Disclaimer: Bleach © Tite Kubo
WARNING: AU, typo(s), OOC, newbie, dll.

A/N: Akhirnya Mel update juga fic ini. Lama ya update-nya? Mel sibuk sejak mulai masuk sekolah. Maaf ya /\


Sore hampir berganti malam. Warna biru langit sudah hilang, berganti dengan kombinasi warna ungu dan oranye. Ichigo membuka jendelanya. Ia pun melihat Rukia yang sedang duduk di teras rumahnya sambil melamun. Inilah yang sering dilihat Ichigo akhir-akhir ini. Gadis itu terus-menerus melamun sepanjang hari. Entah apa yang dipikirkannya.

"Rukia!"

Gadis bermata violet itu tersentak kaget. Ia mendongak dan melihat seorang lelaki yang sedang tertawa kecil. "Ada apa, jeruk?"

Ichigo tidak menjawab pertanyaan Rukia. Ia malah menutup jendelanya. Beberapa saat kemudian, pintu rumah Ichigo terbuka. Tuan rumahnya pun muncul. Ichigo berjalan menuju rumah Rukia. Lalu berdiri di depan gadis itu. Ichigo hanya tersenyum. Rukia mengerucutkan bibirnya.

"Yo!"

Gadis mungil itu hanya diam.

"Maaf," gumam Ichigo.

"Kau membuatku kaget," kata Rukia.

"Maaf," ulang Ichigo.

"Tidak apa-apa, Ichigo. Aku hanya bercanda. Aku tidak mungkin marah hanya karena hal seperti itu."

Ichigo hanya tersenyum tipis.

"Kau ke sini hanya untuk minta maaf?"

Perkataan Rukia mengingatkan Ichigo pada tujuannya yang sebenarnya. Ichigo menarik napas dalam-dalam. "Ng… Sebenarnya… Begini… Mm… Aku…"

"Ada apa?" Rukia mengerutkan keningnya. Jarang sekali ia melihat sahabatnya ini gugup.

"Kau mau tidak jalan-jalan denganku besok?" Ichigo pun merasa lega setelah mengatakannya. Akhirnya, kata-kata itu keluar juga. Ia memang sering mengajak Rukia jalan-jalan. Tapi kali ini berbeda dari biasanya.

"Bukankah Orihime sedang ke luar kota?" Rukia berhenti sejenak, lalu berkata, "itu berarti hanya berdua?"

"Iya." Ichigo menatap Rukia. Menunggu jawaban dari bibir mungil itu.

"Boleh."

Ichigo tersenyum senang mendengarnya. Sementara Rukia menundukkan wajahnya yang mulai memerah.

"Baiklah. Sampai besok."


Rukia mengambil tas kecilnya setelah merasa siap. Ia membuka pintu kamarnya dan terlihatlah seorang gadis yang memiliki warna rambut yang sama dengan Rukia.

"Rukia, kau mau ke mana?" tanya gadis itu.

"Hinamori? Kenapa kau ada disini?" tanya Rukia.

"Apakah aku tidak boleh datang ke rumah sepupuku?" Hinamori balik bertanya.

"Sudah lama sekali kau tidak kemari."

"Dan sepertinya percuma saja aku datang. Kau akan pergi ke mana?"

"Hanya jalan-jalan dengan Ichigo."

Hinamori melihat Rukia dari atas sampai bawah. "Kau yakin kau akan berkencan dengan Ichigo?"

"A-apa? Ini bukan kencan!" bantah Rukia dengan wajah yang bersemu merah.

"Ini kencan, Rukia. Dan kau hanya berpenampilan seperti itu?"

Rukia mematut diri di depan cermin yang berada di sampingnya. Ia memakai kaus ungu, jaket putih, dan celana panjang. Apa yang salah dengan itu?

Hinamori membuka lemari baju Rukia. Hinamori menjulurkan tangannya dan mengambil sebuah terusan berwarna ungu yang agak tersembunyi di balik pakaian lain. Ia membentangkan terusan itu di depan badan Rukia.

Rukia memandang refleksinya di cermin. Terusan ini dibelikan oleh ibunya dulu yang tidak pernah dipakai sampai sekarang. Alasannya? Tentu saja karena Rukia tidak suka memakai terusan atau rok.

