Do Kyung Soo
Aku ingin pulang...
Lu Han
Jangan bercanda! Ini malam pertamamu.
B
Pulang saja. Mau kujemput?
Lu Han
Byun! Jangan berbuat macam-macam!
.
.
.
.
.
EXO © SM Entertainment ® 2012
.
.
.
Kazuma House Production
present...
.
.
.
A Day Off
® 2018
.
.
.
.
.
Malam semakin larut. Pesta pernikahan sudah berakhir sejak sejam lalu. Kyungsoo pun sudah masuk ke kamar suite yang jadi kamar pengantinnya malam ini. Sebuah kamar mewah dari salah satu hotel berbintang lima milik Woojoo Grup. Interiornya indah, didominasi warna coklat, putih gading, dan semburat-semburat emas yang membuatnya terlihat sangat berkelas. Bahkan WO yang disewa mereka pun berbaik hati mendekor ruangan ini menjadi penuh bunga di sana-sini dan juga lilin aroma terapi yang membuat ruangan gelap ini tampak begitu temaram.
Benar-benar indah seandainya saja pernikahan ini bukan sebuah paksaan.
Kyungsoo mendongak dari layar ponselnya ketika suara pintu terdengar. Kai masuk ke kamar setelah tadi menghilang selepas acara. Ia melepas simpul dasi dan menggantung jas dan vest nya di lemari. Lantas memasuki kamar mandi tanpa banyak bicara.
"Hah..." Kyungsoo menghela napas setelah tanpa sadar tadi menahan napasnya selama Kai berada di sekitar.
Gadis itu menggelengkan kepalanya, mengenyahkan segala pikiran yang menggantung di benaknya. Matanya tanpa sadar melirik cincin bertahtakan berlian yang melingkar apik di jari manisnya.
Ia kini sudah bukan lagi seorang lajang. Bukan lagi gadis yang bisa berbuat seenaknya. Bukan lagi anak-anak yang hanya bermain. Ia sudah jadi istri orang. Harus tinggal serumah, mengurus keperluannya, hingga menjadi teman hidup bagi orang asing yang ia sebut suami.
"Kyungsoo-ssi, kau sudah mandi?" tanya Kai yang langsung lelaki itu sesali. Tentu saja sudah. Lihatlah, Kyungsoo sudah dalam balutan jubah tidurnya yang berwarna putih keemasan, mirip dengan miliknya saat ini. Wajah perempuan itu jadi berkali-kali lebih pucat daripada yang tadi siang Kai lihat.
Lelaki itu bergerak tak nyaman menuju meja makan, tempat Kyungsoo sejak tadi duduk sambil memainkan ponselnya. Keduanya diam, tidak tahu ingin bicara apa, tapi juga tidak ingin lekas tidur meskipun hari berlalu dengan sangat melelahkan.
Lebih tepatnya keduanya tidak bisa tidur.
Kai mengetuk-ngetuk ujung jemarinya di permukaan meja. Tanpa lelaki itu tahu, itu membuat jantung Kyungsoo bekerja berkali-kali lebih cepat.
"Apa sebaiknya kita berkenalan lagi?" tawar Kyungsoo.
"Ya, boleh. Sebelumnya perkenalan kita memang tidak berjalan baik, kan?" Kai menegakkan duduknya, mengulurkan sebuah jabat tangan. "Kenalkan, aku Kim Kai."
Kyungsoo membalas jabat tangannya. "Do Kyung Soo."
Setelahnya mereka kembali diam. Melewati detik-detik dalam kesunyian yang ditemani aroma terapi yang menguar di kamar. Kyungsoo menunduk, merutuki apa yang baru saja terjadi. Ia kembali membuat suasana mereka terasa begitu canggung.
"Menurutmu pernikahan ini akan jadi seperti apa?" tanya Kai tiba-tiba.
