Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, saya hanya pinjam saja.
.
.
Stop it!
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
Stop it! by authors03
Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata
Romance\Drama
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 2
.
.
.
"Menyebalkan!" Hinata keluar dari toilet dengan seragam yang telah rapi menempel di badannya yang sudah mengering.
"Aku tak akan melepaskan gadis sialan itu jika dia berani menampakkan dirinya lagi." Hinata melangkah pergi menuju gerbang.
Braackk!
"Iitaai!"
"Woi! Kau letak dimana matamu?!" lototan Hinata berikan setelah menarik kerah baju gadis yang baru saja menabraknya. Membuat gadis itu menghadapnya.
"Ma-maaf, aku sangat terburu-buru."
"Kuperingatkan untuk jangan bertingkah lagi, Karin."
"Ayolah Naru, dia duluan yang mencari gara-gara." Karin membela diri.
"Aku melihat kau yang mencari gara-gara di kelas tadi."
"Aku hanya bercanda tadi." Naruto melangkah pergi dan Karin langsung mengekori.
"Candaanmu tak lucu."
"Brengsek."
"Iitai!" gadis tadi tersungkur ke tanah karena Hinata mendorongnya kuat.
Tanpa sepatah kata ataupun rasa bersalah, Hinata kembali melangkah pergi. Kau tahu apa yang paling menyenangkan di dalam situasi seperti ini?
Berenang, biasa itu yang akan di lakukan tapi kali ini Hinata sungguh merasa ingin makan yang banyak. Ugh! Menyebalkan! Apa tak bisa ia hidup tenang tanpa manusia-manusia brengsek?!
.
.
.
"Satu mangkuk lagi paman!"
"Ha'i!"
Tap!
Srruupp
Srruppp
.
.
"Satu lagi!"
"Ha'i!"
"Srruupp.." bibir mungil itu menyeruput mie ramen panjang dengan lahap. Inilah yang ia inginkan, sendiri tanpa manusia-manusia brengsek.
Mengabaikan orang asing di meja seberang yang masih sibuk membaca koran yang menutup wajahnya, Hinata terus menyeruput kuah ramen miliknya.
"Aaaahhh!!! Ramen ini sangat enak." gumannya senang sebelum kembali melahap sisa mie.
.
Sreet
"Total."
"Uhuk huk! Huk!" lancar-lancarnya makan, mie yang sudah melewati tenggorokan malah tersangkut di sana.
Tap!
Dengan segera ia meraih segelas air di dekatnya dan meneguknya habis.
"Glek glek. Hah! Hah!" what the ...???
WHAT THE HELL IS THIS?!!
"Sejak kapan kau di sana?!" tanya Hinata syok pada wajah ketua osis yang muncul dari balik koran tadi.
"Bukan urusanmu." jawab Naruto tak perduli. Ia sudah ada di sini sebelum gadis itu masuk dan duduk seperti gorila dan kemudian makan lima mangkuk ramen berturut-turut seperti singa kelaparan.
"Cih! Menjijikan." Hinata memilih mengabaikan dan menempelkan pipi ke atas lengan di atas meja setelah menyingkirkan mangkuk di depannya. Setelah kenyang, ia jadi malas untuk bergerak. Tidur di sini rasanya menyenangkan.
Ia memejamkan mata.
"Tak seharusnya seseorang pelanggan tidur di meja makan seperti itu." tegur Naruto.
"Bullshit." jawab Hinata tanpa membuka matanya.
.
"Terima kasih." Naruto berdiri setelah menerima uang kembali. Niatnya ingin melangkah pergi tapi
Ccit
"Aaahh!!"
Braackk!
Priaang!
Byyuur
"Kyaaaaaahh!!" Hinata berdiri dan memekik histeris saat air hangat tiba-tiba menyiram punggungnya.
"Apa-apaan ini?!" marahnya masih syok sambil menatap seorang gadis berpakaian pelayan yang sibuk memungut pecahan gelas di bawah kakinya.
"What the fuck?!" tangan mungil Hinata menyapu bagian pundak. Apa pecahan gelas tadi mengenainya?
