Naruto and All Characters belongs to Masashi Kishimoto

Story belongs to Me

.

.

Dates and Diamond Destiny

(warning masih sama seperti chapter 1, ha.)

.

.

Ini terjadi dengan begitu singkat. Aku sedang berpikir soal masalah yang tercipta akibat kebodohanku, dan tiba-tiba tubuhku tertarik. Dan kini aku berada di ruang penyimpanan alat kebersihan dan dicium. Yeah, dicium oleh seorang Sasuke Uchiha.

.

.

Apa-apaan ini?!

Aku bahkan sulit bergerak karena ia memojokkanku di pintu. Salah satu tangannya menyengkram kedua tanganku di atas kepalaku sendiri, sedangkan tangan yang lain sedikit menjambak rambutku agar mendongak. Tubuhnya menghimpitku. Kakinya masuk ke sela-sela kakiku agar aku nggak bisa bergerak sama sekali.

Sialan!

Aku nggak pernah merasa harga diriku tercoreng separah ini. Untung saja aku tadi pagi memilih memakai skinny jeans daripada rok mini. Kakinya nakal sekali.

Kenapa dia bisa ada di sini begitu cepat? Perasaan, tadi aku masih melihatnya tebar pesona kepada cewek-cewek di sekolah. Nggak mungkin dia bisa secepat itu menyusulku. Atau mungkin dia punya kekuatan magis? Dan kenapa pemikiranku konyol begini?

Hal yang membuatku makin penasaran adalah: kenapa dia mendadak berubah?! Apa dia sudah merencanakannya? Atau, dia benar-benar mengharapkan ciumanku? Well, yeah, aku tahu aku memang menarik. Sekalipun dadaku nggak sebesar Ino tapi aku punya pantat seksi. Tapi, masa hanya gara-gara akan kuberi ciuman? Ayolah, sekalipun cupu Uchiha masih masuk peringkat 10 besar. Dia nggak sebodoh itu, kan.

Aku mengerang saat Uchiha menggigit bibir bawahku. Fuck, aku tahu bibirku menggoda tapi nggak perlu digigit juga, Sialan. Itu sakit. Che, akal bulusnya dia menggigit bibirku agar bisa memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Aku rasanya mau tersedak air liurku sendiri gara-gara lidahnya yang bersilat dengan lidahku.

Ah!

Kelas biologiku! Kira-kira lima menit lagi bel akan berbunyi. Aku harus menghentikan ini sebelum aku terlambat masuk ke kelas dan kena amuk Mrs. Senju. Aku nggak sudi mengorbankan kelas favoritku untuk dia. Meski aku suka ciumannya (berat mengakuinya, tapi, dia pencium ulung).

Aku memutar otak agar dia melepas pagutannya dan aha!

"Ouch!"

Maafkan aku karena menginjak sepatu mahalmu, Uchiha. Kau yang membuatku melakukannya. Jangan remehkan aku karena aku juga bisa melakukan hal nekat.

"Apa yang kau lakukan?" Ia mendelik kesal.

"Well, aku kehabisan napas, Bodoh." Rasanya aneh menyebutnya 'bodoh' karena kenyataannya dia cerdas.

Dia memenjarakanku dalam kukungannya dan memandangku tajam. Ugh, mata gelap itu. Terlalu memesona. Rasanya aku bisa telanjang karena tatapan matanya kalau aku nggak ingat sebentar lagi kelasku dimulai.

"Aku belum puas menciummu." Ha? Apa dia gila? Dia pasti sinting! Aku saja hampir mati karena kehabisan oksigen gara-gara dia. "Lagipula kau bilang akan menciumku setiap hari kalau jadi keren."

Tunggu! Aku menggaris bawahi sesuatu di sini. "Kubilang 'aku akan menciummu'. Aku, bukan kau."

Jangan remehkan intelejensiaku, Uchiha! Fufu, aku yakin dia nggak akan bisa menciumku seenaknya lagi. Sekalipun dia pencium ulung (dan aku suka ciumannya), tapi tetap saja kalau dicium secara mendadak dan seenaknya itu bahaya. Bisa saja aku ketahuan Gaara. Aku nggak berani membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya. Duh.

Bisa saja Gaara menyuruh tim baseballnya untuk menjadikanku sasaran lemparan bola karena ketahuan berselingkuh dengan cowok lain. Itu menyeramkan. Meski aku masih nggak yakin ini bisa disebut selingkuh, sih. Memang, ini semua karena kebodohanku. Aku menyadarinya. Tapi, awalnya aku hanya berniat menggodanya. Nggak serius. Salahkan Uchiha yang menyuruhku menepatinya (dan anehnya aku nggak merasa keberatan).

