Azzahradafi : Iya mereka emang lucu bgt. Hihi Sasori kan emang gitu klo ketemu cewe :v

law vert: Ini udah dilanjut. Makasih, iya entah kenapa pengen banget bikin mereka sibling. :v kerasa ngegemisin gitu

SHL7810: mau ga mau dia emang harus beltahan kok. Cemungut cemungut ea Sasoli :v

Arum Junnie: itachi dari dulu emang ngeselin. Tapi dia paling bisa deh bikin orang jatuh cinta. Liat aja tuh hasil kelakuan dia yang ngeselin. Sampe Ino punya dede kembar gitu. :v

Bayangan semu: Aaaaa bayangan semu kamu bikin aku blushing nih. Giginya bolong bolong manis manja kok. XD Sasori pake apaan? Haha saya engga bayangin apa apa pas bikinnya sumpeh :'v

YOktf: Ini udah dilanjut. Dibaca yah :v

Nakashima Miyako: Ini udahh dilanjuuuut *cium cium manja*

Nikechaann:

Iya aku juga suka. Hehe ini udah dilanjut. *Ketchup* *syalalala*

mantika mochi: iya kasian bnget. :( ayo timpukin Sasori *kabur*

"Gulali dan Ayam"

.

.

By : Gynna yuhi

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

Enjoy! DLDR!

Kepalaku rasanya mau pecah. Baru dua jam aku menerima kehadiran mereka ─dengan sangat terpaksa─ setelah aku menghubungi seluruh sanak saudaranya yang aku kenal untuk menggantikan ku menjaga dan mengasihi (?) kedua tuyul liar yang dengan antengnya mengobrak-abrik isi apartemenku tapi hasilnya NIHIL. Semuanya seperti sudah mereka rencanakan. Aku heran kenapa seluruh keluarganya beralasan sibuk bulan madu. Untung saja aku tidak terkena serangan jantung koroner saat mendengar ayah dari Fugaku-jisan sedang bulan madu juga. Dengan siapa Madara-jiisama bulan madu ketika istrinya baru- baru ini merayakan lima tahun hari kematiannya? Demi tuhan umurnya itu sudah hampir sembilan puluh delapan tahun, apa dia masih kuat? Dan siapa gerangan wanita gila yang mau ia kencani?

Tok! Tok! Tok!

Suara pintu itu menghilang saat sebuah kepala merah jambu tanpa tubuh menyembul dari balik pintu.

"Paman penculik, Apa paman sudah selesai di kamal mandinya? Kami lapal," cicitnya menatap bayangan wajah tampanku yang mematul di cermin.

"Sebentar lagi. Tunggu sebentar aku akan memasakan kalian sesuatu, dan tolong jangan menyentuh apapun di dapur!" Aku sedikit menekankan nada bicaraku, itu lebih baik karena pada dasarnya anak dari pasangan "duo menyebalkan" ─Itachi Karin─ ini sedikit bandel, mungkin gen menyebalkan mereka menurun pada kedua anak mereka. Amit-amit deh -_-

"Oke." Setelah mengucapkannya ia segera beranjak dan menutup pintu kamar mandi dengan sangat pelan. Tumben, pikirku.

Setengah jam kemudian aku keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk di pinggangku saja. Hm segarnya, pikiranku. Aku merasa begitu fresh sekarang. Aku masuk kamar dan segera berpakaian. Seperti rutinitasku setelah mandi aku langsung tiduran di atas tempat tidur seraya memainkan gadget-ku. Woaah ada game online terbaru yang baru release ternyata, waktunya beraksi.

Gulali─Ayam─Gulali─Ayam─

"Sasu, Saku lapal sekali." Wajah gadis kecil berambut merah muda itu cemberut seraya memegangi perutnya, menatap kembarannya dengan tatapan mengiba. Bola mata hijau cerahnya yang besar kini mulai memerah menahan tangis.

