It's Never Too Late - Untuk Menyederhanakan Hidup
.
.
Meanie Fanfiction
.
.
Hal tersulit dalam hidup adalah menikmati masalah dengan cara sederhana – anonim
.
.
Mingyu menyeringai melihat pemandangan yang tersaji didepannya, seorang pemuda yang tengah duduk sendiri menikmati makan siangnya. Kantin tengah ramai karena telah masuk jam makan siang, tapi atensi Mingyu tetap terfokus pada pemuda di salah satu bangku kantin itu. Semua berawal saat pagi tadi ia diperkenalkan sebagai dokter baru di salah satu Rumah Sakit daerah Yeokso yang berada di ujung desa, tentu saja haraboeji yang menyuruhnya untuk bekerja di rumah sakit itu. Rumah sakit tidak memiliki aula sehingga pertemuan pagi tadi dilaksanakan di ruang Direktur Rumah Sakit sendiri, ruangan yang lumayan sempit dengan bangku yang minim menyebabkan beberapa orang harus berdiri cukup lama untuk menghadiri pertemuan tadi.
Mingyu ingat betul saat lelaki paruh baya yang menjadi Direktur Rumah Sakit itu masih berceramah panjang lebar tentang bagaimana hebatnya Mingyu di rumah sakitnya yang lama –entah darimana orang itu bisa tahu Mingyu pun tak peduli– pandangannya malah jatuh pada sosok yang berdiri di ujung dekat pintu masuk. Sosok dengan jas putih sama seperti yang ia kenakan, sosok dengan kacamata bulat yang memanggilnya bodoh tempo hari. Entah kenapa bertemu dengan sosok itu benar-benar membuat emosi Mingyu naik turun, mulai dari pertemuan pertama mereka yang dipenuhi dengan segala macam umpatan hingga insiden di dinding. Wajah dingin itu selalu melontarkan kalimat yang membuat Mingyu mengeram kesal, mungkin ia harus sedikit memberi peringatan pada pemuda itu.
Sosok yang sama seperti yang sedang Mingyu perhatikan sekarang ini, ia pun berjalan pelan menghampiri pemuda itu mengabaikan orang-orang yang berbisik melihat kedatangannya.
"Sangat mengagetkan bisa bertemu denganmu di sini, Jeon Wonwoo." Mingyu mendaratkan pantatnya di kursi yang ada di hadapan Wonwoo.
Wonwoo menghentikan acara makannya, sungguh ia sebenarnya tak pernah berharap untuk bertemu lagi dengan orang di depannya ini. "Berkacalah Kim Mingyu! Siapa yang baru datang dan langsung membuat kehebohan di rumah sakit sekarang ini." Wonwoo menjawabnya acuh lalu menyendokkan sup ke dalam mulutnya.
Mingyu tersenyum bangga, menoleh ke arah kanan dan memperoleh tatapan memuja dari kumpulan suster di meja seberang. "Ahh, kau iri padaku?" Mingyu mengedipkan sebelah matanya dan memberikan tatapan paling menggoda pada kumpulan suster itu. Terdengar pekikan riang dan suster-suster itu langsung heboh.
"Mereka ternyata bisa membedakan mana barang berkualitas dan mana barang rongsokan," ucap Mingyu penuh kebanggaan.
Wonwoo menoleh ke meja diseberangnya, dasar wanita kurang belaian. Ia pun mendecih pada makhluk sombong didepannya ini. "Enyah dari sini Kim Mingyu!"
Mingyu hanya menghela nafas meredam emosi, sungguh ingin sekali ia mendaratkan pukulan dan menorehkan luka di wajah mulus dokter di hadapannya ini. "Aku tak akan cari masalah denganmu Jeon Wonwoo, tapi kau harus ingat!" Mingyu berkata dalam dan mendekatkan wajahnya pada Wonwoo. "Walaupun kau dokter di rumah sakit ini, kau harus sadar kita berada di level yang sangat berbeda Jeon!"
Wonwoo terdiam menatap lekat mata Mingyu yang ada dihadapannya. Menyelami hitam yang seolah-olah menariknya masuk dan tenggelam didalamnya. Tenggelam dan mati disana.
"Dokter Kim!" seru seseorang mendekat ke arah mereka membuat Mingyu menegakkan duduknya, tanpa memutus kontak mata dengan Wonwoo. Dokter muda itu berjalan sedikit terburu ke meja yang Mingyu tempati, "Direktur mengundangmu untuk makan siang diruangannya," lanjut orang itu.
