Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
High School DxD © Ichiei Ishibumi
.
.
.
TWOSHOT
Pairing: Naruto x Koneko
Genre: friendship/romance
Rating: T
Setting: AU (normal life)
Senin, 16 November 2015
.
.
.
Fic tantangan dari Adif Dika
.
.
.
AKHIRNYA TERSAMPAIKAN
By Hikari Syarahmia
.
.
.
PART 2
.
.
.
CHAPTER SEBELUMNYA:
Begitulah isi percakapan mereka di chatroom facebook. Koneko tersenyum sendiri saat bercakap ria dengan Kyuubi. Seorang misterius yang akan bertemu dengannya, dua hari yang akan datang.
Jadi, siapakah Kyuubi itu sebenarnya?
.
.
.
Pagi itu, Koneko tampak terburu-buru. Ia mondar-mandir di berbagai sudut apartemennya. Entah apa yang terjadi.
Hari Sabtu, pada pukul 7 pagi. Di apartemen no. 50, keributan kecil ditimbulkan oleh gadis berambut putih itu karena ia harus segera pergi ke kampus. Ternyata ada jadwal kuliah mendadak yang baru saja diberitahukan Asia.
"WUAAAAH, GAWAT! CEPAT! CEPAAAAAT!" Koneko segera meraih tas bertali duanya dan tidak lupa juga memasukkan cardigan putih itu ke dalam tasnya. Cardigan yang diberikan oleh seorang pria misterius bernama Kyuubi itu.
Benar, sekarang adalah hari janjian Koneko dan Kyuubi. Hari Sabtu, pada pukul 2 siang di taman kota Kuoh. Mereka akan bertemu secara tatap muka. Inilah saat yang sangat mendebarkan bagi Koneko sendiri.
Tapi, mendadak juga di hari Sabtu ini, ada jadwal kuliah yang diberitahukan Asia lewat sms. Asia juga satu kampus dengan Koneko. Bahkan satu jurusan yang sama yaitu jurusan sistem informasi. Jadi, Asia tidak pernah terpisah dari Koneko. Meskipun mereka juga berbeda apartemen. Tapi, mereka tetaplah sepasang sahabat yang terbaik di dunia ini.
Setelah mengunci pintu apartemennya, Koneko segera berlari cepat menuju keluar apartemen. Dia dikejar waktu yang terus memburunya agar tidak terlambat di mata pelajaran kuliah yang dijadwalkan akan dimulai pada pukul 07.30 pagi. Karena itu, dia harus cepat pergi ke kampus agar tepat waktu dan mengikuti pelajaran dengan baik. Inilah tugasnya sebagai seorang mahasiswi.
.
.
.
Tiga jam berlalu, pelajaran yang sangat menuntut otak untuk berpikir cermat akhirnya selesai juga.
Pada pukul 10.30 pagi, Koneko dan Asia beserta teman-teman lainnya keluar dari kelas. Terlebih dahulu, dosen yang keluar dari kelas tersebut. Barulah mahasiswa-mahasiswi yang keluar dari kelas dengan tampang yang bermacam-macam.
Koneko dan Asia senang sudah terbebas dari jeratan ceramah panjang sang dosen yang tidak pernah berhenti selama tiga jam. Bayangkan selama tiga jam, harus mendengar ceramah dosen yang tidak pernah berhenti untuk menerangkan pelajaran. Hal tersebut lumrah terjadi jika mendadak ada jadwal kuliah di jam kosong alias libur. Biasanya dosen yang memiliki jadwal padat sering memberikan kuliah yang singkat saja dan mengulur waktu dalam memberikan materi. Hanya karena alasan ingin pergi ke suatu tempat atau apa saja. Tapi, ketika ada jadwal kosong, biasanya dosen yang sibuk itu mengambil waktu pelajaran di jadwal kosong itu. Jadi, hari yang seharusnya libur, tidak jadi libur. Bahkan mahasiswa-mahasiswi diharuskan segera ke kampus setelah mendapatkan informasi dari teman-teman satu jurusan untuk mengikuti jadwal kuliah mendadak itu. Itulah yang biasa terjadi di dalam dunia perguruan tinggi.
Sekarang Koneko dan Asia sudah di dekat pintu gerbang kampusnya. Asia melirik jam tangan yang tersemat di pergelangan tangan kirinya.
"Hm, masih jam setengah sebelas nih. Kita mau kemana, Koneko? Pulang atau jalan-jalan sebentar?" tanya Asia menengok ke arah Koneko.
Koneko berpikir sebentar. Ia memegangi perutnya yang sudah keroncongan habis.
"Aku rasa ... kita pergi makan dulu. Dari tadi pagi, aku belum sarapan. Habisnya terburu-buru sih," Koneko memasang wajah kusut begitu.
Asia mengangguk cepat.
"Oke, kalau begitu. Ayo, kita let's go!" segera saja Asia menarik tangan Koneko. Koneko pun terseret oleh langkah Asia.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggil mereka.
"KONEKO! ASIA!"
Koneko dan Asia menoleh ke arah asal suara, tepatnya di belakang.
Terlihat Kiba yang berlari secepat kilat seperti dikejar setan begitu. Wajahnya pucat pasi.
Dua gadis itu keheranan melihatnya.
"Kiba, kamu kenapa?" tanya Asia.
CIIIT!
Kiba menghentikan larinya sejenak. Ia tampak terengah-engah.
"Biasa, aku dikejar-kejar lagi sama fansgirl fanatik itu," jawab Kiba langsung. Ia menghelakan napasnya berkali-kali.
