A/N: Wah, makasih yang sudah review, yang sudah baca tapi nggak review, yang sudah baca tapi belum review, yang cuma nge-klik link tapi nggak baca, dukungan anda sangat berarti untuk saya *lho? Yah, makasih buat A.A yang sudah mereview. Penasaran? Saya akan memperkenalkan England's Theme versi boso jowo. Hayo…. Yang sudah pernah ndengerin lirik England's Theme versi Lia1291 dan Sapph pasti tahu.

Cuma bedanya, liriknya ada yang saya ganti dan saya ubah jadi bahasa Jawa. Yang mau lirik pake bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia *iniyangBIndonesiahasiltranslate-an saya, silahkan minta di review. Yang belum tahu England's theme itu apa coba buka HetaOni! England's theme adalah salah satu OST HetaOni. OK, sekian curcolan saya…, selamat menikmati fic ini…

.

Ratitya lan Sitaresmi ing Dirgantara

Story: Star-BeningluvIndonesia

Plot: Temen Author

Warning: OOC, OC, triangle Love! Slight Melayucest dan lain-lain. Typo bertaburan diangkasa(?)

Review and Flame membangun accepted

Membubuhkan England's Theme: A New Hope Reborn versi boso Jowo

.

.

.

"SUDUH BASANTA!"

.

"PEDHANG RAWI!"

.

Dua kekuatan berbeda meluncur dari sisi kiri dan kanan. Semakin dekat, semakin dekat, siap menerjang dan menghantam satu sama lain. Sang Prabu tetap diam di atas singgahsana, tak bergeming sama sekali meski melihat dua putrinya akan saling membunuh. "DUAR!" dua sinar saling bertabrakan. Dengan cepat, sinar menyilaukan menyinari ruangan itu. Arya ternganga melihat tabrakan sinar yang dahsyat itu, beberapa penjaga lain menutupi matanya dari silaunya sinar.

"Rasakan itu Sita! Pedhang Rawi-ku adalah yang terkuat! Hahahahahahaha!" kata Ratitya dengan sombongnya. Hany berpegangkan satu tangan di tongkatnya ia menembakkan sinar itu. Sedangkan Sitaresmi, ia berusaha keras untuk menahan serangan kakaknya. Wajah kelelahan tersirat dari tubuhnya. Namun matanya tetap tidak menyerah. Ia terus menahan serangan kakak kembarnya.

"Aku, ukh. Tidak akan, menyerah!" kata Sitaresmi terputus-putus. Tiba-tiba, bros berbentuk bulan sabit di kerah Sitaresmi berkilau. '! Bros itu!' pikir Ibu Pandhita. Sekelebat bayangan masa lalu melintas di ingatannya. Tentang beberapa jam sebelum sang Ratu menghembuskan nafas terakhirnya, sang Ratu memberikan kekuatan terakhirnya pada 'sang Bulan'. Dan 'sang Bulan' adalah bros yang dikenakan Sitaresmi.

Sinar perak Sitaresmi mulai mendominasi. Membuat Ratitya harus menahannya dengan dua tangan. Semakin lama semakin kuat, seiring naiknya dewi malam keatas langit. Menggantikan raja siang dan memaksanya untuk kembali ke peraduannya. "Uah!" erang Ratitya saat aki-aji 'Pedhang Rawi' miliknya bisa ditumpas habis oleh 'Suduh Basanta' milik adik kembarnya.

"Hah, hah, hah, hah, hah, hah…" suara deru nafas dua putri itu terdengar jelas. Namun baik sang Prabu maupun Ibu Pandhita tidak bergerak dari posisi semula. Keheningan memenuhi ruangan itu. "Putri Ratitya Sasangka Dirgantara. Apa kau menyerah?" Tanya sang Prabu memecah keheningan. Ratitya terdiam. Satu serangan Pedhang Rawi yang digunakannya telah merenggut habis semua tenaganya. Tak ada kekuatan untuk menyerang balik, atau kekalahan telak yang didapatkannya.

.