Mingyu tersenyum mendengar hal itu, "Lihatkan! Level kita benar-benar berbeda sekarang. Jadi pikirkan ulang siapa yang lebih bodoh disini Dokter Jeon," Mingyu bangkit dari duduknya dan beranjak pergi meninggalkan Wonwoo mengikuti dokter muda yang tadi.
Cih kau pikir aku peduli, gumam Wonwoo yang hanya didengar oleh dirinya sendiri.
.
.
Brukk..
Bunyi nampan yang dibanting bersamaan.
"Kau mengenalnya Wonwoo?"
Wonwoo mendongak dan mendapati dua sahabat –dari zigot sampai sekarang– berdiri dihadapannya. Mereka mendudukkan diri di depan Wonwoo.
"Kalian terlihat ingin membunuh satu sama lain," Soonyoung berujar. "Kenapa dia menghampirimu? Aku yakin kalian tak mungkin membicarakan hal sepele dengan suasana seperti tadi." Jiwa detektif lelaki bermarga Kwon itu tiba-tiba keluar. Antara detektif atau tukang gosip tidak berbeda dalam kamus Kwon Soonyoung.
"Sebentar, sebentar," lelaki lain di sebelah Soonyoung mulai berpikir. "Orang yang baru pertama kali bertemu tak mungkin saling membenci seperti itu kan?" Soonyoung mengangguk antusias. "Jangan bilang kalian pernah bertemu sebelum ini?"
Wonwoo mengangguk.
"Waaahhhh pantas," keduanya berujar heboh mendapati anggukan Wonwoo. "Kami sudah mengira sejak melihat kalian tadi hyung. Dia mantan pacarmu ya?"
Ctaak
Kepala sendok mendarat tepat di kepala Seokmin, "Dalam mimpimu Lee!" Wonwoo bersungut, darimana mereka dapat berpikir sejauh itu?
"Bisa jadi kan? Orang tadi terus memandangimu sewaktu di pertemuan, lalu barusan kalian berduaan di kantin. Kami yakin kalian pernah bertemu dulu waktu kau kuliah di kota, dan hubungan kalian tidak berjalan dengan baik. Itu bisa menjelaskan kenapa kalian terlihat saling membenci tadi, sudahlah jangan berbohong hyung," Seokmin berujar panjang lebar menghiraukan wajah cengo dari Wonwoo.
"Kalian berdua berhentilah menonton drama picisan yang ada di tv, otak kalian benar-benar sudah tercemar!" Wonwoo berujar malas, "Kami hanya tidak sengaja bertemu karena dia tamu ayahku."
Mereka ber-oohh bersamaan, "Sayang sekali padahal dia lumayan tampan, tapi masih kalah denganku," ucap Soonyoung bangga. "Kudengar dari Jihoon, Kim Mingyu itu cucu salah satu perintis rumah sakit ini. Pantas saja Direktur memujinya habis-habisan tadi pagi."
"Kau benar hyung, aku sampai kaget si pelit itu bisa memuji orang lain. Aku masih tidak terima uang lemburku ditahan gara-gara ada wali pasien yang protes langsung pada direktur."
"Jangan bilang kau bertindak bodoh lagi Lee Seokmin?" Wonwoo membeo.
Seokmin menghembuskan napas kasar, "Kalian tau Dokter Hejin kan?"
"Ya dokter wanita yang selalu mengejar Wonwoo tanpa lelah," Wonwoo mendelikkan matanya mendengar jawaban Soonyoung.
"Aku bertugas dengannya sore itu, tapi Hejin tidak datang dan baru tahu ternyata ia dokter kandungan setelah melihat pasien yang harus kami periksa. Kalian tahu kan aku buta masalah bayi dan kandungan?" keduanya mengangguk, "Aku hanya memeriksa sesuai prosedur, ketika tiba-tiba pasien itu menangis histeris ingin bunuh diri. Ia bilang ayah dari bayi itu tidak mau bertanggung jawab dan keluarganya mungkin akan membuang bayinya setelah dilahirkan. Aku sangat bingung harus bagaimana, jadi aku tenangkan dia seperti biasanya."
"Lalu?"
Seokmin bergidik ngeri mengingat jawaban pasien nya kemarin, "Ia bilang aku dokter yang baik hati, berbeda dari dokter lainnya. Ia ingin aku menjadi ayah dari bayi yang ia kandung."
