My Immortal © atacchan

.

Harry Potter © J. K. Rowling

.

Summary : Memiliki garis keturunan vampir bukanlah hal yang mudah. Hermione terjebak lagi dalam masa-masa sulit demi menyelamatkan hidup seorang vampir. Vamfic.

.

Vampir disini mungkin tidak sama dengan bayangan kalian, saya mencoba menuliskan vampir sebagai makhluk hidup yang juga butuh sosialisasi.

.

Timeline : Tahun Ketujuh Hermione. Harry dan Ron mengikuti pelatihan Auror sebagimana di Canon. Karena Hermione mengulang tahun dia jadi satu tahun dengan Ginny.

.

Don't Like? Don't Read!

.

Second : The Truth Is

.

OoO

"Profesor, masih jauhkah?" tanya Harry sambil memandang sekeliling hutan.

"Kalau aku tidak salah, seharusnya ada disini," jawab McGonagall memandang sekeliling juga. Dia menghentikan langkah dan seolah tersadar dia mendongak.

Harry ikut mendongak. Agak tercengang sedikit dan mengerling ke arah Profesor McGonagall.

"Profesor, di atas sanakah?" tanya Harry ragu.

"Aku rasa begitu, ingatan ku tidak begitu bagus."

"Bagaimana cara kita kesana?" tanya Harry mendongak dan mengerling ke Profesor McGonagall.

"Kita penyihir Harry, kau bawa sapu sesuai perintahku kan?" tanya McGonagall.

Harry yang baru sadar, mengangguk dan membuka ranselnya. Ransel itu sudah diberi mantra perluasan sekaligus matra peringan. Dia mengeluarkan dua buah sapu yang berukir Firebolt di gagangnya.

Harry menyerahkan satu Firebolt itu kepada Profesor McGonagall. Mereka berdua mengambil ancang-ancang dan menjejak tanah.

OoO

"Jadi, kau tidak mengatakan yang sebenarnya?" tanya Blaise sambil mengernyit. Kedatangan dan pernyataan pemuda di depannya ini membuatnya mengalihkan perhatian penuh dari buku dipangkuannya.

"Ya, lagipula mereka percaya. Profesor McGonagall juga tidak menyangah sama sekali." jawab Draco sambil memainkan tongkat ditangannya.

"Tapi mereka akan tahu cepat atau lambat mate, seharusnya kau katakan saja."

"Entahlah, itu kesimpulan paling sederhana yang pernah ku pikirkan." katanya santai.

"Untung saja kau baru menginjak umur 18, umur titik balik kan?" tanya Blaise.

"Iya, saat liburan baru terasa."

"Kau mengkamuflasekan luka? Bekas gigitan? Bagaimana kau membuatnya?" tanya Blaise beruntun.

"Satu-satu Blaise," jawab Draco santai. "Kita penyihir, apa gunanya tongkat? Aku hanya melukainya dan membuatnya seperti bekas gigitan. Sederhana,"

"Yeah sederhana," tekan Blaise pada kata 'sederhana'. "Bukunya ketemu?"

"Belum, tapi aku yakin ada di bagian terlarang."

"Ya sudah, kau tidak lapar?"

"Sangat sebenarnya, tetapi kau tidak mungkin berdonor darahkan?" kata Draco.

"Mungkin saja, tapi sedikit ya. Aku tidak mau mati kehabisan darah." balas Blaise menyodorkan lengannya.

"Whoa, kau baik sekali mate."

OoO

"Kalian mau teh?" tanya Sanguini santai.

Harry menatapnya tidak percaya. Vampir menawari teh? Memangnya dia menyimpan teh?

"Boleh, jangan masukkan garam." komentar McGonagall.

"Tenang Minerva, aku sudah melabelinya sekarang. Tidak mungkin tertukar."

Tidak lama kemudian Sanguini kembali dengan 3 cangkir teh dan sepoci penuh teh. Dia menghidangkan cangkirnya dan menuangkan teh dari poci.