Well, sepertinya aku memang cewek nakal. Tapi, seenggaknya aku nggak mencuri pacar orang lain. Aku nggak seburuk itu, kok.

Aku melirik Uchiha yang memandangku dengan menyeringai. Shit, aku punya firasat buruk.

"Kau bilang 'kau akanmenciumku', kan?" Uh, oh, seringai seksi itu tanda bahaya. "Kalau begitu, cium aku, sekarang."

What the hell!

Nggak, aku nggak mau. Okay, sebenarnya aku mau. Tapi, menciumnya sama saja membiarkanku mengerjakan essay 5000 kata dari Mrs. Senju karena terlambat. Sungguh, itu hukuman kejam dengan deadline 24 jam. Aku melirik pergelangan tanganku. Tinggal tiga menit lagi.

"Nggak." Aku menjawab cepat. "Kau sudah menciumku tadi."

"Bukannya kau yang bilang bahwa kau akan menciumku?"

Rasanya aku ingin merobek mulutnya agar berhenti menyeringai.

Aku mencoba untuk menginjak kakinya lagi tapi dia dengan cepat menghindar dan dengan cepat mengunci pergerakan kaki. Tanganku pun ikut serta dia kunci agar aku tidak bisa bergerak. Sial.

"Kau nggak kasihan padaku, Uchiha?" Aku mencoba cara lembut. Ini semakin merendahkan harga diriku karena aku memohon. Tapi, aku lebih nggak sudi mengerjakan essay dan mengorbankan waktu santaiku. "Kelas biologiku akan dimulai. Bisa-bisa aku kena hukum Mrs. Senju."

"Memangnya aku peduli, Nona Haruno?"

Sialan!

Kemana perginya Sasuke Uchiha yang cupu dan gampang dibully. Kemana perginya dia yang penurut dan nggak berani melawan? Gah, kenapa dia semenyebalkan ini? Pertama kalinya dalam hidupku aku menyesal kenal cowok keren.

"Err… kumohon lepaskan aku?"

Aku masih mencoba untuk merayunya. Entah kenapa aku merasa seperti seorang submissive. Ha! Memalukan.

Dia masih mengabaikanku. Brengsek! Waktuku tinggal satu menit sebelum bel berbunyi. Baiklah! Aku melakukannya karena terpaksa. Aku terpaksa!

"Baik, aku akan menciummu. Tapi, dengan syarat kau melepaskanku. Biar kulakukan sendiri."

Oh, ya Tuhan. Harga diriku terkoyak habis gara-gara cowok sialan ini. Aku, Sakura Haruno, si cewek populer tingkat satu akan mencium seorang cowok dimana biasanya aku yang dicium! Ucapan bodohku benar-benar jadi boomerang untuk diriku sendiri.

Dia menyeringai senang dan melepaskanku. Okay, tenangkan dirimu Sakura. Toh, tidak ada orang yang melihat. Bisa kurasakan wajahku memanas dan jantungku berdegup keras. Heck, aku merasa seperti anak menengah pertama yang baru jatuh cinta.

Aku memajukan wajahku ke wajah tampannya. Bahkan dari jarak sedekat ini aku tidak melihat satupun noda di wajahnya. Apa dia itu terbuat porselen?

Aku mengigit bibir bawahku gugup. Oh, ya ampun. Kenapa aku setegang ini?

Cup!

Dengan gerakan cepat aku mengecup pipinya dan buru-buru kabur. Oh well, aku bilang aku akan menciumnya dan aku benar-benar menciumnya. Toh, aku nggak pernah bilang mau menciumnya dimana, kan? Jadi, terserah aku kalau aku menciumnya di pipi.

Hm, aku memang pintar. Persetan kalau dia kecewa. Yang penting, aku nggak dapat hukuman.

.

.

-oOo-

.

.

Aku mengela napas lega saat kelas biologiku selesai.

Untung saja tadi aku buru-buru berlari dan sampai di kelas sebelum Mrs. Senju datang. Entah kenapa guruku yang tetap cantik meski usianya akan menginjak kepala lima (kudengar dia operasi plastik dan implan dada, tapi ini rahasia) itu sangat temperamental soal keterlambatan. Memang sih, dia juga nggak pernah terlambat lebih dari lima menit. Tidak seperti Mr. Hatake yang sangat sering terlambat.