"Hn." Sasuke, kembarannya yang sedari tadi bermain dengan engsel pintu depan yang rusak akhirnya beranjak mendekati sosok bocah kecil berambut merah muda itu dan mengelus punggungnya sayang.

Kruyuuuuuuk

"Sasu, lakukan sesuatu." Sasu kecil yang sedari tadi mengelus punggungnya kini mulai bimbang, ia tak tahan melihat kembarannya yang terus merengek, apalagi sampai terdengar suara perutnya yang begitu nyaring. Sungguh ia tak tega. Tapi ia juga tak bisa memasak, apalagi pamannya juga belum menunjukkan batang hidungnya sedari tadi. Ini sudah lebih dari satu jam lho. Bayangkan? Ia akhirnya menutup mata dan mendesah.

"Oke, ayo ke dapul." Yah mungkin ia bisa memasak sesuatu yang sederhana. Mungkin membuat sup tomat? Semoga itu tidak terlalu sulit, mengingat ia pernah membantu Kaa-chan membuatnya akhir minggu lalu.

"Nah, Saki maukah kamu membantu Sasu mengambilkan sayulan seadanya di kulkas?" ucap Sasu kecil tanpa menoleh dari kesibukannya mencari panci.

"Tentu." Gadis kecil berambut merah mudah itu menjawab dengan ceria seraya menunjukan cengiran lebarnya.

Setelah bahan-bahan yang sekiranya mereka perlukan akhirnya mereka mulai bekerja. Sakura yang memotong sayuran, dan Sasuke yang menyalakan kompor untuk memasak air.

"Saku, Sasu tidak sampai…" ia menjinjitkan tubuhnya berharap dapat mencapai pinggiran meja agar dapat menaruh panci di atas kompor tapi nyatanya ia masih belum sampai.

"Bental, Saku ambil kulsi dulu," Sakura kecil akhirnya beranjak dan mendorong sebuah kursi jati yang lumayan berat ke hadapan Sasuke.

"Ayo cepat naik. Saki udah lapal banget." ujarnya cepat.

"Hn."

Mereka bekerja dalam diam dan hati-hati, meski tetap saja suara gaduh dari tutup panci yang jatuh dan toples rempah yang jatuh menghiasi ritual memasaknya.

Sasori yang masih asik bermain game baru pun akhirnya menyadari sesuatu. "Sepertinya aku melupakan sesuatu, tapi apa yah?" lama berpikir namun tak menemukan apapun akhirnya ia menyerah, tidak ambil pusing. Ia mengendikkan bahu dan melanjutkan game yang sebelumnya sempat tertunda tersebut.

"Wahh rasanya enak sekali Sasu, Sasu memang hebat. Ayo masukan ke mangkuk!"

"Hn. Pegang!"

"Bental pan…"

Praaaaangg

Suara pecahan kaca terdengar dari arah dapur. Kedua bocah itu pun membelalakan matanya bersamaan kearah mangkok yang sebelumnya Sakura bawa yang kini pecah membentur lantai.

"Sasu, Saku kan udah bilang bental supnya panas. Kenapa Sasu malah menyuluh Saku bawa. Sekalangkan jadinya tumpah. Saku lapaal, Sasu. Huaaaaaaa ini panas." Tangis menggema diseluruh penjuru ruangan. Hasil jerih payah mereka hancurlah sudah jatuh di lantai. Air supnya sedikit mengenai tubuh Sakura hingga menimbulkan ruam ruam merah.

Sasuke yang tak tahu harus bagaimana, antara merasa salah dan juga tak tagu harus berbuat apa akhirnya ikut-ikutan menangis.

[[back Sasori POV]]

Sepertinya aku mendengar suara tangisan. Tapi darimana? Aku kan sendirian saja tinggal di si…

Bagai di sambar petir ia segera beranjak dan berlari keluar kamar.

