"Kamu tahu, barusan wajahmu itu seperti gadis SMA yang sedang jatuh cinta."
Aku semakin cemberut setelah mendengar komentar dari Sugawara yang kemudian tertawa lepas setelah melihat ekspresiku sekarang; masih dengan wajah memerah.
Kini kami berada di sebuah cafeteria di dekat area asrama putra. Sugawara yang mengajakku kesini untuk makan malam bersama. Nah, kebetulan aku juga sedang malas untuk memasak.
"Tapi, wow, aku tidak menyangka. Baru saja kamu terjatuh di Negara ini dan kamu langsung diselamatkan oleh sang Idol." Lanjutnya lagi sambil tersenyum lebar.
"Idol? Memangnya dia artis ya?" tanyaku polos. Yang ada di benakku adalah pria bersurai olive itu seorang actor atau penyanyi atau apalah itu yang identik dengan popularitas tinggi.
"Bukan artis sih… tapi dia mantan kapten tim voli yang kuat. Timku saja dulu bersusah payah untuk mengalahkan dia." Ucapnya lagi, tiba-tiba Suga beranjak dari kursinya, "Tae Ri, aku ke toilet sebentar ya!" kemudian menghilang ke dalam sebuah ruangan.
Oh, rupanya dia pemain voli? Tidak heran kalau dia punya tubuh berotot begitu.
Hmm… ngomong-ngomong soal voli, aku jadi ingat klub voli di SMA-ku. Dulu aku juga anggota tim voli, sudah cukup banyak pertandingan yang aku ikuti dengan posisi Libero. Yah, daripada wing spiker atau middle blocker, aku lebih prefer pada posisi Libero, entah kenapa.
Tapi, itu sih dulu. Sekarang sepertinya aku harus lebih fokus dengan mata kuliah, aku tidak boleh menyia-nyiakan beasiswa ini.
Selagi aku bengong sambil menopang dagu, tiba-tiba mataku menangkap sosok yang baru saja aku temui tadi siang.
"Ah…" ia menaikkan kedua alisnya tepat saat mata kami bertemu.
"Kamu kan yang tadi tersesat di kampus!" seru laki-laki tinggi tersebut sambil menghampiri meja tempatku duduk, "Aku tak menyangka kita bertemu lagi. Namaku Reon, Reon Ouhira."
"Ah, terimakasih yang tadi siang, aku benar-benar tersesat mencari gedung asrama hahaha," balasku dengan tawa kikuk sambil menggosok belakang leherku, "Namaku Park Tae Ri, panggil aku Tae Ri."
"Oh, kamu bukan orang Jepang?"
"Yah, aku anak rantau dari Korea Selatan, hahaha."
Selagi aku dan Reon asyik mengobrol, Suga datang dan menarik satu bangku disebelahku untuk duduk, "Ah ternyata ada Reon-san. Selamat malam." kemudian menyapa Reon, sepertinya Suga dan Reon sudah saling kenal. Sedangkan Reon membalas sapaan Suga dengan jawaban simple, "Yo!"
"Kalian mahasiswa tahun pertama ya, kalian ambil fakultas apa?" tanya Reon begitu pesanan kami datang (entah sejak kapan Reon memesan makanan di meja ini). Suga meminum jusnya sedikit kemudian menjawab; "Aku ambil fakultas Kriminologi. Bagaimana denganmu, Tae Ri?"
"Oh, aku ambil Komunikasi," balasku pada Suga dengan mulut yang penuh dengan nasi, syukurlah mereka menjual Dolsot Bibimbap; satu-satunya masakan Korea yang ada di daftar menu cafeteria ini, "Fakultas apa yang kamu ambil, Reon-ssi?"
"Sama dengan Sugawara; aku ambil Krimonologi. Tapi aku mahasiswa tahun kedua." Jawab laki-laki tinggi berkulit gelap tersebut, aku yakin dia blasteran antara Jepang dan Amerika Negro.
Beberapa menit kemudian, tidak ada yang berbicara diantara kami bertiga, semuanya fokus pada makanan masing-masing sampai aku menyadari sesuatu yang janggal di meja kami, "Suga, itu makanan untuk siapa?" tanyaku sambil menunjuk semangkuk ramen di sebelah Reon.
Namun rupanya, bukan Suga yang menjawab pertanyaanku, melainkan Reon, "Itu milik temanku, dia masih dalam perjalanan kesini. Dia juga mahasiswa baru disini."
Tapi, wow, panjang umur, sepertinya orang yang baru saja dibicarakan Reon muncul. Orang itu menarik bangku yang berada di seberangku –tepat didepan mangkuk ramen tersebut, "Yo, Reon! Makasih sudah memesankan makanan untukku!" seru laki-laki berambut merah tersebut, sedangkan Reon hanya mengacungkan sebelah ibu jarinya sebagai respon.