-Ratitya's POV-

"Putri Ratitya Sasangka Dirgantara. Apa kau menyerah?" Tanya Prabu Bagaspati Dirgantara, ayahandaku. Aku masih mengatur nafasku. Aku tidak percaya. Ia, Sitaresmi Aruna Dirgantara, saudara kembarku sendiri, mampu mengalahkanku. Disaat aku yakin aku sudah cukup kuat untuk mengalahkannya, ia mengalahkanku. 'Tidak mungkin… Ini tidak mungkin…' pikirku. 'Aku tidak terima kekalahan. Aku tidak punya kata kekalahan. Aku yang telah mendapat pelatihan militer jauh sebelum ia. Bagaimana mungkin aku bisa kalah?'

"Putri Ratitya Sasangka Dirgantara, jika kau tidak menjawab pertanyaanku, kau kuanggap menyerah." Kata ayahanda sekali lagi. Aku mendongak, melihat ke arah adik kembarku yang menumpukan sikunya ke lututnya. Ia kelelahan, aku tahu itu. Harusnya ialah yang kalah. Tubuh itu hampir rubuh. Dan aku menunggunya. "Ratitya, dengan ini kau kunyatakan–"

Bruk. Tubuh Sitaresmi jatuh, 'Sesuai dugaanku.' Kulihat Arya langsung berlari mendekatinya. "Putri Sitaresmi!" katanya. Lalu akupun menjawab pertanyaan ayahanda, "Aku tidak me–". Tiba-tiba berdiri, "Kau kuanggap menyerah. Keluarlah dari kerajaan ini karena kau tidak layak untuk memerintah." Katanya. Kedua mataku membelalak. "A-apa?" kataku. Ia menatapku, "Kau terlalu lama diam. Dan kerajaan ini tidak perlu orang sepertimu. Kau tetap kuanggap menyerah, Ratitya." Katanya sekali lagi.

Aku segera berdiri. "Ti– Aku tidak terima! Bagaimana mungkin seorang wanita lemah sepertinya memimpin kerajaan ini! Akulah! Akulah orang yang tepat karena aku lebih kuat darinya! Matahari akan selalu lebih kuat daripada bulan!" sanggahku. Aku telah berdiri. Menatap ayahandaku dengan garang. "Aku tidak terima dengan kekalahan ini! Ia!" telunjukku kuarahkan pada Sitaresmi yang sedang pingsan. "Ia tidak pantas! Ia tidak akan mampu!"

"Apa kau pikir kau bisa memerintah lebih baik darinya, hah?!" bentak ayahanda. "!" aku benar-benar terkejut. Aku menundukkan kepalaku, tak mampu menatap dua mata ayahandaku yang sedang memandangku dengan tajam. "Kau pikir kau mampu memimpin kerajaan ini jika hanya berbekal pengalaman militer? Apa kau pernah bertemu dengan semua menteri, semua utusan dari kerajaan lain? Tidak! Kau lebih mementingkan latihan! Kuat saja tidak cukup, Ratitya. Adigang dan adigung tidak akan lengkap tanpa Adiguna."

"…" aku terdiam. Mataku bergantian melihat lantai dan tubuh Sitaresmi yang dikerumuni oleh Arya, Ayahanda, dan Ibu Pandhita. Kukepalkan dua telapak tanganku, lalu berjalan pergi. Namun sebelum kututp dua pintu jati itu, aku berkata, "Suatu saat nanti, saat aku sudah lebih kuat lagi daripada ini, aku akan kembali. Pasti!" Tanpa kuketahui, Ayahanda memberikan sebuah tatapan sedih padaku dan bergumam, "Aku harap bisa memberikannya padamu, anakku, namun tak bisa…"

.

.

.


"Wah! Rumah ini masih ada!"

"RATITYA! LAMA NGGAK KETEMU!"

.

Saat seorang musikus besar kembali ke tanah airnya. Untuk mewujudkan mimpinya.

.

"Ayo, kita belajar musik bersama."

"Kau yakin akan keputusanmu?"

.

Namun, halangan dan rintangan terus berdatangan dari segala pihak.

.

"Empat biola, satu bass, 6 gitar, dan 2 ukulele hilang."

"Penyakitnya sudah sangat parah…, mungkin ia tidak bisa bertahan sampai akhir tahun ini…"

.

Akankah ia bisa melewatinya?

.

.

.

"Teruslah kejar impian kalian semua!"

.

.

.

Sekolah Musik Impian

Story and Plot: Star-BeningluvIndonesia

Starring: Indonesia (Sitaresmi), UK, Austria, Australia.

Segera di Fandom Hetalia Indonesia.


.

