Sweet Love ; It`s not Easy
Last Chapter
-
By : Nichan
-
Bleach © T ite Kubo
Rukia menengadah, "Ma-maaf Hisagi-kun sebenarnya aku menyukai orang lain…," kata Rukia menunduk malu. Sementara Ichigo langsung sujud syukur di tempat. Tapi tunggu dulu, siapa yang disukai Rukia?
Hisagi memejamkan matanya kemudian sesegera mungkin dia membuka matanya kembali "Hahh…apa boleh buat," katanya dengan nada sedikit kecewa.
"Hisagi-kun aku…," belum sempat Rukia meneruskan perkataannya, Hisagi menyentuh bibir Rukia dengan jari telunjuknya.
"Sudahlah Rukia-chan, sebaiknya ceritakan padaku, siapa orang yang berhasil memenangkan hatimu itu," ucap Hisagi, senyuman tipis terlihat di wajahnya.
Inilah saat – saat yang paling ditunggu Ichigo, dimana dia bisa tahu siapa yang disukai Rukia tanpa harus bertanya langsung pada orangnya. Yah…seharusnya begitu, tapi saat Hisagi menerima kekalahannya, Ichigo jadi berfikir, Hisagi adalah orang yang sangat dewasa, berbeda dengannya yang hanya bisa membuat Rukia marah dan terluka. Pecundang yang hanya bisa mengatakan "Aku menyukaimu, Kuchiki Rukia" dalam hati. Ini membuatnya sedikit merenungi dirinya, kemudian dia memutuskan untuk tidak mendengar apapun yang nantinya akan dikatakan Rukia pada Hisagi.
Ichigo keluar dari persembunyiannya a.k.a semak – semak, dia tersenyum tipis dan pergi dari tempat itu.
"Hosh hosh hosh…"
Saat ini Ichigo sedang berlari menuju sekolahnya. Dia berbelok melewati satu ke gang ke tikungan, dan dilihatnya Rukia yang juga sedang berlari di depannya. Ternyata Rukia juga telat sama seperti dirinya. Ichigo mempercepat larinya untuk menyamai Rukia.
"Yo!!" sapa Ichigo yang saat ini sudah berhasil menyamai kecepatan lari Rukia.
"I-Ichigo…,"
"Larimu lambat, pendek!!"
"Berisik jeruk, ini sudah yang paling cepat tahu, hosh hosh…"
"Kalau larimu begitu bisa telat," Ichigo menarik salah satu tangan Rukia, dan itu membuat lari Rukia makin kencang. Dan untung saja mereka sampai sekolah dengan selamat.
"Hosh hosh hosh, kau berlari terlalu cepat, mau membunuhku ya?" teriak Rukia yang masih ngos – ngosan.
"Harusnya kau berterima kasih pendek."
"Ah a-anu terima kasih,"
"Ditolak!!" tolak dengan nada tinggi, Ichigo menyilangkan kedua tangannya di dada.
"A-APAA? Jangan bercanda jeruk," Rukia mulai kesal dengan tingkah Ichigo.
"Memangnya kenapa? Hak-ku kan menolak ucapan itu?"
"Katakan saja apa maumu?" Rukia mengalah dan menunduk lemas, setidaknya dia ingin menghindari pertengkaran konyol diantara mereka.
"Nanti kau harus pulang bersamaku, baru ucapan itu kuterima, bagaimana?"
"Terserah kau saja," Rukia pasrah saja dengan syarat yang diajukan Ichigo.
"Bagus!!" Ichigo menatap Rukia dengan semangat, wajah merengut permanennya kini berubah agak sedikit soft karena senyum polos yang terlukis di wajahnya.
Rukia terdiam sejenak, menatap pemuda bodoh yang ada di depannya itu, kemudian dia mulai tertawa melihat tingkah pemuda itu. Bisa – bisanya pemuda itu tersenyum sepolos ini hanya karena hal sepele seperti ini. Benar – benar payah, itulah yang sedari tadi dipikirkan oleh Rukia.
"Hmp, hihihi…," Rukia menutup mulutnya menahan tawa yang mau dilepaskannya.
"Hei apanya yang lucu?"
"Tidak bukan apa – apa," Rukia mengibas – kibaskan salah satu tangannya ke udara.
"Hei!!"
