Hamdi dan tiga Mesum
Story:High School DxD
Charakter: M Rofi'ie Hamdi,. Hyoudou Issei,. Matsuda,. Motohama.
Genre: Petualangan Gaje, kadang Action, kadang Humor, kadang Romance, unsur Echi di kurangi secara drastis hingga hanya muncul beberapa kali saja
Episode 2
"Anu apa maksud ucapan anda tadi Hamdi-san?" tanya Issei pada Hamdi.
"Atas nama Allah, dan jika kau bertanya siapa Allah, maka aku jawab dia tuhan dari agama yang aku anut" jawab Hamdi lalu pergi meninggalkan Issei.
"Anu tadi terimakasih atas pertolongannya" ucap Issei.
"Em sama sama, semoga kita bisa jadi teman Issei-san" sahut Hamdi, lalu menuju ke kelasnya, yaitu kelas XI B dan itu adalah kelas yang sama dimana Issei, Matsuda dan Motohama berada.
Di ketika masuk kelas kemudian.
"Baiklah murid murid kita kedatangan murid pindahan dari sebuah Madrasah Aliyah Darusalam yang berasal dari negara Indonesia dia datang kemari untuk menjadi pelajar disini jadi mohon berteman baiklah dengannya" ucap sangguru memberikan kode pada murid baru itu, lalu seorang lelaki dengan tinggi 240 cm pun masuk dengan kulit tan rambut hitam mata abu abu, berjalan masuk dengan style santai dan jangan lupa wajahnya yang bisa dikatakan datar dan muka orang yang bosan hidup kelihatannya.
"Baiklah bisa perkenalkan dirimu" pinta sang guru pada murid baru tersebut.
Murid baru itu hanya tersenyum dan mengambil spidol dimeja guru dan menuliskan namanya dalam aksara Katakana agar bisa dibaca oleh orang jepang, sebenarnya ia juga tidak mau melakukannya tapi apa boleh buat, ia harus merangkai namanya dalam akasara katakana, yang kalian taulah huruf jepang itu, enggak ada huruf M yang ada Ma, Mi, Mu dan Mo, artinya enggak ada huruf mati tunggal kecuali N.
Katakana:ムハンマドロフィーハムヂ. Romanji: Muhanmado Rofi'i Hamudi, Indonesia: Muhammad Rofi'ie Hamdi.
"Namaku Muhammad Rofi'ie Hamdi, kalian boleh memanggilku Fi'ie, Rofi'ie atau bahkan Hamdi tapi jangan panggil aku Muhammad-san karena aku merasa kurang nyaman dipanggil begitu, agamaku adalah Islam, jika kalian merasa nama agama itu asing tidak masalah, negara kita saja berbeda jadi jelas kalian tidak mengenal nama agama ini" ucap remaja tadi memperkenalkan diri, dari sekian banyak murid disana, hanya Issei yang tersenyum ke arahnya, yah bisa dikatakan itu dikarenakan Hamdi telah menyelamatkannya tadi di klub kendo.
"Baiklah apa kalian ada pertanyaan untuk Hamdi-san?" tanya sangguru.
"Saya bu" seru seorang murid perempuan.
"Silahkan" jawab sang guru.
"Anu sebelumnya namaku, Amira Tsukasa, aku adalah anggota klub koran sekolah, jadi boleh aku tau beberapa hal tentangmu?"
"Tentu saja, tapi kalau masalah yang tidak ingin aku jawab tolong jangan dipaksa" jawab Hamdi.
"Oke, baik aku mulai yah" ucap Amira sambil tersenyum lalu mempersiapkan diri untuk bertanya
"Anu Hamdi-san, apa klan kamu Muhammad?"
"Bukan, ditempatku tidak mengenal klan, itu hanya nama saja" jawab Hamdi sambil tersenyum, ehem dalam islam senyum itu ibadah.
"Oh, kalau gitu pertanyaan kedua, menurut pandangan anda wanita itu apa?" tanya Amira sambil menyiapkan Pulpennya.
"Dalam pandangan ku atau agama milikku?" tanya balas Hamdi sambil tersenyum.
"Em kalau bisa keduanya, namun yang di utamakan adalah dalam pandangan anda" jawab Amira.
"Pertanyaan ini sungguh sangat relatif, sekali dan sangat meng global, namun jika kau memang ingin jawabannya, maka akan aku jawab secara panjang, wanita dalam pandanganku adalah lawan dari kata pria dan dia memiliki anatomi tubuh yang berbeda dengan pria, dari segi sifat dan juga tingkat tempramen wanita juga berbeda dengan pria, wanita adalah pasangan untuk pria dan pelengkap hidup seorang lelaki, tanpa adanya wanita tidak akan ada yang disebut ibu, tanpa adanya wanita tak ada yang namanya saudara perempuan, tanpa a-"
"Sudah, cukup aku mengerti sekarang dari sudut pandang agama yang Hamdi-san anut" ucap Amira yang sudah mulai capek mencatat jawaban Hamdi yang meng global dan juga aneh menurutnya, ya iyalah aneh, semua orang juga tau jawaban yang terlalu logis itu.
"Dalam sudut pandang agama yang aku anut, wanita adalah pelengkap dari pasangannya, Penyempurna dari seorang Pria dan cerminan seorang Pria, lalu anak adalah berkah atau Rezeki dari tuhan, seorang wanita yang telah bersuami dikatakan sebagai pakaian dari suaminya dengan kata lain, jika seorang wanita bertelanjang di hadapan masyarakan, sama saja dengan menelanjangi suaminya" jawab Hamdi dengan santai, tanpa ia sadari apa yang ia ucapkan benar benar membuat para perempuan disana berpikir, agama macam apa yang Hamdi anut, yah wajar lah ilmu Hamdi kan masih cetek masih seujung kuku, jadi ia akan mengalami kesulitan untuk menyampaikan isi agamanya pada orang lain.
"Wow sesuatu banget, anu pertanyaan terakhir, kamu suka perempuan yang bagaimana?" tanya Amira pada Hamdi yang sejak tadi kelihatannya tidak sabar ingin segera duduk.
"Untuk perempuan aku tidak pilih pilih, asalkan ia mencintaiku, lalu aku mencintainya, ahklaknya baik, budi pekertinya baik, lalu hormat pada orang tuanya, aku sih respect aja, biar bagaimanapun rupanya jika dia mau menghabiskan waktu bersamaku aku tidak masalah memilihnya" jawab Hamdi, yah jomblo sejak SD enggak pernah pacaran, status pelajar kaku, dibenci perempuan karena em entahlah dirinya sendiri tidak tau.
Semua yang ada disana hanya diam mendengar jawaban Hamdi, jujur ini, aneh karena biasanya semua orang bakal pilih pilih soal pasangan hidup dia malah masa bodoh, What The Hell.
"Apa masih ada yang ingin bertanya?"
Tiba tiba seorang lelaki berambut coklat gaya rambut hampir mirip Sasuke, yah namanya Hyoudou Issei, mengangkat tangannya
"Ada apa Hyoudou-san?" tanya sang guru.
"Saya ingin bertanya"
"Silahkan"
'Aduh kapan aku bisa duduk njir' umpat hati Hamdi, yah nambah lagi deh dosa nih anak, malaikat Roqib dan Atid pun mencatat dosa Hamdi.
