A/N: Yeah, aku menulis ulang chapter pertama karena ada yang tidak pas. Maaf ya, oke saya kasih tau lagi bahwa chapter ini saya tulis ulang.
Dan chapter sebelumnya bisa dikatakan prolog tapi saya kasih aja Chapter XX.
Dan saya melupakan balas review. Oke ini dia!
-Gianti Faith
Scarlet : Kami memang pengen sih, tapi belum tahu kapan mereka bakalan jadi suami-istri. Sabar ya~ Oke, terima kasih banyak sudah meluangkan waktunya untuk membaca & mereview!
-Vryzas
Blossom : Terima kasih! Yah, kami usahakan sesuai dengan sejarah dan game-nya. Tapi mungkin ada yang ditambah. Hehe, oke terima kasih lagi sudah meluangkan waktunya untuk membaca & mereview!
Disclaimer : Dynasty Warriors milik KOEI. OC milik saya dan saya hanya menyusun alur.
Warning : Ling Tong x An Shu (OC). OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, typo, penulisan gaya bahasa yang suram dan abal. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!
-XXX-
To The Place Where I Belong
Chapter 1
When Our Present Crossed Again
-XXX-
Open the door and show me
That one of your wishes could become true
Grasp with those hands
The future, together with me
Promise me,
to keep on living
move on, without looking back
-Door, EGOIST
-XXX-
Ia berlari dengan cepat, gadis kecil itu mengabaikan nafasnya yang sudah hampir mencapai batasnya. Lalu ia langsung membuka pintu kamar. "Mei... kenapa kau lakukan ini!?" tanya gadis yang berumur 12 tahun pada adik kembarnya yang terbaring lemah diatas ranjang. Kulitnya sudah sangat pucat, begitu pula bibirnya.
"Kakak... lihatlah ayah. Bukankah ini pertama kalinya kita melihat ayah menangis? Aku yakin... kali ini ayah pasti akan menyayangimu. Dan kita akan menjadi keluarga yang sesungguhnya."
"Tapi kau tidak sepatutnya melakukan ini...! Mei, jangan tinggalkan aku." Sang kakak memeluk adiknya erat, ia menangis diatas perutnya.
"Kakak, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?"
"...?" Sang adik mengangkat kepala kakaknya dan tersenyum.
"Tetaplah hidup. Dengan begitu aku pun hidup di dalam benakmu...dan juga ibu. Jangan menyesali apa yang telah terjadi... Ya? Kumohon..."
203 AD, Winter
Yuhang County
Langit tertutup awan dan menitikkan butiran salju yang tak terkira jumlahnya. Angin berhembus pelan namun terasa sangat dingin bagi gadis yang berumur 14 tahun itu. Ia memasangkan mantel dan syal di lehernya lalu berjalan keluar rumah.
"Sebentar lagi musim semi ya. Uuh... D-Dingin sekali!" keluh gadis itu sembari mengeratkan mantelnya. Ketika ia mendengar pijakan kaki dari belakang, ia membalikkan badan.
"Apakah dia akan senang tidak, ya?" tanya gadis bersurai biru gelap itu pada ayahnya.
"Tentu saja." jawab pria paruh baya tersebut.
Gadis itu tersenyum lebar dan langsung memeluk ayahnya. "Ayah... kalau begitu aku pergi ya."
"Ya."
"Kalau aku memiliki waktu senggang, aku akan menemui ayah." Lalu ia menggenggam kedua tangan ayahnya. "Ayah?" Gadis itu sedikit terkejut melihat raut wajah ayahnya, kedua matanya berair.
"Shu, maafkan ayah. Ayah sangat menyesal, andai saja ayah menyadari perbuatanku lebih cepat-bukan, seandainya aku menyayangi kalian dari awal. Adikmu pasti masih bersamamu, begitu juga ibumu. Karena itu, ayah perlu waktu sendirian untuk menenangkan diri. Karena ayah takut, ayah akan mengulanginya...dan membuatmu terluka lagi." Sang ayah lalu melepas genggaman putrinya, kedua tangannya berpindah menuju kedua pipi anak semata wayangnya. "Jadi, sebaiknya kau pergi menemui mereka untuk menetap disana. Ayah sudah mengirim surat padanya."