"Sudahlah kita ke kelas," ajaknya kepada Ichigo seraya menarik tangan kanan Ichigo. Dan itu berhasil meninggalkan aksen merah di pipi Ichigo.
"Kemana sih?" tanya Rukia kesal.
Saat ini Rukia dan Ichigo sedang berjalan ke suatu tempat, seperti janji Rukia tadi pagi, dia harus pulang bersama Ichigo, baru ucapan 'terima kasih' itu diterima.
"Diam dan ikuti saja aku," jawab Ichigo.
"Cih, iya iya."
Rukia dan Ichigo berjalan cukup jauh dari sekolah hingga mereka sampai ke suatu padang rumput yang cukup luas yang dihiasi dengan bunga – bunga dan angin semilir yang menyentuh permukaan kulit dengan lembut.
"Indahnya," ujar Rukia takjub.
"Iya kan?" Ichigo mencoba memastikan. Rukia hanya mengangguk, ia mulai tersenyum senang dan hal itu membuat Ichigo ingat dengan 'tujuan' awalnya.
"Anu aku…," Ichigo menggantungkan perkataannya.
"Apa?" tanya Rukia bingung.
"A-a-a-aku…itu…"
"Hn?" Rukia mulai mendekat dan mencoba mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh Ichigo.
"Itu, sebenarnya,…" lagi – lagi Ichigo menggantungkan kata – katanya dan membuat Rukia makin penasaran dan makin mendekat ke arah Ichigo. Ichigo yang didekati seperti itu menjadi salting dan blushing sendiri.
"Kau, menjauh dariku pendek, terlalu dekat!!" bentak Ichigo reflek karena panik. Rukia terdiam, ia terlihat sangat kesal.
"Ya, baiklah Kurosaki Ichigo aku tidak akan m-e-n-d-e-k-a-t-i-m-u lagi!! Maaf kalau selama ini aku mengganggumu, ya sudah aku PERGI!!" teriak Rukia dengan kemarahan yang meledak – ledak.
Ichigo tersentak mendegar perkataan Rukia. Tiba – tiba saja Rukia jadi tersulut emosi seperti itu, biasanya dia cuma membalas perkataan kasar Ichigo dengan ejekan tapi kali ini berbeda dari biasanya.
Tanpa banyak berfikir, Ichigo segera berlari ke arah Rukia yang sedang mengambil tasnya yang terletak di bawah pohon.
"Tunggu," cegah Ichigo.
"Apa? Aku kesal padamu!!" Rukia beranjak pergi dari tempat itu tapi, tangan Ichigo reflek menarik Rukia dan itu menyebabkan Rukia terjatuh. Ichigo yang melihat hal itu panik dan mencoba untuk memastikan keadaan Rukia.
"Kau tak apa – apa pendek?" tanya Ichigo cemas.
"Aduh, kau ini apa – apaan sih? Sakit, kenapa kau selalu kasar padaku? Kenapa selalu mengejeku!? Kenapa kau tidak pernah memperhatikanku strawberry? Kenapa…hiks…kenapa kau tidak pernah..hiks..bersikap lembut padaku? Kenapa kau seperti itu Ichigo? Hiks hiks…
Rukia mulai tak terkendali, emosinya berkecamuk anatara kesal, benci, ingin marah, ingin diperhatikan dan lain – lain. Hingga akhirnya dia marah sambil menangis.
'Nyuut' lagi – lagi hati Ichigo terasa sakit, kali ini dia sukses membuat gadis itu menangis.
"A…aku," Ichigo menunduk.
"Kau bodoh Ichigo Kurosaki, aku tidak mengerti kenapa aku bisa menyukai orang sepertimu, menyebalkan!!" teriak Rukia tanpa sadar dan itu kontan membuat muka Rukia dan Ichigo merah padam.
Rukia lantas menutup mulutnya dengan kedua tangan begitu ia menyadari bahwa secara tidak sengaja dia mengungkapkan perasaannya pada Ichigo. Dia terduduk cemas di rumput dan menutup wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menyembunyikan perasaan malunya. Sedangkan Ichigo masih terpaku, tidak percaya apa yang barusan didengarnya. Keheningan mulai menyelimuti mereka selama beberapa menit.
"Aku… ta-tadi itu…" Ichigo mulai membuka pembicaraan.