"Minumlah," katanya.

Mereka bertiga meneguk teh buatan Sanguini. Harry takut-takut menelan tehnya. Tehnya manis, sebagaimana teh seharusnya.

"Sudah lebih baik," komentar McGonagall lagi.

Harry memandang vampir yang dari kelihatannya seumuran Mister Weasley. Harry sempat tidak menyangka bahwa dia seumuran dengan Profesor Dumbledore –mengingat wajahnya yang masih muda- sebelum mengingat bahwa Sanguini adalah vampir.

"Jadi kau masih ingat rumahku?" tanya Sanguini.

"Well, aku sedikit ragu sebenarnya."

"Kau beruntung aku sedang ada di rumah, biasanya malam begini aku pergi," kata Sanguini.

"Kemana?" tanya Harry tanpa sadar.

"Mencari makanan nak, aku harus mencari makanan sendiri sejak perang dengan Riddle menarik perhatian Albus. Biasanya dia mencarikanku darah." katanya santai, seolah membicarakan darah sama dengan membicarakan pizza.

"Um, anda minum darah manusia?" tanya Harry. Dia benar-benar ingin tahu. Bagaimanapun juga ini pertemuan pertamanya dengan vampir, selain Draco.

"Dulu, sekarang aku lebih sering mencari darah hewan. Cukup anyir, tetapi rasanya tidak begitu buruk. Lagipula aku bisa makan pizza dan minum teh juga."

Harry mengernyit bingung dan mengerling ke arah Profesor McGonagall yang terlihat biasa saja.

"Membiasakan diri bisa mengubah seleramu," jelas Sanguini.

Harry mengangguk.

"Jadi, ada perlu apa? Aku jarang sekali kedatangan tamu."

"Muridku diserang vampir."

"Lalu? Dia sudah sembuhkan?" tanya Sanguini santai.

"Dia menjadi vampir juga," jelas Harry.

Sanguini menaikkan sebelah alisnya dan memandang mereka tidak percaya.

"Apa maksudmu?" tanyanya.

"Dia digigit vampir pihak Voldemort," jelas McGonagall.

"Tidak mungkin,"

Harry menatap wajah tidak percaya Sanguini. Sekarang giliran Harry yang menaikkan alis. "Kenapa?" tanyanya.

"Tidak sesederhana itu nak," Sanguini menuang teh lagi ke cangkirnya. "Vampir bukan wabah penyakit. Kami tidak dapat menularkan. Semuanya faktor keturunan nak." jelasnya.

Ekspresi McGonagall berubah dari datar menjadi bingung. "Jelaskan."

"Vampir awalnya lahir dari persilangan manusia dengan makhluk yang aku kurang tahu apa –tidak pernah ada sejarah lengkap tentang vampir-, kemudian mereka hidup dengan membutuhkan darah karena memiliki garis keturunan dominan dari makhluk itu. Seperti veela, mereka terlahir dari manusia yang menikah dengan peri kan?"

McGonagall dan Harry mengangguk.

"Aku juga begitu, aku lahir dari kedua orangtua yang vampir. Aku tidak tahu mereka hidup dimana sekarang. Kami cenderung berpencar, tetapi aku sering bertemu beberapa vampir. Mereka juga membaur. Untuk penyihir, umumnya vampir-penyihir lahir karena penyihir menikah dengan vampir. Perbandingan yang berimbang itu menciptakan vampir-penyihir. Keduanya dominan."

Sanguini meneguk tehnya.

"Jadi, maksud anda jika vampir mengigit manusia atau penyihir, mereka tidak menjadi.. vampir?" tanya Harry.

"Begitulah, karena kami tidak menginfeksi." terangnya. "Albus sering berbagi darah denganku dan dia baik-baik saja. Isi-isi buku mengenai makhluk sihir pada umumnya memang bertentangan dengan kenyataan aslinya. Yeah, tergantung penulisnya juga. Sayangnya vampir tidak pernah keberatan dengan kesimpulan mengada-ada yang dibuat Muggle atau penyihir, itu membuat kelompok kami semakin terlihat ditakuti dan sedikit disegani."

