Chillabell:

Karena saya menerima komentar positif dari Reader-nim dan mulai mendapatkan bayangan sedikit sequel

jadi saya putuskan untuk memberi sedikit kelanjutan dari cerita sebelumnya

selamat membaca ^^


...::Anxiety::...

Sudah seminggu sejak Himchan dan Yongguk mulai berpacaran, memang tampak tak banyak yang berubah sehingga Himchan dibingungkan dengan sikap pacar barunya itu.

"Gukkie~~", Himchan mengambil tangan Yongguk yang tengah berjalan didepannya

Betapa terkejutnya dia karena Yongguk langsung mengambil tangannya, ia tampak terkejut dengan serangan dadakan dari Himchan.

"Oh...", Yongguk menggigit bibirnya dan tidak berani menatap mata Himchan, "Sebentar lagi bel akan berbunyi, sebaiknya kita cepat-cepat kekelas"

Himchan tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepalanya, ia kembali melihat punggung besar Yongguk yang baru saja menolak untuk diajak bergandengan tangan. Bukan hanya itu, Yongguk juga nampak menghindar ketika Himchan terlalu dekat dengannya atau hanya ingin sekedar menyandarkan diri kebahunya. Himchan menjadi bingung dan merasa terluka, ia merasa Yongguk lebih terbuka saat mereka hanya berteman.

Kali ini ia sedang makan siang bersama Yongguk dikelas, ini pertama kalinya ia membuatkan bekal untuk Yongguk dan dirinya - biasanya Ibu Himchan yang membuatkan untuk mereka berdua karena Ibu Yongguk adalah wanita karir yang sibuk. Tapi tampaknya Yongguk tidak menyadarinya. Memang tidak ada yang spesial dalam masakan itu, hanya beberapa makanan instan yang cukup digoreng bersama nasi - ia berharap bisa memberikan yang lebih baik dihari-hari selanjutnya.

"Hyung, ada beberapa hal yang ingin kupastikan", panggil Moon Jongup muncul dan dengan santai masuk kekelas Himchan

"...bukankah hasil rapat kemarin sudah menghapus lomba memanah karena pesertanya kurang dari 10 orang?", Ucap Himchan

"Oh iya", Jongup memperbaiki catatannya lalu melirik kebekal Himchan, "Hyung, gorengan ini agak gosong! Apa kau membuatnya sendiri?"

"Gosong? Err...jadi rasanya agak pahit karena gosong", Himchan malu dengan masakannya yang dinilai oleh juniornya dengan sekali lihat, kenapa Yongguk tidak mengatakan apapun - apa dia juga tidak sadar.

Jongup dengan luwes mengambil gorengan dibekal Himchan lalu berlari keluar, "Ternyata rasanya tidak terlalu buruk! Buatkan aku juga donk Hyungnim!"

"Minta saja ibumu membuatkannya!", ketus Himchan.

Yongguk memperhatikan Himchan yang akan melanjutkan makan siangnya dengan sumpit yang baru saja dipakai Jongup, sebelum sumpit itu menyentuh bibirnya tangan Yongguk langsung menahannya dan memakan apa yang ada disumpit itu.

"Yongguk! Makananmu masih banyak, jangan seperti Jongup main curi-curi saja", kata Himchan.

Tiba dimana minggu-minggu menjelang perayaan festival olahraga dimana Himchan sebagai Ketua OSIS disekolahnya sangat sibuk. Ia semakin menjauh dari Yongguk dan lebih fokus kepada tanggung jawabnya sebagai ketua. Ada beberapa waktu ditengah stressnya ia ingin sekali beristirahat dipangkuan Yongguk, tapi mengingat Yongguk yang menjauhinya - ia jadi merasa tertekan.

"Hyung, ini Ice-Americano untukmu", Jongup datang dengan sekatung minuman dingin.

"Inilah yang sangat kubutuhkan",Himchan segera meneguknya

"Hyung tampak lelah sekali, jangan terlalu memaksakan diri", ucap Jongup sambil memijat bahunya

"Yah...memang tugas ketua itu berat...", Himchan menikmati waktu istirahatnya.

Waktu menunjukkan pukul enam sore dimana anggota OSIS baru saja selesai membuat spanduk, Himchan sudah mengirim pesan teks sebelumnya kalau dia benar-benar akan lama sekali dengan ia memasuki kelas dimana hanya tinggal ada satu buah tas, ia menghela nafas. Entah ia merasa kecewa karena tidak ada Yongguk atau lega tidak membuat Yongguk menunggu terlalu lama. Tiba-tiba sebuah tangan menariknya, ia tidak sadar ada seseorang dibalik pintu dan terus menantikannya.