"Kalau ada banyak wanita yang mengatakan mereka mencintaimu, apa kau akan membuat harem?" tanya Issei, semua orang yang mengenal Issei hanya menghela nafas karena ujung ujungnya pasti pertanyaan bocah mesum ke masalah harem.
Hamdi nampak berpikir, ia tidak mau salah menjawab dan akhirnya hanya mengatakan.
"Aku hanya pilih satu yang terbaik, karrena aku tidak sanggup untuk membagi kasih sayangku pada banyak wanita" jawab Hamdi sambil tersenyum manis ke arah Issei, meskipun sebenarnya ia ingin menangis, karena ia sama sekali tidak pernah dicintai perempuan.
"Baiklah aku mengerti sekarang kita ke arah pertanyaan yang lebih serius" ucap Issei dengan wajah meyakinkan, semua orang terkejut akan tampang serius Issei, bahkan Hamdi pun sedikit terkejut melihat Issei serius, karena setaunya Issei ini tidak pernah serius dalam bertanya dan selalu mengarah ke hal mesum.
"Apa itu Issei-san?" tanya Hamdi dengan panangan berharap kalau pertanyaan Issei sangat normal untuk saat ini, atau sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan perempuan.
"Hamdi-san kamu lebih suka gadis atau perawan, lalu kamu suka Oppai gede atau kecil?!" tanya Issei dengan serius, hancur sudah semua harapan Hamdi kalau Issei akan menanyakan sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya dengan wanita, karena nyatanya pertanyaan masih pada masalah perempuan. {Gubrak} semua murid langsung terjungkal mendengar pertanyaan Issei kecuali kedua sahabat Issei yang mengacukangkan jempol mereka sambil memasang wajah bangga, sedangkan guru yang mengajar hanya mengedutkan matanya berkali kali.
"Astagafirulah Al azim(Maaf kalau tulisannya salah), Issei pertanyaanmu terlalu sulit untukku, lagi pula aku tidak punya pengalaman soal wanita" jawab Hamdi sambil menahan kekesalannya karena telah gagal memahami Issei. "Tapi kalau untuk ukuran, aku lebih suka, tidak pilih plih, asal dia cinta padaku dan dia jodohku maka itu sudah cukup" jawab Hamdi kali ini ia merasa dicambuk oleh malaikat sebanyak ratusan kali karena mau menjawab pertanyaan Vulglar dari Issei.
'Ya Allah, tolong jangan uji hambamu ini melebihi batas kemampuanku karena ini hanya dunia anime' batin Hamdi sambil menangis dalam hati.
"Jadi kamu tidak masalah kalau dapat perempuan ber dada keci?!" sekarang Matsuda yang bertanya.
"Masya Allah, saya hanya yakin kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam masalah itu, jika dia memang jodohku untuk apa aku menolak, bahkan jika dia buta sekalipun" jawab Hamdi sok yakin padahal dalam hati ia berdoa kepada Allah Ta'ala supaya tidak dikabulkan deklarasinya tadi, ya walau bagaimanapun ia laki laki normal pasti mendambakan istri yang cantik.
"Benarkah, kalau begitu, antara Rias Gremory dengan Sona Sitri kamu mau pilih yang mana?" tanya Motohama.
"Bodoh dia itu murid baru mana kenal dengan mereka bedua!" teriak Issei pada Motohama.
"Ah benar juga aku minta maaf" ucap Motohama, sedangkan Hamdi hanya mengedutkan matanya, karena ia sudah pegal berdiri akhirnya memilih duduk di lantai.
"Bu guru, bukannya aku tidak ingin menjawab pertanyaan mereka, tapi aku sudah capek berdiri, aku ingin cepat cepat duduk dan belajar jadi bisa tunjukan dimana aku harus duduk" pinta Hamdi dengan sangat sangat memohon.
"Oh kalau begitu silahkan duduk di kursi yang masih kosong" ucap sang guru, aku pun mengangguk dan pergi ke kursi yang ada yang ternyata aku duduk di belakang Issei.
Waktu Pulang Sekolah kemudian.
Muhammad Rofi'ie Hamdi Side.
Disaat pulang sekolah semua orang sibuk bergegas untuk pulang, aku malah mencari tempat kerja paruh waktu, untuk mencukupi uang belanjaku, benar benar menyusahkan, tapi aku mulai mengerti bagaimana rasanya hidup sendiri dan mencoba mandiri.
Setelah sekian banyak tempat yang aku kunjungi ternyata ada satu tempat yang menerima aku bekerja, namanya Leviathan Cafe, aneh memang karena namanya itu mengambil salah satu nama raja iblis di dunia ini namun aku tidak peduli, yang penting bisa kerja dan dapat uang soal gaji yang didapatkan itu adalah hal belakangan yang penting bisa makan dan bayar biaya sekolah atau SPP, aku mulai bekerja sebagai pelayan Cafe atau Bulter.
Author Side.
Setelah mendapatkan pekerjaan Hamdi pun berusaha bekerja dengan baik, dengan tubuhnya yang agak pendek dibandingkan yang lain namun masih ukuran standar pegawai disana ia pun mendatangi para pelanggan dan menanyai pesanan mereka, awalnya Hamdi merasa gugup namun setelah berinteraksi dengan baik, Hamdi merasa cukup menikmati pekerjaannya, banyak pelanggan yang terhibur oleh Hamdi, yah meskipun mereka terhibur karena menertawakan tubuh Hamdi yang lebih pendek dari mereka, tapi Rofi'ie enggak marah dan hanya tersenyum manis menanggapinya.
"Tolong Omelet Rice nya yah" ucap salah seorang pelanggan pada Hamdi.
"Yah akan saya sampaikan pesanan anda tamu terhormat" ucap Hamdi sambil membungkok hormat dan pergi kedapur dengan cepat lalu mengantarkan pesanannya.
"Ini pesanan anda, apa perlu saya hiasi?" tanya Hamdi sambil tersenyum.
"Wah terimakasih, kalau tidak keberatan silahkan saja, aku malah tambah senang" ucap pelanggan itu, Hamdi hanya tersenyum melihatnya, Hamdi memang payah dalam menggambar, namun jika merangkai kata kata beda, maka dari itu, ia menuangkan saus tomat itu di omelet Rice itu dengan pelan dan membentuk sebuah love dengan tulisan. ^Semoga anda Bahagia, Anata ga shiawase ni nareba ī, I Hope Your Are Happy^, setelah menulis kata dari tiga bahasa yang memiliki arti sama Hamdi hanya tersenyum.
"Maaf saya tidak pandai menggambar, jadi saya hanya menggunakan kata kata untuk memperindah suasana hati anda yang kelihatan buruk dan maaf saya belum bisa menggunakan huruf Kanji dan Hirigana jadi saya pilih menggunakan Romanji" ucap Hamdi lalu membungkok hormat tanda terimakasih mau datang dan pergi.
Gadis yang merupakan pelanggan pertama Cafe itu tersenyum mendapatkan pelayanan dari Hamdi. "Sungguh remaja dengan pola fikir unik" gumamnya lalu meminum tehnya.