.

.

-Normal POV-

"Yang Mulia Tuan Putri Sitaresmi akan baik-baik saja, Yang Mulia. Anda tidak perlu khawatir." Kata Sang tabib sebelum undur diri dari kamar Sitaresmi. Sang Prabu masuk perlahan. Terus menatap satu dari dua putrinya. 'Ratih…, bisakah kau lihat mereka? Ramalan itu terjadi… Ramalan itu, terjadi pada anak-anak kita…' pikirnya. Ia menutup matanya, lalu duduk di kursi yang ada disamping tempat tidur Sitaresmi. Tangannya yang kekar mengelus wajah Sitaresmi perlahan. 'Ia sangat mirip denganmu, Ratih… Wajahnya, kekuatannya, sampai sifatnya sama denganmu. Lembut, ramah, namun tegas dan pantang menyerah..'

"Aku meletakkan beban ini dikedua pundakmu, nak. Aku berharap kau mampu menjalaninya dengan tegar. Karena masa depanmu tidak selalu lurus. Jalan yang naik, turun, berliku, bahkan jurang dan tebing terjal menunggumu. Karena itu, kuatkanlah jiwa dan ragamu, nak. Karena aku tak selalu berada disampingmu." Kata sang Prabu sebelum berdiri dan meninggalkan Sitaresmi.

"Arya," panggil Ibu Pandhita. "Ya, Ibu Pandhita?" jawab Arya. "Tolong kamu jaga Sitaresmi. Kau adalah orang yang paling dekat dengannya." Kata perempuan paruh baya itu sebelum pergi. "Baik, Ibu Pandhita." Jawab Arya sambil membungkuk dengan dua tangan didepan dada tanda hormat. Setelah Ibu Pandhita menghilang dari pandangan, Arya masuk ke kamar Sitaresmi.

"Apakah kau mencintaiku?"

'Mana bisa aku mencintaimu, Yang Mulia…' pikirku. Aku duduk di kursi yang diduduki oleh Yang Mulia Prabu Bagaspati. Mengusap wajahmu pelan, aku mengagumi kecantikanmu. Aku mengagumimu yang tetap tegar dank eras kepala untuk menyerah. Aku mengagumimu akan apapun. 'Namun, seberapapun aku mengagumimu…, aku tetap lebih mencintaimu.'

"Kau tidak boleh mencintai Sang Putri, Arya."

'Ya. Aku tidak bisa mencintaimu.' Aku hanyalah manusia biasa yang berada disini untuk menjagamu dari marabahaya. Namun tidak untuk mencintaimu. Tidak. 'Tidak akan bisa…' pikirku. Aku tak menyadari gerakanmu. Tidak sampai suaramu memanggil namaku. "Arya?" panggilmu pelan. Aku tersadar. "Yang Mulia?! A-Anda sudah sadar! Syukurlah…" kataku. Ia tersenyum.

"Kau terlihat bahagia sekali.." katanya. Aku mengangguk, 'Aku bahagia karena Anda baik-baik saja…' pikirku. Ia mencoba untuk duduk. Hah? Duduk? "Yang Mulia! Anda tidak boleh terlalu banyak bergerak dulu!" kataku. Ia tertawa, "Lalu?" tanyanya menggoda. Sial! Wajahku mulai memerah! "E-err.., ehm…" aku jadi salah tingkah. BRAK! Pintu dibelakang terjeblak keras.

"ARYA! KAU INI KUCARI KEMANA-MANA TERNYATA PACARAN DIKAMARNYA YANG MULIA! KAU TAHU AKU KELELAHAN BERKELILING KE SELURUH PENJURU KEDATHON! SIALAN KAU ARYA!" Teriak Aryo, kembaranku. Wajahku merah padam, 'Pa-pa-pacaran, katanya?' pikirku. Putri Sitaresmi langsung, kalau kata orang Elgand, face-palming.

"Maafkan kembaran saya ini, Yang Mulia." Kata Aryo sambil memberikan pandangan menusuk padaku. Putri Sitaresmi tertawa kecil. "Tidak apa-apa, Aryo. Bagaimana keadaan Desa Sidoarjo, Aryo? Sudah membaik?" Tanya Putri. Aryo menghela nafas, "Tidak terlalu, Yang Mulia. Tanggulnya hampir jebol. Rasanya, kami harus pindah lagi."