"Mmph!", Himchan hampir berteriak tetapi bibirnya dibungkam, orang tersebut juga mencium dan menggigit leher Himchan dari belakang.

"Kau membuatku menjadi seperti ini Himchan... kau benar-benar pacar yang jahat", ucap Yongguk dengan nada rendahnya

"Guk?!..", Himchan ingin memprotes tapi Yongguk tidak mau melepaskannya

Kini leher Himchan dipenuhi tanda, saat ia berbalik Yongguk seolah-olah tidak seperti dirinya yang biasa, yang kalem - matanya terbakar oleh kecemburuan. Himchan berbalik dan terheran apa yang membuat pria yang biasanya menjauhinya kini memandangnya dengan tajam seolah-olah akan memakannya hidup-hidup.

"Apa yang sebenarnya salah denganmu, kenapa kau berbuat ini padaku", Himchan kesal sambil memperbaiki kerahnya.

"Tentu saja karena aku tidak mau kau direbut oleh anak itu", ucap Yongguk dengan suara yang sedikit lantang.

"Apa!? Maksudmu...Jongup? Dia hanya sekretarisku, bukannya kau sudah tahu?", jawab Himchan

"Tapi dia menyentuhmu...dan terus bersamamu!...", Yongguk membuang mukanya, "Aku..tidak suka"

Himchan terbengong sesaat, ini pertama kalinya Yongguk memperlihatkan sisi lainnya - wajahnya yang memerah benar-benar membuat Himchan gemas, "Jadi kau cemburu?"

"Memangnya salah kalau aku cemburu?", ketus Yongguk masih dengan wajah tomatnya

Himchan mengambil wajah Yongguk dan mencium bibirnya, ia benar-benar senang melihat Yongguk yang terbuka dan menjelaskan segalanya. Ia pikir hanya dia yang menggebu-gebu dalam hubungan mereka, ternyata Yongguk juga bisa memperlihatkan keinginannya sebagai seorang pacar. Pikiran-pikiran lain Himchan pun kembali bermunculan.

"Kalau kita benar-benar pacaran...kenapa kau tidak mau memegang tanganku...", Himchan memasang raut sedih, "Kau bahkan seperti menjauhiku..."

"Aku tidak bermaksud seperti itu", jawab Yongguk dengan lembut, "...aku hanya tidak ingin reputasimu sebagai Ketua OSIS hancur karena murid-murid tahu...kau berpacaran denganku"

Mata Himchan membesar, "Tak ada yang salah kalau mereka tahu aku berpacaran denganmu!"

"Bagaimana dengan guru-guru dan orang tua kita?", jawab Yongguk dengan nada serius, "Ibumu...mungkin akan terluka, jadi kupikir kita rahasiakan saja sampai ada waktu yang tepat untuk memberi tahunya"

Himchan terdiam begitu mendengar nama ibunya, "...aku mengerti...maaf sudah salah paham dengan sikapmu - aku selalu saja hanya memikirkan perasaanku"

Yongguk memberi kecupan lembut didahi Himchan, "Aku janji tidak akan membuatmu merasa dijauhi atau kesepian lagi"

Mereka kembali menikmati detik-detik dimana dunia hanya milik mereka berdua. Yongguk kembali mengecup leher Himchan yang dipenuhi tanda, memberikan kecupan minta maaf atas perlakuan kasarnya.

"Hyungnim, apa kau sudah pul...", Jongup membuka pintu kelas dan merusak suasana

"Jongup!..", Himchan terkejut, tetapi Yongguk tetap saja meneruskan ciumannya

"...Err, maaf", Jongup mundur, "Aku tidak akan bilang pada siapa-siapa!"

Jongup berlari dengan wajah merah seperti tomat, ia memang pernah beberapa kali melihat sepasang kekasih berciuman di film tapi ini pertama kalinya ia melihat langsung dihadapannya. Mengingat-ingat mata Yongguk yang meliriknya dengan sinis membuat dia mengerti kalau Himchan adalah milik Yongguk seorang.

"Yongguk! Bagaimana kalau anak itu trauma! Dia masih polos!", tegur Himchan

"Dia hanya satu tahun dibawah kita, dia akan terbiasa", kata Yongguk dengan santai

"Pedahal kau yang ingin merahasiakan hubungan kita, tapi kau tidak membantu sama sekali!"

Yongguk tertawa ditengah kemarahan Himchan, Himchan-lah yang membuatnya merasa perlu membuat belenggu tapi juga menyebrang ke batas-batas terlarang. Sejak hari sudah senja dan angin malam mulai menyisir kota, Yongguk memakaikan jaketnya diHimchan - untuk menghangatkannya juga membantunya menutupi tanda dilehernya.

-End-