Dan meledaklah tawa di meja itu, Soonyoung dan Wonwoo bahkan harus menahan sakit di pipi mereka karena terlalu banyak tertawa. Mengabaikan tatapan Seokmin yang seperti ingin melempar bom ke wajah mereka berdua.
"Yaaa hyuuuunggg," Seokmin bersungut, ini permasalahan serius tapi kedua hyungnya itu malah tertawa bahagia. "Aku tak mau nikah muda."
"Apa salahnya jadi ayah bayi itu? Kau sudah dapat anak tanpa harus lelah membuatnya Lee," Wonwoo mencolek dagu Seokmin yang ditangkis langsung si empunya.
"Memangnya hyung mau?" dan dibalas gelengan semangat dari keduanya.
Benar-benar tidak bisa diandalkan.
.
.
"Selamat datang Dokter Kim."
Mingyu disambut dengan riang setelah masuk ke ruang direktur, terlihat banyak hidangan telah tersaji di meja depan sana.
"Silahkan duduk, Mingyu-ssi," Mingyu merespon dengan segera duduk di tempat yang telah ditunjuk untuknya, terlihat dokter muda yang tadi mengantar juga ikut duduk di samping Direktur sendiri. "Langsung saja dinikmati Mingyu-ssi. Kami sangat jarang mendapat tamu kehormatan seperti ini."
Mingyu menerima uluran mangkok kecil yang disodorkan oleh dokter muda itu. Ia mulai curiga dengan suasana seperti ini, apalagi melihat hidangan mewah yang ada di hadapannya sekarang. "Apa maksud semua ini direktur?"
"Aahh tidak ada maksud apa-apa Mingyu-ssi, kami hanya ingin menyambut cucu Kim sajangnim dengan selayaknya."
"Haraboeji?" Tanya Mingyu penuh selidik.
Direktur itu berdeham pelan, menghilangkan suara serak dan nada kegugupannya. Ia pun memutar badan dan menunjuk foto besar yang tergantung di dinding depan Mingyu. Mingyu mengikuti arah pandangan itu dan menemukan foto kakeknya terpampang bersanding dengan dua foto lainnya, Mingyu baru sadar ada foto disana padahal tadi pagi ia telah masuk ke ruangan ini. "Itu Kim sajangnim, beliau salah satu perintis dari Rumah Sakit ini Mingyu-ssi. Disamping kiri ada Lee Boo Gae –itu ayahku– dan Jeon Yee Jin, mereka bertiga merintis rumah sakit ini sewaktu masih muda hingga akhirnya bisa terwujud seperti sekarang."
Mingyu menatap lekat ketiga foto yang terpampang didepannya, kakeknya pernah kesini? Lalu apa maksud kakeknya mengirim Mingyu kemari? Mengirim atau mungkin bahasa halus dari membuang Mingyu kemari.
"Ekheem Mingyu-ssi, ngomong-ngomong perkenalkan ini putraku Lee Bong Sun," MIngyu mengalihkan atensinya ke dokter muda yang langsung berdiri ketika namanya disebut.
"Lee Bong Sun imnida, mohon bimbinganmu Mingyu-ssi," Dokter itu membungkuk sopan di depan Mingyu.
"Anakku baru lulus dari luar negeri, ia belajar kedokteran di Kanada. Aku yakin kemampuannya sangat baik dibandingkan dokter-dokter di rumah sakit ini," Direktur itu menepuk pundak anaknya dengan bangga. "Kuharap kau mau membimbingnya selama disini."
Mingyu tersenyum kecut. Sekarang ia sadar situasi apa saat ini. Situasi yang biasa terjadi di dunia bisnis bahkan di dunia kedokteran.
"Hyung aku mengidolakanmu selama ini," Bong Sun berujar malu-malu. "Aku sering membaca artikel tentangmu, prestasimu selama ini sangat sempurna hyung. Kau satu-satunya dokter yang tak pernah melakukan kesalahan, kau dipandang sebagai role-model dokter masa depan bagi kami waktu mahasiswa dulu. Mendengarmu ada disini berasa mimpi bagiku hyung."
Mingyu hanya menarik kedua sudut bibirnya mendengar kalimat barusan. Sempurna ya?
