It's BTS fanfic | KookGa | Wake You Up sequel | Smut | do not plagiarism | this story copyright © by WithYoongi
.
.
.
.
.
.
.
Semenjak mereka menjadi sepasang kekasih, Jungkook hanya membolehkan Yoongi untuk membangunkannya. Terkadang Jungkook sedikit mengerjai Yoongi. Berpura-pura tidur lagi sampai Yoongi kehabisan akal dan akan menciumnya di bibir. Semata-mata di lakukan karena kemodusan seorang Jeon Jungkook.
Seperti hari ini, Jungkook sebenarnya bagun lebih awal. Tapi ia ingin tetap Yoongi membangunkannya. Jungkook bermain dengan boneka yang ia ambil dari kamar Yoongi sambil menunggu (Yoongi sendiri sudah menyerahkan kepemilikkan boneka itu untuk Jungkook).
Sampai ketika Jungkook mendengar suara derap langkah kaki di luar kamar membuatnya melempar bonekanya ke sembarang tempat. Buru-buru menyembunyikan dirinya di dalam selimut dan kembali berakting.
Jungkook dapat merasakan Yoongi bediri di hadapannya dengan mata yang memandang malas ke arah Jungkook. Yoongi pernah bilang jika membangunkan Jungkook adalah hal yang paling dia hindari tapi itu telah menjadi kewajibannya sekarang.
Sampai lima belas menit berlalu, Jungkook tidak merasakan pergerakan dari Yoongi. Karena biasanya kekasihnya itu pasti akan meneriakinya tepat di telinga, atau langsung menduduki perutnya dan menjambak rambutnya.
Jungkook dapat merasakan ranjangnya yang bergerak, sepertinya Yoongi menaiki ranjangnya. Tapi ia belum melakukan apa pun, membuat Jungkook sedikit demi sedikit membuka matanya.
Dan Jungkook rasa ia tidak pernah tersenyum selebar ini di pagi hari.
Yoongi, tengah tertidur di sampingnya dengan menggunakan lengan Jungkook sebagai gulingnya.
.
Jungkook merubah posisinya untuk menghadap Yoongi. Dengan perlahan menarik lengannya dan sekarang ia memeluk Yoongi.
Pasti Yoongi-hyung masih mengantuk, pikirnya. Jungkook tahu Yoongi semalaman terjaga di studio untuk membuat beberapa nada dan lirik.
Jadi Jungkook saat ini hanya membiarkan Yoongi tertidur di pelukannya. Lagi pula, Yoongi yang tertidur itu sangat manis. Membuat Jungkook sendiri tidak hentinya mencium kedua pipi Yoongi.
.
.
.
Yoongi terbangun karena merasakan seseorang memainkan rambutnya. Pipinya juga terasa basah. Yoongi dengan perlahan membuka matanya dan setelah itu ia menemukan seorang Jeon Jungkook, dengan wajah yang sangat dekat karena ia sedang menciumi pipinya.
Pelaku dari pipinya yang basah. Yoongi mendorong kepala Jungkook untuk menjauh. Membuat Jungkook menatapnya dengan senyuman di bibir.
"selamat pagi, Yoongi-hyung~"
Yoongi hanya bergumam, matanya melirik jam yang berada di dinding kamarnya. Lalu kembali menatap Jungkook.
"selamat siang, Jeon Jungkook." koreksinya. "dan kau telah mengganggu tidurku." Yoongi lalu merenggangkan otot-otot tubuhnya lalu kembali menatap Jungkook.
Jungkook sendiri hanya terkekeh, menampilkan gigi kelincinya yang lucu. Membuat Yoongi mati-matian menjaga tangannya agar tidak menjambak rambut Jungkook saking gemasnya.
Jungkook tiba-tiba membuka suaranya. "Jin-hyung dan yang lain sedang keluar,"
Membuat Yoongi menautkan keningnya. "lalu?"
Jungkook tersenyum senang sambil menyambar bibir Yoongi untuk ia kecup.
"buatkan aku makanan, hyung! Aku sangat lapar~"
Pelipis Yoongi berkedut beberapa kali, keningnya juga bertaut ketika mendengar penuturan kekasih mudanya itu. Apa-apaan? Memasak? Yang benar saja?!
Lagi pula Yoongi merasa Jungkook sangat tidak sopan karena menyuruhnya yang jelas-jelas lebih tua darinya.
.
"dasar bocah, dimana sopan santunmu?" Yoongi menatap Jungkook kesal lalu ia mendudukan dirinya.
