"Imoto! Hentikan kebiasaanmu melempar sendok nasi itu, nanti calon suamimu ini bisa jadi lelaki bodoh"

"Itu salahmu Shin Nii-chan, kau masih menggodaku sesudah kupukul kepalamu pakai tasku tadi"

"Ayolah, Sarada-chan~"

"Apa?!"

Mata Onyx itu menatap tajam mataku, dan lagi-lagi. Hatiku terasa tertusuk oleh tatapannya itu, entah mengapa ini sangat menyakitkan dibanding Bolt menatapku seperti ini. Ya, itupun dulu saat kami pertama kali berkencan sekitar satu setengah tahun yang lalu. Mungkin (?) Karena cukup lama, jadi ingatanku hampir tak bisa menemukan bagaimana perasaanku pada Bolt.

.

.

.

.

.

AKU BENCI PACARKU!

.

.

.

"Tadaima, apa kalian sudah makan Shin?"

Dan itulah Kaa-san, Sakura Uchiha. Seorang wanita yang pintar dan cantik. Tapi, seperti iblis jika sudah murka, menakutkan! Jadi, berhati-hatilah pada Kaa-san. dan disampingnya itu Tou-san, Sasuke Uchiha. Lelaki paling tampan, cerdas dan berbakat. Semua itu menurun padaku, kecuali ketampanannya.

"Okaeri, Sakura Baa-san. Ya, tadi Sarada memasak Kari Tomat untuk makan malam" sahut Shin sembari menyambut kedatangan Kaa-san dan Tou-san.

Sedangkan aku masih duduk di sofa dan menikmati tayangan televisi. Aku mendengar sangat jelas langkah kaki mereka menuju ruang keluarga dimana aku sedang asik menonton.

"Shin, coba perlihatkan wajahmu padaku"

Ah, gawat! Sebaiknya aku melarikan diri menuju kamarku. Tapi belum sempat aku keluar dari ruang keluarga itu..

Sret!

Kaa-san menarik tanganku hingga aku dapat jelas melihat wajahnya merah padam, bukan berarti merona ya. Melainkan tampak kesal melihat wajah Shin memar dibagian pipi, yap! Itu ulahku. Aku sangat kesal melihat dia selalu menggodaku dengan menatap tajam Onyx-ku ini. Dan sikapnya itu bisa saja membuatku menyukainya! Sial! Kenapa Shin bukan seorang gadis saja. Jadi, aku tak perlu repot-repot begini, kan?

"Apa yang kau lakukan pada wajah kakakmu ini, Sarada?!" seru Kaa-san menatapku dengan tajam.

"Aku memukulnya" jawabku dengan santai.

"Apa alasanmu?" Kaa-san belum merasa puas dengan jawabanku tentunya.

"Dia membuatku kesal"

"Memang dia berbuat apa? Meskipun dia bukan kakak kandungmu, setidaknya jangan kau semena-mena padanya begini, Sarada!" seru Kaa-san hampir memecahkan gendang telingaku.

Semena-mena? Yang benar saja, Kaa-san. Dia yang menyudutku jadi membuatnya memar begitu. Jadi, tentu saja aku memukulnya dengan kuat.

"Tidak apa-apa, Sakura Baa-san. ini tak seberapa kok, dan lagi Sarada tidak salah" ucap Shin memasang wajah malaikatnya.

"Tapi, Sarada harus mengobati memar diwajahmu itu" Kaa-san mendeath glared Onyx ku sembari menunjuk Shin dengan maksud, 'Obati dia, sana'

Aku hanya mengangguk dan mulai mengikuti langkah kaki Shin menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamarku. Aku mengambil kotak obat miliknya di atas lemari bajunya tersebut dan berjalan menghampirinya yang tengah duduk di atas kasurnya.

"Kemarikan pipimu" ketusku

"Kau kasar sekali pada calon suamimu ini, Sarada-chan" goda Shin-nii tak mematuhi perintahku.

Lagi? Yang benar saja. Dia masih mencoba menggodaku dan memegang kedua tanganku yang hendak menyetuh pipinya yang memar itu.

"Jangan macam-macam, Shin Nii-chan"

"Begitu dong" sahut Shin melepaskan genggamannya.

"Apanya?"

Sumpah! Ini udah ketiga kalinya mengatakan kata 'Apanya' dalam sehari ini. Jangan bilang perkataan Shikadai benar bahwa aku terlampau lambat tanggap. Oh, tidaakk!

