KIM JAEJOONG II

-Sebenernya ini ff bukan tipe saya. Mulai dari karakter tokohnya, genre-nya, terus alurnya yang sangat sangat pasaran dan mudah ketebak, ini bukan ff kesukaan saya. Malah saya sendiri ngga suka ff kayak gini. Tapi ngga tau lah, tiba-tiba dapetnya kayak gini lmao. Dapet ilhamnya lembek. So, sorry its not a good fiction ToT-

.

.

Semilir angin menghembus dengan lembut. Suara desiran ombak yang berkejaran menjadi alunan tersendiri bagi pendengaran dua orang namja yang duduk di hamparan pasir pantai dengan masih memakai seragam sekolahnya.

Jaejoong –namja cantik itu menatap kosong pasir-pasir putih di depannya. Sementara seorang namja tampan nan tinggi di sampingnya hanya memperhatikan namja cantik itu dengan sendu.

Yeah...setelah kejadian yang membuat semua orang kecewa itu, mereka memutuskan membolos dan menenangkan diri di pantai yang hanya terdapat sedikit pengunjung itu. Changmin tak ingin sahabat tersayangnya itu terus memikirkan Jung Yunho –namja yang mungkin telah menorehkan luka dalam pada hati namja cantik ini.

Jaejoong –sang namja yang dikenal dengan tingkah polahnya yang riang itu kini tampak seperti tubuh kosong tak memiliki ruh yang bisa membuatnya hidup dan melihat dunia. Ia sama sekali tak merespon apa yang dikatakan Changmin. Namja cantik itu juga hanya diam saat tubuhnya dibawa Changmin sampai ke pantai ini. Sepertinya namja cantik ini masih terkejut dengan apa yang dialaminya.

"Hyung, sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Yunho itu namja yang tidak memiliki perasaan. Buat apa kau memikirkan namja seperti itu?" ucap Changmin yang mulai gerah melihat Jaejoong. Ia merasa kesepian jika Jaejoong hanya berdiam diri. Dalam hatinya ia ingin membunuh Yunho karena telah membuat hyung-nya seperti ini. Bahkan tadi ia menyebut nama Yunho dengan tidak menggunakan kata 'hyung' seperti biasanya.

Changmin menghembuskan nafas berat. Ia tidak tahan dengan Jaejoong yang seperti ini. "Lupakan dia, hyung. Dia tidak membutuhkanmu, bahkan ia menyebutmu menjijikkan dan..." Changmin menghentikan ucapannya. Ia menolehkan kepalanya pada namja cantik di sampingnya itu.

"Hiks...hiks...hiks..." akhirnya isakan namja cantik itu keluar setelah sedari tadi ia tak bisa mengeluarkan suaranya karena terlalu terkejut. Namja cantik itu semakin merasakan sakit di dadanya saat Changmin kembali mengatakan kata 'menjijikkan'. Sebuah kata yang tak ia sangka akan keluar langsung dari mulut namja yang telah membawa hatinya.

Changmin tak tega melihat hyung-nya menangis dengan memeluk lututnya. Tak terpungkiri hati Changmin juga terasa sakit saat suara isakan itu semakin terdengar pilu. Ia lantas memeluk Jaejoong.

"Jangan menangis. Tenanglah, hyung~" ucap Changmin masih dengan ia yang memeluk Jaejoong erat. Ia merasakan baju depannya basah karena air mata Jaejoong. Namun, ia sama sekali tak mempermasalahkan itu. Ia hanya ingin hyung-nya tenang.

Lama mereka dalam posisi seperti itu. Jaejoong tak lagi mengeluarkan suara isakan dan air matanya. Namja cantik itu sedikit lebih tenang setelah ia menangis sepuasnya dalam rengkuhan Changmin.

Namja cantik itu melepaskan dirinya dari pelukan Changmin, lalu ia menatap Changmin dengan mata sembabnya yang tampak sendu.

Changmin tak berbicara apapun. Ia menunggu Jaejoong mengatakan sesuatu yang ingin diucapkannya.

"Changmin-ah..." ucap Jaejoong pelan. Ia memulai pembicaraan karena Changmin ternyata tak mengatakan apapun.

"Kau menganggapku..." Jaejoong menggantung ucapannya. Dengan sedikit ragu namja cantik itu melanjutkan kata-katanya dengan jantung yang berdegup kencang. "…menjijikkan?"

Changmin masih tetap diam menatap namja cantik itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Itu membuat namja cantik itu semakin merasakan sakit dalam hatinya. Ia takut jika Changmin juga menganggapnya menjijikkan selama ini. Ia tak akan sanggup jika Changmin –sahabat satu-satunya ini juga ternyata beranggapan sama dengan Yunho.

Namja jangkung itu mengangkat tangan kanannya lalu mengacak rambut Jaejoong pelan. "Kau adalah sahabat terbaikku, kau orang yang sangat menyenangkan, kau orang baik hati dan kau juga cantik walaupun kau itu seorang namja. Bagaimana mungkin aku menganggap orang sepertimu menjijikkan? Aku sangat menyayangimu, Kim Jaejoong. Jadi kau tidak boleh bersedih seperti itu. Seorang malaikat tidak boleh memiliki rasa sedih." ucap Changmin dengan senyum hangat yang mengembang di bibirnya.

Jaejoong menatap Changmin dengan senyum tipis kelegaan. Walaupun sebelumnya ia sedikit sebal karena Changmin menyebutnya cantik. "Tapi aku bukan malaikat," ucapnya pelan.