Di sisi lain Jungkook merengut, sebelah lengannya memeluk pinggang Yoongi agar pemuda manis itu tidak kabur.
"ayolah, hyung~" ia juga mengeluskan pipinya di punggung Yoongi. "Jin-hyung tidak membuat apa-apa." lalu kembali merengut.
"masak sendiri, bocah!" dengan perkataan finalnya itu, Yoongi menghentakan lengan Jungkook lalu berlari keluar kamar dengan kecepatan kilat.
.
.
.
.
Yoongi berakhir di dalam kamar mandi, mencuci mukanya serta menggosok gigi untuk terlihat lebih segar. Ia terlalu malas untuk mandi, lagi pula badannya tidak terlalu bau juga.
Baru saja Yoongi selesai membasuh mulutnya, ia dapat melihat pantulan diri Jungkook yang tengah berjalan mengendap-endap ke arahnya. Membuat Yoongi memutar bola mata karenanya.
"aku melihatmu, Jeon." Jungkook yang merasa sudah tertangkap basah langsung mengerucutkan bibirnya.
"ah, hyung. Kau tidak seru sekali. Apa kau tidak mau kupeluk dari belakang seperti yang sering di lakukan di dalam drama?"
Yoongi mendengus mendengarnya. Drama? Yang benar saja. "dengar ya, ini dunia nyata, bukan drama atau pun film."
Tetapi Jungkook tetap memeluknya dari belakang. Memberikan kecupan singkat di tengkuk Yoongi. Dan ia hanya mengabaikan perkataan Yoongi.
"hm, aku memikirkan sesuatu, hyung" suaranya terpendam di bahu Yoongi. Sedangkan Yoongi sendiri hanya menatap Jungkook dari pantulan cermin.
"apa yang kau pikirkan?" Yoongi menaruh sikat giginya terlebih dahulu di dalam kaca.
Jungkook mengangkat kepalanya, tersenyum manis saat menatap Yoongi dari pantulan kaca.
Sesaat kemudian senyuman Jungkook berubah menjadi seringaian lucu, menurut Yoongi. Jungkook kembali menenggelamkan kepalanya di perpotongan leher Yoongi. Menghujani leher putih itu dengan kecupan.
"aku bertanya sekali lagi; apa kau mau memasakanku makanan, hyung?"
Yoongi mendelikkan bahunya di saat Jungkook menggigit pelan di sana. Mati-matian Yoongi menahan segala sesuatu yang akan keluar dari mulutnya. Tapi ia harus tetap menjawab Jungkook.
Tangan Yoongi berpegangan pada lengan Jungkook yang masih melingkar di pinggangnya.
"eum.. Tidak mau." Yoongi menggigit bibir bawahnya ketika lidah Jungkook dengan beraninya menjilati lehernya.
Jungkook terkekeh, ia kembali melancarkan aksinya, menggigit dan menjilat leher Yoongi, bahkan sekarang Jungkook menghisap kuat lehernya.
Setelah yakin ia meninggalkan tanda kepemilikkan pertamanya di leher Yoongi, Jungkook menaikkan bibirnya untuk mengecup pipi Yoongi. Lalu setelah itu kembali naik untuk berbisik seduktif di telinga Yoongi.
"kalau begitu, apa kau mau menjadi 'makanan'ku, hyung?"
.
.
.
Kedua lengan Jungkook ia tumpukkan di sisi tubuh Yoongi. Menguncinya yang sedang terduduk di atas pantry, Yoongi tidak terlalu yakin apa yang akan Jungkook lakukan. Tapi tunggu, ㅡ apa itu whipped cream?
"hyung," suara Jungkook membuat lamunan Yoongi buyar. Ia menatap Jungkook yang wajahnya hanya berjarak beberapa senti meter di depannya.
"a-apa?" ah sial, Yoongi mengumpat di dalam hati.
Jungkook yang melihat semburat merah menjalari pipi Yoongi hanya bisa terkekeh. Tanpa banyak bicara lagi, Jungkook mengambil semanguk whipped cream yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Yoongi memperhatikan setiap gerak-gerik Jungkook, bagaimana jari-jarinya sekarang sudah terlumuri krim putih itu. Dan tanpa sadar Yoongi meneguk liurnya.
"Jungkook-ah, kau mau apa?" Jungkook bergumam, senyuman tidak luntur di bibirnya. Berbanding kebalik dengan Yoongi yang gugup setengah mati di sana.