"Hm udah waktunya Solat Magrib, kelihatannya aku harus segera mengerjakannya tapi pelanggan masih banyak dan ini hari pertama kerja bisa bisa aku kena marah bos kalau lalai, tapi kalau aku lalai dalam urusan agama maka Neraka menimpaku, haaah, aku benar benar disudutkan dengan dua pilihan sulit" gumam Hamdi lalu pergi menemui bosnya berhadap dapat ijin untuk melakukan ibadah umat muslim itu.
Di kantor meneger Cafe.
"Ada apa Hamdi-kun?" tanya seorang perempuan berambut hitam panjang dengan mata Violet dan tentu saja Oppai gede.
"Anu mengejer-san , aku ada urusan Agama, ini merupakan ibadah wajib, jadi aku harus mengerjakannya, ini sebentar saja kok tidak lama, setelah itu aku akan kembali kerja" jawab Hamdi meminta ijin pada Menejernya di hari pertama kerja, ia sebenarnya kurang yakin akan diberikan ijin namun ternyata.
"Hm kau patuh sekali pada agamamu, baiklah aku ijinkan, tapi janji yah cuman sebentar" ucap Meneger tersebut.
"Insya Allah aku hanya sebntar, lagi pula aku hanya membaca beberapa surah pendek dan melakukannya sebanyak 3 raka'at" jawab Hamdi dengan senyumnya.
'Entah kenapa tubuhku jadi sedikit terasa panas ketika ia menyebut nama All au, sialan, aku tidak bisa menyebut namanya, inikah kekuatan tuhan yang disebut bocah itu' batin Meneger Cafe tersebut, namanya adalah Seafall Leviatan, yah dia seorang iblis, tubuhnya terasa terbakar ketika Hamdi menyebut nama tuhan yang disembahnya.
Setelah selesai Solat Hamdi langsung kembali bekerja.
Hamdi pun melakukan semua pekerjaannya dengan baik, ia bahkan sanggup melayani lebih dari sepuluh pelanggan seorang diri, dengan semangat kerjat tinggi, Hamdi tanpa sadar Hamdi telah menjadi panutan bagi seluruh pegawai disana.
"Yos! Sekarang udah waktunya pulang" seru Hamdi.
"Rofi'ie-san tunggu!" seru sang meneger.
"Ada apa Maneger?" tanya Hamdi dengan tenang.
"Ini gaji mukamu, yah anggap aja sebagai gaji awal agar kau semangat bekerja untuk sebulan kedepan" sahut Maneger sambil memberikan satu kantong uang, Hamdi pun memeriksanya dan isinya adalah uang sebesar 30 Yen.
"Terimakasih Maneger" sahut Hamdi yang langsung pergi sambil melambaikan tangannya, lalu Hamdi pun berjalan menuju jalan pulang, hari sudah gelap 1 jam lagi maka sampai waktu Solat Isya (Kalau tulisannya salah aku minta maaf).
Di sebuah supermarket.
Hamdi singgah disana untuk membeli beberapa bahan makanan, seperti tempe tahu dan beberapa bumbu dapur serta beras pastinya.
"Waduh tinggal 30 menit lagi" gumam Hamdi yang langsung berlari secepatnya dan saat sampai dirumah Hamdi menatap jam tangannya ternyata masih ada waktu 3 menit, dengan cepat Hamdi masuk ke rumah dan mulai berwudu, dilanjukan mengenakan pakaian yang bersih, lalu kompas penunjuk arah Kiblat dan akhirnya ia menunggu waktu yang tepat, sambil membaca beberapa surah pendek, dan ketika sampai, ia pun azan meskipun ia tau hanya ia yang Solat disana namun apa salahnya kalau ia mau Azan di rumahnya.
Setelah selesai Hamdi langsung melanjutkan kegiatannya dengan Solat, ketika sudah melakukan Solat 4 raka'at, ia pun berdo'a kepada Allah agar dimudahkan jalan hidupnya di dunia baru yang penuh kegilaan yang tak bisa ditebak ini, setelah selesai, Hamdi pun langsung mengambil barang barang yang ia beli dan memasaknya dengan santai, seperti apapun rasa masakannya tidak masalah, karena hanya dia yang makan, yang penting Halal, dengan bumbu bumbu dapur seder hana, Hamdi berusaha untuk memasak makanan enak untuk dirinya sendiri, lalu menghitung sisa uangnya yang hanya tersisa 19 Yen.
"Haaah, semoga besok Rezeki ku dilancarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, amin" Do'a Hamdi dalam bahasa indo, yah wajar ia tidak terlalu hapal Do'a dalam bahasa aslinya jadi ia hanya menghapal artinya saja.
Hamdi pun membuka buku Fiqih dan mempelajari beberapa isi dari buku itu, Hamdi nampak tersenyum karena ia melihat isinya, meski tidak ada orang islam kalau ada bukunya setidaknya ia bisa mengerti isi dari ajaran agamanya, lalu ia mempelajari buku buku agama lain di tempatnya, ia membuka Iqro yang ada lalu mengaji seorang diri, meskipun sebenarnya agak sulit karena tidak ada guru yang mengoreksi kesalahannya dan menuntunnya, kadang kadang ia buka Google Transilte untuk mengetahui cara baca dari huruf huruf yang ada di bukunya, yah dengan guru bah Google dan keyakinan tingkat tinggi ia pun mencoba mengaji dengan segenap hati dan sekarang udah Iqro 6 tapi yah ia masih ragu apakah bacaannya benar, ya karena Google cuman kasih tau bacaannya ia belum tau cara membacanya panjang pendeknya dan lain sebagainya.
Berikutnya ia mencoba Alqur'an di jus pertama, ia mengaji hingga malam, lalu ketiduran, ya mau gimana lagi, enggak ada siapapun dirumah kecuali dia sendiri, tidak ada yang mengaturnya, tidak ada yang bisa mengajarinya dan ia benar benar ingin pulang lalu menangis minta maaf karena telah menyia nyiakan kasih sayang orang tuanya, namun ia sadar si Horlog atau siapapun yang terlibat dalam proyek ini ingin ia berada di dunia ini sampai alat mereka benar benar aman untuk digunakan.
Pagi hari kemudian.
Hamdi terbangun, jam di tangannya menunjukan pukul 04:58, dengan cepat Hamdi mandi lalu berwudu dan menyiapkan sejadah, ia bersiap untuk solat subuh, dengan niat dalam hati yang menggunakan bahasa indonesia, karena ia masih belum hapal niat solat dalam bahasa arab.
'Sahaja ku solat subuh 2 raka'at fardhu karna Allah Ta'ala'
"Audzubillah himinasyaitonirrajim Bismillaahi rahmaani rahiim (maaf kalau tulisannya salah)" Doa Al-fatihah pun dilancarkan dari mulut Hamdi, lalu di iringi surah surah pendek yang ia hapal, meskipun sedikit setidaknya ada beberapa Do'a yang sudah ia hafal, ketika sudah Solat ia dengan semangat memasak dan melakukan sesuatu, lalu saat makan kemudian.
"Sebelum makan lebih baik do'a dulu" gumam Hamdi, lalu menadahkan tangannya ke arah di antara dada dan perutnya, lalu menghela nafasnya dan berdo'a.