"Ye?" Kyungsoo mendongak. Mata bulatnya menatap pada mata coklat Kai. "Sebenarnya aku tidak tahu pernikahan ini akan berjalan seperti apa. Kita bahkan tidak sedekat itu." Gadis 21 tahun itu memainkan kukunya yang berlapis kutek bening. Matanya berubah mendamba, seperti gadis yang berlari menggapai mimpinya. "Aku hanya ingin ini menjadi pernikahan terakhirku. Cukup sekali seumur hidup."
"Hanya itu?"
"Iya," jawab Kyungsoo. "Kalau Kai-ssi sendiri bagaimana?"
"Aku tidak punya bayangan," akunya.
Begitu dibilang ia akan ditunangkan, Kai sudah tidak lagi berpikir macam-macam. Bahkan sebelum ia dikenalkan pada Kyungsoo sebagai calon istrinya. Yang ia tahu, ayahnya selalu berkata untuk memperlakukan istrinya dengan baik, menghormatinya sebagai wanita sekalipun mungkin ia tidak mencintainya. Seperti cara sang ayah memperlakukan ibunya. Setidaknya mereka terasa seperti keluarga ideal bagi Kai.
Dalam pikiran Kai, selain menjadi pernikahan politik, pernikahan ini tidak berarti banyak baginya. Terkesan jahat, tapi setidaknya ia tidak berniat jahat seperti bercandaan beberapa orang yang menyarankan untuk bercerai di kemudian hari. Terdengar menggoda, tapi tidak. Kai tidak setega itu membiarkan gadis mungil di hadapannya menjadi janda, apalagi setelah mendengar keinginan Kyungsoo barusan.
"Soal bulan madu, aku diberi tahu kalau kita tidak akan melakukannya dalam waktu dekat?" tanya Kyungsoo.
"Iya, aku masih harus belajar seluk-beluk perusahaan sebelum ditempatkan di headquarter. Besok aku harus berangkat ke Amerika dengan Ayah. Mungkin seminggu kami baru akan kembali. Aku akan banyak melakukan perjalanan bisnis beberapa bulan ini."
"Oh..." Tanpa sadar Kyungsoo menghela napas lega. Setidaknya ia tidak harus langsung bertemu muka dengan muka setiap harinya dengan Kai.
"Kau sendiri? Apa sudah punya jadwal kegiatan?"
"Ya, tiga hari lagi aku akan memulai perkuliahan kembali. Ada beberapa undangan untuk menemani Ayah menghadiri pertemuan dengn rekan-rekannya berhubung Ibu juga harus pergi ke London."
Kai mengangguk-anggukan kepala. "Kau bisa bertanya padaku kalau ada yang tidak mengerti. Kau jurusan Business Management, kan?"
Gadis itu mengangguk. "Tentu."
"Apa kau mengantuk?" tanya Kai setelah melirik jam dinding menunjukkan pukul 2 dini hari. Tentu melelahkan terjaga dari pagi-pagi buta untuk berdandan ini dan itu hingga detik ini. Nyaris 24 jam keduanya tidak tidur.
"Sedikit," jawab Kyungsoo.
Sejujurnya, satu-satunya alasan Kyungsoo tidak ingin segera tidur meskipun badannya lelah bukan main adalah ranjang pengantin mereka. Ranjang yang terlihat empuk dan lebar itu terasa menakutkan setiap kali ia ingat kini ia harus berbagi ranjang dengan orang lain. Ini pertama kalinya dalam hidup ia berbagi kasur dengan lawan jenis. Dan bayangan kotor sudah menghantui Kyungsoo lebih dulu.
Kai mengikuti arah pandang Kyungsoo pada ranjang pengantin itu. Seakan mengerti apa yang menjadi kekhawatiran gadis itu, ia pun berkata. "Aku akan tidur di sofa kalau kau merasa tidak nyaman."
"Bu-bukan begitu, aku..." Kyungsoo gelagapan, kehabisan kata-kata untuk menyangga karena tebakan Kai tepat sekali.
Lelaki yang lebih tua dua tahun itu mengulum senyum mengerti. "Aku paham, pasti aneh rasanya. Kita tidak pernah mengenal dekat, tahu-tahu dalam sehari sudah menjadi suami-istri." Kyungsoo terdiam. "Tapi aku harap, setelah ini kita bisa mengenal dengan lebih baik."