"...ayah, jangan katakan itu. Aku yakin Mei dan ibu juga tidak menyalahkanmu. Kami menyayangimu ayah... sangat." Putrinya yang dipanggil Shu itu tersenyum, jemari rampingnya menyeka bulir air mata pada mata ayahnya. "...aku akan merindukanmu, ayah."
"Ayah juga, nak." Ayahnya kini tersenyum, kemudian ia melepas tangan sang anak dengan pelan. "Pergilah. Jaga dirimu, Shu."
"Ayah juga ya..." Shu mundur dua langkah kemudian membalikkan badannya. "Sampai jumpa lagi..."
-Flashback-
"Tong! Ling Tong!" Gadis kecil yang berumur 9 tahun mengejar anak laki-laki yang setahun lebih tua darinya. Ia memanggil namanya dengan suara keras sehingga anak laki-laki itu berhenti dan menoleh kearah sumber suara.
"Shu?" Ia menghela napas dan menggaruk kepalanya. "Hei hei, kami akan pergi jadi sebaiknya kau selesaikan dengan cepat."
"S-sebentar... dadaku sesak...sekali...!" Shu berhenti di depannya lalu menarik nafas sedalam-dalam mungkin lalu menghembuskannya sebelum mulai bicara. "Tong... kapan kau akan kembali?" tanya gadis kecil itu dengan suara pelan dan wajah memelas.
Anak laki-laki itu menaikkan alisnya, lalu pandangannya berpindah kearah sang ayah yang menunggunya. "...entahlah. Tapi rasanya akan lama sekali..."
Shu menundukkan kepala. Kemudian telinganya menangkap suara isakan dari Shu. "H-hei! Jangan menangis! Kalau ada kesempatan aku akan menemuimu lagi!" hibur Ling Tong.
"Bohong..."
Ling Tong langsung terbungkam, kini ia tidak bisa mengatakan apapun untuk menghiburnya.
"Kalau kau tidak bisa melakukannya katakan saja tidak. Aku tidak ingin mendengar kebohongan." ucap An Shu sembari menghapus air matanya.
"...Maaf. Tapi aku akan mengusahakannya-"
"Aku tidak ingin memaksamu."
Ling Tong kini semakin bingung sehingga emosinya meluap. "Lalu kau itu maunya apa sih? Ah ya! Aku memang tidak akan bisa menemuimu lagi! Sampai kapanpun! Aku tidak akan bisa!" gerutunya.
Kedua mata An Shu melebar, namun anehnya lagi. Gadis itu tersenyum. "Begitu."
'Dia benar-benar aneh, aku tidak bisa membaca pikirannya', pikir Ling Tong. Ia semakin bingung apa yang harus ia lakukan dan katakan. Ia menghela napas panjang dan tidak menatap gadis kecil itu.
"Ling Tong." ucap An Shu lembut.
"...apa?" tanya Ling Tong masih tidak menatapnya, dari cara bicaranya ia masih kesal.
Pandangan Ling Tong mengarah ke An Shu, gadis itu melepas syal berwarna kuning oranye dilehernya. "Kau masih saja seperti itu, Tong. Mudah sekali marah." ucapnya sebelum tertawa kecil. "Aku ada permintaan untukmu." Lalu gadis itu mendekatinya. Kedua mata Ling Tong masih belum berpindah dari senyum yang menghiasi wajah manisnya. Ia memasangkan syal tersebut di leher laki-laki itu.
"Ling Tong, jagalah syal ini baik-baik. Dan juga..." Gadis kecil itu selesai memasangkan sehelai kain panjang tersebut dileher Ling Tong. Shu menatap wajah temannya itu, kini senyumnya melebar. "Jangan lupakan aku ya."
Lehernya kini terasa begitu hangat namun tidak kalah hangatnya daripada hatinya saat ini. Sikap dan ucapannya sedari tadi begitu sulit ia baca, dari saat ia tersenyum sampai tindakannya. Sekarang dia mulai memahami gadis itu sedikit demi sedikit. "Ya. Pasti..." Ling Tong tersenyum.