"Bismillaahi rahmaani rahiim"
"Allah huma baarik llanaa Fiima razaqtanaa waqinaa Azaa ban-naar" lalu setelah itu Hamdi mengucapkan kata amin dan mengusap wajahnya dengan tangannya dan dilanjutkan dengan makan enak setelah selesai.
"Alhamdulillah kenyang" gumam Hamdi lalu mencuci tangannya dan menadahkannya ke atas lalu berdo'a.
"Bismillaahi rahmaani rahiim"
"Alhamdu lillahhil-ladzi ath-amanaa wa saqaana waja'alanaa muslimiin" Hamdi berdo'a dan mengucapkan kata amin, ia pun langsung melakukan aktifitasnya seperti menggosok gigi lalu bersiap dengan seragam sekolah ia kembali berangkat, sedingin apapun cuaca paginya Hamdi sama sekali tidak terganggu ia tetap tidak menggunakan Blazernya, lalu lari pagi menuju ke sekolahnya, dengan membawa bekal sederhana, seperti sebotol air putih, satu kotak nasi dengan lauk tempe tahu dan beberapa sayuran pastinya.
Sesampainya di sekolah.
Hamdi bertemu dengan Matsuda dan Motohama, sekarang mereka bertiga berjalan beriringan, yah Matsuda dan Motohama bisa dikatakan sohib Hamdi sekarang, yah meskipun mereka mesum Hamdi enggak ikut ikutan.
"Yo Matsuda Motohama selamat pagi" ucap Hamdi sambil melambai ke arah mereka.
"Ah, Rofi'ie-san selamat pagi" sapa mereka.
"Gimana kabar kalian?" tanya Hamdi dengan tampang membosankan seperti biasa.
"Hoy hoy kalau kau memasang wajah seperti itu mana ada perempuan yang mau denganmu" ucap Matsuda pada Hamdi yang sejak tadi emang dari dulu ekspresi delpaud yang ia miliki.
"Aku merasa terhina sekali dikatai oleh orang yang memasang banyak ekspresi namun masih jomblo hingga sekarang" jawab Hamdi dengan nada datar dan hali itu sukses membuat Matsuda dan Motohama terpukul.
{Doooong}
"Hamdi-san tolong jangan katakan lagi, hal itu benar benar menyakitkan" jawab Motohama dan Matsuda sambil memegang dada mereka yang sakit, sedangkan Hamdi hanya diam melihat mereka lagian siapa duluan yang menyakiti, ia kan hanya membalas.
"Matsuda, Motohama dari pada membahas wanita atau perempuan dan sejenisnya bisa kita bahas yang lain, seperti mana Issei biasakan ia terus bersama dengan kalian?" tanya Hamdi sambil celingak celinguk dipagi hari.
"Mah aku jamin sebentar lagi dia datang" jawab Motohama sambil membenarkan kacamatanya.
"Em, ini sudah biasa kok" tambah pria botak yang bernama Matsuda.
Beberapa saat kemudian mereka bertiga berjalan bersama ke sekolah.
Benar saja tak lama setelah itu Issei muncul namun ada ke anehan karena ia berjalan bersama perempuan cantik dengan seragam sekolah berbeda.
"Ap-Apa?!" ucap tak percaya Matsuda dengan wajah horor, bersama dengan Motohamaa yang menganga tak percaya apa yang mereka lihat.
"Kenapa?" Motohama mengucapkan kalimat dengan nada tak percaya ketika menatap ke arah belakang dimana Issei muncul.
"Oh Issei-san, Selamat pagi" sapa Hamdi, ia tidak peduli dengan Issei yang sudah dapat pacar, toh Hamdi udah tau kalau Issei bakalan dibunuh saat kencan pertama, yang artinya tuh pacar adalah seorang penghianat.
"Yo Hamdi-san, Selamat pagi juga!" sapa Issei mendekat lalu memperkenalkan pacarnya.
"Perkenalkan dia Amano Yuuma-chan" ucap Issei sambil menunjuk pacarnya lalu ke arah Hamdi, Matsuda dan Motohama lalu memperkenalkan mereka pada pacarnya. "Mereka adalah teman temanku, Matsuda, Motohama dan Muhammad Rofi'ie Hamdi" ucap Issei memperkenalkan ketiga temannya.
"Eh, Sengang bertemu kalian" ucap Yuma sambil tersenyum ke arah Matsuda, Motohama dan juga Hamdi.
"Ah salam kenal" sahut Hamdi dengan nada datar dan muka malas andalannya.
Lalu Issei menyentuh bahu Matsuda dan membisikan sebuah beberapa kata.
"Dan dia.. adalah, Pa-car-ku"
"Waaaaaaaarrrrk"
"Kalian cepat cari pacar juga sana!" ucap Issei dengan nada ceria atau bisa dibilang terdengar menghina di telinga Hamdi.
"Astaghfirullah hal adzim, Issei maaf saya tidak bisa pacaran karena pacara adalah tindakan yang mendekati zina, zina adalah sesuatu yang sangat keji karena kau bisa menghamili wanita itu, Taubat Issei taubatlah Isthigfar!" ucap Hamdi sambil mengguncang tubuh Issei pada saat itu.
"Aow aow awoa awaoawaawaawwawawa, Woy!" ucap Issei yang tidak tahan tubuhnya diguncang oleh Hamdi. "Aku tidak semesum itu kampret!" teriak Issei tidak terima di kata katai Hamdi begitu.
"Yuuma-san, kau harus menjaga kelakuan Issei kenapa karena ia bisa saja dia selingkuh dengan gadis yang lebih cantik" ucap Hamdi seolah ingin memisahan kedua Insan itu.
"Ah apa yang dikatakan oleh Rofi'ie-san itu benar dia besa saja selingkuh" tambah Matsuda dan Motohama.
'Mooo Yamero, Yuuma-chan ayo kita pergi sekarang" ucap Issei menarik Yuma menjauh dari Hamdi dan dua sahabatnya itu.
"Cih dasar penghianat!" teriak Matsuda dan Motohama sambil menangis.
"Sudah sudah, aku jamin Issei pasti bakalan putus dengan pacarnya kurang dari beberapa minggu lagi" ucap Hamdi sambil berjalan meninggalkan Matsuda dan Motohama.
"Hoy bagaimana kau bisa seyakin itu?" tanya mereka.
"Hn Syaaah, siapa tau, kan orang orang mesum seperti kalian sangat mustahil bisa mempertahankan hubungan dengan pacar" hina Hamdi disela jawabannya.
"Guag! Ucapanmu benar benar menusuk ke hati" ucap mereka.
"Sudahlah nanti kita terlambat lagi" ucap Hamdi pada saat itu, Matsuda dan Motohama pun hanya mengikuti dari belakang.
Sesampainya di gerbang sekolah.
Terlihat Hamdi, Matsuda dan Motohama hanya mematung di depan gerbang, alasannya karena mereka sekarang terlambat dan yang paling sialnya ada sekelompok siswa siswi menatap tajam mereka bertiga, dengan wajah datar dan juga penuh intimidasi, Hamdi mencoba untuk tersenyum meskipun itu sulit, Matsuda dan Motohama menelan ludah dengan sulit dan bersembunyi di belakang Hamdi.