"Kau tak memanggilku dengan sebutan 'Nii-chan' tadi"

"Ah maaf, sini cepat kemarikan pipimu. Biar kuobati"

Shin hanya menuruti kata-kataku tanpa protes sedikitpun, sebenarnya aku lebih suka dia menurut saat pertama kali bertemu dengannya. Daripada sekarang yang suka sekali menggodaku. Itu sangat mengganggu!

"Sakura Baa-san"

Suara sok kecentilan ala Shin Uchiha itu mengusik konsentrasiku membaca komik yang tengah ada digenggamanku ini.

"Ada apa, Shin?" sahut Kaa-san yang tengah duduk disofa bersama Tou-san.

"Boleh aku meminjam Sarada sebentar?"

Meminjam? Hey! Memang kau anggap aku barang, ha? Akhir-akhir ini aku jadi suka kesal dengan kakak angkatku ini. Sikapnya seratus delapan puluh derajat berubah semenjak.. hm? Kapan ya? Entahlah, lupakan saja. Yang terpenting itu cukup menyebalkan bagiku.

"Meminjam Sarada?" Kaa-san mengulangi kata-kata inti yang diucapkan oleh Shin.

"Ya, bukankah ini hari minggu. Aku ingin dia menemaniku berbelanja untuk tugas-tugasku di kampus"

"Ya boleh saja, asalkan Sarada mau menemanimu"

Kedua orang itu menatapku dengan sangat lama, seakan-akan berkata 'Sarada kau harus melakukannya'. Ayolah! Siapa yang tak terganggu jika dipandangi begitu terus menerus. Aku meletakkan komik yang kubaca tadi dimeja, kemudian menatap mereka kembali.

"Baiklah, hanya sehari saja"

Aku pun berjalan menuju pintu masuk rumah, namun Shin menghentikan langkahku. "Kau pergi seperti itu?"

"Memangnya kenapa? Kan hanya menemani belanja, bukannya berkencan" sahutku menaikan alis sebelah.

"Anggap saja begitu, jadi gantilah pakaianmu. Jadilah cantik untukku hari ini saja" ucapnya mendorongku menjauh dari pintu masuk.

Cih! Bolt saja tak pernah mengaturku harus bagaimana berpakaian, kenapa lelaki ini sok mengaturku sih. Aku benci diatur!

.

.

.

"Sudahkan, ayo pergi" seruku lalu membuka pintu rumah.

"Cotto matte kudesai, Imoto" ucap Shin menarik tanganku hingga kami saling berhadapan.

"Nani?"

"Sekali-kali lepaskan kacamatamu itu, matamu juga tak begitu parah untuk melihatkan"

Hee? Kacamataku? Dia malah menyimpannya dibalik jaket kulitnya itu, sudahlah hanya hari ini sajakan? Lagian aku juga bosan dirumah terus kalau hari minggu. Si pirang itu pun tak akan menemaniku di rumah, maupun mengajakku jalan keluar. Kalau pun iya, dia pasti menyuruhku untuk menyelesaikan Pekerjaan Rumah lagi, menyebalkan!

.

.

.

.

.

"Nah, sudah sampai" kata Shin membuyarkan lamunanku tentang kekesalanku terhadap si Pirang itu.

"Ini kan taman bermain, bukan pusat perbelanjaan"

"Ya memang, aku sengaja mengajakmu disini. Karena aku lihat kau sangat bosan dirumah"

Bahkan Shin lebih tau keinginanku di banding si pirang itu. Ya tuhan, sebenarnya kekasihku siapa sih? Terkadang aku malah senang orang menganggap Shin adalah pacarku, bukan karena aku suka dia. Tapi, karena aku ingin anggapan orang itu memanasi si pirang. Cih!

"Nah, kau mau naik yang mana, Sarada-chan?" Tanya Shin menarik tanganku memasuki halaman taman bermain di pusat kota.

"Hentikan panggilan itu, atau.. kupukul wajahmu lagi" ancamku sambil mengepal tangan kananku di depan wajahnya.

Sepertinya ancamanku tak mempan padanya, lihat saja ia hanya terkekeh mendengar ancamanku. Seperti tak memperdulikan ancamanku ia menarik tanganku menuju sebuah wahana bermain yang telah disediakan.

"Bianglala?"