An Shu mengancungkan jari kelingking . "Janji?" Ling Tong menaikkan sebelah alisnya, lalu ia ikut mengancungkan jari kelingkingnya.
"Ya. Janji." Jari kelingking Shu langsung menahan kelingking Ling Tong.
"Kalau Ling Tong mengingkarinya, Ling Tong harus menelan seribu jarum!" ucap An Shu diiringi dengan tawa.
"Haaa!?"
Kini tawa gadis itu sulit berhenti. "Ling Tong lucu sekali!" Lalu ia berhenti tertawa, senyuman manisnya kembali menghiasi bibirnya. Tangannya yang rapuh dan kecil itu menyentuh kedua tangan Ling Tong. Kulit wajah anak laki-laki memerah. "Walaupun kita terpisah, sejauh apapun... kita masih terhubung dan bisa mengingat satu sama lain. Ya kan?"
-Flashback End-
Eastern Wu, Jianye
Laki-laki itu membuka kedua matanya, terbangun dari mimpi sekaligus ingatan masa lampau. Tangannya memegang erat syal panjang yang menghangatkan lehernya. "...kenapa aku baru mengingatnya sekarang?" ucapnya sebelum menghela napas panjang. Ia membuka telapak tangan kanannya, butiran salju yang putih murni jatuh diatas tangannya dan mencair. "Dunia ini masih jauh dari kata damai. Jika sudah tiba saat itu, aku akan menemukanmu. Tapi, kapan damai itu akan datang?" gumamnya.
"Ling Tong." Seorang pria paruh baya memanggilnya. Laki-laki yang dipanggil Ling Tong itu beranjak dan menghampiri pria yang merupakan ayahnya.
"Ya, ayah?" Pandangan laki-laki yang berumur 15 tahun itu berpindah kearah tangan ayahnya yang berada di balik hanfu. "Ayah, itu surat dari siapa?"
Ling Cao langsung menyimpan surat tersebut. "Bukan apa-apa." Sang ayah langsung menukar topik pembicaraan. "Ling Tong, ayo ikut ayah ke aula. Sebentar lagi perang akan dimulai."
"Hari ini ayah terlihat aneh. Kenapa aku harus ikut? Biasanya ayah tidak mengajakku."
"Sudahlah. Bukankah kau sendiri yang bilang kau sangat bosan menetap di rumah. Jangan banyak tanya. Yang penting kau harus siap-siap."
"Ya ya..."
-XXX-
Rapat akan dimulai. Para jendral dan letnan perang memasuki aula dan berbaris dengan rapi. Ling Tong serta ayahnya mengambil tempat berdiri disudut belakang kanan. Setelah semua jendral dan prajurit hadir, sang pemimpin Wu, Sun Quan berdiri di singgasana. Bersama marsekal dan strategis berdiri di sampingnya.
Ling Tong yang ingin mendengar rapat dengan serius, namun ia masih memikirkan gadis yang merupakan teman semasa kecilnya. Ia mengutuk dirinya sendiri karena ia tidak bisa menfokuskan pikirannya pada rapat hari ini.
"Jangan lupakan aku, ya?" Kalimat yang diucapkan oleh gadis itu terus bergema di dalam kepalanya.
-XXX-
Flashback, a few years ago. Yuhang County
Dia masih ingat saat mereka pertama kali bertemu, seolah-olah peristiwa itu terjadi kemarin. Saat itu ia masih berumur 10 tahun, salju turun dengan lebatnya. Namun terlihat indah.
"Kukira danaunya membeku." dengus Ling Tong. Ia mengambil pancingan kemudian memasangkan umpan. "Aku harap ikannya tidak membeku..." Guraunya pada diri sendiri.