"E eto, em Apa kabar kalian?" tanya Hamdi dengan wajah sedikit berkeringat.
"Muhammad Rofi'ie Hamdi!" panggil seorang gadis berkacamata dengan rambut pendek berdada kecil, yang kita tau namanya adalah Sona Sitri.
"Aku disini ada apa yah?" sahut Hamdi sambil tersenyum, para anggota OSIS terlihat marah pada Hamdi, namun Hamdi tenang tenang saja tapi dalam hati ia ingin sekali mengumpat macam macam karena sekarang nyawanya berada di ujung tanduk.
"Hoy Hamdi, dia itu ketua OSIS yang paling disegani dan ditakuti disini sopanlah sedikit" ucap Matsuda memperingati Hamdi.
"Kalau tidak kita akan kena masalah" tambah Motohama.
"Heh untuk apa aku takut pada gadis papan cucian bermata empat, aku hanya takut dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala" jawab Hamdi dengan tegas dan tanpa ragu, namun sebenarnya dalam hati ia begitu merutuki kesialannya hari ini.
"Tapi dia benar benar menakutkan" ucap Motohama.
Terlihat aura gadis berambut hitam pendek bermata violet berlapiskan kacamata bulat itu mengeluarkan aura menakutkan, seluruh anggota OSIS langsung mundur ketakutan, gadis itu bereaksi seperti itu karena ia mendengar hinaan dari Hamdi.
"Hoooh, baru saja jadi murid disini sudah berani terlambat, ditambah lagi kau juga berani sekali menghina diriku, hoooh kau punya nyali juga" ucap sang ketua OSIS sambil menatap Hamdi dengan mata memercing.
"Ka kaichou" gumam para anggota OSIS melihat ketua mereka yang berubah sangar
'Aku rasa sudah terlambat untuk minta maaf kepadanya namun memang benar aku tidak takut dengannya, meskipun dia bangsa iblis terkuat sekalipun, aku ini manusia, mahluk yang diciptakan dengan derajat yang lebih tinggi dari pada malaikat, jadi untuk apa aku takut kalau hanya pada Iblis' batin Hamdi, ia mencoba untuk menekan rasa takutnya.
"Tentu saja aku punya nyali dan niat Kaichou, kalau tidak aku tidak akan sampai di tempat ini bersama mereka berdua, aku juga tidak takut padamu, aku hanya menghormati posisimu sebagai ketua OSIS jadi aku akan melaksanakan hukumanku sekarang juga, Insya Allah aku akan melakukannya tanpa protes karena ini seratus persen salahku" jawab Hamdi, tanpa Hamdi sadari saat ia menyebut asma Allah tadi Sona dan seluruh anggota OSIS meringis kesakitan telinga, namun mereka harus menahannya untuk menjaga Image rasa sakit yang luar biasa mereka rasakan pada saat itu.
"Ba baiklah, Rofi'ie-san kau dan temanmu boleh masuk kelas, namun istirahat nanti kalian harus membersihkan toilet yang kotor apa kalian mengerti?" Perintah sang ketua OSIS memberikan hukumannya.
"Sangat mengerti Kaichou" sahut Hamdi, Matsuda dan Motohama, ketika masuk kelas mereka menghela napas panjang, sambil mengumpt macam macam, sedangkan Hamdi hanya diam saja.
Waktu istirahat sekolah kemudian.
Hamdi, Matsuda dan Motohama pun melaksanakan hukuman mereka dengan di awasi oleh Saji Genshirou, seorang atau satu satunya lelaki di ke anggotaan OSIS dengan rambut pirangnya, dengan seenak dengkulnya memerintah kami, namun aku terus mengerjakan hukuman itu.
"Hoy Matsuda, kamu tau siapa ketua OSIS itu sebenarnya?" tanya Hamdi pada Matsuda, yah namanya murid pindahan dari luar jepang jelas enggak kenal sama siapapun, yah meskipun Hamdi tau kalau itu adalah Sona Sitri tapi kan aneh kalau ia langsung mengenalnya, jadi ia pura pura tidak kenal dulu.
"Ah, dia yang namanya Sona Sitri" jawab Matsuda.
"Oh jadi dia yang kemarin kamu ceritakan itu?"
"Yah begitulah" tambah Motohama.
"Lalu kalau Rias Gremory itu yang mana?" tanya Hamdi lagi.
"Entar aja, kita juga belum liat orangnya, tapi pokoknya ia punya Oppai gede sama rambut merah indah" jawab Motohama pada Hamdi.
'Astaghfirullah hal adzim, dasar dua mesum ini, yang aku bahas itu gimana orangnya yang di jawab malah Oppainya dasar' batin Hamdi mengumpat sendiri.
"Hoy kalian bertiga, jangan hanya ngobrol doang, cepat lanjutkan kerjaan kalian belum selesai dasar kurang ajar" teriak Saji pada mereka.
"Iya iya, ini juga lagi dibersihkan" balas Matsuda dan Motohama sedangkan Hamdi hanya diam dan mengerjakan.
Setelah urusan sudah selesai.
"Sekarang waktu istirahat tinggal 5 menit, haaah enaknya ngapain aja untuk menghabiskan waktu?" gumam tanya Hamdi entah pada siapa.
"Apa maksudmu, Hamdi-san, tentu saja kita akan mengintip para klub kendo" ucap Matsuda dan diberi jempol oleh Motohama.
"Aku rasa itu terserah kalian, aku ingin memakan bento milikku" jawab Hamdi sambil berlari ke kelas meninggalkan dua mesum yang masih bujangan itu.
Setelah mengambil kotak bekal dan botol air mineral di dalam tas kain miliknya dengan cepat Hamdi berlari menuju taman belakang sekolah menikmati pemandangan taman bunga yang dirawat oleh gadis gadis dari klub bunga.
Hamdi sekali lagi berdo'a sebagai orang Islam tentu saja ia harus berdo'a sebelum makan.
"Audzubillah himinasyaitonirrajim Bismillaahi rahmaani rahiim" ketika Hamdi berdo'a secara tidak sengaja Sona berada di taman belakang sekolah untuk mengecek kalau ada siswa siswi yang mencoba untuk membolos.
"Geh aaaaaarrrrrrrrrrgggggg! Apa ini panas sekali?" tanya Sona, ia merasakan tubuhnya seperti terbakar ketika mendengar do'a dari Hamdi ia tersungkur tubuhnya melemah.
"Allah huma baarik llanaa Fiima razaqtanaa waqinaa Azaa ban-naar" lalu setelah itu Hamdi mengucapkan kata amin dan mengusap wajahnya dengan tangannya dan akhirnya Hamdi pun memakan bekalnya dengan lahap menggunakan sebuah sendok yang juga ia bawa, sedangkan Sona tubuhnya semakin terasa panas ketika Hamdi melanjutkan do'anya insting Sona mengatakan untuk menjauhi tempat itu, namun ketika do'a makan Hamdi selesai, Sona tidak merasa kepanasan lagi, namun meski demikian tubuhnya masih bergetar dan terasa sangat panas.