Direktur itu ikut manggut-manggut mendengar ucapan anaknya, "Bong Sun juga hebat karena mengikuti langkahmu Mingyu-ssi, dia menjadi dokter idola di rumah sakit ini. tapi kurasa kemampuan Bong Sun tidak akan berkembang jika hanya belajar di desa kecil seperti ini. Mungkin jika Mingyu-ssi bersedia membawa Bong Sun ke kota besar, dia akan sangat berkembang dan menjadi dokter yang hebat. Benarkan nak?"
Bong Sun mengangguk antusias. "Aku tidak akan mengecewakanmu hyung," tatapnya penuh harap.
Ck permainan orang berkuasa, Mingyu menatap malas keduanya. Ia pun meletakkan sumpit dan bangkit dari duduknya, "Akan kupertimbangkan," tuturnya sebelum beranjak meninggalkan Direktur dan Bong Sun yang masih tak henti-hentinya membungkuk hormat dan berucap terimakasih.
"Tunggu," Mingyu menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, "Siapa nama orang yang di foto itu?" Mingyu menunjuk foto seseorang di sebelah kanan kakeknya.
"Ohh itu Jeon Yee Jin, Mingyu-ssi," Direktur itu menjawab.
"Jeon?"
"Benar Mingyu-ssi, ayah dari kepala desa disini. Bukankah cucunya juga bekerja disini Bong Sun?" Direktur itu bertanya pada anaknya.
Bong Sun mengangguk, "Anak kepala desa itu yang berbicara denganmu saat di kantin tadi hyung," Bong Sun menambahi.
"Ohhh iya, dia dokter yang sangat dingin itu kan? Aku ingat pernah bertemu dengannya dan hanya diberi tatapan dingin. Kalau bukan anak kepala desa, mungkin sudah kupindah tugaskan ke desa seberang," Direktur itu mengeram pelan membuat Mingyu mengernyit heran.
Jeon Wonwoo? Kau benar-benar diluar dugaan.
.
.
Pria paruh baya itu berjalan dengan tergesa menuju salah satu ruangan di Rumah Sakit, terlihat beberapa orang berseragam hitam mengikuti dari belakang. Dia sedang diburu waktu sekarang karena setelah ini ia masih harus meeting dengan klien yang lain.
"Kim sajangnim ada di dalam tuan," sekretaris cantik itu berujar.
Salah satu orang berseragam hitam membukakan pintu agar pria paruh baya itu dapat masuk. Sesampainya di dalam terlihat pria lain yang sudah berumur sedang duduk di belakang mejanya.
"Aboeji?" Pria itu langsung berkata dan mendudukkan diri di depan Kim paling senior. "Apa maksud aboeji mengusir Mingyu dari rumah sakit ini?"
Kim paling senior itu hanya tertawa pelan, "Kau baru bertanya setelah seminggu berlalu?"
"Ada banyak hal yang harus diurus di perusahaan, Seungcheol bahkan sangat kewalahan. Kami harus bolak-balik ke Roma untuk bisnis. Kemana aboeji mengirim Mingyu?"
Kim paling senior bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela besar di ujung ruangan, jendela yang memperlihatkan langit kota Seoul yang sangat indah. "Hanya desa kecil di ujung sana," menunjuk pemandangan kota yang tiada berujung. "Desa Yeokso."
Pria di belakang membelalakkan matanya kaget, "Desa Yeokso? Desa asal ibu Mingyu?"
Dan Kim paling senior hanya membalas dengan senyuman penuh arti.
.
.
Mingyu berjalan santai menikmati angin malam di desa Yeokso sekarang ini, di atas nya langit malam terlihat sangat cerah menampilkan ribuan bintang bertaburan. Ia meregangkan pelan bagian atas tubuhnya menimbulkan beberapa bunyi krek dari pergerakan itu. Tubuhnya pegal sekali setelah mengurus beberapa hal di rumah sakit, belum lagi ada Lee Bong Sun yang selalu merecokinya. Bahkan Mingyu tak menghitung sudah berapa malam terlewati sejak ia tinggal di desa ini, tak ada satupun keluarganya yang menghubungi Mingyu bahkan sang kakak hanya beberapa kali mengirim pesan singkat. Ia membuang napas lelah.