"Kau malaikat. Kau membawa kebahagiaan pada orang-orang di sekitarmu dengan tingkahmu." ucap Changmin masih menatap Jaejoong dengan senyum lembutnya.

"Tapi Yunho tidak suka aku berada di dekatnya. Dia bahkan menganggapku menjijikkan~" wajah namja cantik itu berubah lagi saat ia mengingat kata-kata Yunho.

"Sssttt...dia itu orang bodoh. Sangat bodoh karena ia menyianyiakan namja sepertimu. Di luar sana masih banyak yang menginginkanmu." ucap Changmin seraya kembali memeluk Jaejoong.

Jaejoong kembali melepaskan pelukan Changmin. Dengan cepat ia menghapus sisa air mata yang menempel di pipinya. "Changmin-ah..."

"Hum?" gumam Changmin menanggapi panggilan Jaejoong.

"Jadilah kekasihku..." ucap Jaejoong mantap tanpa keraguan sama sekali.

"MWO?" Changmin membelalakkan matanya menatap Jaejoong. Aigoo...ia tidak menyangka Jaejoong akan mengatakan itu padanya. Dan sekarang apa yang harus ia katakan?

"Changmin-ah...kau tidak mau? Kau juga menganggapku jijik, 'kan?!" oh tidak. Changmin menghela nafas beratnya lagi. Sekarang namja cantik itu kembali menangis.

"Aishh...H-hyung berhentilah menangis.." ucap Changmin. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana tidak, beberapa pengunjung pantai itu mulai memperhatikannya mereka sekarang.

"Huwee..." tangis Jaejoong semakin keras.

Changmin kelabakan karena Jaejoong yang tak berhenti menangis dan malah semakin keras. Gerutuan pengunjung pantai membuatnya bingung harus bagaimana. Akhirnya ia kembali membenamkan kepala Jaejoong dalam dadanya untuk meredam tangisan namja cantik itu. "B-baiklah. Aku mau!" ucap Changmin.

Seketika Jaejoong menghentikan tangisannya. Dengan cepat ia melepaskan dekapan Changmin lalu menatap namja jangkung itu dengan mata yang berbinar. "BENARKAH?!"

Dengan perasaan yang berkecamuk Changmin menganggukkan kepalanya. Aishh, seriously?!

.

.

"Ini masih terlalu pagi untuk pulang, hyung. Kau mau kembali ke sekolah?" tanya Changmin.

Namja cantik yang tengah menggandeng tangan Changmin itu menolehkan kepalanya. Bibirnya mengerucut lagi, "Kau mau kita dibunuh Choi Seonsaengnim karena ketahuan membolos?" tanya Jaejoong. Saat Changmin akan menjawab Jaejoong kembali mengeluarkan suaranya, "Jangan memanggilku hyung lagi! Bukankah kau kekasihku? Panggil aku Jaejoongie." pinta Jaejoong pada Changmin yang tampak bingung dengan namja cantik di sampingnya ini. Changmin melihat Jaejoong dengan heran, namja cantik itu tampak biasa saja seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya.

Namun, hati orang siapa tahu. Sebenarnya Jaejoong masih merasakan sakit dalam dadanya. Rasa sakit itu masih sesakit saat ia mendengarkan kata-kata kasar Yunho. Ia hanya tak ingin memperlihatkan kesedihannya pada Changmin. Ia berencana akan belajar untuk melupakan Yunho dengan bantuan Changmin. Jaejoong sangat yakin jika ia bisa melakukannya. Tapi...entahlah.

Yunho berjalan cepat dengan pandangan matanya yang mengelilingi setiap tempat yang ia lewati. Bibirnya terus menggerutu tak jelas. Sesekali ia menggaruk belakang kepalanya dengan frustasi.

"Aish...Kim Jaejoong, dimana kau?"

Yunho –namja tampan itu sedari tadi mencari keberadaan Jaejoong setelah kejadian pembentakan itu. *pembentakan? Apaan tuh? -_- bahasanya gk karuan T_T*

Sungguh, ia merasa sangat bersalah pada namja cantik itu. Ia ingin mencari Jaejoong dan meminta maaf padanya. Dan sekarang, dimana Jaejoong berada? Setelah Changmin membawa Jaejoong pergi, Yunho tak lagi menemukan Jaejoong di setiap penjuru sekolah.

Yunho memutuskan kembali ke kelasnya untuk mengikuti pelajaran karena bel tanda pelajaran akan segera dimulai. Ia akan mencari Jaejoong lagi besok dan meminta maaf padanya.

Haripun berlalu. Kini Jaejoong tengah mendudukkan dirinya dikursi di teras rumah besarnya. Jaejoong –namja cantik itu sedang menunggu jemputan dari seseorang yang baru kemarin menjadi kekasihnya. Mereka akan berangkat bersama kali ini.

Sebenarnya Jaejoong tak ingin ke sekolah saat ini. Ia pikir jika ia berangkat ke sekolah ia akan bertemu dengan Yunho dan melihat namja yang masih dicintainya itu bermesraan dengan yeoja yang bernama So Ae itu. Sungguh, Jaejoong tidak akan bisa melihat itu. Ia tidak akan tahan dengan rasa sakit di dadanya yang membuatnya serasa ingin membunuh dirinya sendiri agar rasa itu segera hilang dari tubuhnya.

Lama berkutat dengan pikirannya tentang Yunho, sebuah suara klakson menyadarkannya. Namja cantik itu tersenyum manis saat seseorang yang berada di dalam mobil itu melambaikan tangan padanya.

