CHAPTER 2

Sinar mentari perlahan menyebar ke seluruh ruangan milik Kuroko Tetsuna. Burung-burung gereja berterbangan di langit pagi. Angin sepoi-sepoi menghembus pelan setiap tempat yang ia lewati. Bunga berwarna-warni telah mengembangkan kelopak mereka, menyeruakkan bau harum yang menenangkan. Ayah dan ibu mengobrol santai dengan masing-masing segelas teh di dekat mereka. Deskripsi dari sebuah pagi yang sangat indah dan cerah.

Tetapi gadis bersurai biru muda itu hanya terduduk diam di kasurnya, menunduk sehingga poninya menutupi wajahnya. Bulir-bulir keringat dingin masih mengalir deras di kulitnya. Wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya, nafasnya tak karuan, bibirnya agak bergetar, matanya terbelalak. Sepertinya ia telah mengalami mimpi buruk. Apalagi kalau bukan tentang Akashi Seijuro? Lelaki yang tiba-tiba saja menyatakan perang padanya.

"Tetsuna-chan, bangun! Nanti kau terlambat!"

Panggilan sang ibu membuatnya sadar dari lamunannya. Ya, tak penting untuk memikirkan mimpi buruk barusan. Yang harus ia pikirkan sekarang adalah—menghindar dari Akashi.

"Baik, ibu." Dengan jawaban singkat, ia segera melompat turun dari ranjang bewarna biru putih miliknya. Lalu ia segera melakukan ritual paginya. Seperti mandi, merapikan tempat tidur, dan lain-lain. Selesai melakukan itu semua, perempuan tersebut langsung meluncur ke dapur. Di atas meja makan, telah tersedia roti bakar dengan segelas minuman favoritnya—vanilla milkshake. Oh, syukurlah ada sesuatu yang bisa membuat moodnya menjadi lebih baik.

Ayahnya masih di meja makan, membaca koran harian seperti biasa. Dan ia menyadari ibunya tak ada disana. Biasanya ia ikut makan bersama mereka. Kemana dia? Padahal baru beberapa saat yang lalu ia memanggil Kuroko untuk bangun.

"Ayah, dimana ibu?" tanyanya seraya mengambil selembar roti dan memakannya.

"Oh, barusan saja ada tamu." Ujar ayahnya singkat, meminum teh hangat yang sedaritadi menemaninya.

'Tamu? Siapa orang kurang kerjaan yang datang sepagi ini?' batin Kuroko. Namun, ia sedang tak mau peduli. Paling-paling pengantar surat atau teman ibunya. Ia pun meminum milkshakenya perlahan.

Belum beberapa menit, ibunya langsung muncul di ambang pintu sambil berkacak pinggang. "Tetsuna-chaaan! Cepat, pacarmu menunggu!"

Tunggu. Apa?

"...pacar?"

"Iya pacarmu! Kau tidak bilang-bilang pada ibu kalau kau punya pacar ya! Sudah, cepat, jangan membuatnya menunggu!" jelas ibunya lagi, tersenyum dan melayangkan sebuah kedipan.

Kuroko yang masih terbengong sampai tak sadar kalau sang 'pacar' telah berdiri di sampingnya, dengan menampilkan sebuah senyum yang tak biasa. "Selamat pagi, Tetsuna. Selamat pagi paman."

Suaranya yang khas membuat gadis itu menoleh cepat ke sampingnya. Hasilnya, wajahnya sudah tinggal beberapa centi dari wajah sang lelaki berhelai merah. Akashi Seijuro menyeringai ketika melihat wajah Kuroko yang sudah pucat pasi. Namun seringai itu segera berganti menjadi senyum palsu. Yang hebatnya lagi, orang tua Kuroko telah tertipu pada senyumannya.

"Makanlah dengan pelan. Aku akan menunggu. Aku tidak ingin kau tersedak."

Huek, mendengar si kapten berkata hal seperti itu, malah membuatnya merasa mual. Ingin rasanya ia muntahkan apa yang telah ia makan. Tapi karena ia masih sayang masakan ibu, ia berusaha menahannya.

"Maaf, bu, dia bukan pa—" Perempuan berwajah datar ini berusaha mengelak tentang status Akashi yang menjadi 'pacar'nya. Sayangnya, perkataannya sudah dipotong. "Tidak perlu malu, Tetsuna-CHAN. Kurasa orang tuamu harus tahu kalau kita menjalin hubungan."

Gadis itu tak suka akan panggilan sok akrab dari lelaki di sampingnya. Ia kembali mencoba untuk meluruskan kesalah pahaman ini. "Menjalin hubungan gundulmu, Aku tidak—"

"Ah, benar juga. Saya ingin memperkenalkan diri kepada paman. Maaf atas kelancangan saya yang daritadi malah diam dan bersikap tak sopan. Nama saya Akashi Seijuro. PACAR Tetsuna. Mohon kerjasamanya." Tutur Akashi dengan senyuman, membungkukkan badannya untuk menunjukkan rasa hormat pada orang yang lebih tua di depannya. Sedangkan ayah Kuroko itu, ia mengangguk singkat dan melanjutkan membaca korannya.