Ia duduk di tepi danau dan menunggu sampai ikan memakan umpannya. Sebetulnya ia sangat benci menunggu disaat ia bosan, namun ia tidak ada ide lain untuk menghabiskan waktu sendirian. Ayahnya yang bekerja sebagai prajurit dibawah pimpinan Sun Jian tidak bisa meluangkan waktu demi putranya. Sedangkan ibunya sibuk melakukan pekerjaan rumah. Ia ingin membantu tapi Ling Tong tidak sengaja membuat kesalahan sehingga ia dimarahi dan terpaksa pergi karena tidak ingin mendengar omelan ibunya.
Ling Tong mengistirahatkan dagunya dengan tangannya. Perlahan kelopak matanya menurun, ia merasa sangat mengantuk. Firasatnya mengatakan bahwa masih belum ada ikan yang memakan ikannya.
Namun tiba-tiba ia mendengar suara percikan air, kedua matanya langsung terbuka lebar dan segera menarik pancingannya. "A-Apa? Sudah dapat!?" Namun sayang sekali, ternyata umpannya sudah dimakan tanpa sepengetahuan anak itu. Ia menghela napas kesal dan menggaruk kepalanya. "Aagh, sial." Kemudian pandangannya berpindah ke arah danau.
Seorang gadis kecil berjalan dengan pelan menuju ke tengah danau. Ia memiliki rambut sebahu dengan warna biru langit malam yang bergelombang. Ling Tong menatap gadis kecil itu kebingungan, sebelumnya ia pernah bertemu dengannya tapi belum pernah sekalipun menyapanya. Ling Tong biasanya bertemu dengan gadis itu di pasar. Ia selalu membawa tas punggung yang Ling Tong tidak tahu apa isinya.
Tidak. Ia tidak punya waktu untuk mengingat hal itu. Gadis kecil itu terus berjalan sehingga tubuhnya akan tenggelam. Ling Tong spontan berdiri lalu mengejarnya. "H-Hei! Kau! Apa yang kau lakukan!?"
Gadis kecil itu nampak terkejut, ia terlihat bingung dan cemas. Ling Tong memegang pergelangan tangan gadis itu dan menariknya. "Ayo! Kau mau apa ke tengah danau seperti itu!? Kau mau mati tenggelam!?" Sebetulnya ia tidak sengaja mengatakan itu, dia berharap gadis itu menghiraukan pertanyaannya barusan.
"Benar." jawabnya dengan nada rendah.
Ling Tong terpaku seketika. Ia tidak menyangka apa yang baru saja gadis itu ucapkan. Ketika ia menatap raut wajahnya, kedua mata gadis itu menurun, ia menggigit bawah bibirnya. Ling Tong bisa mendengar suara isakan tangisnya, gadis itu mencoba untuk tidak menitikkan air mata namun ia tidak mampu.
"Kau tidak sepatutnya melakukan ini. Ayo." ucap Ling Tong dengan nada rendah, agar bisa membujuk gadis itu. Setelah ia membawa gadis kecil itu keluar dari danau. Ling Tong masih belum berniat umtuk melepaskannya. "Biar kutebak. Kau tidak ingin pulang ke rumah kan? Kalau begitu, ayo ke rumahku sebentar. Kau harus ganti pakaianmu yang sudah basah."
Gadis itu tidak menjawab, ia juga masih belum mau menatapnya. Meskipun begitu, Ling Tong tetap akan membawanya ke rumah.
-xxx-
"Aku pulang!" Seru Ling Tong membuka pintu depan.
"Tong! Kau darimana sa-" Belum sempat menasehati putranya, sang ibu mengalihkan perhatiannya kepada gadis kecil yang dibelakang Ling Tong. "Astaga! Kamu kan An Shu! Kenapa kamu basah kuyup seperti ini?"
Gadis kecil yang bernama An Shu itu masih diam. Tubuhnya bergemetar dan lagi-lagi dia menangis. "Ayo, bibi akan pinjamkan pakaian. Tong, panaskan air untuk An Shu mandi ya."
'Yah, setidaknya ada hal yang bisa kulakukan.' batin Ling Tong.
Setelah An Shu mandi dan mengganti pakaian, Ibu Ling Tong kini langsung bertanya pada gadis kecil itu. "An Shu, Tong bilang kamu ingin mengakhiri hidupmu dengan menenggelamkan diri. Apa itu benar?"