Asia tertawa kecil mendengarnya.
"Hahaha ... Memangnya enak punya wajah yang sangat rupawan gitu, Kiba?" tukas Asia.
Kiba melirik Asia. Senyuman pun terukir di wajah tampan Kiba.
"Hm, memang nggak enak, Asia," Kiba memperhatikan keadaan sekelilingnya."Memangnya kalian mau kemana?"
"Mau makan," timpal Asia cepat.
Kiba menatap Asia lagi.
"Mau makan di mana?" Kiba tampak penasaran.
"Di tempat biasa," Koneko yang menjawab.
"Aku boleh ikut nggak?" pinta Kiba.
"Boleh," Asia yang menyahut dan membuat Koneko terperanjat mendengarnya.
"Terima kasih, teman-temanku yang baik," Kiba tersenyum lagi.
Mendadak datang kerumunan para fansgirl yang mengejar Kiba tadi. Mereka bersorak histeris karena telah menemukan idola mereka.
"KYAAA, KIBA-KUN DI SANA!"
"KIBA-KUN! TUNGGUUU!"
"JANGAN TINGGALKAN KAMI!"
"KIBA-KUUUUUUN!"
Membuat Kiba kaget bukan main. Ia meloncat saking kagetnya. Begitu juga dengan Koneko dan Asia.
"WUAAAAH, MEREKA MENEMUKAN AKU! AYO, KITA SEGERA PERGI DARI SINI!" seru Kiba kelabakan sambil menarik tangan Asia dan Koneko agar cepat-cepat pergi dari sana untuk menghindari para fansgirl maniak itu.
Otomatis mereka bertiga pun segera kabur dari sana. Para fansgirl malah mengejar mereka sampai di luar kampus. Terjadilah aksi kejar-kejaran di sepanjang jalan umum wilayah kampus. Semua orang yang berada di jalanan tersebut, terbengong-bengong melihat mereka. Sungguh menarik untuk diperhatikan.
Suasana cukup ricuh di antara mereka. Itu berlangsung selama lima belas menit.
.
.
.
Ya, sekarang Koneko dan dua temannya singgah di sebuah kafe yang tak jauh dari kampus Kuoh Academy itu. Kafe yang bernama "Kuoh Fantasy".
Inilah kafe tempat tongkrongan anak-anak kuliah. Terlebih bagi mahasiswa-mahasiswi Kuoh University. Inilah tempat berkumpul mereka sehabis pulang dari kampus. Apalagi waktu weekend seperti ini, jumlah pengunjungnya membludak banyak.
Koneko dan teman-temannya duduk dalam satu meja. Mereka sedang makan dengan khidmat. Suasana kafe yang cukup berisik karena para pengunjung yang asyik bersahutan antara satu sama lainnya. Menambah suasana semakin semarak saja. Apalagi bersama teman-teman atau orang-orang yang disayangi. Pasti akan terasa semakin menyenangkan.
Dalam diam karena asyik menikmati makanan masing-masing, Koneko memperhatikan seluruh orang yang ada di tempat itu. Ia membayangkan betapa menyenangkan menghabiskan waktu bersama orang-orang yang disayangi. Terlebih kebanyakan pengunjung kafe ini adalah orang-orang yang mempunyai pasangan. Sungguh membuat Koneko iri melihatnya.
'Andai waktu itu, aku cepat menyatakan cinta pada Naruto. Mungkin sampai saat ini, aku berpacaran dengannya. Aku akan setia sama dia karena aku sangat mencintainya,' batin Koneko yang memasang wajah sedih. Kedua mata kuningnya tampak berkaca-kaca.
Sampai saat ini, dia masih teringat dengan cinta lamanya di SMA dulu. Padahal ia berusaha untuk melupakannya. Namun, apa daya hal itu sangat sulit untuk dilakukannya. Sulit untuk menyingkirkan nama Naruto di hatinya.
SET!
Tatapan Koneko beradu dengan Kiba. Kiba melemparkan senyum manisnya ke arah Koneko yang duduk berhadapan dengannya. Koneko merasa canggung. Lantas ia menundukkan kepalanya untuk mengalihkan perhatian Kiba.
'Aduuuh, Kiba malah tersenyum padaku. Dia memang temanku. Tapi, dia sudah menyatakan cintanya padaku. Aduuuh, gimana ya? Aku jadi tidak enak kalau bersama dia seperti ini,' batin Koneko lagi. Ia pun memperhatikan seisi kafe itu lagi.
Pandangan mata Koneko pun tertancap pada jam dinding yang terletak di atas hiasan dinding kafe tersebut. Jam telah menunjukkan pukul 12.00 siang.
Koneko tersentak. Ia pun buru-buru lagi. Diambilnya tas yang tergeletak di kursi yang kosong di sebelahnya. Membuat Asia dan Kiba keheranan melihat Koneko yang akan pergi.
"Lho, Koneko? Kamu mau kemana?" tanya Asia mengerutkan keningnya.
Koneko menatap ke arah Asia.
"Hm, aku ada janjian sama teman yang lain. Asia, tolong bayarkan bon makananku ya. Nanti aku ganti kok uangmu itu," pinta Koneko.
"Oh, iya," Asia menganggukkan kepalanya."Nggak usah cemas. Biar aku yang bayar semuanya. Uangnya nggak usah kamu ganti. Aku ikhlas kok traktir kamu hari ini."
Koneko tersenyum simpul mendengarnya. Ia langsung bangkit berdiri sambil menggendong tasnya di punggungnya.
"Terima kasih, Asia."
"Sama-sama, Koneko."