Jaejoong berdiri dari duduknya lalu menghampiri Changmin. Namja cantik itu langsung masuk ke dalam dan memakai seatbeltnya.

"Sudah lama menunggu?" tanya Changmin.

"Tidak~ lagipula aku menunggumu di rumah. Jadi sekalipun kau lama itu tidak masalah untukku karena aku tidak akan kepanasan." jawab Jaejoong dengan senyum merekah di bibir tebal sexy-nya.

Changmin tak membalas ucapan Jaejoong. Ia hanya tersenyum melihat kekasih barunya itu. Dengan keadaan perasaannya yang seperti itu, masih saja peduli dengan kulit putihnya, batin Changmin.

Kemudian Changmin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sekolah. Tak banyak obrolan yang mereka bicarakan. Jaejoong sedikit berbeda dengan Jaejoong yang asli meskipun namja cantik itu sudah berusaha menyembunyikan kesedihan hatinya.

Seorang namja tampan dengan motor sport hitam yang ditungganginya itu memasuki gerbang sekolah elit yang menjadi sekolah favorit masyarakat Seoul. Setelah itu sebuah mobil Audi A6 bergantian memasuki gerbang itu. Mobil itu terparkir tepat di samping motor seorang namja yang bernama Jung Yunho.

Yunho telah turun dari motor dan menggantungkan helm-nya pada spion motornya. Ia akan melangkahkan kakinya berniat ingin masuk ke kelasnya sendiri untuk menaruh tasnya lalu ia akan mencari Jaejoong. Namun, urung saat ia melihat sebuah mobil yang ia tahu itu memang mobil Changmin –sahabat Jaejoong.

Yunho menunggu sang empu keluar dari mobil itu untuk menanyakan keadaan Jaejoong. Yunho masih merasa khawatir dengan namja cantik itu.

Sementara di dalam mobil. Namja cantik itu tampak sedang memperhatikan Yunho dengan sendu. Ia ingin menemui namja tampan pujaan hatinya. Namun, ia tak ingin Yunho terganggu dengan kehadirannya dan pada akhirnya mengatakan kata-kata kasar itu lagi di depannya.

Changmin mengikuti arah pandang Jaejoong. Ia mengigit bibir bawahnya. Jaejoong pasti kembali memikirkan Yunho. Changmin tahu jika Jaejoong masih mencintai Yunho. Sekarang apa yang harus ia lakukan?

Namja tampan dan tinggi itu kembali mengalihkan pandangannya pada Jaejoong yang masih menatap Yunho yang juga tengah menatap mobil mereka dengan tatapan yang sama-sama sendu.

"Kajja, kita harus turun sekarang jika tidak ingin terlambat." ucap Changmin. Kali ini dengan wajah riang yang menghiasi wajah tampannya.

Mendengar suara yang sangat dikenalnya itu, Jaejoong tersadar dan mengalihkan pandangannya dari Yunho. Jaejoong menampakkan senyum manisnya untuk membuktikan jika ia tidak apa-apa.

"Hum, ayo~!"

Sementara Yunho, namja tampan itu masih setia menunggu Changmin untuk keluar dari mobilnya. Ia sedikit heran, mengapa Changmin tidak segera keluar? Yunho tidak bisa melihat apa yang Changmin lakukan di dalam karena memang kaca mobil mewah itu berwarna hitam pekat.

Yunho berbinar saat mata musangnya mendapati pintu mobil itu bergerak terbuka. Dilihatnya Changmin keluar dari sana. Yunho tersenyum lalu melangkahkan kakinya untuk menghampiri Changmin dengan senyum yang menampakkan gigi rapinya.

Namun, baru langkah pertama yang dilakukannya, sejenak ia berhenti saat matanya menangkap sosok yang membuat perasaannya tak karuan. Ia melihat Jaejoong juga keluar dari mobil itu dengan wajah yang penuh senyum bahagia.

Yunho akan kembali melangkahkan kakinya untuk menghapiri Jaejoong, namun, terpaksa terhenti lagi. Sungguh, sesuatu dalam dadanya terasa sakit dan nyeri. Darah yang mengalir dalam tubuhnya dapat ia rasakan dengan jelas saat mata musang itu melihat tautan tangan Jaejoong dan Changmin.

Yunho tahu jika mereka itu sahabat. Yunho juga tahu jika Jaejoong sering menggenggam tangan Changmin. Tapi ini...entahlah, ada rasa tidak suka dalam hatinya. Rasa tidak rela saat tangan namja cantik itu digenggam oleh orang lain.

Yunho tak jadi menemui mereka karena memang Jaejoong dan Changmin sudah tak terlihat lagi oleh pandangannya. Namja tampan itu menghembuskan nafas dalam lalu ia melanjutkan langkahnya menuju kelas.

Tiga jam pelajaran telah berlalu dengan lancar. Semua siswa yang mengikuti mata pelajaran tampak tenang mendengarkan setiap penjelasan dari sang guru.

Namun, berbeda dengan namja cantik dan tampan yang berada di kelas yang berbeda itu. Pikiran kedua namja itu seolah tak berada di tempatnya. Mereka memang menatap pengajar yang ada di depan mereka, namun, mereka sama sekali tidak bisa konsentrasi dengan pelajaran yang didapatnya hingga bel istirahat berbunyi dengan nyaring.

"Jaejoongie..." panggil Changmin lembut. Ia berada di belakang Jaejoong dengan tangan yang mengusap kepala namja cantik itu untuk menyadarkannya. Yeah...sedari tadi Changmin terus memperhatikan Jaejoong yang hanya diam saja. Ck~ Changmin sangat tidak suka Jaejoong yang seperti ini. Ia berjanji tidak akan membiarkan Jaejoong kembali berhubungan dengan Yunho.