Harry dan McGonagall memandang Saguini dengan tatapan bingung.

"Jadi menurutmu dia berbohong?" tanya McGonagall.

"Tentu saja, dia punya darah keturunan. Ngomong-ngomong, siapa yang kau maksud?"

"Draco Malfoy,"

OoO

Hermione menulis kalimat terakhir di esainya dan esai sepanjang 2 ½ meter itupun selesai. Dia memandang esainya, mencoba mencari kesalahan yang ada –baik penulisan ataupun penjelasan-.

Tetapi seperti biasa, esainya sempurna.

Tersenyum senang, gadis Gryffindor itu menggulung perkamennya dan melangkah maju untuk mengumpulkan esainya kepada Profesor Bathsheda. Profesor itu menerima perkamennya dan tersenyum senang.

"Tambahan lima poin untuk pengerjaan yang cepat Miss Granger," komentarnya.

"Terima kasih Profesor, saya permisi," dan Hermione berlalu dari kelas Rune.

Masih ada beberapa anak disana, mereka semua menatap punggung Hermione yang berlalu. Beberapa dari mereka mendengus terang-terangan dan sisanya masih bertanya-tanya dalam hati –bagaimana dia bisa menulis secepat itu?-.

Salah satunya pemuda pirang yang juga mengalihkan pandangan sejenak dari esainya. Dia mengembalikkan fokusnya dan membolak-balik bukunya. Dia juga harus cepat selesai.

OoO

Hermione melewati koridor batu Hogwarts dan mengambil belokkan ke perpustakaan. Ada yang menganggunya dan demi rasa penasarannya yang menyeimbangi kekeraskepalaannya dia menambah cepat langkahnya memasuki pintu kayu di depannya.

Mengangguk singkat kepada Madam Pince yang memberikan anggukan sebagai izin dan Hermione berlalu ke sesi terlarang. Dia masuk ke rak ketiga dari ujung ruangan dan mengawasi sekitar. Masih sepi.

Mengumammkan mantra 'Muffliato', Hermione mencoba memfokuskan dirinya dan dia berkata dengan sedikit lantang.

"Accio buku tentang vampir!" katanya.

Tidak ada buku yang keluar dari rak. Dia mengigit bibirnya. Dia sudah mempertimbangkan ini sebelumnya. Dia juga telah memikirkan kenapa tidak ada yang menggunakan tongkat sihir selama mencari buku di perpustakaan dan yang dia ketahui semuanya hanya karena tidak boleh ada keributan di perpustakaan. Seharusnya sihir masih berlaku disana.

Hermione menghela nafas, mungkin memang tidak bisa. Hermione menelusuri rak di sebelah kanannya. Dia menggunakan tangga yang ada disana dan menelusuri rak paling atas. Dia menarik sebuah buku dan tiba-tiba dari balik buku tersebut sebuah buku melayang terbang.

Hermione menaikkan alisnya tidak mengerti dan sedetik kemudian dia melihat buku itu terbang menuju dirinya. Secara refleks, Hermione menangkap buku itu.

Dia mengembalikkan buku yang tadinya diambil dan menuruni tangga dengan buku yang keluar tiba-tiba dari rak di tangan kanannya.

Dia duduk dan mencoba mencari tahu judul buku tersebut. Tidak ada, buku itu tidak berjudul dan buku tersebut kelihatannya tidak tua atau tidak menua meskipun ditutupi debu –Hermione tidak mau ambil pusing untuk memikirkannya-.

Hermione mengumamkan mantra penghilang debu dan setelahnya buku bersampul kulit itu tetap tidak menunjukkan tulisan apapun pada sampul depannya dan disampul belakanngnya juga.

Perbedaan buku ini dengan buku bersampul kulit lainnya adalah buku ini bersampul kulit tetapi kulitnya berwarna merah kecokelatan. Hermione melupakan fakta bahwa buku itu aneh dan berpikir kenapa buku itu menerjangnya –dalam artian datang kepadanya- dan menyadari bahwa tadi dia mengumamkan 'Accio'.