"aku?" ia tertawa pelan, terdengar sangat tenang membuat Yoongi mengutuknya di dalam hati.
Jari-jari Jungkook yang sebelumnya terlumuri whippped cream sekarang berada di leher Yoongi.
"aku hanya ingin dessert."
Lalu jarinya mulai turun untuk melumuri tulang selangka Yoongi dengan whipped cream. Yoongi mengigit bibir bawahnya ketika merasa krim dingin itu menyentuh kulitnya. Tidak, Yoongi tidak mau mendesah.
Sekarang Jungkook melumuri pipi Yoongi, terus turun ke bawah sampai di bibirnya. Ia melakukannya dengan terus menatap Yoongi. Menyeringai puas saat melihat Yoongi yang menutup matanya sambil mengigit bibir bawahnya.
"nah," Jungkook menjilati bibir bawahnya melihat pemandangan di hadapannya.
"dessert sudah siap!"
.
Yoongi membuka matanya dengan tekejut di saat bibir Jungkook mulai mengulum bibirnya. Menjilati krim berwarna putih itu hingga habis, lalu lidah Jungkook akan menorobos masuk ke dalam mulut Yoongi dengan paksa. Yoongi mau tidak mau membuka mulutnya, dan di saat itulah ia mendesah.
Kedua tangan Yoongi berpegangan pada bahu Jungkook, memiringkan kepalanya untuk menyeimbangi ciuman panas mereka.
Tangan Jungkook pun tidak tinggal diam, ia bermain-main di punggung Yoongi. Lalu setelah itu tangannya masuk ke dalam kaus putih Yoongi. Terus naik ke atas sampai jari Jungkook menyentuh putingnya.
"Jung.. kook -ah!"
Yoongi kembali menggigit bibir bawahnya ketika jari Jungkook dengan nakalnya mencubit putingnya. Ciuman mereka terlepas begitu saja dan Jungkook tetap melanjutkan ciumannya sampai ke leher Yoongi.
Lumuran krim yang berada di leher Yoongi sudah berubah menjadi tanda kepemilikan. Yoongi tidak berhenti mengeluarkan desahannya ketika Jungkook menggigit, menjilat serta menghisap lehernya di sana sini. Membuat leher putihnya dihiasi bercak bewarna merah.
Bibir Jungkook turun ke tulang selangka Yoongi. Menjilati krim tersebut sampai habis lalu kembali menandai Yoongi dengan mulutnya.
Yoongi sendiri hanya bisa mendesah pasrah. Tangannya meremas rambut Jungkook sebagai pelampiasan.
Ia menenggelamkan kepalanya di rambut Jungkook. "Kook-ah.." suaranya terendam di rambut Jungkook.
Tangan Jungkook merambati paha Yoongi, membelai paha dalamnya dan ia dapat merasakan tubuh Yoongi bergetar karenanya.
Jungkook menjauhkan dirinya dari Yoongi, mundur selangkah lalu menatapnya dengan penuh nafsu dan cinta.
"ya, hyung?" Yoongi dapat merasakan pipinya memanas, menatap Jungkook yang sedang membuka kausnya. Membiarkan mata Yoongi menatap tubuh Jungkook yang sialnya terbentuk dengan sempurna.
Yoongi menggigit bibir bawahnya. Jujur saja, Yoongi sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia menginginkan Jungkook sekarang juga.
.
Yoongi mengulurkan kedua tangannya, mengundang Jungkook ke dalam pelukannya. Dan Jungkook tentu saja dengan senang hati memeluk Yoongi.
"kenapa, hyung? Apa kau mau aku berhenti?"
"tidak!" Jungkook melonggarkan pelukannya agar dapat menatap wajah merona Yoongi.
Sedangkan Yoongi sendiri hanya memandang liar ke segala arah, kemana pun asalkan bukan ke arah mata Jungkook.
"hanya saja," ia mencicit, menundukkan kepalanya. Ah, Yoongi sangat malu mengatakannya.
Jungkook dibuat tidak sabar, tangannya yang berada di pinggang Yoongi mulai meremasnya. "hanya saja apa? Jangan membuatku bingung."
Yoongi mengerang, ia lalu menyembunyikan kepalanya di perpotongan leher Jungkook.
"kau masih kecil, Jungkook."
.
"apa?!" Jungkook jelas saja langsung melepaskan pelukannya. Menatap Yoongi tidak percaya. "serius, hyung?"
"aku sudah berumur 19 tahun!"