"Eoh? Changminnie...kau mau makan?" tanya Jaejoong saat ia tersadar dari lamunannya karena usapan Changmin di kepalanya. Jaejoong akui ia memang banyak melamun akhir-akhir ini.

"Melamun lagi, eoh?" tanya Changmin dengan dengusan sebalnya.

"Maafkan aku~" ucap Jaejoong dengan memandang Changmin sendu. Ia merasa bersalah pada namja tinggi ini. Ia meminta Changmin untuk menjadi kekasihnya namun ia sama sekali tak bisa menghilangkan perasaannya pada Yunho.

"Tak masalah. Kajja, kita ke kantin bersama. Kali ini aku yang akan mentraktirmu." ucap Changmin karena tak ingin membuat Jaejoong kembali sedih.

"Tidak perlu ke kantin. Aku membuatkan bekal untukmu. Kita makan di sini saja ya." pinta Jaejoong dengan senyum cerianya yang menampakkan deretan gigi putihnya.

"Benarkah?" Changmin berbinar mendengar Jaejoong membuatkannya bekal. Changmin memang sering memakan masakan Jaejoong dan itu sangat enak menurutnya. Masakan Jaejoong bisa mengalahkan masakan koki handal sekalipun.

Jaejoong tersenyum senang melihat Changmin yang begitu antusias saat ia mengeluarkan kotak bekalnya. Dalam hati ia menginginkan Yunho yang menunjukkan ekspresi seperti itu. Hahh...jika itu terjadi Jaejoong akan menetapkan dirinya menjadi namja terberuntung di dunia. Tapi, tentu saja itu hanya sebuah pengandaian. Pengandaian itu sebuah kebohongan, bukan?

Yunho mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin. Namun, ia sama sekali tak menemukan orang yang dicarinya. Namja tampan itu menghembuskan nafas beratnya. Ia kembali mengalihkan tatapannya pada makanan yang dipesannya tadi. Namun, namja tampan itu sama sekali tak menyentuh makanannya.

Yoochun dan Junsu yang berada di depannya. Sepasang kekasih itu sama sekali tak memperdulikan Yunho. Mereka masih kecewa pada namja tampan ini. Namun, tak terpungkiri terdapat rasa khawatir dalam hati mereka saat melihat Yunho yang seperti itu. Bagaimanapun, Yunho tetaplah sahabat mereka.

"Aku...ke toilet dulu," ucap Yunho pada Yoochun dan Junsu. Mereka menjawab pernyataan Yunho hanya dengan gumaman kecil.

Yunho kembali menghembuskan nafas beratnya. Sudah berapa kali ia membuang nafas beratnya hari ini?

Namja tampan itu melangkahkan kakinya keluar kantin dan menuju toilet seperti yang ia katakan tadi.

Sepi. Itu yang ia rasakan sekarang. Tidak ada suara-suara yang memanggilnya dengan panggilan menggelikan itu. Tak ada yang mengikutinya kemanapun. Tak ada yang menggelayut manja di lengannya. Semua itu telah hilang dalam kegiatannya hari ini.

Puk

Yunho merasakan tepukan di pundaknya. Seketika wajah kusutnya menjadi berbinar. Sudut bibir hatinya tertarik membentuk senyuman lebar. Dengan cepat namja tampan itu membalikkan tubuhnya.

"Kim Jae..." ucap Yunho terpotong saat ia membalikkan tubuhnya dan tidak mendapati seseorang yang ingin dilihatnya tersenyum riang padanya. Wajah yang sempat berbinar itu kembali redup.

"Huh? Siapa?" tanya seorang namja yang tadi menepuk pundak Yunho.

"Ahh...maafkan aku. A-aku salah orang. Yeah..." ucap Yunho gugup. Ia tersenyum dengan canggung pada namja itu.

"Ah...kau dipanggil Kang Seonsaengnim di kantor." ucap namja itu saat ia ingat bahwa ia harus memberitahu Yunho jika guru olahraganya itu memanggil sang kapten basket.

Yunho menganggukkan kepalanya tanda mengerti, "Ya, aku akan segera kesana. Terima kasih~"

Lagi-lagi namja tampan bermata musang itu menghembuskan nafas beratnya. Ada apa dengannya? Bukankah ini yang ia inginkan? Tanpa Kim Jaejoong yang mengganggu hari-harinya dan mengambil privasinya. Tapi kenapa hatinya seolah tidak ingin itu terjadi?

Yunho membalikkan badannya lalu melangkahkan kakinya menuju kantor guru. Namun, langkah kaki itu seolah tak ingin diatur oleh otaknya. Ia berjalan menuju kantor guru dengan mengambil jalan yang berputar lebih jauh untuk menuju kantor.

Entahlah...tapi, Yunho ingin melewati kelas di mana Jaejoong berada. Tanpa sadar ia telah sampai di depan kelas namja yang selama ini mengaguminya. Dengan perasaan ragu dan jantung yang berdegup kencang, Yunho melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas itu.

DEG

Seolah tertimpa sebuah batu besar. Ia merasakan perasaan yang sangat menyesakkan saat ia melihat Jaejoong yang dengan riangnya menyuapi Changmin. Jantungnya berdetak tak nyaman dan sangat cepat. Ia dapat merasakan debaran itu dalam dadanya jika ia menempelkan telapak tangannya di sana.