"Kalau begitu, semuanya. Aku pergi dulu ya. Sampai jumpa lagi!"
Koneko melambaikan tangannya. Asia dan Kiba juga membalas lambaian tangan Koneko.
"Hati-hati, Koneko!" sahut Asia yang tersenyum.
Koneko mengangguk. Segera saja ia melangkahkan kakinya meninggalkan teman-temannya.
Kiba menatap kepergian Koneko dengan pandangan yang curiga. Asia yang duduk berhadapan dengan Kiba, merasa heran dengan raut muka Kiba yang terlihat kusut.
"Kiba, kamu kenapa?" tanya Asia.
Kiba mengalihkan pandangannya ke arah Asia.
"Memangnya Koneko ada janjian sama teman yang mana?" Kiba malah balik bertanya.
"Hm, katanya teman yang dikenalnya di facebook. Namanya Kurama Kyuubi," ungkap Asia jujur.
"Laki-laki ya?"
"Iya."
Seketika raut muka Kiba semakin kusut saja. Sepertinya ia terserang api cemburu sekarang. Dapat terbukti, Kiba menjadi gelisah begitu.
"Kamu kenapa, Kiba?" tanya Asia lagi.
Kiba memandang Asia lagi. Ia tersenyum.
"Hehehe, tidak ada."
"Terus kenapa kamu terlihat khawatir begitu?"
Kiba tersentak. Buru-buru ia menguasai dirinya dengan cepat agar tidak terlalu kaget.
"Ah, tidak ada apa-apa kok," Kiba tersenyum lagi."Ayo, habiskan makananmu, Asia."
Gadis berambut pirang itu memperhatikan Kiba dengan aneh. Sepertinya ada yang disembunyikan Kiba darinya. Ia tidak tahu kalau Kiba sudah menyatakan cinta pada Koneko. Ya, dia tidak mengetahuinya.
Asia mengangguk. Lantas ia melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda. Kiba juga melanjutkan acara makannya. Tapi, hatinya gelisah dan mencemaskan Koneko. Ingin rasanya ia mengejar Koneko sekarang.
'Koneko, aku sangat mencemaskanmu. Aku juga penasaran siapa Kurama Kyuubi yang akan menemuimu itu. Apa dia adalah pacarmu?' batin Kiba yang mulai kacau.
Tapi, apa daya dia tidak bisa mengejar Koneko. Dia tidak ingin membuat Koneko marah padanya. Itu terkesan dia tidak rela Koneko menjadi milik orang lain. Koneko hanya menganggapnya sebatas teman kampus. Lagi pula Koneko sudah menolak cintanya. Jadi, untuk apa dia masih mengejar Koneko? Dia harus mengejar cinta yang lain. Dia harus melupakan Koneko.
Kiba memantapkan hatinya untuk pindah pada cinta yang lain. Ia harus mencari gadis lain yang bisa dijadikan pacarnya. Dia harus mencarinya secepatnya.
Jawabannya ada di depan matanya yaitu Asia. Asia masih sendiri. Asia juga belum mempunyai pacar. Jadi, Kiba berusaha untuk mendekati Asia sekarang.
Itulah targetnya. Kesempatan emas seperti ini, tidak akan disia-siakannya.
Segera saja Kiba memulai pembicaraan dengan Asia.
"Asia ..."
"Hm, apa?" ujar Asia yang sedang mengunyah makanannya.
"Setelah ini, kamu mau kemana?" Kiba menatap Asia dengan intens.
"Ya, tentu saja pulang. Mau kemana lagi."
"Kalau begitu, kamu mau ikut denganku nggak?"
"Kemana?"
Kiba tersenyum.
"Lihat saja nanti."
Asia bengong dibuatnya. Kini dia dilanda pertanyaan yang bertubi-tubi di kepalanya.
'Tumben, Kiba ngajak aku jalan. Biasanya dia ngajak koneko doang. Tapi, kali ini beda. Hm, ada apa gerangan ini,' batin Asia yang mulai curiga.
.
.
.
Di taman kota Kuoh sekarang, berada di pusat kota Kuoh.
Tampak Koneko yang berjalan sendirian di jalan setapak yang berada di taman itu. Di mana dua sisinya dipenuhi pepohonan gingko berdaun emas. Daun-daun gingko berjatuhan dan menimpa Koneko yang berjalan di bawahnya. Suasana sangat hening. Angin berdesir pelan. Menemani Koneko yang sedang mencari seseorang yang bernama Kurama Kyuubi itu.
Sesuai janji, Koneko mengenakan cardigan putih yang dijadikan pakaian luar untuk menutupi long dress yang dipakainya. Dengan perasaan bercampur aduk disertai jantung yang sangat berdebar-debar, membuat keinginan Koneko untuk bertemu Kyuubi semakin menggebu-gebu. Ia penasaran siapakah diri Kyuubi sebenarnya.
Setelah berjalan hampir beberapa menit, menyusuri jalan setapak ini. Koneko menghentikan langkahnya ketika menemukan pria berjaket jingga yang sedang duduk di sebuah bangku kayu bercat putih, tepat di bawah salah satu pohon gingko. Pria berjaket jingga? Apakah benar itu adalah Kyuubi?
Memang sesuai yang diberitahukan oleh Kyuubi di chatroom facebook, tempo dulu itu. Kyuubi memakai jaket berwarna jingga sebagai tanda ia adalah Kyuubi. Kyuubi akan menemui Koneko di taman kota Kuoh, tepat di hari Sabtu pada pukul 2 siang.