Dia baru akan membuka lembar pertama saat dia mendengar langkah kaki. Hermione mencabut mantranya dan dengan tergesa-gesa mengambil tasnya dan menyeludupkan buku itu ke dalam tasnya.

"Granger," sapa seseorang.

Hermione tersentak kaget.

OoO

Draco memandang punggung gadis di depannya yang masih terdiam. Kaku. Draco tadinya mau beranjak dan bertanya tetapi si gadis keburu membalikkan badannya dan menyapanya canggung.

"Oh, hei Malfoy,"

Draco sebagai vampir-penyihir punya analisis tinggi tentang getaran suara dan dia mendapati bahwa suara Hermione bergetar. Draco menaikkan alisnya sekarang.

"Um, aku baru akan mencari buku, aku di rak sebelah sana ya," tunjuk Hermione ke rak kelima dari sudut dan berlalu cepat-cepat.

Draco makin bertanya-tanya. Insting vampirnya mengatakan ada yang tidak beres disini.

"Oi Granger," panggil Draco.

Hermione menoleh dari rak di sudut dan bertanya dari jauh. "Ya?"

Ini membuat Draco tidak nyaman. Draco berjalan mendekati Hermione dan menyadari adanya perubahan dari wajah gadis itu meski sekilas.

-wajahnya menunjukkan keterkejutan.

Padahal Draco hanya menghampirinya.

"Bukankah seharusnya aku mencari di rak ketiga sebelah kanan dan kau sebelah kiri? Kenapa langsung ke rak kelima?" tanya Draco langsung.

"Oh iya, aku lupa,"

Nada suara juga terdengar seperti nada seseorang baru saja menaruh gel hijau lengket keluaran dari Sihir Sakti Weasley ke sebuah kursi dan ketahuan, nada terkejut pastinya.

Draco menaikkan alis tetapi kembali berjalan ke rak ketiga. Pelan tetapi Draco dapat mendengarnya jelas. Hermione menghela nafas.

OoO

Mereka berjalan beriringan ke Aula Besar untuk makan malam. Kelas sore mereka hanya Rune Kuno dan sampai jam makan malam mereka tidak ada kelas. Setelah menghabiskan waktu dengan mencari dan tidak mendapatkan hasil, Draco memutuskan untuk turun.

Hermione sempat bingung sebelumnya. Draco kan vampir, kenapa Draco yang mengajakanya turun. Seharusnya Hermione kan yang mengajak Draco turun?

Hermione mengganguk singkat dan langsung berjalan menuju meja makan Asramanya. Dia duduk disebelah Ginny dan mulai mengisi piringnya.

"Mione," panggil Ginny.

Hermione hanya menggumam sebagai isyarat 'Ya?'

"Akhir-akhir kau terlihat dekat dengan Malfoy, ada apa sih?" tanya Ginny sambil menyuapkan sosis ke mulutnya.

Hermione meneguk jus labunya sebelum menjawab.

"Kami diminta oleh McGonagall mencari buku. Rahasia Gin," jelas Hermione.

Ginny mendengus terang-terangan.

"Yeah, rahasia. Kenapa orang-orang di Hogwarts suka rahasia sih?"

Hermione memandangnya tidak mengerti.

"Aku menyurati Ron dan bertanya kabar Harry, Ron bilang Harry sedang ada urusan. Saat ku tanya apa dia bilang kata Harry rahasia. Lalu aku bertanya pada Luna bagaimana hubungannya dengan Neville, lagi-lagi jawabannya hanya senyuman. Kemudian-"

"Well, Ginerva Weasley, kami bukan sedang kompak-kompaknya main rahasia-rahasiaan," tekan Hermione pada kata 'rahasia-rahasiaan'. "Kebetulan saja mungkin,"

OoO

Ginny menyuap kentang tumbuknya dan tidak menjawab.