Yunho tak tahu mengapa ia seperti ini. Tapi ia tidak suka saat melihat kotak bekal itu. Kotak bekal yang dulu sering Jaejoong bawa hanya untuk dirinya. Tapi sekarang? Kotak bekal itu Jaejoong bawa untuk orang lain dan bukan untuknya.

Yunho merasakan sesak dalam dadanya, ia segera membalikkan tubuhnya keluar kelas itu. Ia tak ingin terlalu lama melihat kedua orang itu bermesraan. Yunho penasaran sebenarnya apa hubungan mereka itu? Kenapa mereka sedekat itu jika hanya sebatas sahabat?

Jam berputar begitu cepat. Sembilan jam telah mereka lewati dengan baik.

Seorang namja cantik berjalan dengan santai di koridor sekolah. "Jaejoongie, kau pulang sendiri, ya. Aku harus cepat mengantar Umma ke rumah sakit untuk check up. Tidak apa-apa, 'kan?" ucap Changmin yang tengah berjalan bersama Jaejoong menuju tempat mereka memarkirkan kendaraan.

Namja cantik itu tersenyum lebar. "Gwenchanha. Aku bisa akan meminta Appa menjemputku."

Changmin tersenyum lalu mengacak rambut hitam Jaejoong membuat namja cantik itu mendengus kesal. Tangannya terangkat untuk merapikan kembali rambutnya yang berantakan karena ulah Changmin. Kemudian namja yang memiliki postur tinggi itu berlalu dari hadapan Jaejoong setelah berpamitan dan berpesan agar Jaejoong berhati-hati.

Keadaan sekolah telah sepi. Hanya terdapat anggota-anggota tim basket yang sedang latihan.

Jaejoong mengedarkan pandangannya ke sekeliling sekolah. Sepi. Ia membalikkan tubuhnya lalu melangkah kembali ke dalam sekolah. Langkah kakinya berhenti di sebuah kelas yang tak jauh dari lapangan basket yang panas itu.

Jaejoong berdiri di balik tembok. Ia tersenyum tipis melihat Yunho yang dengan serius mendribble bola. Namja yang tengah diperhatikannya itu semakin tampan dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya saat ia berhasil memasukkan bole ke ring lawan.

"Kau bahagia? Aku akan menjauhimu jika itu membuatmu bahagia, Yunho-ya." ucap Jaejoong pelan. Mata besarnya basah dengan air mata yang menggenang di sana.

Dengan langkah pelan tak bersemangat Jaejoong kembali keluar dari sekolah itu. Membawa tubuhnya berjalan hingga ia sampai di halte. Ia ingin sendirian sekarang.

Suara pekikan kemenangan terdengar keras dari tim Yunho. Pekikan itu dibarengi dengan suara peluit yang mengalun dengan nyaring menandakan waktu permainan mereka habis.

"Aishh...Yunho, kau masih saja susah dikalahkan." ucap Yoochun seraya tangannya meninju pelan lengan Yunho.

"Aku memang hebat. Menyerah saja jika telah melawanku," sombong Yunho. Yoochun dan Junsu memang tak lagi mendiamkan Yunho. Sekali lagi, mereka sahabat. Mereka tidak bisa terus menyalahkan Yunho seperti itu.

Yoochun mendengus sebal mendengar Yunho. Ia ingin menyelak pernyataan Yunho, namun, seseorang yang dicintainya itu datang dengan membawa minuman isotonik di tangannya lalu menyerahkannya kepada Yoochun.

Yunho melihat pasangan kekasih itu dengan rasa sesak di hatinya. Seketika ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut sekolah yang bisa dijangkau oleh matanya.

Lagi-lagi rasa sakit itu kembali. Jaejoong. Di mana dia? Kenapa dia tidak membawakan Yunho minuman isotonik untuknya. Seharusnya namja cantik itu menunggunya sampai ia selesai latihan, lalu saat ia telah selesai akan terdapat sekaleng minuman yang menyentuh pipinya. Tapi ini di mana namja cantik itu? Seharusnya Jaejoong juga membawakannya kotak bekal dengan gambar beruang itu.

Tunggu. Yunho kembali mengingat jika kotak bekal itu telah tidak ada isinya mengingat tadi Jaejoong membawakannya untuk Changmin.

Lagi. Hatinya kembali sakit. Sungguh, Yunho tidak tahan dengan rasa sakit dan sesak itu.

"Agggghhhhh...Ada apa denganku?" Yunho berteriak seraya tangannya yang berkeringat memukul pagar berbentuk jaring yang mengelilingi lapangan itu. Nafas namja tampan itu memburu.

"Kenapa kau membuatku gila, Kim Jaejoong." gumam Yunho frustasi. Kim Jaejoong yang dibencinya itu membuat perasaannya menjadi tak karuan. Berbagai perasaan tercampur menjadi satu hingga membuatnya penuh dan sesak.

Tak ingin memikirkannya terlalu lama. Akhirnya namja tampan itu mengambil tasnya dan berniat pulang untuk menenangkan pikirannya.

Semakin hari Yunho merasakan kesepian dalam hatinya. Tak terpungkiri ia sangat merindukan Jaejoong. Merindukan saat namja itu mengikutinya, merindukan saat namja itu menunggunya hingga ia selesai latihan basket, merindukan namja itu mengelap keringat yang menetes di wajahnya saat usai bermain basket, merindukan masakan namja cantik itu, merindukan senyum namja cantik itu, merindukan sosok ceria itu, merindukan polah tingkah namja itu. Yeah, sudah jelas sekarang. Ia merindukan Kim Jaejoong, sangat merindukan namja yang diakuinya cantik itu.