Sona melawan keinginannya untuk lari dari sana, ia memaksakan diri untuk masuk kedalam taman belakang sekolah, dan saat ia masuk ia melihat Hamdi sedang dengan lahapnya memakan nasi dengan lauk tempe, tahu dan beberapa sayuran, ketika selesai Hamdi pun, minum.
"Alhamdulillah sekarang perutku sudah terisi kembali" gumam Hamdi, lalu sekarang ia ingin mengucapkan sebuah do'a ya do'a sesudah makan, ia memang tidak terlalu hapal Do'a setelah makan jadi sebelum membaca do'a ia buka Google dulu di Smartphone miliknya.
Sona yang melihat itu hanya diam ia kembali menatap jam tangannya dan akhirnya disana terlihat jam tangan Sona menunjuan waktu istirahat tinggal satu menit, ia pun berusaha menjalankan kewajibannya, mengingatkan seorang siswa kalau waktu istirahat sudah hampir selesai.
"Bismillaahi-"
{Brak} Sona rubuh, karena tak sanggup menahan getaran dari hantaman ayat suci, Hamdi yang menyadari suara benda jatuh langsung kaget dan menghentikan Do'a nya, lalu menatap kebelakang.
"Astaghfirullah hal adzim! Kaichou!" seru Hamdi yang kaget Sona terjatuh dan hampir pingsan di belakangnya dengan cepat Hamdi mendatangi Sona, ia bingung, apa yang harus ia lakukan, ia tidak bisa menyentuh Sona begitu saja, karena Sona bukan Muhrimnya, dengan ragu ragu Hamdi mendekati Sona.
"Hoy ka kau baik baik saja?" tanya Hamdi, dari nada sih kedengaran sedang Khawatir masalahnya dari ekspresinya yang sama sekali hampir tidak berubah.
"Em aku baik baik saja" jawab datar Sona yang mencoba untuk berdiri, tubuhnya melemah akibat menerima Do'a Do'a dari Hamdi.
"Kau kenapa sampai terjatuh?" tanya Hamdi mencoba untuk perhatian sedikit, namun meski demikian pandangan Hamdi menatap ke arah lain, Sona jadi bingung sendiri, pertama ia jatuh kalau lelaki lain pasti akan mengambil kesempatan untuk menyentuhnya, namun Hamdi tidak milih menghampiri dan bertanya, gelagatnya juga seperti ingin menolong namun ragu ragu, dan juga pandangan Hamdi tidak fokus ke arahnya, Sona nampak terlihat sedih sendiri.
'Sejelek itukah aku sampai dia tidak mau menatapku' batin Sona tak ada satu orang pun yang menatap Sona dari kalangan lelaki, kalaupun di tatap tatapan yang diberikan adalah tatapan yang berbeda dari tatapan para lelaki pada sahabatnya Rias yang selalu di beri tatapan kagum oleh para remaja lelaki.
"Tidak ada aku hanya kelelahan karena tugasku sebagai OSIS" jawab bohong Sona.
"Oh begitukah" ucap Hamdi sambil menatap wajah Sona namun tidak sampai saling tatap mata hanya pandangan kosong yang terlihat hanya untuk saling tatap muka dengan lawan bicara bukan untuk menatap wajah Sona. "Kenapa kau tidak memilih untuk beristirahat saja, aku tau tugasmu penting tapi, istirahat juga penting mengerti" tambah Hamdi, ia tidak merasa kalau Do'anya lah yang membuat Sona kesakitan.
"Em, tapi aku kesini hanya untuk mem"
"Sudah sana duduk di bangku taman, aku yakin kau sedang lelah" ucap Hamdi, seolah terhipnotis, Sona pun mau mengikuti dan duduk disana, Hamdi pun duduk disamping Sona.
"Kau tau, ber aktivitas disaat lelah itu bahaya, apa lagi kau itu seorang perempuan, kau bisa saja diperkosa seorang lelaki yang tak bertanggung jawab jika dalam keadaan selemah tadi, jadi istirahatlah sampai tenagamu penuh, aku akan menjagamu disini sampai kau pulih" ucap Hamdi pada saat itu, tanpa Hamdi sadari ternyata ucapannya membuat Sona sedikit tersipu.
"Oh sokah, Mu"
"Panggil saja Hamdi atau Rofi'ie" potong Hamdi dengan santai.
"Em, Rofi'ie-san bagaimana?" tanya Sona.
"Itu lebih baik" jawab Hamdi.
"Aku ingin bertanya padamu" pinta Sona.
"Silahkan apa yang ingin kau tanyakan"
"Pertama kenapa kau tidak mau menatapku secara langsung, apakah aku semenakutkan itu?" tanya Sona pada Hamdi.
"Oh itu hanya masalah kepercayaan yang saya anut saja" jawab Hamdi pada Sona sambil memandang pemandangan taman lalu meminum air minumnya. "Mau?" tawar Hamdi pada Sona, Sona hanya menggeleng melihat Hamdi menawarkan air minumnya.
"Kepercayaan, katakan kepercayaan macam apa yang membuatmu tidak mau menatap lawan bicaramu?" tanya Sona lagi.
"Anu Kai-"
"Tak usah menyebut jawabatanku Rofi'ie-san panggil saja nama yang aku miliki" balas Sona pada Hamdi.
"Kalau begitu siapa namamu?, aku saja baru bertemu denganmu kemarin" tanya dan jawab Hamdi.
"Sona, Sona Sitri" jawab Sona.
"Kalau begitu Sitri-san, agama yang saya anut tidak mengijinkan saya untuk melihat atau menatap bagian bagian tubuh yang disebut Aurat, atau bagian tubuh yang dilarang untuk dilihat" jawab Hamdi.
"Hah, maksudnya?" tanya Sona.
"Ehm Sitri-san mungkin kau akan menganggap aku aneh atau mesum, tapi aku harus mengucapkannya secara Vulglar agar kau bisa cepat mengerti" ucap Hamdi.
"Baiklah aku siap, mendengarkan kata kata Vulglar darimu" ucap Sona.
"Huf baiklah sekarang aku tanya, apa yang membuat lelaki memiliki nafsu kepada wanita dan bagian tubuh mana yang membuat lelaki tertarik?" tanya Hamdi pada Sona.
Sona pun memerahkan wajahnya, ia tentu saja susah menjawab pertanyaan itu, kalaupun ia tau jawabannya ia akan dianggap orang mesum.
"O, oppai, Va, Va"
"Sudah cukup, aku tidak tahan mendengarmu mengucapkannya, itu hanya hal umumnya saja, namun kamu tidak tau hal hal kecil yang membuat seorang lelaki tertarik dengan perempuan bukan" kali ini Hamdi menatap ke arah Sona.
"Em, kalau begitu apa itu?" tanya Sona.
"Ehm, lekuk tubuh, rambut, paha dan lain sebanyaknya, Sona, sebagai perempuan sebenarnya sangat banyak yang harus kau tutupi dari pandangan orang orang, kau juga tidak perlu percaya padaku karena, kepercayaan atau agama kita itu berbeda, aku hanya memberitahukan padamu tidak mengajak dirimu untuk menyembah tuhan yang sama" ucap Hamdi pada Sona.