"Lho? Tetsuna-chan kemana?" tanya ibunya dengan nada panik ketika melihat kursi yang tadi di duduki putrinya telah kosong. Ayahnya sweatdrop.

Sementara itu, lelaki bermata dwiwarna itu mematung sesaat. Bagaimana mungkin ia sempat lengah?

"Kalau begitu, saya akan segera menyusul Tetsuna. Sampai jumpa paman, bibi." Pamitnya, kemudian ia mulai berjalan keluar.

'Kuroko Tetsuna, setelah ini kau tak akan bisa kabur.' Nampaknya di dalam kepala seorang Akashi sedang terjadi badai. Sehingga wajahnya terlihat datar menyeramkan. Orang-orang yang melihatnya langsung menjauh ketakutan. Bahkan supirnya sendiri, yang baru melirik tuannya masuk ke dalam mobil, ikut merinding. Tanpa menunggu perintah, ia segera mengantarkan si pangeran berambut merah ke sekolah.

Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai ke sekolah. Sekarang, Akashi Seijuro sedang menyusuri koridor, dan mengarahkan langkahnya menuju kelas milik perempuan yang tadi kabur diam-diam darinya. Sampai di depan kelasnya, ia membuka pintu dengan masih memperlihatkan wajah seramnya.

Kelas yang awalnya gaduh tiba-tiba menjadi senyap. Semua murid mematung di tempat mereka masing-masing. Aura intimidasi yang mengelilingi sosok lelaki yang berada di pintu itu membuat semua murid ketakutan. Disaat yang tepat ini, si Raja Merah membuka mulut. Memperdengarkan pertanyaan penuh penekanan yang mengerikan. "Dimana Kuroko Tetsuna?"

Tak ada yang berani menjawab maupun melihat figurnya. Sekali lagi, ia mengulangi pertanyaannya dengan suara yang lebih keras. "Apa kalian tuli? Dimana Kuroko Tetsuna?"

"T-T-Tidak tahu. Dia belum datang dari tadi!" jawab salah seorang siswa berambut coklat, matanya ia pejamkan rapat-rapat.

Mata tajam Akashi menyapu seluruh sudut ruangan, dan kemudian pupilnya menangkap sebuah tas yang familiar. Milik Kuroko. Namun mengingat hawa keberadaannya yang begitu tipis, sudah pasti memang tak ada yang menyadarinya masuk kesini. Percuma saja ia bertanya. Akhirnya ia meninggalkan ruangan itu tanpa berkata sepatah kata pun. Kemana lagi kalau bukan mencari Kuroko lagi?

Baru saja melangkah 5 kali, bel tanda masukan telah berdering.

Decakan kesal terdengar dari Akashi. Mau tak mau, ia harus mundur sekarang. Tapi tak apa, masih ada waktu istirahat untuk menemukan gadis itu.

Di sisi lain, Kuroko Tetsuna baru saja menghela nafas lega ketika mendengar dering bel. Ia cepat-cepat kembali ke kelas. Takut-takut di jalan ia malah bertatap muka dengan lelaki yang tak ingin ia temui itu.

Sayang di tengah perjalanan, ia melihat orang itu. Untung saja ia cepat bersembunyi di balik dinding sebelum lelaki berambut merah itu menyadarinya. Kuroko dapat mengintip sedikit sosok lelaki itu yang berjalan lurus tanpa melirik kemana pun. Melihat ekspresinya, meski hanya sekilas, membuatnya merinding.

'Pasti dia baru saja mencariku. Gawat kalau sampai ia melihatku.' Pikir Kuroko Tetsuna, khawatir—meski wajahnya hanya menampilkan ekspresi datar. Ia pun memutuskan untuk segera meninggalkan tempat persembunyiannya tersebut. Baru melangkah beberapa kali tanpa suara, sebuah peringatan terdengar di telinga Kuroko.

"Tunggu aku istirahat nanti, Tetsuna. Kau tak akan bisa kabur."

Menoleh ke sumber suara, Akashi bahkan tak menoleh. Masih berdiri di tengah koridor, membelakangi Kuroko. Bagaimana ia bisa tahu?

"Aku tahu segalanya, Tetsuna." Ah, barusan dia membaca pikiranku? dia semakin menyeramkan saja setiap detik.

"Tolong jangan panggil aku dengan nama depanku, Akashi-kun. Dan lagi, aku tak akan menunggumu. Tak akan pernah." Ujarnya datar. Kemudian berbalik dan berlari menuju kelasnya.

Akashi Seijuro, tak bergeming. Tetap di tempat. Beberapa detik berlalu, garis bibirnya telah naik salah satu ujungnya. Lagi, seringai khasnya muncul.

"Oh, mari lihat saja."

.

.

.