Yunho masih belum mengerti apakah ia juga mencintai Jaejoong ataukah tidak. Ia hanya bisa memahami perasaannya saja namun tidak bisa menyimpulkan.

Jaejoong selalu menghindari Yunho saat namja tampan itu ingin menghampirinya. Selalu ada alasan untuk Jaejoong menghindar.

Bahkan yang menyakitkan untuknya, semakin hari Jaejoong terlihat semakin dekat dengan Changmin.

Yeah...ia akui ia sakit melihat Jaejoong bersama namja tinggi itu. Rasa tak relanya begitu kuat hingga ia ingin membunuh Changmin saat itu juga. Tapi kembali lagi pada kenyataan? Siapa yang menyuruh Jaejoong pergi dari sisinya? Siapa yang menganggap namja cantik itu menjijikkan?

Sungguh, jika Yunho bisa berbicara dengan sang pengatur waktu, ia akan meminta dikembalikan ke waktu itu. Waktu di mana ia membentak Jaejoong, waktu dimana ia menyakiti hati Jaejoong.

Jika itu bisa terjadi, Yunho berjanji tidak akan mengulangi kejadian itu lagi. Ia berjanji akan berusaha menghiraukan apa yang orang katakan terhadapnya dan lebih mementingkan hatinya. Tapi apa itu bisa terjadi? Tidak mungkin.

Seorang namja tampan tengah berjalan dengan santai. Walaupun seharusnya ini jam pelajaran, namun, semua siswa masih berkeliaran di luar kelas.

Yeah...semua guru memang sedang mengadakan rapat. Entah apa yang mereka diskusikan, namun itu membuat para siswa senang mendengarnya. Sebagian dari mereka memanfaatkan waktu itu untuk berlatih kegiatan ekstrakulikuler mereka.

Sementara Yunho, ia sedang tidak dalam keadaan hati yang baik. Namja tampan itu lebih memilih menikmati udara segar yang belakangan ini tak bisa ia nikmati.

Ia melangkahkan kakinya kemana saja ia mau. Berjalan mengelilingi setiap sudut sekolah yang menurutnya menarik.

"Yunho oppa~" panggil seorang yeoja yang beberapa hari lalu terlibat dalam masalahnya bersama Jaejoong.

Ia memandang yeoja itu datar. Sedikit gerah saat ia melihat senyum yeoja itu. Hey! Apa Yunho sudah tidak menyukai yeoja cantik dan sexy? Nobody knows.

"Mwo?" jawabnya datar. Ia sedikit menggerakkan tangannya untuk menyingkirkan sebuah tangan yang sedang bergelayut manja di lengan kekarnya.

"Oppa, kau mau membantuku. Leeteuk oppa tidak masuk hari ini. Seharusnya dia yang menjadi pengeran dalam drama Snow White. Karena Leeteuk oppa tidak masuk dan aku belum begitu mendalami adegan ciuman, jadi kau harus membantuku oppa~" ucap yeoja itu manja.

Yunho membulatkan matanya saat mendengar ucapan yeoja itu. Apa? Ciuman?

Yunho ingin menolak ajakan So Ae, namun, yeoja itu telah lebih dulu menyeretnya masuh ke dalam ruangan yang menjadi kelas ekstrakulikuler teater itu.

Yunho ingin mengatakan sesuatu untuk menolak jika saja So Ae tidak selalu menyelaknya duluan hingga Yunho tidak bisa mengatakan apa-apa. Ia hanya pasrah saat seorang yeoja memakaikan jubah pangeran pada tubuhnya itu.

Jaejoong –namja cantik itu berjalan riang menyusuri sekolahnya yang tampak ramai dan menyenangkan. Namja cantik itu semakin putih karena ia tak pernah keluar dari kelasnya meskipun hanya untuk membeli makanan atau ke perpustakaan. Ia hanya menghabiskan waktu istirahatnya bersama di dalam kelas bersama Changmin yang menemaninya. Tak sadar jika setiap hari seorang namja tampan bermata musang selalu mengintipnya dari luar kelas untuk mengobati rasa rindunya, meskipun ia harus merasakan sakit dalam dadanya saat ia melihat Jaejoong bercanda bersama Changmin.

Ini pertama kalinya ia keluar kelas sejak kejadian itu. Langkahnya berhenti sejenak. Mata bulat beningnya memandangi lapangan basket yang lumayan sesak itu. Jaejoong menyusurkan pandangannya di setiap sudut lapangan mencari sosok yang begitu dirindukannya.

Pundak lebarnya sedikit turun saat ia sama sekali tak menemukan seseorang itu di sana. Jaejoong benar-benar merindukan Yunho.

Namja cantik itu kembali melangkahkan kakinya dengan lesu. Kepalanya tertunduk tak bersemangat.

Ia melewati dan sesekali ia melonggokkan kepalanya untuk melihat keadaan ruangan-ruangan yang dilewatinya.

Namun tiba-tiba terdapat satu ruangan ruangan menarik perhatiannya. Namja cantik itu menghentikan kakinya dengan alis yang terangkat.

Dengan rasa penasaran ia melangkahkan ke dalam kelas teater yang sangat ramai itu. Dengan berdesakan Jaejoong berusaha memasuki kelas itu.

DEG

Pemandangan yang dilihatnya begitu menyakitkan. Seketika cairan bening yang berasal dari matanya menetes tanpa ijin. Sakit. Hatinya terasa sangat sakit. Yunho mencium So Ae dan dengan mata kepalanya sendiri ia melihat adegan itu.