"Bagaimana denganmu, Arya? Kau belum pulang ke Surabaya hampir 4 tahun ini…" kata Putri padaku. "O-o-oh.., sa-saya tidak sempat. Yah, paling tidak, akhir bulan Besar nanti, saya akan pulang." Jawabku. Aku meliohat Aryo sekilas, dia makin tinggi rasanya. Rambut hitamnya yang pendek makin terlihat berantakan, dalam artian bagus sih.. "Hoi, ayo, melu aku. Wis suwi gak tahu latihan. Ojo-ojo sampeyan wis lali carane nggawa gaman.1" kata Aryo.

"Ojo ngenyek kowe! Ngene-ngene aku penjagane Putri! Lek aku gak ono, wah~ Masalah besar iku.2" Balasku tajam dengan bahasa orang' bawah', alias bahasa orang pedesaan. "Yo…, sopo ngerti sampeyan lali…3" kata Aryo sambil mengacak-acak rambutnya. Membuatnya menjadi lebih semrawut. "Hmm…, lek ngono aku melu, yo?4" kata seseorang dengan suara feminin yang manis. "!" aku terkejut. Ternyata Putri Sitaresmi bisa bahasa pedesaan. Padahal beliau adalah seorang putri terhormat yang akan mendapatkan tahta. "Wah~ Aku gak nyongko Putri bisa basa ngisor.5" kata Aryo sambil tersenyum.

"Ngene-ngene aku tahu mlajari basa ngisor. Masio aku teka kalangan bangsawan, aku kudhu bisa nggunakake basa sing digunakno karo rakyatku. Lek ora, bisa pecah kesatuan kerajaan iki.6" Kata Putri Sitaresmi. "…" aku diam saja. Melihat Aryo dan Putri Sitaresmi saling tersenyum hangat…, aku jadi–

"Halah~ Ojo cemburu to, mas… Aku gak bakalan seneng karo de'e. Tapi, sampeyan kudhu ngati-ati, aku wes tahu ngandhani.. Ojo ngarep dhukur-dhukur. Ngkok malah nyakitno athi…7" kata Aryo. Aku terkesiap. 'Sialan kowe, Yo… Aku wes ngerti lek awake dhewe ra biso trisno menyang de'e. Aku ngerti, tapi aku pingin ngarep barang saiki wae. Sopo ngerti de'e yo trisno karo aku.8' Pikirku. Aku menatapnya, dan dia menatapku, tiba-tiba dia berkata. "De'e gak mungkin trisno, Ya. Wis ta, saiki, mendhing sampeyan melu aku, yo? Putri, sampeyan nang kene wae, ya?9"

"Hihihi, yo, yo. Latihan sing pepak, ya.10" Kata Putri Sitaresmi. Aryo menyeretku begitu saja. Aku berusaha memberontak, namun entah kenapa dia lebih kuat. Akibat mengangkat batu berat untuk membuat tanggul, mungkin? Putri Sitaresmi juga tidak menghentikan Aryo, jadi, terpaksalah aku mengikuti Aryo sampai ke tempat latihan. Nasib, nasib…

.

.

.


Cinta..., tidak pandang bulu bukan?

.

"Kau akan menikah Frau Indonesien, Deutschland."

.

Namun, tidak selalu mulus seperti jalan raya yang baru diaspal.

.

"Katanya ada sekelompok orang yang ingin Indonesia menjadi Negara bagian ke 51-ku."

.

Apalagi saat seorang dari saudara tidak mengijinkan.

.

"Maaf kalau beta menyela. Tapi beta, beta tidak setuju."

.

Tapi, kalau sudah cinta..., mau diapakan?

.

"Aku..., tetap akan menikah dengannya. Dengan atau tanpa persetujuan Irian."

.

Walaupun harus berkorban.

.

.

A Rain of Love, For the Earth, For You chapter 3

Story and Plot: Star-BeningluvIndonesia

Starring: Germany and Fem!Indonesia

Segera di Fandom Hetalia Indonesia


.

.

.

-Normal POV-

Sitaresmi terus melangkah ke satu ruangan. Satu ruangan yang harusnya terkunci dari semua orang termasuk dia. Namun, ia harus kesana. Hanya ruangan itu satu-satunya jalan baginya untuk meringankan beban di hatinya. Banyak hal yang berkecamuk di pikirannya. Bagaimana kakaknya, kakak kembarnya, yang begitu menyayanginya dan disayanginya tiba-tiba membencinya dan ingin membunuhnya. Bagaimana ia melukai kakaknya dan membuatnya diusir dari Akra Badrawintang.

