Pria berjas hitam itu berjalan di antara pria berjas lainnya yang mengikutinya dari belakang. Wajahnya diangkat dengan angkuh dan matanya menatap remeh. Yah, dia memang patut untuk menyombong.

Perkenalkan, Kim Namjoon. Seorang CEO yang memiliki pekerjaan sampingan rahasia, ketua gangster elit. Tenang, pekerjaan sampingannya tidak sebejat itu, dia melindungi orang yang membayarnya. Yah, seperti agensi untuk bodygard, hanya saja tidak seperti itu. Sulit untuk dijelaskan.

"Tuan RM."

Tubuh Namjoon sedikit membungkuk, wajar, orang di hadapannya memikiki jabatan setara dengannya. "Tuan Kim."

"Silakan duduk."

Namjoon membenarkan letak maskernya sebelum akhirnya menempatkan bokongnya di atas sofa empuk. Identitasnya tidak boleh diketahui, karena itulah dia memakai nama samaran dan masker setiap bertemu dengan kliennya.

"Ada apa kali ini?" sebelah alis Namjoon terangkat. Tuan Kim di hadapannya ini adalah orang yang paling sering menggunakan jasanya, membuat Namjoon kerepotan mencari anak buah baru karena dalam sekali transaksi dia memesan sepuluh orang sekaligus. Maklum, pencari uang penyayang keluarga. Lagipula, uang yang Namjoon dapatkan membayar semua kerja kerasnya.

"Anakku."

Kepala Namjoon mengangguk-angguk pelan. "Aku mengerti. Berapa orang? Seperti biasa? Lebih banyak?"

"Kau."

Permintaan yang tidak biasa, tapi Namjoon tidak terkejut. Sudah ada banyak orang yang meminta hal seperti itu padanya, tapi selalu untuk melindungi diri mereka sendiri. Kabar bahwa dia menguasai taekwondo, karate, jiu jitsu, dan aikido menggoda banyak orang yang haus perlindungan. Sayang sekali pekerjaan CEO nya tidak bisa ditelantarkan.

"Maaf, ta-"

"Anakku.. anak bungsuku, satu-satunya pangeran bagiku, permata hidupku. Lee Jaehwan mengincarnya, bukan hanya hartaku tapi juga putraku. Dia orang bejat, aku tidak ingin putraku jatuh ke tangannya." terdengar sangat putus asa, Namjoon sedikit tersentuh. Belum lagi mendengar nama Lee Jaehwan, kesempatan untuk membalas musuh.

"Tolong tuan, akan kubayar berapapun asalkan kau yang menjaga putraku." pria tua itu berlutut di bawah kakinya.

Beberapa pemikiran masuk ke dalam otak Namjoon. Ini tawaran menggiurkan baginya. Membalas Lee Jaehwan, bayarannya.. sayang untuk dilewatkan.

"Baiklah. Akan kutangani putrimu, berhubung aku menyimpan dendam untuk si keparat Jaehwan itu."

Tuan Kim langsung berdiri dan membungkuk padanya berkali-kali seraya berterima kasih. Dia merasa seperti dibangkitkan kembalidari kematian. "Terima kasih tuan." si tua berlari ke mejanya dan mengambil lembaran cek dari laci. "Berapa yang kau mau?"

"Ahah.." Namjoon bangkit dari duduknya dan menghampiri Tuan Kim. Dia menyeringai. "Ini kasus yang spesial, tentu bayarannya sangat mahal."

Tuan Kim mengangguk cepat. "Separuh yang kumiliki." pena ditangannya hampir menggores cek saat tangan Namjoon menahannya.

"Putramu. Aku ingin putramu bungsumu itu."

"A-apa?"

Tangan Namjoon bergerak membuka maskernya. "Kau bilang putramu itu permata hidupmu bukan? Itu lebih berharga dari uang."

"K-Kim Namjoon?"

"Salam, calon ayah mertua."

.

.

.

Malam itu adalah malam paling tenang yang pernah Seokjin alami. Belum lagi bulan menampakkan seluruh tubuhnya dan bintang-bintang muncul menemani bulan. Seokjin penggemar astronomi, karena itu dia sangat kesal saat ibunya memanggilnya yang jelas sekali sedang sibuk dengan teleskopnya.

"Ayah pulang cepat, kita harus makan malam bersama." ucap ibunya ketika dia bertanya.

Seokjin tidak pernah menyukai ayahnya. Bukan ayahnya sebenarnya, lebih kepada pekerjaan ayahnya. Ayahnya tidak datang saat dia diberi penghargaan atas penemuan planet barunya. Ayahnya tidak datang saat peresmian nama planetnya. Bahkan ketika dia menemukan bintang baru bulan lalu ayahnya hanya mengirim karangan bunga. Itu lebih buruk daripada tidak datang sama sekali bagi Seokjin, karena itu menyisakan kenangan menggantung.

Walaupun Seokjin tahu bahwa ayahnya sangat menyayanginya. Dia tahu setiap malam ayahnya akan masuk ke kamarnya. Membelai kepalanya dan memberi kecupan selamat malam di dahinya. Seokjin tahu itu, karena dia tidak pernah benar-benar tidur saat ayahnya belum memberikan itu semua. Bisa dibilang dia tidak bisa tidur jika belum mendapat semua itu dari ayahnya.

"Kau sudah mengerjakan pekerjaan rumahmu?" suara ibunya terdengar ke ruang makan. Seokjin menatap malas ibunya yang sibuk di dapur dan mengangguk.

Tangannya mengetuk-ngetuk meja makan. Kesabarannya terkikis seiring detak jam berlalu. Bagus sekali, sudah setengah jam. Jika saja malam ini langit tidak sempurna untuk mengeluarkan teleskopnya, maka Seokjin tidak akan marah.

"Ibu, kapan ayah datang, aku harus-"

"Dimana kesayangan ayah?"

Wajah Seokjin memerah seketika. Bukan masalah jika hanya ada keluarganya di sini, tapi ayahnya membawa orang lain di belakangnya.

"Uhh, diamlah ayah."

Ibunya meletakkan hidangan terakhir dan duduk di sebelahnya. "Sst, tidak boleh seperti itu pada ayahmu."

Seokjin mencebikkan bibirnya. Namjoon yang melihat itu terkekeh diam-diam.

"Ayah, siapa itu?"

"Seokjin-"

"Ah, tidak apa nyonya." Namjoon tersenyum ramah. "Hai Kim Seokjin, aku Kim Namjoon, calon suamimu."

Tangan Seokjin yang baru bergerak mengambil piring tertahan.

.

.

.

TBC

Wkwk, ngga jelas banget ya.

Rencananya mau update seminggu sekali, nanti kuusahain :)

Maaf kalo ada typo :(

Makasih banyak buat yang baca :)

Have a nice day! Peace.