Yoongi baru saja akan membuka mulutnya, tetapi Jungkook dengan seenaknya mengangkat tubuh Yoongi, membawanya pergi ke dalam kamar.
"baiklah, baiklah aku mengerti," Jungkook menghela nafasnya, menendang pintu kamarnya menggunakan kaki dengan tidak sabaran.
Tubuh Yoongi terhempas begitu saja di atas ranjangnya, matanya menatap Jungkook yang dengan segera menaiki ranjang dan menindih Yoongi di bawahnya.
"kau mau aku membuktikannya padamu, hyung?" Jungkook bertanya dengan senyuman miring, wajahnya ia dekatkan pada wajah Yoongi.
Jantung Yoongi dibuat terpompa kencang. Ia mengutuk Jungkook di dalam hati karena bocah yang berada di atas tubuhnya ini sungguh berbeda dengan seorang Jeon Jungkook yang biasa dengan senyuman kelincinya. Dan apa-apaan seringaiannya itu? Apa dia bermaksud menggoda Yoongi?
"lalu," Yoongi mengalungkan kedua lengannya di leher Jungkook, menarik kepalanya agar semakin mendekat pada wajah Yoongi.
Yoongi menyeringai juga, bibirnya sengaja ia tempelkan di sudut bibir Jungkook. Dan ia berbisik di sana.
"kau tunggu apa lagi?"
.
Erangan keluar dari mulut Jungkook, ia langsung saja menyerang bibir Yoongi dengan segera dan Yoongi pun langsung membalasnya.
Tangan Jungkook kembali bermain di balik kaus Yoongi. Jarinya membuat gerakan memutar di perut Yoongi lalu naik untuk kembali memainkan putingnya.
Yoongi mendesah di dalam ciumannya. Ia membuka sedikit matanya lalu tangannya juga bermain di sekitar perut Jungkook yang terbentuk dengan sempurna. Menarikan jarinya di setiap lekukkan.
Setelahnya, kaus Yoongi sudah berada di lantai bersamaan dengan celana pendeknya.
.
.
.
.
"astaga! Whipped cream-ku!"
Seokjin dengan tergesa berlari ke arah dapur, mengambil manguk yang sebelumnya terisi whipped cream miliknya. Kantung belanjaan yang sebelumnya berada ditangannya, ia biarkan tergeletak di lantai.
"hei, hyung. Ada apa?" Namjoon datang menghampiri Seokjin setelah ia mendengar erangan frustasi dari dapur.
Seokjin tidak menjawab, ia hanya terus menatap mangkuk whipped creamnya yang sudah tidak tersisa. Krim putih itu bahkan berceceran di pantry.
Di saat itu Namjoon melihat sebuah kaus tergelatak di lantai. Ia segera mengambilnya, lalu sebelah alisnya terangkat setelah menyadari kaus yang terlihat familiar itu.
"ini punya Jungkook 'kan?" Namjoon menggoyangkan kaus itu ditangannya. Seokjin mengambilnya dengan segera.
Alisnya bertemu, menatap bingung ke arah kaus Jungkook. "apa yang bocah itu lakukan sebenarnya?"
.
.
.
.
Yoongi mengistirahatkan kepalanya di bahu Jungkook. Berusaha mengontrol nafasnya yang memburu setelah Jungkook berhasil memasukan miliknya ke dalam lubang Yoongi. Posisinya sekarang sudah berada di pangkuan Jungkook, dengan lengan pemuda itu yang melingkar di pinggang Yoongi.
Jungkook dengan sabar menunggu Yoongi, tangannya mengelus punggungnya dengan gerakan memutar. Ia tahu pasti itu akan terasa sakit, dan juga ini adalah pertama kalinya untuk mereka. Jungkook tidak mau membuat kekasihnya kesakitan. Walaupun sebenarnya Jungkook sangat ingin bergerak di dalam sana karena Yoongi menghimpitnya di dalam sana.
"Jungkook," Yoongi berucap lemah, ia memiringkan kepalanya agar dapat memberikan kecupan di leher Jungkook.
Hanya sebuah gumaman yang menjadi jawaban. Jungkook juga ikut menurunkan kepalanya agar bisa mencium pundak Yoongi.
"Jin-hyung," Tangan Yoongi mendorong dada Jungkook, yang malah membuatnya mengeluarkan desahan pelan karena milik Jungkook semakin dalam memasukinya.
"Jin-hyung dan yang lain sudah datang."
Jungkook memberikan gigitan di bahu Yoongi. Mengecupnya terlebih dahulu sebelumnya menjawab Yoongi.