An Shu masih belum mau berbicara. Ia terus mencoba untuk tidak menangis, ia kembali menggigit bawah bibirnya.
"Begitu. Jadi semua itu benar ya. Ayahmu... masih saja."
"Apa maksud ibu?"
"Ibu mendengar rumor bahwa ayahnya sering menyiksa Shu. Dia menyuruh Shu untuk bekerja agar uang penghasilannya dipakai untuk membeli arak. Tetangga Shu sudah sering kali menasehatinya tapi ia masih belum juga berubah." Jelas ibunya.
"Ayahku hanya..." gumam Shu. Ia berhenti sejenak karena isakan tangisnya belum berhenti. "...Itu semua salahku... Kalau saja ibuku masih hidup dan aku tiada... ayah pasti akan lebih bahagia."
"Tidak, kau salah! Apa yang kau bicarakan!?" Bentak Ling Tong.
An Shu menggeleng kencang. "Tidak! Kalau saja aku tidak dilahirkan. Dan ibuku selamat, ayah pasti lebih bahagia!" Ulangnya lagi.
"An Shu... jangan bilang begitu." Ibu Ling Tong menghapus air mata dipelupuk mata gadis kecil itu. "Kamu dilahirkan pasti ada alasannya. Jangan khawatir. Bibi akan membantumu."
"Alasan...aku dilahirkan?" gumam An Shu. Kini gadis itu kembali terdiam. Pikirannya berkelana untuk mencari tahu apa alasannya dilahirkan namun ia tidak tahu apa. "...Bibi?"
"Ya?"
"Apa bibi tahu apa alasanku untuk hidup?"
Wanita paruh baya itu tersenyum dan menjawab "Nanti kamu sendiri akan tahu." Mendengar jawaban tersebut, Ling Tong bisa tahu bahwa An Shu kecewa, terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Terima kasih, Bibi. Dan...um..." Pandangan gadis itu beralih ke Ling Tong. Manik matanya begitu indah berwarna kuning keemasan, ini pertama kalinya ia melihat iris mata yang sangat indah.
"Aku Ling Tong. Salam kenal."
Gadis itu tersenyum kecil, seketika melihatnya dada anak laki-laki itu terasa hangat dan ringan. "Namaku An Shu. Terima kasih sudah mau membantuku, aku akan membalas kebaikan kalian suatu hari nanti." Senyuman yang menyinggung di bibir merah jambunya itu melebar.
-XXX-
Rapat berakhir, kedua kaki Ling Tong terasa sakit karena berdiri terlalu lama. Ia tidak begitu fokus tapi ia ingat bahwa ayahnya ditunjuk untuk berpatisipasi perang pada musim semi yang akan datang. Ayahnya pernah mengatakan bahwa ia sering berada di garis depan, Ling Tong merasa bangga dicampur cemas padanya. Ia selalu berpikir apakah ia bisa mengalahkan musuh seperti ayahnya. Musuh yang juga manusia dengan secercah harapan demi mencapai kedamaian. Ia masih tidak tahu apakah cara mereka untuk menemukan kedamaian itu benar atau salah, ia tidak tahu. Ia ingin mengerti kenapa dunia dimana ia hidup selalu diisi dengan kesedihan, kebencian, penderitaan, keputusasaan, dan perpisahan yang selalu ingin ia hindari namun gagal. Siapa yang harus disalahkan?
Karena itu, ia ingin mengikuti jejak ayahnya yang juga ingin menemukan perdamaian. Ia ingin menjadi lebih kuat dan berani, tidak ingin menjadi pengecut. Dia hanya ingin hidup tenang kendati mengorbankan nyawa dan waktu.
Dan meninggalkan gadis itu disaat ia masih membutuhkannya. Ia menyesali itu, sangat.
"Jarang sekali aku melihatmu berpikir sangat serius, putraku." Tangan sang ayah yang terlihat keriput namun masih kuat mendarat di atas bahu Ling Tong.