"Maksud dari lekuk tubuh?" tanya Sona, ia jadi penasaran dengan kepercayaan yang di anut oleh Hamdi, ia bahkan lupa kalau tenaganya sudah pulih dan kalau mereka sedang bolos sekarang.
Hamdi hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu, ia sebenarnya ingin menjawab dengan menggunakan hadis, namun karena ia tidak hapal hadis jadi ia hanya menjawab dengan logika dan ingatan dari beberapa hal yang ia ingat dari pelajaran di sekolah sebelumnya.
"Begini, anu em, gimana menjelaskannya, pernah dengar kalimat yang menyatakan dia berpakaian namun seperti tidak berpakaian?" tanya Hamdi pada Sona, Hamdi juga menatap ke arah lawan bicaranya, namun ia membuang semua nafsunya, ia menatap ke arah Sona bukan karena tertarik namun hanya sebatas menghargai lawan bicara.
"Belum, emang apa lagi maksudnya itu?" tanya Sona pada Hamdi ia benar benar tidak mengerti dengan penjelasan yang terlalu berbelit belit.
"Lekuk tubuh adalah bentuk tubuh seseorang, gimana yah, em, gini, coba kamu pakai baju yang sangat ketat dengan warna putih lalu lihat kamu yang ada dicermin, apa ada bedanya dengan kamu saat telanjang, ada tapi sedikit sekali bukan bedanya, kalau para lelaki meliht seorang wanita mengenakan pakaian ketat sudah dipastikan ia akan memandang wanita itu dengan nafsu karena seblas dua belas dengan tidak pakai baju" jawab Hamdi panjang lebar.
Sona sedikit tersenyum mendengar penjelasan Hamdi tentang ilmu agama yang Hamdi miliki.
"Tapi Rofi'ie-san bukankah pakaianku tidak ketat ketat amat, dan juga ini aku rasa tidak menampakan lekuk tubuh" balas Sona, yah emang kalau di tubuh Sona enggak terlalu kelihatan lekuk tubuhnya, tapi bagaimana dengan yang lain.
Hamdi hanya tersenyum mendengar pernyataan Sona.
"Iyah memang tidak ketat, namun Roknya terlalu minim, aku tidak biasa melihat wanita ber rok mini, di tempatku dulu pakai rok panjang, lalu wanita atau perempuan hanya boleh memperlihatkan mahkota indahnya pada suaminya saja, itulah isi ajaran dari agamaku" jawab Hamdi sambil menunjuk rambut Sona.
"Mahkota?"
"Rambut"
"Eh"
"Rambutmu adalah mahkotamu" jawab Hamdi sambil tersenyum.
"Oh, kalau Aurat lelaki itu apa sama dengan perempuan?" tanya Sona pada Hamdi, ia semakin penasaran tentang agama yang baru ia dengar ini.
"Beda, kalau perempuan itu ia tidak boleh menampakan hampir seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan, tapi laki laki, hanya mulai dari pusat sampai lutut" jawab Hamdi pada Sona.
"Wah kalian jadi sedikit lebih bebas" ucap Sona, ia mulai menganggap agama yang di anut Hamdi hanya berpihak pada lelaki saja.
"Tidak juga, kami sebagai lelaki, dituntut untuk bisa bertanggung jawab dalam mencari nafkah keluarga dan juga tulang punggung keluarga, artinya seorang lelaki di tuntut untuk mencukupi kebutuhan anak dan istri, baik kebutuhan jasmani dan rohani, lalu seorang suami atau lelaki yang sudah menikah juga akan menanggung semua dosa yang dilakukan istrinya, seorang anak lelaki kalau sudah menikah, masih memiliki tanggung jawab pada orang tua, kalau perempuan tanggung jawabnya pada orang tua lepas namun tergantikan pada suami, artinya kau tidak akan berdosa jika tidak mengunjungi makam ibumu, tidak memberi uang pada ibumu, kau tidak akan berdosa, karena kau perempuan, namun jika aku maka aku akan berdosa, namun jika kau tidak tega, seorang istri harus meminta ijin pada suaminya untuk hal apapun bahkan untuk menolong orang tuanya sendiri, jika kau menuruti perkataan suamimu apapun itu maka kau akan masuk surga meskipun kau membangkang dengan orang tuamu, tapi itu adalah masalahnya, sebagai wanita aku jamin hanya ada beberapa saja yang sanggup melakukan itu" tambah Hamdi.
"Ternyata dibagi secara rata yah kesulitannya" ucap Sona.
"Tentu saja"
Sepulang sekolah kemudian.
Yah Sona dan Rofi'ie harus menerima hukuman dari masing masing guru karena telah berani bolos, namun itu bisa mereka kerjakan dengan mudah, sepulang sekolah kemudian, Sona masih berada di sekolah untuk mengerjakan sebagian pekrejaannya sedangkan Hamdi pergi ketempat ia bekerja sampingan, yah dia tidak ingin dipecat gara gara membolos kerja.
Sesampainya di Cafe tempat Hamdi bekerja.
"Menger maaf saya terlambat" ucap Hamdi dengan nafas yang agak terengah engah.
"Em, tak apa apa, yang penting kamu sudah datang dan sekarang cepat kerja" ucap sang Meneger pada Hamdi, dengan cepat Hamdi ke ruang ganti dan mengganti seragamnya dengan cepat.
Berikutnya Hamdi langsung berlari membawa nampan dan daptar menu untuk melayani pelanggan Cafe, tak lupa juga ia melakukan Solat ketika sudah waktunya dan melanjutkan kerjanya kembali ketika sudah selesai, sang meneger mengijinkan karena itu adalah urusan kepercayaan yang dipegang, lagi pula ia punya banyak pegawai dan selama Hamdi bekerja tidak ada kerugian apapun pada Cafenya yang ada Cafe nya jadi semakin ramai karena kehadiran Hamdi, yah cara nya bertutur sapa pada pelanggan terbilang cukup aneh namun karena itu pula banyak pelanggan yang tertarik datang lagi bahkan Meneger tidak perlu menggunakan sihirnya untuk menarik pelanggan lagi, berkat adanya Hamdi yang jadi pelayan iconing yang aktive dengan candaan garing yang membuat beberapa pelanggan tertawa.
Terutama seorang wanita yang pernah menjadi pelanggan pertama Hamdi, ia datang lagi dan memasang senyum ke arah Hamdi.
"Okairi nasai ojou-sama, mari kesini" ucap Hamdi menuntun sang perempuan ke kursinya, ternyata dia tidak sendirian melainkan dengan teman temannya, saat mereka duduk, Hamdi kembali bertanya.
"Oke, kalian para putri sepertinya sedang lapar dan haus, katakan kalian ingin makan apa?" tanya Hamdi dengan sopan tentunya dan juga logat indonesanya yang terdengar santai.
Gadis itu tersenyum dan berkata.
"Untuk hal itu saya hanya menyerahkannya kepada anda"
"Oh, kalau begitu bagaimana dengan kalian?" tanya Hamdi dengan nada hormat.
"Em kami hanya ikut dengan teman kami" jawab mereka.
"Kalau begitu menu special hari ini adalah Moe moe puding dengan just melon bertoping Vanila" ucap Hamdi lalu langsung pergi mengantarkan pesanan mereka.