Selama itu pula Mingyu mati-matian menghindari si mulut maut Wonwoo, ia hanya berusaha menahan agar tidak kelepasan jika berhadapan dengan pemuda dingin itu. Tapi sepertinya takdir mempermainkan mereka berdua, salahkan jadwal dari rumah sakit yang membuatnya harus bertugas bersama Wonwoo yang selalu berakhir dengan adu mulut. Sepertinya ia memang tak ada sedikitpun kecocokan dengan manusia es satu itu.
Dan salahkan juga makhluk kerdil bermarga Jeon lain yang tak kalah membuat berang dengan kemunculannya yang selalu tiba-tiba di ruangan Mingyu. Pernah sekali Jeon kecil muncul mengagetkan Mingyu dengan membawa Haru bersamanya, tentu saja Mingyu langsung menyeretnya keluar dan mengunci pintu. Hari berikutnya Bohyuk datang membawa seplastik penuh berisi belalang sembah, Mingyu yang kaget tak sengaja menyenggol Bohyuk dan alhasil ruangan Mingyu jadi berbau sangat tidak enak. Bahkan Mingyu ingat ia harus menghabiskan lebih dari 2 jam untuk menangkap kembali semua belalang yang dibawa Bohyuk dan ia harus berendam semalaman untuk menghilangkan bau yang menempel di badannya.
Sepertinya adik kakak Jeon itu sangat memberikan dampak buruk untuk kejiwaan Mingyu, mulai sekarang ia harus benar-benar menghindari mereka berdua. Mingyu meyakinkan diri sendiri.
"Mingyu hyuung!"
Dan tuhan pun mempermainkan Mingyu lagi bahkan sebelum ia menyelesaikan lamunannya.
Mereka berdua datang beriringan dari belakang Mingyu, dengan popsicle di masing-masing tangan. "Hyung baru pulang?" si kecil bertanya dengan riangnya, "Ayo pulang bersama hyung!" dan Bohyuk melangkahkan kakinya bahagia di depan Mingyu.
Mingyu membuang napas kasar dan mulai berjalan lagi. Diliriknya pemuda disampingnya, masih sibuk menikmati popsicle yang ada di tangannya. Ekspresi yang masih sama seperti biasanya, menatap tajam ke arah depan, "Hei Je.."
"Jangan berbicara denganku Kim Mingyu," pukulan telak dari Wonwoo bahkan sebelum mulut Mingyu terbuka sempurna. Mingyu membuang muka geram sendiri.
"Mingyu hyunng! Wonwoo hyung!" Bohyuk berteriak kencang dari pertikungan jalan di depan mengagetkan keduanya. Wonwoo langsung merespon dengan berlari cepat kearah adiknya diikuti Mingyu dibelakang.
"Apa yang terjadi?" Tanya Wonwoo dengan nada khawatir pada adiknya yang tengah berdiri bersama seorang anak laki-laki yang sedang menangis keras disebelahnya.
"Hyung hiks.. Selamatkan ayah hiks.." Air mata membanjiri wajah anak kecil di depan Wonwoo, "Ayah terjatuh dari tempat tinggi hiks...hiks.. Ta.. Tapi ayah tak bangun-bangun padahal aku sudah memanggilnya hyung," diusapnya ingus dengan bajunya yang sudah lusuh. "Bohyuk bilang hiks.. hyung bisa menyelamatkan ayahku.. hiks.."
Wonwoo terkejut dengan penuturan bocah didepannya ini, ia menatap Mingyu yang ada disampingnya. Dapat dilihat kekagetan yang sama pada wajah idiot Mingyu, "Dimana ayahmu?" Tanya Wonwoo pada akhirnya.
Bocah itu mengusap pipinya kasar, menghalau air mata yang mengalir terus menerus. "Kesini hyung hiks.." tunjuk nya.
Mereka berlari kecil menuju tempat yang ditunjuk anak kecil tadi, sebuah bangunan berlantai 2 yang masih dalam pembangunan. Di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh sinar bulan terlihat seseorang yang terbaring lemah diantara tumpukan bahan bangunan yang berserakan.
"Oh Tuhan," teriak Wonwoo.
Mingyu dan Wonwoo langsung berlari menuju sosok yang terbaring lemah dengan nafas pendek-pendek disana, "Apa yang terjadi padanya?" Tanya Wonwoo entah pada siapa. Mingyu mulai mengamati orang di depannya dan merobek cepat pakaian atas orang yang tersengal-sengal itu.
"Apa ayahmu pernah jatuh sebelum ini?" Mingyu bertanya dengan nada cemas.
Anak kecil itu mengangguk.
