"Jadilah istriku, P'Arthit."
"HAH?"
Arthit terbangun dengan memaki. Sasaran makiannya tentu saja pria yang dengan seenaknya muncul di dalam mimpinya setelah membuat hidupnya sengsara seperti sekarang.
Pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Kong Suthiluck itu membuatnya sangat kesal. Setiap kali ia muncul di hadapannya, Arthit ingin sekali memaki padanya -bahkan memukulnya jika diperlukan. Namun entah mengapa ia selalu tidak bisa melakukannya, seperti ada sesuatu yang menahannya untuk melakukan itu.
Mungkin hal itu ada kaitannya dengan betapa sopan dan lembutnya pria brengsek itu memperlakukannya.
Yang mana itu adalah hal yang menggelikan bagi Arthit, mengingat pria itulah yang membuatnya di pecat dari pekerjaannya sebelumnya dan membuatnya sekarang sakit kepala memikirkan harus melamar kemana lagi ia untuk mendapatkan uang. Sudah banyak lamaran yang dikirimkan olehnya ke perusahaan-perusahaan yang memasak iklan lowongan kerja, juga restoran atau toko yang mencari pegawai namun nihil.
Nasib buruk membayangi hidupnya sejak pria itu muncul.
Arthit membenci pria itu.
Dan, sekarang pria itu seang bersandar pada mobilnya di tempat parkir apartemen kecil yang ditempati olehnya. Tersenyum padanya, membuatnya ingin menonjok wajah tampan dan deretan gigi tidak rapi yang membuatnya semakin menggemaskan.
Apa, tidak. Arthit tidak mengatakan pria menyebalkan itu menggemaskan. Mana ada orang yang menyebalkan tapi juga menggemaskan. Tidak ada.
"P'Arthit khap." Suara menyebalkan pria gila itu menyapa indera pendengarannya, namun ia mengindahkan. "Aku mohon berhentilah mencari pekerjaan dan jadilah istriku."
Sebuah perapatan imajiner seketika terbentuk di keningnya. Ia berbalik dan menatap tajam pada pria itu, berharap tatapannya bisa paling tidak melubangi kepalanya.
"Sudah kukatakan untuk tidak muncul di depanku lagi!" sergahnya, menarik perhatian beberapa penghuni apartemen yang sedang membawa sampah mereka untuk dibuang. "Kau ingin aku memukulmu lagi?"
"Tidak, khap. Aku tidak ingin dipukul P'Arthit lagi, aku hanya ingin melihat wajah P'Arthit, khap." jawab Kongpob, masih tersenyum lebar.
Ketika Kongpob memintanya untuk menjadi 'istrinya' pertama kali, ia langsung memukul perut pria itu, membuatnya tersungkur ke tanah. Namun psikopat itu masih bisa tertawa kecil sambil memegangi perutnya yang tentu saja sakit itu.
"Aku akan terus meminta P'Arthit menjadi istriku sampai P'Arthit menyetujuinya, khap."
Dasar manusia psikopat merangkap masokis!
"P'Arthit khap."
"Apa lagi!"
"Aku lupa memberikan ini terakhir kali kita bertemu, tolong terimalah."
Arthit melirik kertas berbentuk persegi panjang yang disodorkan Kongpob dan menyadari bahwa pria itu memberikan kartu namanya pada Arthit.
"Aku yakin dalam waktu dekat P'Arthit akan memerlukan ini." katanya lagi, "Ketika P'Arthit menyadari bahwa menjadi istriku adalah jalan keluar terbaik untuk semua masalah kita."
"Tidak butuh!" ketusnya, memalingkan wajahnya dan mulai berjalan menjauhi pria itu.
"P'Arthit khap, tunggu." Kongpob dengan tidak sopannya memegang tangannya dan memaksanya menerima kartu nama itu. "Tolong jangan terlalu lama membuatku menunggu telepon darimu, P'Arthit." sambungnya sebelum tersenyum simpul lalu berjalan menjauhi Arthit yang sedang menahan amarahnya.
Apakah ia baru saja dipermainkan pria kurang ajar itu?
Mengatakan sesuatu memang lebih mudah daripada melakukannya. Mengatakan kau akan berusaha untuk mencari pekerjaan baru jauh lebih mudah daripada benar-benar menemukan pekerjaan yang sesuai denganmu.
Arthit mulai lelah dengan semua usahanya mencari pekerjaan yang bisa dilakukannya. Sudah seminggu ini ia mencoba dari sebelum terbit fajar hingga menjelang malam hari. Mulai sejak ia menyelesaikan pekerjaan mengantar koran paginya, sampai waktunya ia tidur.
Mencoba hidup dengan hanya mengantarkan koran pagi adalah sesuatu yang tidak mungkin.
Begitu banyak restoran dan toko di Thailand ini namun tidak satupun yang mencari karyawan baru -apalagi perusahaan resmi. Disinilah titik dimana ia mulai putus asa, namun ia tidak akan melakukan apa yang sudah terbesit di benaknya dalam dua hari terakhir.
Kertas berwarna putih yang berada di atas nakas tempat tidurnya itu, ia berjanji tidak akan meliriknya barang sekalipun!
Tidak akan!
Siapa yang Arthit coba bohongi disini ketika mengatakan itu dalam benaknya jika bukan dirinya yang memiliki harga diri yang tinggi. Dirinya yang tidak ingin dikasihani. Ia ingin sekali menghubungi Kongpob dan menyanggupi permintaannya untuk menjadi istrinya karena tenggat waktu terakhirnya untuk membayar sisa hutang orang tuanya tinggal beberapa hari lagi.