"Ini lebih bagus. Menurutmu bagaimana?"

Terusan ini memang bagus. Tapi tetap saja Rukia lebih suka memakai kaus atau kemeja daripada terusan seperti ini. Rukia menghela napas. Apakah perempuan harus berdandan spesial saat kencan?

"Rukia, kau harus memakai ini. Ini sangat cocok untukmu."

Rukia tidak bisa melakukan apapun selain menurutinya. Ia mengganti bajunya dengan baju yang dipilihkan Hinamori.

"Rukia, baju itu cocok untukmu. Pilihanku tidak mungkin salah kan? Pakailah sepatu ini. Sepertinya Ichigo sudah menunggu di depan."

Rukia tersenyum pada Hinamori. "Terima kasih."

"Sama-sama. Sudah cepat pergi. Ichigo pasti sudah menunggu." Hinamori mendorong Rukia keluar dari kamarnya. Rukia pun mulai menuruni tangga. Ia membuka pintu rumahnya dan tampaklah seorang pemuda tampan yang akan berkencan dengannya hari ini.

Ichigo menatap Rukia. Gadis itu terlihat berbeda dari biasanya. Ia mengenakan terusan ungu dengan sepatu berwarna senada. Rambutnya diurai hingga menyentuh bahu. Gadis mungil itu terlihat sangat cantik.

"Sudah lama menunggu?"

"Tidak juga. Ayo kita pergi sekarang."


"Ichigo, kita mau ke mana?" tanya Rukia. Ia sangat penasaran tempat seperti apa yang akan dikunjunginya pada kencan pertamanya hari ini.

"Pertanyaanmu sudah terjawab. Kita sudah berada di tempat yang kita tuju."

Rukia memandangi tempat yang dimaksud Ichigo. Rukia mematung di depan sebuah game center yang merupakan tempat kencan mereka hari ini. Rukia mengembuskan napas pelan-pelan. Mungkin sebaiknya ia tidak memakai terusan yang dipilihkan Hinamori dan tetap memakai baju yang dipilihnya sendiri. Untuk apa ia memakai terusan jika pada akhirnya mereka berkencan di game center?

"Rukia? Kau tidak mau masuk?"

"I-iya. Maaf. Tadi aku melamun."

Rukia pun masuk ke dalam. Matanya berbinar-binar saat melihat permainan-permainan yang ada di situ. Sejujurnya, ia sangat senang Ichigo mengajaknya kemari. Tanpa basa-basi, ia mulai memainkannya bersama Ichigo.

"Tidak buruk juga," gumam Rukia.

"Apa? Kau mengatakan sesuatu?" tanya Ichigo.

"Tidak. Mungkin hanya perasaanmu saja."

Ichigo hanya menganggukkan kepalanya dan mulai bermain lagi. Rukia berjalan meninggalkan Ichigo. Ia mencari permainan lain. Ia sudah bosan karena hampir semuanya sudah dimainkan olehnya. Rukia menoleh ke samping. Ia melihat sebuah game japit yang berisi banyak boneka. Ia melihat sebuah boneka chappy di antara tumpukan boneka tersebut.

"Kau mau itu?"

Rukia menoleh dan melihat Ichigo yang sedang melihat boneka-boneka itu.

"Aku ingin itu." Rukia menunjuk boneka chappy yang sedari tadi diperhatikannya.

Ichigo mulai mencoba mengambilnya. Akhirnya, ia mendapatkan boneka itu. Ia memberikannya pada Rukia. "Ini," kata Ichigo.

Rukia mengambil boneka itu dari tangan Ichigo. "Terima kasih, Ichigo. Kau memang sahabatku yang paling baik."

"Sama-sama."

"Kau mau main lagi?" tanya Rukia.

Ichigo menggeleng. "Tidak. Kita akan ke tempat selanjutnya." Ichigo menarik tangan Rukia. Mereka menyeberang jalan raya dan berdiri bersebelahan di hadapan poster-poster film di sebuah bioskop.

"Mau nonton apa?" Ichigo menunjuk pada barisan poster film.

"Aku mau kita menonton ini," kata Rukia sambil menunjuk salah satu poster film.