Sungguh, Jaejoong merasakan hatinya hancur berkeping-keping. Rasa sakit yang dulu dirasakannya kini kembali lagi. Bahkan ini lebih menyakitkan.

Jaejoong tahu ia tak seharusnya seperti ini. Tapi ia tak bisa membohongi perasaannya sendiri. Ia masih sangat mencintai namja tampan itu meskipun cintanya tak terbalaskan.

Dengan tergesa, namja cantik itu berlari keluar kelas itu. Ia tak peduli dengan gerutuan orang-orang yang ditabraknya. Ia tak peduli dengan itu. Jaejoong hanya memikirkan perasaannya saat ini. Bagaimana cara agar rasa sakit di hatinya itu bisa hilang secepatnya.

Seorang namja tampan yang sedari tadi mencari Jaejoong memandang heran namja cantik yang berlari dengan wajah yang sembab. Dengan berlari, ia menghampiri ruangan di mana Jaejoong keluar dan langsung melihat keadaan di dalam. Matanya membulat sama seperti Jaejoong. Changmin mengerti apa yang membuat Jaejoong seperti itu. Tangannya terkepal erat. Ia ingin mematahkan setiap tulang-tulang Yunho. Namun, ia harus menahannya. Changmin harus mencari Jaejoong terlebih dahulu untuk menenangkan namja cantik itu.

"Jaejoong hyung..." teriak Changmin keras.

Sementara Yunho, ia segera melepaskan tautan bibirnya dari yeoja itu saat telinganya mendengar seseorang memanggil nama Jaejoong.

Matanya membulat melihat Changmin yang berlari dengan masih memanggil nama Jaejoong. Oh shit...Jaejoong pasti melihatnya berciuman dengan So Ae. Yeah meskipun hanya menempel 2 detik saja, tapi tetap saja, 'kan.

Dengan tergesa ia melepas jubah yang membalut tubuhnya lalu membuang jubah itu sembarangan. Ia berlari keluar dengan cepat tanpa peduli jika ia menabrak seseorang. Ia hanya memikirkan Jaejoong. Ia harus menjelaskan semuanya.

"Jaejoong hyung~" panggil Changmin dengan nafasnya yang memburu. Ia menghampiri Jaejoong yang sedang memeluk lututnya dan menyembunyikan wajah menangisnya diantara lututnya di sebuah pohon besar yang rindang. Ia mendengar isakan pilu keluar dari bibir namja yang disayanginya itu.

Tanpa mengatakan apapun, Changmin memeluk dan membenamkan wajah cantik itu dalam dadanya. Tangannya terangkat untuk mengusap pundak Jaejoong yang bergetar karena menangis. Dua kali Jung Yunho membuatnya seperti ini. Membuat Jaejoong menangis keras dan merasakan sakit dalam hatinya.

Jaejoong menangis keras dalam dekapan Changmin. Sampai akhirnya namja cantik itu tak lagi menangis. Ia mengangkat wajah sembabnya lalu menatap Changmin dalam.

"Changmin-ah...cium aku," ucap Jaejoong.

Changmin membulatkan matanya mendengar permintaan Jaejoong. Mencium?

"Jebal~~" ucap Jaejoong pelan dengan masih terdapat isakan kecil di sana.

Perlahan Changmin memajukan wajahnya pada wajah Jaejoong. Sebenarnya ia ingin menolak Jaejoong. Tapi, ia tidak bisa jika itu akan membuat namja yang dianggap hyung-nya itu kembali bersedih.

Dengan ragu Changmin menempelkan bibirnya pada bibir merah Jaejoong. Hanya menempel, karena ia tak ingin melakukan lebih pada Jaejoong.

Namun pada akhirnya, Jaejoonglah yang memulai melumat kasar bibir tipis Changmin. Namja jangkung itu kaget tentu saja. Tapi dia bisa apa? Ia hanya bisa mengikuti permainan Jaejoong dan mencoba mengimbangi, tanpa menghiraukan seorang namja tampan bermata musang yang tengah memandang mereka dengan amarah yang meluap dan kedua tangan yang mengepal erat.

Jung Yunho, ia melangkahkan kakinya menghampiri kedua orang yang tengah berciuman itu. Rahangnya mengeras menahan amarah yang telah sampai di ubun-ubun.

BRUGH

Yunho menghempaskan tubuh Changmin dan meninju pipi namja tinggi itu dengan keras.

"Akhhh..." pekik Changmin saat merasakan pukulan keras pada pipinya.

Jaejoong yang telah membuka matanya itu seketika membulat melihat Changmin yang tengah ditindih seseorang. Dengan cepat ia bangun dari duduknya dan menghampiri kedua namja itu.

Dengan sisa tenaganya ia menahan lengan namja yang sedang menindih Changmin itu. Seketika mata dan bibirnya membulat terkejut. Ia tak menyangka jika Yunho yang melakukan ini. Itu membuat Jaejoong semakin sedih.

Ia memandang Yunho dengan tatapan marah lalu menghempaskan lengan Yunho dengan kasar.

"APA YANG KAU LAKUKAN?" teriak Jaejoong yang telah tak tahan dengan semua ini. Sungguh, Jaejoong benar-benar lelah dengan semua ini. Air mata itu kembali mengalir di pipinya.

Yunho yang mendengar Jaejoong membentaknya segera beranjak dari tubuh Changmin. Ia memandang Jaejoong dengan mata yang bergerak-gerak gelisah. Menyesal, eoh?