Ia ingin menghubungi Bright, Prem, Knott atau bahkan Toota namun ia tidak ingin teman-temannya itu tahu kondisinya yang sekarang. Bukan karena takut dikasihani namun ia takut keempat sahabatnya itu akan memaksa untuk membantunya dan itu jauh lebih buruk lagi untuknya. Ia tidak ingin merepotkan mereka semua.
Namun Kongpob mengetahui apa yang terjadi padanya dan bisa membantunya, namun dengan syarat yang sungguh tidak masuk akal. Apa ia tidak bisa melihat bahwa dirinya adalah laki-laki dan tidak mungkin menjadi 'istri' dari seorang laki-laki juga! Terlebih dari lelaki yang bahkan adalah orang asing baginya.
kring kring...
Bunyi ponselnya yang ketinggalan jaman mengagetkannya. Ia segera menerima panggilan masuk itu tanpa melihat bahwa itu adalah nomer tak dikenal. Ia berpikir mungkin saja rentenir yang menelepon dan akan menyulitkannya jika ia tidak mengangkatnya dengan segera.
"Tawaranku masih berlaku, P'Arthit khap."
Sial, itu bukan rentenir!
"Tolong jangan ditutup, P'Arthit."
"Darimana kau mendapatkan nomor ponselku!"
"P'Arthit khap. Supir pribadiku sudah menunggu di bawah apartemenmu. Aku mohon, ikutlah dengannya agar kita bisa memecahkan semuanya bersama."
"Aku tidak mau."
"Haah..." Arthit bisa mendengar hembusan nafas berat dari sabungan disebrang sana. "Baiklah, jika itu yang P'Arthit harapkan." sambung suara itu sebelum telepon dimatikan secara sepihak oleh Kongpob, membuat Arthit terkejut.
Mungkin sekarang Kongpob tidak akan mengganggunya lagi. Sekarang ia bisa menghadapi masalah hidupnya seorang diri lagi.
Atau begitulah yang ia pikirkan.
"Maafkan kami, nak Arthit. Namun kami sudah menjual gedung ini, dan kami terpaksa memintamu (dan penghuni lain) untuk segera mengemasi barang-barangmu karena pemilik baru gedung ini menginginkannya kosong."
Arthit tidak percaya hal ini. Cobaan apalagi yang menimpanya sekarang hingga gedung apartemennya pun mengkhianatinya.
Meskipun ia tidak memiliki banyak barang namun cukup berat mengepak semuanya sendiri, dan sekarang ia harus berpikir akan tinggal dimana. Ia tak memiliki cukup uang untuk segera mencari apartemennya sendiri.
Air matanya terasa akan segera jatuh dari pelupuk matanya hingga ia mendongak keatas agar hal itu tidak terjadi. Ia tidak ingin menjadi orang yang lemah.
"Menangis bukan berarti membuat seseorang itu lemah, P'Arthit khap."
Arthit menoleh begitu cepat hingga ia hampir saja membuah lehernya keseleo. Kongpob berdiri dibelakangnya, tak jauh dari mobil box besar yang terparkir rapi di depan apartemen. Pemilik apartemen terdahulu terlihat berdiri tak jauh darinya.
"Kau tidak memberiku pilihan lain, P'Arthit." ujarnya dengan suara yang menyiratkan rasa bersalah. "Maafkan aku, tapi aku terpaksa melakukan ini."
Bisa ia rasakan bagaimana emosinya seketika membuncah hingga ke ubun-ubunnya. Semua stress dan mimpi buruh yang harus ia pendam selama ini pecah begitu saja. Ia tidak bisa memilih apakah yang ia rasakan ini adalah rasa sedih, marah, benci, atau hanya sekedar kecewa. Kecewa menyadari bahwa ia tidak mampu menghadapi semuanya sendirian.
Air mata yang sudah berusaha ditahannya jatuh begitu saja mendengar penuturan pria itu. Pria yang sangat dibencinya, yang sangat tak ia inginkan hadir dalam hidupnya. Namun mengapa wajah pria itu menyiratkan rasa bersalah yang begitu dalam saat ini, ketika tujuannya menghancurkan hidup Arthit berhasil dicapainya.
Pria itu, Kongpob, berjalan cepat kearahnya dan menarik tubuhnya yang terasa dingin itu kedalam pelukannya. Bibirnya terus mengucapkan kata maaf yang sejujurnya tidak bisa dimengerti oleh Arthit apa maksud dari permintaan maafnya itu. Bukankah seharusnya ia senang? Lalu mengapa pria ini juga menangis?
Arthit tak kuasa menolak ketika Kongpob menuntunnya menaiki mobil mewah yang selalu ia lihat ketika ada Kongpob. Bukan mobil yang sangat mewah namun untuk orang yang bahkan tidak bisa mendapatkan uang sedikitpun dalam bulan ini, mobil ini adalah benda paling mewah yang pernah disentuhnya -bahkan dalam dua tahun terakhir.
"Ayo pulang kerumah, P'Arthit khap." ujar Kongpob, menggenggam tangannya dengan lembut, "My lovely wife, Arthit."
Arthit memutuskan untuk tidak memberontak karena pada kenyataannya tubuh dan pikirannya saat ini begitu kalut hingga ia tidak mengerti apa yang bisa dilakukannya saat ini. Kongpob pun menyadari hal ini.
Namun siapa yang tahu apa yang akan dilakukan seorang Arthit ketika ia sudah bisa mengendalikan dirinya kembali?
Kongpob tersenyum membayangkan saat itu, dan ia siap menghadapi apapun yang akan terjadi ketika Arthit-nya sadar esok pagi. Untuk sekarang, Kongpob sudah cukup bahagia dengan berada disamping Arthit.
.
.