Ia akhirnya berhenti di depan pintu dari mahoni dengan ukiran-ukiran rumit yang dilapisi emas. Borgol besi dan segel berada tepat di depannya. Dengan satu ayunan tangan, tongkat sitarsmi berada di genggaman tangannya. Setelah merapalkan beberapa mantra dengan bahasa Jawen Kuno, bahasa yang digunakan di Akra Badrawintang pada jaman dahulu kala, segel itu pun terbuka.

'Satu sentuhan lagi.' Pikir Sitaresmi. Ia menarik tusuk kondenya yang sangat tipis hingga rambutnya yang berwarna hitam legam tergerai. Dengan cekatan, ia memasukkan tusuk konde itu. Memutar-mutaranya sampai terdengar bunyi klik pelan. Borgol itu pun jatuh ke lantai. 'Sempurna.' Batin Sitaresmi. Ia lalu masuk ke dalam ruangan itu sambil menggelung rambutnya kembali.

Ruangan itu cukup besar. Namun hanya ada 3 benda di dalam ruangan itu. Sebuah harpa raksasa, sebuah siter, dan sebuah sasando. Jika dilihat baik-baik, ketiga instrumen itu terlihat biasa. Namun saat kau mainkan, atau memetik satu senarnya, kau tidak akan mendengar satu nada pun. Tidak berlaku untuk Sitaresmi.

Ia maju, mengambil salah satu instrumen, lalu duduk di kursi marmer di tengah ruangan. Dengan pelan namun pasti, ia mulai memetik instrumen yang ia ambil. Lembut, suara petikkan senar itu terdengar manis bagi siapapun yang mendengarnya. Tapi, tersirat perasaan sedih dan kecewa bagi siapapun yang mendengarnya dengan lebih teliti. Seakan menggambarkan awan gelap ditengah padang bunga.

Iki sing dadi akhire

Getih ngalir saderese

Amarga aku ora isa

Nghentikno perang iki

.

Sitaresmi menggumamkan lirik lagu itu perlahan. Lagu yang sedih namun sarat akan perjuangan. Perjuangan untuk menyelamatkan seseorang yang berharga bagimu.

.

Ku bakal tetep nggoleki

Arti teka pangorbanan

Dadhi'no ku satriyamu

Sing ngelindungi awakmu

Pangorbananku

.

Setetes Kristal bening menuruni pipinya. Terasa hangat, namun menyedihkan.

.

Awak ndhewe wis mutuske

Gawa gaman, maju perang

Dudhuk pingin ngalahnomu

Tapi ngelindungimu

.

Ratitya menggumamkan lirik-lirik lagu yang ia tulis dulu. Dulu sekali. Saat hubungannya dengan Sitaresmi masih sangat dekat.

.

Ku bakal tetep nggoleki

Arti teka pangorbanan

Dadhi'no ku satriyamu

Sing ngelindungi awakmu

Pangorbananku

.

Meskipun tidak dengan iringan, ia masih ingat bagaimana adiknya memainkan sasando dengan luwesnya. Mengiringi nyanyian mereka berdua. Angin dingin dari Alas Dewangkara menerpanya, membuatnya mengeratkan selendang berwarna oranye yang dikenakannya. 'Kenapa…?'

.

Ku bakal tetep nggoleki

Arti teka pangorbanan

Dadhi'no ku satriyamu

Sing ngelindungi awakmu

Pangorbananku

.

Pecahan-pecahan memori berputar dikepalanya. Ratitya yang penuh kasih sayang, selalu melindungnya, memberikan tatapan hangat dan tangan yang lembut. Namun apa? Semua itu digantikan oleh serangan-serangan mematikan, tatapan menjadi sangat dingin, dan tangan itu menghilang dari gengamannya.

.

'Kak… , apa kau sudah lupa semua kenangan itu?'

.

'Kau pikir aku melupakannya?'

.

'Kenapa kau melakukannya padaku? Apa salahku?'

.

'Entahlah. Aku pun tak tahu.'

.

'Lalu kenapa kau masih melakukannya?'