Kini Koneko sudah menemukan sosok pria berjaket jingga itu. Tapi, langkahnya terhenti tak jauh dari pria yang duduk di bangku itu. Wajah Koneko sangat syok saat melihatnya.
Apa yang terjadi sebenarnya?
Pria yang duduk di bangku itu adalah pria berambut pirang jabrik. Bermata biru. Ada tiga guratan di dua pipinya. Kulitnya yang berwarna coklat. Memakai jaket jingga yang dibiarkan terbuka. Hingga tampaklah kaos hitam yang dipakainya. Bawahannya berupa celana jeans hitam. Sepatu kets berwarna jingga melengkapi penampilannya yang keren.
Sesaat angin bertiup cukup kencang dan menerpa pria berambut pirang itu. Membuatnya tertarik untuk memperhatikan seluruh taman itu. Terasa sepi dan sunyi. Hanya ada dirinya.
Lalu pandangannya pun berhenti ketika melihat sosok Koneko yang berdiri tak jauh darinya. Ia kaget plus senang. Tawa lebar pun menghiasi wajahnya yang cukup tampan.
"Koneko!" seru pria itu sambil bangkit berdiri dari duduknya.
"Na-Naruto?!" ucap Koneko yang sangat syok dengan apa yang dilihatnya. Ia membeku di tempatnya berpijak sekarang.
Tapi, kenapa? Kenapa pria berjaket jingga itu adalah Naruto? Itu berarti Kyuubi adalah ...
TAP! TAP! TAP!
Pria yang memang adalah Naruto, berjalan pelan ke arah Koneko. Koneko yang masih syok karena bingung dengan apa yang terjadi sekarang. Ia terpaku di tempatnya berdiri.
"Hai, Koneko! Apa kabar?" sapa Naruto menampilkan tawa lebarnya yang sangat mempesona.
Koneko tersentak. Dia kelihatan salah tingkah.
"Hm, uhm ... A-Aku ba-baik-baik saja. Ta-Tapi, ke-kenapa kamu yang memakai jaket jingga?" jawab Koneko terbata-bata.
Naruto tetap saja tertawa lebar.
"Tentu saja, akulah Kurama Kyuubi itu."
Spontan, membuat kedua mata Koneko melebar. Mulutnya ternganga habis. Ia kaget lagi.
"A-Apa ka-kamu a-adalah Kurama Kyuubi?"
"Itu benar."
"I-Itu berarti kamu membohongi aku, Naruto."
"Maaf, itu karena aku terpaksa melakukannya agar aku bisa mengetahui tentang dirimu lebih dekat. Termasuk tentang perasaanmu padaku."
Koneko tersentak. Naruto memandangnya dengan lama.
"Ka-Kalau be-begitu, a-aku permisi pergi du-dulu," Koneko malah berbalik badan akan meninggalkan Naruto.
Tapi, Naruto tidak membiarkan Koneko pergi begitu saja.
"KONEKO, TUNGGU DULU!"
GREP!
Tangan Koneko berhasil ditangkap oleh Naruto. Sehingga Koneko tidak jadi pergi.
Koneko menoleh ke arah Naruto. Tangannya digenggam kuat oleh Naruto.
"Na-Naruto, bi-biarkan aku pergi. Le-Lepaskan a-aku ..."
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Koneko. Aku ingin kamu tetap di sini. Aku mohon dengarkan semua penjelasanku kenapa aku menyamar sebagai Kurama Kyuubi," tukas Naruto berusaha untuk mencegat Koneko agar tidak pergi.
Raut wajah Naruto kelihatan kusut. Kedua mata yang sayu. Dia memandang Koneko dengan penuh perasaan. Koneko pun tertegun dibuatnya.
"A-Apa yang ingin kamu jelaskan padaku? Semuanya sudah jelas, kan? Kamu adalah Naruto. Aku sudah tahu sekarang kalau Kyuubi itu adalah kamu. Tapi, kenapa kamu melakukan semua ini? Membohongi aku selama tiga tahun ini, berpura-pura menjadi orang lain dan mengaku namamu adalah Kurama Kyuubi. Apa alasanmu itu, Naruto? Aku bingung. Aku tidak mengerti," Koneko mengatakannya dengan perasaan yang tidak menentu.
Naruto menghelakan napasnya sejenak. Ia tetap memegang tangan Koneko dengan erat.
"Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya. Alasan kenapa aku melakukan semua ini," Naruto menatap ke arah lain."Itu karena aku sudah mengetahui perasaanmu padaku lewat surat cinta itu. Waktu itu, saat perpisahan SMA dulu, Asia memberikan surat cinta itu padaku. Aku pun membacanya. Ternyata kamu menyukai aku. Aku baru tahu waktu itu. Aku tidak menduga kalau kamu menyukai aku begitu lama. Lalu Asia juga menceritakan semua yang terjadi padaku. Barulah aku mengetahui semuanya."
Gadis imut itu terperanjat mendengarnya. Ternyata Asia telah memberikan surat cinta itu pada Naruto. Ia tidak menduganya sama sekali. Sehingga membuat Naruto dekat dengannya sekarang melalui sahabat dalam jarak yang jauh dan berkomunikasi melalui facebook. Asia melakukannya semua ini agar Naruto membalas cinta Koneko. Sekarang apa yang diharapkan Koneko, sebentar lagi akan menjadi kenyataan.
'Ternyata Asia yang memberikan surat cinta itu pada Naruto. Aku tidak menyangka Asia berbuat begini untukku. Asia, kamu memang temanku yang paling baik,' bisik hati Koneko.
Setelah itu, Naruto melanjutkan perkataannya.