"Aku juga akan main rahasia dengan tongkatku kalau begitu,"

Hermione memandang Ginny dengan pandangan 'maaf sekali'. Si bungsu Weasley hanya mengartikan pandangan itu dengan pandangan rahasia lainnya.

Bagaimanapun dia juga kesepian kan? Kekasihnya ikut pelatihan Auror dan dia tidak tahu kabarnya, sebagai seorang kekasih yang baik Ginny merasa dia kalah telak dari Mrs. Norris dan Filch yang kebersamaannya tidak diragukan lagi.

Kakaknya juga sibuk dengan urusan masing-masing, mereka yang sudah menikah sibuk dengan rumah tangganya. George juga sibuk mendekati Angelina sambil mengurus Sihir Sakti Weasley. Ron ikut pelatihan Auror sama seperti Harry.

Teman-teman sekamarnya juga sibuk sendiri, mereka sibuk dengan pacar masing-masing. Hermione dan Parvati yang mengulang tahun ketujuh mereka juga sibuk sendiri. Mungkin dia harus mencoba berteman dengan Nyonya Gemuk atau Peeves.

OoO

McGonagall dan Harry pamit dari rumah Sanguini.

"Berhati-hatilah, hutan ini sangat berbahaya di malam hari. Apalagi ini sudah cukup larut. Ada baiknya jika kalian terbang saja atau ber-Apparate." saran Sanguini.

Mereka memilih terbang dengan sapu sampai keluar dari hutan dan ber-Apparate dari depan hutan ke Hogsmeade.

Sesampainya di Hogsmeade –sapu mereka telah disimpan ke dalam tas Harry- mereka menelusuri jalan ke Hogwarts.

Tidak ada pembicaraan sama sekali. Mereka seolah berkutat dengan pikiran mereka masing-masing. Bahkan setelah mereka sampai di kantor Kepala Sekolah, Harry langsung duduk dengan isyarat dari McGonagall.

Keheningan itu dipecahkan oleh suara McGonagall.

"Bagaimana menurutmu nak?" tanya McGonagall.

Ini pertama kalinya dia dipanggil begitu, biasanya McGonagall memanggilnya dengan Harry atau Mister Potter –untuk formalitas-.

"Jika semua penjelasan itu sudah pasti, anda pasti mengerti intinya Profesor." jawab Harry. Dia tidak ingin mengeluarkan argumennya dan dia juga tidak cukup yakin.

McGonagall menghela nafas. "Aku akan memanggilnya besok. Kau menginaplah disini, besok baru kembali."

Harry mengangguk dan menerima tawaran McGonagall tanpa menolak. Dia juga tidak mungkin pulang tengah malam begini.

"Kata kunci Asrama Gryffindor adalah permen jeruk." kata McGonagall.

Harry mengangguk lagi. Rasanya itu lebih efisien dari pada menjawab.

"Dan satu lagi," panggil McGonagall sebelum Harry melewati pintu menuju tangga putar. McGonagall tampak berpikir sebelum berbicara.

"Coba rundingkan dengan Hermione,"

Harry mengangguk dan menghilang dibalik pintu.

OoO

Hermione membaca bukunya. Awalnya dia terkejut dengan isi buku yang digenggamnya. Semua teori yang pernah di dengarnya tentang vampir menguap begitu saja. Penjelasan singkat sepanjang 5 halaman tentang vampir dan asal-usulnya membuat Hermione tidak bisa tidur.

Dia dihantui dengan pertanyaan seputar –Kenapa dia bilang dia digigit?- atau –Apa yang direncanakannya?- atau –Apakah McGonagall tahu?- atau –Bagaimana dia bisa berbohong-.

Hermione beranjak dari kamarnya dan mengendap-endap ke ruang rekreasi. Dia perlu ketenangan dan tidak mungkin dia mendapatkannya di kamarnya. Suara tarikan nafas Parvati yang pelan bahkan mengusiknya.