"Ya, kuharap begitu."
.
.
.
.
.
Kyungsoo meringis ngeri melihat dua sahabatnya menatap dia seperti hyena yang baru menemukan seonggok bangkai menggiurkan setelah beberapa minggu kelaparan. Tidak Baekhyun, tidak juga Luhan. Mereka sama menyeramkannya.
"Kalian menyeramkan, tahu tidak?" komentar Kyungsoo sambil meletakkan beberapa daging mentah ke atas pemanggang yang mulai terasa panas.
"Kau tidak mau bercerita apapun, Kyungsoo-ya? Tentang suamimu yang terlihat lebih hot daripada di foto itu?" tanya Luhan menggoda sahabatnya yang tidak menggubris, malah sibuk mengecek daging pesanan mereka.
"Memangnya kau mau cerita yang seperti apa?" tanya Kyungsoo balik.
"Ya, mungkin bagaimana kau menghabiskan malam yang panas dengan pria se-hot itu—aduh!" Luhan meringis setelah kepalanya ditepuk kasar oleh Baekhyun yang jengah melihat kelakuannya. "Apa masalahmu, hah?!"
"Kau yang bermasalah. Jelas-jelas lelaki yang kau sebut hot itu sudah menikah, dan kau terang-terangan menanyakan malam pertamanya pada istrinya? Heol! Dasar tidak punya otak," cibir Baekhyun.
Luhan merengut kesal sementara Kyungsoo membolak-balik daging. "Tidak ada yang terjadi. Aku tidur di kasur dan dia di sofa."
"Kau serius?" tanya keduanya berbarengan dengan mata yang melotot tak percaya. "Kau membiarkan pewaris tunggal Woojoo Grup tidur di sofa pada malam pertamanya?" tanya Baekhyun lalu mendengus tak percaya. "Wah... daebak. Kai memang benar-benar Do Kyung Soo."
"Dia yang menawarkan diri." Kyungsoo menggedikan bahu, tak acuh.
"Lalu bagaimana setelahnya?" Luhan masih penasaran. "Maksudku, kalian kan akhirnya tetap tinggal serumah. Dan lagi di rumah itu bukan hanya ada kalian berdua. Orang pasti curiga kalau melihat kalian tidak tidur di kamar yang sama."
"Sejauh ini Kai masih dalam perjalanan bisnisnya. Jadi aku masih tidur sendiri di kamar." Tangan terampil Kyungsoo melipat selada berisi potongan daging dan bawang putih.
"Kalau dia sudah pulang? Kau mau membiarkannya tidur di sofa lagi?" tanya Baekhyun.
"Entahlah, aku belum kepikiran soal itu. Toh dia bilang dia akan lebih sering keliling cabang-cabang usahanya. Kau tahu kan seluas apa jaringan bisnis Woojoo? Kurasa dia tidak akan pulang sampai setidaknya dua bulan lagi."
Di antara ketiganya, hanya Kyungsoo yang jelas-jelas ditunangkan. Kalau Luhan, berhubung gadis itu adalah cucu perempuan satu-satunya, jadi semua orang menyayangi dia. Seolah semua sepupu dan bahkan kakeknya sudah bersekongkol untuk tidak mengenalkan Luhan pada jenis lelaki manapun hingga gadis itu pernah berpikir kalau dia bisa jadi perawan tua kalau terus-menerus diperlakukan seperi ini. Sementara Baekhyun, hah... gadis itu tidak berminat pada pernikahan.
Jadi, di saat Luhan mendukung rencana pertunangan Kyungsoo, selalu ada Baekhyun yang berperan sebagai kubu oposisi. Kadang hal ini membuat Kyungsoo bingung, karena keduanya nyaris selalu memberi saran yang bertolak belakang.
"Memangnya apa saja yang kalian lakukan selama tujuh tahun ini?" tanya Luhan.