"Dua tuyul kalian dimana!" Teriaknya. Ia mencari di seluruh ruangan namun tidak ketemu. Dapur berantakan, air tumpah dimana-mana, mangkuk satu-satunya yang ia punya pevah sudah. Marah merasukinya hingga ubun-ubun. "Bocah-bocah itu!" Ia segera berjalan cepat mencari keberadaan mereka berdua dengan cara mengikuti suara tangisnya.

Kamar mandi?

"Hei bocah apa yang…" lidahku mendadak kelu ketika melihat dua orang batita menangis kencang dengan seluruh pakaian basah yang membalut tubuhnya.

Aku segera memeluk keduanya. Memeriksa apa luka di tubuh mereka. Tuhan. Tidak. Tuyul gulali kau kenapa?

Aku segera menggendong keduanya keluar, dan berlari mencari kotak P3K. Tangisan mereka membuatku semakin panik. Cih dimana kotak sialan itu berada. Ku lihat Tuyul suram itu masih memeluk tubuh si gulali yang bergetar. Apa yang sudah mereka lakukan?

Aku berlari ke kamar dan syukurlah akhirnya aku menemukan kotak P3K itu di bawah tempat tidur. Segera saja aku oleskan obat pada ruam-ruam merah di tangan si gulali agar mengurangi bekas bahkan rasa perihnya bila memang itu perih. Aku menggendong mereka bersamaan ke dalam kamar untuk menggantikan baju mereka yang basah.

Aku hendak membuka pakaian bocah ayam suram itu terlebih dulu tapi tanganku segera ia tepis. "Ulus Saki saja, aku yang salah aku bisa ganti pakaian sendili. Ulus Saki!" Teriaknya padaku, nadanya begitu pilu. Tuhan maafkan aku.

Sasuke berlari keluar kamar mungkin mengambil koper kecil miliknya yang sebelumnya memang ia taruh di sebelah pintu utama. Ku buka koper Sakura perlahan mengambil pakaian apa saja yang bisa aku ambil. Ku lepas bajunya hati-hati agar tidak mengenai luka di tangannya. Tapi namanya juga batita, yah tentu saja tangisnya makin keras saat baju yang ia kenakan baru mencapai lehernya.

"Cep, cep, cep bocah manis jangan nangis yah sayang nanti kita buat ayam …" suaraku terhenti saat aku mengingat janjiku sebelumnya.

"Sebentar lagi. Tunggu sebentar aku akan memasakan kalian sesuatu, dan tolong jangan menyentuh apapun di dapur!"

"Oh ya ampun sayang maafkan paman. Paman lupa sayang, maafkan paman." aku segera memeluknya erat. Tuhan begitu berdosanya aku telah melupakan janjiku terhadap bocah kecil ini hingga membuatnya terluka.

"Huaaaa Saki lapal, ini sakit. Huaaaa panas." Ia mengulurkan tangannya yang memerah.

Tangisannya semakin mengeras. Aku segera menggendong seraya meniupi tangannya yang terulur, aku panik. Tuhan tolong aku! Aku mendudukannya di atas meja makan melangkah dengan hati-hati menuju kulkas karena lantai sungguh begitu licin. Ku ambil coklat dan ice cream yang ada di freezer dan memberikannyaa kepada Si gulali.

"Tunggu di sini yah!" Aku segera melangkah keluar mencari dimana tuyul satunya. Aku tidak menemukannya dimanapun. Tuhan ampuni aku.

"Sasu, kamu dimana?" keadaan begitu hening. Aku kembali mencarinya di kamar, tapi tetap tidak ketemu, di bawah sofa pun tidak ada. Hingga akhirnya suara seorang wanita muda dari pintu utama mengintrupsiku.

"Sasori-kun!"

"Ah, Konan-chan ternyata. Ada yang bisa ku bantu?" Aku menatap gugup dirinya. Apartemenku kelihatan seperti habis di bombardir teroris kali ini dan basah. Ya basah dimana-mana.