"Setelah tamat SMA, orang tuaku menyuruhku pulang dan kuliah di kota Konoha. Pas pula waktu itu, aku baru putus dari Shion karena Shion selingkuh. Aku yang memutuskan Shion saat memergokinya bersama cowok lain. Aku merasa kesal karena Shion telah menipuku. Sehingga membuatku merasa tidak ingin jatuh cinta lagi. Tapi, aku mencoba membaca surat darimu lagi. Aku mulai merasakan apa yang kamu rasakan. Ternyata masih ada orang yang masih mencintai aku setulus hati dan mengharapkan aku untuk menjadi bagian dari hatinya. Orang tuaku juga menyarankan aku harus segera mencari pengganti Shion. Atas dorongan Asia juga, aku mulai bertekad untuk mencoba mendekatimu. Aku mencari namamu di facebook karena Asia bilang kalau kamu itu selalu aktif bermain di facebook. Aku ingin berkomunikasi denganmu. Tapi, kata Asia, lebih baik aku mengganti nama akunku dengan nama orang lain. Asia juga bilang kalau kamu pasti tidak akan membalas permintaan pertemanan denganku jika mengetahui namaku yang sebenarnya. Ya, atas saran Asia, aku mengubah nama akun facebook-ku menjadi Kurama Kyuubi. Kamu menerima permintaan pertemananku. Sungguh membuatku senang dan berinisiatif ingin mengobrol banyak denganmu di chatroom facebook."
Naruto terus berbicara panjang lebar. Koneko mendengarkannya dengan baik dalam diam yang tidak berujung.
"Selama berkomunikasi denganmu di chatroom facebook, aku mengenal kepribadianmu secara perlahan-lahan. Ternyata kamu orangnya lucu, imut, baik dan gampang nyambung saat aku ajak bercanda. Kamu membuat aku begitu bahagia dan selalu tersenyum saat membaca balasan darimu. Kamu pun menerima penawaranku untuk menjadi sahabatmu yang baik. Kamu telah membuat perasaanku lebih baik daripada sebelumnya. Hingga tanpa kusadari selama tiga tahun berkomunikasi denganmu dalam jarak jauh ini, aku merasakan perasaan yang aneh. Padahal kita tidak bertemu secara langsung. Kita bisa berkomunikasi cuma lewat tulisan. Tapi, justru komunikasi seperti itu menimbulkan perasaan yang sangat ingin memilikimu. Bertemu denganmu secara langsung seperti ini. Inilah yang kuharapkan sejak dulu."
Entah apa yang harus dikatakan Koneko saat ini. Mulutnya benar-benar terkunci rapat setelah mendengar apapun yang dilontarkan Naruto padanya. Ia hanya mampu memandang wajah Naruto. Wajah yang masih sama. Tingkahnya juga sama. Dia tidak pernah berubah. Tapi, tubuhnya semakin tinggi dan atletis. Sungguh penampilannya berbeda dibanding waktu itu. Dia semakin gagah. Hingga sampai sekarang, dia tetap bersikap seperti dulu.
Hingga Koneko sadari, jarak Naruto semakin dekat dengannya. Apalagi Naruto tetap memegang tangannya dengan erat.
"Begitulah alasannya, Koneko. Kamu mengerti, kan?"
Suara Naruto membuyarkan keterpakuan Koneko. Dilihatnya, Naruto menatapnya dengan serius.
"I-iya, Naruto. A-Aku mengerti," masih juga Koneko gugup saat berbicara dengan Naruto seperti ini.
Pria itu tersenyum. Lantas ia melangkahkan kakinya untuk lebih dekat dengan Koneko. Lalu pipi kiri Koneko dipegangnya.
Naruto menatap mata Koneko lekat-lekat. Membuat jantung Koneko memompa dengan cepat.
"Koneko ..."
"Ya, Naruto."
"Aku ingin menyampaikan sesuatu yang penting padamu."
"A-Apa?"
Naruto terus menatap kedua mata kuning Koneko dengan lama. Koneko semakin berdebar-debar dibuatnya.
"Aku ... Aku mencintaimu, Koneko."
DEG!
Jantung Koneko kaget sekali mendengarnya. Kedua mata Koneko membulat sempurna. Rona merah sudah hinggap di dua pipinya. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya sekarang.
"Na-Naruto ... A-Apa benar ka-kamu mencintai aku?" Koneko tetap terbata-bata. Tubuhnya kaku dan sulit untuk digerakkan.
Naruto mengangguk. Ia tetap memegang pipi kiri Koneko itu dengan erat.
"Ya, itu benar. Aku tidak bohong. Aku benar-benar jatuh cinta padamu selama kita berkomunikasi melalui facebook. Aku mencintaimu, Koneko," Naruto berwajah sangat serius."Kamu mencintai aku juga, kan?"
Koneko terpana saat memandangi kedua mata biru Naruto. Mata biru Naruto yang teduh. Terpancarkan suatu kejujuran yang abadi. Pernyataan cintanya benar-benar tulus dari hatinya.
Sedetik kemudian, Koneko menganggukkan kepalanya.
"Ya, aku juga mencintaimu, Naruto."
Jawaban Koneko sungguh membuat Naruto begitu bahagia. Secara langsung, Naruto menarik Koneko dalam pelukannya.
GREP!
Pundak Koneko dirangkul erat oleh Naruto. Wajah Koneko semakin memerah padam. Jantungnya semakin berdebar-debar kencang sekali.
'Naruto ... sekarang menjadi pacarku? Apa ini mimpi? Apa ini nyata?' batin Koneko dalam hatinya. Ia benar-benar membeku lagi.