"Oh, kau yang waktu itu ada di tim Karasuno kan?" sekali lagi, laki-laki berambut merah itu berbicara. Suga hanya mengangguk sembari senyum atas pertanyaan laki-laki tersebut. Sampai laki-laki itu menoleh kearahku.
"Sepertinya ada orang baru disini," ucapnya lagi sambil menyeringai, kemudian menyodorkan tangan kanannya padaku, "Satori Tendou, sama sepertimu aku juga mahasiswa tahun pertama, fakultas Komunikasi."
Aku mengembangkan senyumku, maksudnya supaya terlihat lebih ramah gitu, kemudian meraih tangan Tendou untuk bersalaman, "Park Tae Ri, fakultas Komunikasi, tolong panggil aku Tae Ri."
.
Setelah berpisah dengan Reon di gerbang utama komplek asrama putra, kami bertiga berjalan menuju gedung asrama D; gedung asrama untuk mahasiswa baru. Hening, tidak ada yang berbicara diantara kami sampai akhirnya Suga yang angkat bicara duluan.
"Masih memikirkan pangeran penyelamatmu, Tae Ri?"
Seketika wajahku terasa panas begitu mendengar kata 'pangeran penyelamat' yang diucapkan Suga. Memang sih, sedari tadi aku terus teringat pada laki-laki tinggi bersurai olive itu. Aku ingin tahu namanya, dia semester berapa, atau dia jurusan apa, atau mungkin… statusnya?
"Sepertinya aku ketinggalan sesuatu." Komentar Tendou yang berjalan disebelah kananku, sedangkan Suga hanya tertawa kecil.
"Kau tahu, Tendou-san, mantan kapten tim Shiratorizawa telah berhasil mencuri hati teman baru kita." Ucap Suga sambil melirik kearahku. Awalnya Tendou tidak mengerti, namun akhirnya ikut menyeringai juga saat tahu siapa orang yang Suga maksud.
Stay cool, Tae Ri!
Tapi gagal. Wajah dan telingaku semakin panas.
"Seriusan?" tanya Tendou dengan senyum lebar, "Bagaimana ceritanya kamu bisa bertemu dengan Ushijima?"
Ushijima? Jadi laki-laki itu bernama Ushijima?
"Yah… begitu deh." Jawabku alakadarnya, harga diriku bilang lebih baik jangan ceritakan kisah cintaku yang lebay itu pada orang asing. Masih dengan wajahku yang memerah.
Tunggu? Apa tadi aku bilang 'kisah cinta'?
Yah, bisa jadi.
Tendou kemudian bersiul sedikit, kemudian lanjut berbicara, "Beruntung sekali si Ushijima itu disukai oleh laki-laki berwajah manis seperti Tae Ri!"
Heee? Manis dia bilang?
"Memangnya kalian tidak merasa… jijik… 'gitu padaku?" tanyaku pelan, "Maksudku, aku gay dan menurutku itu termasuk penyimpangan sosial."
Hening sebentar. Namun tiba-tiba sebuah lengan merangkul bahuku.
"Kamu tahu, laki-laki kalem bernama Sugawara Koushi yang ada di sebelahku ini bahkan sudah berpacaran dengan kapten tim nya sendiri." Mendengar ucapan Tendou, Suga hanya bisa nyengir sendiri, "Ya gitu deh." timpal Suga.
"Kamu saja yang belum pernah melihat pasangan gay paling ekstrim di komplek asrama kita."
"Siapa?" tanyaku penasaran. Tak terasa kini kami bertiga sudah berada dekat dengan pintu kamarku.
"Nanti kamu pasti tahu," jawab Suga dengan senyum penuh misteri, kemudian menghilang kedalam pintu kamarnya setelah berbicara; "Aku masuk duluan ya, sampai jumpa besok!"
Aku cengo sebentar di depan pintu kamarku, kemudian menoleh pada Tendou yang juga berada di sebelahku, "Apa yang kamu lakukan disini, Tendou-ssi?"
"Kamu sendiri, ngapain di depan pintu kamarku?"
"Ini pintu kamarku, Tendou-ssi."
Hening lagi, tidak ada suara apapun kecuali suara kucing yang memekik karena dilempar sepatu.
Kami berdua sama-sama menatap kedua tangan kami yang sudah memegang kunci kamar yang diarahkan pada lubang kunci.
"Ya ampun! Ternyata aku sekamar dengan seorang flower boy!" seru laki-laki kurus di sebelahku sambil membuka pintu kamar dan menyeretku kedalam.
Setidaknya pertanyaanku tadi siang sudah terjawab; teman sekamarku adalah laki-laki berambut spiky berwarna merah bernama Satori Tendou. Semoga dia bukan orang yang menyusahkan.
.
.
.
Chapter 2 sudah update~!
Terimakasih bagi yang sudah membaca fanfict gak jelas ini. Silakan review bagi yang berkenan!
See you~