"Tidak ada," aku Kyungsoo. "Kami hanya bertemu kalau ada pertemuan keluarga atau pertemuan bisnis. Itupun kalau aku ikut. Selain itu, kami tidak bertemu sama sekali. Mengobrol pun hanya tentang hal-hal general yang sebenarnya basa-basi."
Luhan mendengus sebal. "Serius, deh. Meskipun aku tidak membenci pernikahan seperti makhluk ini," dia menunjuk Baekhyun yang melotot balik padanya, "Aku tidak akan menikahi orang asing seperti yang kau lakukan. Setidaknya aku akan mencoba mendekatkan diri pada tunanganku sendiri."
"Jangan samakan Kyungsoo denganmu. Kau kan memang mudah dekat dengan semua orang. Bahkan anak baru yang bertemu di toilet pun bisa jadi temanmu," sindir Baekhyun.
"Itu kau anak barunya!"
Baekhyun memutar mata, mengingat pertemuan pertama mereka. "Kau tidak ingat bagaimana kakunya Kyungsoo di lingkungan baru? Kau sendiri perlu sebulan penuh mengintili Kyungsoo seperti sasaeng sampai bisa dekat dengannya."
Dalam hati Kyungsoo membenarkan semua perkataan Baekhyun. Dia mungkin sempurna dalam pelajaran ataupun dalam pengendalian emosi, tapi dia benar-benar buruk dalam hal bergaul. Perilakunya yang mengedepankan kesopanan membuat dirinya terlihat kaku di depan orang baru. Otaknya suka buntu untuk mencari topik pembicaraan. Embel-embel nama besar orang tuanya pun memperburuk keadaan. Mereka cenderung takut bergaul dengannya. Salah-salah, bisa saja mereka miskin mendadak karena pemutusan kerjasama dengan perusahaannya.
Apa Kai juga berpikir seperti itu?
Tanpa sadar Kyungsoo menghela napas, membuat kedua temannya mendadak merasa bersalah telah menekan Kyungsoo sejauh ini.
"Tapi kalian punya waktu seumur hidup untuk saling mengenal." Luhan merangkul Kyungsoo. "Lamanya waktu pacaran tidak bisa jadi jaminan kau mengenal pasanganmu. Kakakku bilang, bahkan setelah menikah dia masih berusaha mengenal istrinya. Mereka pun masih pergi kencan—"
"Itu dia!" seru Baekhyun bersemangat, membuat kedua temannya mengangkat alis tinggi-tinggi. "Kenapa kalian tidak pergi kencan saja?"
"Maksudmu?" Luhan mewakili pikiran Kyungsoo.
"Kyungsoo bilang mereka tidak pernah pergi bertemu kalau bukan acara 'official', kan?" tanya Baekhyun semangat yang diangguki Luhan. "Bagaimana kalau mereka melakukan kegiatan bersama setelah ini? Pergi kencan di bioskop, misalnya. Jadi kalian tetap punya topik pembicaraan meskipun sebenarnya sudah buntu."
Senyum puas mengembang di wajah imut Luhan. "Akhirnya kau bisa juga berpikir cerdas, Byun. Benar, kalian harus sering bertemu dan latihan bicara berduaan, Kyungsoo-ya!"
Kyungsoo tepekur.
"Ba-bagaimana caranya?"
Pertanyaan itu membuat Luhan dan Baekhyun menepuk dahi, menyadari seberapa parah kecerdasan sosial temannya ini.
.
.
.
To Be Continue...
.
.
.
Waaa... terima kasih atas responnya. Semoga chapter ini memuaskan :)
Thankyou : rekaramadhan88, cymol1214, Kyungkyung, SFA30, danactebh, ksiooo, greenlight1208, rerudo95, Hannie, tdaf27, anak abi ami, DoWhetDo, Rly. C. JaeKyu, dan semua yang sudah baca, fave, follow.
28 June 28, 2018
2.22 am
Sign,
Uchiha Kazuma Big Tomat
A Day Off © Kazuma House Production ® 2018