WHUUUSH!
Angin berdesir kencang dan menerpa keduanya. Naruto yang tersenyum sambil memeluk Koneko. Sehingga membuat Koneko terbenam dalam pelukannya. Ia senang sudah menyatakan cintanya pada orang yang menjadi sahabat baiknya selama tiga tahun walaupun berkomunikasi melalui chatroom facebook. Sahabat jarak jauhnya menjadi pacarnya sekarang.
Berusaha menyakinkan dirinya bahwa semua ini bukanlah mimpi, Koneko mulai menggerakkan kedua tangannya untuk merangkul pinggang Naruto. Ia merasa senang. Dia begitu bahagia hari ini.
Mereka berpelukan cukup lama di antara hujan daun emas yang berguguran. Semuanya ikut senang menyaksikan cinta yang bersemi di antara Naruto dan Koneko.
Cinta Koneko yang begitu besar pada Naruto akhirnya tersampaikan. Dia juga mendapatkan cintanya yang sempat ingin dilupakannya. Kini cintanya digapai oleh orang yang diharapkannya. Dalam jarak sejauh itu, Naruto berusaha untuk menemuinya. Pada akhirnya tersampaikan juga. Mereka menjadi sepasang kekasih sekarang.
Naruto melepaskan pelukannya. Begitu juga dengan Koneko. Mereka saling bertatapan erat.
"Koneko, ternyata kamu memang manis memakai cardigan ini," bisik Naruto pelan.
Wajah Koneko memerah lagi. Ia senang dipuji Naruto.
"Terima kasih, Naruto-kun."
Naruto terpaku mendengarnya.
"Kamu memanggilku dengan suffix kun?"
"Ya, karena kamu adalah pacarku sekarang. Jadi, aku memanggilmu, Naruto-kun," Koneko tidak berbata-bata lagi.
Senyuman pun terukir di wajah tampan Naruto. Ia membelai rambut Koneko lembut.
"Aku ... juga akan memanggilmu dengan suffix chan sekarang. Kamu nggak keberatan, kan?"
Koneko menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tersenyum simpul.
"Nggak. Aku senang kalau kamu memanggil aku dengan suffix chan."
Naruto semakin tersenyum. Dia membelai rambut Koneko dengan lembut. Rona merah tipis hinggap juga di dua pipinya.
Lalu Naruto teringat sesuatu.
"Oh iya, hampir lupa," Naruto meraih tangan kiri Koneko.
"Apa?" Koneko penasaran. Ia pun terseret ketika tangannya ditarik oleh Naruto.
Mereka berjalan pelan menuju bangku yang terletak di bawah di pohon gingko tadi. Tampaklah sebuket bunga mawar merah tergeletak manis di atas bangku tersebut.
Begitu dekat, Naruto mengambil sebuket bunga mawar merah itu. Lalu disodorkannya pada Koneko.
"Bunga ini untukmu, Koneko-chan. Aku membelinya pas mau datang ke taman ini. Bunga istimewa untuk pacarku yang kusayangi," ungkap Naruto dengan nada lembut.
Koneko menerima bunga itu dengan perasaan senang sekali. Diciumnya bunga itu.
"Terima kasih, Naruto-kun. Bunganya cantik dan juga harum," Koneko tersenyum manis. Kedua pipinya merona lagi.
"Ya ... Syukurlah kamu suka bunganya, Koneko-chan. Aku nggak salah pilih," kembali Naruto membelai rambut Koneko yang terasa sangat halus. Ia menyengir lebar sambil memandang wajah Koneko lekat-lekat.
Koneko juga memandang wajah Naruto. Digenggamnya dengan erat sebuket bunga mawar merah tersebut. Dia begitu bahagia karena Naruto memberikan suatu kejutan manis untuknya.
Lantas Naruto menarik Koneko dalam pelukannya lagi. Ia merangkul pundak Koneko dengan erat. Wajah Koneko kembali memerah.
"Koneko-chan, aku tidak ingin jauh darimu lagi. Aku akan membuatmu senang hari ini. Mumpung hari ini adalah hari Sabtu. Berarti nanti malam adalah malam minggu. Jadi, selagi aku masih ada di kota ini. Apa kamu mau berkencan denganku sekarang?"
Membuat Koneko senang lagi mendengarnya. Naruto akan membawanya kencan di awal hubungan kekasih ini.
Tanpa pikir panjang lagi, Koneko mengangguk.
"Iya, Naruto-kun. Aku mau kencan denganmu."
Si Uzumaki tersenyum lagi dibuatnya. Perasaan bahagianya menanjak naik seratus persen.
Lantas Naruto melepaskan pelukannya. Dia memegang dua bahu Koneko. Badannya sedikit condong ke depan karena Koneko lebih kecil darinya.
"Oke, kamu mau pergi kemana?" tawar Naruto dengan wajah berseri-seri. Ia menatap Koneko intens.
Gadis bermata kuning itu berpikir sebentar. Naruto menunggu jawabannya dengan sabar.
Sedetik kemudian, Koneko menjawabnya.
"Traktir aku makan es krim."
Naruto terpaku mendengarnya. Lalu ia tertawa lebar.
"Hehehe, kamu seperti anak kecil saja. Kencan sambil makan es krim. Menarik juga," Naruto mengacak-acak rambut Koneko."Kamu memang lucu sekali, Koneko-chan."
Wajah Koneko memerah padam. Ia tersenyum simpul saat Naruto memperlakukannya dengan lembut seperti ini. Inilah yang sangat diharapkannya dari dulu.