"kalau begitu, sepertinya kita tidak boleh berisik."
"tapi ㅡAKH!"
Jungkook tanpa perintah langsung menghentakan pinggulnya. Yoongi langsung memeluk Jungkook kembali, merendam suaranya di bahu Jungkook.
"sst, yang lain bisa mendengarmu, hyung."
Yoongi dibuat mendesah kembali di saat Jungkook menghentakkan lagi pinggulnya. Jungkook mengangkat pinggul Yoongi, mengeluarkan miliknya sampai hanya kepalanya saja yang berada di dalam. Lalu setelah itu Yoongi sendiri yang menurunkan pinggulnya.
"Ah! Kook-ahh.. Akhㅡ"
Kepala Yoongi mengadah ketika miliknya Jungkook menusuk titik kenikmatannya. Ia berteriak mendesah memanggil nama Jungkook berkali-kali, lupa akan fakta bahwa member yang lain bisa mendengarnya.
"ahh, hyung. Janganh.. Berisik." Jungkook berbisik di telinga Yoongi, padahal dirinya pun sudah tidak peduli jika yang mendengar mereka.
Yoongi masih terus bergerak naik turun di pangkuan Jungkook, berusaha agar milik Jungkook kembali menusuk titik kenikmatannya. Dan setelah berhasil, kepala Yoongi akan mengadah dan mulutnya akan mengeluarkan desahan erotis.
Jungkook menggigit bibir bawahnya sendiri. Memperhatikan Yoongi yang terus bergerak di pangkuannya. Menatap wajah memerahnya, mulutnya yang terbuka dan akan selalu mengeluarkan desahan, serta tubuhnya yang di penuhi dengan hickey di sana-sini.
Jungkook menarik kepala Yoongi untuk menciumnya. Lidahnya langsung memasuki mulut Yoongi yang terbuka. Dan Yoongi dengan senang hati membalas ciumannya seiring dengan hentakan yang Jungkook berikan.
"hah.. Jungkookh.." Yoongi melepaskan ciumannya, tubuhnya tiba-tiba semakin cepat bergerak di atas pangkuan sang kekasih. Memberi sinyal pada Jungkook bahwa Yoongi sudah akan mencapai puncaknya.
Tangan Jungkook langsung menggenggam milik Yoongi. Memijatnya dengan pelan dan membuat Yoongi berteriak mendesah memanggil nama Jungkook.
"hyungh.." sebelah tangan Jungkook menangkup pipi Yoongi. Menatap mata Yoongi dengan penuh cinta. Dan di saat itulah Jungkook menghentakkan dengan keras, menabrak titik kenikmatan Yoongi dengan dalam.
"AKH! JUNGKOOKH.."
Dan Yoongi mencapai puncaknya dengan teriakan nama kekasihnya. Jungkook pun yang mendengarnya juga sampai pada puncaknya, menghentakkan pinggulnya beberapa kali sebelum spremanya memenuhi Yoongi.
.
.
.
.
.
.
"yeah! Aku menang! Sekarang kalian harus membayarnya!"
Setelah insiden Namjoon dan Seokjin yang menemukan kaus Jungkook di dapur, mereka berbondong-bondong menghampiri kamar Jungkook yang terkunci. Menguping dari luar ingin tahu apa yang akan terjadi.
Dan si Alien Taehyung tiba-tiba bersuara.
"aku bertaruh Jungkook dan Yoongi-hyung pasti sedang main kuda-kudaan."
Yeah, walaupun dengan bahasa yang agak aneh, Taehyung memenangkan taruhan yang dibuatnya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
End
.
.
.
.
Ya allah maafkan hambamu ini ;-;
Sumpah ini aku bikinnya gemeteraan! Baru pertama kali bikin yang rated m jadinya maaf kalau kurang memuaskan atau malah ga ngefeel?
I dont write smut but i read it anyway *dikubur*
Okey, ini smut perdana aku. Jadi sekali lagi mohon maaf atas kekurangannya m(_ _)m
Terima kasih yang udah review wake you up di chapie sebelumnya :3
teflon-nim | Lee Shikuni | infiressyubie | ycsupernova | johayo-kaisoo | littlesugar | diyahpark1004 | MyNameX | | | Phylindan | angelwini | Mara997 | kekeikke | Guest | XXX
Maaf gabisa bales review dari kalian :" tapi kalian harus tau kalau aku sayang banget sama kalian :'* /muntah
Thank you all, I love you and review please? ;3
With Love
WithYoongi
Muah~