Ichigo tersenyum. Sebenarnya, ia sudah tahu jawabannya. Ia mengetahui bahwa Rukia sangat ingin menonton film ini sejak film ini mulai tayang di bioskop. Oleh karena itu, ia mengajak Rukia kemari.


Orihime turun dari mobil. Ia membuka pagar rumahnya. Ia baru saja pulang dari rumah neneknya di luar kota. 3 hari meninggalkan kota ini terasa berat. Ia sangat merindukan kedua sahabatnya.

"Inoue."

Orihime menoleh saat mendengar namanya dipanggil. "Hinamori?"

"Kau ingat aku? Syukurlah," ujar Hinamori sambil berjalan mendekati Orihime.

"Sudah lama kau tidak datang kemari."

"Ya, aku sibuk akhir-akhir ini."

"Rukia ada?"

Hinamori menggeleng. "Ia sedang pergi bersama Ichigo. Mereka sedang berkencan."

Mata Orihime terbelalak mendengar perkataan Hinamori. "Apa? Benarkah?"

"Kenapa kau sekaget itu?"

"Tidak. Tidak apa-apa," kata Orihime sambil menyembunyikan keterkejutannya. Ia berusaha agar terlihat tenang.

"Itu benar. Mereka pergi saat aku baru saja datang kemari," kata Hinamori. "Inoue, aku masuk ke dalam dulu ya."

"Ya, sampai nanti." Orihime melambaikan tangannya dan tersenyum.

Hinamori melambaikan tangannya juga. Kemudian, ia masuk ke dalam rumah Rukia.

Orihime menurunkan tangannya. Senyumannya menghilang dari bibirnya. "Tidak mungkin," gumam Orihime.


Rukia keluar dari bioskop dengan wajah senang. Ichigo berjalan mengikutinya di belakang.

"Kita akan kemana lagi?" tanya Rukia.

"Pulang." Ichigo menatap Rukia yang langsung cemberut mendengar perkataannya. "Tidak. Kita tidak akan pulang sekarang," ujar Ichigo.

"Lalu?"

"Sekarang kita ke restoran itu."

Rukia melihat sebuah restoran yang ternyata berada di sebelah bioskop. Ia mulai berjalan menuju restoran tersebut dan masuk ke dalam. Ichigo dan Rukia memilih meja yang berada di dekat jendela. Mereka duduk di kursi mereka masing-masing. Seorang pelayan mendatangi mereka untuk menanyakan pesanan. Ichigo dan Rukia menyebutkan pesanan mereka. Pelayan itu pun pergi meninggalkan mereka.

"Ichigo, bolehkah aku bertanya sesuatu?"

"Ya, tentu. Ada apa?"

"Aku ingin menanyakan tentang gadis yang kau sukai."

Pandangan Ichigo beranjak dari pemandangan di luar dan kembali ke Rukia.

"Kau tidak mau menceritakannya pun tidak apa-apa. Sebagai sahabat, aku hanya penasaran," ujar Rukia. Ia sepertinya tahu apa yang dipikirkan Ichigo.

"Maaf. Aku tidak dapat memberitahumu. Tidak sekarang."

Rukia agak kecewa mendengar jawaban Ichigo. Namun, ia tetap tersenyum dan tidak memaksa Ichigo untuk memberitahunya.

"Kau sendiri sudah menemukan orang yang kau sukai?" tanya Ichigo.

"Entahlah. Mungkin sudah."

Ichigo mengerutkan keningnya. "Mungkin?"

"Aku masih bingung dengan perasaanku sendiri," jawab Rukia dengan jujur. "Sudahlah. Tidak usah dibahas."

Mereka pun sama-sama diam. Untungnya, seorang pelayan membawakan pesanan mereka. Mereka mulai menghabiskannya tanpa bicara sepatah kata pun. Setelah selesai, mereka langsung keluar dari restoran tersebut tanpa bicara.

"Kenapa kau jadi diam begini?" tanya Ichigo.

"Kau sendiri juga begitu," sahut Rukia.

Mereka saling menatap. Kemudian, mereka tertawa.

"Kenapa kita jadi aneh seperti ini?" tanya Rukia setelah tawa mereka terhenti.