Kenapa aku berkata seperti tak pernah menaikinya sih? Baka! Tapi, memang benar. Terakhir aku naik saat aku masih kelas 3 SD. Tragis memang, karena kedua orangtuaku cukup sibuk. Makanya mereka tak pernah mengajakku kesini setelah beberapa tahun lamanya.

"Hn! Aku dengan ada mitos disini" komentar Shin memandangi bianglala dihadapan kami.

"Mitos?" aku menunjukan wajah tak mengertiku. "Apa jika yang menaikinya akan menjadi lajang selamanya, atau mati bunuh diri begitu?"

"Pfft..!" lihat, dia menahan tawanya mendengar kata-kataku tadi. "Kau terlalu banyak menonton film horror Sarada-chan"

Aku memang sering menonton film horror, setiap hari malahan. Bukan apa-apa, aku hanya suntuk dirumah terus. Bolt sibuk dengan pacar-pacar bukunya itu, aku kekasihnya saja ditelantarkan begitu saja.

"Aku kan bertanya, makanya dijawab" sahutku memanyunkan bibirku beberapa millimeter.

"Katanya, jika ada yang berciuman di atas bianglala akan menjadi pasangan abadi" jelasnya sembari memegangi pipinya dan menggerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri. "So sweet, kan?"

Cih! Sejak kapan kakak angkatku ini menjadi seperti banci begitu. Membuatku jijik saja.

"Terus, apa hubungannya dengan kita?"

"Kita naik itu dan berciuman, lalu kita akan menjadi pasangan yang abadi" ucapnya dengan santai tak memperdulikan kata-katanya itu menyita perhatian pengunjung lain yang sedari tadi lalu lalang.

"Shin-nii hentai! Lagian kita ini bukan pasangan, melainkan adik-kakak" seruku.

"Buahahaha..!" tawanya pecah hingga aku hampir berhasil menyatukan kedua alisku.

"Kenapa tertawa?"

"Hentai? Ayolah, berciuman itu bukannya sudah biasa kau lakukan dengan si Pirang itu?" Kini pertanyaannya membuatku tak bergeming, hanya terdiam tak merespon tatapan meminta jawabanku. "Jadi, kau tak pernah berciuman dengannya?"

Dan seruannya itu membuatku tersentak kaget dengan spontan menutup mulutnya menggunakan kedua tanganku. "Kau jangan teriak-teriak! Lihat, mereka jadi memandangi kita, baka!"

"Oh, gomen" ucapnya sembari melepaskan kedua tanganku dimulutnya. "Jadi, kau benar-benar belum pernah berciuman dengannya?"

Kenapa dia mengulangi pertanyaannya tadi sih? Pake bisik-bisik segala lagi.

"Pe-pe-pernah, siapa bilang tidak" dustaku.

"Kau saja, menjawabnya tergagap begitu" kata Shin sembari menjauhkan wajahnya dariku namun tetap menatap Onyx milikku. "Sudahlah, Sarada-chan. Putuskan saja dia"

"Doushite? Kau bicara seperti itu, Shin-nii?" pertanyaanku itu memicunya untuk mendekatkan wajahnya kepadaku, sangat dekat. Jika aku salah gerak, bisa saja aku tak sengaja menciumnya.

"Tak pernahkah kau sadar Sarada" Onyx milik kami bertemu dengan mudahnya, aku tak pernah menatap mata Shin secara langsung. Ini pertama kalinya aku menatapnya secara langsung. Dan pertama kali juga aku melihatnya berwajah seserius ini. "Sebenarnya aku.."

"Hoy, Sarada..!" sebuah seruan menyentakku untuk mengalihkan wajahku dari Shin.

"Sedang apa kalian disini, Mitsuki, Inojin dan Chou-chou?" tanyaku seperti tak terjadi sesuatu.

"Harusnya kami yang bertanya begitu, Sarada" sahut Mitsuki terlebih dahulu.

"Hn! Kau selingkuh ya, Bolt pasti marah melihatmu berduaan dengan lelaki lain disaat ia sedang serius belajarnya" tambah Inojin dengan santai.

"Kau tega, Sarada. Masa' kau menduakan Bolt sih, aku kecewa padamu" sambung Chou-chou sembari mengeluarkan tisu dari sakunya dan mengelap daerah dibawah matanya yang tak basah.

"Dia bukan selingkuhanku, tapi kakak angkatku!" sahutku menegaskan.

"Ah, sou desu ka?" Tanya Mitsuki menatap Shin yang masih terdiam dibelakangku.