.

'Kau sudah tidak membutuhkanku lagi.'

.

'Apa itu alasannya?'

.

'Bukan. Bukan itu.'

'.

'Aku masih membutuhkanmu, tapi aku ingin jadi pahlawanmu.'

.

'Tidak. Kau tidak membutuhkanku, meskipun aku mencoba menjadi pahlawanmu. Kau pun tidak bisa.'

.

'Aku mohon, kak'

.

'Maafkan aku, Sita…'

.

Ku bakal tetep nggoleki

Arti teka pangorbanan

Dadhi'no ku satriyamu

Sing ngelindungmu

Adhikku

.

Ku bakal tetep nggoleki

Arti teka pangorbanan

Dadhi'no ku satriyamu

Sing ngelindungi awakmu

.

Samar-samar, Ratitya bisa mendengar suara adiknya, mencari. Mencari sebuah alasan mengapa ia jadi begitu membenci adik kembarnya. Kenapa? Kenapa? Ia pun tak tahu. Perasaan iri itu tumbuh dengan bebasnya. Ia tak tahu mengapa ia melakukannya.

.

'Aku tak tahu…'

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

A/N: Terima kasih atas dukungan anda semua ma'fellow author/authoress! Akhirnya chapter 2 jadi. Panjang ya? Iya… Apalagi ada lirik boso jowonya. Sebetulnya hanya iseng saja. Hehehehe… Ah, und, terima kasih untuk semuanya yang sudah baca dan review. Yang udah baca tapi belum review. Yang udah review tapi belum baca (?), yang nggak baca dan nggak review, semuanya terima kasih!

1 : Hei, ayo, ikut aku. Sudah lama tidak pernah latihan. Jangan-jangan sudah lupa cara memegang senjata.

2 : Jangan merendahkan, kamu! Begini-begini aku penjaga Tuan Putri. Kalau tidak aku, wah~ Masalah besar itu.

3 : Ya…, siapa tahu kakak lupa…

4 : Hm…, kalau begitu aku ikut, ya?

5 : Wah~ Aku tidak tahu kalau ternyata Putri bisa bahasa bawah.

6 : Begini-begini aku pernah mempelajari bahasa bawah. Walaupun aku dari kalangan bangsawan, aku tetap harus bisa menggunakan bahasa yang digunakan oleh rakyatku. Kalau tidak, bisa pecah persatuan di kerajaan ini.

7 : Halah~ Jangan cemburu, to, mas… Aku nggak bakalan suka sama dia. Tapi, kakak harus hati-hati, aku sudah memperingatkan.. Jangan berharap terlalu tinggi. Yang ada malah sakit hati….

8 : Sialan kamu, Yo. Aku sudah tahu kalau kita tidak boleh mencintai dia… Aku mengerti, tapi biarkan aku berharap barang sekarang saja. Siapa tahu dia juga mencintaiku…

9 : Dia tidak mungkin cinta, Ya. Sudahlah, lebih baik sekarang kakak ikut aku, ya? Putri, Anda disini saja, ya?

10 : Hihihi…, ya, ya. Latihan yang benar ya..

Sampeyan berarti kamu (halus) dalam bahasa Jawa. Tapi, disini, saya menggunakan kata 'kakak' karena agak aneh kalau memakai kamu walaupun dalam konteks formal. Jawen disini berarti Jawa. Lalu, semrawut, ada yang nggak tahu? OK, semrawut berarti berantakan.

Aryo = Sidoarjo

Arya = Surabaya

Tapi, Surabaya dan Sidoarjo disini berupa desa! OK! DESA! Bukan kota. Anggap aja ini kerajaan masih seperti jaman dulu yang nggak ada kota. Cuma desa besar aja. Yah, anggap saja seperti itu.

Lalu, harpa disini bukan harpa super besar seperti harpa yang ada didalam orchestra Pyotr Illych Tchaikovsky, tapi harpa yang biasa dimainkan di dalam gamelan Jawa. Harpa yang berupa kotak dengan senar-senar itu…

Ya, hanya seginilah yang bisa kujelaskan. Ada yang bisa memberi ide nama lengkap Aryo dan Arya? Mohon bantuannya…

Untuk kata-kata yang di-bold berarti diucapkan oleh dua orang.

OK, Sekian saja. Dadah! See you in 3rd Chapter!

Review?