"Jaejoong-ah..." panggil Yunho. Ia mengangkat tangannya ingin mengusap air mata namja cantik itu. Namun, dengan kasar Jaejoong menampik tangan Yunho yang hendak menyentuhnya.

"Apa salahku?" tanya Jaejoong tanpa memandang wajah Yunho. Ia menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan air matanya.

"Katakan apa salahku? Aku sudah menjauhimu. Aku sudah tidak mengganggumu lagi. Kenapa kau masih jahat padaku! Kenapa, Yunho-ya?" ucap Jaejoong pilu disela-sela tangisnya. Ia terlalu lemah untuk membentak ataupun memukul Yunho. Ia hanya bisa berbicara pelan pada Yunho, bahkan untuk memandang namja tampan itu saja ia tidak bisa.

Yunho merasakan matanya memanas seketika. Ia menggelengkan kepalanya pelan. Hatinya terasa seolah diremas dengan kuat. Ia merasa sakit saat melihat air mata Jaejoong. Air mata yang keluar lagi-lagi karena dirinya.

Dengan cepat ia memeluk namja yang telah membuat hatinya berubah itu.

"Lepaskan..." ucap Jaejoong seraya memberontakkan tubuhnya yang berada dalam dekapan hangat Yunho. Jaejoong selalu ingin berada dalam dekapan Yunho, namun tidak dalam keadaan seperti ini. Keadaan yang membuatnya hancur berkeping-keping.

"Andwae...andwae..." racau Yunho dengan air mata yang telah menetes di pipinya. Yunho menangis. Ia menangis untuk Jaejoong.

Namja tampan itu semakin mengeratkan dekapannya pada namja cantiknya tanpa menghiraukan Changmin yang memandangnya dengan senyum terpampang di wajah tampannya. Changmin memang sering melihat Yunho yang selalu mengintip Jaejoong yang sedang bersamanya. Ia tahu Yunho juga telah mencintai Jaejoong. Jadi, ia akan bahagia jika Jaejoong kembali bersama Yunho. Ia yakin Yunho tidak akan menyakiti namja cantik itu lagi.

"Lepaskan aku..." ucap Jaejoong lagi. Ia telah tenang dalam dekapan Yunho. Namun, isakan masih terdengan di sana. Ia terlalu lelah untuk memberontak.

"Aku tidak akan melepaskanmu untuk yang kedua kalinya. Tidak! Tidak akan! Aku tidak mau kehilanganmu lagi. Aku mencintaimu, Jaejoong-ah~" ucap Yunho cepat seraya semakin mengeratkan pelukannya pada Jaejoong.

Seketika isakan itu tak terdengar lagi dari mulut Jaejoong. Tubuh namja cantik itu mematung seketika.

Merasa Jaejoong telah tenang, Yunho melepaskan pelukannya pada tubuh Jaejoong. Ia memandang wajah cantik itu lalu mengusap pipi Jaejoong untuk membersihkan wajah basah itu.

Karena tidak ada respon dari Jaejoong, Yunho mamajukan wajahnya lalu menyentuhkan bibirnya pada bibir cherry itu. Memagut dan menyesapnya dengan lembut. Membiarkan Jaejoong dengan rasa terkejutnya karena ciuman yang sangat lembut dan mendebarkan hatinya itu.

Tak lama kemudian, Yunho melepaskan tautan bibirnya. Lalu memandang Jaejoong yang tengah menatapnya tak percaya.

"Wae? Bukankah aku menjijikkan dimammhhh..." seolah mengerti apa yang akan dikatakan Jaejoong. Yunho kembali memagut bibir merah itu. Kali ini dengan tempo yang cepat dan kasar. Menimbulkan suara decakan yang khas.

"Kau merubah segalanya, Kim Jaejoong. Kau telah merubahku. Kau tau itu~" ucap Yunho lembut. Ia menatap Jaejoong dengan tatapan mata tajamnya yang melembut.

Jaejoong hanya diam memperhatikan Yunho dengan datar. Diam membuat Yunho takut jika Jaejoong tak lagi mencintainya dan ia akan kehilangan Jaejoong selamanya. Ia menggenggam tangan Jaejoong erat seolah tak mengijinkan namja cantik itu pergi dari sisinya.

"Jae.." ucap Yunho. Namun, terpotong oleh Jaejoong.

"Kenapa tidak dari dulu?" ucap Jaejoong membuat kerutan di dahi Yunho. Jantung namja tampan itu semakin berdetak kencang. Apa yang dimaksud Jaejoong? Sungguh, ia tidak akan bisa jika tanpa Jaejoong.

"Kanapa tidak dari dulu kau mengatakan itu, Yunho-ya. Nado saranghae~" ucap Jaejoong pada akhirnya.

Senyum lebar mengembang di bibir Yunho mendengar ucapan Jaejoong dan panggilan yang begitu dirindukannya itu kembali ia dengar. Membuat sesuatu dalam dadanya seakan meletup-letup memuncratkan kebahagiaan yang menyerang hatinya.

Yunho kembali memeluk tubuh kecil Jaejoong dengan erat. Bibirnya tak pernah berhenti mengucapkan kata cinta untuk Jaejoong.

Changmin, Yoochun dan juga Junsu yang melihat itu hanya tersenyum bahagia. Akhirnya mereka menemukan cinta dalam diri masing-masing.

"Yoochunnie~ mereka romantis sekali~" ucap Junsu pada Yoochun yang ada di sebelahnya.

Changmin tersentak melihat kedua orang itu sudah berada di sampingnya. "Se-sejak kapan kalian di sini?"

"Itu tidak penting." ucap Yoochun.

THE END