Sweet Pea
[ An annual flowers that have five unequal and soft textured petals ]
Mengingat apa yang sudah dilakukannya kemarin, Naruto tahu, harapannya untuk bertemu pria tampan bersurai hitam itu sangatlah tipis. Tapi tetap saja, ia setia menunggu dengan senyuman di wajahnya. Ia yakin sekali jika pria bersurai hitam itu akan kembali, karena hatinya berkata demikian.
Dan waktu terus berjalan tanpa bisa menunggu.
Detik menjadi menit, dan menit menjadi hari, kini Naruto mulai meragukan hatinya, ia mendongak untuk melihat jam yang menggantung di dinding, hanya kurang dari 15 menit lagi dan tokonya akan tutup. Ini sudah hari ke tiga tapi pria bersurai hitam itu tidak juga kunjung datang.
"Bagaimana jika pria itu tidak akan datang lagi?" gumamnya pelan.
Ia bersandar lemas pada punggung kursi. Rasa menyesal mulai menghantuinya, masih banyak hal yang belum diketahuinya tentang pria itu. Seperti, apa makanan favoritnya? Di mana tempatnya tinggal? Apa pekerjaannya? Berapa usianya? dan yang paling penting, siapa namanya?
Ya, itu benar. Ia bahkan belum mengetahui siapa nama pria bersurai hitam itu. Lalu bagaimana jika ia tidak bisa lagi bertemu dengannya?
Hanya membayangkannya saja sudah cukup membuat Naruto uring-uringan.
"Jika aku tahu akan berakhir seperti ini, aku tidak akan menyentuhnya sama sekali," rutuk Naruto, membenturkan dahinya pelan ke atas permukaan meja kayu beberapa kali. Ia tahu, menyadari kesalahannya saja tidak akan membantu banyak, ataupun membuat pria bersurai hitam itu kembali membeli bunga dari tokonya.
Mungkin ini hanya hukuman kecil untuknya yang selalu bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu, dan dengan absennya pria bersurai hitam dari tokonya, kini ia bisa menyadari di mana letak kesalahannya.
"Hahh..." desah Naruto tidak semangat seraya bangkit dari atas kursi. Sekali lagi ia mendongak untuk melihat jam yang tertempel manis di dinding sebelum melangkah perlahan ke arah pintu. Ia mengeratkan jaketnya, lalu tersenyum simpul ketika langit malam mengingatkannya pada pria bersurai hitam yang tidak lagi datang ke toko. "Bahkan langit mengejekku saat ini?" gumamnya setengah berbisik, seraya melangkah pelan menyusuri tepi trotoar.
Udara yang sebelumnya hangat kini bertambah dingin, langit yang sebelumnya berwarna jingga kini mulai menghitam, cahaya lampu yang tadinya padam kini menyala dan mulai mendominasi di mana-mana.
"Hey! Tunggu! Aku butuh bunga!"
Seruan seseorang dari arah belakang tidak menghentikan langkah Naruto. Ia tetap berjalan di tepi trotoar dengan melambaikan tangannya ke atas. "Maaf, kembali lagi saja besok."
"Aku tidak bisa pulang jika itu bukan bunga dari tokomu."
"Aku benar-benar minta maaf, tapi itu bukan urusanku." Naruto mempercepat langkah kakinya, moodnya hari ini sudah hancur, dan kini seorang pelanggan tidak menyerah untuk mendapatkan bunga dari tokonya.
"Aku akan membayarnya dengan harga tinggi. Aku hanya ingin Lilacs, Carnations, dan Lilies dari tokomu."
Tunggu dulu...
Naruto menghentikan langkah lebarnya dengan kedua alis mengernyit, ia ingat intonasi suara dan kalimat itu.
"Lilacs, Carnations, dan Lilies katanya?" Naruto memutar balik tubuhnya. Dari tempatnya ia bisa melihat seorang pria bertopi, berdiri setengah membungkuk dengan kedua tangan menahan sebagai tumpuan beban tubuh di atas lututnya. "Hey! Kau baik-baik saja?" Serunya khawatir mendekati sang pria yang terlihat tidak sehat.