"Begini, batita manis bernama Sasuke tadi berlari menemuiku sambil menangis. Ia bilang ia melukai saudari kembarnya sendiri. Dia tak mau pulang. Mungkin ia takut. Bisakah aku bertemu kembarannya." Gadis ini terlihat begitu dewasa pada umurnya yang masih terbilang muda. Yah Konan berumur dua puluh tahun, tapi ia memiliki sisi keibuan yang luar biasa. Dia memang tetangga yang luar biasa baik hati.

"Te…tentu. Dia di dalam. Lukanya sudah ku obati sebenarnya." aku menggaruk belakang leherku, gugup kurasa. Kami berjalan menuju dapur. Mukaku merah padam dengan keadaan Apartemenku yang lebih dari sekedar berantakan.

"Saku-chan!" Bocah gulali itu segera membalik melihat kearah kami berdua. Ia terlihat lebih baik dengan cengiran khasnya.

"Saku kenyang, paman. Telimakasih." Ia mengulurkan kedua tangannya kearahku, yang langsung saja ku raih dan ku gendong.

"Hei gulali, sebenarnya apa yang terjadi?" Aku segera menodongnya dengan sebuah pertanyaan.

Diluar perkiraan, bukannya menjawab ia malah kembali menangis kencang. "Huaaaaa Sasu jahat sama Saku. Huaaaaa," Aku bingung aku harus bagaimana. Aku segera menatap Konan dengan panik.

Ia mengulurkan tangan kearah si gulali, kemudian menggendongnya dan mengelus punggung batita liar itu lembut.

"Kau tau tidak, Saudari kembarmu itu tadi menangis menemui bibi. Ia merasa bersalah padamu. Maukah kau menemuinya? Dia ada di Apartemen bibi. Ku rasa dia membutuhkanmu sekarang," ia menatap si gulali seraya tersenyum manis hingga membuat tangisan gulali mereda.

"Benalkah Sasu menangis menyesal?" gulali mencicit, memeluk leher Konan erat. Aku jadi mau. Sial, mana mau Konan mendekapku begitu. Ahhh pikiran apa sih.

"Tentu saja. Kalian bersaudara, tidak boleh bertengkar begini. Bagaimana kalau bibi antarkan kesana? Kau mau?" Gulali mengangguk dengan semangat. Kenapa ia mudah sekali bila bersama Konan?

Konan tersenyum kearahku kemudian beranjak menuju pintu utama untuk pergi ke Apartemennya sendiri, membawa kedua tuyul itu. Ku harap mereka tidak membuat onar di sana. Sebaiknya aku membereskan semua kekacauan ini sebelum mereka kembali.

Setengah jam kemudian Konan kembali tanpa dua tuyul, dan mensejajarkan diri denganku.

"Ku rasa Sasori-kun butuh bantuan untuk membereskan Apartemen ini. Tidak baik bila anak-anak bermain dengan keadaan Apartemen yang seperti ini…" bilang saja Acak acakan Konan sungguh aku tak apa. "mereka anak yang baik, dan menggemaskan. Mereka aman di Apartemenku, kelihatannya Sasuke lelah ia tertidur di sofa dengan Sakura yang menemaninya. Mereka benar-benar anak yang manis." ia tersenyum, dan wajahku memerah namun tak menjawab. Dia saja yang belum tau bagaimana sifat aslinya dua tuyul itu.

Tbc

A/N:

Hallo. I'm back. :D maaf yah menunggu lama *ojigisanasini* Begini sebenarnya saya ingin meneruskan seluruh cerita saya secepatnya. Tapi keadaan saya rumit, saya mengidap penyakit kecanduan game online sekarang XD terimakasih sudah mereview, follow, fav, dan menunggu. Saya rasa chapter ini gada lucu-lucunya sama sekali, selera humor saya entah menguap kemana. Mereka bedua juga lebih anteng disini. Mumgkin besok-besok mereka bakal lebih liar lagi? :3 Btw boleh minta review?