Aku menyenderkan kepala ke meja. Kejadian tadi pagi benar-benar pengalaman baru untukku. Bayangkan saja, aku dicium dua cowok, yang satu kekasihku, yang satu lagi entah aku harus menyebutnya apa. Mana Uchiha menciumku dengan well, aku nggak bisa mengatakannya secara gamblang.

Darimana si cupu, ugh, maksudku Uchiha bisa mencium seseorang seperti itu? Penampilannya yang dulu benar-benar menipuku karena dia bisa berubah seratus delapan puluh derajat seperti itu. Dengan kepribadian berbeda pula.

Aku jadi penasaran.

Diantar ke sekolah menggunakan Volvo bukan hal lumrah untuk cowok miskin (meski rasanya lucu saat cowok sekolah menengah atas masih diantar ke sekolah). Jadi, bisa dipastikan kalau dia dari golongan berada.

Meski aku hanya melihat sepintas, tapi aku bisa mengatakan bahwa kakaknya keren. Super keren. Dan mungkin sangat hot. Apalagi kakaknya memiliki mata yang sama tajamnya, garis wajah dewasa, juga pakaian formal ala executive yang seksi. Sex appealnya benar-benar menggoda cewek sekolah menengah atas sepertiku. Yeah, ini menjelaskan darimana Sasuke mendapat tampilan fisik bintang lima, sih.

Tapi, kenapa dia mau berpenampilan culun? Kenapa dia menyembunyikan daya tariknya? Kupikir, cowok seusianya suka dibilang keren dan memamerkan apa saja yang mereka punya. Karena dengan itu, mereka bisa mendapatkan popularitas dan juga pacar, kan?

Aku nggak mengerti jalan pikirnya. Sama sekali. Dia menagih ciuman dariku, dan terkesan memaksa. Hm, apa dia tertarik padaku?

Aku tahu, cewek populer sepertiku memang menarik hati siapa saja. Oh, ayolah, siapa yang nggak tertarik dengan Sakura Haruno? Aku cantik (bukannya terlalu percaya diri, tapi kenyataan memang membuat kesal), tubuhku proposional dengan pantat seksi, dan aku pintar. Aku memang nggak terlalu kaya untuk membeli mobil untukku sendiri. Lagipula, kenapa aku harus merengek minta dibelikan mobil kepada Dad kalau setiap hari banyak cowok yang ingin berangkat sekolah bersamaku?

Boleh, dong, aku berbangga diri. Aku mendapatkan semua ini setelah berjuang melewatkan liburan musim panasku yang berharga untuk melakukan 'pelatihan' bersama Ino.

Jadi, kenapa Uchiha mendadak berubah?

Bisa jadi karena ia lelah dibully, bisa juga karena dia mengharapkan ciumanku. Bisa jadi ia bosan dengan gayanya yang culun, bisa jadi ia memang ingin kucium. Hell, aku tidak bisa menyimpulkannya dengan rasional selain alasan ia ingin kucium. Toh, perubahan mendadaknya ada setelah aku mengucapkan hal bodoh itu. Jangan salahkan aku jika berpikir demikian.

Entah. Dia membuatku pusing dengan tingkahnya yang mendadak berubah. Lebih baik aku bersiap-siap untuk kelas kalkulusku yang akan dimulai sepuluh menit lagi.

Kenapa pula aku harus memikirkannya? Seseksi apapun dia, semenarik apapun dia, anggap saja dia sebagai fansku seperti yang lain. Ya, itu benar Sakura Haruno. Anggap dia seperti yang lain. Jangan sampai aku bersujud di kakinya. Nggak akan.

.

.

-oOo-

.

.

Aku sebenarnya benci dengan suasana kantin yang ramai begini. Tapi, bagaimana bisa aku mangkir dari apa yang mereka sebut kegiatan-anak-populer yaitu bergerombol di kantin? Ini menyebalkan. Bodohnya, aku nggak bisa untuk bilang nggak pada teman-teman yang mengajakku. Aku nggak mau popularitasku menurun. Aku mendapatkannya dengan susah payah. Nggak sudi kalau harus membuangnya.

Aku tahu, aku mungkin menyiksa diriku sendiri untuk jadi populer. Memaksa diriku sendiri tersenyum, mengikuti mode yang nggak kusuka, dan bergabung dengan pergaulan yeah, anak-anak dengan peringkat yang harus dicemaskan. Tapi, aku juga nggak mau kembali seperti dulu. Sosok Sakura Haruno saat sekolah menengah pertama harus dipangkas habis.