Wonwoo melayangkan tatapan tanya pada Mingyu, " Ada riwayat jatuh dari ketinggian sebelumnya, dan kemungkinan sekarang dengan posisi bahu lebih dulu. Kau bisa lihat tulang selangkanya patah," tunjuk Mingyu pada bagian kanan leher yang berwarna merah.
Wonwoo mengamati lebih jelas, "Kau benar, tulang selangkanya patah, bahu merenggang menyebabkan tekanan di paru-paru hingga membuat nya kesulitan bernapas. Kita harus segera melakukan operasi sebelum napasnya benar-benar habis."
Mingyu bangkit mengambil telpon genggamnya, "Aku akan menghubungi rumah sakit sekarang."
Wonwoo mengangguk. Dielusnya rambut anak kecil tadi dan Bohyuk disampingnya, entah apa yang terjadi Bohyuk jadi ikut-ikutan menangis. "Ayahmu akan baik-baik saja," ucap Wonwoo menenangkan, diusapnya lembut air mata dari kedua anak kecil didepannya.
"Shiitt!" Wonwoo menengok ke arah Mingyu yang barusan mengumpat kasar, Mingyu menghampiri Wonwoo dengan wajah yang sulit diartikan. "Satu-satunya ambulance yang kalian miliki sedang menuju ke kota, mereka sedang mencarikan kendaraan untuk menjemput kita!"
"Sudah berapa lama ayahmu berbaring seperti ini?" Wonwoo bertanya pada anak kecil di depannya.
"Satu jam mungkin hyung.." tak lupa diselingi bunyi ingus yang ditarik masuk ke dalam hidung.
Wonwoo gusar, ditatapnya pria yang tergeletak lemah didepannya. "Tak ada waktu lagi, kita harus segera bertindak. Kau dengar suara napasnya? Denyut jantungnya mulai melemah dan badannya mulai dingin, kita tak bisa hanya menunggu jemputan dari rumah sakit." Wonwoo menghela napas, "Ada klinik di depan, walaupun sudah tutup kita masih bisa mendobraknya dan.."
"Tunggu dulu," Mingyu bangkit, perasaannya tidak enak. Ditatapnya Wonwoo yang masih duduk, "Jangan bilang kau akan melakukan operasi di klinik yang kau sebut barusan?"
"Bukan aku tapi kau Dokter Kim!" Wonwoo menjawab cepat.
Mingyu membelalakkan matanya kaget, "Tidak!" tolaknya mentah-mentah. "Aku tak bisa melakukan operasi ini, terlalu beresiko apalagi harus dilakukan di klinik. Jangan bercanda, Jeon Wonwoo!"
Wonwoo ikut bangkit, menatap nyalang pada Mingyu, "Kau masih bisa berkata seperti itu sekarang? Kau tak lihat keadaannya? Dokter dengan level sepertimu pasti lebih tahu apa yang harus dilakukan agar pasien selamat!"
Mingyu mengusap rambutnya kasar, "Tidak! Sekali tidak tetap tidak. Aku tak bisa melakukannya. Aku tak ingin mendapat table death dengan resiko seperti ini. Kita bisa menunggu kendaraan atau kau bisa melakukan operasinya sendiri!" ucap Mingyu telak.
Wonwoo mendecih memalingkan muka, "Dasar pengecut," ucapnya sangat lirih bahkan Mingyu tak mendengarnya.
"Hyuuung.. hiks kapan ayah akan bangun? Hikss.. Dia terlihat sangat kesakitan hiks.. Aku berjanji akan jadi anak baik kalo ayah sudah bangun hiks.. hiks. hikss"
Wonwoo dan Mingyu menoleh bersamaan setelah mendengar penuturan anak kecil barusan. Mereka berakhir dengan saling menatap mata masing-masing, Wonwoo menarik napas panjang dan mendekati Mingyu. Berujar pelan, "Aku tak memintamu melakukan lebih, cukup perbaiki letak tulang selangkanya agar ia bisa bernafas kembali. Cukup itu saja dan biarkan rumah sakit yang melakukan sisanya!"
Mingyu terpaku dengan apa yang dia lihat sekarang, seorang Jeon Wonwoo yang dikenal dingin tengah memberikan tatapan memohon kepadanya. Mungkin cukup gila bagi Mingyu karena ia merasa berdenyut melihat tatapan Wonwoo barusan. "Aku tid.."