Di kelas, gadis baby-blue itu duduk diam di tempatnya sambil menunggu guru yang mengisi pelajaran pertama datang. Tempat duduknya tepat di paling ujung samping jendela yang tengah terbuka. Langit di atas sana masih cerah seperti pagi tadi. Uh, bahkan lebih cerah lagi. Sangat kontras dengan suasana hatinya yang telah diporak-porandakan oleh kedatangan Akashi. Padahal ini baru hari pertama dari tantangan yang kemarin ia nyatakan.

"Dalam tiga puluh hari, kau, Kuroko Tetsuna akan jatuh cinta padaku."

Mata biru langit milik Kuroko memicing ketika mendengar suara yang menggema dalam kepalanya. Ia tak ingin mengingat hal itu. Terutama mengingat wajah angkuhnya yang sedang menyeringai penuh keyakinan.

'Tidak. Tenang saja, Kuroko Tetsuna. Kau akan menang. Kau tak akan kalah dari Akashi Seijuro.' Batinnya, berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Momoi Satsuki—sahabat dekat Kuroko—menyadari perbedaan ekspresi yang ada di wajahnya. Sebagai teman yang baik, ia menarik bangku ke meja gadis berwajah datar tersebut dan mulai melakukan sesi interogasinya. Seperti yang biasa ia lakukan jika salah satu temannya mendapat masalah.

"Tsuna-chan? Ada apa?" tanyanya dengan nada lembut. Kuroko yang awalnya masih tenggelam dalam pikirannya sendiri segera sadar dan menatap datar menuju temannya yang menatapinya dengan penuh kekhawatiran.

"Aku tidak apa-apa, Momoi-san." Ujarnya datar.

"Sudah kubilang panggil saja aku Satsuki—ah, terlepas dari itu, aku tahu kau sedang ada masalah, Tsuna-chan."

Perempuan yang memiliki iris azure ini menghembuskan nafas berat, lalu menyerah dan memutuskan untuk bercerita saja padanya. Karena sudah pasti gadis pink itu akan terus memaksa jika ia tetap bungkam. Toh, ia juga temannya. Dan ia juga bisa menjaga rahasia dengan baik. Jadi seharusnya tak masalah.

"Aku... tadi Akashi-kun datang ke rumahku. Lalu dia—"

"EEEH?! AKASHI-KUN?! K-KAU SERIUS TSUNA-CHAN?" potong Momoi sambil menunjukkan keterkejutannya yang berlebihan. Sampai-sampai semua orang yang ada di kelas segera menengok ke arah Momoi dengan tatapan aneh. Namun hal itu tak bertahan lama. Semua orang kembali pada aktivitas mereka masing-masing.

"Aku akan berhenti bercerita." Ucap Kuroko datar, berdiri dari tempat duduknya. Tetapi Momoi telah menahannya agar tak pergi kemana-mana. "I-Iya, maafkan aku Tsuna-chan! Aku 'kan kaget!" ucapnya dengan bibir yang dimajukan sedikit. "Jangan pergiii! Ceritakan padakuuu!" rengeknya tak henti-henti, dengan tetap setia menarik-narik tangan Kuroko.

Gadis pendek ini pun duduk kembali dan menatapnya datar. "Akashi-kun ingin mengantarku ke sekolah. Tapi aku tak mau. Saat sarapan, aku pergi diam-diam. Dan tadi aku bertemu dengannya. Wajahnya mengerikan."

Momoi meneguk ludahnya sembari mendengarkannya bercerita. Bagaimana bisa perempuan ini bersikap normal—err, datar-datar saja? Tidakkah ia merasa takut atau minimal bergidik ngeri? Waktu si kapten tim basket itu ke kelas ini, wajahnya sangat menyeramkan. Terlihat super badmood. Tak bisa ia bayangkan ekspresinya saat sudah bertemu dengan Kuroko.

"Um... Tsuna-chan? A-Apa kau tidak diancam atau apa?"

"...itu dia yang kupermasalahkan dari tadi." meski ekspresinya tetap datar, Momoi dapat melihat butiran keringat dingin menuruni pelipisnya ketika membicarakan hal ini. Momoi sudah memikirkan yang tidak-tidak.

"D-Dia mengancammu bagaimana?" tanya gadis berambut panjang tersebut dengan deg-degan.

Kuroko mengalihkan pandangannya ke luar jendela dan menjawab sekenanya. "Entahlah. Kurasa ia akan memperlihatkannya saat istirahat nanti."

Walaupun wajah datarnya masih ia pertahankan, Momoi tahu, pikiran si surai baby-blue itu sedang melayang ke tempat yang lain. Dan memang benar apa yang Momoi simpulkan.

Kuroko Tetsuna sedang memikirkan cara untuk menghindari Akashi Seijuro setelah ini.

Guru pun datang. Gadis bersurai pink panjang itu berdiri dan menarik kursinya kembali ke tempat semula. Tatapan khawatirnya ia lemparkan pada sahabatnya.

'Apapun rencanamu sekarang dan seterusnya, semoga berjalan lancar, Tsuna-chan.'

"Baik, buka buku kalian di halaman 102."

Dan pelajaran pun dimulai.

.

.

.

~TBC~