Wajah sang pria menunduk dalam, dan deru napasnya terdengar tidak teratur. Naruto bisa memastikan jika pria di hadapannya saat ini terlihat sangat kesakitan. "Hey tuan..." panggilnya sekali lagi.
Namun tidak ada respon.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit, bertahanlah..." Naruto tidak akan diam saja melihat pelanggan tokonya terlihat seakan hampir mati, ia mendekat untuk merengkuh tubuh sang pria, namun tiba-tiba saja pria itu mengangkat wajahnya dan menatap Naruto tajam penuh emosi.
"Aku bilang bunganya brengsek!" geram sang pria bertopi menarik tangan Naruto lalu menyeretnya sekuat tenaga.
Naruto membelalakan kedua matanya tidak percaya. Iris birunya menatap punggung pria bertopi tanpa berkedip. Ia kenal wajah itu. Ya, itu pria bersurai hitam yang sudah 3 hari ini absen membeli bunga dari tokonya.
Hatinya benar, pria itu kembali lagi!
"Kondisi tubuhmu sedang buruk, seharusnya kau pergi ke dokter." Naruto tidak lagi bisa menahan senyum di bibirnya, hatinya berbunga-bunga saat ini. Tapi keadaan pria bersurai hitam juga membuatnya khawatir.
"Aku tidak sakit, hanya kelelahan," sahut pria bersurai hitam dingin. Ia mendorong tubuh Naruto ke arah pintu ketika mereka berada di depan toko, lalu ia berjongkok, dan kembali menundukan wajahnya. "Kenapa kau tersenyum? cepat buka tokonya," perintahnya kasar, sambil menunjuk ke arah pintu.
Naruto mengeluarkan kunci dari saku celananya lalu membuka pintu. "Ayo masuk." Ia mempersilahkan pria bersurai hitam, namun pria itu tidak menyahut. "Kau yakin baik-baik saja?"
"Bawa..." sahut sang pria bersurai hitam sangat pelan.
"Bawa?" Naruto balik bertanya, dengan menaikan segaris alisnya, suara kendaraan yang lalu lalang di depan tokonya membuatnya sedikit sulit mendengar.
"... Bawa aku ke dalam," gumam pria bersurai hitam sangat pelan.
Naruto terdiam sesaat, menatap iba ke arah pria yang berjongkok menunduk di hadapannya. "Kau tahu? Jika kau tidak keras kepala, aku akan membawamu ke rumah sakit saat ini juga," bisiknya pelan, merengkuh tubuh sang pria bersurai hitam ke arahnya.
"Jangan banyak bicara," protes pria bersurai hitam lemah. Wajahnya yang pucat kini sedikit memerah, suhu tubuhnya naik, dan napasnya terlihat kembali tidak teratur.
Naruto tidak tahu apa-apa mengenai sang pria bersurai hitam kecuali parasnya yang memukau, tetapi melihatnya kesakitan seperti itu sudah cukup membuatnya khawatir setengah mati.
"Kau bisa beristirahat selagi aku membuatkan karangan bunga pesananmu," ucap Naruto, merebahkan tubuh pria bersurai hitam ke atas sofa kecil miliknya yang terletak di sebelah meja kasir.
"Lilacs, Carnations, dan Lilies..." gumam pria bersurai hitam pelan. Kedua matanya perlahan menutup.
"Jangan khawatir, aku ingat itu," sahut Naruto tersenyum, iris birunya menatap lembut, lalu dalam hitungan detik saja, pria bersurai hitam itu sudah tertidur dengan lelapnya di atas sofa.
.
Cahaya matahari masuk melalui celah jendela, sinarnya terpantul dari arah kaca, mengenai wajah seorang pria bersurai hitam yang tertidur pulas di atas sofa.