"Kau bisa Kim Mingyu! Aku yakin kau bisa melakukannya. Percayalah padaku!" Potong Wonwoo.
Benarkah? Mingyu bahkan ragu pada dirinya sendiri.
"Kita lakukan bersama, kau bisa berbagi resiko denganku!" Wonwoo meyakinkan kembali.
Mingyu berpikir keras, menimbang banyak hal. Ia sadar betul pasien tidak akan bertahan lama jika paru-paru terus mendapat tekanan seperti itu. Ditatapnya bergantian antara Wonwoo dan sosok yang tergeletak lemah di lantai. Apa boleh ia mempercayai orang ini? Orang yang bahkan ingin ia hindari selama ini? Satu-satunya orang yang bisa membuat emosi Mingyu labil seperti saat ini.
Mereka terdiam cukup lama. Wonwoo masih setia menatap mata Mingyu langsung.
"Baiklah," putus Mingyu pada akhirnya setelah duel panjang dengan ego yang dalam dirinya sendiri.
.
.
Mingyu datang dengan otak yang masih berkecamuk setelah mensterilkan kedua tangannya, antara ya atau tidak untuk melanjutkan operasi darurat ini. Waktu sudah terbuang cukup lama setelah tadi mereka harus membuat tandu darurat dari kayu-kayu yang berserakan dan insiden pendobrakan pintu klinik yang sangat tidak Mingyu sekali. Dan selama itu pula Mingyu tak pernah berhenti berharap mobil jemputan dari rumah sakit segera datang, tapi sepertinya harapan itu tinggal harapan melihat sekarang ia sudah diambang ruang operasi. Hal yang menguntungkan adalah klinik ini memiliki peralatan standar yang bisa digunakan walaupun itu sangat tidak lengkap sekali.
Terlihat Wonwoo didepan berjalan ke arah Mingyu,lengkap dengan sarung tangan, masker dan celemek berwarna putih ditangannya. "Aku tak bisa menemukan setelan operasi, kau bisa membuka tanganmu!" ucapnya didepan Mingyu.
Mingyu merentangkan tangannya, dan Wonwoo dengan cekatan memakaikan celemek itu di badan Mingyu, mengikatkan tali di belakang pinggangnya. "Kau yakin akan melakukan ini?" tanya Mingyu ragu. "Ruangan ini terlalu gelap, aku tak yakin bisa melihat hanya dengan lampu di atas itu. Seharusnya pasien juga di rontgen terlebih dahulu, aku berasa buta dengan apa yang harus kubedah sekarang ini."
Wonwoo datang ke depan Mingyu, meraih tangannya dan menggulung baju Mingyu hingga ke atas lengan. Mingyu tak bisa membaca ekspresi wajah Wonwoo yang ada di depannya ini karena tertutup masker. "Berhenti berfikiran yang macam-macam!" ucap Wonwoo, diangkatnya tangan kiri Mingyu –Wonwoo tahu jika Mingyu itu kidal– "Berfikirlah yang sederhana Kim Mingyu! Kau hanya perlu menggunakan tangan ini seperti yang biasa kau lakukan dan selamatkan hidup orang yang disana!"
Mingyu menatap tangannya yang dipegang erat oleh Wonwoo, dan beralih ke pasien di depannya, ia menghela napas. "Kau percaya padaku?"
Wonwoo mengangguk cepat, segera memakaikan sarung tangan operasi di kedua tangan Mingyu. "Jika aku tidak percaya, aku sudah kabur meninggalkanmu sejak awal." Mingyu mendengus mendengarnya. "Kita tak punya banyak waktu, pasien sudah hampir pingsan sedari tadi!"
Mingyu memantapkan hatinya, "Kau siap?"
Dan Wonwoo menjawabnya dengan anggukan kepala yakin.
.
.
Mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar, operasi tadi sungguh membuat keduanya berkeringat dingin. Semua berjalan lancar walaupun pasien sempat shock di tengah jalannya operasi membuat Mingyu ketakutan setengah mati, beruntung Wonwoo dengan cekatan menyuntikkan obat penenang dan pasien kembali tenang. Jantung Mingyu ikut bekerja sangat keras selama jalannya operasi.
"Hyuung!" seseorang dengan setelan dokter lengkap menyambut mereka setelah keluar dari ruang operasi. "Maafkan aku, ambulance pergi dan aku harus mengelilingi seluruh rumah sakit mencari mobil untuk menjemput kalian. Bagaimana keadaan pasien?" lelaki itu bertanya pada Wonwoo.