Naruto berhenti mengacak-acak rambut Koneko. Satu tangannya beralih untuk mengangkat dagu Koneko sehingga mengarah pada wajahnya. Koneko kaget.
"Naruto-kun ... kamu mau apa?" tubuh Koneko membeku lagi. Saat bersamaan wajah Naruto semakin lama semakin mendekati wajahnya. Wajah Koneko kembali memerah dibuatnya. Lalu ...
Dahi Koneko dikecup lembut oleh Naruto. Kedua mata Koneko membulat saat Naruto menciumnya. Inilah ciuman pertamanya di saat kencan pertamanya.
Kedua mata mereka menutup bersamaan. Angin terus bertiup menerbangkan daun-daun gingko yang terus berjatuhan dari pohonnya. Rambut dan pakaian mereka berkibar-kibar dimainkan angin. Menyemarakkan tali kasih yang tersampaikan dalam jarak sedekat ini.
Hubungan jarak jauh sudah menjadi hubungan jarak dekat. Cinta bertepuk sebelah tangan sudah menemukan separuh hatinya. Cintanya yang tidak kesampaian akhirnya tersampaikan. Cinta Koneko untuk Naruto sudah tersampaikan. Meskipun hubungan jarak jauh, namun yang penting cinta mereka tetap dekat di hati masing-masing. Inilah akhirnya. Cinta yang sudah tersampaikan.
.
.
.
PENUTUP
.
.
.
Malam minggu sudah tiba, tepatnya di peron stasiun kereta listrik. Beberapa orang yang menunggu kereta di sana. Termasuk Naruto dan Koneko.
Suasana cukup sepi dan hening. Tampak Naruto dan Koneko sedang duduk di bangku yang disediakan. Tas bertali dua milik Koneko tergeletak tak berdaya di samping Koneko sekarang.
Koneko memasang wajah sedihnya karena harus berpisah dengan Naruto sekarang.
"Jadi, kamu mau pulang sekarang, Naruto-kun?" tanya Koneko yang menundukkan kepalanya. Ia tidak sanggup menunjukkan wajah sedihnya pada Naruto. Apalagi Naruto duduk di sampingnya.
Pria berambut pirang itu tertegun. Ia juga memasang wajah sedihnya. Lantas ia memegang puncak rambut Koneko.
"Iya, Koneko-chan. Aku harus pulang karena orang tuaku menyuruhku pulang malam ini juga. Ini sangat penting. Padahal rencananya aku akan pulang besok sorenya. Tapi, mendadak sekali orang tuaku meneleponku tadi. Jadinya, aku harus pulang sekarang juga," jawab Naruto.
Koneko terdiam sebentar. Ia tidak menjawab perkataan Naruto.
Saat bersamaan, kereta listrik yang dinanti-nanti datang juga. Naruto dan Koneko menyadarinya.
CEEESSH! CIIIIT!
Kereta listrik berdesain maju pun berhenti di dekat para calon penumpang. Pintu otomatis pun terbuka sendiri untuk mempersilahkan orang-orang masuk ke dalamnya. Maka orang-orang pun masuk ke dalam kereta listrik tersebut.
Lalu Naruto menengok ke arah kereta tersebut.
"Koneko-chan, keretanya sudah datang. Aku harus pergi sekarang juga. Jadi, jaga dirimu baik-baik. Aku ...," Naruto melayangkan pandangannya ke arah Koneko. Tiba-tiba perkataannya berhenti begitu saja ketika melihat kedua mata Koneko yang berkaca-kaca. Tapi, Koneko menampilkan senyum terbaiknya.
"Hati-hati di jalan. Jangan lupa kabari aku kalau kamu sudah sampai di rumahmu," Koneko berusaha menahan air matanya."Sampai jumpa lagi, Naruto-kun."
Naruto tertegun lagi melihatnya. Ia tidak tega meninggalkan Koneko sendirian di sini. Namun, apa daya orang tuanya menyuruhnya pulang malam ini juga karena ada sesuatu yang mendadak.
Hanya pada hari Sabtu ini, dia bisa meluangkan waktunya untuk bersama Koneko. Membuat Koneko senang selama kencan pertamanya. Apalagi hari ini adalah hari pertama dimulainya hubungannya dengan Koneko yang sudah berubah menjadi pacar.
["PERHATIAN BAGI PARA PENUMPANG, KERETA AKAN BERANGKAT LIMA MENIT LAGI. HARAP SEGERA MASUK KE DALAM KERETA SEKARANG JUGA. DIULANGI, BAGI PARA PENUMPANG, KERETA AKAN BERANGKAT LIMA MENIT LAGI. HARAP SEGERA MASUK KE DALAM KERETA SEKARANG JUGA. TERIMA KASIH!"]
Terdengar seruan keras yang berasal dari loudspeaker yang terpasang di peron stasiun kereta listrik tersebut. Lima menit lagi, kereta akan berangkat menuju kota Konoha.
Mendengar seruan itu, Koneko bangkit berdiri. Ia berjalan meninggalkan Naruto. Kedua matanya sudah memerah. Tapi, ia berusaha untuk tidak menangis.
GYUT!
Tangan Koneko berhasil ditangkap Naruto sehingga langkah Koneko terhenti begitu saja.
"Tunggu Koneko-chan! Kamu mau kemana?" Naruto membalikkan tubuh Koneko agar Koneko berhadapan dengannya.
Tiba-tiba Naruto kaget bukan main melihat perubahan air muka Koneko. Kedua mata Koneko memerah sekali. Setetes air mulai menyembul di sudut dua matanya. Koneko menangis?!