"Tentu saja, perkenalkan aku Shin, kakak angkat Sarada-chan" sahut Shin memperkenalkan dirinya layaknya pangeran.

Tiba-tiba saja, Chou-chou menarik tanganku agak menjauh dari ketiga lelaki disekitar kami. Aku hanya mengikuti langkah kaki gadis berbadan gempal itu tanpa mengeluarkan pertanyaan sedikitpun.

"Eh, dia benaran kakak angkatmu?" Tanya Chou-chou mengawali pembicaraan dan aku hanya mengangguk pelan. "Tapi, dia memanggilmu dengan sebutan –chan, seakan-akan kalian sepasang kekasih saja"

Dia memang bersikap begitu, agar orang disekitarku menganggapnya sebagai kekasihku.

"Itu hanya panggilan, lagian pacarku kan hanya Bolt-baka seorang" sahutku membanggakan kebodohan Bolt.

"Kau yakin? Akhir-akhir ini kau tampak renggang denga Bolt, aku mengira kalian akan putus dank au mencari lelaki yang lain" kata Chou-chou mengkhawatiran sahabatnya ini.

"Tenang saja, kesabaranku masih belum mencapai batasnya kok" sahutku seakan sebentar lagi aku akan memutuskan lelaki berambut pirang itu saja.

"Sarada.."

Kini Chou-chou menatapku dengan tatapan sangat mengkhawatirkan yang sangat menggangguku. Dengan cepat aku tersenyum dan menarik tangannya menuju tempat Mitsuki, Inojin dan Shin. "Sudahlah, ayo kita kembali"

"Kalian sudah selesai?" Tanya Mitsuki menatap kami yang berjalan mendekati mereka.

"Iya sudah, benarkan Chou-chou?" sahutku meyakinkan mereka dan Chou-chou mengangguk yakin.

"Jadi, sedang apa kau dan kakak angkatmu kesini, Sarada?" Inojin mengubah arah pembicaraan kami.

"Iya, jika kau mau kesini kenapa tak bersama Bolt saja?" tambah Chou-chou yang baru saja aku yakin kan dan ternyata sia-sia.

"Dia sedang menjalani hukuman" sahut Shin dengan santainya.

"Hukuman?" ucap serentak Mitsuki, Inojin dan Chou-chou. Aku tak ikut-ikutan.

"Iya, dia kemarin memukulku. Jadi, sebagai gantinya dia harus menemaniku ke taman bermain ini" jelas Shin tanpa merasa bersalah.

"Wah, kau juga memukul kakak angkatmu? Aku sangka hanya Bolt yang bernasib naas menerima pukulanmu" canda Mitsuki yang tak begitu lucu bagiku.

"Benar, Sarada tega sekali memukul wajah tampanku ini" ucap Shin berharap belaan.

"Hentikan, Shin-nii itu juga salahmu sendiri" elakku.

"Tapi, tak seharusnya kau memukulnya Sarada" bela Chou-chou.

"Chou-chou benar. Kau tega sekali, Sarada" tambah Inojin.

Dan mereka bertiga termakan oleh kata-kata Shin bahkan membela Shin padahal teman mereka adalah aku. Yang tega itu kalian yang malah membela dia daripada aku!

"Aku mau pulang!" seruku tak memperdulikan apa yang mereka lakukan dan katakana.

Aku hanya berjalan cepat meninggalkan mereka berempat disana. Aku benar-benar sial tahun ini, pacarku sok sibuk, teman-temanku membela kakak angkatku, kakak angkat dan orangtuaku berubah menjadi menyebalkan. Ya tuhan, apa salahku padamu? Aku hanya memukul Bolt beberapa kali karena jengkel itupun 2 bulan yang lalu. Kalau Shin-Nii itu juga karena aku kesal padanya yang selalu menggodaku akhir-akhir ini.

Jadi intinya, aku tak berbuat salah. Makanya, tuhan tolonglah jangan membuatku tambah jengkel dan membuatku memukul mereka lagi.


Update juga setelah sekian lama -_- kehabisan inpirasi buat fis yang menyiksa bathin Sarada #Apa?!-Sarada Yaa, bagaimanapun ini cerita keluh kesah seorang kekasih yang ditelantarkan pasangannya sekaligus seorang adik yang disiksa bathinnya. Jadi, maaf ya Sarada

Jangan lupa reviewnya yaa minna-san XD maaf lama update chapnya, maklum lagi insipirasi ficnya lagi habis stoknya dipasaran XD #sarap