Meski ada beberapa hal yang nggak kusuka, toh, masih ada beberapa yang mampu membuatku bertahan. Aku punya banyak teman (well, aku nggak peduli mereka tulus atau nggak. Itu terlalu naif untuk mengharapkan pertemanan tulus laksana dongeng, dear), fans (kusebut mereka yang memujaku habis-habisan dengan sebutan itu), juga cowok keren.

Terhitung aku sudah ganti cowok tiga kali setelah masuk sekolah menengah atas ini. Ha, bukannya aku playgirl, hanya saja aku nggak bisa menolak cowok yang mengajakku berpacaran saat aku sedang single. Rasanya, aku terlalu jahat untuk menolak permintaan mereka. Apalagi, mereka berkorban banyak untukku.

Misalnya, pacarku yang sekarang. Gaara rela mengantar-jemputku tanpa kuminta, membelikanku banyak hal, dan lain-lain. Mana bisa aku menolaknya. Aku sendiri nggak tahu bagaimana perasaanku padanya. Ino bilang, aku terima saja karena cowok populer juga mengantarkanku jadi populer juga. Terkesan jahat memang. Tapi, aku juga nggak tahu harus berbuat bagaimana dan menurut saja dengan perkataan Ino.

Mungkin, aku terlihat murahan dan nggak punya pendirian sendiri. Mau bagaimana lagi? Ini juga pengalaman pertamaku. Mana aku terjebak dengan intrik Uchiha sialan itu. Dia benar-benar mempermainkanku pagi tadi. Aku kesal dengannya!

Kantin mendadak lebih ramai. Aku mengernyit dan melirik pintu masuk. Uchiha dengan santai melenggang masuk sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans yang dia pakai. Ouch, itu keren sekali. Apalagi ia tampak cuek dengan tatapan mata berkilat tajam. Aura badboy menerpaku keras, membuat hormon pubertasku bangkit. Dia seksi. Oh, berapa kali aku sudah mengatakannya?

Aku memasukkan potongan puding dengan kasar ke dalam mulut. Kenapa aku harus memuji-muji dia, sih? Apa-apaan ini? Diriku menjijikkan deh, ewh.

"Kau kenapa?"

Ino menatapku dengan cara aneh. Aku lupa kalau aku makan bersama dia dan sedang menunggu Gaara mengambil makanannya. Aku menggeleng. "Nggak apa."

"Kau bisa cerita padaku."

Aku tahu, dia memang paling bisa diandalkan. Tapi ini bukan waktu yang tepat. "Nanti saja."

"Kalian sedang bicara apa?"

Gaara tiba dan merangkul bahuku. Dia mengecup pipiku sebelum meminum pepsinya. Well, Gaara terlalu manis buatku meski kadang bersikap menyebalkan. Maka dari itu, aku bisa bertahan cukup lama dengannya. Sudah tiga bulan dan nggak ada pertengkaran berarti. Aku merasa bersalah sih, karena aku merasa seperti telah menghianatinya. Aku bermain api di belakangnya. Namun, entah kenapa aku justru merasa exited dengan api yang kusulut.

Apa aku sudah gila, ya? Atau aku sudah bertransformasi jadi jalang? Oh, ya ampun. Aku benar-benar parah. Aku harus mencoba keluar dari masalah ini. Gaara juga nggak melakukan kesalahan yang membuatku kesal. Justru Uchiha brengsek itu yang membuatku ingin mencekiknya. Keren sih, tampan lagi. Tapi, kelakuannya membuatku ingin menerik ucapanku sendiri.

"Nggak apa." Aku tersenyum pada Gaara. "Bagaimana persiapan pertandinganmu?"

"90%." Gaara menjawab singkat. "Che, lihat Uchiha. Dia sok sekali. Kenapa dia mendadak berubah seperti itu?"

Aku setuju dengan Gaara. Bagaimana pun juga, aku nggak mau bilang kalau aku ikut andil dalam hal ini padanya.

"Tenang saja Gaara. Saki nggak akan mengangkangkan kakinya buat Uchiha." Ino menyahut usil.

Ino sialan! Dia berkedip pelan menggoda dan nggak merasa bersalah sama sekali dengan apa yang telah ia ucapkan. Ish, aku mendecak sebal. Dia nggak tahu apa yang terjadi antara aku dan Uchiha. Kalaupun dia tahu, aku yakin dia pasti akan berteriak seriosa sambil melotot.