Ichigo mengangkat bahu. "Entahlah. Lebih baik kita pergi ke tempat selanjutnya."

"Ini sudah malam, Ichigo."

"Aku sudah tahu itu, Rukia. Aku memang sengaja. Lebih baik kita cepat pergi sebelum terlalu malam." Ichigo menarik tangan Rukia.

"Tunggu!"

"Ada apa?"

"Kakiku sakit. Tadi aku terjatuh di toilet," kata Rukia sambil memegangi kakinya.

"Kau mau kuangkat lagi seperti waktu itu?"

"Tidak. Itu memalukan, Ichigo. Disini banyak orang."

"Kalau begitu, pegang tanganku."

Rukia menggenggam tangan Ichigo. Hangat. Rukia berjalan mengikuti Ichigo. Mereka berjalan di tempat yang agak gelap yang tidak pernah Rukia datangi sebelumnya. Tiba-tiba, langkah Ichigo terhenti. Menandakan bahwa mereka sudah sampai.

"Wah." Rukia terpana melihat apa yang ada di depan matanya saat ini. Pemandangan kota yang sangat indah. Ia tidak tahu bahwa kota ini jika dilihat dari atas akan menjadi seperti ini. Rukia melepaskan genggamannya dan maju ke depan agar dapat melihat lebih jelas.

"Game center, boneka chappy, film yang sangat ingin kutonton, dan pemandangan kota yang sangat indah. Hari ini sangat menyenangkan. Terima kasih, Ichigo," kata Rukia sambil tersenyum manis.

"Sepertinya kau senang. Syukurlah. Kau sudah menjadi seperti biasanya."

Rukia menyipitkan matanya. "Maksudmu?"

"Apa kau tidak menyadarinya? Akhir-akhir ini, kau sering melamun dan murung. Kalau kau ada masalah, kau dapat menceritakannya padaku."

Rukia menggeleng pelan. "Aku tidak apa-apa."

"Kau tidak pandai berbohong, Rukia."

"Aku tidak berbohong. Sungguh. Kau tidak perlu mencemaskanku."

"Benarkah? Baiklah. Kalau ada apa-apa, katakan saja padaku."

Rukia mengembuskan napasnya pelan. Bersyukur Ichigo tidak mencurigainya dan menanyakan tentang itu lagi. Bagaimana ia dapat mengatakan masalahnya pada Ichigo jika masalah Rukia adalah Ichigo?

"Mau pulang sekarang?" tanya Ichigo.

Rukia mengangguk walaupun sebenarnya ia masih ingin bersama Ichigo. Ichigo berjalan duluan. Rukia mengikutinya.

"Ichigo."

Ichigo menoleh ke belakang. "Ya?"

"Ah, tidak." Rukia menunduk. Sebenarnya, ia ingin menggenggam tangan hangat Ichigo lagi. Lagipula, kakinya masih sakit.

Ichigo berjalan ke belakang. Ia memegang tangan Rukia. Menggenggamnya. Pipi Rukia bersemu merah. Mereka mulai berjalan pulang.


Orihime duduk di kursi yang ada di teras rumah Rukia. Ayah dan ibu Rukia mengizinkannya menunggu Rukia di sini. Sekarang sudah malam. Namun, Orihime belum juga melihat tanda-tanda kedatangan Ichigo dan Rukia.

Beberapa menit kemudian, ia melihat dua orang yang sedang berjalan. Mereka saling berpegangan tangan. Seorang lelaki tinggi dan gadis mungil. Samar-samar terdengar percakapan kedua orang tersebut.

"Terima kasih untuk hari ini."

"Sama-sama."

"Aku masuk ke dalam duluan ya."

Pintu pagar rumah Rukia mulai terbuka. Orihime sudah dapat mengetahui siapa yang membuka pagar itu.

"Orihime?" Rukia terkejut melihat Orihime. Bukankah dia akan datang besok?

"Rukia." Orihime terdiam sejenak, lalu berkata, "kau tidak akan mengkhianatiku kan?"


TBC


A/N: Gimana chap 2 ini? Banyak yang salah? Mel gak begitu meriksa ulang fic ini. Review ya