Membuat Naruto iba melihatnya. Kedua matanya menyipit sayu.
'Koneko-chan ...,' Naruto merasakan apa yang dirasakan Koneko saat ini.
Lantas Naruto menarik Koneko ke dalam pelukannya. Koneko menitikkan air bening yang terus berjatuhan dari bola mata kuning emasnya, menyadari Naruto memeluknya. Ia sudah terbenam dalam pelukan Naruto yang berusaha menenangkan jiwanya.
'Naruto-kun ... Jangan pergi. Tetaplah di sini,' batin Koneko dalam hatinya. Kedua tangannya membelit pinggang Naruto. Kedua matanya perlahan-lahan menutup seiring dirinya dipeluk erat oleh Naruto. Bahkan rambutnya dielus pelan oleh tangan Naruto.
Naruto memeluk Koneko dalam keadaan menangis seperti itu. Naruto tahu kalau hati Koneko terguncang karena mengetahui Naruto akan pergi meninggalkannya lagi. Hal ini sungguh membuatnya sedih padahal baru saja bertemu.
Mereka berpelukan begitu lama sampai kereta listrik pun berbunyi yang menandakan sebentar lagi akan pergi.
Menyadari akan hal itu, Naruto melepaskan pelukannya dari pundak Koneko. Koneko sudah berhenti menangis. Hatinya sudah lega setelah Naruto memeluknya.
Naruto mengusap sisa-sisa air mata Koneko itu dengan tangannya. Wajah mereka cukup berdekatan.
"Jangan menangis. Aku janji aku akan menemuimu lagi, Koneko-chan," bisik Naruto dengan nada lembut."Jangan sedih. Setelah sampai di rumah, aku akan meneleponmu. Jadi, jangan cemas ya. Biarpun kita jauh, tapi cintaku tetap dekat di hatimu."
Koneko tersenyum mendengarnya. Ia mengangguk pelan.
"Kamu janji akan menemui aku lagi, Naruto-kun?"
"Ya, aku janji. Aku akan menemuimu pas hari Sabtu depan."
Naruto tersenyum. Lantas ia membelai rambut Koneko pelan.
"Aku pergi ya. Jaga dirimu baik-baik di sini," ujar Naruto menatap Koneko dengan serius.
"Iya, Naruto-kun. Hati-hati di jalan," sekali lagi Koneko mengangguk.
Naruto juga mengangguk. Sebelum pergi, dia mengecup dahi Koneko sebagai tanda perpisahan. Ciuman singkat hanya sedetik saja.
Setelah itu, dia menjauhkan jaraknya dari Koneko. Dia berjalan mundur beberapa langkah. Wajahnya memerah.
"Aku pergi ...," Naruto melambaikan tangannya sambil menyengir lebar.
Koneko membalas lambaian tangan Naruto itu. Wajahnya juga merona merah.
"Sampai jumpa hari Sabtu depan!"
Naruto mengangguk lagi. Lalu ia berbalik badan dan segera masuk ke dalam kereta.
SYUUUSH!
Pintu kereta tertutup otomatis. Kemudian langsung berjalan dan meninggalkan stasiun itu sekarang juga.
Naruto masih berdiri di depan pintu kereta. Tampak jelas di kaca bening kereta yang tembus pandang. Naruto tetap melambaikan tangannya untuk kekasih tercintanya.
Koneko juga masih melambaikan tangannya sampai kereta pun melaju kencang membawa Naruto. Naruto telah pergi jauh lagi dari hadapannya. Naruto harus pulang lagi ke kotanya.
Tinggallah Koneko sendirian di peron stasiun kereta itu. Bersama tasnya yang tergeletak manis di bangku yang didudukinya tadi dan juga kesunyian yang melanda tempat itu.
Pandangannya masih diarahkan pada ujung rel yang menggelap di mana kereta yang membawa Naruto tadi. Koneko terpaku dengan wajah yang sayu. Ia memeluk dirinya sendiri dan menutup matanya rapat-rapat.
Masih terasa pelukan hangat yang diberikan Naruto padanya. Pelukan yang akan selalu menemaninya dan diingatnya selama Naruto tidak ada bersamanya. Rasa nyaman yang akan dirasakannya sampai Naruto menemuinya lagi di hari Sabtu nanti.
"Naruto-kun, aku akan merindukanmu," bisik Koneko bersama sayup-sayup keheningan yang tidak berujung. Cinta Naruto selalu tersampaikan padanya meskipun sudah jauh di matanya. Tapi, tetap dekat di hatinya.
.
.
.
TAMAT
.
.
.
A/N:
Lanjutan terakhirnya update nih!
Gimana minna-san dengan endingnya?
Ya, akhirnya happy ending. Ternyata Kyuubi itu adalah Naruto. Naruto menyamar menjadi Kyuubi supaya dekat sama Koneko. Tapi, pada akhirnya mereka pacaran juga. Syukurlah, cinta Koneko terbalaskan juga.
Sekian dari fic tantangan dari Adif Dika ini, saya nggak tahu ini bagus atau nggak. Namun, yang penting saya sudah membuatnya berdasarkan tema tantangan itu. Entah greget atau kurang legit. Saya nggak tahu. Tapi, saya ucapkan terima kasih atas perhatian kalian yang sudah menyempatkan diri membaca fic gaje ini.
Terima kasih ...
TERTANDA
HIKARI SYARAHMIA
Senin, 16 November 2015
BERIKAN REVIEW-MU DI BAWAH INI YA! ^^