Hermione membuka halaman selanjutnya. Judul halaman itu berbunyi 'Nama-Nama Keluarga Vampir. Baik Murni Ataupun Campuran Penyihir.'

Dia membalik halamannya dengan semangat. Banyak nama yang tidak dikenalnya. Beberapa dia asumsikan sebagai nama-nama vampir yang hidup jauh dari London dan beberpa vampir penyihir yang dirasanya juga menghilang dari komunitas.

Dia melewati bagian vampir murni dan membuka halaman berisikan vampir-penyihir. Abjad A sampai K sudah dilewatinya. Hanya sedikit vampir penyihir tercatat. Dia membaca kembali daftar nama L dan tidak menemukan satupun nama yang dikenalnya. Dia melewati daftar nama itu dan membuka halaman selanjutnya.

Hermione menemukan daftar nama M.

Keluarga Malfoy langsung menyita perhatian maniknya. Tidak ada nama yang dikenalnya. Nama Abraxas Malfoy ada disana. Dia kurang tahu itu siapa dan dia kembali menahan nafas saat melihat ada nama Draco ada di sana.

OoO

Harry mengucapkan sandi kepada Nyonya Gemuk dan lukisan itu mengayun terbuka. Harry memanjat masuk ke ruang rekreasi. Dari warna rambut dan tipe gelombangnya, Harry dapat mengasumsikan itu Hermione.

Derap langkahnya yang cukup untuk terdengar rupanya tidak menganggu Hermione, dari penglihatannya gadis itu tampak menunduk. Mengamati sesuatu.

Harry berjalan mendekat dan duduk disebelah Hermione yang tiba-tiba tersentak.

"Harry!" jeritnya kecil.

Harry hanya nyengir dan mengumamkan 'Muffliato'.

"Ba-bagaimana perjalanannya?" tanya Hermione.

Cengiran Harry hilang digantikan dengan mimik serius. Dia menghela nafas dan memulai bercerita.

OoO

"Buku ini benar," kata Hermione kemudian.

Harry memandangnya bertanya.

"Aku mendapatkan penjelasan yang sama dari buku ini," Hermione menarik nafas dan membuangnya sedetik kemudian.

"Tetapi ada yang mengangguku," lanjut Hermione.

"Apa?" tanya Harry langsung.

Hermione mengigit bibir bawahnya, dia tidak yakin.

"Begini, aku menemukan bahwa keluarga Malfoy memang terdaftar sebagai vampir," Hermione menarik nafas. "Tetapi, yang aku bingungkan adalah aku menemukan buku ini dalam keadaan berdebu dan tertutup sebuah buku yang aku tidak tahu judulnya."

"Maksudmu buku itu tidak terjamah dalam waktu cukup lama?" tanya Harry.

"Benar, jangka waktu yang lebih panjang dari cukup lama lebih tepatnya. Karena Madam Pince membuat peraturan untuk sesi terlarang, itu artinya tidak ada yang menemukan buku ini. Kalaupun ada yang menyusup, mereka juga tidak akan menemukannya kecuali menggunakan tangga. Buku ini ada di rak teratas dan setahuku Madam Pince selalu membereskan tangga di dekat kantornya jika sudah mau memasuki jam malam." jelas Hermione.

"Lalu?"

"Jika buku itu memang tidak tersentuh dan Draco juga belum menjadi vampir saat itu –di penjelasan katanya vampir penyihir memasuki titik balik menjadi vampir saat berumur 18 tahun- maka seharusnya namanya tidak ada,"

Harry menahan nafas.

"Tidak mungkin ada yang menuliskan namanya. Lagipula tidak ada nama penulisnya dibuku ini."

Harry dan Hermione berpandangan. Harry mencoba mengirimkan pertanyaan sejenis 'Tidak adakah kemungkinan lain?'

Hermione menunduk dan memandangi buku yang dipegangnya.

"Kecuali," Hermione menatap Harry.

Harry menatap Hermione dalam.

.

TBC

.

OoO

.

Review?

.