"...Yah, sebenarnya..." Ia mengusap tengkuk lehernya, mencari kalimat yang tepat untuk diucapkan. "...aku mau latihan dulu." Ia masih belum bisa menemukan waktu yang tepat, jadi ia belum mau mengatakannya.
Sang ayah menaikkan kedua alisnya. "Oh. Baiklah. Ayah juga ada yang harus dikerjakan. Jangan sampai pulang telat ya."
"Ya, ayah."
-XXX-
Gadis bernama An Shu itu bersembunyi dibalik dinding, ia tengah memerhatikan anak laki-laki yang memiliki rambut coklat yang diikat tinggi yang sedang berlatih sendirian dengan sebuah sanjiegun. Ling Tong yang tidak merasa nyaman diamati terus menerus, menghela napas panjang. "Oi. Kau tidak harus mengamatiku diam-diam."
Gadis itu dengan perlahan keluar dari tempat persembunyian. "Apa aku mengganggumu?"
"Ya. Kalau kau mau memerhatikanku dari jarak dekat saja. Duduk disana." Ling Tong menunjuk kearah kursi yang terletak di halaman. An Shu mengangguk. Setelah ia duduk dan kembali memerhatikan Ling Tong. Wajahnya terlihat penasaran namun datar. Ling Tong menaikkan alisnya, kenapa ia begitu penasaran? Ling Tong membuang pertanyaan itu dan melanjutkan latihan. Kini atmosfernya kembali tenang, dengan suara hentakan senjata dan kaki. An Shu terlihat kagum melihatnya.
"Anu..." Gadis itu memulai pembicaraan.
"Ng? Ada apa?" Tanya Ling Tong, ia berhenti melakukan latihannya.
"Selama ini aku terus memerhatikanmu..."
"Ekh..." Belum selesai ia menyelesaikan kalimatnya. Ling Tong langsung merasa ucapannya terdengar sedikit...tidak, bukan menganggu. Ia merasa apa sejak ia hidup, gadis itu terus memerhatikannya? Atau-
"...ketika kamu sedang berlatih."
Ling Tong ingin melempar sesuatu ke langit, sesuatu yang besar lalu berteriak. 'ITU RUPANYA!?'. Namun ia harus menahannya untuk sementara, karena ia tidak tahu apakah dia akan takut atau melarikan diri jika ia melakukan itu. Ling Tong menunggu kalimatnya selanjutnya, sepertinya ia kesulitan memulai pembicaraan dengan seseorang.
"...kenapa...kau berlatih begitu keras?"
Ling Tong melipat kembali sanjiegun ke bentuk semula. Lalu ia duduk disampingnya, ia menjaga jarak agar tidak membuat suasana yang mengganggu.
"Kau sudah tahu ayahku bekerja dibawah pimpinan Sun Jian kan?" An Shu mengangguk. "Aku ingin seperti ayahku. Aku bosan hidup biasa seperti ini."
"Artinya, kau ingin ke medan perang?" Tanya gadis itu lagi.
"Sudah pasti kan?"
"...artinya kau harus membunuh orang yang juga manusia?" Kali ini pertanyaan gadis itu terdengar menjengkelkan, ia ingin membentaknya namun ia langsung mengurung niatnya."Apa aku salah?" Lantunan nada suaranya begitu polos namun penuh dengan pertanyaan.
"Itu benar..." Ling Tong memalingkan wajah. Dari ujung tepi matanya, gadis itu tersenyum. Laki-laki itu membelalakkan matanya. Kenapa ia tersenyum?
"Artinya... Ling Tong ingin melindungi semuanya, ya kan?"
Itu pertama kalinya perempuan itu memanggil namanya. Kedua bola mata emasnya bercahaya. Seulas senyumam menghiasi wajah manisnya, bibir merah jambunya yang gemerlap. Dia sangat-. Ling Tong langsung membuang pikiran itu, entah kenapa wajahnya terasa sangat panas. Apa karena ia berlatih terlalu keras? Atau cuaca hari ini panas? Tidak, sekarang pertengahan musim dingin. Cuacanya sangat dingin.