"Pasien sudah stabil Seokmin, kau bisa mengambilnya di dalam. Operasi Mingyu berhasil," dan lelaki bernama Seokmin itu langsung bergerak cepat bersama perawat lainnya membawa tandu ke dalam klinik.
Wonwoo berjalan ke arah dua anak kecil yang duduk manis di sudut klinik, mereka sudah tidak menangis lagi. Dielusnya rambut si kecil disamping Bohyuk, "Ayahmu sudah baik-baik saja, ikutlah ke rumah sakit dan jadilah anak yang baik mulai sekarang!"
"Benarkah hyung?" Wonwoo mengangguk, anak kecil itu segera berdiri dan memeluk Wonwoo. "Terimakasih hyung," ucapnya dengan nada harus.
"Kau harus berterimakasih pada dokter yang disana!" Wonwoo berbisik tepat di telinga si kecil.
Anak kecil itu mengangguk dan berjalan cepat ke arah Mingyu, memeluk erat tubuh tinggi menjulang di depannya itu. Mingyu yang kaget mendapat serangan pelukan itu menatap penuh tanya pada Wonwoo, dan hanya dibalas dengan kerlingan mata.
Si kecil melepas pelukan setelah dirasa cukup, iapun buru-buru merogoh kantong yang ada di celananya mengeluarkan semua yang ada dan mengulurkannya pada Mingyu. "Terimakasih dokter hyung, appa sering membayar jika pergi ke dokter. Apakah ini cukup untuk membayar hyung?"
Mingyu menerima apa yang diulurkan anak kecil itu menggunakan tangan besarnya, menatap takjub pada kepingan koin dan permen yang ia terima. Mingyu bahkan tak bisa mendiskripsikan perasaannya sendiri saat ini. Pertama kali dalam hidup ia merasakan kepuasan dan kebanggaan tersendiri setelah melakukan operasi, walaupun ini operasi kesekian kali yang pernah ia lakukan tapi ini untuk pertama kalinya Mingyu merasakan hidupnya berguna untuk orang lain. Dan ini untuk pertama kalinya juga Mingyu bisa kehilangan kontrol atas dirinya sendiri hanya dengan ucapan manis dari orang lain, berterimakasihlah pada pemuda di sudut sana yang berhasil membuat hati Mingyu berkecamuk.
Mingyu dengan tangan bergetar dan jantung yang berpacu cepat segera memeluk anak kecil di depannya, entah perasaan apa ini tapi Mingyu bahagia
"Aku akan membawa pasien dan keluarganya ke rumah sakit, kalian berdua beristirahatlah!" Dokter Lee itu berujar, "Kerja bagus Mingyu-ssi."
Mingyu yang mendengar itu hanya tersenyum kecil dan menatap mobil hitam itu menjauh dari klinik.
Wonwoo berjalan ke arah Mingyu dengan menggendong Bohyuk di depan, sepertinya anak kecil itu sudah tertidur. Ia tersenyum tulus pada lelaki di depannya, "Kau hebat Kim Mingyu," ucapnya berlalu tanpa tahu efek besar yang ditimbulkan pada lelaki yang hanya bisa mematung mendengar kalimat barusan.
Persetan dengan segala hal magis yang timbul dari mulutnya, Jeon Wonwoo itu orang yang berbahaya. Mingyu mengkhianati hatinya sendiri dengan munculnya keinginan besar untuk mendengar kalimat itu lagi dari mulut Wonwoo.
Ya Mingyu ingin mendengarnya lagi dan lagi, sepertinya level berbahaya dari lelaki bermarga Jeon itu semakin meningkat di dalam pikiran Mingyu.
.
.
TBC
.
.
*Table death : Kematian di meja operasi
Okesipp ini apaan dah, author pun bingung dengan hasil tulisan chap ini :(
Semoga tidak mengecewakan kalian :')
Noted masih sama seperti chap pertama, maafkan jika malah ga jelas dan alurnya lambat. Author hanya ingin membuat Mingyu jatuh cinta perlahan-lahan dengan Wonwoo hehee biar author juga bisa menikmatinya XD
Terima kasih buat yang sudah memberikan review kemarin. Love you all
Kritik dan saran selalu ditunggu yaaa.. Bye-byeee next chapt
