ke kanan dan kiri, mencari seseorang yang mungkin saja akan menemani gadis itu makan siang. Percuma, di kelas ini hanya tersisa dirinya, Sakura, seorang laki-laki berkuncir yang sedang tidur, gadis berambut indigo yang sekarang juga memakan bekalnya dan seorang laki-laki berkacamata yang sibuk mencatat di bukunya.
Tidak mungkin rasanya kalau gadis itu memakan dua kotak itu sekaligus.
"Forehead!" teriak gadis berambut pirang yang tiba-tiba masuk dan teriak-teriak. Gadis berponi panjang itu tampaknya berasal dari kelas yang berbeda karena Sasuke tidak merasa ia pernah melihat gadis itu di kelasnya tadi. Gadis berambut blonde itu menarik kursi di depan Sakura, menjawab pertanyaan Sasuke tentang siapa yang akan makan siang dengan teman sebangkunya.
Sakura memandang sahabat pirangnya itu dengan tatapan jengkel. Ino Yamanaka tadi pagi baru saja mengiriminya pesan untuk memasakkan bento lantaran gadis itu ditinggal sendiri di apartemen mewahnya oleh pembantunya yang pulang kampung.
"Berisik" gerutu Sakura. Bibir Sakura mengulum bibir atasnya, kebiasaannya ketika ia sedang kesal.
"Eh, ada anak baru, ya?" tanya Ino seratus persen menghiraukan Sakura, ia memandang Sasuke yang duduk di samping sahabatnya.
"Hn." Jawab Sasuke ambigu. Ia melirik Ino dengan tatapan datarnya. Ino mengedikkan bahu. Kebiasaannya menghadapi Sakura yang sama-sama dingin membuatnya—entah kenapa—seperti memiliki antibodi terhadap orang-orang dingin. Istilah kasarnya, kebal.
"Namaku Ino Yamanaka! Salam kenal!" sapa gadis itu riang. Sasuke bergumam lagi tanda ia mendengarkan. Meski terlihat biasa saja di luar, Sasuke merekam kembali dimana ia pernah mendengar nama gadis itu.
Ah, gadis itu adalah putri kedua Inochi Yamanaka, presdir perusahaan fashion YMNas.
"Seperti biasa, bento buatanmu enak sekali!" seru Ino riang sambil memasukkan sosis goreng dan beberapa acar ke dalam mulutnya. Sakura memandang mata sahabatnya daam-dalam. Keceriaan Ino yang berlebihan pasti punya maksud, Sakura paham dengan baik hal itu.
"Aa," timpal Sakura singkat, masih setia memperhatikan sahabatnya.
"Hei, Sakura. Aku…" Ino tiba-tiba menundukkan kepala. Sakura yang tampak mengerti langsung meletakkan sumpitnya. Tangannya perlahan menepuk kepala Ino sambil bergumam 'tidak apa-apa' berulang kali.
"Sudah kubilang kau harusnya percaya padaku dan memutuskan dia" kata Sakura datar. Dia yang dimaksud gadis itu disini adalah pacar Ino sejak dua bulan yang lalu. Kimimaro, kakak tingkat mereka yang terkenal player.
"Aku mencintainya, baka! Kau tahu dengan jelas aku tak sanggup memutuskannya" kilah Ino sambil menghapus air mata yang entah kapan keluar dari sudut matanya. Sasuke menahan nafas. Ia ingin sekali pergi tapi entah kenapa kakinya tak bisa digerakkan. Laki-laki itu memutuskan bertahan di kursinya sambil mencoba memahami situasi.
"Kau adalah gadis yang tidak hanya dibutakan, tapi juga dibuat bodoh oleh kata picisan macam 'cinta'" kata Sakura sarkastik. Gadis itu mengangkat satu sudut bibirnya, membuatnya tampak meringis. Sasuke sampai bergidik melihatnya. Ia melirik Ino, bersiap kalau-kalau gadis itu akan menangis lebih keras sambil memaki Sakura.
Yang terjadi…malah sebaliknya. Ino menerjang Sakura dan memeluknya erat. "Aku bodoh, gomenasai, Sakura. Aku tidak mendengarkan apa katamu" isaknya sambil mengeratkan pelukannya pada Sakura.
"Tidak apa-apa" sahut Sakura sambil mengusap punggung Ino. Ia melirik Sasuke, merasa diperhatikan. "Kurasa aku sudah pernah berkata sesuatu tentang mengurusi orang lain, Uchiha" desis Sakura sambil menatap Sasuke tajam.
Sasuke membatu. Otaknya berusaha keras mencerna kata-kata Sakura. Kenapa…tampaknya gadis itu sangat membencinya?
After school
Parking Place
Konoha Gakkuen
Sasuke berjalan santai menuju Maserati putih miliknya yang di parkir di tempat khusus di halaman sekolah. Atas permintaannya (bukan rahasia umum lagi kalau Sasuke Uchiha punya semacam magnet yang menarik gadis-gadis mendekat padanya dan berubah brutal) akhirnya Sasuke diizinkan memakai parkiran khusus yang sebenarnya cukup sepi. Ketika laki-laki itu bersiap membuka pintu Maserati miliknya, Sasuke lagi-lagi dikejutkan karena kemunculan Sakura yang tiba-tiba. Gadis itu seperti hantu, dia entah kenapa selalu muncul dimanapun Sasuke berada.
Sasuke memperhatikan gerak-gerik Sakura yang tampak acuh. Gadis itu seratus persen mengabaikan keberadaan Sasuke. Gadis-gadis pada umumnya pasti akan histeris, atau yang paling normal, menyapanya atau tersenyum ke arahnya. Tampaknya, pengecualian bagi Sakura.
Rahang Sasuke sempurna jatuh ketika gadis itu ternyata membuka pintu sebuah Bugatti Veyron warna baby blue yang terparkir dua mobil dari miliknya. Pikirnya, seorang gadis macam Sakura tentu tidak pernah terbayangkan akan membawa mobil berkecepatan 431 km/jam, kan? Apalagi, Sakura tidak mencantumkan nama keluarganya sama sekali. Disini, di sekolah high class macam Konoha Gakkuen, nama keluarga adalah hal pertama yang akan menentukan siapa dirimu.
Sasuke sweatdrop. Baru kali ini ada gadis yang tidak terpesona padanya. Ia mendecih sebal dan membuka pintu mobilnya sebelum sebuah Porche Carrera GT berwarna kuning berhenti tepat di sisinya. Sasuke nyaris saja menghadiahi si pengendara dengan cacian dari lidah tak bertulangnya ketika kaca mobil perlahan turun. Oh, tentu saja, harusnya otaknya yang jenius berlebihan itu sudah bisa menebak siapa gerangan yang mengganggunya di hari cerah dan sejuk ini.
"Hisashiburi, Sasuke-teme!" seru orang itu bersemangat.
Bagus sekali, Sasuke tak perlu repot memeriksa daftar siswa—karena takkan dilakukannya—hanya untuk menemukan dia. Karena dia pasti akan menghampirinya duluan. Siapa lagi kalau bukan—
Naruto Namikaze.
to be continued...
Hello minna! aku author baru disini ekekeke~
sebenarnya fanfic ini udah aku buat sejak lama, tapi karena aku suka banget sama karakter disini jadilah aku memutuskan untuk ngejadiin Break the Ice fanfic perdana aku! mudahmudahan suka, ya!
fdestyalove : iyaa ini udah lanjut hehe thanks yaa reviewnya ^^
kimmy ranaomi : ini nextnya! hope u like it ^^