"Ling Tong hebat. Kau sangat rajin berlatih agar bisa lebih kuat... Sedangkan aku..." An Shu menggeleng kepalanya. " Lho? Kau tidak apa? Wajahmu merah sekali. Pakailah ini..." katanya sambil membuka syal panjang berwarna kuning-oranye dilehernya.
"T-Tidak usah! Aku selesai latihan. Ayo masuk, aku akan membuatkanmu teh."
"Terima kasih." Jawabnya. Entah kenapa kata 'terima kasih' darinya memiliki dua arti. Apakah ia berterima kasih menawarinya teh? Atau karena- "Ugh." Ling Tong mengurut dahinya. Ia harus berhenti berpikir yang tidak-tidak.
-XXX-
Ling Tong beristirahat diatas tanah yang tertimbun salju. Ia memandang langit, setitik salju jatuh di wajahnya satu persatu. Senjata sanjiegun miliknya sudah dilipat kembali. "Membosankan..." Ia memasangkan syal berwarna kuning-oranye di lehernya lebih erat. Lalu ia menyimpan senjatanya kemudian memutuskan untuk pulang.
Ketika perjalanan menuju rumah, ia melihat seseorang di tepi sungai. Orang itu...perempuan? Ia sedikit bingung melihat rambut pendek yang menutup tengkuk leher rampingnya. Rambut biru gelap yang bergelombang bagaikan langit malam. Kulitnya terlihat pucat, entah kenapa tubuhnya terhuyung-huyung.
Ia hendak terjatuh.
"O-Oi!" Ling Tong langsung berlari kearahnya, jika ia tidak dapat menangkapnya orang itu akan jatuh ke sungai. Semakin dekat, Ling Tong mulai yakin bahwa dia adalah perempuan. Namun ia masih ragu bahwa ia adalah...
"Oi! Ada apa denganmu!?" Ling Tong menarik tangan perempuan itu. Namun, ia kehilangan tenaga sehingga ia jatuh di pangkuannya. "K-Kau..."
"...Sudah kuduga itu kau, Ling Tong." Perempuan itu tertawa kecil dan mengedipkan sebelah matanya. "Aku bisa tahu dari suaramu. Teehee!"
"A-Apa yang kau lakukan disini!?" Ling Tong melepas tangannya.
"Serasa deja vu, ya kan?" Ucap gadis itu. Dialah perempuan yang selalu menganggu pikirannya sejak pagi, teman lamanya An Shu.
"Oi, jawab pertanyaanku!"
"Hm~? Sudah jelas kan?"
"Tidak sama sekali!" Jawab Ling Tong langsung.
Gadis yang merupakan teman lamanya itu menggembungkan sebelah pipinya. "Tebak sendiri."
Ling Tong mengurut dahinya kemudian menghela napas. "Kau tersesat?"
"...nuh-uh!" An Shu menggeleng dan menggoyangkan jari telunjuknya. "Padahal jawabannya sejelaaasss itu tapi malah tidak tahu." Gerutu An Shu.
"Baik. Aku menyerah."
"Eeeh!? Menyerahnya cepat banget!" Pekik Shu kaget.
"Aaakh! Bilang saja apa salahnya!" Gerutu Ling Tong.
Kini An Shu menggembungkan kedua pipinya. Ia melipat tangannya. "Ling Tong bodoh."
"Oi. Aku mendengarnya dengan jelas..."
"...Hmph!" An Shu membalikkan badan, ia masih mencebik. Ling Tong menghela napas panjang lalu mengusap tengkuknya.
"Aku mau pulang." Ia pun pergi meninggalkan gadis itu. Dengan meninggalkannya sendirian, ia yakin perempuan itu akan mengikutinya.
KRUUUK
Ling Tong mendengar jelas suara itu. Sangat keras, tepat dibelakangnya. "Kau...lapar?" Tanya Ling Tong.
Terlihat jelas dari wajahnya yang merona merah. Ia memeluk perutnya dan memalingkan wajah. "T-Tidak..."
"Kau sangat buruk dalam berbohong, dasar..." Ling Tong menyentil dahi gadis itu.