Rukia masih tidak berubah posisinya, Ichigo mendekati Rukia dan berusaha menyingkirkan tangan Rukia yang menutupi wajahnya itu. Tapi tak semudah itu, Rukia tetap bersikeras menutupi wajahnya dengan kedua tanganya, membuat Ichigo berusaha keras untuk nelepas tangannya itu.
"Kau itu kenapa sih? Lepaskan tanganmu dari wajahmu!?" teriak Ichi yang berusaha mati – matian untuk menyingkirkan tangan Rukia.
"Tidak mau!!" suara Rukia terdengar aneh seperti tertahan karena tangan yang masih saja menempel pada wajahnya.
"Rukia Kuchiki, kau ini apa – apaan sih!?" Rukia tak bergeming dengan teriakan Ichigo barusan, ia tetap berusaha dalam posisinya tadi, tetapi tentu saja tenaga Ichigo lebih unggul, dan berhasil membuat Rukia melepaskan tangan yang sedari tadi menutupi wajanya.
"Ahh…," wajah Rukia terlihat sangat merah saat Ichigo menarik paksa tangan Rukia yang tadi menutupi wajahnya.
"Benarkah?" tanya Ichigo, raut wajahnya sekarang berubah menjadi serius.
"Apanya?" tanya Rukia balik, saat ini dia dalam keadaan kepala tertunduk dengan kedua pergelangan tangan yang masih digenggam erat oleh Ichigo.
"Kau menyukaiku? Apa itu benar?" Ichigo mencoba memastikan dan menekan perasaannya. Rukia cuma bisa diam dan mengangguk kecil. Sementara inner Ichigo jingkrak – jingkrak nggak karuan, luarnya terlihat stay cool padahal rasanya dia udah pengen guling – guling di taman bunga.
Ichigo melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Rukia. Dia agak sedikit menjauh, mencoba melihat reaksi Rukia.
"Aku sudah tahu jawabannya Ichigo, kau tak mungkin menyukaiku, kau selalu saja besikap kasar dan mengejekku, harusnya itu sudah membuktikan semuanya. Aku saja yang bodoh karena aku su- eh?" kata – kata Rukia terputus begitu Ichigo memeluk erat Rukia.
"A-apa yang kau lakukan? Hei!!" Rukia berusaha melepaskan pelukan Ichigo. Tapi Ichigo malah memeluknya lebih erat.
"Syukurlah…," kata Ichigo pelan.
"Hah? Apa maksudmu? Lepaskan Ichigo!! Sesak!!" teriak Rukia.
Ichigo mengendurkan sedikit pelukannya tadi, kemudian dia membisikan sesuatu pada Rukia,
"Diam dulu, aku cuma ingin bersikap lembut padamu," bisik Ichigo.
"Eh?" Rukia yang tadinya meronta – ronta terdiam, semburat merah mulai menghiasi wajahnya.
"A-ai-aishiteru Rukia," akhirnya bisa juga Ichigo mengucapkan hal itu seraya melepaskan pelukannya. Wajahnya terlihat sangat merah dan menunduk malu. Rukia tertawa kecil dan menjitak kepala Ichigo cukup keras.
"BAKA!!" teriak Rukia.
"Aww!! Apa sih? Aku serius tahu," Ichigo memegangi kepalanya yang sakit karena jitakan Rukia barusan.
"Masa?" Rukia mncoba memastikan.
"Kau mau bukti?" tentang Ichigo.
"Iya iya aku percaya," sahut Rukia dengan tersenyum. Ichigo kemudian mengacak – acak rambut Rukia dengan lembut.
Akhirnya bisa juga Ichigo menyampaikan perasaannya, walau itu sangat sulit. Dan untungnya perasaan itu terbalas.
"Ichigo dan Rukia, mulai hari ini jadian!!" ucap Ichigo dalam hati.
-
- OWARI -
-
Huee~ gomen ne kalau hasilnya kurang memuaskan, adegan romantisnya kurang terasa, habisnya saya emang nggak bakat bikin adegan romantis -bego- T.T..
Gomen juga kalau masih banyak typo, diskripsi nggak jelas dan kebanyakan dialog dan tata bahasa yang kurang baku.
Terima kasih untuk semua readers dan reviews yang udah menyempatkan untuk sekedar membaca bahkan rela mereview fic saya. Arigatou… Arigatou… Arigatou…
Yasudahlah apapun itu, review? Please…