Tek!
"Auch!" Hinata menoleh ke arah tangannya yang tergores karena menyapu pundaknya yang basah dan terasa tajam seolah terkena serpihan kaca.
"Woi sialan! Kau kalau kerja hati-hati!" dan emosinya pun meledak.
Brack!
Kakinya menjauhkan meja di samping dengan cara menendangnya. Itu sangat berbahaya! Bagaimana jika gelas kaca itu menghantamnya lebih kuat lagi?
"Ma-maafkan saya."
"Maaf?! Kau bajingan sia"
"Hentikan itu." suara dingin menyela ucapan Hinata.
"Ini bukan urusanmu sialan. Berapa kali lagi kau akan mengangguku?!"
"Lepaskan bajumu." Naruto mengubah topik pembicaraan setelah menanggalkan jaket kulit dari badannya.
"Ugh!" mengingat mungkin saja serpihan kaca tadi bisa melukainya lagi, Hinata pun menurut tanpa menghiraukan mata-mata tertuju padanya, tentu saja tak peduli. Naruto telah mengunakan jaket tadi untuk menghalangi badan bagian depannya sedangkan punggungnya tertutup oleh dinding.
Grep
"Lihat ke sana, brengsek." Hinata merebut kasar jaket di depannya dan mengenakannya.
"Aku tak niat mengintipmu." ucap Naruto yang langsung melangkah pergi, menjauh dari Hinata yang entah mengapa masih saja menatapnya dengan tatapan kesal. Seharusnya dia berterima kasih.
"Ughh!! Menyebalkan." Hinata merogoh beberapa lembar uang pecahan besar dari saku celana dan meletakkannya asal ke meja di dekatnya sebelum melangkah pergi dengan kecepatan tinggi.
.
Brackk!
Mengabaikan siapa yang baru saja ia tabrak, Hinata mendekati mobil merahnya.
"Gadis itu..." sedangkan yang di tabrak hanya bisa menggeleng kepalanya. Sungguh tak tahu diri.
.
.
.
Ceklik
20.32
"Aku pulang." Naruto menutup pintu rumah setelah masuk ke dalam.
"Naruto, selamat datang." saut seorang wanita bersurai merah menghampiri.
"Seharusnya kau makan malam bersama kami tadi."
"Hm." jawab Naruto singkat pada wanita yang adalah ibunya, Kushina.
"Tapi ibu ingin bertanya soal d"
"Hm, dia di sekolah." sela Naruto.
"Benarkah?" senyum menghiasi bibir Kushina. Dia terlihat bahagia.
"Terus baga"
"Tidak ada. Ibu, aku ke kamar dulu." Naruto berlalu pergi tanpa menghiraukan ibunya yang langsung memasang wajah kesalnya.
"Perasaan aku tak sedingin itu waktu masih remaja..." gumannya aneh.
"Sungguhkah dia anakku?" siapa tahu saja dia tertukar saat di rumah sakit dulu?
.
.
.
Sementara di sisi lain, di kediaman Hyuuga.
"Kau darimana dan kau memakai jaket siapa?" bukan sapaan tapi pertanyaan Hinata yang hendak masuk ke kamarnya dapatkan.
"Bajuku basah jadi seseorang meminjamkan jaket ini." jawabnya jujur.
"Kau yakin kau tak berkelahi dengan seseorang lagi?" pertanyaan yang terdengar seperti tuduhan untuk Hinata.
"Mengapa kau tak percaya padaku?!" suara Hinata naik satu oktaf. "Aku bilang bajuku basah dan seseorang meminjamkan jaket ini." jelasnya.
"Menurutmu kapan terakhir kali orang mau membantumu dan kau memintaku untuk percaya hal itu?" Hiashi menimpal. Bukan ia tak mempercayai putrinya, ia hanya khawatir. Putrinya kasar dan tak akrab dengan satu manusia pun. Itu yang ia yakini. Jadi, tak akan ada yang mau berbaik hati membantunya, kalaupun ada. Apa kalian yakin gadis ini mau menerima bantuan itu?