Aku menyedot strawberry milkshakeku dengan kesal. Saat itu pula aku bertatapan dengan Uchiha yang menatapku dengan kilatan mata aneh. Aku terkesiap. Entah kenapa aku merasa harus bersembunyi. Insting alamiku berkata demikian. Mungkin, karena disetiap kemunculannya membawa hal yang merugikanku (geez yah, dengan sedikit keuntungan batin juga kupikir).

Brak! Byuur!

Aku menahan napas.

Semuanya benar-benar terjadi secara cepat.

Aku berusaha untuk sembunyi dengan menutupi wajahku dengan telapak tangan saat tiba-tiba Uchiha tersandung (aku tak yakin itu disengaja atau nggak) dan makanan yang dibawanya menumpahi Gaara.

Seporsi spaghetti dengan saus tomat melumeri rambut merah dan turun ke bajunya. Kentang tumbuk dan sup-entah-apa itu juga ikut andil untuk memperparah tumpahan pada tubuh Gaara. Belum lagi jus berwarna aneh yang tumpah ke celana jeansnya. Ya Tuhan!

"Well," Uchiha menyeringai. Saat itu juga aku sadar Uchiha sangat sengaja. "Sepertinya aku memang harus memerhatikan langkahku, Rei."

What the fuck?!

Aku nggak tahu apa yang ada dalam pikiran Uchiha sehingga berani melakukan hal itu. Bisa kulihat Gaara menggeram marah karena bajunya jadi sangat kotor. Sedangkan Uchiha tersenyum penuh kemenangan.

Dan kini aku tahu, Sasuke Uchiha benar-benar menabuh gendering perang.

TO BE CONTINUED

A/N:

Err… ugh, hai, hello. Iya maafin, baru di update setelah setengah tahun huhuhu #digamvar. Sebenarnya dulu draftnya udah ada buat chapter 2, tapi laptop mendadak rusak dan datanya ilang. Alhasil, nunggu wangsit lagi dan yah, maafin karena feel 'bitchy'-nya Sakura pasti gak kerasa kan, ya? Huhuhu, maaf :(

DAN WADEHEL reviewsnya 142 dan favsnya 129. Makasiiih :') Maaf ya, pendek dan feelnya menghilang entah kemana #hancurjadiserpihan. Maaf banget aku gak bisa bales reviews kalian satu persatu, aku hanya punya waktu gak lebih dari 3 jam buat ngetik+publish. Maklum (sok) sibuk #dikeroyok. Tapi, aku baca reviews kalian semua kok, dan aku terharu :')

Aku bakal rangkum questions di reviewsnya aja, ya, eheheheh :')

-Update/lanjut/apa ini oneshot?

Halo semua yang review kayak gini #ditempeleng. Iya, ini udah dilanjut/updated. Ini bukan oneshot, ada tanda TBC-nya loh :')

-Conflictnya?

As planned, gak bakal berat-berat, sih. Paling Cuma berkisar hubungan SasuSakuGaa, Prom entar, Alasan Saskey dan masa lalu Sakura ((kok lo spoiler?)) /o/

-Renang kok pake softlens?

Maaf! Ini kesalahanku karena lupa deskrip soal renangnya. Praktik renang di luar negeri tuh pake kacamata renang. Jadi, ya, kelindung gitu. Maaf, ya :'3

-Bagaimana Gaara/Apa Saku putus dengan Gaara?

Let's wee see /nyedh/

-Alasan Sasuke berubah/Apa dia suka Saku?

Hahaha, ikuti kelanjutan ceritanya ;)

-Ganti partikel 'nggak'

Well, maaf aku gak bisa kabulin yang ini. Dari awal, aku udah rencana bikin fluffy macem di teenlit gitu. Dan kata 'nggak' itu emang benar disengaja :)

-Sakura kok gampangan dicium

Haha, duh, cerita ini aja berkisar soal ciuman loh /dor/.

-Keren/bagus/seru/unyu/cute/kece/dsb

Makasih udah bilang ini keren ataupun bagus atau pujian yang lainnya :')

Maaf karena aku nggak bisa update cepet :( kehidupan SMA dan kurikulum2013 itu nganu(?) sekali /apakamu/.

Special thanks to all Reviewers, Favers, Followers, and Readers. Aku baca semua review kalian berkali-kali. Tapi, aku bener-bener minta maaf karena gak bisa bales satu-persatu. But, guys, I really want to have a nice chat with you :') Maaf juga aku telat update, feelnya juga ngilang lagi. Maaf, ya :')

Wanna gimme any feedback? Thanks :)

Salam hangat,

-Hydrilla :)