Setelah selesai kerja.
Hamdi kembali memakai seragam sekolahnya dan kembali pulang ke rumah, disana ia mulai melanjutkan kegiatan Solat lima waktu sekarang ada waktu Isya, setelah itu ia makan dan setelah makan ia membuka laptop dan menulis lanjutan cerita New Power in New World.
"Sekarang Words nya udah cukup panjang namun masih kurang untuk dikirim sebaiknya aku kembali tidur" gumam Hamdi lalu membuat Laptopnya dalam mode Hibernasi.
Ke esokan harinya di atap sekolah.
Sekarang Hamdi melakukan kegiatan makannya di atap sekolah, yah setelah sudah selesai berdo'a ia langsun menghabiskan makanannya, setelah selesai makan ia pun kembali berdoa, lalu menatap waktu Istirahat yang masih cukup lama Hamdi pun memutuskan untuk, menghabiskan waktu dengan membaca pdf Akidah Akhlak yang baru saja ia download.
Tak lama kemudian.
Tiba tiba pintu menuju atap gedung sekolah terbuka dan memperlihatkan seorang gadis cantik berambut hitam pendek dengan mata violet di balut kacamata ia adalah Sona Sitri dan dipanggil Souna Shitori, karena pengejaan jepang, sedangkan Hamdi menjadi Hamudi dalam pengejaan jepang.
"Rofi'ie-san apa yang kau lakukan disini?" tanya Sona.
"Ah Sitri-san aku hanya sedang membaca buku Akidah Akhlak bab masalah Husnuzan" jawab Hamdi.
"Husunuzan?" tanya Sona.
"Husnuzan desu"
"Oh emangnya apa itu?" tanya Sona.
"Prasangka baik" jawab Hamdi.
"Maksudnya?" tanya Sona lagi
"Gini gimana perasaan kamu ketika melihat pacarmu atau orang yang katanya cinta padamu jalan dengan perempuan lain?" tanya Hamdi.
"Tentu saja, marah karena ia sudah berani selingkuh dariku" jawab Sona
"Nah itu dia, itu namanya Su'udzon atau berprasangka buruk, kan bisa aja mereka adalah teman atau teman yang udah lama berpisah, jadi kamu harus berpikiran baik dulu atau Husnuzan jika belum ada bukti, Su'udzon hanya diperbolehkan kalau kamu punya bukti kuat, Su'udzon hanya akan membuatmu sulit mempercayai orang lain, kalau kamu terus berprasangka baik pada kegiatan orang orang, kamu tidak akan di jauhi, semua orang tidak marah, hubunganmu dengan masyarakat luas kan berjalan sangat baik" jawab Hamdi sambil membaca PDF yang ada di hpnya.
Sona cukup tertarik dengan ajaran yang Hamdi anut namun ia adalah bangsa Iblis dari Injil jadi ia ragu kalau ia bisa menganut suatu agama meskipun ia sangat ingin statusnya sebagai mahluk kotor dan berdosa mungkin tidak akan mengijinkannya, namun entah kenapa ia terus bertanya seolah ia sangat ingin mempelajari ilmu Islam lebih dalam lagi.
"Tapi bukannya buktinya sudah cukup?" tanya Sona pada Hamdi sambil duduk di samping Hamdi, Hamdi pun mengambil jarak dari Sona.
"Tapi tetap saja kita tidak boleh berprasangka buruk, karena itu akan membuat keretakan dalam hubunganmu, bisa saja dia benar benar selingkuh karena tidak tahan dituduh selingkuh, karena sebagaian lelaki itu bisa seperti itu, pikiran mereka bisa seperti ini, dari pada aku tidak selingkuh tapi dituduh lebih baik aku selingkuh aja sekalian" jawab Hamdi.
Sona terlihat menahan tawa ketika mendengar Logika Hamdi, memang tidak bisa dipungkiri kalau ucapan Hamdi itu masuk akal.
"Ne ne, apa dalam agama milikmu memiliki pengetahuan tentang mahluk supranatural?" tanya Sona pada Hamdi.
"Oh kalau itu sudah menjadi hal wajib dalam setiap agama bukan, jadi sudah pasti ada" jawab Hamdi.
"Kalau begitu apa saja?" tanya Sona.
"Malaikat, Iblis, Jin dan Setan" jawab Hamdi.
"Em divinisinya apa saja?" tanya Sona.
"Malaikat adalah sebuah mahluk yang diciptakan oleh Allah Subahanahu wa Ta'ala dari cahaya, tanpa nafsu jadi yang ia kerjakan hanyalah perintah dari Allah semata, sedangkan Iblis terbuat dari api, jin dari nyala api, setan dari panas api, Iblis dulu juga malaikat namanya awalnya bukan iblis namun Azzazil, ia di anggap durhaka ketika ia menolak sujud pada nabi Adam Alaihi salam(Kalau salah aku minta maaf), ia dianggap hina dan langsung dirubah namanya menjadi Iblis dan dilempar ke neraka, Iblis yang tidak terima ia langsung bersumpah untuk menyesatkan anak cucu adam nantinya" jawab Hamdi sambil meminum air minumnya.
"Oh bagaimana dengan Jin dan Setan tadi kamu hanya menjawab Malaikat dan Iblis?" ucap Sona.
"Oh kalau itu" {Brak!}
"Hamdi-san gawat!" teriak Matsuda sambil membuka keras pintu atap gedung sekolah, Sona dan Hamdi pun menatap ke arah suara.
"Apanya yang gawat Matsuda?!" tanya Hamdi pada saat itu, Sona juga ikut berdiri, ia tidak ingin sesuatu yang membahayakan terjadi pada sekolah.
"Is Issei"
"Ada apa dengan Issei?" tanya Hamdi lagi kali ini ia terlihat panik, sedangkan Sona memasang wajah curiga pada dua mesum di hadapannya.
"Dia menerima telphon dari pacarnya" jawab Motohama {Plak} dengan cepat Hamdi menyentuh dahinya sendiri, karena ia sempat Su'udzan, sedangkan Sona hanya menghela nafas.
"Astaghfirullah hal adzim" gumam pelan Hamdi, lagi lagi Sona langsung merasa nyeri di dadanya ketika Hamdi menyebut kalimat istighfar dari agama Islam itu.
"Eh apa tadi Hamudi-san?" tanya Mtohama, mereka tidak mengerti maksud Hamdi.
"Istighfar Istighfar, kalian tidak usah terlalu iri pada Issei, Jodoh tidak akan kemana, aku do'a kan agar kalian bisa cepat dapat jodoh" ucap Hamdi pada saat itu, ia benar benar pusing akan tingkah teman temannya, sedangkan Sona ia hanya nampak kesal karena ia gagal mendapatkan informasi penting dari Hamdi, yah setidaknya ia telah mencatat beberapa.
"Rofi'ie-san aku pergi dulu semoga hari harimu menyenangkan" ucap Sona lalu pergi meninggalkan Hamdi, Matsuda dan Motohama.
Bersambung.
Oh iya aku dan Azainagamasa53 itu bukan orang yang sama, hanya saja kami adalah teman dekat, jadi tolong jangan kasih tau soal Fic ini sama dia yah.