"Lilacs, Carnations..." Pria bersurai hitam itu bergumam tidak jelas, dengkuran pelan terdengar dari mulutnya. Alisnya mengernyit, lalu kembali seperti biasa, lalu mengernyit lagi. Ia terdiam sesaat, lalu tiba-tiba saja kelopak matanya terbuka lebar. "Lilies!" teriaknya bangun dari atas sofa. "Huh?" Ia mengerjapkan matanya beberapa kali lalu mengernyit, menyadari jika saat ini ia tidak berada di kamarnya. Iris hitamnya menoleh ke kiri dan kanan mengamati. Ada banyak bunga, vas, meja, mesin kasir, jam dinding, meja kecil di sebelahnya, gelas kosong, air mineral, bungkus obat kosong, dan pria bersurai pirang yang tertidur sambil mendengkur di dekat kakinya.
"Sial..." gumam pria bersurai hitam mengusap wajahnya sambil menggeleng pelan. Ia baru ingat, apa yang sebenarnya terjadi semalam. Ia menghela napas. Sangat perlahan bangkit dari atas sofa lalu merogoh saku celana mengambil ponselnya. "Di toko bunga, ya tempat biasa," ucapnya pada seseorang dalam ponsel.
Ia kembali menghela napas, lalu merapihkan pakaian yang ia kenakan seraya melangkah ke arah meja kasir. Dari dalam dompetnya ia menarik beberapa lembar uang kertas, meletakannya di atas meja lalu mengambil rangkaian bunga pesanannya yang terlihat masih segar, tanpa ia sadari ada seutas tali berwarna emas, yang mengikatkan rangkaian bunga miliknya ke sebuah rangkaian bunga lainnya.
"Huh?" gumamnya tidak mengerti. Seingatnya semalam ia hanya memesan rangkaian bunga seperti biasa. Lilacs, Carnations, dan Lilies.
Iris hitamnya mengamati. Bunga berwarna merah, ungu, dan putih, kelopak bunganya sangat halus, bagaikan sayap kupu-kupu, dirangkai menjadi satu menggunakan seutas tali berwarna silver. Dibagian bawahnya ada secarik kertas berwarna biru tua dengan tulisan bertinta hitam. namun, belum sempat ia membaca tulisan di dalam secarik kertas itu, suara klakson mobil sudah lebih dahulu menyita perhatiannya.
Cepat-cepat ia bergegas, kedua rangkaian bunga itu ia bawa. Ketika melewati pria bersurai pirang yang masih tertidur nyenyak, niat untuk membangunkan pria itu, untuk sekedar mengucapkan terima kasih secara langsung, ia gagalkan.
.
Pria bersurai hitam menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi. Iris hitamnya menatap ruang kantornya yang terlihat sempurna. Sesekali ia menyentuh dahinya yang tidak lagi terasa seperti aspal di siang hari. Panas.
"Kapan aku meminum obat, aku tidak ingat," gumamnya pelan. "Mungkin pria bunga itu?" Ia mengedikan bahunya tidak peduli, yang terpenting kali ini ia sudah kembali sehat.
Ia merogoh saku celananya untuk mendapatkan ponsel, lalu tiba-tiba saja secarik kertas kecil berwarna biru tua terjatuh dari sakunya. Ia mengernyit, lalu memungut kertas yang terjatuh di atas lantai. "Kertas dari rangkaian bunga yang satunya?" gumamnya pelan.
Iris hitamnya mengamati, membaca kata demi kata yang tertulis di dalam kertas biru tua.
'Kau harus beristirahat lebih banyak, minum vitamin, dan banyak air mineral, isotonik lebih bagus. Bunga ini untukmu, namanya Sweet Pea, kau mungkin tidak ingat, tapi kencan semalam, aku benar-benar menikmatinya. Datang lagi lain waktu — Uzumaki Naruto.'
Iris hitamnya membulat sempurna, tangannya bergetar. Kertas biru tua di tangannya terjatuh ke atas lantai bagaikan daun yang gugur. Apa yang baru saja sepasang iris hitamnya baca, ia tidak tahu. Ia tidak ingat apapun.
"A-apa yang sebenarnya terjadi?"
.
Continued