"Terserahmu saja, aku malas menjelaskan."
Blam!
Hinata masuk ke kamar dengan menghempas pintu.
.
.
.
.
Besok paginya.
07.21
Grep
"Wow! Apa-apaan ini? Mengapa jaket Naruto bisa denganmu?" gadis bersurai merah itu sangat sangat terkejut saat merebut jaket kulit dari tangan Hinata yang baru saja melewati ambang pintu kelas.
"Kembalikan padanya." Hinata melangkah pergi tapi gadis yang lain menghalang jalannya dengan merentangkan satu lengannya.
Tap
Hinata menepis lengan itu dengan kuat dan melangkah pergi tapi dua MANUSIA BERJENIS PEREMPUAN malah menghalang jalannya. Ya ampun, kau pasti bercanda.
"Ck ck ck. Kau sangat tak segan-segan ingin mematahkan tangan itu." gadis yang adalah Karin menggeleng pelan pada Hinata yang masih saja sama seperti semalam, kasar.
"Mungkin, setelah aku mematahkan lehermu." jawab Hinata.
"Kau kasar sekali. Padahal aku hanya bertanya soal jaket ini." Karin berucap dengan santai seolah ingin memancing emosi Hinata.
"Berhenti mengangguku, berbicara padaku ataupun menatapku. Ini peringatan terakhirku." Hinata memperingati. Jalang ini sungguh sengaja membuatnya marah.
"Mengapa aku ha"
Buk!
"Kyaah!"
Bogem mentah berakhir mulus ke pipi Karin sebelum dia sempat menyelesaikan kata-katanya.
"Kau jalang sialan! Sudah kuperingatkan untuk jangan berani mengangguku!" satu tangan Hinata mencengkram kerah seragam Karin guna membuatnya mendekat sebelum kembali melepaskan bogemnnya.
"Kau gila!" Karin memberontak saat bogem itu hampir mencapai pipinya lagi.
"Pi-pisahkan mereka!"
"Kau saja!" Bukannya membantu tiga gadis yang bersama Karin tadi malah melangkah mundur. Demi apapun, mereka bersumpah tak menyangka gadis itu akan benar-benar menghajar Karin.
"Hyuuga, Hentikan itu!" baru saja sampai di pintu kelas, tapi sang ketua osis malah dihadiahi penampakan yang sangat tak menyenangkan.
"Bisakah kau berhenti mencampuri urusanku?!" suara Hinata meninggi saat lelaki ini lagi-lagi mencampuri urusannya.
"Jika kau ingin berkelahi, jangan disini. Ini sekolah bukan tempat untukmu berkelahi."
Braack!
"Ittai!" Karin mendesis sakit saat Hinata membuangnya kesamping hingga membuatnya membentur dinding.
"Lalu apa?" Hinata berdiri tepat di hadapan Naruto dan menatapnya lantang. "Aku lebih suka menghajarmu dan dikeluarkan dari sekolah ini." lanjutnya tanpa melepaskan tatapan pada mata yang masih saja menatapnya dengan datar. Seketika saja kelas yang diisi oleh beberapa manusia berhamburan keluar, takut pada aura yang terpancarkan begitu juga dengan Karin yang terseret pergi oleh teman-temannya.
"Kau yakin ceritanya akan berakhir pada kau dikeluarkan dari sekolah, Hyuuga Hinata?" tanya Naruto tajam.
"Dimana ceritanya berakhir bukan masalah." jawab Hinata.
"Ini akan jadi terakhir kali aku memperingatimu. Hentikan ini sekarang juga atau"
"Atau apa? Sebaiknya kau berhenti mencampuri urusanku. Kalau kau ada masalah denganku, kita bisa selesaikan urusan kita sekarang juga." sela Hinata menantang.
"Berkelahi dengan seorang gadis bukan gayaku."
"Atau kau terlalu takut dikalahkan oleh seorang gadis?" timpal Hinata.
.
.
.
To be continue...
.
.
.
Bye bye semua.
Semoga suka
Chu~