"Uuh!" An Shu spontan memekik kecil dan menyentuh dahinya. Melihat wajah mencebiknya yang lucu itu membuat Ling Tong tertawa.
"Yuk, aku akan membelikanmu baozi sebagai permintaan maaf. Bagaimana?" Ling Tong tersenyum, berharap dia mau menerimanya.
"..." Gadis itu melirik Ling Tong dari tepi matanya. Kemudian ia tersenyum. "Hum! Diterima!" An Shu tersenyum lebar. "Hari ini aku akan makan banyak lho! Jangan protes!"
"Ya ya. Kau boleh makan sepuasmu. Ayo, sebentar lagi warungnya akan tutup."
"Dimengerti!" An Shu pun berlari mendekati Ling Tong. Senyuman polosnya itu masih menghiasi wajahnya.
"Jadi? Kenapa kau datang kesini?" Tanya Ling Tong.
"Huh... masih belum sadar juga ya? Tentu saja aku datang untuk menemuimu! Apa kau tidak membaca surat yang aku kirim!?" An Shu berkacak pinggang.
"Surat?" Lalu ia ingat ayahnya tadi pagi menyembunyikan sebuah surat. Apakah surat itu? "Ah? Entah kenapa ayah menyembunyikan surat itu dariku. Aku tidak tahu apa isinya. Jadi, alasan kau datang kesini?" An Shu tidak menjawab. Ia memalingkan wajah. "Oi."
"E-Eh? Ah, mungkin ayahmu ingin memberi kejutan padamu kalau aku datang mengunjungimu? Haha..." Tanya An Shu.
"Dasar ayah. Kenapa harus pakai kejutan..." gerutu Ling Tong.
"Namanya kejutan yah untuk mengagetkanmu~"
"Itu tidak perlu."
"Cih~ Nggak asyik."
"Yah. Yang penting kau sudah datang kesini itu sudah cukup kan?" Ling Tong terkekeh sambil mengacak rambut biru gelapya. Ia mengira An Shu akan marah karena telah membuat rambutnya kusut tapi dia tertawa.
"Tong. Sepertinya kau senang sekali bertemu denganku lagi. Syukurlah!" An Shu tersenyum lebar.
Melihat senyumannya, Ling Tong melepas belaian pada rambut gadis itu, ia memalingkan wajah.
"Ng? Tong? Kenapa?" An Shu memiringkan kepala untuk melihat raut wajahnya yang terlihat aneh baginya.
"B-Bukan apa-apa." Ia menutup mulutnya dengan punggung tangannya. Ia merasa terganggu dengan wajahnya yang tiba-tiba memanas. "Kau terlihat lebih ceria daripada dulu. Dasar, aku tidak mengerti dirimu." Dengus Ling Tong.
"Eh? Kau bilang apa?" Tanya An Shu.
"Tidak ada." Ling Tong memasukkan kedua tangannya ke kantong celana.
"Eeeh!? Tadi aku jelas mendengarmu mengatakan sesuatu!" An Shu berdiri di depannya. "Tong~ Katakan!" Paksanya sambil memasang wajah memelas.
"Sudah kubilang tidak ada! Oh, warungnya sudah mau tutup tuh!" Ling Tong menunjuk warung baozi didepannya. An Shu langsung berlari ke warung tersebut. "O-Oi!"
"Bibi! Tunggu! Kami mau membeli baozi! Masih ada kan~?"
"Ah. Masih ada kok. Tunggu ya."
"Ya ampun. Kau ini tidak tahu malu ya?" Ucap Ling Tong.
"Hmhm. Tapi akhirnya warungnya tidak tutup kan? Ayo! Kau akan mentraktirku bukan?" An Shu kembali berkacak pinggang.
"Ya ya..."
-XXX-
A/N : Oke, hanya sedikit yang di-edit kok. Supaya ceritanya bisa langsung. Dan An Mei hanya akan muncul di flash-back karena dia mati umur 12 tahun.
Dan untuk chapter berikutnya akan di-update hari Minggu, mungkin. Tapi saya usahakan.
